«

»

Mar 18

Sikap ahlu sunnah kepada ulil amri berdasarkan al-qur`an dan hadis serta sikap yang keliru kepada mereka

1. Ahlu sunnah taat kepada ulil amri

{ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الأمْرِ مِنْكُمْ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلا    { النساء :59 }

Wahai orang-orang yang beriman taatlah kalian kepada Allah dan taatlah kepada rasul dan ulil amri kalian, apabila kalian berselisih dalam suatu perkara hendaklah kalian kembalikan kepada Allah dan rasul jika kalian beriman kepada Allah dan hari akhir, itu adalah kebaikan dan sebaik-baik akibatnya (Annisa :59)

2. contoh perselisihan ahlu sunnah dengan ulil amri ialah  ketika ulill amri melakukan sebuah kemaksiatan kepada Allah maka tetap ahlu sunnah tidak boleh memberontak kepada mereka, hal ini bisa terlihat dalam gambaran hadis di bawah ini :

خيار أئمتكم الذين تحبونهم ويحبونكم وتصلون عليهم ويصلون عليكم وشرار أئمتكم الذين تبغضونهم ويبغضونكم وتلعنونهم ويلعنونكم ) قالوا قلنا يا رسول الله أفلا ننابذهم عند ذلك ؟ قال ( لا ما أقاموا فيكم الصلاة لا ما أقاموا فيكم الصلاة ألا من ولى عليه وال فرآه يأتي شيئا من معصية الله فليكره ما يأتي من معصية الله ولا ينزعن يدا من طاعة  (صحيح المسلم كتاب الإمارة : 4782 )

: ” sebaik-baik Imam kalian adalah orang-orang yang kalian mencintai mereka dan mereka mencintai kalian dan kalian mendoakan mereka dan mereka mendoakan kalian dan sejelek-jelek imam adalah imam-imam yang kalian marah kepada mereka dan mereka marah kepada kalian, mereka melaknat kalian dan kalian melaknat mereka,  mereka (para sahabat) berkata : kami berkata : apakah kita tidak mencabut mereka dari kekuasaannya   di saat itu ?, beliau bersabda : “Jangan, selama mereka shalat dengan kalian; jangan, selama mereka shalat dengan kalian,  ketahuilah barang siapa yang diberi wali kapadanya seorang waliul amri lalu dia melihat pada wali tersebut sesuatu dari maksiat kepada Allah maka hendaklah dia membenci apa yang dia lakukan dari maksiat kepada Allah tersebut dan jangan sekali-kali mencabut tangannya dari ketaatan padanya (memberontak) ( HR Muslim, kitabul imarah  no 4782)

Dan juga hadis Abu Umamah Al bahili

وروى الإمام الهيثمي في المُجْمَع بسندٍ رجاله ثقات عن سعيد بن جهمان أنه أتى الصحابي الجليل عبد الله بن أبي أوفى رضي الله عنه -وكان ضريراً- فسلمّ عليه، فقال: من أنت؟

فقال: أنا سعيد بن جهمان قال: ما فعل والدك؟ رد سعيد: قتلته الأزارقة -وهي من فرق الخوارج- فقال رضي الله عنه: لعن الله الأزارقة لعن الله الأزارقة، سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول: كلاب النار فقال سعيد: الأزارقة وحدهم أو الخوارج كلها؟ قال بن أبي أوفى: بل الخوارج كلها فقال سعيد: فإن السلطان يظلم الناس ويفعل بهم ويفعل فتناول بن أبي أوفى بيد سعيد بن جهمان فَغَمَزَها غمزة شديدة، ثم قال: يا ابن جمهان عليك بالسواد الأعظم، فإن كان السلطان يسمع منك فائته في بيته فأخبره بما تعلم -أي انصحه وأبلغه ظلم من تحت يديه- فإن قَبِلَ منك وإلا فَدَعْهُ فلست بأعلم منه.

3. Sikap ahlu sunnah ketika melihat ulil amri melakukan kekeliruan ialah  mendoakan mereka dengan kebaikan sebagaimana perkataan salafus saleh :

(كتاب السنة / البر بهاري) قال:  إذا رأيت الرجل يدعوا على سلطان: فاعلم أنه صاحب هوى وأن سمعت الرجل يدعو للسلطان بالصلاح فاعلم أنه صاحب سنة إن شاء الله تعالى (كتاب المناهج والفرق :83 ) .

