«

»

Agu 03

‘AQIDAH WASHITIYYAH [ Bagian 5 ]

KAJIAN ‘AQIDAH WASHITIYYAH 5

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah -rahimahullaah- berkata:

وَمَا وَصَفَ بِهِ نَفْسَهُ فِـيْ أَعْظَمِ آيَــةٍ فِـيْ كِـتَابِهِ حَيْثُ يَقُوْلُ: {اللَّهُ لا إِلَهَ إِلا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ لا تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلا نَوْمٌ لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الأرْضِ مَنْ ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلا بِإِذْنِهِ يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ وَلا يُحِيطُونَ بِشَيْءٍ مِنْ عِلْمِهِ إِلا بِمَا شَاءَ وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضَ وَلا يَئُودُهُ حِفْظُهُمَا وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ} وَلِـهٰذَا كَانَ مَنْ قَرَأَ هٰذِهِ الْآيَـةَ فِـيْ لَـيْلَةٍ؛ لَـمْ يَزَلْ عَلَيْهِ مِنَ اللهِ حَافِظٌ، وَلَا يَقْرَبُـهُ شَيْطَانٌ حَتَّى يُصْبِحَ.

Dan (termasuk dalam hal ini adalah:) apa yang Allah sifatkan tentang diri-Nya dalam ayat yang paling agung; yaitu firman Allah Ta’aalaa: “Allah, tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi selain Dia, Yang Maha Hidup, Yang terus-menerus mengurus (makhluk-Nya), tidak mengantuk dan tidak tidur. Milik-Nya apa yang ada dilangit dan apa yang ada di bumi. Tidak ada yang dapat memberi Syafa’at di sisi-Nya tanpa izin-Nya. Dia mengetahui apa yang di hadapan mereka dan apa yang di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui sesuatu apa pun tentang ilmu-Nya; melainkan apa yang Dia kehendaki. Kursi-Nya meliputi langit dan bumi. Dan Dia tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Dia Maha Tinggi, Maha Besar.” (QS. Al-Baqarah: 255) Oleh karena itulah: barangsiapa yang membaca ayat ini pada suatu malam; maka akan ada penjaga dari Allah, dan setan tidak akan mendekatinya sampai Shubuh.

[40]- TAFSIR AYAT KURSI (banyak diambil dari Syarah ‘Aqidah Wasithiyyah karya Syaikh Al-‘Utsaimin -rahimahullaah-)

Ayat ini dikenal dengan ayat kursi karena di dalamnya disebutkan kursi Allah -Subhaanahu Wa Ta’aalaa-. Dan ayat ini merupakan ayat yang paling agung dalam Al-Qur’an karena Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam- pernah bertanya kepada Ubay bin Ka’ab -radhiyallaahu’anhu-: “Wahai Abu Mundzir (Ubay bin Ka’ab)! Ayat apa di dalam Al-Qur’an yang engkau hafal yang paling agung? Ubay menjawab: اللهُ لاَ إِلهَ إِلاَّ هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّوْمُ (ayat kursi), maka beliau -shallallahu ‘alaihi Wasallam- bersabda: “Hendaknya ilmu itu membuatmu senang wahai Abu Mundzir.” [HR. Muslim]

Maka beliau telah men-taqriir (menetapkan/menyetujui) bahwa ayat kursi ini merupakan ayat yang paling agung.

– Makna:

اللهُ لاَ إِلهَ إِلاَّ هُوَ

“Allah, tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi selain Dia”

Maka di sini Allah mengabarkan tentang ke-esa-an-Nya dalam Uluhiyyah (hak untuk diibadahi).

Dan di dalamnya terdapat An-Nafyu dan Al-Itsbaat; yakni di dalamnya terkandung 2 (dua) rukun:

1. An-Nafyu (Peniadaan), yaitu meniadakan/mengingkari segala sesuatu yang disembah selain Allah.

2. Al-Itsbaat (Penetapan), yaitu menetapkan ibadah hanya kepada Allah saja.

(Sebagaimana telah kita jelaskan)

Jadi harus ada pengingkaran terhadap sesembahan selain Allah kemudian penetapan ibadah hanya kepada Allah saja.

