«

»

Jul 15

BERGEMBIRA DENGAN ISLAM DAN AL-QUR’AN

BERGEMBIRA DENGAN ISLAM DAN AL-QUR’AN

(KHUTBAH ‘IDUL FITHRI 1438 H/2017 M)

[1]- Segala puji bagi Allah yang telah melimpahkan berbagai nikmat-Nya kepada kita, yang jika kita mencoba untuk menghitung nikmat-nikmat tersebut; maka kita tidak akan mampu untuk menghitungnya. Dan nikmat terbesar yang Allah berikan kepada kita adalah nikmat Islam dan Iman, yang merupakan sebab bagi kita untuk bisa mencapai kebahagaiaan di dunia dan di akhirat. Shalawat dan salam semoga senantiasa terlimpahkan kepada Nabi kita Muhmammad, yang Allah utus dengan membawa agama Islam yang Allah ridhai bagi hamba-hamba-Nya, dan Rasulullah -shallallaahu ‘alaihi wa sallam- telah sampaikan secara lengkap; sehingga tidak perlu ditambah-tambahi lagi.

[2]- Jama’ah Shalat ‘Idul Fithri -rahimakumullaah-

Umumnya kaum muslimin menyambut gembira datangnya ‘Idul Fithri ini, dan pada asalnya kegembiraan semacam ini tidak tercela; selama tidak disalurkan dengan cara-cara yang tidak baik. Karena jika kegembiraan pada ‘Idul Fithri ini disalurkan dengan cara berbangga dalam urusan dunia -baik melalui harta, pakaian, kendaraan, dan perkara-perkara dunia lainnya-; maka bisa mnegantarkan kepada hal yang tidak terpuji. Layaknya kebanggaan Qarun dan kegembiraannya dengan harta bendanya. Allah -Ta’aalaa- berfirman:

إِنَّ قَارُوْنَ كَانَ مِنْ قَوْمِ مُوسَى فَبَغَى عَلَيْهِمْ وَآتَيْنَاهُ مِنَ الْكُنُوْزِ مَا إِنَّ مَفَاتِـحَهُ لَتَنُوْءُ بِالْعُصْبَةِ أُولِي الْقُوَّةِ إِذْ قَالَ لَهُ قَوْمُهُ لا تَفْرَحْ إِنَّ اللهَ لَا يُـحِبُّ الْفَرِحِيْنَ

“Sesungguhnya Qarun termasuk kaum Musa, tetapi dia berlaku zhalim terhadap mereka, dan Kami telah menganugerahkan kepadanya perbendaharaan harta yang kunci-kuncinya sungguh berat dipikul oleh sejumlah orang yang kuat-kuat. (Ingatlah) ketika kaumnya berkata kepadanya: “Janganlah engkau terlalu bangga (gembira). Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang membanggakan diri (bergembira semacam ini).”.” (QS. Al-Qashash: 76)

Maka ini termasuk kebanggan yang tercela.

Dan ada juga kegembiraan yang justru Allah perintahkan agar kita bergembira dengannya. Allah -Ta’aalaa- berfirman:

قُلْ بِفَضْلِ اللهِ وَبِرَحْـمَتِهِ فَبِذٰلِكَ فَلْيَفْرَحُوْا هُوَ خَيْرٌ مِـمَّا يَـجْمَعُوْنَ

“Katakanlah (Muhammad): “Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya; hendaklah dengan itu mereka bergembira. Itu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan.” (Yunus: 58)

“Karunia Allah” adalah Islam, dan “rahmat-Nya” adalah: Al-Qur’an. Itu lebih baik dari harta benda, emas dan perak yang dikumpulkan manusia.