Dalam kitab Assunnah oleh imam Albarbahari dia berkata : Jika engkau melihat seseorang mendoakan kejelekan kepada penguasa maka ketahuilah dia adalah pengikut hawa nafsu dan jika engkau melihat seseorang mendoakan kebaikan kepada penguasa ketahuilah bahwasanya ia adalah pengikut sunnah insya Allah taala.(kitab manahij wal furuq :83)

4. Kalau Allah memberi kemampuan untuk menasehati ulil amri maka ahlu sunnah menasehati ulil amri dengan cara yang lemah lembut

قال عياض بن غنم لهشام بن حكيم ألم تسمع بقول رسول الله صلى الله عليه وسلم  من أراد أن ينصح لذي سلطان فلا يبده علانية ولكن يأخذ بيده فيخلوا به فإن قبل منه فذاك وإلا كان قد أدى الذي عليه (في ظلال الجنة : 273 )

Berkata Iyadh bin ghanam kepada Hisyam bin Hakim: “Tidakkah engkau dengar Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda : “Barangsiapa yang ingin menasehati penguasa maka janganlah ia menampakkannya secara terang-terangan, akan tetapi hendaklah dia mengambil tangan penguasa tersebut dan hendaklah dia menyendiri dengannya, apabila penguasa menerima nasehatnya maka itulah yang diinginkan, dan jika tidak maka dia telah melaksanakan kewajibannya”. (hadis shahih kitab fizilalil jannah hal 273).

5. Ahlu sunnah semaksimal mungkin menghindari kemaksiatan seperti perbuatan syirik, makan makanan yang haram, judi dan perbuatan dosa lainnya walaupun yang menyuruhnya adalah ulil amri tetapi ini semua dilakukan dengan cara lemah lembut seperti pada patokan patokan sebelumnya

– ” لا طاعة لأحد في معصية الله تبارك و تعالى ” .

قال الألباني في “السلسلة الصحيحة” 1 / 297 : و إسناده صحيح على شرط مسلم

“Tidak ada ketaatan terhadap seseorang dalam bermaksiat kepada Allah”

(Berkata Syaikh Albani dalam silsilah hadis shahih 1/297 : dan sanadnya shahih atas syarat muslim)

6. Ahlu  sunnah tidak mengkafirkan penguasa yang belum memahami ajaran islam dengan benar karena kesamaran yang mengenai mereka tentang islam dan berbagai faktor lain yang menghalangi sesorang itu dianggap kafir. Seperti ketidak tahuan, kesalahpahaman tentang islam/ ta`wil dan  keterpaksaan.

Dalil tentang ketidak tahuan

وما كان الله ليضل قوما بعد إيمانهم إذ هداهم  حتى يبين لهم مايتقون إن الله بكل شيء عليم

Dan Allah sekali-kali tidak akan menyesatkan suatu kaum, sesudah Allah memberi petunjuk kepada mereka sampai dijelaskan-Nya kepada mereka apa yang harus mereka jauhi Sesungguhnya Allah Maha mengetahui segala sesuatu. (At-taubah : 115)

يقول تعالى مخبرا عن نفسه الكريمة وحكمه العادل: إنه لا يضل قوما بعد بلاغ الرسالة إليهم، حتى يكونوا قد قامت عليهم الحجة

berkata Ibn katsir dalam tasir ayat tersebut : “Berfirman Allah taala seraya menghabarkan tentang diriNya yang mulia dan hikmahNya yang adil ; sesungguhnya Dia tdak akan menyesatkan (menganggap sesat)  suatu kaum setelah sampainya risalah kepada mereka sampai mereka dalam keadaan telah tegak atas mereka hujjah (bukti)

( Tafsir Al-qur`anul adhim hal 156)

Dalil karena kekeliruan

وَلَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ فِيمَا أَخْطَأْتُمْ بِهِ  (الأحزاب : 5)

“tidak ada dosa bagi kalian terhadap apa yang kalian keliru (salah dengan tidak menyengaja) di dalamnya. (QS Al-ahzab : 5)

Dalil tentang  keterpaksaan

إلا من أكره وقلبه مطمئن بالإيمان ( النحل : 106 )

Kecuali yang dipaksa  dan hatinya tetap tenang dalam keimanan (maka ia masih dianggap sebagai orang beriman) ( QS An-nahl : 106)

Dan juga kisahnya Ammar bin yasir yang dipaksa untuk mengatakan tuhan saya Hubal, dia terpaksa mengatakannya karena kalau tidak, dia akan dibunuh.

