«

»

Mar 14

ADAB PENUNTUT ILMU

DI ANTARA ADAB PENUNTUT ILMU ADALAH: MENGHADIRI HALAQAH-HALAQAH (KAJIAN-KAJIAN) ILMU YANG DIA MAMPU UNTUK MENDATANGINYA

Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Muhammad As-Sadhan -hafizhahullaah- berkata -ketika menjelasakan adab-adab penuntut ilmu-:

“Perkara (Adab) Yang Ketujuh: Menghadiri Halaqah-Halaqah (Kajian-Kajian) Ilmu Yang Dia Mampu Untuk Mendatanginya:

Sebagian manusia beralasan dengan banyaknya kesibukan, jahunya jarak, dan lemahnya semangat. Dan semua itu memang ada, akan tetapi AKAN HILANG JIKA SEORANG HAMBA MERASAKAN LEZATNYA ILMU, DAN MERASAKAN NIKMATNYA FAEDAH DAN TAMBAHAN ILMU…

Maka, jika Allah memberkahi waktu, dan memberikan rizki kepadamu berupa: semangat dan tekad yang kuat; maka engkau akan mendapatkan banyak kebaikan. Akan tetapi dengan syarat: Allah mengetahui bahwa engkau tidak meremehkan halaqah-halaqah (kajian-kajian) ilmu, jangan merendahkannya, dan jangan menyia-nyiakannya.

Bisa jadi: bersama berlalunya waktu -jika engkau diberi umur panjang-: engkau akan menyesal dan gigit jari (karena tidak menghadiri kajian-kajian ilmu-pent). Syaikh Ibnu Jibrin -semoga Allah memberikan pahala kepadanya- telah menyebutkan: ADA BEBERAPA PENUNTUT ILMU YANG BERSEDIH DAN MENYESAL DIKARENAKAN MEREKA MENDAPATI ZAMAN BEBERAPA SYAIKH; AKAN TETAPI MEREKA TIDAK MENGHADIRI HALAQAH-HALAQAH (KAJIAN-KAJIAN) PARA SYAIKH TERSEBUT…

Allah telah memberikan nikmat kepada kita dengan banyaknya wasilah (perantara) untuk MENUNTUT ILMU DARI BUKU-BUKU DAN KASET-KASET, AKAN TETAPI HAL ITU TIDAK MENCUKUPI JIKA TIDAK MENGHADIRI HALAQAH-HALAQAH (KAJIAN-KAJIAN). Karena, dalam bergabung dengan halaqah (kajian): ada pahala baginya. Jika engkau menghadiri halaqah (kajian); maka engkau berada dalam suatu ibadah, dan para malaikat akan bershalawat atasmu.

Ditambah lagi pemusatan pikiran dalam menghadiri halaqah-halaqah (kajian-kajian): adalah lebih terfokus dibandingkan engkau mendengarkan kaset. Dan engkau pun sudah mengetahui bahwa: melihat langsung itu lebih mengena dan lebih membekas di dalam jiwa dibandingkan hanya mendengar…

لَيْسَ الْخَبَرُ كَالْمُعَايَنَةِ

“(Mendapat) kabar itu tidak sama dengan melihat langsung.”

[HR. Ahmad, Al-Hakim, dan lainnya]

Maka, menghadiri halaqah (kajian), berdesakan dengan ulama dan para penuntut ilmu dengan (bersimpuh di atas) lutut, serta mendekat dengan ahli ilmu: sangat berbeda jauh dibandingkan dengan hanya mendengar kaset atau yang semisalnya.”

[“Ma’aalim Fii Thariiq Thalabil ‘Ilmi” (hlm. 62-63)]

-diterjemahkan dengan diringkas oleh: Ustadz Ahmad Hendrix-