«

»

Mar 09

‘AQIDAH WASITHIYAH

KAJIAN ‘AQIDAH WASITHIYAH 4

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah -rahimahullaah- berkata:

فَلَا يَنْفُوْنَ عَنْهُ مَا وَصَفَ بِهِ نَفْسَهُ، وَلَا يُـحَـرِّفُـوْنَ الْكَلِمَ عَنْ مَوَاضِعِهِ، وَلَا يُلْحِدُوْنَ فِـيْ أَسْـمَاءِ اللهِ وَآيَاتِهِ، وَلَا يُكَـيِّـفُوْنَ، وَلَا يُـمَثِّلُوْنَ صِفَاتِهِ بِـصِفَاتِ خَلْقِهِ، لِأَنَّهُ سُبْحَانَهُ لَا سَـمِيَّ لَهُ، وَلَا كُـفُوَ لَهُ، وَلَا نِدَّ لَهُ، وَلَا يُقَاسُ بِـخَلْقِهِ -سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى-، فَإِنَّهُ سُبْحَانَهُ أَعْلَمُ بِنَفْسِهِ وَبِغَـيْـرِهِ، وَأَصْدَقُ قِـيْلًا، وَأَحْـسَنُ حَدِيْـثًا مِنْ خَلْقِهِ.

“Mereka (Ahlus Sunnah) tidak menafikan dari Allah: sifat-sifat-Nya yang Dia tetapkan untuk diri-Nya, dan tidak menyelewengkan firman (Allah) dari lafazh/makna aslinya, serta tidak membuat ilhaad )menyalahartikan( nama-nama Allah dan ayt-ayat-Nya. Mereka tidak menanyakan bagaimana bentuknya, serta tidak menyerupakan sifat-sifat Allah dengan sifat-sifat makhluk-Nya; karena tidak ada yang sama dengan-Nya, tidak ada yang setara dengan-Nya, dan tidak ada tandingan bagi-Nya. Dan Dia tidak boleh dikiaskan dengan makhluk-Nya; karena sungguh, Allah lebih tahu tentang diri-Nya dan tentang selain-Nya, Allah itu paling benar dan paling baik perkataan-Nya daripada makhluk-Nya.”

[27]- Maka di sini Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah -rahimahullah- menjelaskan bahwa Ahlus Sunnah Wal Jama’ah tidak menafikan sifat-sifat Allah -Subhaanahu Wa Ta’aalaa- dan tidak pula melakukan “tahriif” (menyelewengkan lafazh/makna) serta “ilhaad” (menyalah artikan) nama-nama dan sifat-sifat Allah; yakni mengartikan tidak sesuai dengan makna yang sebenarnya, serta tidak melakukan “takyiif” (menanyakan bagaimana sifat-Nya), dan tidak pula melakukan “tamtsiil” (menyerupakan sifat Allah dengan sifat makhluk-Nya) karena Allah -Subhaanahu wa Ta’aalaa-tidak ada yang serupa dengan-Nya.

Dan pembahasan ini telah kita jelaskan sebelumnya.

[28]- AL-QUR’AN

Oleh karena itu: kita harus menerima apa-apa yang Allah kabarkan tentang diri-Nya, karena Allah -Subhaanahu wa Ta’aalaa-:

(1)- ilmu-Nya meliputi segala sesuatu; baik tentang diri-Nya maupun selain-Nya. Allah lebih tahu tentang diri-Nya maupun tentang makhluk-Nya,

(2)- dan Allah paling benar perkataan-Nya; yakni apa yang Allah katakan adalah benar bukan penipuan, dan bukan pula kedustaan,

(3)- dan Allah paling bagus penjelasan-Nya.

Kemudian sesungguhnya suatu perkataan itu dikatakan kurang penjelasannya atau kurang bisa menunjukkan terhadap sesuatu; jika terdapat 3 (tiga) hal di dalamnya:

1. Kebodohan; yaitu tidak adanya ilmu atau kurang ilmunya.

2. Tidak ada kefasihan dalam penjelasannya: yaitu tidak mampu menjelaskan dengan baik.

3. Kedustaan; yaitu tidak jujur dan tidak benar dalam penyampainnya.

Sebagaimana yang dijelaskan oleh Syaikh Nashir As-Sa’di -rahimahullah- dalam “At-Tanbiihaat Al-Lathiifah” (hlm. 18- tahqiiq Syaikh ‘Ali Al-Halabi).

Sehingga sebaliknya: suatu perkataan itu dikatakan baik penjelasannya dan bisa menunjukkan kepada sesuatu; jika terpenuhi padanya 3 (tiga) hal yang merupakan dari lawan yang telah disebutkan; yaitu: (1)sesuatu yang bersumber ilmu, (2)baiknya penjelasan, serta (3)dijelaskan dengan jujur dan benar.

