«

»

Feb 07

EMPAT PERTANYAAN DALAM MASALAH TAKDIR

EMPAT PERTANYAAN DALAM MASALAH TAKDIR

PERTANYAAN PERTAMA:

Kenapa amal perbuatan manusia -yang mana itu muncul dari kehendaknya- masuk dalam ciptaan Allah?

Jawab:

Karena perbuatan manusia muncul dari kehendak/keinginan dan kemampuan:

– tidak akan muncul perbuatan yang tidak diinginkan -walaupun dia mampu-,

– dan tidak akan muncul perbuatan yang memang dia tidak mampu untuk melaksanakannya -walaupun dia menghendaki-.

Sedangkan keduanya (kehendak dan kemampuan) merupakan ciptaan Allah. Hal itu bisa dirasakan ketika tiba-tiba keinginan bisa berubah, atau melemah, dan lain-lain, dan dengan kemampuan yang tiba-tiba Allah lemahkan atau Allah hilangkan.

PERTANYAAN KEDUA:

Kalau amal perbuatan manusia adalah Allah yang mentakdirkan; maka kenapa kemudian Dia mengadzab mereka atas dosa-dosa mereka; padahal Dia lah yang telah menciptakan perbuatan manusia; bukankah ini tidak adil?

Jawab:

Memang Allah lah yang menciptakan perbuatan hamba; termasuk dosa, akan tetapi itu adalah sebagai hukuman atas dosa sebelumnya, karena hukuman bagi kemaksiatan adalah kemaksiatan yang selanjutnya.

PERTANYAAN KETIGA:

Kalau Allah mentakdirkan dosa disebabkan dosa yang sebelumnya; lalu bagaimana dengan dosa yang pertama?

Jawab:

Itu juga sebagai hukuman atas tidak adanya pengamalan terhadap tujuan dia diciptakan di dunia; yaitu: beribadah kepada Allah.

Karena Allah menciptakan hamba untuk beribadah kepada-Nya saja; tidak ada sekutu bagi-Nya, dan Allah memfitrahkan hamba untuk mencintai-Nya, beribadah kepada-Nya dan senantiasa kembali kepada-Nya.

Tatkala hamba tidak melakukan tujuan dia diciptakan: berupa cinta kepada Allah, beribadah kepada-Nya dan senantiasa kembali kepada-Nya; maka hamba dihukum atas ketidak adaan hal tersebut dengan hukuman berupa: adanya syaithan yang menghias-hiasi perbuatannya berupa kesyirikan dan kemaksiatan; dan hal itu mengenai hati yang kosong yang bisa menerima kebaikan maupun keburukan.

Kalau lah ada kebaikan dalam hati yang bisa digunakan untuk menolak kejelekkan; maka kejelekkan tidak akan menetap di dalamnya.

PERTANYAAN KEEMPAT:

Kalau dosa pertama dikarenakan mereka tidak mau melaksanakan ibadah -yang merupakan tujuan mereka diciptakan-; lalu kenapa Allah memberikan petunjuk kepada yang ini untuk melakukan ibadah dan tidak memberikan petunjuk kepada yang itu?

Jawab:

Ini adalah pertanyaan tentang HIKMAH Allah; kenapa Dia memberikan karunia kepada yang ini dan tidak memberikannya kepada yang itu.

Maka Allah sendiri yang langsung menjawabnya dengan firman-Nya:

…ذَلِكَ فَضْلُ اللَّهِ يُؤْتِيهِ مَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ ذُو الْفَضْلِ الْعَظِيمِ

“…Itulah karunia Allah, yang diberikan kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah mempunyai karunia yang besar.” (QS. Al-Hadid: 23)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah -rahimahullaah- berkata dalam Minhajus Sunnah (III/177):

“Rincian HIKMAH Allah dalam penciptaan dan perintahnya; tidak mampu diketahui oleh akal-akal manusia.”

Demikian juga dikatakan oleh Imam Ibnul Qayyim -rahimahullaah- dalam Ash-Shawaa-‘iqul Mursalah- (IV/1560). Dan beliau juga berkata (Mukhtashar Ash-Shawaa-‘iq Al-Mursalah) (hlm. 324-325- cet. Daarul Fikr):

“Dan tidak termasuk hikmah: memberikan ilmu kepada salah satu individu manusia tentang kesempurnaan HIKMAH Allah dalam pemberian dan pencegahan-Nya. Bahkan, kalau Allah nampakkan bagi hamba tentang sedikit dari HIKMAH-Nya dalam penciptaan, perintah, pahala dan hukuman-Nya, dan hamba meperhatikan keadaan tempat-tempat hal tersebut; maka dengan apa yang telah hamba ketahui (tentang hikmah Allah dalam tempat-tempat tersebut); dia jadikan dalil (untuk meng-qiyas-kannya kepada) apa yang tidak dia ketahui.”

Tatkala orang-orang musyrik merasa janggal terhadap peng-khusus-an ini dengan perkataan mereka:

…أَهَؤُلاءِ مَنَّ اللَّهُ عَلَيْهِمْ مِنْ بَيْنِنَا…

“…Orang-orang semacam inikah di antara kita yang diberi anugerah oleh Allah?…” (QS. Al-An’aam: 53)

Maka Allah menjawab mereka dengan firman-Nya:

…أَلَيْسَ اللَّهُ بِأَعْلَمَ بِالشَّاكِرِينَ

“…Tidakkah Allah yang lebih mengetahui tentang mereka yang bersyukur kepada-Nya?” (QS. Al-An’aam: 53)

Ini adalah jawaban yang mencukupi dan memuaskan, di dalamnya terkandung bahwa Allah lebih mengetahui terhadap tempat yang pantas untuk ditanami pohon nikmat; sehingga akan membuahkan syukur, dan Allah mengetahui tempat yang tidak layak, yang kalau ditanami pohon nikmat; maka tidak akan berbuah, sehingga menanami nikmat padanya adalah suatu hal yang sia-sia dan tidak sesuai dengan hikmah. Sebagaimana firman Allah:

…اللَّهُ أَعْلَمُ حَيْثُ يَجْعَلُ رِسَالَتَهُ…

“…Allah lebih mengetahui di mana Dia menempatkan tugas kerasulan-Nya…” (QS. Al-An’aam: 124)

[Lihat: Mukhtashar Ash-Shawaa-‘iq Al-Mursalah (hlm. 320-325- cet. Daarul Fikr), Syarh Al-‘Aqidah Ath-Thahawiyyah (hlm. 439-443- takhriij Imam Al-Albani), dan At-Tanbiihaat Al-Lathiifah (hlm. 82- tahqiiq Syaikh ‘Ali Al-Halabi)]