«

»

Jul 12

TENTANG ILMU JARH WA TA’DIL (CELAAN/KRITIKAN DAN PUJIAN)

SEKALI LAGI TENTANG ILMU JARH WA TA’DIL (CELAAN/KRITIKAN DAN PUJIAN)

[1]- Ilmu Jarh Wa Ta’dil memiliki para ahli yang mereka memang memiliki keahlian dalam masalah ini. Sebagai contoh besarnya adalah kitab yang ditulis oleh Imam Adz-Dzhahabi (wafat th. 748 H) -rahimahullaah-: “Dzikru Man Yu’tamadu Qauluhu Fil Jarh Wat Ta’diil (Penyebutan Orang-Orang Yang Perkataannya Dijadikan Sandaran/Rujukan Dalam Jarh Wa Ta’dil)”, yang jelas sekali berisi nama-nama dari orang-orang yang bisa diterima perkataannya dalam Jarh Wa Ta’dil.

[2]- Sehingga dalam memberikan Ta’dil (pujian) -maupun Jarh (celaan/kritikan-); ada dua cara:

1- Memeriksa secara langsung orang -atau kelompok- yang akan dipuji -atau dikritik-.

2- Dengan mengambil pujian -atau kritikan- dari orang yang telah meneliti langsung individu -atau suatu kelompok-.

[Lihat: “Muqaddimah Ibnish Shalaah” (hlm. 137-138 & 141- “At-Taqyiid Wal Iidhaah”)]

[3]- Sehingga, KETIKA MENGKRITIK KELOMPOK IKHWANUL MUSLIMIN; MAKA IMAM ‘ABDUL ‘AZIZ BIN BAZ -rahimahullaah- MENGKRITIKNYA DENGAN BERSANDAR KEPADA PERKATAAN PARA ULAMA YANG TELAH MENELITI KELOMPOK INI.

Samahatul ‘Allamah Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdullah bin Baz -rahimahullaah- ditanya tentang “Al-Ikhwanul Muslimun” pada majalah “Al-Majallah” edisi (806), tanggal 25 Shafar 1416 H (hlm. 24). Berikut ini pertanyaannya:

“Samahatusy Syaikh: Harakah “Al-Ikhwan Al-Muslimin” telah masuk ke Mamlakah sejak beberapa waktu, dan memiliki kegiatan yang nampak di kalangan para penuntut ilmu. Apa pendapat anda tentang Harakah ini? Dan seberapa jauh kesesuaiannya dengan Manhaj Ahlus Sunnah Wal Jama’ah?”

Syaikh Imam ‘Abdul ‘Aziz bin Baz -rahimahullaah- menjawab:

“Harakah Ikhwanul Muslimin telah dikritik oleh para Ahli Ilmu; dikarenakan mereka TIDAK PUNYA SEMANGAT DALAM MENDAKWAHKAN TAUHID, MENGINGKARI SYIRIK DAN MENGINGKARI BID’AH-BID’AH. Mereka punya cara-cara khusus, kekurangannya: TIDAK SEMANGAT DALAM MENDAKWAHKAN TAUHID DAN (TIDAK SEMANGAT DALAM) DALAM MENDUKUNG ‘AQIDAH SHAHIHAH YANG DIYAKINI OLEH AHLUS SUNNAH WAL JAMA’AH.

Maka, seharusnya Ikhwanul Muslimin punya perhatian kepada DAKWAH SALAFIYYAH; YAITU: BERDAKWAH KEPADA TAUHID DAN MENGINGKARI PERIBADAHAN KEPADA KUBUR, (mengingkari) ketergantungan kepada orang-orang yang sudah mati, (mengingkari) istighatsah kepada kubur-kubur; seperti: Hasan, Husain, Badawi, dan semisalnya. Wajib atas mereka untuk mempunyai perhatian kepada PRINSIP YANG PALING UTAMA INI, kepada MAKNA LAA ILAAHA ILLALLAAH yang merupakan PONDASI AGAMA. Dan yang pertama kali Nabi dakwahkan di Makkah adalah; mengajak kepadaTauhidullah, mengajak kepada makna Laa Ilaaha Illallaah.

