«

»

Mar 04

‘AQIDAH WASITHIYAH

KAJIAN ‘AQIDAH WASITHIYAH 3

Syakhul Islam -rahimahullaah- berkata:

وَمِنَ الْإِيْـمَانِ بِاللّٰـهِ: اَلْإِيْـمَانُ بِـمَا وَصَفَ بِـهِ نَفْسَهُ فِـيْ كِتَابِهِ، وَبِـمَا وَصَفَهُ بِهِ رَسُوْلُهُ مُـحَمَّدٌ -صَلَّى اهُa عَلَيْهِ وَسَلَّمَ-، مِنْ غَيْرِ تَـحْرِيْفٍ وَلَا تَعْطِيْلٍ، وَمِنْ غَيْرِ تَكْيِــيْفٍ وَلَا تَـمْثِيْلٍ، بَلْ يُؤْمِنُوْنَ بِأَنَّ اللهَ سُبْحَانَهُ: …لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

Dan termasuk iman kepada Allah: Beriman kepada sifat-sifat-Nya; sebagaimana yang Dia sifatkan dalam kitab-Nya, dan disifatkan oleh Rasul-Nya Muhammad -shallallaahu ‘alaihi wa sallam-, tanpa “Tahriif” (menyelewengkan lafazh/makna) dan tanpa “Ta’thiil” (mengingkari), serta tanpa “Takyiif” (menanyakan bagaiamana) dan tanpa “Tamtsiil” (menyerupakan dengan makhluk-Nya). Dan mengimani bahwa Allah: “…Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia. Dan Dia Yang Maha Mendengar, Maha Melihat.” (QS. Asy-Syuuraa: 11)

[20]- Maka di sini, penulis akan memberikan kaidah besar yang dimiliki oleh Ahlus Sunnah Wal Jama’ah sebelum beliau nantinya akan menyebutkan rincian tentang dalil-dalil dari Al-Qur’an maupun Sunnah Nabi -shalallaahu ‘alaihi wa sallam- yang menyebutkan Nama-Nama dan Sifat-Sifat Allah -Subhaanahu Wa Ta’aalaa- dalam kitab ini (hlm. 8-54).

Penulis sebutkan kaidah ini agar seorang hamba berpijak di atas pondasi ini dalam memahami dalil-dalil dari Al-Qur’an dan As-Sunnah tentang Asma Wa Shifat, sehingga dia bisa istiqomah (lurus) dan selamat dari penyimpangan.

[Lihat: “At-Tanbiihaat Al-Lathiifah” (hlm. 16- tahqiiq Syaikh ‘Ali Al-Halabi)]

[21]- Berkaitan dengan pengumpulan Nama-Nama dan Sifat-Sifat Allah di dalam satu tempat, maka ada sebagian orang (ulama) yang menganggap hal ini kurang bagus; dengan alasan mereka: khawatir manusia (orang awam) tidak faham apa yang dimaksudkan Allah dan Rasul-Nya dari Nama-Nama dan Sifat-Sifat Allah -Subhaanahu Wa Ta’aalaa-. Yaitu dikhawatirkan: Sifat Allah nanti akan dibayangkan seperti sifat manusia, dan seterusnya.
Maka anggapan ini tidak benar, karena beliau sendiri -shalallahu ‘alaihi wa sallam- telah menyampaikan tentang Sifat-Sifat Allah -Ta’aalaa- di hadapan para Shahabatnya, dan beliau tidak membeda-bedakan kepada siapa beliau akan menyampaikan ayat-ayat atau hadits-hadits yang berkaitan dengan sifat Allah; baik kepada pembesar para Shahabat, seperti: Abu Bakar, ‘Umar, Utsman, dan Ali, dan seterusnya, atau para Shahabat yang bertemu beliau sekali atau dua kali dari kalangan arab badui dan yang lainnya.
Maka dalam masalah ini beliau tidak membeda-bedakan, karena semuanya faham (walaupun bukan sekelas ulama) -ketika dibawakan ayat-ayat atau hadits -hadits tentang sifat Allah- bahwa: sifat Allah tidak sama dengan sifat makhluk-Nya, karena sifat itu sesuai dengan kepada yang disandarkan.

