«

»

Jul 15

FAIDAH MUQADDIMAH SHAHIH MUSLIM ( Bagian ke 3 )

FAIDAH MUQADDIMAH SHAHIH MUSLIM

(bersama Syaikh Ziyad Al-‘Abbadi -hafizhahullaah-)

Bagian Ketiga

[17]- Mengambil ilmu hadits harus dari ahlinya

عَنْ سُلَيْمَانَ بْنِ مُوسَى، قَالَ : لَقِيتُ طَاوُسًا، فَقُلْتُ : حَدَّثَنِي فُلَانٌ: كَيْتَ وَكَيْتَ . قَالَ: إِنْ كَانَ صَاحِبُكَ مَلِيًّا فَخُذْ عَنْهُ.

Dari Sulaiman bin Musa, dia berkata: Saya bertemu Thawus, maka saya katakan: Si fulan telah membawakan hadits ini dan hadits itu. Maka beliau (Thawus) berkata: “Kalau temanmu (yang membawakan hadits tersebut) adalah “maliyy”; maka ambillah darinya.”

“Maliyy” adalah: orang yang kuat dan kokoh ketika menerima dan menjaga hadits, dan bagus ketika menyampaikan.

عَنِ ابْنِ أَبِي الزِّنَادِ ، عَنْ أَبِيهِ قَالَ : أَدْرَكْتُ بِالْمَدِينَةِ مِائَةً، كُلُّهُمْ مَأْمُونٌ مَا يُؤْخَذُ عَنْهُمُ الْحَدِيثُ، يُقَالُ : لَيْسَ مِنْ أَهْلِهِ.

Dari Ibnu Abi Zinad, dari bapaknya, dia berkata: Saya dapati di Madinah seratus orang semuanya amanah, akan tetapi tidak diambil hadits dari mereka sama sekali. Dikatkan: karena memang bukan ahlinya.

Yakni: ada banyak orang yang terpercaya agamanya, orang-orang shalih dan ahli ibadah, mereka memiliki ketaqwaan; AKAN TETAPI MEREKA BUKAN AHLI ILMU. (Untuk riwayat hadits); maka harus terkumpul padanya dua perkara:

1. ‘Adaalah (terpercaya agamanya), dan

2. Dhabth (penjagaan terhadap riwayat).

Dan perawi yang terkumpul padanya dua perkara tersebut dinamakan: Tsiqah.

[18]- Mengkritik perawi dengan kejelekan yang ada pada mereka = termasuk nasehat dalam agama, dan bukan termasuk ghibah yang diharamkan

يَقُولُ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ الْمُبَارَكِ عَلَى رُءُوسِ النَّاسِ : دَعُوا حَدِيثَ عَمْرِو بْنِ ثَابِتٍ، فَإِنَّهُ كَانَ يَسُبُّ السَّلَفَ.

‘Abdullah bin Mubarak berkata di hadapan orang-orang: “Tinggalkanlah hadits-hadits yang diriwayatkan ‘Amr bin Tsabit; karena dia biasa mencela Salaf.”

Maka perkataan ‘Abdullah bin Mubarak ini secara lahiriyah adalah: Ghibah, karena Ghibah adalah: engkau menyebut saudaramu dengan sesuatu yang tidak dua sukai. Akan tetapi ini adalah Ghibah yang wajib. AKAN TETAPI (GHIBAH SEMACAM INI) HARUS DIUKUR SESUAI DENGAN KEBUTUHAN.

عَنْ يَحْيَى بْنِ سَعِيدٍ، قَالَ: سَأَلْتُ سُفْيَانَ الثَّوْرِيَّ، وَشُعْبَةَ، وَمَالِكًا، وَابْنَ عُيَيْنَةَ عَنِ الرَّجُلِ لَا يَكُونُ ثَبْتًا فِي الْحَدِيثِ، فَيَأْتِينِي الرَّجُلُ فَيَسْأَلُنِي عَنْهُ، قَالُوا: أَخْبِرْ عَنْهُ أَنَّهُ لَيْسَ بِثَبْتٍ.

Dari Yahya bin Sa’id, dia berkata: Saya bertanya kepada Sufyan Ats-Tsauri, Syu’bah, Malik, dan Ibnu ‘Uyainah: tentang seorang (rawi) yang tidak kokoh dalam hadits, kemudian ada orang yang datang kepadaku dan menanyakanku tentangnya. Mereka berkata: “Beritahu dia kalau (rawi) tersebut tidak kokoh!”

سُئِلَ ابْنُ عَوْنٍ، عَنْ حَدِيثٍ لِشَهْرٍ، وَهُوَ قَائِمٌ عَلَى أُسْكُفَّةِ الْبَابِ، فَقَالَ: إِنَّ شَهْرًا نَزَكُوهُ، إِنَّ شَهْرًا نَزَكُوهُ. قَالَ مُسْلِمٌ -رَحِمَهُ اللَّهُ-: يَقُولُ: أَخَذَتْهُ أَلْسِنَةُ النَّاسِ تَكَلَّمُوا فِيهِ.