[3]- Jama’ah Shalat ‘Idul Fithri -rahimakumullaah-

Maka karunia Allah berupa agama Islam yang Allah tunjukkan kepada kita; dengan itulah hendaknya kita bergembira. Dan para Shahabat pun sangat bangga dengan agama Islam ini, seperti yang dikatakan oleh Amirul Mukminin ‘Umar bin Al-Khaththab -radhiyallaahu ‘anhu-, beliau berkata:

إِنَّا كُنَّا أَذَلَّ قَوْمٍ، فَأَعَزَّنَا اللهُ بِالْإِسْلَامِ، فَمَهْمَا نَطْلُبُ الْعِزَّ بِغَيْرِ مَا أَعَزَّنَا اللهُ بِهِ؛ أَذَلَّنَا اللهُ

“Kita dahulunya adalah kaum yang paling hina, kemudian Allah muliakan kita dengan Islam, maka jika kita mencari kemuliaan dengan selain (Islam) yang Allah muliakan kita dengannya; niscaya Allah akan menghinakan kita.”[1]

Bahkan kalau kaum muslimin “nekat” untuk mencari kemuliaan dengan selain Islam, baik dengan mengumpulkan harta benda dan lainnya dari perkara-perkara dunia; niscaya Allah akan menghinakan mereka, sebagaiman disabdakan oleh Rasulullah -shallallaahu ‘alaihi wa sallam-:

إِذَا تَبَايَعْتُمْ بِالْعِيْنَةِ، وَأَخَذْتُمْ أَذْنَابَ الْبَقَرِ، وَرَضِيْتُمْ بِالزَّرْعِ، وَتَرَكْتُمُ الْجِهَادَ؛ سَلَّطَ اللهُ عَلَيْكُمْ ذُلًّا؛ لَا يَنْزِعُهُ حَتَّى تَرْجِعُوْا إِلَى دِيْنِكُمْ

“Jika kalian telah berjual beli dengan sistem “Bai’ul ‘Iinah”[2], kalian memegang ekor-ekor sapi dan ridha dengan pertanian[3], dan kalian meninggalkan jihad[4]; niscaya Allah akan menjadikan kehinaan menguasai kalian, Dia tidak akan mencabut (kehinaan) itu (dari kalian); hingga kalian kembali kepada agama kalian.”[5]

Maka kesibukkan kaum muslimin justru merupakan penyakit yang mengantarkan kepada kehinaan.

[4]- Inilah di antara penyakit dunia Islam: kesibukan terhadap dunia, yang menjadikan kebanyakan kaum muslimin pada zaman sekarang tidak layak mewakili agama Islam, karena mereka telah meninggalkan berbagai kewajiban dan menerjang berbagai larangan demi untuk meraih berbagai perkara keduniaan, baik: harta, wanita, maupun kekuasaan. Walaupun jumlah mereka banyak; akan tetapi mereka justru menjadi santapan musuh-musuh mereka. Rasulullah -shallallaahu ‘alaihi wa sallam- bersabda:

((يُوْشِكُ الْأُمَمُ أَنْ تَدَاعَى عَلَيْكُمْ كَمَا تَدَاعَى الْأَكَلَةُ إِلَى قَصْعَتِهَا)) فَقَالَ قَائِلٌ: وَمِنْ قِلَّةٍ نَحْنُ يَوْمَئِذٍ؟ قَالَ: ((بَلْ أَنْتُمْ يَوْمَئِذٍ كَثِيرٌ، وَلٰكِنَّكُمْ غُثَاءٌ كَغُثَاءِ السَّيْلِ، وَلَيَنْزَعَنَّ اللهُ مِنْ صُدُورِ عَدُوِّكُمُ الْمَهَابَةَ مِنْكُمْ، وَلَيَقْذِفَنَّ اللهُ فِيْ قُلُوْبِكُمُ الْوَهْنَ)) فَقَالَ قَائِلٌ: يَا رَسُولَ اللهِ! وَمَا الْوَهْنُ؟ قَالَ: ((حُبُّ الدُّنْيَا، وَكَرَاهِيَةُ الْمَوْتِ))

