«

»

Agu 01

MENCARI DALIL KEBENARAN YANG SESUAI DENGAN HAWA NAFSU DAN KEINGINAN?!!!

MENCARI DALIL KEBENARAN YANG SESUAI DENGAN HAWA NAFSU DAN KEINGINAN?!!!

Allah -Subhaanahu Wa Ta’aalaa- berfirman:

وَأَقْسَمُوا بِاللَّهِ جَهْدَ أَيْمَانِهِمْ لَئِنْ جَاءَتْهُمْ آيَةٌ لَيُؤْمِنُنَّ بِهَا قُلْ إِنَّمَا الآيَاتُ عِنْدَ اللَّهِ وَمَا يُشْعِرُكُمْ أَنَّهَا إِذَا جَاءَتْ لا يُؤْمِنُونَ

“Dan mereka bersumpah dengan nama Allah dengan segala kesungguhan, bahwa jika datang suatu mukjizat kepada mereka; pastilah mereka akan beriman kepada-Nya. Katakanlah: “Mukjizat-mukjizat itu hanya ada pada sisi Allah.” Dan tahukah kamu; bahwa apabila mukjizat (ayat-ayat) datang; mereka tidak juga akan beriman.” (QS. Al-An’aam: 109)

Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di -rahimahullaah- berkata;

“Tatkala beliau (Nabi -shallallaahu ‘alaihi wa sallam-) mendakwahi (mengajak) mereka kepada keimanan, dan beliau tunjukkan bukti (atas kebenaran beliau -shallallaahu ‘alaihi wa sallam-) dengan ayat-ayat (mu’jizat-mu’jizat); maka mereka ingin mencari pembenaran atas (kebatilan) mereka untuk (menipu) orang-orang rendahan dan orang-orang bodoh dengan berkata: “Coba datangkan ayat (mu’jizat) yang (semacam) ini dan ayat (mu’jizat) yang semacam itu; jika kamu memang orang yang benar! Kalau engkau tidak mendatangkannya; maka kami tidak akan membenarkanmu!!”

Cara semacam ini tidak akan diridhai oleh setiap orang yang jujur (mencari kebenaran-pent). Oleh karena itulah, Allah -Ta’aalaa- mengabarkan bahwa kalau Dia memenuhi permintaan mereka; mereka tetap tidak akan beriman, karena mereka memang sudah mempersiapkan diri mereka agar tetap ridha dengan agama (keyakinan) mereka (yang bathil/rusak-pent) dan mereka sudah mengetahui kebenaran; akan tetapi mereka menolaknya.”

[Al-Qawaa-‘idul Hisaan (hlm. 106-107) karya Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di -rahimahullaah-]

– diambil dari Buku: “Al-Istinbaath (2)”, Faedah Kedua Puluh Sembilan, karya Ahmad Hendrix.

Syaikh Sulaiman Ar-Ruhaili -hafizhahullaah- berkata dalam Dauroh di Batu-Malang:

“Di antara hal terbesar yang menghalangi untuk mengambil faedah dari kebaikkan ada 2 (dua) perkara:

Perkara Pertama: Bahwa seseorang bertanya dan mendengar; dengan tujuan: untuk mendengarkan (mendapatkan) apa yang dia inginkan; bukan untuk mengetahui kebenaran.

Dan ini adalah musibah

Dan Perkara Kedua: Bahwa seseorang kalau dia mendengar kebenaran; maka dia menyangka bahwa (kebenaran) itu di arahkan kepada orang lain (bukan dia yang dimaksud).

Kalau ada ulama yang mengkritik suatu perbuatan, dan bahwa ini adalah tidak boleh; maka orang itu bukannya berkata: “Saya yang melakukan perkara (yang dilarang) ini, dan sudah jelas bahwa perkara ini bathil; maka aku tinggalkan.”

(Dia) tidak (bersikap demikian); bahkan menyangka bahwa yang dimaksud adalah orang lain, adapun dia; maka bukan (dia yang dimaksud)!!”

– ditulis oleh Ustadz Ahmad Hendrix,

20 Syawwal 1437 H.