«

»

Feb 07

SYUKUR YANG SESUNGGUHNYA

16406929_818863214934207_4825564137854999212_n

sering kali kita berucap atau mendengar seorang berkata:

*”wajar saya berhasil, saya diberikan kecerdasan oleh Allah, alhamdulillah“*

*”Alhamdulillah, Allah memberikan kemampuan bagi saya berusaha, jadi sangatlah pantas saya berhasil“*

Perkataan demikian tidaklah termasuk bersyukur terhadap nikmat yang Allah berikan kepada kita.
Syaikh Muhammad bin Abdulwahhab memberikan sebuah bab khusus dalam Kitab Tauhid: Bab 48

وَلَئِنْ أَذَقْنَاهُ رَحْمَةً مِنَّا مِنْ بَعْدِ ضَرَّاءَ مَسَّتْهُ لَيَقُولَنَّ هَٰذَا لِي…

Dan jika Kami merasakan kepadanya sesuatu rahmat dari Kami sesudah dia ditimpa kesusahan, pastilah dia berkata: “Ini adalah hakku... Q.S. Fushshilat: 50

Mujahid berkata: “ini adalah karena jerih payah usahaku dan aku memang berhak mendapatkannya”

dan Ibnu Abbas berkata: “maksudnya ini adalah dari diriku sendiri” [lihat alqoulus sadid, hlm. 249 tahqiq Sobri Salamah]

Lantas bagaimana bersyukur yang sesungguhnya bagi seorang hamba dan seharusnya?

Ibnu Qoyyim berkata:
pokok dari Syukur adalah pengakuan terhadap nikmat yang diberikan oleh al-Mun’im (zat yang telah memberikan nikmat) disertai dengan ketundukan pada-Nya, kerendahkan diri dan rasa cinta pada-Nya.

maka barangsiapa yang tidak mengetahui nikmat Bahkan ia jahil terhadap nikmat tersebut, belumlah Ia mensyukuri nikmat tersebut.

Dan barangsiapa yang mengetahui Nikmat tersebut dan dia tidak mengenal al-Mun’im (Dzat yang telah memberikan nikmat) kepadanya, tidak juga dia bersyukur terhadap nikmat tersebut.

Dan barang siapa yang mengetahui nikmat dan mengetahui al-Mun’im, akan tetapi ia mengingkari nikmat tersebut sebagaimana orang yang mengingkari nikmat al-Mun’im, maka sungguh ia telah kufur nikmat.

Barang siapa yang mengetahui nikmat dan al-Mun’im dan mengakuinya serta tidak mengingkarinya, akan tetapi dia tidak tunduk kepada-Nya, tidak mencintai-Nya, tidak ridho terhadap nikmat dan (tidak ridho) kepada-Nya, tidak juga dia bersyukur.

Dan barang siapa yang mengetahui nikmat, mengetahui al-Mun’im dan mengakuinya, dan tunduk kepada al-Mun’im, mencintai-Nya, meridhoi nikmat dan kepada-Nya, dan dia menggunakannya dalam hal yang dicintai-Nya dan dalam ketaatan kepada-Nya. Maka inilah orang yang bersyukur kepada nikmat.

Haruslah dalam mensyukuri nikmat ada ilmu di dalam hati dan amal yang mengiringi ilmu, dan dia adalah condong kepada al-Mun’im dan mencintai serta tunduk kepada-Nya” [madarijus salikin, (II/232)]

Semoga bermanfaat

Ustadz Dika wahyudi Lc.