«

»

Agu 03

‘AQIDAH WASITHIYYAH [ Bagian 7 ]

KAJIAN ‘AQIDAH WASITHIYYAH 7

[Penjelasan Sifat Ilmu Bagi Allah Yang Meliputi Segala Sesuatu]

[1]- PEMBAHASAN AYAT PERTAMA

هُوَ الأوَّلُ وَالآخِرُ وَالظَّاهِرُ وَالْبَاطِنُ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيْمٌ

“Dialah Yang Awal, Yang Akhir, Yang Zhahir, dan Yang Bathin; dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS. Al-Hadiid: 3)

Nabi -shallallahu ‘alaihi wa- sallam telah menjelaskan sendiri makna nama-nama Allah ini: yaitu “Al- Awwalu”, “Al- Aakhiru”, “Az- Zhaahiru”, “Al- Baathinu” di dalam do’a beliau -shallallahu ‘alaihi wa sallam-:

أَنْتَ الْأَوَّلُ فَلَيْسَ قَبْلَكَ شَيْءٌ، وَأَنْتَ الْآخِرُ فَلَيْسَ بَعْدَكَ شَيْءٌ، وَأَنْتَ الظَّاهِرُ فَلَيْسَ فَوْقَكَ شَيْءٌ، وَأَنْتَ الْبَاطِنُ فَلَيْسَ دُوْنَكَ شَيْءٌ

“Ya Allah, Engkaulah “Al- Awwalu”: maka tidak ada sebelum-Mu sesuatu apapun, dan Engkaulah “Al- Aakhiru”: maka tidak ada setelah-Mu sesuatu apapun, dan Engkaulah “Az- Zhaahiru”: maka tidak ada di atas-Mu sesuatu apapun, dan Engkaulah “Al- Baathinu”: maka tidak ada selain-Mu sesuatu apa pun.” (HR. Muslim (no. 2713))

Al-Imam Ibnul Qayyim -rahimahullah- menjelaskan tentang 4 (empat) nama ini. Beliau mengatakan bahwa 4 (empat) nama ini maknanya saling berhadapan: 2 (dua) nama menjelaskan sifat Azali dan Abadi bagi Allah -Subhaanahu Wa Ta’aalaa- dan 2 (dua) nama menunjukkan ketinggian dan kedekatan Allah -Subhaanahu Wa Ta’aalaa-.

1. “Al- Awwalu” = menunjukkan sifat keawalan bagi Allah -Subhaanahu Wa Ta’aalaa- yang mendahului keawalan segala sesuatu selain Allah -Subhaanahu Wa Ta’aalaa-.

2. “Al- Aakhiru” = mengandung sifat keakhiran bagi Allah -Subhaanahu wa Ta’aalaa- yang tetap (kekal) setelah keakhiran segala sesuatu.

Maka sifat “Awwaliyyah” (keawalan) bagi Allah; yaitu: Allah -Subhaanahu Wa Ta’aalaa- mendahului segala sesuatu.

Sifat “Aakhiriyyah” (keakhiran) bagi Allah; yaitu: Allah -Subhaanahu Wa Ta’aalaa- kekal setelah segala sesuatu.

Awal dan akhir, ini berkaitan dengan sifat Azali dan Abadi bagi Allah -Subhaanahu wa Ta’aalaa-.

3. “Az- Zhaahiru” = mengandung makna “Az- Zhuhuuru” yang maknanya “Al-‘Uluwwu” yaitu tinggi.

4. “Al- Baathinu” = menunjukkan bahwa Allah -Subhaanahu Wa Ta’aalaa- dekat terhadap segala sesuatu.

Inilah 4 (empat) nama Allah -Subhaanahu Wa Ta’aalaa-.

[Lihat: “At-Tanbiihaat As-Saniyyah ‘Alal ‘Aqiidah Al-Waasithiyyah” (hlm. 54), karya Syaikh ‘Abdul ‘Aziz An-Nashir Ar-Rasyid -rahimahullaah-]

– Kemudian di akhir ayat disebutkan:

وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

“Dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu.”