[Lihat: Muqaddimah “Mukhtashar Al-‘Uluww” (hlm. 28), karya Syaikh Al-Albani -rahimahullaah-, di sini beliau menukil perkataan Abu Muhammad Al-Juwaini (wafat th. 438 H)]

Jadi, ayat-ayat tentang sifat Allah -Subhaanahu Wa Ta’aalaa- dapat difahami oleh siapa saja; baik oleh orang awwam maupun orang khusus (para Ulama). Justru ayat-ayat yang tidak dapat dipahami oleh semua orang adalah: ayat-ayat tentang hukum atau fiqih, karena permasalan fiqih ada ayat dijelaskan atau dikhususkan dengan ayat, ayat diterangkan dengan hadits, dan sebagainya, ada “’Aamm” dan “Khashsh”, ada “Muthlaq” dan “ Muqayyad”, dan pembahasan yang lainnya.

Berbeda dengan ayat-ayat tentang sifat Allah -Ta’aalaa-, maka ini jelas semuanya (tidak perlu penjelasan dari Sunnah Nabi -shalallahu ‘alaihi wa sallam-). Akan tetapi yang ada adalah: tambahan sifat Allah yang Nabi sebutkan di dalam hadits beliau yang tidak terdapat di dalam Al-Qur’an, seperti: sifat tertawa dan sebagainya.

Jadi sekali lagi, bahwa ayat-ayat tentang sifat Allah dapat dipahami oleh siapa saja yang fitrahnya masih lurus (belum tercampur syubhat pemikiran Jahmiyah, Mu’tazilah, atau Mumatsilah, Musyabbihah, dan firqah-firqah sesat lainnya).

[Lihat: “Ash-Shawaa-‘iqul Mursalah” (I/210-212), karya Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyah -rahimahullaah-]

[22]- Oleh karena itu di sini Syaikhul Islam -rahimahullaah- sebelum menyebutkan rincian tentang ayat-ayat dan hadits-hadits Nabi mengenai Sifat-Sifat Allah -Ta’aalaa-; maka beliau memberikan kaidah besar yang dimiliki Ahlus Sunnah Wal Jama’ah. Sehingga ketika seseorang membaca ayat-ayat dan hadits-hadits yang beliau sebutkan; maka dia akan faham (bagaimana cara menyikapinya serta bagaimana cara memaknainya), walaupun pada dirinya ada syubhat Jahmiyah, Mu’tazilah; akan tetapi jika dia yakin dan berniat mengikuti Ahlus Sunnah Wal Jama’ah maka akan paham dan akan rujuk kepada kebenaran -insyaa Allaah-.

Adapun kaidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah dalam menetapkan Nama-nama dan Sifat-sifat Allah -Subhaanahu wa Ta’aalaa- adalah:
[23]- PERTAMA: Bahwa Nama-Nama dan Sifat-Sifat Allah -Ta’aalaa- diambil dari Al-Qur’an dan As-Sunnah.

Syaikhul Islam berkata:

وَمِنَ الْإِيْـمَانِ بِاللّٰـهِ: اَلْإِيْـمَانُ بِـمَا وَصَفَ بِـهِ نَفْسَهُ فِـيْ كِتَابِهِ، وَبِـمَا وَصَفَهُ بِهِ رَسُوْلُهُ مُـحَمَّدٌ -صَلَّى اهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

“Dan termasuk iman kepada Allah: Beriman kepada sifat-sifat-Nya; sebagaimana yang Dia sifatkan dalam kitab-Nya, dan disifatkan oleh Rasul-Nya Muhammad -shallallaahu ‘alaihi wa sallam-.”

Maka ini adalah sumber pengambilan Nama-Nama dan Sifat-Sifat Allah -Ta’aalaa- (yaitu Al-Qur’an dan As-Sunnah), bukan dengan akal, bukan pula dengan pendapat ataupun yang lainnya.

[24]- KEDUA: Menetapkan Nama-Nama dan Sifat-Sifat Allah tanpa “Tahriif” dan “Ta’thiil” serta tanpa “Takyiif” dan “Tamtsiil”.

Penulis berkata:

مِنْ غَيْرِ تَـحْرِيْفٍ وَلَا تَعْطِيْلٍ، وَمِنْ غَيْرِ تَكْيِــيْفٍ وَلَا تَـمْثِيْلٍ

“tanpa “Tahriif” (menyelewengkan lafazh/makna) dan tanpa “Ta’thiil” (mengingkari), serta tanpa “Takyiif” (menanyakan bagaiamana) dan tanpa “Tamtsiil” (menyerupakan dengan makhluk-Nya)”

– Tanpa Tahriif = tanpa menyelewengkan lafazh/makna ayat atau hadits. Maka harus dibiarkan apa adanya, oleh karena itu para salaf mengatakan tentang ayat sifat:

أَمِرُّوْهَا كَمَا جَاءَتْ بِلَا كَيْفَ

“Biarkanlah sifat-sifat Allah sebagaimana datangnya dan tidak perlu diberikan kaifiyatnya.”

