«

»

Mar 04

MUNAFIK DI SETIAP MASA

MUNAFIK DI SETIAP MASA

[1]- Yang perlu -bahkan harus- diperhatikan: bahwa ketika Allah menyebutkan sifat-sifat orang munafik dalam Al-Qur’an; bukan berarti hal itu khusus bagi orang-orang munafik yang ada pada zaman Nabi -shallallaahu ‘alaihi wa sallam-. Ini adalah suatu bentuk penyempitan dalam memahami Al-Qur’an; yang menjadikan banyak orang terhalang untuk mentadabburi Al-Qur’an.

[Lihat pembahasan: “Penghalang Tadabbur & Berdalil”, di:
http://ahmadhendrix.blogspot.co.id/…/42-penghalang-tadabbur…]

[2]- Seperti firman Allah tentang orang-orang munafik:

وَإِذَا رَأَيْتَهُمْ تُعْجِبُكَ أَجْسَامُهُمْ وَإِنْ يَقُولُوا تَسْمَعْ لِقَوْلِهِمْ كَأَنَّهُمْ خُشُبٌ مُسَنَّدَةٌ يَحْسَبُونَ كُلَّ صَيْحَةٍ عَلَيْهِمْ هُمُ الْعَدُوُّ فَاحْذَرْهُمْ قَاتَلَهُمُ اللَّهُ أَنَّى يُؤْفَكُونَ

“Dan apabila engkau melihat mereka; tubuh mereka mengagumkanmu. Dan jika mereka berkata; engkau mendengarkan tutur katanya. Mereka seakan-akan kayu yang tersandar. Mereka mengira bahwa setiap teriakan ditujukan pada mereka. Mereka itulah musuh (yang sebenarnya), maka waspadalah terhadap mereka; semoga Allah membinasakan mereka. Bagaimanakah mereka dapat dipalingkan (dari kebenaran)?” (Al-Munafiqun: 4)

[3]- Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah -rahimahullaah- berkata:

“Mereka (sebagian ahli tafsir) berkata bahwa yang di maksud dalam ayat ini adalah ‘Abdullah bun Ubayy (bin Salul); karena dia termasuk manusia yang paling bagus badannya.

Akan tetapi yang benar adalah: bahwa lafazh di atas umum berlaku bagi setiap orang yang bersifat dengan sifat-sifat ini; yaitu: badan yang sehat dan sempurna serta perkataan yang bagus; akan tetapi kosong dari ruh keimanan, dan kosong dari kecintaan kepada petunjuk, serta tidak mendahulukkaanya (atas yang lainnya). Seperti kayu yang di potong dan disandarkan yang kosong dari ruh kehidupan; sehingga tidak bisa tumbuh berkembang, dan tidak bisa menghasilkan buah. Dan sifat mereka yang penakut dan lemah; sehingga menyangka bahwa setiap teriakan ditujukan pada mereka.”

[“Ash-Shawaa-‘iqul Mursalah” (II/702), karya Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah -rahimahullaah-]

[4]- Dan pensifatan dengan “kayu yang tersandar” berfaedah bahwa: mereka tidak bermanfaat sama sekali. Karena kayu; apabila digunakan untuk atap, tembok, atau yang lainnya; adalah bermanfaat. Sedangkan; kalau hanya disandarkan; maka apa manfaatnya?!

[Lihat: I’laamul Muwaqqi’iin (hlm.130-cet. Daar Thayyibah)]

[5]- Silahkan lihat penjelasan beliau juga tentang sifat-sifat orang Munafik di:

http://ahmadhendrix.blogspot.co.id/…/g-al-munaafiquun-orang…