أَخَذَ الْمُشْرِكُونَ عَمَّارًا فَعَذَّبُوهُ حَتَّى قَارَبَهُمْ فِي بَعْض مَا أَرَادُوا ، فَشَكَى ذَلِكَ إِلَى النَّبِيّ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ لَهُ : كَيْف تَجِد قَلْبك ؟ قَالَ : مُطْمَئِنًّا بِالْإِيمَانِ ، قَالَ فَإِنْ عَادُوا فَعُدْ) قال ابن حجر في الفتح 398 : هَذِهِ الْمَرَاسِيل تَقَوَّى بَعْضُهَا بِبَعْضٍ)

Orang-orang musyrik menangkap Ammar dan menyiksanya sampai ia mematuhi kepada mereka pada sebagian yang mereka inginkan, lalu ia mengadukan halnya kepada rasulullah shallallahu alaihi wa salllam, beliau bersabda : “Bagaimana hatimu?” dia menjawab : “Hatiku dalam keadaan tenang dalam keimanan” dia bersabda : “jika mereka mengulang (paksaan) maka ulangilah jawaban yang sama” ( Berkata Ibn Hajar dalam fathul bari hal 398: sanad-sanad hadis ini marasil yang menguatkan sebagiannya kepada yang lain}.

Dalil karena menta`wil

Adapun tentang dalil ta`wil adalah kisah sujudnya Muadz bin jabal kepada rasulullah karena beralasan  untuk memuliakan nabi (menta`wil) bahwa rasulullah lebih berhak disujudi dari para pendeta, hal ini kemudian dillarang oleh Rasulullah tetapi Muadz tidak dikafirkan karena dia berbuat seperti itu karena  dia menta`wil

والحديث حسَّنه الألباني في «الإرواء»: (7/56)

Hadis muadz bin jabal di atas dihasankan oleh syaikh Albani dalam Al-irwa` 7/56

7. Ahlu sunnah dilarang untuk membunuh siapa saja yang masih memiliki keimanan  apakah ia sebagai ulil amri atau rakyat biasa sebagaimana bunyi ayat al-qur`an

{ وَمَنْ يَقْتُلْ مُؤْمِنًا مُتَعَمِّدًا فَجَزَاؤُهُ جَهَنَّمُ خَالِدًا فِيهَا } الآية [النساء: 93].

dan barangsiapa  membunuh seorang mukmin dengan sengaja  maka balasannya adalah neraka, mereka kekal di dalamnya (QS Annisa : 93 )

8. Dalam kondisi tertentu menghilangkan nyawa orang beriman hanya boleh dilakukan oleh ulil amri (karena ini yang dilakukan oleh rasul sebagai ulil amri dan juga khulafa rasyidin sebagai ulil amri) sebagaimana bunyi hadis yang sudah masyhur

” عليكم بسنتي و سنة الخلفاء الراشدين المهديين بعدي ) السلسلة الصحيحة 2835 )

“Kewajiban kalian adalah mengikuti sunnahku dan mengikuti sunnah khulafa rasyidin sesudahku” (silsilah hadis hadis shahih 2835)

dan bukanlah hak masyarakat umum dan itupun dibatasi oleh syariat pada empat keadaan :

1. karena hukum bunuh dibalas bunuh

2. orang yang sudah berkeluarga berzina

3. orang yang murtad dan keluar dari  jamaah kaum muslimin

4. pemberontak

“لا يحل دم امرئ مسلم يشهد أن لا إله إلا الله، وأني رسول الله إلا بإحدى ثلاث: الثيب الزاني، والنفس بالنفس، والتارك لدينه المفارق للجماعة (صحيح البخاري برقم (6878) وصحيح مسلم برقم (1676)).