Seperti Allah menyatakan diri-Nya istiwaa’ (bersemayam di atas ‘Arsy); maka biarkan, berarti Allah bersemayam di atas ‘Arsy tanpa perlu diberikan kaifiyatnya, dan juga jangan sampai diselewengkan kepada yang lainnya seperti “istawaa’” (bersemayam di atas Arsy) menjadi “istaulaa” (menguasai).

Dan juga Allah mengabarkan bahwa Dia memiliki sifat “Al-Yad”; maka jelas maknanya adalah: tangan, dengantanpa dijelaskan kaifiyatnya; karena kita tidak mengetahui bagaimana tangan Allah, dan seterusnya.

– Tanpa Ta’thil = tanpa menolak/mengingkari, baik mengingkari secara keseluruhan (menolak ayat tentang Sifat-Sifat Allah -Ta’aalaa- dengan alasan karena serupa dengan makhluk-Nya; sehingga ditolak secara keseluruhan), atau menolak sebagian besar -sehingga ditetapkan sebagian kecil saja (seperti: 20 sifat dan yang semisalnya)-.

– Tanpa Takyiif = tanpa menanyakan bagaimana sifat Allah -Ta’aalaa-, karena kita tidak mengetahui kaifiyat sifat Allah -Ta’aalaa-. Oleh karena itulah Imam Malik pernah ditanya tentang kaifiyat sifat istiwaa’ bagi Allah, kemudian beliau menjawab:

اَلْاِسْتِوَاءُ غَيْرُ مَجْهُوْلٍ، وَالْكَيْفُ غَيْرُ مَعْقُوْلٍ، وَالْإِيْمَانُ بِهِ وَاجِبٌ، وَالسُّؤَالُ عَنْهُ بِدْعَةٌ

“Istiwa’-Nya Allah asing maknanya (sudah diketahui maknanya), kaifiyatnya tidak dapat dicapai nalar (tidak diketahui), beriman kepada sifat istiwaa’ ini adalah wajib, dan bertanya tentang kaifiyatnya adalah perkara bid’ah.”

Dan perkataan Imam Malik ini menjadi kaedah untuk sifat-sifat Allah yang lainnya.

[Lihat: “At-Tanbiihaat As-Saniyyah ‘Alal ‘Aqiidah Al-Waasithiyyah” (hlm. 24), karya Syaikh ‘Abdul ‘Aziz Nashir Ar-Rasyid -rahimahullaah-]

– Tanpa Tamtsil = tanpa menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya. Hal ini merupakan sumber dari penyimpangan, karena ketika disebutkan sifat-sifat Allah baik dari Al-Qur’an maupun dari hadits; maka yang pertama ada di benak orang-orang sesat (yang menyimpang dari jalan Ahlus Sunnah) adalah: memberikan “tamtsiil” yaitu menyerupakan sifat-sifat Allah dengan makhluk-Nya. Akhirnya untuk lari dari hal ini; maka mereka melakukan “ta’thiil”; yaitu: menolak makna aslinya, seperti: “Al-Yad” maknanya bukan tangan, “Al-Mahabbah” makananya bukan cinta, “Al-Wajhu” maknanya bukan wajah akan tetapi yang lainnya.

Sehingga setelah melakukan “tamtsiil”; kemudian mereka terjatuh ke dalam “ta’thiil”, dan jika mereka berhenti sampai di sini; maka itulah yang dinamakan kelompok Mufawwidhah (kelompok yang menyerahkan makna sifat Allah kepada Allah -Ta’aalaa-). Sehingga mereka mengatakan: Allah memiliki sifat “Al-Wajhu” dan “Al-Yad”, maka mereka tetapkan; akan tetapi maknanya diserahkan kepada Allah.