Dan hal-hal tersebut terdapat di dalam nash-nash Al-Qur’an dan As-Sunnah.

Maka jelas terdapat dalam Al-Qur’an (perkataan Allah) karena Allah -Subhaanahu Wa Ta’aalaa- ilmu-Nya meliputi segala sesuatu; baik tentang diri-Nya maupun makhluk-Nya, kemudian Allah – Subhaanahu wa Ta’aalaa- adalah yang paling benar perkataann-Nya. Allah -Ta’aalaa- telah berfirman:

… وَمَنْ أَصْدَقُ مِنَ اللهِ حَدِيْثًا

“Siapakah yang lebih benar perkataannya dari pada Allah?” (QS. An-Nisa: 87)

… وَمَنْ أَصْدَقُ مِنَ اللهِ قِيْلاً

“Siapakah yang lebih benar perkataannya dari pada Allah?” (QS. An-Nisa: 122)

Dan juga Allah paling baik penjelasannya. Allah -Ta’aalaa- telah berfirman:

وَلاَ يَأْتُوْنَكَ بِمَثَلٍ إِلاَّ جِئْنكَ بِالْحَقِّ وَأَحْسَنَ تَفْسِيْرًا

“Dan mereka (orang-orang kafir itu) tidak datang kepadamu (membawa) sesuatu yang aneh, melainkan Kami datangkan kepadamu yang benar dan penjelasan yang paling baik.” (QS. Al-Furqan: 33)

Maka terpenuhi pada Al-Qur’an (perkataan Allah) berupa: (1)ilmu, (2)baiknya penjelasan, serta (3)jujur dan benar.

Begitu pula hal-hal tersebut juga terdapat dalam As-Sunnah (perkataan Rasulullah -shalallaahu ‘alaihi wa sallam-), karena beliau yang paling tahu tentang Allah sebagaimana dalam hadits:

أَنَا أَعْلَمُكُمْ بِاللهِ

“Aku adalah yang paling tahu di antara kalian tentang Allah.”

[Lihat: “Fat-hul Baari” (I/96- cet. Daarus Salaam)]

[29]- AS-SUNNAH

Kemudian jelasS ekali bahwa beliau (Nabi Muhammad -shallallaahu ‘alaihi wa sallam-) adalah yang paling baik penjelasannya, serta paling jujur dalam penjelasannya, dan benar, serta tidak berdusta, dan juga beliau adalah yang paling sayang terhadap umatnya. Oleh karena itulah penulis melanjutkan penjelasannya:

ثُـمَّ رُسُلُهُ صَادِقُوْنَ مَصْدُوْقُوْنَ؛ بِـخِلَافِ الَّذِيْنَ يَقُوْلُوْنَ عَلَيْهِ مَا لَا يَعْلَمُوْنَ، وَلِـهٰذَا قَالَ -سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى-: {سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ * وَسَلامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ * وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ} فَسَبَّحَ نَفْسَهُ عَمَّا وَصَفَهُ بِهِ الْمُخَالِـفُوْنَ لِلرُّسُلِ، وَسَلَّمَ عَلَى الْمُرْسَلِـيْـنَ لِسَلَامَةِ مَا قَالُوْهُ مِنْ الـنَّقْصِ وَالْعَيْبِ.

“Dan rasul-rasul adalah benar dan dibenarkan; berbeda dengan orang-orang yang berkata atas nama Allah apa yang mereka tidak ketahui. Karena itu Allah berfirman: “Maha Suci Rabb-mu Yang Maha Perkasa dari sifat yang mereka katakan. Dan selamat sejahtera bagi para rasul. Dan segala puji bagi Allah Rabb seluruh alam.” (Ash-Shaaffaat: 180-182) Allah mensucikan diri-Nya dari apa-apa yang disifatkan oleh orang-orang yang menyelisihi para rasul, dan Allah memberikan selamat sejahtera atas para rasul disebabkan keselamatan yang mereka ucapkan dari kekurangan dan aib.”

Jadi jelaslah bahwa Allah dan Rasul-Nya yang menunjukkan tentang ilmu, baiknya penjelasan, serta jujur dan benar dalam penjelasannya. Dan memang firman Allah dan sabda Rasul-Nya menyampaikan kepada derajat ilmu dan keyakinan. Maka dari sinilah kita mengambil penjelasan tentang nama-nama dan sifat-sifat Allah -Ta’aalaa- bahkan tentang berbagai permasalahan dalam Agama ini.