Maka ini sebagai penyempurna dari 4 (empat) nama dan 4 (sifat) sebelumnya.

Kata بِكُلِّ شَيْءٍ = segala sesuatu.

Maka ini umum maknanya; yakni: mencakup segala sesuatu.

Sebagaimana dikatakan oleh para ulama: Bahwa Allah mengetahui segala sesuatu: apa yang telah terjadi, yang akan terjadi, dan sesuatu yang tidak terjadi: kalau terjadi; maka bagaimana terjadinya. Seperti contohnya firman Allah -Subhaanahu Wa Ta’aalaa-:

…وَلَوْ رُدُّوْا لَعَادُوْا لِمَا نُهُوْا عَنْهُ…

“… Seandainya mereka dikembalikan ke dunia; tentu mereka akan mengulang kembali apa yang telah dilarang mengerjakannya…” (QS. Al-An’aam:28)

Yakni: orang kafir itu tidak akan dikembalikan ke dunia, akan tetapi Allah -Subhaanahu Wa Ta’aalaa- mengetahui: kalaupun mereka dikembalikan; maka percuma: yakni mereka akan kembali lagi kepada perbuatan mereka dahulu yang mereka dilarang darinya.

Buah yang bisa diambil dari beriman bahwa Allah -Subhaanahu Wa Ta’aalaa- mengetahui segala sesuatu yaitu sebagaimana dijelaskan oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Al- Utsaimin -rahimahullaah-:

“Buah yang dihasilkan dari beriman bahwa Allah -Subhaanahu Wa Ta’aalaa- mengetahui segala sesuatu yaitu: (1)merasa diawasi Allah -‘Azza Wa Jalla- (2)dan takut kepada-Nya.”

[“Syarh Al-‘Aqiidah Al-Waasithiyyah” (I/184), karya Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin -rahimahullaah-]

Maka dalam ayat ini terdapat 5 (lima) sifat, yang di antaranya adalah: sifat ilmu bagi Allah yang mencakup segala sesuatu, dan inilah yang kita bahas.

[2]- PEMBAHASAN AYAT KEDUA

…إِنَّ اللهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

“…Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Maha Mengenal.” (QS. Luqman: 34)

Dalam ayat ini terdapat 3 (tiga) Nama dan 3 (tiga) Sifat Allah -Subhaanahu Wa Ta’aalaa-:

(1)- Nama Allah: “Al- ‘Aliimu” (Yang Maha Mengetahui), dan nama ini mengandung sifat “Al-‘Ilmu” bagi Allah -Subhaanahu Wa Ta’aalaa-.

(2)- “Al- Khabiiru”; nama ini mengandung sifat “Al-Khibrah” (ilmu yang lebih khusus). Syaikh Muhammad bin Shalih Al- ‘Utsaimin -rahimahullaah- menjelaskan:

“Jadi ini (“Al-Khibrah”) adalah sifat yang lebih khusus (yang disebutkan) setelah sifat yang umum (“Al-‘Ilmu”).”

[“Syarh Al-‘Aqiidah Al-Waasithiyyah” (I/190), karya Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin -rahimahullaah-]

Jadi, 2 (dua) nama: “Al-‘Aliimu” dan “Al-Khabiiru”, keduanya menunjukkan: ilmu, akan tetapi “Al- Khabiir” lebih khusus lagi; karena “Al-Khabiir” yakni: ilmu-Nya meliputi hal-hal yang tidak tampak dan samar, sebagaimana meliputi juga terhadap hal-hal yang tampak.

