«

»

Mar 04

ENAM PERKARA YANG HARUS DIHADIRKAN DALAM SETIAP IBADAH

ENAM PERKARA YANG HARUS DIHADIRKAN DALAM SETIAP IBADAH

(dan contohnya adalah Shalat)

Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah -rahimahullaah- berkata:

Dan yang harus diketahui adalah: Bahwa shalat yang bisa menjadi قُــرَّةُ الْــعَــيْــنِ (kesenangan hati) dan istirahat-nya hati adalah Shalat yang terkumpul didalamnya enam kehadiran [dan ini tidak khusus untuk Shalat saja, Shalat dijadikan contoh; karena itu adalah amalan yang paling agung]:

KEHADIRAN PERTAMA: IKHLAS

Yaitu: yang membawa dia dan mendorongnya untuk shalat adalah: harapan kepada Allah, kecintaaan kepada-Nya, mencari ridha-Nya, mencari cinta-Nya dan karena melaksanakan perintah-Nya. Pendorongnya bukanlah bagian dari segi keduniaan sama sekali, bahkan dia mengerjakan shalat karena mengharap wajah Rabb-nya (Allah) Yang Maha Tinggi; karena cinta kepada-Nya, takut adzab-Nya dan berharap ampunan dan pahala-Nya.

KEHADIRAN KEDUA: HADIRNYA KEJUJURAN DAN KETULUSAN

Yaitu: memusatkan hatinya dalam shalat hanya untuk Allah, mengerahkan usahanya untuk menghadap kepada Allah di dalam shalatnya, mengumpulkan hatinya (untuk fokus) di dalam shalat, dan melaksanakan shalat dengan sebaik-baiknya dan berusaha semaksimal mungkin agar sempurna; secara lahir dan batin. Karena shalat memiliki lahir dan batin, lahirnya adalah: gerakan-gerakan shalat yang terlihat dan perkataan-perkataan yang bisa didengarkan, dan batinnya adalah: khusyu’, muraaqabah (merasa diawasi oleh Allah-pent), memusatkan hatinya hanya untuk Allah, dan menghadap kepada Allah dengan sepenuh hati; dengan tidak memalingkan hati kepada selain-Nya. Maka (batin) ini ibarat ruh-nya shalat, sedangkan gerakan-gerakan (shalat) ibarat badannya.

KEHADIRAN KETIGA: KEHADIRAN MUTAABA’AH (MENGIKUTI) DAN MENCONTOH (NABI -shallallaahu ‘alaihi wa sallam-)

Yaitu: (seorang hamba) berusaha keras untuk mencontoh Nabi -shallallaahu ‘alaihi wa sallam-dalam shalatnya, dia shalat sebagaimana beliau -shallallaahu ‘alaihi wa sallam- shalat, dan berpaling dari hal-hal baru yang dibuat oleh manusia di dalam shalat: berupa penambahan, pengurangan, dan aturan-aturan yang bukan berasal dari Rasulullah -shallallaahu ‘alaihi wa sallam-sama sekali dan tidak juga (berasal) dari Shahabat beliau.

KEHADIRAN KEEMPAT: HADIRNYA IHSAN

Yaitu: menghadirkan “muraaqabah”, dimana seorang hamba beribadah kepada Allah seolah-olah dia melihat-Nya. Hal ini bisa muncul disebabkan sempurnanya iman kepada Allah, nama-nama dan sifat-sifat-Nya; sampai seolah-olah hamba melihat Allah -Ta’aalaa- diatas langit-Nya sedang istiwaa’ (bersemayam) di atas ‘Arsy-Nya, berbicara dengan perintah-Nya dan larangan-Nya, mengatur urusan makhluk-Nya, perkara turun dari sisi-Nya dan juga naik kepada-Nya, amalan-amalan hamba dan juga ruh-ruh mereka -ketika matinya- di hadapkan kepada-Nya; maka hamba menyaksikan semua itu dengan hatinya.