[30]- MANHAJ SALAF (PARA SHAHABAT)

Berbeda dengan anggapan orang-orang yang menyimpang dalam masalah ini, mereka menganggap bahwasannya firman Allah atau sabda Nabi -shalallaahu ‘alaihi wa sallam- tidak menjelaskan sesuai dengan hakikatnya dengan alasan karena mereka menganggap para Salaf (Shahabat) adalah orang-orang yang “ummiy” (tidak bisa baca tulis), danorang-orang bodoh, sehingga dengan demikian menurut mereka: Rasul menyampaikan kepada mereka sesuatu yang tidak seperti aslinya.

[Lihat: “Ash-Shawaa’iq Al-Mursalah” (I/162-170)]:

Maka anggapan ini lebih mengarah kepada pendapat orang-orang kafir yang mengingkari apa yang Rasul bawa; baik tentang nama-nama dan sifat-sifat Allah, tentang Hari Akhir, dan yang lainnya. Jadi maksudnya seperti: ketika Rasul menjelaskan tentang Hari Akhir; maka maksudnya Hari Akhir tidak ada, akan tetapi hal ini disampaikan demikian dikarenakan: yang dihadapi adalah orang-orang Arab Badui dan semisalnya, yaitu agar mereka semangat bergama atau yang semisalnya.

Jadi dianggap bahwa: apa yang Rasul bawa tidak sesuai dengan hakikatnya (ada ilmu yang lain, yakni: ada ilmu batin dan semisalnya).

[Semisal yang dikatakan oleh Ibnu Sina dalam Ar-Risaalah Al-Adh-hawiyyah -sebagaimana dinukil -dan dibantah- oleh Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah -rahimahullaah- dalam: “Ash-Shawaa-‘iqul Mursalah” (III/1097-1106)]

Padahal perkaranya adalah seperti apa yang dikatakan oleh Imam Ibnul Qayyim -rahimahullaah-:

“Sungguh Rasul -shalawaatullaah wa salaamuhu ‘alaihi-: tidak pernah bersabda bengan seorang pun dengan sesuatu yang sangat bertentangan dengan apa yang beliau nampakkan kepada manusia, dan pembesar para Shahabat juga tidak ada yang meyakini sesuatu yang bertentangan dengan apa yang beliau nampakkan kepada manusia.”

[“Ash-Shawaa-‘iqul Mursalah” (III/1107)]

Sehingga Ahlus Sunnah Wal Jama’ah (pengikut para Salaf/Shahabat), maka mereka meyakini keilmuan para Shahabat yang mana mereka mengenal dengan baik secara kepribadian maupun secara ilmunya. Mereka tidak akan beranggapan seperti orang-orang yang menyimpang tersebut, bahkan bisa kafir jika sampai mengingkari Hari Akhir walaupun dengan cara demikian.

Mereka (Ahlus Sunnah Wal Jama’ah) sangat mengagungkan para Shahabat dan orang yang membaca Al-Qur’an dan Sunnah Nabi -shalallaahu ‘alaihi wa Sallam- akan mengetahui keutamaan mereka; baik keilmuan maupun amalan. Oleh karena itu Ahlus Sunnah Wal Jama’ah sangat mengikuti apa yang diyakini dan diamalkan oleh para Shahabat, karena mereka yakin bahwa para Shahabat sangat faham terhadap apa yang Allah maksudkan dan Rasul inginkan, karena Rasul telah menjelaskan kepada mereka (para Shahabat) -sebagaimana Allah sendiri yang mengatakannya-:

… وَأَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الذِّكْرَ لِتُبَيِّنَ لِلنَّاسِ مَا نُزِّلَ إِلَيْهِمْ وَلَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُوْنَ

“… Dan Kami turunkan adz-Dzikr (Al-Quran) kepadamu, agar engkau menerangkan kepada manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan agar mereka memikirkan.” (QS. An-Nahl: 44)

Yakni Allah sendiri berfirman di dalam Al-Qur’an bahwa Allah menurunkan Al-Qur’an dan Allah memberi tugas kepada Rasul untuk memberikan “bayaan” (penjelasan) kepada para Shahabat, maka penjelasan di sini masuk di dalamnya: (1)penjelasan lafazh Al-Qur’an yang disampaikan kepada mereka, dan masuk juga: (2)penjelasan tentang maknanya; sehingga Rasulullah -shalallaahu ‘alaihi wa sallam- dengan sunnahnya menjelaskan tentang apa yang dimaksudkan Allah -Ta’aalaa-:

– baik Rasul jelaskan dengan perkataan bahkan terkadang lafazh per lafazh dari apa yang Allah firmankan, seperti: yang beliau jelaskan tentang lafazh (الظُّلْمُ) dalam firman Allah -Ta’alaa-:

الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا وَلَمْ يَلْبِسُوْا إِيْمنَهُمْ بِظُلْمٍ أُولئِكَ لَهُمُ اْلأَمْنُ وَهُمْ مُهْتَدُوْنَ

“Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman dengan kezhaliman (syirik), mereka itulah orang-orang yang mendapat rasa aman dan mereka mendapat petunjuk.” (QS. Al-An’am: 82)

Maka dijelaskan oleh beliau: (الظُّلْمُ) maksudnya adalah kesyirikan dan juga seperti disebutkan dalam ayat lainnya:

… إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيْمٌ

“… Sesungguhnya kesyirikan (mempersekutukan) Allah adalah kezhaliman yang besar” (QS. Luqman: 13)

– Terkadang juga beliau menjelaskan makna dari firman Allah -Subhaanahu Wa Ta’aalaa-.