“Hampir tiba saatnya umat-umat (lain) mengerumuni kalian (kaum muslimin) seperti orang-orang yang akan makan mengerumuni bejana (makanan)nya.” Ada yang bertanya: Apakah dikarenakan jumlah kami pada waktu itu adalah sedikit? Beliau menjawab: “Bahkan jumlah kalian pada waktu itu banyak, akan tetapi keadaan kalian seperti buih yang dibawa arus air. Dan sungguh, Allah akan mencabut dari dada musuh kalian: rasa takut terhadap kalian, serta Allah akan timpakan “Al-Wahn” (kelemahan) di dalam hati kalian.” Ada yang bertanya: Wahai Rasululullah! Apakah “Al-Wahn” itu? Beliau menjawab: “Cinta dunia dan takut mati.”[6]

Maka di sini Rasulullah -shallallaahu ‘alaihi wa sallam- mengabarkan bahwa kaum kafirin -dengan berbagai macam kelompoknya- berkonspirasi untuk merebut harta dan negeri kaum muslimin. Hla itu terjadi ketika keadaan kaum muslimin ibarat buih yang hanyut terbawa gelombang pemikiran orang-orang kafir; baik dari segi agama maupun peradaban. Sehingga Allah mencabut rasa takut terhadap kaum muslimin dari dada orang-orang kafir. Dan Rasulullah -shallallaahu ‘alaihi wa sallam- juga mengabarkan bahwa kaum muslimin terkena penyakit “Al-Wahn” (kelemahan); yaitu: cinta dunia dan takut mati.

[5]- Kekuatan kaum muslimin bukanlah dengan hanya banyaknya jumlah, dan bukan pula dengan peralatan yang lengkap, akan tetapi kekuatan mereka terletak pada ‘Aqidah dan Manhaj mereka. Sehingga mereka akan kembali kuat dan ditakuti oleh musuh-musuh mereka: jika mereka mau kembali kepada agama mereka, dimana mereka mempelajari agama Islam yang murni, mengamalkannya, dan mendakwahkannya. Sebagaimana sabda Rasulullah -shallallaahu ‘alaihi wa sallam- pada hadits sebelumnya:

…سَلَّطَ اللهُ عَلَيْكُمْ ذُلًّا؛ لَا يَنْزِعُهُ حَتَّى تَرْجِعُوْا إِلَى دِيْنِكُمْ

“…niscaya Allah akan menjadikan kehinaan menguasai kalian, Dia tidak akan mencabut (kehinaan) itu (dari kalian); hingga kalian kembali kepada agama kalian.”

Dan banyak dari kaum muslimin telah membaca hadits ini dan sering mendengar sabda beliau:

…حَتَّى تَرْجِعُوْا إِلَى دِيْنِكُمْ

“…hingga kalian kembali kepada agama kalian”

Maka mereka mengira bahwa kembali kepada agama adalah suatu perkara yang mudah. Padahal kembali kepada agama adalah sangat membutuhkan usaha yang luar biasa kerasnya. Hal itu dikarenakan agama ini telah ditimpa banyak usaha untuk mengubah hakikat-hakikatnya. Bahkan sebagian orang telah berhasil untuk melakukan perubahan atau penyimpangan terhadap agama ini. Dan sebagian perubahan ini diketahui oleh banyak manusia, dan sebagiannya lagi tidak demikian; bahkan sebaliknya; yakni: banyak yang tidak diketahui oleh umumnya manusia. Ada masalah-masalah ‘Aqidah dan Fiqih yang mereka sangka hal itu bagian dari agama; padahal bukan bagian dari agama sama sekali…

Oleh karena itulah perbaikan sebenarnya -yang wajib dilakukan oleh para da’i yang mendakwahkan Islam-; adalah: dengan cara mereka harus mulai dengan memahamkan diri mereka, kemudian juga umat: terhadap agama yang dibawa oleh Rasulullah -‘alaihish shalaatu was salaam-. Dan tidak ada jalan untuk memahami hakikat agama yang Allah -‘Azza Wa Jalla- turunkan; kecuali dengan MEMPELAJARI AL-QUR’AN DAN AS-SUNNAH …

