«

»

Agu 01

Celaan Terhadap Hizbiyyah dan Fanatik Golongan

FAEDAH KAJIAN SABTU PAGI (6 Dzul Qa’dah 1438 H/29 Juli 2017 M)

bersama Fadhilatul Ustadz Yazid bin ‘Abdul Qadir Jawas -hafizhahullaah-

-via RODJA TV live streaming-

———————————————————————

[1]- TERMASUK PENYIMPANGAN DALAM MANHAJ: BERGABUNG DENGAN KELOMPOK-KELOMPOK ATAU PARTAI-PARTAI

Celaan Terhadap Hizbiyyah dan Fanatik Golongan

Allah -Subhaanahu Wa Ta’aalaa- berfirman:

وَإِنَّ هٰذِهِ أُمَّتُكُمْ أُمَّةً وَاحِدَةً وَأَنَا رَبُّكُمْ فَاتَّقُوْنِ * فَتَقَطَّعُوْا أَمْرَهُمْ بَيْنَهُمْ زُبُــرًا كُلُّ حِزْبٍ بِـمَا لَدَيْهِمْ فَرِحُوْنَ

“Sesungguhnya (agama tauhid) inilah agama kamu, agama yang satu dan Aku adalah Rabb-mu, maka bertakwalah kepada-Ku. Kemudian mereka terpecah-belah dalam urusan (agama)nya menjadi beberapa golongan. Setiap “Hizb” (golongan) merasa bangga dengan apa yang ada pada mereka (masing-masing).” (QS. Al-Mu’minuun: 52-53)

Allah -Subhaanahu Wa Ta’aalaa- berfirman:

…وَلَا تَكُونُوْا مِنَ الْمُشْرِكِينَ * مِنَ الَّذِيْنَ فَرَّقُوا دِيْنَهُمْ وَكَانُوْا شِيَـعًا كُلُّ حِزْبٍ بِـمَا لَدَيْهِمْ فَرِحُوْنَ

“…Dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah, yaitu orang-orang yang memecah belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. Setiap “Hizb” (golongan) merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka.” (QS. Ar-Ruum: 31-32)

“Al-Hizb” secara bahasa adalah: golongan (kumpulan) dari manusia, berkumpulnya manusia karena adanya sifat yang bersekutu atau kemaslahatan yang menyeluruh…

Bukanlah sesuatu yang tersembunyi bagi orang yang berakal bahwa: setiap “Hizb” mempunyai: prinsip-prinsip, pemikiran, sandaran yang sifatnya intern, dan teori-teori yang menjadi patokan sebagai undang-undang bagi kelompok “Hizb”, meskipun sebagian mereka tidak menyebutnya sebagai undang-undang…

Maka undang-undang itu adalah asas wala’ (kesetiaan/loyalitas) dan bara’ (permusuhan), (asas) persatuan dan perpecahan, (asas) kepedulian dan ketidakpedulian.

Atas pertimbangan yang demikian; maka sesungguhnya di dunia ini hanya ada dua “Hizb”, yaitu: Hizb Allah dan Hizb setan, yang menang dan yang kalah, yang muslim dan yang kafir.

Orang yang memasukkan hizb-hizb (kelompok, pergerakan, jama’ah-jama’ah) yang lain ke dalam hizb Allah, maka dia telah merobek-robek hizb Allah, memecah belah kalimat Allah -Ta’aalaa-.

SEORANG MUSLIM WAJIB UNTUK MENINGGALKAN DAN MENANGGALKAN SEMUA BENTUK HIZBIYYAH yang sempit dan terkutuk YANG TELAH MELEMAHKAN HIZB ALLAH dan tidak boleh toleran kepada semua kelompok/golongan/jama’ah. Supaya agama Islam ini seluruhnya milik Allah.

[Lihat: “Ad-Da’wah Ilallaah Baina At-Tajammu’ Hizbiyy Wa At-Ta’aawun Asy-Syar’iyy” (hlm. 53-55), oleh Syaikh ‘Ali Hasan Al-Halabi Al-Atsari -hafizhahullaah-]

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah -rahimahullaah- berkata: “Barangsiapa mengangkat pemimpin -siapa pun orangnya- lalu wala’ dan bara’-nya menurut persetujuan perkataan/perbuatannya, maka ia termasuk:

مِنَ الَّذِيْنَ فَرَّقُوْا دِيْنَهُمْ وَكَانُوا شِيَعًا كُلُّ حِزْبٍ بِـمَا لَدَيْهِمْ فَرِحُوْنَ

“orang-orang yang memecah belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan…” (QS. Ar-Ruum: 32)

[“Majmuu’ Fataawaa” (XX/8)]

Beliau juga berkata: “Barangsiapa bergabung (berjanji setia) bersama orang tertentu untuk memberikan loyalitas kepada orang yang loyal kepadanya dan memusuhi orang yang memusuhinya, maka ia serupa dengan bangsa Tatar yang berperang di jalan setan. Dan yang seperti ini bukanlah termasuk orang yang berjuang di jalan Allah, tidak pula termasuk tentara kaum Muslimin, bahkan mereka lebih pantas menjadi bala tentara setan.”

