«

»

Agu 01

Bolehkah Masuk Parlemen / Organisasi ?

PERTANYAAN: Kita akan bicara tentang politik, yakni politik yang syar’i -insyaa Allaah-.

Kami di Indonesia -sebagaimana yang anda ketahui- menggunakan undang-undang demokrasi perlemen, ada undang-undang parlemen, ada Syi’ah melawan Ahlus Sunnah dan kaum muslimin, (intinya:) semuanya bersatu untuk menyerang kaum muslimin.

Mereka (musuh-musuh yang bersatu tersebut) memiliki Jum’iyyah (organisasi), mereka memiliki partai, dan berbagai segi (dari sarana).

Dan kami -Salafiyyun- memiliki banyak ma’had (sekolah/pondok) dan juga yayasan. Akan tetapi sekolah-sekolah tersebut hanya khusus untuk mempelajari dan mengenal agama, dan kami tidak memiliki organisasi salafi yang bisa menasehati pemerintah. (Hal itu perlu) karena pemerintah sekarang -sebagaimana kalian ketahui bersama-: memusuhi kaum muslimin, maka bagaimana solusi dari hal ini?

SYAIKH ‘ALI BIN HASAN AL-HALABI menyela penanya: “KEADAAN KITA (di Indonesia) TIDAK SAMPAI DERAJAT INI (ditekan pemerintah-pent) wahai saudaraku!”

PENANYA melanjutkan: Apakah memungkinkan bagi kita untuk mendirikan Jum’iyyah (Organisasi) Salafiyyah, tidak terkait dengan sekolah-sekolah, yakni: ada orang-orang tertentu yang nantinya mereka mengurusi tujuan-tujuan ini?

SYAIKH ‘ALI BIN HASAN AL-HALABI -hafizhahullaah- menjawab:

“Baiklah, saya akan menjawab (pertanyaan) anda -insyaa Allaah-.

PERTAMA : maka kita bukanlah memusuhi organisasi yang didirikan untuk medan yang baik bagi Dakwah atau untuk bergerak dengan leluasa di negeri (ini), dan (kebutuhan lain) yang semisalnya. Akan tetapi kita katakan: yang menjadi permasalahan adalah DALAM PRAKTEKNYA, jadi permasalahannya bukanlah tentang pendirian organisasi…Kita bicara dengan ilmu, karena kalau kita bicara dengan kebodohan; maka kita (bingung apakah) menilai organisasi untuk mengkritiknya atau mengkritik prakteknya? Ini yang pertama.

KEDUA : Jika Ahlus Sunnah di negeri ini SEPAKAT ATAU SUDAH BERMUSYAWARAH UNTUK MENDIRIKAN ORGANISASI YANG BISA MEMPERSATUKAN -ATAU MINIMAL: TIDAK MEMECAH BELAH-: maka ini tidak terlarang.

KETIGA : Kami tidak menyarankan untuk mendirikan organisasi yang akan melalaikan kita dari tujuan utama kita; yaitu: mengajarkan agama Allah yang haq kepada manusia, karena (realitanya:) kebanyakan organisasi menyibukkan diri dengan kegiatan sosial, sibuk dengan harta, sibuk dengan memberikan bantuan; maka hal ini adalah bagus. Akan tetapi ini bukanlah tugas kita, tugas kita adalah lebih penting, lebih utama, dan lebih agung; yaitu: mengajarkan agama kepada manusia dan mengikat mereka dengan Allah -Subhaanahu Wa Ta’aalaa-.

KEEMPAT : Dalam masalah pemilu atau ikut andil dalam kancah politik -sebagaimana anda katakan-; maka saya ingin bertanya: apakah semua orang yang mencalonkan dirinya untuk menjadi pemimpin atau anggota parlemen atau pejabat: apakah semuanya orang-orang yang rusak? Mustahil. Memang pada mereka ada kerusakan, akan tetapi berbeda-beda.