– Atau beliau menjelaskan dengan perbuatan beliau.

– Terkadang beliau menguatkan apa yang Allah firmankan; yaitu apa yang beliau sabdakan sesuai dengan apa yang Allah firmankan.

– Terkadang juga beliau merincinya; yaitu menjelaskan dengan jelas sesuatu yang masih globlal (umum) dalam Al-Qur’an.

– Dan terkadang juga beliau menambahkan sesuatu yang tidak ada dalam Al-Qur’an.

Maka secara umum Allah perintahkan untuk mengambil perkataan Rasul-Nya. Allah -Ta’aalaa- berfirman:

… وَمَا ءَاتكُمُ الرَّسُوْلُ فَخُذُوْهُ وَمَا نَهكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوْا …

“… Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah … “ (QS. Al- Hasyr: 7)

[Lihat: “Ar-Risaalah” (no. 299-308) karya Imam Asy-Syafi’i -rahimahullaah- dan “I’laamul Muwaqqi’iin” (hlm. 447-449-cet. Daar Thayyibah) karya Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah -rahimahullaah-]

Jadi sekali lagi, orang-orang yang menyimpang; maka di antara sebab penyimpangannya adalah: karena mereka tidak mengenal para Salaf, tidak mengenal keilmuan mereka, dan meremehkan mereka: sehingga terjadilah penyimpangan pada diri orang-orang tersebut.

Adapun Ahlus Sunnah; maka mereka sangat paham tentang kedudukan para Salaf berdasarkan dalil (firman Allah dan hadits Nabi), sehingga dengan itu mereka yakin bahwasannya rasul telah menyampaikan atau menjelaskan Al-Qur’an secara lafazh dan maknanya kepada mereka. Dan ketika mereka diam bukan berarti mereka tidak tahu artinya -seperti anggapan kelompok Mufawwidhah -sebagaimana telah kita jelaskan-, akan tetapi mereka diam karena tahu maknanya sehingga muncul perkataan mereka:

أَمِرُّوهَا كَمَا جَاءَتْ بِلاَ كَيْفَ

“Biarkanlah sifat-sifat Allah sebagaimana datangnya dan tidak perlu diberikan kaifiyatnya.”

Maka Ahlus Sunnah dalam beragama mereka benar-benar mengambil dari Allah dan rasul-Nya. Dan inilah jalan golongan yang selamat -sejak zaman dahulu- yang mengikuti Allah dan rasul-Nya.

[31]- PENGIKUT PARA RASUL

Kemudian pada ayat yang dibawakan oleh penulis.

{سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ * وَسَلامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ * وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ} فَسَبَّحَ نَفْسَهُ عَمَّا وَصَفَهُ بِهِ الْمُخَالِـفُوْنَ لِلرُّسُلِ، وَسَلَّمَ عَلَى الْمُرْسَلِـيْـنَ لِسَلَامَةِ مَا قَالُوْهُ مِنْ الـنَّقْصِ وَالْعَيْبِ.

“Maha Suci Rabb-mu Yang Maha Perkasa dari sifat yang mereka katakan. Dan selamat sejahtera bagi para rasul. Dan segala puji bagi Allah Rabb seluruh alam.” (Ash-Shaaffaat: 180-182) Allah mensucikan diri-Nya dari apa-apa yang disifatkan oleh orang-orang yang menyelisihi para rasul, dan Allah memberikan selamat sejahtera atas para rasul disebabkan keselamatan yang mereka ucapkan dari kekurangan dan aib.”

Karena yang mereka sampaikan adaah apa yang Allah wahyukan kepada mereka.