[Lihat: “At-Tanbiihaat As-Saniyyah ‘Alal ‘Aqiidah Al-Waasithiyyah” (hlm. 58), karya Syaikh ‘Abdul ‘Aziz An-Nashir Ar-Rasyid -rahimahullaah-]

Sehingga dengan beriman terhadap sifat ini; maka akan menambah rasa takut kepada Allah -Subhaanahu Wa Ta’aalaa-; baik ketika terlihat di keramaian maupun ketika sendirian, karena Allah mengetahui segala sesuatu; baik yang lahir (tampak), maupun yang bathin (tidak nampak) oleh manusia.

(3)- Nama “Allaah” yang mengandung sifat “Al-Uluuhiyyah” (hak untuk diibadahi).

[3]- PEMBAHASAN AYAT KETIGA

…يَعْلَمُ مَا يَلِجُ فِي الأرْضِ وَمَا يَـخْرُجُ مِنْهَا وَمَا يَنْزِلُ مِنَ السَّمَاءِ وَمَا يَعْرُجُ فِيْهَا…

“…Dia mengetahui apa yang masuk ke dalam bumi dan apa yang keluar darinya, apa yang turun dari langit dan apa yang naik ke sana…” (QS. Al-Hadid: 4)

Maka lafazh مَا pada ayat ini: maknanya umum.

Yakni:

(1)- Allah -Subhaanahu Wa Ta’aalaa- mengetahui segala sesuatu yang masuk ke bumi; seperti: air hujan, biji-bijian yang ditanam, manusia yang dikuburkan, binatang yang ada di dalam bumi, dan segala macam yang masuk ke dalam bumi.

(2)- Dan Allah -Subhaanahu Wa Ta’aalaa- juga mengetahui segala sesuatu yang keluar dari bumi; seperti: air, tumbuh-tumbuhan, tanaman dan lainnya.

(3)- Allah -Subhaanahu Wa Ta’aalaa- juga mengetahui segala sesuatu yang turun dari langit; seperti: air hujan yang turun, wahyu, ataupun Malaikat yang turun dengan membawa perintah Allah.

(4)- Dan Allah -Subhaanahu Wa Ta’aalaa- juga mengetahui segala sesuatu yang naik ke langit; seperti: amal shalih, Malaikat yang naik, ruh seseorang yang dicabut kemudian diangkat ke langit, dan do’a yang naik ke atas.

[Lihat: “Taisiirul Kariimir Rahmaan” (hlm. 837-838- cet. Mu-assasah Ar-Risaalah), karya Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-S’adi -rahimahullaah-]

Maka ayat ini menyebutkan tentang: ilmu Allah yang meliputi segala sesuatu secara rinci.

[4]- PEMBAHASAN AYAT KEEMPAT

وَعِنْدَهُ مَفَاتِحُ الْغَيْبِ لا يَعْلَمُهَا إِلَّا هُوَ وَيَعْلَمُ مَا فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَمَا تَسْقُطُ مِنْ وَرَقَةٍ إِلَّا يَعْلَمُهَا وَلَا حَبَّةٍ فِيْ ظُلُمَاتِ الأرْضِ وَلَا رَطْبٍ وَلَا يَابِسٍ إِلَّا فِيْ كِتَابٍ مُبِيْنٍ

“Dan “Mafaatihul Ghaib” (kunci-kunci semua yang ghaib) ada pada-Nya; tidak ada yang mengetahui selain Dia. Dia mengetahui apa yang ada di darat dan di laut. Tidak ada sehelai daun pun yang gugur yang tidak diketahui-Nya, tidak ada sebutir biji pun dalam kegelapan bumi, dan tidak pula sesuatu yang basah atau yang kering; yang tidak tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh).” (QS. Al-An’aam: 59)

Maka di sini Allah -Subhaanahu Wa Ta’aalaa- menjelaskan tentang ilmu-Nya yang mencakup segala sesuatu:

– “Mafaatihul Ghaib” (kunci-kunci semua yang ghaib) adalah: seperti yang ditafsirkan Nabi -shallallaahu ‘alaihi wa sallam- ada 5 (lima), yaitu Allah -Subhaanahu Wa Ta’aalaa- sebutkan di dalam Al-Qur’an:

إِنَّ اللهَ عِنْدَهُ عِلْمُ السَّاعَةِ وَيُنَزِّلُ الْغَيْثَ وَيَعْلَمُ مَا فِي اْلأَرْحَامِ وَمَا تَدْرِيْ نَفْسٌ مَاذَا تَكْسِبُ غَدًا وَمَا تَدْرِيْ نَفْسٌ بِأَيِّ أَرْضٍ تَـمُوْتُ إِنَّ اللهَ عَلِيْمٌ خَبِيْرٌ

“Sesungguhnya hanya di sisi Allah: ilmu tentang Hari Kiamat; dan Dia yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. Dan tidak ada seorang pun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan dikerjakannya besok. Dan tidak seorang pun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Maha Mengenal.” (QS. Luqman: 34)

Jadi, “Mafaatihul Ghaib” (kunci-kunci semua yang ghaib) adalah:

1. Ilmu Allah terhadap Hari Kiamat.

2. Ilmu Allah terhadap turunnya “Al-Ghaitsu” (hujan).

Maka disini tidak menggunakan kata “Al-Mathar” (hujan) akan tetapi menggunakan “Al-Ghaitsu”.

Makna “Al-Ghaitsu” adalah: hujan yang dapat menghilangkan kesusahan, kekeringan, paceklik, atau yang semisalnya.

Adapun “Al-Matharu” adalah: hujan yang terkadang tidak menumbuhkan tumbuh-tumbuhan.

Inilah yang diisyaratkan oleh Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam- dalam sabdanya:

لَيْسَتِ السَّنَةُ بِأَنْ لَا تُـمْطَرُوا، وَلَكِنِ السَّنَةُ أَنْ تُـمْطَرُوا وَتُـمْطَرُوا، وَلَا تُنْبِتُ الْأَرْضُ شَيْئًا

“Paceklik itu bukanlah kalian tidak diberi hujan. Akan tetapi paceklik itu terkadang terjadi: kalian diberi hujan dan kalian diberi hujan; akan tetapi tanah tidak menumbuhkan apapun.” (HR. Muslim, no. 2904)

Jadi terkadang ada hujan akan tetapi tidak menjadi “Al- Ghaitsu”, sehingga hanya Allah yang mengetahui turunnya “Al- Ghaitsu” (hujan yang dapat menghilangkan kesusahan).

3. Ilmu Allah terhadap apa yang ada di dalam rahim.

Yakni: tidak ada yang mengetahui segala sesuatu apa yang ada di dalam rahim kecuali Allah -Subhaanahu Wa Ta’aalaa- yang telah menciptakannya.

Kemudian, kalau ada orang yang mengatakan: bukankah sekarang sudah ditemukan alat USG yang bisa mengetahui apakah janin itu laki-laki atau perempuan? Maka jawabannya adalah sebagai berikut:

(1)- Bahwa USG tidak pasti -dan ini sering terjadi-; yakni terkadang tidak terlihat atau terkadang terlihat laki-laki akan tetapi ternyata lahir perempuan atau sebaliknya.

(2)- Bahwa USG tidak mungkin bisa mengetahui segala sesuatu yang berkaitan dengan apa yang di dalam rahim (janin); berupa: rizqinya, ajalnya, amalnya (amalan kebaikan atau sebaliknya), serta menjadi orang yang bahagia atau sengsara.

Maka jelaslah bahwa hanya Allah -Subhaanahu Wa Ta’aalaa- yang mengetahui segala sesuatu yang berkaitan dengan apa yang ada di dalam rahim.

4. Ilmu Allah terhadap apa yang akan terjadi pada hari esok.

Yakni: manusia tidak mengetahui apa yang akan terjadi dan apa yang akan dia lakukan pada hari esok, karena hanya Allah -Subhaanahu Wa Ta’aalaa- yang mengetahuinya. Manusia hanya bisa berencana, akan tetapi Allah -Subhaanahu Wa Ta’aalaa- yang menentukan.