Dan sangat disayangkan pemahaman ini dinisbatkan kepada Salaf, sehingga berakibat sangat fatal, yang akhirnya ada 2 (dua) kelompok yang menyimpang karenanya: kelompok yang menyetujuinya dan kelompok yang menolaknya:

1- Kelompok yang menyetujuinya (mengikuti pemahaman Mufawwidhah yang dianggap pemahaman Salaf), maka mereka mengikuti pemaham Mufawwidhah ini, dan sebagian orang yang taubat dari ‘Aqidah Jahmiyah -yang menolak sifat- kemudian mereka menetapkan sifat, akan tetapi maknanya diserahkan kepada Allah, sehingga mereka setuju dengan pemahaman ini (Mufawwidhah) dan dianggap pemahaman Salaf.

2- Kelompok yang menganggap ini pemahaman Salaf, akan tetapi tidak setuju (menolaknya), sehingga memilih jalan yang lainnya, maka mereka menuju kepada “tahriif”.

Jadi, awalnya mereka memberikan “tamtsiil” (menyerupakan dengan makhluk-Nya) kemudian lari menuju “ta’thiil” (mengingkari) kemudian lari menuju “tahriif” (menyelewengkan lafazh/makna).
Kemudian karena menyangka bahwa menyerahkan makna kepada Allah adalah ‘aqidah Salaf, sehingga muncullah perkataan:

السَّلَفُ أَسْلَمُ، وَالْخَلَفُ أَعْلَمُ وَأَحْكَمُ

“Salaf itu lebih selamat (karena menyerahkan makna kepada Allah), akan tetapi Khalaf (yang belakangan) lebih berilmu dan lebih hikmah.” (Karena mereka mengartikan kepada makna yang lainnya yang bisa dipahami, sehingga dianggap lebih berilmu dan lebih hikmah).

Contohnya seperti: Salaf menetapkan “Al-Yad”, tetapi menyerahkan maknanya kepada Allah, sehingga mereka selamat. Akan tetapi khalaf lebih berilmu dan lebih hikmah, karena mengartikan “Al-Yad” bukan dengan penyerupaan kepada makhluk; akan tetapi diartikan dengan kekuasaan atau kekuatan, sehingga dianggap lebih berilmu dan lebih hikmah.

[Lihat: “Al-Fatwaa Al-Hamawiyyah Al-Kubraa” (hlm. 6 & 17-18- cet. Daarul Kutub Al-‘Ilmiyyah), karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah -rahimahullaah-]

Maka inilah di antara sumber kesesatan; yaitu: tidak mengetahui ‘Aqidah Salaf, sehingga akhirnya mencela Salaf, dan membuat ‘Aqidah baru (yang sesat dan menyimpang).

Adapun ‘aqidah Salaf yaitu: mereka menyerahkan kaifiyatnya -seperti yang dijelaskan oleh Imam Malik-, dan seperti perkataan Salaf:

أَمِرُّوهَا كَمَا جَاءَتْ بِلاَ كَيْفَ

“Biarkanlah sifat-sifat Allah sebagaimana datangnya dan tidak perlu diberikan kaifiyatnya.”

Dan ini menjelaskan bahwa ‘Aqidah Salaf adalah: menetapkan makna, karena jika telah menolak kaifiyat: berarti ada penetapan makna, karena jika tidak ditetapkan makna, lantas mengapa menafikan kaifiyatnya?!!! Yang butuh kepada penafian kaifiyat adalah orang yang menetapkan makna Sifat.

Maksudnya jika manhaj Salaf menetapkan sifat “Al-Yad” akan tetapi maknanya tidak tahu, lantas mengapa mereka menafikan kaifiyat?!!! Maka seharusnya cukup dengan tidak ditambahkan kata “bi laa kaif”.

Maka jelas dengan hal tersebut bahwa: “’Aqidah Salaf adalah: menetapkan makna akan tetapi “bilaa kaif” (tanpa menetapkan kaifiyatnya). Karena menafikan kaifiyat dari sesuatu yang tidak ditetapkan: merupakan perkataan yang sua-sia.

[Lihat: “Al-Fatwaa Al-Hamawiyyah Al-Kubraa” (hlm. 25- cet. Daarul Kutub Al-‘Ilmiyyah), karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah -rahimahullaah-]

[25]- KETIGA: Menggabungkan antara “An-Nafyu” (peniadaan) dan “Al-Itsbaat” (penetapan)

بَلْ يُؤْمِنُوْنَ بِأَنَّ اللهَ سُبْحَانَهُ: …لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

“Dan mengimani bahwa Allah -Subhaanahu wa Ta’aalaa-: “ …Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia. Dan Dia Yang Maha Mendengar, Maha Melihat.” (QS. Asy-Syuraa: 11)”

“An-Nafyu” (peniadaan/penolakan) ada 2 (dua):

1- penolakan sifat yang kurang atau aib bagi Allah -Ta’aalaa-, seperti: mengantuk, tidur, lupa, dan lainnya.

