«

»

Jul 15

FAIDAH MUQADDIMAH SHAHIH MUSLIM ( Bagian 2 )

FAEDAH MUQADDIMAH SHAHIH MUSLIM

dari Syaikh Ziyad Al-‘Abbadi -hafizhahullaah-

(bagian kedua)

[11]- Wajibnya teliti dalam periwayatan

Imam Muslim menyebutkan:

1. Keharusan untuk meriwayatkan dari para perawi yang terpercaya.

2. Tidak boleh meriwayatkan dari para perawi yang lemah (dan juga tidak boleh mengambil ilmu dari Ahlul Bid’ ah).

[12]- Dalil-dalil atas wajibnya teliti dalam periwayatan:

1. Allah -Ta’ aalaa- berfirman:

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَى مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ

“Wahai orang-orang yang beriman! Jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita; maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya; yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.” (QS Al-Hujuuraat: 6)

2. Allah -Ta’ aalaa- berfirman:

…وَاسْتَشْهِدُوا شَهِيدَيْنِ مِنْ رِجَالِكُمْ…

“…Dan persaksikanlah dengan dua orang saksi dari orang-orang lelaki (di antaramu)…”(QS Al-Baqarah: 282), ayat tentang hutang (khususnya persaksian dalam hutang).

3. Allah -Ta’ aalaa- berfirman:

…وَأَشْهِدُوا ذَوَيْ عَدْلٍ مِنْكُمْ…

“…Dan persaksikanlah dengan dua orang adil di antara kamu…”(QS Ath-Thalaq: 2), tentang persaksian dalam thalaq dan rujuk.

Periwayatan Khabar/Hadits dan persaksian sebenarnya memiliki perbedaan; karena:

– asal dari saksian adalah: bahwa saksi itu ‘aadil (terpercaya), yakni hanya melihat kepada lahiriyah kebaikan saksi,

– sedangkan asal dari perawi Khabar/Hadits adalah Majhul (tidak dikenal sampai ada yang men-tsiqah-kannya).

Akan tetapi antara Khabar dan persaksian memiliki kesamaan; yaitu: periwayatan dan persaksian seorang yang fasik adalah tidak diterima.

[13]- Ancaman keras dari berdusta atas nama Nabi -shallallaahu ‘alaihi wa sallam-.

Berdusta ada tiga:

1. Berdusta dengan makna umum; yaitu: mengabarkan sesuatu tidak sesuai dengan kenyataan; baik secara sengaja maupun tidak. Dan Nabi -shallallaahu ‘alaihi wa sallam- pernah menggunakannya dalam sabda Beliau:

كَذَبَ أَبُو السَّنَابِلِ

“Telah berdusta Abu Sanabil.”

Yakni: secara tidak sengaja, atau maknanya: telah salah.

2. Dusta dengan makna khusus; yakni: berdusta dengan sengaja.

3. Berdusta dengan makna yang lebih khusus (menurut Ahli Hadits); yakni: berdusta atas nama Nabi -shallallaahu ’alaihi wa sallam-, dan itulah sabda Nabi -shallallaahu ’alaihi wa sallam-:

مَن كَذَبَ عَلَيَّ مُتَعَمِّدًا فَليَتَبَوَّأ مَقعَدَهُ مِنَ النَّارِ

“Barangsiapa berdusta ATAS NAMAKU dengan sengaja; maka siapkanlah tempatnya di Neraka.”

Adapun berdusta atas selain Nabi -shallallaahu ’alaihi wa sallam-; maka Ahli Hadits menamakannya : Muttaham Bil Kadzib (tertuduh berdusta).

[14]- Larangan dari menyampaikan semua yang pernah didengar.

Yakni: tidak semua yang pernah didengar atau diketahui; kemudian disampaikan kepada orang lain.

Dan ini mencakup semua cabang ilmu (hadits maupun yang lainnya); karena ketika engkau mengumpulkan (membaca atau mendengar) ilmu; maka yang engkau kumpulkan tersebut ada yang benar dan ada yang salah, ada yang baik dan ada pula yang buruk; sehingga harus diseleksi terlebih dahulu sebelum disampaikan.

Contohnya: Imam Al-Bukhari dan Muslim; yang keduanya telah memilih dari hadits-hadits yang banyak sekali; hanya sebagian kecil saja yang dimasukan ke dalam kitab Shahih milik keduanya.