– Makna:

الْحَيُّ الْقَيُّوْمُ

“Yang Maha Hidup, Yang terus menerus mengurus (makhluk-Nya)”

Ini adalah 2 nama yang Allah sebutkan.

Maka (الْحَيُّ) “Al-Hayyu” (Yang Maha Hidup); yaitu: Dzat yang memiliki kehidupan yang sempurna, yang tentunya di dalam nama ini terkandung segala sifat yang sempurna, kehidupan Allah tidak didahului dengan ketiadaan dan tidak akan menimpanya hilang/lenyap, serta tidak ada kekurangan sama sekali, karena itu hidup yang sempurna, berbeda dengan makhluk-Nya yang sebelumnya tidak ada.

Kata “Al-Hayyu” digunakan juga untuk selain Allah; yakni untuk makhluk-Nya, sebagaimana Allah -Subhaanahu Wa Ta’aalaa- berfirman:

… يُخْرِجُ الْحَيَّ مِنَ الْمَيِّتِ وَمُخْرِجُ الْمَيِّتِ مِنَ الْحَيِّ …

“… Dia mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup… ” (QS. Al-An’am: 95)

Jadi “Al-Hayyu” selain digunakan untuk Allah juga digunakan untuk makhluk-Nya, akan tetapi keduanya berbeda; maksudnya yaitu: sama nama akan tetapi berbeda dzat dan sifatnya.

(الْقَيُّوْمُ) “Al-Qayyuum” (Yang terus menerus mengurus makhluk-Nya); yaitu: Allah berdiri sendiri, tidak butuh kepada makhluk-Nya akan tetapi Allah-lah yang mengurusi makhluk-Nya. Allah -Subhaanahu Wa Ta’aalaa- berfirman:

أَفَمَنْ هُوَ قَائِمٌ عَلَى كُلِّ نَفْسٍ بِمَا كَسَبَتْ…

“Maka apakah Tuhan yang menjaga setiap jiwa terhadap apa yang diperbuatnya (sama dengan yang lain)?… “ (QS. Ar-Ra’d: 33)

Maka di sini Allah menjaga setiap jiwa terhadap apa yang diperbuatnya; yakni: Allah mengurusi makhluk-Nya.

– Makna:

لاَ تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلاَ نَوْمٌ

“Tidak mengantuk dan tidak tidur”

Di sini terdapat penafian sifat yang kurang atau aib bagi Allah -Subhaanahu Wa Ta’aalaa-; yaitu: rasa kantuk dan tidur. Kemudian -sebagaimana telah kita jelaskan- ketika ada penafian sifat yang kurang atau aib bagi Allah; maka maksudnya adalah untuk menetapkan lawannya. Sehingga ketika dinafikan sifat mengantuk dan tidur; maka maksudnya: untuk menetapkan kesempurnaan hidup bagi Allah dan kesempurnaan kepengurusan Allah terhadap diri-Nya dan selain-Nya. Karena di antara kesempurnaan Allah adalah: tidak butuh kepada tidur; karena Allah senantiasa mengurus makhluk-Nya.

Jika ada yang berkata: “Bukankah sifat tidur itu sempurna bagi makhluk? Karena jika seseorang tidak bisa tidur; maka itu adalah penyakit (sifat kurang). Kemudian mengapa hal itu dikatakan sifat sempurna bagi Allah -Ta’aalaa-?”

Maka jawabannya adalah: tidak setiap kesempurnaan yang disandarkan kepada makhluk = itu sempurna bagi Allah. Seperti di sini: sifat tidur; maka sifat ini sempurna bagi makhluk akan tetapi bagi Allah -yang senantiasa mengurus makhluk-Nya- maka ini merupakan sifat yang kurang bagi-Nya.

