«

»

Jul 15

FAIDAH MUQADDIMAH MUSLIM ( Bagian ke 4 – terakhir )

FAIDAH MUQADDIMAH MUSLIM

(bersama Syaikh Ziyad Al-‘Abbadi -hafizhahullaah-)

Bagian Keempat

[23]- Pembahasan terakhir: tentang sanad “Mu’an’an” (riwayat yang di dalam sanadnya terdapat: fulan ‘an (dari) fulan)

Agar sanad “Mu’an’an” di antara dua perawi bisa diterima; maka Imam Muslim mensyaratkan:

1. Keduanya satu zaman.

2. Ada kemungkinan bertemu; seperti:

– keduanya hidup di satu kota, atau

– keduanya pernah bersafar (untuk mencari hadits) ke tempat yang sama, atau

– keduanya pernah bersafar dalam waktu yang sama (walaupun sebentar) ke tempat yang sama (seperti: berhaji atau ‘umrah).

3. (Rawi yang meriwayatkan dengan lafazh ‘an) bukan mudallis.

4. (Kedua perawi tersebut) tsiqah.

Kemudian ada orang yang membawa pendapat yang baru -menurut Imam Muslim-; yakni: untuk yang kedua: tidak cukup hanya dengan “kemungkinan bertemu”, akan tetapi “harus pernah bertemu”. Dan hal itu bisa diketahui dengan cara menemukan jalan sanad -walau satu- yang di dalamnya terdapat kejelasan pernah mendengar; sehingga bisa dipastikan: keduanya pernah bertemu.

Syarat ini dinisbatkan kepada Ibnul Madini dan Al-Bukhari dalam setiap riwayat. Dan ada yang berpendapat bahwa: Al-Bukhari hanya mensyaratkannya dalam kitab Shahih-nya.

Orang yang mensyaratkan “harus pernah bertemu” antara perawi -yang menggunakan ‘an- dengan gurunya (orang yang dia riwayatkan haditsnya), beralasan: karena jika mencukupkan dengan “ada kemungkinan bertemu”; maka dikhawatirkan terjadinya “Mursal Khafiyy”; yakni: ada perawi -yang bukan Mudallis- akan tetapi dia meriwayatkan dari orang yang sezaman dengannya padahal dia tidak bertemu (sehingga sanadnya terputus).

Maka Imam Muslim membantah dengan beberapa segi, dan di antara bantahan terkuat Imam Muslim adalah:

1. Kekhawatiran tersebut juga bisa terjadi pada orang yang pernah bertemu, akan tetapi di suatu saat dia meriwayatkan hadits darinya dengan lafazha ‘an, dan setelah diteliti ternyata dia tidak langsung meriwayatkan darinya (alias: dengan perantara) -padahal dia bukan Mudallis-.

Dan Imam Muslim membawakan bukti-bukti akan terjadinya hal tersebut.

Maka konsekuensi orang yang tidak menerima sanad ‘an yang “tidak ada kepastian bertemu” -karena khawatir terputus (karena tidak bertemu walaupun sezaman)-; maka dia juga harus menolak sanad ‘an walaupun keduanya pernah bertemu; karena kemungkinan terputus tetap ada.

Jadi, konsekuensinya dia harus:

– menolak seluruh sanad “Mu’an’an”, atau

– menerima semuanya asalkan ada kemungkinan bertemu.

2. Imam Muslim membawakan bukti-bukti bahwa ada riwayat-riwayat yang menggunakan lafazh ‘an padahal tidak ada kepastian bertemu, akan tetapi riwayat-riwayat tersebut disepakati ke-shahih-annya (oleh para ulama).

-ditulis oleh: Ustadz Ahmad Hendrix-