Saya ingat betul dalam Pilpres kemarin: hampir sepakat atau berbagai usaha dari Salafiyyun untuk memilih capres yang (sekarang) tidak terpilih, bukankah begitu? Kenapa (Salafiyyun berpartisipasi-pent)? Karena dia (capres) memiliki sifat-sifat atau kelakuan yang lebih baik dari yang sekarang terpilih.

(Kemudian) siapa yang menang? PRESIDEN (yang sekarang), dan -alhamdulillaah- KITA TIDAK MELIHAT TEKANAN ATAS SALAFIYYUN, KITA TIDAK MELIHAT SIKAP KERAS ATAS MEREKA. Mereka adalah suatu bagian dari masyarakat besar.

Jadi jangan membesar-besarkan permasalahan.

KELIMA ( Terakhir ) : Jika mereka masuk atau ikut andil dalam pemilihan pemimpin, atau pejabat, atau anggota parlemen; maka kita bermusyawarah untuk memilih yang lebih utama dan lebih baik serta paling sedikit kejelekan dan keburukannya. Maka ini juga termasuk politik.

POLITIK ADALAH: SERBA MUNGKIN. Sekarang di antara para politikus itu ada yang mendatangimu dan mengatakan: pilihlah aku; niscaya aku akan bekerja untuk (kemaslahatan)mu, saya akan berikan (kebaikan) untukmu. Padahal anda -kalau dia datang lagi (setelah menang-pent)- tidak berarti baginya. (Kalau) dikatakan kepada sebagian politikus yang telah menang dalam pemilu: “Saya telah berikan suaraku, maka setelah anda menang: apa yang akan anda berikan kepadaku?” Dia akan menjawab: “Saya berikan punggungku.” Yakni: Saya tidak akan memperdulikanmu dan tidak akan menghargaimu.

(Jadi) kita tidak menginginkan pada akhirnya kita hanya MENJADI PERMAINAN BAGI ORANG-ORANG POLITIK. (Benar), kita tahu pengaruh politik dan para politikus, tidak diragukan bahwa mereka berbahaya bagi masyarakat modern, akan tetapi DEMI ALLAH: POLITIK ADALAH TIDAK BAGUS, YANG PANTAS BAGI KITA ADALAH MEMPERSIAPKAN SYARI’AT (untuk umat). Kalau kita bisa mengurusi dan mempersiapkan syari’at dalam lingkungan kita, madrasah-madrasah kita, universitas-universitas kita, dan organisasi-organisasi kita; maka ini kebaikan yang besar dan sangat besar.

KEENAM ( Tambahan Pertanyaan ): Ada yang bertanya dan banyak yang mengeluhkannya kepadaku tentang: menjadi pejabat dalam urusan agama. Maka saya katakan: Barangsiapa yang mampu untuk bergabung dan besar prasangkanya bahwa dia mampu untuk mengagungkan syari’at dan memperbanyak kebaikan, yang hal ini tidak memutuskannya dari teman-temannya, dan tidak menghalanginya dari mausia yang terdekat dengannya dalam agama, ‘aqidahnya, serta (tidak menghalangi) dari Sunnah; maka kami tidak melarang.

Di sebagian negara (sebagian teman kita) menjadi pejabat, bahkan di negeri kami sebagian teman yang baik telah menjadi pejabat,…Akan tetapi yang penting jangan sampai jabatan mengorbankan persaudaraan, jangan sampai jabatan mengorbankan Dakwah, jangan sampai jabatan menyibukkan (diri dari) memperbanyak kemaslahatan dan meminimalisir kejelekan.

Dan Allah Yang Memberi Petunjuk kepada jalan yang lurus.

Assalaamu’alaikum Wa Rahmatullaahi Wa Baraakaatuh.

——————————————————

FAEDAH DAUROH MALANG -SYAWWAL 1438 H/JULI 2017 M-

-Ustadz Ahmad Hendrix-

https://www.facebook.com/ahmadhendrix.eskanto/posts/487592388248309