Begitu pula sebaliknya: tidak setiap sifat yang sempurna bagi Allah = itu sempurna bagi makhluk. Seperti sifat sombong, dimana sifat ini merupakan sifat sempurna bagi Allah; akan tetapi (sifat ini) sifat kurang bagi makhluk bahkan terlarang.

– Makna:

لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الأَرْضِ

“Milik-Nya apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi”

Ini menunjukkan tentang kepemilikan Allah terhadap semua yang ada di langit: malaikat dan yang lainnya, dan juga semua yang ada di bumi: makhluk yang ada di dalamnya.

– Makna:

مَنْ ذَا الَّذِيْ يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلاَّ بِإِذْنِهِ

“Tidak ada yang dapat memberi Syafa’at di sisi-Nya tanpa izin-Nya”

Makna Syafa’at:

– Secara bahasa adalah: menggenapkan.

– Secara istilah adalah: menjadi perantara bagi orang lain untuk mendatangkan manfaat atau menolak bahaya. Seperti Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam- memberikan Syafa’at kepada ahlul mauqif untuk segera diputuskan urusan mereka, dan yang lainnya.

Syafa’at yang diterima di sisi Allah yang memenuhi 3 (tiga) syarat:

1. Izin Allah -Ta’aalaa- bagi orang yang akan memberi Syafa’at.

Maka ini menunjukkan tentang kesempurnaan Rububiyyah Allah dan kekuasaan-Nya, sehingga Syafa’at itu semuanya milik Allah -Ta’aalaa-. Maka kita tidak bisa bertawakal kepada makhluk sehingga wajib bagi kita bertawakal kepada Allah saja.

2. Keridhaan Allah kepada orang yang akan diberi Syafa’at.

Allah -Subhaanahu Wa Ta’aalaa- berfirman:

… وَلاَ يَشْفَعُوْنَ إِلاَّ لِمَنِ ارْتَضَى …

“…Dan mereka tidak memberi Syafa’at melainkan kepada orang yang diridhai oleh Allah…” (QS. Ql-Anbiyaa : 28)

Sehingga ketika seseorang mengharapkan Syafa’at dari orang yang akan memberi Syafa’at; maka dia tidak bisa mencari Syafa’at tersebut dengan melakukan kesyirikan. Seperti yang dilakukan oleh orang-orang musyrik pada zaman Nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam-: mereka mengharapkan Syafa’at dengan beribadah kepada selain Allah. Allah -Subhaanahu Wa Ta’aalaa- berfirman:

وَيَعْبُدُوْنَ مِنْ دُونِ اللهِ مَا لاَ يَضُرُّهُمْ وَلاَ يَنْفَعُهُمْ وَيَقُوْلُوْنَ هَؤُلاَءِ شُفَعَاؤُنَا عِنْدَ اللهِ …

“Dan mereka menyembah selain Allah; apa yang tidak dapat mendatangkan bencana kepada mereka dan tidak pula member manfaat, dan mereka berkata: “Mereka itu adalah pemberi Syafa’at kami di hadapan Allah.”…’” (QS. Yunus : 18)

3. Allah hanya ridha (memberikan Syafa’at) kepada orang-orang yang bertauhid.

Sebagaimana sabda Nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam- ketika beliau ditanya siapa manusia yang paling bahagia mendapatkan Syafa’atmu? Maka beliau bersabda: “Orang yang mengucapkan Laa Ilaaha Illallahu (tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi selain Allah) dengan ikhlas dari hatinya.” [HR. Al-Bukhari]

– Makna:

يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيْهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ

“Dia mengetahui apa yang di hadapan mereka apa yang di belakang mereka”

Yakni: Allah mengetahui apa yang telah terjadi dan apa yang akan terjadi. Ilmu Allah meliputi segala sesuatu; baik yang berkaitan tentang diri-Nya dan perbuatan-Nya maupun tentang perbuatan makhluk-Nya. Adapun makhluk; maka mengetahui dari ilmu Allah: hanya apa yang Allah kehendaki saja.