[“Majmuu’ Fataawaa” (XXVIII/20-21)]

-dinukil secara ringkas dari: “Mulia Dengan Manhaj Salaf” (361-364- cet. ke-12), karya Fadhilatul Ustadz Yazid bin ‘Abdul Qadir Jawas -hafizhahullaah-

[2]- TIDAK BOLEH BERKUMPUL DENGAN AHLUL BID’AH, KARENA AKAN HILANG AMAR MA’RUF NAHI MUNKAR

Penjelasan Tentang Keharusan Menjauhi Ahli Bid’ah

وَإِذَا رَأَيْتَ الَّذِيْنَ يَـخُوْضُوْنَ فِـيْ آيَـاتِــنَا فَأَعْرِضْ عَنْهُمْ حَتَّى يَـخُوْضُوْا فِـيْ حَدِيْثٍ غَيْرِهِ وَإِمَّا يُنْسِيَنَّكَ الشَّيْطَانُ فَلَا تَقْعُدْ بَعْدَ الذِّكْرَى مَعَ الْقَوْمِ الظَّالِمِيْنَ

“Apabila engkau (Muhammad) melihat orang-orang memperolok-olokkan ayat-ayat Kami, maka tinggalkanlah mereka hingga mereka beralih ke pembicaraan lain. Dan jika syaitan menjadikan engkau lupa (akan larangan ini), setelah ingat kembali janganlah engkau duduk bersama orang-orang yang zhalim.” (QS. Al-An’aam: 68)

Imam Asy-Syaukani -rahimahullaah- (wafat th. 1250 H) berkata: “Dalam ayat ini terdapat nasihat yang agung bagi orang yang masih memperbolehkan untuk duduk bersama ahli bid’ah; yang mereka itu mengubah Kalam Allah, dan mempermainkan Kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya, dan memahami Al-Qur’an dan As-Sunnah sesuai dengan hawa nafsu mereka yang menyesatkan dan sesuai dengan bid’ah-bid’ah mereka yang rusak.

Maka sesungguhnya jika seseorang tidak dapat mengingkari mereka dan tidak dapat mengubah keadaan mereka, maka minimalnya (paling tidak) ia harus meninggalkan duduk dengan mereka, dan yang demikian itu mudah baginya dan tidak sulit.

BISA JADI PARA AHLI BID’AH MEMANFAATKAN HADIRNYA SESEORANG DI MAJLIS MEREKA, MESKIPUN IA TERHINDAR DARI SYUBHAT YANG MEREKA LONTARKAN, TETAPI MEREKA DAPAT MENGABURKAN DENGAN SYUBHAT TERSEBUT KEPADA ORANG-ORANG AWAM, maka hadirnya seseorang dalam majlis ahli bid’ah merupakan kerusakan yang lebih besar daripada sekedar kerusakan berupa mendengarkan kemungkaran. Dan kami telah melihat di majelis-majelis yang terlaknat ini yang jumlahnya banyak sekali, dan kami bangkit untuk membela kebenaran, melawan kebathilan semampu kami, dan mencapai kepada puncak kemampuan kami.

Barang siapa mengetahui syari’at yang suci ini dengan yang sebenar-benarnya, maka dia akan mengetahui bahwa bermajelis dengan ahlul bid’ah kerusakannya lebih besar (berlipat ganda) dibandingkan bermajlis dengan orang-orang yang bermaksiat kepada Allah dengan melakukan hal-hal yang diharamkan, lebih-lebih lagi bagi orang yang belum mapan ilmunya tentang Al-Qur’an dan As-Sunnah, maka ia mungkin sekali terpengaruh dengan kedustaan mereka berupa kebathilan yang jelas sekali, lalu kebathilan tersebut akan tergores di dalam hatinya sehingga sangat sulit sekali mencari penyembuh dan pengobatannya, maka dia pun mengamalkannya sepanjang umurnya. Dan ia akan menemui Allah dengan kebathilan yang ia yakini tersebut sebagai kebenaran, padahal itu merupakan sebesar-besar kebathilan dan sebesar-besar kemunkaran.”

[“Faidhul Qadiir” (II/128-129, cet. Daarul Fikr, th. 1393 H)]

-dinukil dari: “Syarah ‘Aqidah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah” (hlm. 521-523- cet. ke-15), karya Fadhilatul Ustadz Yazid bin ‘Abdul Qadir Jawas -hafizhahullaah-

disarikan oleh :

– Ustadz Ahmad Hendrix-

https://www.facebook.com/ahmadhendrix.eskanto/posts/489648148042733