Rasulullah -shallaallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda:

كَفَى بِالـمَرءِ كَذِبًا أَن يُحَدِّثَ بِكُلِّ مَا سَمِعَ

“Cukuplah seseorang dikatakan berdusta; ketika ia menyampaikan semua yang ia dengar.”

Imam Malik bin Anas -rahimahullaah- berkata:

اِعلَم أَنَّهُ لَيْسَ يَسلَمُ رَجُلٌ حَدَّثَ بِكُلِّ مَا سَمِعَ، وَلَا يَكُونُ إِمَامًا أَبَدًا وَهُوَ يُحَدِّثُ بِكُلِّ مَا سَمِعَ

“Ketahuilah! Bahwa tidak akan selamat seseorang yang menyampaikan semua yang ia dengar, dan tidak akan menjadi imam -selamanya-: seseorang yang menyampaikan semua yang ia dengar.”

[15]- Berhati-hati dalam mengambil riwayat, dan larangan mengambil riwayat dari orang-orang yang dha’ if (lemah).

Maka tidak boleh mengambil riwayat dari semua orang (tanpa menyeleksi). Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam- bersabda:

سَيَكُونُ فِي آخِرِ أُمَّتِي أُنًاسٌ يُحَدِّثُونَكُم مَا لَمْ تَسمَعُوا أَنتُم وَلَا آبَاؤُكُم، فَإِيَّاكُم وَإِيَّاهُمْ!

“Nanti di penghujung umatku akan ada orang-orang yang menyampaikan kepada kalian: sesuatu yang tidak pernah didengar oleh kalian maupun oleh pendahulu kalian, maka waspadalah terhadap orang-orang itu!”

Maka beliau mengabarkan tentang adanya orang-orang yang menyampaikan sesuatu yang tidak dikenal oleh manusia dan tidak dikenal dalam ilmu; yakni: tidak ada ada asalnya; baik dalam Al-Kitab maupun As-Sunnah.

[16]- Sanad termasuk dari agama.

Maka jangan sampai mengambil riwayat atau ilmu dari Ahli Bid’ ah, karena sangat cepat dia akan mempengaruhimu; walaupun dia (Ahli Bid’ ah tersebut) memiliki ilmu Nahwu, Sharaf dan lain-lain. Karena tabi’ at seorang manusia adalah mencintai orang yang berbuat baik kepadanya.

Muhammad bin Sirih -rahimahullaah- berkata:

إِنَّ هَذَا العِلمَ دِينٌ فَانظُرُوا عَمَّنْ تَأخُذُونَ دِينَكُمْ!

“Sungguh, ilmu ini adalah agama; maka perhatikanlah: dari siapa kalian mengambil agama kalian!”

Beliau juga berkata:

لَمْ يَكُونُوا يَسْأَلُونَ عَنِ الْإِسْنَادِ، فَلَمَّا وَقَعَتِ الْفِتْنَةُ، قَالُوا : سَمُّوا لَنَا رِجَالَكُمْ، فَيُنْظَرُ إِلَى أَهْلِ السُّنَّةِ فَيُؤْخَذُ حَدِيثُهُمْ، وَيُنْظَرُ إِلَى أَهْلِ الْبِدَعِ فَلَا يُؤْخَذُ حَدِيثُهُمْ

“Tadinya mereka (para Salaf) tidak menanyakan tentang sanad (suatu riwayat), akan tetapi setelah terjadinya fitnah (kekacauan); maka mereka mengatakan: “Sebutkanlah para perawinya!” Sehingga kalau perawinya adalah Ahlus Sunnah; maka haditsnya diambil, dsn kalau perawinya adalah Ahlul Bid’ah; maka haditsnya tidak diambil.”

‘Abdullah bin Mubarak -rahimahullaah- berkata:

اَلإِسْنَادُ مِنَ الدِّينِ وَلَو لَا الْإِسنَادُ لَقَالَ مَنْ شَاءَ مَا شَاءَ

“Sanad itu termasuk bagian dari agama, kalau bukan karena sanad; maka semua orang bisa (dengan mudah) mengatakan sesuai keinginannya.”

Maka kita tidak menerima sebuah khabar/hadits; kecuali dengan sanad.

Dan kita tidak menerima sebuah sanad; kecuali jika sanad tersebut terpenuhi padanya syarat diterimanya sanad (seperti: para perawinya tsiqah, dan sanadnya bersambung).

-Ustadz Ahmad Hendrix