– Sehinngga selanjutnya Allah firmankan:

وَلا يُحِيْطُونَ بِشَيْءٍ مِنْ عِلْمِهِ إِلاَّ بِمَا شَاءَ

“Dan mereka tidak mengetahui sesuatu apapun tentang ilmu-Nya melainkan apa yang Dia kehendaki”

Jadi mereka tidak mengetahui tentang ilmu Allah -termasuk tentang dzat Allah, tentang sifat-sifat-Nya-: kecuali hanya sedikit dari apa yang Allah ajarkan kepada makhluk-Nya.

Allah -Subhaanahu wa Ta’aalaa- berfirman:

… وَمَا أُوتِيْتُمْ مِنَ الْعِلْمِ إِلاَّ قَلِيْلاً

“Dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit.” (QS. Al-Israa: 85)

– Makna:

وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضَ

“Kursi-Nya meliputi langit dan bumi”

Kursi Allah lebih besar dari langit dan bumi. Kursi adalah tempat kedua kaki Allah, sebagaimana disebutkan oleh Ibnu ‘Abbas -radhiyallaahu’anhu- dan Kursi berbeda dengan ‘Arsy.

Maka dalam kebesaran kursi -yang lebih besar dari langit dan bumi, serta ‘Arsy yang lebih besar dari kursi-; maka ini menunjukkan keagungan Allah -Subhaanahu Wa Ta’aalaa- sebagai penciptanya.

– Makna:

وَلاَ يَئُوْدُهُ حِفْظُهُمَا

“Dan Dia tidak merasa berat dalam memelihara keduanya”

Maka ini merupakan penafian rasa berat dari Allah untuk menjaga langit dan bumi yang menujukkan kesempurnaan kekuatan Allah, ilmu-Nya, bahkan disebutkan oleh Syaikh Al-‘Utsaimin -rahimahullah-: juga menunjukkan kasih sayang Allah -yang telah memelihara langit dan bumi-.

– Makna:

وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيْمُ

“Dan Dia Maha Tinggi, Maha Besar”

Ini adalah 2 (dua) nama Allah -Subhaanahu wa Ta’aalaa-.

Nama Allah: (الْعَلِيُّ) “Al-‘Aliyyu” (Yang Maha Tinggi); di dalamnya terkandung sifat “Al-‘Uluw” (ketinggian) bagi Allah; baik Dzat-Nya maupun sifat-Nya; yakni: Dzat Allah tinggi di atas makhluk-Nya dan sifat-Nya juga tinggi sebagaimana firman Allah -Taa’aalaa-:

وَلِلَّهِ الْمَثَلُ الْأَعْلَى … …

“… Dan Allah mempunyai sifat Yang Maha Tinggi … “ (QS. An-Nahl: 60)

Jadi sifat Allah semuanya tinggi dan tidak ada kekurangan sama sekali padanya.

Nama-Nya: (الْعَظِيْمُ) “Al-‘Azhiimu” (Yang Maha Besar); di dalamnya terkandung sifat “Al-‘Azhamah” (keagungan); yakni: Allah memiliki keagungan; yaitu: kekuatan, kesombongan, dan yang semisalnya.

Jadi secara umum: setiap nama yang Allah sebutkan; maka terkandung sifat di dalamnya.

Maka di dalam ayat Kursi ini terdapat 5 nama yang terkandung sifat di dalamnya:

1. “Allahu” = Mengandung sifat Uluhiyyah (yang berhak untuk diibadahi).

2. “Al-Hayyu” = Mengandung sifat Al-Hayaah (hidup yang sempurna).

3. “Al-Qayyuumu” = Mengandung sifat Al-Qayyuumiyyah (Allah mengurusi diri-Nya dan makhluk-Nya).

4. “Al-‘Aliyyu” = Mengandung sifat Al-‘Uluw (ketinggian); baik dzat maupun sifat-Nya.