Itulah golongan yang selamat -pada setiap zaman- yaitu yang mentauhidkan Allah -Ta’aalaa- dan mengikuti rasul yang diutus kepada mereka; baik dari golongan Yahudi dan Nasrani (umat-umat yang sebelum kita). Allah -Ta’aalaa- berfirman:

إِنَّ الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا وَالَّذِيْنَ هَادُوْا وَالنَّصَارَى وَالصَّابِئِيْنَ مَنْ ءَامَنَ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ وَعَمِلَ صَالِحًا فَلَهُمْ أَجْرُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ وَلاَ خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلاَ هُمْ يَحْزَنُوْنَ

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani, dan orang-orang Shaabi-iin, siapa saja (diantara mereka) yang beriman kepada Allah dan hari akhir dan melakukan kebajikan, mereka mendapat pahala dari Tuhannya, tidak ada rasa takut pada mereka dan mereka tidak bersedih hati.” (QS. Al-Baqarah; 62)

Maka orang-orang Yahudi dan Nasrani (umat-umat sebelum kita) bisa selamat jika mereka beriman kepada Allah dan hari akhir, beramal shalih dan mengikuti rasul yang diutus kepada mereka. Dan itu adalah Islam yaitu beribadah kepada Allah dan mengikuti rasul yang diutus kepadanya.

Sehingga pada zaman kita setelah diutusnya Rasulullah -Shalallahu ‘alaihi Wasallam-, maka yang ingin selamat harus mengikuti beliau; yaitu mentauhidkan Allah dan mengikuti rasul.

[32]- AGAMA PARA RASUL

Dan itulah Agama para rasul semuanya; yaitu mentauhidkan Allah dan mengenal nama-nama dan sifat-sifat-Nya. Dan juga itulah hikmah/tujuan dari penciptaan mereka (jin dan manusia): yaitu kita diciptakan untuk beribadah kepada Allah dan untuk mengenal-Nya. Allah -Ta’aalaa- berfirman:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالإِنْسَ إِلاَّ لِيَعْبُدُوْنِ

“Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzaariyat: 56)

Dan Allah juga berfirman:

اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ سَبْعَ سَمَاوَاتٍ وَمِنَ الأَرْضِ مِثْلَهُنَّ يَتَنَزَّلُ الأَمْرُ بَيْنَهُنَّ لِتَعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ وَأَنَّ اللَّهَ قَدْ أَحَاطَ بِكُلِّ شَيْءٍ عِلْمًا

“Allah menciptakan tujuh langit dan dari (penciptaan) bumi juga serupa. Perintah Allah berlaku padanya, agar kamu mengetahui bahwa Allah Mahakuasa atas segala sesuatu dan ilmu Allah meliputi segala sesuatu.” (QS. Ath-Thalaq: 12)

Maka dari 2 (dua) ayat ini menunjukkan bahwasannya Allah menciptakan kita semua untuk beribadah kepada Allah dan untuk mengenal-Nya sebagaimana dikatakan oleh Imam Ibnu Qayyim A-Jauziyah -rahimahullah- dalam “Miftaah Daaris Sa’aadah” (I/267 -tahqiiq Syaikh ‘Ali Al-Halabi):

“Maka dua ayat ini mengandung bahwa: Allah -Subhaanahu- menciptakan langit dan bumi serta apa saja yang di antara keduanya: hanyalah agar Dia dikenal dengan nama-nama-Nya dan sifat-sifat-Nya, serta agar Dia diibadahi.”

Sehingga dengan demikian ketika seseorang beragama harus mengambil apa yang Allah firmankan dan yang Nabi sabdakan -terlebih lagi dalam masalah yang sifatnya “tauqiifiyyah” (yang harus berdalil dengan syari’at)-.

[33]- ASH-SHIRAATHUL MUSTAQIIM (JALAN YANG LURUS)

Kemudian penulis melanjutkan perkataannya:

وَهُوَ سُبْحَانَهُ قَدْ جَـمَعَ فِـيْمَا وَصَفَ وَسَـمَّى بِـهِ نَفْسَهُ بَيْنَ الـنَّفْيِ وَالْإِثْــبَاتِ، فَلَا عُدُوْلَ لِأَهْلِ السُّــنَّةِ وَالْـجَمَاعَةِ عَمَّا جَاءَ بِـهِ الْمُرْسَلُوْنَ؛ فَإِنَّهُ الصِّرَاطُ الْمُسْتَقِـيْمُ، صِرَاطُ الَّذِيْـنَ أَنْعَمَ اللهُ عَلَـيْهِمْ: مِنَ الـنَّـبِـيِّـيْـنَ، وَالصِّـدِّيْـقِـيْـنَ، وَالشُّـهَدَاءِ، وَالصَّــالِـحِيْـنَ.

“Allah telah menggabungkan antara penafian dan penetapan dalam nama dan sifat-Nya; maka tidak ada jalan bagi Ahlus Sunnah untuk berpaling dari apa-apa yang dibawa oleh para rasul. Karena sungguh, itu adalah Ash-Shiraatul Mustaqiim (jalan yang lurus); yaitu jalannya orang-orang yang Allah telah memberi nikmat kepada mereka: dari para nabi, shiddiiqiin, syuhadaa’, dan shaalihiin.”