Tidak halal darah seoarang muslim yang bersaksi tiada sembahan yang hak kecuali Allah dan muhammad adalah rasulullah kecuali dalam tiga keadaan : orang tua (sdh berkeluarga berzina, hukum bunuh dibalas bunuh, orang murtad dan keluar dari jamaah kaum muslimin  .( HR Bukhari 6878 dan muslim 1676)

{ وَإِنْ طَائِفَتَانِ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ اقْتَتَلُوا فَأَصْلِحُوا بَيْنَهُمَا فَإِنْ بَغَتْ إِحْدَاهُمَا عَلَى الأخْرَى فَقَاتِلُوا الَّتِي تَبْغِي حَتَّى تَفِيءَ إِلَى أَمْرِ اللَّهِ } [الحجرات: 9]

Dan jika dua kelompok dari orang beriman saling bertempur maka damaikanlah keduanya, dan jika salah satu kelompok melampaui batas (melakukan bughat/pemberontakan) maka perangilah mereka sampai mereka yang memberontak kembali kepada perintah Allah ( QS Al-hujarat : 9)

Memerangi pemberontak diperintahkan, walaupun di sana ada resiko pembunuhan terhadap pemberontak.

9. orang beriman baik dia sebagai rakyat atau pemimpin bisa menurun keimanannya sampai batas minimal (seberat debu keimanan) dan itu diakui oleh Allah subhanahu wa taala sehingga Allah keluarkan mereka dari neraka, sehingga mereka masih dalam wilayah larangan Allah dalam ayat dan hadis diatas   (tidak boleh di bunuh).

يخرج من النار من كان في قلبه مثقال ذرة من الإيمان ) السلسلة الصحيحة 2450)

Akan keluar dari neraka siapa saja yang didalam hatinya masih terdapat seberat debu dari iman ( Silsilah hadis sahih no 2450)

10. orang yang tetap mengkafirkan orang yang masih memiliki keimanan akan membalik kekafiran itu pada dirinya

” أيما امرئ قال لأخيه : يا كافر ! فقد باء بها أحدهما إن كان كما قال و إلا

رجعت عليه ( و في رواية : ” على الآخر ” ) (السلسلة الصحيحة 2891)

Siapa saja yang mengatakan kepada saudaranya Hai kafir maka akan kembali kekafiran itu pada salah satu dari keduanya, jika dia memang kafir maka itu seperti yang ia katakan jika tidak maka akan kembali kekafiran kepada yang menuduhnya.( silsilah hadis sahih 2891)

11. Seorang yang menentang ayat dan hadis di atas akan mendapatkan beberapa konsekwensi sebagai berikut :

1. Orang yang membunuh orang kafir muahad (orang kafir yang ada perjanjian dengan kaum muslimin; seperti duta, turis dan lainnya) mereka tidak bisa mencium bau sorga

من قتل معاهدا لم يرح رائحة الجنة وإن ريحها ليوجد من مسيرة أربعين عاما

( صحيح ) غاية المرام 449 : وأخرجه البخاري 6914

Barangsiapa yang  membunuh orang kafir muahad (orang kafir yang ada perjanjian damai dengan kaum muslimin) dengan sengaja maka tidak akan bisa mencium bau sorga, dan sungguh aroma sorga itu tercium dari jarak perjalanan 40 tahun (hadis shohih kitab ghoyatul maram no 449, dikeluarkan pula oleh imam bukhari.no 6914)

2. orang yang mengkafirkan seorang muslim yang masih memiliki keimanan walaupun lemah bisa menyebabkan kekafiran membalik kepada dirinya  (hadis pada point 10)

3. orang yang memberontak kepada imam yang masih memiliki keimanan maka berhak untuk diperangi walaupun tidak dikafirkan

seperti jawaban khalifah Ali ketika ditanya tentang orang-orang yang memberontak padanya :

Apakah orang-orang yang memberontak kepada beliau tersebut kafir?

beliau menjawab : dari kekafiran mereka lari.

kemudian ditanyakan lagi :Apakah mereka orang-orang munafik?

maka Ali menjawab :  bahwa orang munafik itu tidak  banyak berdzikir.

Kemudian ditanyakan kepadanya,:  lalu siapa mereka?

maka Ali radliallohu anhu menjawab : mereka adalah suatu kaum yang  memberontak kepada kita .

inilah sebabnya beliau memerangi mereka sehingga tinggal beberapa orang saja.

