«

»

Jul 12

Bom Bunuh Diri Bukan Aksi Syahid

Bom Bunuh Diri Bukan Aksi Syahid Walau Pun Ada Kemungkinan Pelakunya Terampuni Dari Dosa Bunuh Diri

Saudaraku,
Tidak mudah menasihati orang yang telah didokrin oleh suatu pemahaman, apalagi bila korban doktrinisasi itu telah memberikan pengorbanan yang besar dalam membela fahamnya itu. Oleh karena itu, diantara metode menasehati mereka adalah:

Ketika kita telah membantah dan meruntuhkan pemahaman sesat mereka itu,
Selanjutnya iringilah dengan memberi mereka harapan positif, sehingga sakitnya kesalahan akan terobati dengan manisnya harapan.

Metode tersebut akan kita temukan pada tulisan para Ulama dalam menasihati kekeliruan sebagian umat, betapa kental kasih sayang para Ulama Ahlus Sunnah dalam menasihati umat, sangat terasa bahwa mereka benar-benar menginginkan kebaikan terhadap yang dinasihati.

Berikut ini bantahan serta nasihat dari Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin terhadap para pelaku bom bunuh diri yang diklaim sebagai jalan meraih syahid, beliau membantah klaim tersebut. Akan tetapi, beliau tetap menekankan harapan bahwa:

• Ada kemungkinan bila memang aksi bom bunuh diri dalam menyerang itu dilakukan karena ketidaktahuan, maka; semoga Allah memberi ampunan karena ketidaktahuannya.
• Bahkan beliau mengisyaratkan tentang keutamaan orang yang berijtihad (yang bersungguh-sungguh) mencari kebenaran, bila berhasil mendapat kebenaran maka mendapat dua pahala dan bila salah mendapat satu pahala.

Simaklah nasihat berikut ini, dari seorang Ulama Besar teruntuk para pencari Syahid :
Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin -rahimahullah- berkata :

“Adapun yang dilakukan oleh sebagian orang berupa bunuh diri dengan membawa bahan-bahan peledak dan membawanya kepada orang-orang kafir yang kemudian meledakan peledak itu di tengah-tengah mereka, maka hal itu termasuk perbuatan bunuh diri. Wal iyaadzu billah.

Dan barangsiapa yang melakukan bunuh diri maka dia abadi dan diabadikan dalam neraka Jahannam selamanya, sebagaimana telah datang hadits dari Nabi ‘alaihis sholaatu was salaam tentang hal itu; karena perbuatan (yang diklaim sebagai aksi bom Syahid pent.) tersebut merupakan bunuh diri, dan tidak berada dalam koridor kemaslahatan Islam.
Karena tatkala seseorang melakukan aksi (bom) bunuh diri dan dia pun berhasil membunuh sepuluh atau seratus atau pun dua ratus (orang kafir), maka Islam tidak mendapatkan manfaat dari perbuatannya itu, bahkan tidak akan menyebabkan orang-orang (kafir) masuk Islam! hal tersebut berbeda dengan yang telah dilakukan seorang pemuda Ashhaabul Ukhduud (yang rela dirinya dibunuh oleh raja kafir agar rakyatnya masuk Islam -pent.). Mungkin saja (dengan aksi bom bunuh diri tersebut) justru akan membuat musuh semakin banyak berbuat hal-hal beringas dan aksi itu pun malah semakin membuat musuh murka sehingga menyakiti kaum Muslimin dengan serangan yang lebih mematikan.

Seperti yang telah kita dapati dari apa yang telah dilakukan Yahudi terhadap penduduk Palestina. Sesungguhnya penduduk Palestina bila satu orang dari mereka meninggal dengan cara melakukan aksi bom bunuh diri dan (berhasil) membunuh enam atau tujuh (orang Yahudi), maka orang-orang Yahudi lainnya akan balas dendam dengan membunuh enam puluh (orang Palestina) atau bahkan lebih! Maka dari itu, aksi bom bunuh diri tidak menghasilkan manfaat bagi kaum Muslimin dan para pelaku bom bunuh diri itu pun (dengan aksinya itu) tidak bisa memberikan manfaat terhadap barisan mereka.

Oleh karena itu, kami berpendapat bahwa yang dilakukan sebagian orang berupa aksi bom bunuh diri, kami pandang aksi tersebut sebagai perbuatan bunuh dri dengan tanpa haq/tidak benar dan hal itu berkonsekwensi masuk Neraka -wal iyaadzu billah- dan sesungguhnya pelakunya bukan termasuk syahid.

Akan tetapi, JIKA SESEORANG MELAKUKAN AKSI BOM BUNUH DIRI KARENA TA’WIL (memaknai dalil dengan keliru) serta MENGIRA BAHWA HAL ITU DIBOLEHKAN, maka KAMI BERHARAP SEMOGA DIA SELAMAT DARI DOSA, adapun MENETAPKAN DIA SEBAGAI SYAHID, MAKA TIDAK BISA! karena DIA TIDAK MENEMPUH JALAN (yang benar) UNTUK SYAHID. Dan barangsiapa yang berijtihad (bersungguh-sungguh mencari suatu hukum -Pent.) yang kemudian keliru maka baginya satu pahala.” –selesai nukilan-
[Kitab Syarh Riyaadhus Shaalihiin, Bab As Shabr, Hadits No.30].

-{Semoga Allah membimbing kita untuk selalu berada di atas ilmu dalam setiap langkah juang kita}-

Sumber :

Ustadz Muhammad Hilman Al-fiqhy

https://www.facebook.com/MocHaMmAd.HILMAN.aLfiQhY/posts/10209943876577006