Ada seseorang yang bertanya kepada saya tentang hikmah beberapa perintah syariat, seperti perintah berjenggot dan larangan isbal. Apabila masuk di akal si penanya: maka dia mau melaksanakannya, namun apabila penjelasan saya tidak masuk di akal baginya: dia enggan untuk menaatinya.
Agak sulit memang persyaratan yang diberikannya agar ia mau tunduk kepada syariat. Akhirnya saya bacakan penjelasan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berikut ini:

“telah ditetapkan dengan perintah (Allah), (bahwa) hikmah yang dihasilkan oleh syariat ada tiga macam;

PERTAMA: sebuah perbuatan yang mengandung maslahat (kebaikan) dan mafsadat (keburukan) walaupun syariat tidak datang menjelaskannya.

Sebagaimana sudah diketahui bahwa keadilan mengandung kemaslahatan bagi alam semesta, dan kedzoliman menyimpan kerusakan bagi mereka. Maka jenis inilah (yang dimaksud dengan istilah) hasan (baik) dan qobih (buruk). Dan terkadang (sebuah perbuatan) diketahui dengan akal dan syariat mengenai keburukannya…

akan tetapi tidaklah mengharuskan adanya keburukan ini menjadikan pelakunya diazab di akherat: apabila tidak datang syariat yang menjelaskan hal itu. Dan dalam perkara inilah kelompok ekstrem yang menetapkan baik dan buruk (diketahui sebatas akal saja) telah terjatuh dalam kesalahan, karena: mereka mengatakan: “sesungguhnya hamba akan disiksa dengan sebab perbuatan buruk mereka walaupun belum di utus kepada mereka seorang rasul.

Pendapat ini bertentangan dengan Nash/dalil. Allah –subhanahu wa ta’ala berfirman:

وَمَا كُنَّا مُعَذِّبِيْنَ حَتَّى نَبْعَثَ رَسُوْلًا

“tidaklah kami mengadzab sampai kami mengutus seorang rasul” al-Isra’: 15

Dan dalil-dalil yang menunjukkan bahwa Allah tidak mengadzab kecuali setelah mengutus (rasul) sangatlah banyak yang membantah pendapat ahli tahsin dan taqbih -orang yang mengatakan bahwa kebaikan dan keburukan dapat diketahui sebatas dengan akal tanpa wahyu yaitu kaum mu’tazilah Pent.- yang mereka mengatakan: “sesungguhnya makhluk diadzab di dunia tanpa seorang rasul yang di utus oleh mereka.”

KEDUA: sesungguhnya pembuat syariat apabila memerintahkan sesuatu maka menjadi baik, dan apabila melarang kepada sesuatu maka menjadi buruk, dan sebuah perbuatan mendapatkan sifat baik dan buruk berdasarkan perintah pembuat syariat. (maksudnya: secara akal semata perintah atau larangan Allah terhadap sesuatu tidak diketahui baik dan buruknya. Barulah setelah syariat menjelaskan ini memiliki keutamaan dan ini dibenci kita mengetahui hikmahnya. saya membuat contoh seperti larangan mencabut uban. pent.)

KETIGA: pembuat syariat memerintahkan sesuatu untuk menguji hambanya apakah menaatinya atau membangkang? Dan bukanlah yang dimaksudkan perbuatan yang diperintahkan; sebagaimana Allah memerintahkan Nabi Ibrahim untuk menyembelih anaknya, maka ketika keduanya telah berserah diri dan (Ibrahim) membaringkan anaknya diatas pelipisnya: Allah gantikan dengan sembelihan… maka hikmah (dari perintah) sumbernya adalah (menuruti) perintah itu sendiri bukan yang diperintahkan (menyembelih anaknya).

Jenis ini dan yang sebelumnya, tak dipahami oleh mu’tazilah, dan mereka menyangka bahwa baik dan buruk tidaklah ada kecuali pada sesuatu yang disifati dengannya tanpa perintah syariat. Dan Asy’ariyah mengklaim bahwa seluruh syariat semuanya adalah jenis ujian, dan perbuatan (hamba) tidak memiliki sifat, baik sebelum perintah syariat ataupun dengan perintah syariat. Adapun ahli hikmah dan jumhur mereka menetapkan tiga jenis ini, dan inilah pendapat yang benar.

[majmu’ fatwa (VIII/434-436) dinukil dari qowaidh ta’arudhil masholih wal mafasid, Syaikh Sulaiman ar-Ruhaily, hlm 32-34]

Oleh karena itu, tidaklah harus anda mengetahui dan menunggu untuk mengetahui hikmah sebuah perintah dan larangan baru anda mentaatinya. Bisa jadi memang perbuatan tersebut termasuk jenis kedua dan ketiga.

Umar bin Khottob pun sebatas hanya melihat Rasulullah –shallallahu alaihi wa salam- mencium hajar aswad, beliau mengikutinya dan mengatakan:

إني لأعلم أنك حجر لا تضر ولا تنفع، ولولا أني رأيت رسول الله يقبلك ما قبلتك

Sesungguhnya aku mengetahui bahwa kamu adalah batu yang tidak bisa memberi mudhorot dan memberi manfaat. Kalau sekiranya aku tidak melihat Rasulullah menciummu aku tidak akan menciummu.
Bukhori (1610) dan Muslim (1270)

Semoga bermanfaat.

Dika Wahyudi Lc