FAEDAH-FAEDAH MUQADDIMAH SHAHIH IMAM MUSLIM -rahimahullaah-

(Diambil dari Muhadharah Syaikh Ziyad Al-‘Abbadi -hafizhahullaah-)

[1]- Di antara keistimewaan Shahih Imam Muslim atas Shahih Imam Al-Bukhari:

1. Imam Muslim menulis Muqaddimah untuk kitab Shahihnya.

2. Beliau menggabungkan hadits-hadits yang semakna babnya dalam satu tempat.

[2]- Jenis kitab beliau adalah Jaami’ , yaitu: yang mencakup berbagai jenis bab-bab ilmu; baik fiqih, ‘aqidah, dan lainnya, seperti Jaami’ (shahih) Bukhari dan Tirmidzi (walaupun dikenal dengan sunan). Adapun Abu Dawud, An-Nasa-i dan Ibnu Majah; itulah yang Kitab Sunan.

[3]- Sebab penulisan kitab Shahih Muslim:

1. Memenuhi permintaan sebagian orang.

2. Karena Imam Muslim melihat banyak orang-orang yang mengumpulkan hadits-hadits akan tetapi seperti hathibul lail (pencari kayu bakar di waktu malam; sehingga tidak bisa membedakan antara kayu dengan ular).

[4]- Faedah-faedah dari mengumpulkan hadits-hadits shahih:

1. Membedakan hadits-hadits shahih dari yang dha’ if, dan mengumpulkan hadits-hadits shahih -walaupun sedikit- lebih baik daripada banyak akan tetapi tercampur aduk; dengan tidak terbedakan.

2. Mengumpulkan hadits-hadits yang berulang-ulang.

[5]- Dalam pengulangan hadits terdapat beberapa faedah:

1. Ada tambahan faedah dalam hadits yang disebutkan lagi; baik dari segi makna maupun sanad.

2. Mengulangi hadits dengan sempurna setelah sebelumnya telah disebutkan dengan kurang lengkap.

[6]- Pembagian Para Perawi hadits dalam Shahih Muslim:

1. Para Perawi Tsiqah yang Dhabith (bisa menyampaikan hadits sesuai dengan yang dia terima).

Maka para perawi ini adalah yang banyak dikeluarkan haditsnya oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya.

2. Para perawi Shaduq yang dibawah tingkatan pertama (biasanya disifati: “shaduuq yahim”, dan yang semisalnya)

Maka ini juga dikeluarkan haditsnya akan tetapi tidak sebanyak yang pertama. Biasanya dikeluarkan dalam mutaba’ah, sedangkan yang pertama dikeluarkan dalam “Al-Ashl” atau Hadits Bab.

Hadits Bab atau Hadits Ashl adalah yang dikeluatrkan pertama kali setelah disebutkan bab. Sedangkan Mutaba’ah atau Syawahid adalah yang setelahnya.

– Mutaba’ah adalah dua orang murid yang meriwayatkan dari seorang guru secara langsung, dan ini dinamakan Mutaba’ah Taammah. Adapuna kalau dua orang meriwayatkan dengan sanad yang bertemu pada seorang syaikh di tengah sanad, dan itu jelas tidak secara langsung; maka ini Mutaba’ah Qashirah.

– Adapun Syahid adalah: dua orang Shahabat yang meriwayatkan hadits yang sama.

3. Para perawi yang lemah atau sangat lemah; maka ini tidak dikeluarkan haditsnya.

[7]- Menempatkan manusia sesuai dengan kedudukannya.

Maka yang tsiqah kita katakan tsiqah, yang dha’ if kita katakan dha’if, bahkan yang sangat dha’ if-pun kita katakan: sangat dha’ if. Tidak boleh kita merasa sungkan dalam menjelaskan.

Diriwayatkan dari ‘Aisyah -radhiyallaahu ‘anhaa-, bahwa dia berkata: Rasulullah -shallallaahu ‘alaihi wa sallam- telah memerintahkan kita untuk menempatkan manusia sesuai dengan kedudukannya.