Jadi -sebagaimana telah dijelaskan- ketika Allah menjelaskan nama-nama dan sifat-sifat-Nya; maka Allah telah menggabungkan antara An-Nafyu (peniadaan) dan Al-Itsbaat (penetapan).

Maka Ahlus Sunnah Wal Jama’ah -yang pada hakekatnya mereka adalah orang-orang yang berpegang kepada Islam yang haqiqi-: mereka tidak akan berpaling dari apa yang dibawa oleh para rasul, karena yang mereka bawa adalah Ash-Shiraathal Mustaqiim; yaitu Ilmu yang bermanfaat dan amal Shalih, bukan jalannya orang-orang yang berilmu tanpa amal, dan bukan pula jalannya orang-orang yang beramal tanpa ilmu -sebagiamana telah kita jelaskan-.

Maka Ash-Shiraathal Mustaqiim inilah jalannya para Nabi dan Shiddiqiin serta Syuhada dan Shaalihiin.

Dan untuk kalangan umat ini yaitu Nabi kita Muhammad -Shalallahu ‘alaihi Wasallam- dan para Shahabatnya. Telah dijelaskan oleh Ibnu Qayyim al-Jauziyah -Rahimahullah-)

وَلاَ رَيْبَ أَنَّ مَا كَانَ عَلَيْهِ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَصْحَابُهُ عِلْمًا وَعَمَلاً وَهُوَ مَعْرِفَةُ الْحَقِّ وتَقْدِيْمُهُ وَإِيْثَارُهُ عَلَى غَيْرِهِ وَهُوَ الصِّرَاطُ الْمُسْتَقِيْمُ

“Dan tidak diragukan lagi bahwasannya apa yang Rasul -shalallahu ‘alaihi wa sallam- dan para Shahabatnya berada di atasnya -berupa ilmu dan amal, yaitu: mengenal kebenaran serta mendahulukan kebenaran tersebut (dengan diamalkan) atas selainnya-: maka inilah Ash-Shiraath Al-Mustaqiim.”

[“Madaarijus Saalikiin” (I/100- cet. Ad-Daar Al-‘Aalamiyyah)]

[34]- RINCIAN AYAT-AYAT AL-QURAN DAN HADITS-HADITS NABI TENTANG NAMA-NAMA DAN SIFAT-SIFAT ALLAH

Kemudian dilanjutkan oleh penulis

وَقَدْ دَخَلَ فِـيْ هٰذِهِ الْـجُمْلَةِ: مَا وَصَفَ بِهِ نَفْسَهُ فِـيْ سُوْرَةِ الْإِخْلَاصِ الَّتِـيْ تَعْدِلُ ثُلُثَ الْقُرْآنِ؛ حَيْثُ يَقُولُ: {قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ * اللَّهُ الصَّمَدُ * لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ * وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ}

“Dan telah masuk pula dalam penjelasan ini: apa yang Allah sifatkan tentang diri-Nya dalam Surat Al-Ikhlash yang menyamai sepertiga Al-Quran; Allah berfirman: “Katakanlah (wahai Rasul): Dia-lah Allah, Yang Maha Esa. Allah tempat meminta segala sesuatu. (Allah) tidak beranak dan tidak pula diperanakkan. Dan tidak ada sesuatu yang setara dengan Dia.” (QS. Al-Ikhlash: 1-4)”

Setelah penulis menjelaskan kaedahnya; yakni jalan selamat dalam memahami nama-nama dan sifat-sifat Allah -Ta’aalaa- yang disebutkan Allah dan rasul-Nya,maka di sini penulis mulai memasuki rincian penyebutan dari ayat-ayat Al-Qur’an, yang nanti akan dilanjutkan dengan hadits-hadits Nabi tentang masalah nama-nama dan sifat-sifat Allah -Subhaanahu Wa Ta’aalaa-.

[35]- METODE SYARH

Namun sebelum kita melanjutkan maka di sini ada yang perlu diketahui bahwasannya ketika penulis membawakan ayat-ayat atau hadits-hadits Nabi (biasa disebut dengan matan) di dalam kitab mereka, maka mereka ingin ber-istidlaal (menjadikan dalil) dengan satu kata atau satu kalimat yang terdapat dalam ayat atau hadits tersebut; atas apa yang mereka inginkan.

Jadi maksudnya:ketika dibawakan di dalam kitab ini ayat-ayat atau hadits-hadits Nabi; maka yang diinginkan adalah: di dalamnya terdapat penyebutan tentang nama-nama dan sifat-sifat Allah, dan terdapat penetapan nama-nama dan sifat-sifat Allah yang sempurna, serta penafiaan tentang sifat-sifat yang kurang dan aib bagi Allah.