2- penolakan penyerupaan sifat Allah dengan Makhluk-Nya. Maka inilah yang terkandung dalam firman Allah -Ta’aalaa- : “ …Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia. (QS. Asy-Syuraa: 11)

Dan tambahan juga bagi “An-Nafyu” (peniadaan) yaitu:

– ketika Allah di dalam Al-Qur’an dan Nabi-Nya di dalam As-Sunnah menafikan/menolak sebuah sifat; maka bukan semata-mata menolak, akan tetapi dengan maksud untuk menetapkan lawan sifatnya yang sempurna.

Seperti: Allah menolak sifat lupa bagi dirinya; maka harus menetapkan kesempurnaan ilmu bagi Allah -Ta’aalaa-.

Allah menolak sifat mengantuk, tidur, dan mati; maka maksudnya untuk menetapkan sifat hidup yang sempurna bagi Allah -Ta’aalaa- dan seterusnya.

– “An-Nafyu” yakni: Penafian yang dilakukan Allah dan Rasul-Nya adalah secara globlal (umum), seperti: Allah menafikan sifat kematian, lupa, dan seterusnya, tidak serinci “Al-Itsbaat”. Adapun “Al-Isbaat” yakni: penetapan Sifat-sifat yang sempurna; maka secara globlal juga secara rinci, seperti: penetapan sifat mendengar, melihat, sifat dzatiyah: tangan, sifat fi’liyah: istiwa dan seterusnya.

[Lihat: “At-Tanbiihaat Al-Lathiifah” (hlm. 20- tahqiiq Syaikh ‘Ali Al-Halabi)]

Karena ada orang-orang yang sesat dimana mereka dalam menafikan justru secara rinci, seperti: Allah itu tidak berdaging, tidak berdarah, tidak berbau, tidak berasa, tidak ini, tidak itu ……., dan seterusnya.

[Lihat: “Syarh Al-‘Aqiidah Ath-Thahawiyyah” (hlm.107- takhriij Syaikh Al-Albani), karya Imam Ibnu Abil ‘Izz Al-Hanafi -rahimahullaah-)]

Jadi, Ahlus Sunnah penetapannya secara global dan rinci, adapun penafian-nya maka secara globlal saja.

[26]- Maka ayat ini sebagai kaedah besar bagi Ahlus Sunnah dalam masalah Nama-Nama dan Sifat-Sifat Allah -Ta’aalaa-; yaitu penggabungan antara “An-Nafyu” dan “Al-Itsbaat”.

“An-Nafyu” yaitu menafikan Sifat-sifat yang kurang atau aib bagi Allah -Ta’aalaa- dan juga menafikan penyerupaan sifat Allah dengan makhluk-Nya.

“Al-Isbaat” yaitu penetapan Sifat-sifat Allah yang sempurana secara globlal maupun rinci.

Firman Allah: لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ = ini menafikan penyerupaan.

Dan firman Allah: وَهُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ = ini menetapkan sifat. Selain di sini menetapkan nama “As-Samii’” dan “Al-Bashiir”, juga menetapkan sifat “As-Sam’u” (pendengaran) dan “Al-Basharu” (penglihatan).

Jadi, ini merupakan kaidah yang sangat penting dalam memahami ayat-ayat dan hadits-hadits yang menunjukkan tentang Sifat-Sifat Allah -Ta’aalaa-, sehingga harus diperkuat terlebih dahulu, karena selanjutnya penulis hanya menyebutkan ayat-ayat Al-Qur’an atau hadits-hadits Nabi dengan tanpa dijelaskan lagi; karena telah dicukupkan dengan adanya penjelasan kaidah besar di awal pembahasan yang merupakan kaidah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah dalam memahami ayat-ayat dan hadits-hadits yang berisi tentang Sifat-Sifat Allah – Subhaanahu Wa Ta’aalaa-.

-ditranskrip oleh Akh Alda, dan diedit kembali oleh pemateri: Ustadz Ahmad Hendrix-

https://drive.google.com/file/d/0B3FT6ui1GzNVUnJNS2U5SkZ4Uk0/view