Oleh karena itu; maka kita harus mulai dengan mengajarkan agama Islam yang benar kepada manusia -sebagaimana Rasulullah ‘alaihish shalaatu was salaam memulai dengannya-. Akan tetapi kita tidak boleh mencukupkan diri hanya sekedar mengajarkan saja; karena sungguh, Islam telah dimasuki dengan hal-hal yang bukan berasal darinya dan yang tidak ada kaitannya sama sekali dengannya; berupa bida’ah-bid’ah dan hal-hal yang baru; yang menyebabkan hancurnya bangunan Islam yang kokoh.

[6]- Jama’ah Shalat ‘Idul Fithri -rahimakumullaah-

Kemudian di antara hal yang hendaknya kita bergembira dengannya adalah: Al-Qur’an, sebagaimana yang Allah firmankan:

قُلْ بِفَضْلِ اللهِ وَبِرَحْـمَتِهِ فَبِذٰلِكَ فَلْيَفْرَحُوْا هُوَ خَيْرٌ مِـمَّا يَـجْمَعُوْنَ

“Katakanlah (Muhammad): “Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya; hendaklah dengan itu mereka bergembira. Itu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan.” (Yunus: 58)

Ibnu ‘Abbas, Al-Hasan dan Qatadah berkata: “Karunia Allah” adalah Islam, dan “rahmat-Nya” adalah: Al-Qur’an.

Rasulullah -shallallaahu ‘alaihi wa sallam- bersabda:

كِتَابُ اللهِ: هُوَ حَبْلُ اللهِ الْمَمْدُوْدُ مَنَ السَّمَاءِ إِلَى الْأَرْضِ

“Kitabullah (Al-Qur’an) adalah: tali Allah yang terbentang dari langit ke bumi.”[7]

Beliau juga bersabda:

فَإِنَّ هٰذَا الْقُرْآنَ سَبَبٌ (أَيْ: حَبْلٌ)؛ طَرْفُهُ بِيَدِ اللهِ، وَطَرْفُهُ بِأَيْدِيْكُمْ، فَتَمَسَّكُوْا بِهِ

“Sungguh, Al-Qur’an ini adalah sebab (yakni: tali); yang ujungnya ada di tangan Allah, dan ujung (lainnya) ada di tangan-tangan kalian; maka berpeganglah kalian dengannya.”[8]

[7]- Maka jelas sekali bahwa sebagai umat Islam; mereka harus menjadikan Al-Qur’an sebagai pegangan hidup; dengan: membacanya, memahaminya, dan mengamalkannya; karena itu adalah tujuan Al-Qur’an diturunkan. Jangan sampai Al-Qur’an diabaikan, sebagaimana yang Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam pernah adukan kepada Allah:

وَقَالَ الرَّسُوْلُ يَا رَبِّ إِنَّ قَوْمِي اتَّـخَذُوْا هٰذَا الْقُرْآنَ مَهْجُوْرًا

“Dan Rasul (Nabi Muhammad) berkata, “Wahai Rabb-ku, sesungguhnya kaumku telah menjadikan Al-Qur’an ini diabaikan.” (QS. Al-Furqan: 30)

[8]- Allah telah menyebutkan bahwa di dalam Al-Qur’an terdapat obat:

وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْآنِ مَا هُوَ شِفَاءٌ وَرَحْـمَةٌ لِلْمُؤْمِنِيْنَ…

“Dan Kami turunkan dari Al-Qur’an (sesuatu yang menjadi penawar/obat dan rahmat bagi orang-orang yang beriman…” (QS. Al-Israa’: 82)

Maka di dalam Al-Qura’n terdapat obat bagi penyakit syubhat -yang menyerang keilmuan-, dan dari penyakit syahwat -yang menyerang amalan-.