Dan begitu juga dengan pembahasan lainnya; baik dalam masalah tauhid ibadah (uluhiyyah), dan yang lainnya.

Kemudian juga perlu diketahui yaitu: kebiasaan para pen-syarh ketika mereka menjelaskan apa yang dibawakan oleh penulis dalam matannya; maka selain mereka menjelaskan “Asy-Syaahid” tersebut (pokok masalah yang diinginkan oleh penulis) -dari ayat atau hadits-: mereka juga menjelaskan faedah yang lainnya yang terdapat dalam ayat atau hadits tersebut.

Maka disini kita akan mengikuti cara para ulama tersebut: yaitu ketika mensyarh atau menjelaskan ayat dan hadits tidak hanya pada tempat “Syaahid”-nya saja akan tetapi juga faedah yang dapat diambil dari ayat atau hadits tersebut.

Dan yang demikian ini memiliki kelebihan dan kekurangan:

– Kelebihannya: pembahasan semakin meluas lagi banyak faedahnya.

– Kekurangannya: terkadang membuat pembaca atau pendengar lupa dari inti pembahasan.

[36]- SURAT AL-IKHLAS SEBANDING DENGAN SEPERTIGA AL-QUR’AN

Maka kita mulai dari sifat surat Al-Ikhlas yang dibawakan oleh Penulis.

Surat Al-Ikhlas menyamai sepertiga Al-Qur’an sebagaimana yang dikatakan oleh Nabi -shalallaahu ‘alaihi wa sallam-:

قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ تَعْدِلُ ثُلُثَ الْقُرْآنِ

“Qul Huwallaahu Ahad (Surat Al-Ikhlash) sebanding dengan sepertiga Al-Qur’an.”

[Shahih: HR. Muslim (no. 811) dari Abu Darda -radhiyallaahu ‘anhu-, dan diriwayatkan oleh Al-Bukhari (no. 5013) dari Abu Sa’id Al-Khudri -radhiyallaahu ‘anhu-]

Kemudian di antara penjelasan para Ulama tentang maksud dari sepertiga Al-Qur’an -dan dua pertiga lainnya- yaitu: bahwasannya makna Al-Qur’an ada 3 (tiga) jenis:

1- Tauhid; yaitu: menjelaskan tentang tauhid Rububiyah, Uluhiyah dan Asma’ Wa Shifat, tentang Allah, perbuatannya, dan tentang hak-Nya untuk diibadahi.

2- Kisah-kisah; yaitu: menjelaskan tentang kisah Nabi Muhammad -shalallaahu ‘alaihi was allam-, para nabi sebelumnya, orang shalih, serta kisah para Shahabat beliau -shalallaahu ‘alaihi wa sallam-, tentang peperangan beliau, serta kehidupan beliau dan para Shahabatnya.

3- Masalah hukum (fiqih); yaitu: menjelaskan tentang berbagai hukum, mulai dari wudhu, tayamum, shalat, zakat, puasa, haji, jual beli, hutang piutang, dan yang lainnya.

Sehingga orang yang ingin menguasai tafsir Al-Qur’an maka dia harus menguasai 3 (tiga) ilmu tersebut.

[Lihat: “At-Tanbiihaat As-Saniyyah ‘Alal ‘Aqiidah Al-Waasithiyyah” (hlm. 44), karya Syaikh ‘Abdul ‘Aziz An-Nashir Ar-Rasyid -rahimahullaah-]

[37]- AN-NAFYU & AL-ITSBAAT DALAM SURAT AL-IKHLAS

Kemudian disini Allah perintahkan rasul-Nya untuk mengatakan bahwa Allah yang Maha Esa (tidak ada yang menandinginya) dan Allah adalah Ash-Shamad (segala sesuatu menuju dan meminta kepada-Nya) dan Allah tidak beranak dan tidak pula diperanakkan dan tidak ada yang setara dengan Dia.

Maka disini Allah -Ta’aalaa- menyebutkan -di dalam surat Al-Ikhlas- tentang penggabungan antara An-Nafyu dan Al-Itsbaat; yaitu tentang pensucian diri-Nya dan penetapan kesempurnaan bagi-Nya.

[38]- FAEDAH-FAEDAH DARI SURAT AL-IKHLAS

Maka dalam ayat ini terdapat beberapa faedah:

1. Keutamaan surat Al-Ikhlas yang sebanding dengan sepertiga al-Qur’an.

2. Surat ini mengandung tentang keutamaan ilmu Tauhid, karena ilmu Tauhid ini adalah sepertiga ilmu Al-Qur’an. Kemudian juga karena keutamaan sebuah ilmu mengikuti keutamaan yang dibahas. Maka jelas ilmu Tauhid adalah ilmu yang utama karena dibahas di dalamnya adalah ilmu tentang Allah dan tentang sifat-sifat-Nya.