KEHADIRAN KELIMA: MENGHADIRKAN KARUNIA ALLAH KEPADA DIRINYA

Yaitu: mengakui bahwa karunia hanya milik Allah -Ta’aalaa-, Dia-lah yang menjadikan seorang hamba bisa berdiri untuk shalat, membuatnya mampu untuk mengerjakannya, dan memberikan taufik kepadanya untuk bisa menegakkan shalat dengan hati dan badannya demi untuk berkhidmat kepada-Nya. Kalau bukan karena Allah -Ta’aalaa-; maka tidak akan terwujud satu pun dari hal-hal tersebut; sebagaimana para Shahabat berkata dihadapan Nabi -shallallaahu ‘alaihi wa sallam-:

وَاللهِ لَوْلاَ أَنْتَ مَا اهْتَدَيْنَا … وَلاَ تَصَدَّقْنَا وَلاَ صَلَّيْنَا

Demi Allah, kalau bukan karena Allah; kami tidak akan mendapat petunjuk…

tidak juga kami bisa bersedekah dan tidak juga kami bisa Shalat

Dan Allah -Ta’aalaa- berfirman (tentang sebagian Arab Badui):

يَمُنُّونَ عَلَيْكَ أَنْ أَسْلَمُوا قُلْ لَا تَمُنُّوا عَلَيَّ إِسْلَامَكُمْ بَلِ اللَّهُ يَمُنُّ عَلَيْكُمْ أَنْ هَدَاكُمْ لِلْإِيمَانِ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ

“Mereka merasa berjasa kepadamu dengan keislaman mereka. Katakanlah: Janganlah kamu merasa berjasa kepadaku dengan keislamanmu, sebenarnya Allah yang melimpahkan nikmat kepadamu dengan menunjukkan kamu kepada keimanan, jika kamu orang yang benar.” (QS. Al-Hujurat: 17)

Ini adalah termasuk kehadiran terbesar dan paling bermanfaat bagi seorang hamba, semakin besar tauhid seorang hamba; maka semakin sempurna bagiannya dari kehadiran ini.

Dan didalamnya terdapat beberapa faedah; diantaranya: bisa menghalangi hati dari sifat ujub (bangga) dan melihat (besar) amalannya. Karena kalau dia menyaksikan bahwa Allah-lah yang memberikan karunia kepadanya, memberinya taufik dan petunjuk; maka hadirnya hal tersebut akan menyibukkan dirinya dari melihat (besar) dan bangga (terhadap amalnya-pent), dan (mencegahnya) untuk meremehkan manusia. Sehingga (sifat ujub) itu bisa terangkat dari hatinya dan hatinya tidak lagi ujub, dan bisa terangkat dari ucapannya; sehingga dia tidak menyebut-nyebutnya dan tidak menyombongkan diri dengan (amalan)nya. Dan inilah ciri amalan yang terangkat (diterima).

Diantara faedahnya adalah: seorang hamba senantiasa menyandarkan pujian kepada pemiliknya dan yang berhak mendapatkannya (yaitu: Allah-pent), sehingga dia tidak merasa dirinya pantas untuk dipuji, bahkan dia yakini bahwa segala pujian hanya milik Allah; sebagaimana dia meyakini bahwa segala nikmat adalah milik Allah, semua karunia adalah milik-Nya dan segala kebaikan berada di kedua tangan-Nya, dan ini termasuk kesempurnaan tauhid. Maka pijakan tauhidnya tidak akan menetap kecuali dengan ilmu dan persaksian ini.

KEHADIRAN KEENAM: SENANTIASA MERASA KURANG (DALAM AMALANNYA)

Seorang hamba; walaupun dia berusaha untuk melaksanakan perintah (Allah) dengan usaha yang maksimal dan dia mengerahkan segenap usahanya; maka tetap dia dikatakan orang yang kurang. (Hal itu dikarenakan) hak Allah -Ta’aalaa- yang harus ditunaikannya lebih besar lagi, dan ketaatan, peribadahan dan khidmah yang harus dipersembahkan lebih banyak dari itu, sedangkan keagungan dan kemulian Allah -Ta’aalaa-; menuntut adanya peribadahan yang sesuai.

[Risaalah Ibnil Qayyim Ilaa Ahadi Ikhwaanihi (hlm. 39 – 49), dengan diringkas, dan tambahan dalam kurung [ ] di awal adalah penjelasan dari Syaikh Sulaiman Ar-Ruhaili -hafizhahullaah- ketika men-syarh Risalah ini pada dauroh Trawas yang kelima belas]