Maka, banyak dari Ahli Ilmu mengkritik Ikhwanul Muslimin dalam perkara ini; yaitu: tidak semangat dalam mendakwahkan Tauhidullah, ikhlas kepada-Nya, mengingkari apa yang dibuat-buat oleh orang-orang bodoh; berupa: bergantung kepada orang-orang yang sudah mati, beristighatsah kepada mereka, bernadzar untuk mereka, dan menyembelih kurban untuk mereka, yang hal ini merupakan Syirik Akbar.

Para Ahli Ilmu juga mengkritik mereka (Ikhwanul Muslimin) karena mereka: TIDAK MEMPUNYAI PERHATIAN KEPADA SUNNAH, (TIDAK) MENCARI SUNNAH, (TIDAK) MEMILIKI PERHATIAN KEPADA HADITS (NABI) YANG MULIA, DAN (TIDAK MEMPUNYAI PERHATIAN TERHADAP) APA YANG PARA SALAFUL UMMAH BERADA DI ATASNYA; BERUPA HUKUM-HUKUM SYAR’I.

Dan di sana ada banyak hal yang saya dengar saudara-saudara (saya) mengkritik mereka.
Kita minta kepada Allah agar Dia memberikan taufik kepada mereka.”

[dinukil dari “Al-Ajwibah Al-Mufiidah ‘Anil Manaahij Al-Jadiidah” (hlm. 72- cet. II)]

[4]- Terlebih lagi jika orang yang mengkritik telah memberikan penjelasan tentang letak kesalahan-kesalahan dari kelompok yang dikritik (istilahnya: “Jarh Mufassar”).

Sehingga fokus pembahasan hendaknya pada:

– Apakah point-point kritikan tersebut ada pada kelompok yang dikritik atau tidak?

– Kemudian kalau memang ada: apakah point-point tersebut benar menyelisihi Ahlus Sunnah atau tidak?

[5]- Dan di antara kaidah Jarh Wa Ta’dil yang hampir-hampir dilupakan adalah: apa yang disebutkan oleh Al-Hafizh Ibnu Hajar (wafat th. 852) -rahimahullaah- dalam “Nukhbatul Fikar” (hlm. 14- cet. Mu-assasah Ar-Risaalah):

وَالْـجَرْحُ مُقَدَّمٌ عَلَى التَّعْدِيْلِ إِنْ صَدَرَ مُبَيَّنًا مِنْ عَارِفٍ بِأْسْبَابِهِ.

“Jarh (celaan/kritikan) lebih didahulukan atas Ta’dil (pujian); jika (celaan) tersebut dijelaskan sebabnya (dan celaan tersebut) muncul dari orang yang ahli terhadap sebab-sebab (celaan) tersebut.”

Sehingga kalau ada kritikan terhadap individu -atau suatu kelompok- dari seseorang -terlebih lagi banyak orang- yang memang ahli dalam ilmu ini, ditambah lagi celaannya juga disertai dengan berbagai penjelasan -bahkan bukti-; maka kalau kemudian ada yang memuji individu -atau kelompok- yang dikritik tersebut: PUJIANNYA ADALAH TIDAK DITERIMA.

Imam Ibnush Shalah (wafat th. 643 H) -rahimahullaah- berkata:

“Kalau terkumpul pada seseorang: kritikan dan pujian; maka kritikan lebih didahulukan (atas pujian), karena orang yang memuji: (hanya) mengabarkan tentang lahiriyah dari orang tersebut, sedangkan orang yang mencela/mengkritik: mengabarkan tentang hal (kejelekan) yang samar atas orang yang memuji.”

[“Muqaddimah Ibnish Shalaah” (hlm. 142- “At-Taqyiid Wal Iidhaah”)]

[6]- Kalau ada yang berkata: bukankah Ilmu Jarh Wa Ta’dil itu hanya dalam masalah perawi hadits, dan bukan berkaitan dengan ke-bid’ah-an atau kesesatan.

Maka jawabannya: Justru di antara kritikan terhadap perawi hadits adalah: karena bid’ah yang ada pada perawi tersebut.

[Lihat: “Nukhbatul Fikar” (hlm. 7- cet. Mu-assasah Ar-Risaalah)]

Sehingga sering kita dapati para perawi hadits yang dicela dengan: “Rumiya Bil Qadar (Tertuduh Qadariyyah)”, “Rumiya Bil Irjaa’ (Tertuduh Murji’ah)”, dan semisalnya.

Wallaahul Musta’aan.

ditulis oleh: Ustadz Ahmad Hendrix-