3. Menunjukkan bahwa Al-Qur’an adalah Kalamullah (firman Allah)

قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ

“Katakanlah (Muhammad) “Dialah Allah Yang Maha Esa.”

Yakni Allah perintahkan kepada Nabi-Nya untuk mengatakan demikian, dan Nabi sampaikan sesuai dengan apa yang Allah firmankan. Maka jika memang Al-Qur’an itu buatan Nabi -Shalallaahu ‘alaihi Wasallam- maka mengapa terdapat padanya kata (قُلْ) “Katakanlah”?!!!

Dan mengapa beliau tidak hanya mengatakan (هُوَ اللهُ أَحَدٌ) “Dialah Allah Yang Maha Esa”, akan tetapi beliau sampaikan semua; yakni terdapat kata (قُلْ) padanya?!!!

Jadi ini memang berasal dari Allah dan tugas rasul hanya menyampaikan saja (sesuai apa yang Allah firmankan).

Allah -Ta’aalaa- berfirman:

… وَمَا عَلَى الرَّسُوْلِ إِلاَّ الْبَلاَغُ الْمُبِيْنُ

“… Dan kewajiban rasul hanyalah menyampaikan (amanat Allah) dengan jelas.” (QS. An-Nur: 54)

4. Terdapat dalil tentang: terang-terangan dalam menyampaikan keyakinan kita, dan menjelaskan dengan sejelas-jelasnya tentang ‘Aqidah kita; berdasarkan firman Allah: (قُلْ) “Katakanlah”. Maka Allah perintahkan untuk mengatakan dengan sejelas-jalasnya.

5. Allah mennyebutkan tentang diri-Nya:

Bahwa Dia adalah (أَحَدٌ) “Esa”; yaitu: Allah tidak ada yang sebanding dengan-Nya,

Dan Dia adalah (الصَّمَدُ) yaitu: segala sesuatu menuju kepada-Nya; hati ini cinta dan harap serta takut hanya kepada-Nya, seluruh makhluk menuju kepada-Nya dalam permintaan dan kebutuhan mereka.

Dia juga (لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُوْلَدْ) “ tidak beranak dan tidak pula diperanakkan”. Maka ini bantahan kepada orang Yahudi yang mengatakan bahwa ‘Uzair adalah anak Allah, dan kepada orang Nashrani yang mengatakan bahwa Al- Masih (Nabi Isa) adalah anak Allah. Allah -Ta’aalaa- berfirman:

وَقَالَتِ الْيَهُودُ عُزَيْرٌ ابْنُ اللَّهِ وَقَالَتِ النَّصَارَى الْمَسِيحُ ابْنُ اللَّهِ ذَلِكَ قَوْلُهُمْ بِأَفْوَاهِهِمْ …

“Dan orang-orang Yahudi berkata, “Uzair putra Allah,” dan orang-orang Nasrani berkata, “Al-Masih putra Allah.” Itulah ucapan yang keluar dari mulut mereka … “ (QS. At-Taubah: 30)

Dan bantahan kepada orang Musyrik yang mengatakan Malaikat adalah anak perempuan Allah. Maka Allah mengingkarinya:

أَلَكُمُ الذَّكَرُ وَلَهُ الْأُنْثَى * تِلْكَ إِذًا قِسْمَةٌ ضِيزَى

“Apakah (pantas) untuk kamu yang laki-laki dan untuk-Nya yang perempuan? Yang demikian itu tentulah pembagian yang tidak adil.” (QS. An-Najm: 21-22)

[Lihat: “At-Tanbiihaat As-Saniyyah ‘Alal ‘Aqiidah Al-Waasithiyyah” (hlm. 45-47), karya Syaikh ‘Abdul ‘Aziz An-Nashir Ar-Rasyid -rahimahullaah-]

[39]- “AS-SYAAHID” (SISI PENDALILAN) DARI SURAT AL-IKHLAS

Jadi dalam ayat ini terdapat tentang nama-nama dan sifat-sifat Allah -Subhaanahu Wa Ta’aalaa- selain itu juga di dalamnya terdapat penggabungan antara An-Nafyu (peniadaan) dan Al-Itsbaat (penetapan) dalam nama-nama dan sifat-sifat Allah, serta faedah-faedah lain yang terdapat di dalam surat ini yang telah kita jelaskan.

-ditranskrip oleh Akh Alda, dan diedit kembali oleh pemateri: Ustadz Ahmad Hendrix-

Silahkan Download kajian di bawah ini. semoga bermanfaat

https://drive.google.com/…/0B3FT6ui1GzNVYTlGNXNXbkJsZ…/view…