5. Ilmu Allah tentang tempat kematian.

Selain “Mafaatihul Ghaib” yang 5 (lima) di atas; dalam ayat ini juga disebutkan bahwa: Allah mengetahui apa yang ada di daratan dan di laut, sampai dedaunan yang berguguran pun Allah mengetahuinya, dan juga biji-bijian di dalam kegelapan bumi pun Allah mengetahuinya, serta tidak ada yang basah dan yang kering kecuali Allah mengetahuinya. Dan semuanya itu telah ada di dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh).

[5]- PEMBAHASAN AYAT KELIMA

…وَمَا تَـحْمِلُ مِنْ أُنْثَى وَلا تَضَعُ إِلا بِعِلْمِهِ…

“…Tidak ada seorang perempuan pun yang mengandung dan melahirkan; melainkan dengan sepengetahuan-Nya…” (QS. Faathir: 11)

Kata أُنْثَى (perempuan) di sini mencakup: perempuan dari kalangan manusia atau betina dari kalangan binatang. Maka Allah -Subhaanahu Wa Ta’aalaa- mengetahui tentang mereka yang mengandung dan melahirkan.

Maka di sini disebutkan tentang: sifat ilmu bagi Allah.

[6]- PEMBAHASAN AYAT KEENAM

…لِتَعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ وَأَنَّ اللهَ قَدْ أَحَاطَ بِكُلِّ شَيْءٍ عِلْمًا

“… agar kamu mengetahui bahwa Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu, dan ilmu Allah benar-benar meliputi segala sesuatu.” (QS. Ath-Thalaq: 12)

Kelengkapan ayat ini adalah:

اللهُ الَّذِيْ خَلَقَ سَبْعَ سَـمَاوَاتٍ وَمِنَ اْلأَرْضِ مِثْلَهُنَّ يَتَنَزَّلُ اْلأَمْرُ بَيْنَهُنَّ لِتَعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ وَأَنَّ اللهَ قَدْ أَحَاطَ بِكُلِّ شَيْءٍ عِلْمًا

“Allah yang menciptakan tujuh langit dan (penciptaan) bumi juga serupa. Perintah Allah berlaku padanya, agar kamu mengetahui bahwasanya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu, dan, ilmu Allah benar-benar meliputi segala sesuatu.” (QS. Ath-Thalaq: 12)

Allah sebutkan di sini bahwa Dia menciptakan langit dan bumi: agar kalian mengetahui (berilmu) tentang kekuasaan-Nya atas segala sesuatu, dan bahwa ilmu-Nya yang meliputi segala sesuatu; yakni: mengetahui Allah dengan sifat-sifat-Nya. Itulah tujuan diciptakannya langit dan bumi.

Dan dalam ayat lain Allah -Subhaanahu Wa Ta’aalaa- berfirman:

وَمَا خَلَقْتُ الْـجِنَّ وَاْلإنْسَ إِلاَّ لِيَعْبُدُوْنِ

“Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzaariyaat: 56)

Sehingga kalau digabungkan kedua ayat tersebut (QS. Ath-Thalaq: 12 & QS. Adz-Dzaariyaat: 56), maka kandungannya adalah seperti yang dijelaskan oleh Imam Ibnu Qayyim Al- Jauziyah -rahimahullah-:

“Maka 2 (dua) ayat ini mengandung faedah bahwa Allah menciptakan langit dan bumi serta apa yang ada di antara keduanya, tujuannya adalah: (1)agar dikenal dengan nama-nama dan sifat-sifat-Nya, dan (2) agar diibadahi.”

[Lihat: “Al-‘Ilmu, Fadhluhu Wa Syarafuhu” (hlm. 69)]

Maka itulah tujuan diciptakannya langit dan bumi serta jin dan manusia.

-Ustadz Ahmad Hendrix-