5. “Al-‘Azhiimu” = Mengandung sifat Al-‘Azhamah (keagungan); yaitu kekuatan, kesombongan, dan yang semisalnya.

Dan juga di dalam ayat ini terkandung sifat yang lainnya baik Tsubuutiyyah (penetapan) maupun Salbiyyah (penolakan sifat yang kurang atau aib) bagi Allah -Ta’aalaa-.

Kemudian untuk sifat Al-‘Uluw” (ketinggian); maka ada kelompok yang menyelisihi Ahlus Sunnah Wal Jama’ah; yaitu: Jahmiyyah dan para pengikutnya.

Yang pertama kali menolak sifat bahkan seluruh sifat –secara umum- adalah Ja’d bin Dirham.

Kemudian pada awalnya Jahmiyyah ketika -menolak sifat Al-‘Uluw” (ketinggian)-: mereka mengatakan bahwa Dzat Allah ada di mana-mana. Kemudian para Ulama membantahnya; baik dengan dalil naqli (Al-Qur’an & As-Sunnah) maupun naqli (akal). Karena mereka pada awalnya adalah tidak berdalil; mereka menggunakan ilmu filsafat, ilmu kalam, dan semisalnya. Akan tetapi kemudian untuk mengecoh orang ‘Awwaam dari kaum muslimin, maka mereka membawakan dalil, seperti:

وَلاَ أَدْنَى مِنْ ذَلِكَ وَلاَ أَكْثَرَ إِلَّا هُوَ مَعَهُمْ أَيْنَ مَا كَانُوا … …

“… Dan tidak ada pembicaraan yang kurang dari itu atau lebih banyak, melainkan Dia (Allah) pasti ada bersama mereka di mana pun mereka berada … “ (QS. Al- Mujaadalah: 7)

Kemudian juga:

… وَهُوَ مَعَكُمْ أَيْنَ مَا كُنْتُمْ …

“… Dan Dia (Allah) bersama kamu di mana saja kamu berada … “ (QS. Al-Hadid: 4)

Maka dengan dalil tersebut -menurut mereka- = berarti Allah ada di mana-mana bersama makhluknya.

Padahal kata (مَعَ) (bersama) itu tidak mesti maknanya bercampur bersama mereka, sebagaimana Allah -Ta’aalaa- berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ

“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar.” (QS. At-Taubah: 119)

Maka jelas di sini makna “Bersama orang-orang yang benar” = (مَعَ الصَّادِقِيْنَ) bukan berarti bercampur; mengikuti mereka kemana saja, akan tetapi maksudnya adalah :mengikuti sifat-sifat mereka, dan seterusnya.

Demikian juga sabda Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- yaitu ketika Rasul pulang dari peperangan, kemudian diceritakan kepadanya tentang orang-orang yang tidak ikut berperang karena udzur; sakit atau yang lainnya, maka beliau sebutkan bahwa mereka yang tinggal di Madinah (yang tidak ikut berperang karena udzur), mereka bersama kalian = (مَعَكُمْ), padahal jelas maknanya tidak bercampur bersama mereka.

Dan memang secara akal juga demikian (menunjukkan bathilnya ’Aqidah tersebut); yakni: jika Allah ada di mana-mana; berarti ada di tempat bersih dan juga di tempat kotor (yang mana ini tercela bagi Allah).

Sehingga akhirnya mereka menarik diri dari ‘Aqidah tersebut (Allah ada di mana-mana), dan mereka menggantinya dengan ‘Aqidah: Allah tidak di mana-mana; yakni: Allah tidak di atas atau di bawah, tidak di kanan atau di kiri, tidak di dalam alam atau di luarnya, tidak berpisah dengan alam atau bersambung dengannya, dan yang lainnya, yang kesimpulannya: bahwa Allah tidak ada.

