«

»

Agu 01

AKANKAH PONDASI YANG JELEK MEMBUAHKAN HASIL YANG BAIK?!

AKANKAH PONDASI YANG JELEK MEMBUAHKAN HASIL YANG BAIK?!

[1]- Allah -Subhaanahu Wa Ta’aalaa-:

وَمَثَلُ كَلِمَةٍ خَبِيثَةٍ كَشَجَرَةٍ خَبِيثَةٍ اجْتُثَّتْ مِنْ فَوْقِ الأرْضِ مَا لَهَا مِنْ قَرَارٍ

“Dan perumpamaan kalimat yang buruk seperti pohon yang buruk, yang telah dicabut akar-akarnya dari permukaan bumi; tidak dapat (tegak) sedikitpun.” (QS. Ibrahim: 26)

[2]- Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah (wafat th. 728 H) -rahimahullaah- berkata:

فَإِذَا كَانَ الْاِعْتِقَادُ فَاسِدًا؛ أَوْرَثَ عَمَلًا فَاسِدًا

“Kalau ‘Aqidah seseorang itu rusak; maka akan mewariskan amalan yang rusak pula.”

[“Bayaan Talbiis Al-Jahmiyyah” (I/456)]

[3]- Dan termasuk ‘Aiqdah yang rusak adalah: ‘Aqidah Khawarij

Muhammad bin ‘Abdul Karim Asy-Syahrastani (wafat th. 548 H) berkata -ketika mendefinisikan firqah Khawarij-:

“Setiap yang memberontak melawan imam yang sah, yang disepakati oleh jama’ah (kaum muslimin); maka dia (pemberontak tersebut) dinamakan “khaariji” (pengikut Khawarij), baik dia memberontak di zaman para Shahabat -memberontak melawan Khulafa-ur Rasyidin-, maupun setelah mereka -yaitu memberontak melawan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik-, dan (juga memberontak kepada) imam-imam di setiap masa.”

[“Al-Milal Wan Nihal” (hlm. 114-cet. Daarul Fikr)]

[4]- Dan termasuk Khawarij juga adalah: orang-orang yang mencela Ulil Amri; sebagaimana dijelaskan oleh Syaikh Shalih Al-Fauzan -hafizhahullaah-.

Pertanyaan: Ada seseorang yang saya nasehati agar jangan mencela Ulil Amri, maka dia meng-hajr-ku (memboikotku) dengan sebab itu. Dan tatkala aku bertemu dengannya di suatu tempat, maka aku mengucapkan salam kepadanya, akan tetapi dia tidak menjawab salamku sejak dia meng-hajr-ku. Apakah dia berdosa dalam hal ini?

Syaikh Shalih Al-Fauzan menjawab:

“Orang ini termasuk Khawarij, yang memprovokasi untuk menentang Ulil Amri adalah termasuk Khawarij -wal ‘iyaadzu billaah- (kita berlindung kepada Allah). Dia tidak boleh berbuat semacam ini. Ulil Amri memiliki hak (untuk dihormati), bisakah anda hidup di suatu negeri tanpa ada Ulil Amri?…Anda telah benar ketika menasehatinya…bahkan anda harus memperingatkan (orang lain) darinya dan menjelaskan perkara (kejelekan)nya ini, serta (kejelekan) para pengikutnya…”

http://www.alfawzan.af.org.sa/node/14662

[5]- Berbeda dengan ‘Aqidah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah; sebagaiamana dijelaskan oleh Imam Ahlus Sunnah: Imam Ahmad bin Hanbal (wafat th. 241 H) -rahimahullaah-:

وَالسَّمْعُ وَالطَّاعَةُ لِلْأَئِمَّةِ وَأَمِـيْـرِ الْمُؤْمِـنِـيْـنَ؛ اَلْـبَـرِّ وَالْفَاجِرِ، وَمَنْ وَلِـيَ الْـخِلَافَةَ وَاجْتَمَعَ النَّاسُ عَلَيْهِ وَرَضُوْا بِهِ، وَمَنْ عَلِيَهُمْ بِالسَّيْفِ حَتَّى صَارَ خَلِيْفَةً وَسُـمِّيَ أَمِيْرَ الْمُؤْمِـنِـيْـنَ.

“Mendengar dan taat kepada para imam dan amirul mu’minin (pemimpin kaum mu’minin) baik (pemimpin itu) orang yang baik maupun orang yang jelek. (Juga mendengar dan taat kepada) siapa saja yang meraih kekhilafahan (kepemimpinan) dan manusia berkumpul (sepakat) dan rela atasnya. Dan (demikian juga) orang yang menguasai mereka dengan pedang (kekerasan) sehingga menjadi khalifah (pemimpin) dan dia dinamakan amirul mukminin (maka dia juga harus ditaati-pent).”

[6]- Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah -rahimahullaah- juga berkata -setelah membawakan ayat di atas dan lainnya-:

وَالْأَقْوَالُ وَالْأَفْعَالُ صِفَاتُ الْقَائِلِ الْفَاعِلِ؛ فَإِذَا كَانَتْ النَّفْسُ مُتَّصِفَةً بِالسُّوءِ وَالْخُبْثِ لَمْ يَكُنْ مَحَلُّهَا إلَّا مَا يُنَاسِبُهَا؛ فَمَنْ أَرَادَ أَنْ يَجْعَلَ الْحَيَّاتِ وَالْعَقَارِبَ يُعَاشِرُونَ النَّاسَ كَالسَّنَانِيرِ لَمْ يَصْلُحْ ؛ وَمَنْ أَرَادَ أَنْ يَجْعَلَ الْكَذِبَ شَاهِدًا لَمْ يَصْلُحْ ، وَكَذَلِكَ مَنْ أَرَادَ أَنْ يَجْعَلَ الْجَاهِلَ مُعَلِّمًا ؛ أَوْ الْأَحْمَقَ سَائِسًا

“Perkataan dan perbuatan adalah sifat dari orang yang berkata dan berbuat. Sehingga jika jiwa itu bersifat dengan kejelekan dan keburukan; maka tempatnya tidak lain adalah: yang sesuai dengannya. Maka barangsiapa yang ingin menjadikan ular dan kelajengking agar hidup bersama manusia layaknya kucing: ini tidak benar. Dan barangsiapa yang ingin menjadikan pendusta sebagai saksi; ini juga tidak benar. Demikian juga yang ingin menjadikan orang bodoh sebagai pengajar atau ORANG DUNGU SEBAGAI AHLI PENGATUR (AHLI POLITIK); (juga tidak benar).”

[“Majmuu’ Fataawaa” (VIII/226)]

[7]- Dan Rasulullah -shallallaahu ‘alaihi wa sallam- bersabda:

…أَلَا وَإِنَّ فِـي الْـجَسَدِ مُضْغَةً: إِذَا صَلَحَتْ؛ صَلَحَ الْـجَسَدُ كُلُّهُ، وَإِذَا فَسَدَتْ؛ فَسَدَ الْـجَسَدُ كُلُّهُ، أَلاَ وَهِيَ الْـقَلْبُ.

“…Ketahuilah bahwa di dalam tubuh manusia terdapat segumpal daging. Jika ia baik; maka baik pula seluruh tubuhnya, dan jika ia rusak; maka rusak pula seluruh tubuhnya. Ketahuilah bahwa segumpal daging itu adalah hati.” [Muttafaqun ‘Alaih]

– Ustadz Ahmad Hendrix-