(albaihaqi : 174/8, ibnu abi syaibah 332/15 dan ibn nasr dalam ta`dzim qadri shalat 591-594)

4. Tidak menutup kemungkinan bahwa diantara mereka ada yang kafir  sebagaimana dhahir hadis nabi shallallahu alaihi wa sallam. :

يمرقون من الدين كما يمرق السهم من الرمية  (السلسلة الصحيحة 2495)

Mereka keluar dari agama seperti  keluarnya anak panah dari buruannya ( silsilah hadis sahih 2495)

5. Mereka yang tidak bertaubat dan tetap dalam kekhawarijannya akan mendapatkan sebuah gelar dan hukuman yang sangat pedas dari rasululullah sebagaimana bunyi hadis berikut ini :

الْخَوَارِجُ كِلاَبُ النَّارِ

Orang –orang khawarij itu anjing-anjing neraka (Ibn Majah no 178, disahihkan oleh Syaikh Albani)

6. Allah tidak mengabulkan keinginan mereka dalam usaha mereka  menggunakan agama sebagai alat untuk menguasai tampuk kepemimpinan

حدثنا هشام بن عمار حدثنا يحيى بن حمزة حدثنا الأوزاعي عن نافع عن ابن عمر أن رسول الله صلى الله عليه و سلم قال ينشأ نشء يقرءون القرآن لا يجاوز تراقيهم كلما خرج قرن قطع قال ابن عمر سمعت رسول الله صلى الله عليه و سلم يقول كلما خرج قرن قطع أكثر من عشرين مرة حتى يخرج في عراضهم الدجال (السلسلة الصحيحة (2455

Bersabda nabi shallallahu alaihi wa sallam tentang khawarij yang artinya: “Akan tumbuh suatu generasi yang mereka membaca al-qur`an tetapi tidak melewati tenggorokan mereka setiap keluar tanduk mereka maka dipotong, berkata ibnu umar aku mendengar rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda : “setiap keluar tanduk mereka maka dipotong” lebih dari duapuluh kali “sampai keluar dalam barisan mereka dajjal” (hadis hasan; silsilah hadis sahih 2455)

7. Allah mengijinkan nabinya untuk memerangi orang-orang khawarij dan menumpas mereka seperti penumpasan yang dilakukan oleh Allah terhadap kaum Ad

إن من ضئضئ هذا قوما يقرءون القرآن لا يجاوز حناجرهم يمرقون من الإسلام مروق السهم من الرمية يقتلون أهل الإسلام ويدعون أهل الأوثان لئن أدركتهم لأقتلنهم قتل عاد ” أخرجه مسلم في الزكاة باب ذكر الخوارج وصفاتهم رقم 1064

Bersabda nabi shallallahu alaihi wasallam “sesungguhnya dari pemikiran(keturunan) orang ini(cikal bakal khawarij) akan muncul suatu kaum yang mereka membaca Al-qur`an tetapi tidak melewati tenggorokan mereka. Mereka keluar dari islam seperti keluarnya anak panah dari buruan, mereka membunuhi orang-orang islam dan membiarkan para penyembah berhala kalau aku menemui mereka maka aku akan tumpas mereka seperti penumpasan kaum ad (dikeluarkan oleh imam Muslim dalam kitab zakat bab dzikr khowarij wa sifatihim no 1064)

8. Allah memberi pahala bagi mereka (ulil amri) yang bisa menumpasnya

قال  علي، رضي الله عنه: ” سمعت النبي صلى الله عليه وسلم يقول: “يأتي في آخر الزمان قوم حدثاء الأسنان، سفهاء الأحلام، يقولون من خير قول البرية، يمرقون من الإسلام كما يمرق السهم من الرَّميَّة، لا يجاوز إيمانهم حناجرهم، فأينما لقيتموهم فاقتلوهم، فإن قتلهم أجر لمن قتلهم يوم القيامة”  صحيح البخاري برقم (5057).

Berkata Ali radliallahu `anhu : “aku mendengar nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda” : ” akan datang di akhir zaman orang-orang yang masih muda belia, yang bodoh nalarnya, mereka berkata-kata dengan sebaik-baik perkataan manusia (para nabi), (tetapi) mereka keluar dari islam seperti keluarnya anak panah (yang telah masuk) dari binatang buruan. Iman mereka tidak melewati tenggorokan mereka (hanya di mulut saja). Di mana saja kalian (ulil amri) menemui mereka maka bunuhlah mereka karena sesungguhnya membunuh mereka ada pahalanya pada hari kiamat” (HR Bukhari no 5057)

وصلى الله على محمد والحمد لله رب العالمين