Ibnu ‘Aun ditanya tentang hadits-hadits yang diriwayatkan oleh Syahr. Waktu itu beliau (Ibnu ‘Aun) sedang berdiri di (dekat) tiang pintu, maka beliau berkata: “Sungguh, Syahr telah ditinggalkan oleh mereka, Sungguh, Syahr telah ditinggalkan oleh mereka.”

Imam Muslim -rahimahullaah- menjelaskan: “Maksudnya: manusia (ahli ilmu) telah membicarakan (mencela)nya.”

[19]- Kedustaan dan kesalahan (sering) terjadi pada orang-orang shalih dan ahli ibadah (ketika meriwayatkan hadits)

Yahya bin Sa’id Al-Qaththan -rahimahullaah- berkata:

لَمْ نَرَ الصَّالِحِينَ فِي شَيْءٍ أَكْذَبَ مِنْهُمْ فِي الْحَدِيثِ.

“Kami tidak melihat orang yang lebih dusta dalam meriwayatkan hadits; dibandingkan orang-orang shalih.”

Beliau juga berkata:

لَمْ تَرَ أَهْلَ الْخَيْرِ فِي شَيْءٍ أَكْذَبَ مِنْهُمْ فِي الْحَدِيثِ.

“Tidaklah engkau lihat orang yang lebih dusta dalam meriwayatkan hadits; dibandingkan orang-orang yang baik.”

Imam Muslim -rahimahullaah- berkata:

يَقُولُ: يَجْرِي الْكَذِبُ عَلَى لِسَانِهِمْ، وَلَا يَتَعَمَّدُونَ الْكَذِبَ.

“Maksudnya: terjadi kedustaan pada mereka, dan mereka tidak sengaja berdusta.”

Yakni: Dusta dengan makna yang umum (mencakup sengaja dan tidak sengaja).

[20]- Macam-macam perawi yang di-jarh (mendapat celaan/kritikan)

1. Yang terkumpul padanya bid’ah dan kedustaan.

2. Para pemalsu hadits.

3. Tertuduh berdusta; dimana perawi tersebut:

– telah berdusta dalam kesehariannya (bukan dalam hadits), atau

– dia meriwayatkan hadits yang menyelisihi kaidah agama, dan dalam sanadnya: hanya dia yang tertuduh mendustakannya.

4. Ahlul Bid’ah.

5. Banyak salahnya.

6. Para mudallis.

[21]- Sebab kenapa para ulama mengkritik dan mencela para rawi

Imam Muslim -rahimahullaah- berkata:

“Dan kenapa (para ulama) menyingkap cacat para perawi hadits dan penukil khabar, dan mereka juga berfatwa (menjelaskannya) ketika ditanya: dikarenakan besarnya perkara ini. Sebab: khabar/hadits berisi permasalahan agama berupa: penghalalan, pengharaman, perintah, larangan, anjuran, atau peringatan.

Kalau ada perawi yang tidak terpercaya dan tidak amanah, kemudian ada orang yang mengetahui keadaannya akan tetapi tetap meriwayatkan darinya tanpa menjelaskan keadaannya kepada orang lain yang tidak mengetahuinya; maka orang ini berdosa dengan perbuatannya tersebut, dia telah berbuat curang terhadap orang-orang awam kaum muslimin.

Karena bisa jadi sebagian yang mendengar khabar/hadits tersebut: menggunakannya atau menggunakan sebagiannya, padahal bisa jadi kebanyakannya adalah kedustaan, tidak ada asalnya.

Padahal hadits-hadits yang diriwayatkan oleh para perawi yang tsiqah: sudah banyak dan mencukupi; sehingga tidak butuh kepada penukilan perawi yang tidak tsiqah.” Sekian perkataan Imam Muslim

Sebagai contoh terbesarnya adalah: Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim yang mencakup banyak sekali hadits yang shahih.

[22]- Celaan terhadap orang yang hanya memperbanyak hadits tanpa bisa memilah mana yang shahih.

Imam Muslim -rahimahullaah- berkata:

“Saya kira banya orang yang meriwayatkan hadits-hadits lemah ini -padahal dia mengetahui kelemahannya-; maka yang menjadikannya berbuat semacam ini adalah: hanya ingin memperbanyak hadits agar dilihat (dan dipuji) oleh orang-orang awam. Agar dikatakan: “Alangkah banyaknya hadits yang dikumpulkan oleh fulan, dan banyak sekali jumlah yang dia tulis.

Dan orang yang menempuh jalan ini; maka tidak ada bagian (dari ilmu hadits) baginya, dan dia lebih pantas dinamakan orang bodoh dibandingkan orang berilmu.” Sekian perkataan Imam Muslim secara ringkas.

Sebenarnya tidak mengapa engkau menghafal (atau mengumpulkan) hadits sebanyak-banyaknya, asalkan harus dipilih (mana yang shahih) ketika akan disampaikan.

-ditulis oleh Ustadz Ahmad Hendrix-

https://www.facebook.com/ahmadhendrix.eskanto/posts/482163708791177