Dan Allah juga berfirman:

…وَفَوْقَ كُلِّ ذِي عِلْمٍ عَلِيمٌ

“…Dan di atas setiap yang berilmu ada yang lebih mengetahui” [QS Yusuf: 76]

[8]- Ciri-ciri perawi yang munkar haditsnya menurut Imam Muslim.

Yaitu: jika riwayat-riwayatnya dibandingkan dengan para perawi tsiqah; maka riwayat-riwayatnya tersebut menyelisihi riwayat-riwayat mereka; sehingga mayoritas hadits-haditsnya adalah menyelisihi para perawi yang Tsiqah. Maka dia dinamakan: rawi yang Munkarul Hadits.

[9]- Syarat-syarat diterimanya kesendirian perawi

Kesendirian (tafarrud) perawi bukanlah ‘illah (penyakit) bagi hadits, akan tetapi kemungkinan bagi ‘illah, dimana kemungkinan bersalahnya lebih besar dibandingkan jika dia ada yang menyepakatinya.

Seperti: jika ada seseorang terpercaya yang membawa berita; maka walaupun kita terima; tapi ada kemungkinan salah. Jika datang orang lain yang tidak salinf kenal dengan yang pertama dan dia membawa berita yang sama; maka kita semakin percaya. Demikian juga jika datang orang ketiga, dan seterusnya, sampai derajatnya mutawatir.

Maka -menurut Imam Muslim-:

1. Jika dia adalah seorang perawi yang riwayat-riwayatnya sering sesuai dengan para perawi Tsiqah, kemudian pada suatu waktu dia memiliki tambahan; maka tambahan ini diterima darinya.

2. Adapun seorang rawi yang meriwayatkan dari Imam besar seperti Az-Zuhri dan ‘Urwah bin Zubair yang riwayatnya ini tidak diriwayatkan oleh para sahabat/murid keduanya -dan riwayat-riwayat rawi ini juga tidak sesuai dengan mereka-: maka riwayatnya ini tertolak.

[10]- Akan dijelaskan ‘Ilalul Hadiits.

Sekian penjelasan Syaikh Ziyad Al-‘Abbadi -hafizhahullaah-.

Tambahan untuk point [9]- bagian 2:

Imam Muhammad Nashiruddin Al-Albani -rahimahullaah- berkata:

“Jika ada seorang Imam -seperti Az-Zuhri- yang mempunya murid-murid yang terkenal meriwayatkan darinya,…kemudian ada seorang rawi Shaduq yang meriwayatkan sebuah Hadits dari Az-Zuhri yang tidak diriwayatkan oleh mereka…maka dalam keadaan ini sajalah Imam Muslim berpendapat bahwa Hadits rawi Shaduq ini dianggap Munkar…

Akan tetapi saya ingin katakan: Sesungguhnya pendapat Imam Muslilm ini -menurut kritikan dan ilmuku- tidak mungkin digunakan secara umum…Saya katakan ini dikarenakan: yang kita perhatikan dari para Hafizh -yang datang setelah Imam Muslim dan mengambil faedah dari ilmunya dan dari yang semisalnya dari kalangan Mutaqaddimiin (para ulama terdahulu)-: mereka tidak menggunakan pendapat dari Imam (Muslim) ini dengan penggunaan yang rinci; dimana: setiap ada rawi Shaduq yang meriwayatkan dari Imam -seperti Az-Zuhri-; kemudian mereka melemahkan Haditsnya. Maka tidak kita ketahui hal ini menjadi madzhab dari para Hafizh Muta-akhkhiriin (belakangan) dan (para ulama) yang mempunyai perhatian dengan Takhrij Hadits-Hadits dan sanad-sanad (milik para perawi) Mutaqaddimiin.”

[“Suaalaat Ibni Abil ‘Ainain” (hlm. 86-87), dan lihat (hlm. 88-89)]

– Ustadz Ahmad Hendrix-

https://www.facebook.com/ahmadhendrix.eskanto/posts/480909865583228