Seorang yang mau mentadabburi Al-Qur’an; maka dia akan mendapatkan: penjelasan-penjelasan dan bukti-bukti yang pasti; yang menjelaskan kebenaran dan menolak kebatilan; sehingga hilanglah penyakit syubhat -yaitu; keraguan dan kerancuan dalam ilmu agama- yang ada pada dirinya.

Dan Al-Qur’an dengan: nasehatnya, anjuran dan ancamannya, permisalan, dan kisahnya; akan menghilangkan penyakit syahwat -yaitu keinginan yang jelek untuk tidak mengamalkan kebenaran- yang ada pada diri seorang hamba.

Maka di dalam Al-Qur’an juga terdapat obat bagi penyakit cinta dunia yang menyebabkan terpuruknya keadaan kaum muslimin -sebagaimana telah dijelaskan-. Karena di dalam Al-Qur’an terdapat ajakan untuk zuhud terhadap dunia; dengan memberikan penjelasan bahwa kehidupan dunia adalah sementara sedangkan kehidupan akhirat adalah kekal, termasuk juga penjelasan bagaimana kesudahan orang-orang yang berbangga dengan urusan keduniaan; seperti Fir’aun, Qarun, dan lainnya.

[9]- Dan di antara do’a yang diajarkan oleh Nabi -shallallaahu ‘alaihi wa sallam- adalah:

اَلـلّٰـهُـمَّ إِنِّــيْ عَـبْـدُكَ، ابْـنُ عَـبْـدِكَ، ابْـنُ أَمَـتِـكَ، نَـاصِـيَـتِـيْ بِـيَـدِكَ، مَـاضٍ فِـيَّ حُـكْـمُـكَ، عَـدْلٌ فِـيَّ قَـضَـاؤُكَ، أَسْـأَلُـكَ بِـكُـلِّ اسْـمٍ هُـوَ لَـكَ سَــمَّـيْـتَ بِـهِ نَـفْـسَـكَ، أَوْ أَنْــزَلْــتَـهُ فِـيْ كِــتَـابِـكَ، أَوْ عَـلَّـمْـتَـهُ أَحَـدًا مِـنْ خَـلْـقِـكَ، أَوِ اسْــتَـأْثَــرْتَ بِــهِ فِـيْ عِـلْـمِ الْــغَــيْـبِ عِــنْــدَكَ، أَنْ تَــجْـعَـلَ الْـقُـرْآنَ رَبِـيْـعَ قَـلْـبِـيْ، وَنُــوْرَ صَـدْرِيْ، وَجَـلَاءَ حُــزْنِـيْ، وَذَهَـابَ هَــمِّـيْ.

“Ya Allah, sesungguhnya aku adalah hamba-Mu, anak hamba-Mu, dan anak hamba perempuan-Mu, ubun-ubunku berada di tangan-Mu, hukum-Mu berlaku terhadap diriku dan ketetapan-Mu adil pada diriku. Aku memohon kepada-Mu dengan segala Nama yang menjadi milik-Mu, yang Engkau namai diri-Mu dengannya, atau yang Engkau turunkan di dalam Kitab-Mu, atau yang Engkau ajarkan kepada seseorang dari makhluk-Mu, atau yang Engkau rahasiakan dalam ilmu ghaib yang ada di sisi-Mu, maka AKU MOHON DENGAN ITU AGAR ENGKAU JADIKAN AL-QUR’AN SEBAGAI PENYEJUK HATIKU, CAHAYA BAGI DADAKU, DAN PENGHILANG KESUSAHANKU.”[9]

[10]- Maka -sekali lagi- khathib ingatkan bahwa: selain kita bergembira dengan datangnya hari ‘Idul Fithri ini; maka kita juga harus: BERGEMBIRA DENGAN ISLAM DAN DENGAN AL-QUR’AN.

اللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ، وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ، اللٰهُمَّ بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ، وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ

اللّٰهُمَّ إِنّا نَسْأَلُكَ فِعْلَ الخَيْرَاتِ، وَتَرْكَ الْمُنْكَرَاتِ، وَحُبَّ الْمَسَاكِيْنِ، وَأَنْ تَغْفِرَ لَنَا وَتَرْحَمَنَا، وَإِذَا أَرَدْتَ فِتْنَةَ قَوْمٍ فَتَوَفَّنَا غَيْرَ مَفْتُونٍ، وَنَسْأَلُكَ حُبَّكَ وَحُبَّ مَنْ يُحِبُّكَ، وَحُبَّ عَمَلٍ يُقَرِّبنَا إِلَى حُبِّكَ

اللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْوَاتِ

اللّٰهُمَّ زَيِّـــنَّا بِـزِيْــنَــةِ الْإِيْـمَانِ، وَاجْــعَــلْــنَا هُــدَاةً مُــهْــتَــدِيْــنَ

اللّٰهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ أَنْ تَــجْـعَـلَ الْـقُـرْآنَ رَبِـيْـعَ قُلُوْبِنَا، وَنُــوْرَ صُدُوْرِنَا، وَجَـلَاءَ أَحْزَانِنَا، وَذَهَـابَ هُـمُوْمِنَا.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ، وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ

وَآخِرُ دَعْوَانَا: أَنِ الْحَمْدُ لِلّٰهِ رّبِّ الْعَالَمِيْنَ

[1] Diriwayatkan oleh Al-Hakim (no. 208).

[2] Jual beli yang didalamnya terkandung unsur riba terselubung.

[3] Isyarat kepada: sibuknya kaum muslimin dengan urusan dunia mereka.

[4] Kesibukan mereka dengan dunia sampai mengantarkan mereka untuk meninggalkan kewajiban mereka; diantaranya adalah jihad. Lihat: “At-Tashfiyah wat Tarbiyah Wa Haajatul Muslimiin Ilaihimaa” (hlm. 7-11) milik Imam Al-Albani -rahimahullaah-.

[5] Shahih: HR. Abu Dawud (no. 3462), dari ‘Abdullah bin ‘Umar -radhiyallaahu ‘anhumaa-. Lihat: “Silsilah al-Ahaadiits ash-Shahiiihah” (no. 11) karya Imam Muhammad Nashiruddin Al-Albani -rahimahullaah-.

[6] Shahih: HR. Abu Dawud (no. 4297), dan lainnya. Dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani -rahimahullaah- di dalam “Silsilah Al-Ahaadiits Ash-Shahiihah” (no. 958)

[7] “Ash-Shahiihah” (no. 2024).

[8] “Ash-Shahiihah” (no. 713).

[9] Nabi -shallallaahu ‘alaihi wa sallam- bersabda: “Tidaklah seorang pun ditimpa kesedihan dan kesusahan; kemudian membaca…(do’a ini); melainkan Allah akan hilangkan kesedihan dan kesusahannya, dan Dia gantikan dengan kegembiraan.” Maka ada yang bertanya: Wahai Rasulullah, tidakkah kami pelajari (do’a) itu? Beliau menjawab: “Iya, sepantasnya bagi setiap orang yang mendengarnya untuk mempelajarinya.”

Shahih: HR. Ahmad (I/391, 452), Al-Hakim (I/509), dan Ibnu Hibban (no. 968-At-Ta’liiqaatul Hisaan). Dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani -rahimahullaah- dalam “Silsilah al-Ahaadiits ash-Shahiihah” (no. 199). Lihat: Do’a & Wirid (hlm. 302-303-cet. kesebelas) karya Ustadz Yazid bin ‘Abdul Qadir Jawas -hafizhahullaah-.

Ustadz Ahmad Hendrix

https://www.facebook.com/ahmadhendrix.eskanto/posts/472226769784871