Maka jelas ‘Aqidah ini telah menyelisihi Ijma (kesepakatan) yang menetapkan Allah berada di atas. Dan banyak sekali dalil yang menunjukkan hal ini, sebagaimana dikatakan oleh Imam ibnu Qayyim Al-Jauziyah -rahimahullah-: Dalil-dalil dari Al-Qur’an dan As-Sunnah serta perkataan salaf yang menunjukkan tentang ketinggian Allah, maka jika dikumpulkan = mencapai 1000 (seribu) dalil.

Belum lagi tentang ketinggian Allah sudah di fithrahkan oleh Allah kepada manusia, sehingga jika ingin menolak ketinggian Allah maka harus menolak fithrah.

Kemudian penulis berkata:

وَلِـهٰذَا كَانَ مَنْ قَرَأَ هٰذِهِ الْآيَـةَ فِـيْ لَـيْلَةٍ؛ لَـمْ يَزَلْ عَلَيْهِ مِنَ اللهِ حَافِظٌ، وَلَا يَقْرَبُـهُ شَيْطَانٌ حَتَّى يُصْبِحَ.

Oleh karena itulah: barangsiapa yang membaca ayat ini pada suatu malam; maka akan ada penjaga dari Allah, dan setan tidak akan mendekatinya sampai Shubuh.

Hal ini sebagaimana hadits Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam-; yaitu: ketika beliau menugaskan Abu Hurairah -radhiyallaahu’anhu- untuk menjaga shadaqah, kemudian setiap syaithan mendatangi beliau dan mengajarkan agar membaca ayat Kursi sehingga akan ada penjaga dari Allah dan tidak akan didekati Syaithan sampai waktu shubuh. Dan hal ini dibenarkan oleh Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam- dengan sabda beliau: “Adapun dia (Syaithan) untuk kali ini jujur kepadamu, akan tetapi aslinya dia adalah sangat pendusta”.

Maka diketahui pendusta atau tidaknya yaitu: dari pembenaran Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam-.

Kemudian yang perlu diingat -sebagaimana pernah kita jelaskan-: dalam masalah do’a, ta’awwudz (minta perlindungan) kepada Allah -Ta’aalaa- itu ibarat senjata. Sedangkan senjata itu:

(1)- tergantung orang yang menggunakannya; yakni tangannya harus kokoh,

(2)- dan tergantung juga senjata itu sendiri; yakni harus bagus/tajam,

(3)- serta tidak ada penghalang; yakni yang dipukul tidak terhalangi oleh perisai atau yang lainnya sehingga tidak mempan.

Jadi, kalau 3 (tiga) hal ini terpenuhi; maka akan berhasil (penggunaan senjata tersebut).

Begitu pula dengan do’a; maka harus terkumpul 3 (tiga) hal ini:

(1) Do’anya harus bagus; yakni: sesuai syariat yang telah Nabi ajarkan.

(2)- Harus mengumpulkan antara hati dan lisannya dalam berdo’a; yakni: benar-benar menghayati apa yang diucapkan.

(3)- Kemudian benar-benar tidak ada penghalang, sehingga diijabahi apa yang dia inginkan. Karena ada penghalang-penghalang diijabahinya suatu do’a, yaitu sebagaimana yang Nabi sabdakan:

وَمَطْعَمُهُ حَرَامٌ، وَمَشْرَبُهُ حَرَامٌ، وَمَلْبَسُهُ حَرَامٌ، وَغُذِيَ بِالْحَرَامِ، فَأَنَّى يُسْتَجَابُ لِذَلِكَ؟

“… sedangkan makanannya haram, minumannya haram,pakainnya haram; maka bagaimana do’anya akan dikabulkan?!”

Maka inilah diantara hal-hal yang dapat menghalangi do’a seseorang untuk diijabahi.

————————————————-

-ditranskrip oleh: Al-Akh Alda, dan diedit kembali oleh pemateri: Ahmad Hendrix-

Download  Audionya :

https://drive.google.com/file/d/0B3FT6ui1GzNVRDlFX21UQTRLZE0/view