«

»

Okt 26

Kondisi Darurat Ketika Shalat

Kondisi Darurat Ketika Shalat

Berbagai persoalan yang harus segera dijawab sering muncul dalam keseharian kita. Tetapi terkadang kita sulit menemukan jawabannya secara praktis. Ada banyak hal yang mempengaruhinya. Mungkin karena minimnya pengetahuan kita tentang Islam sehingga sulit mencerna paparan jawaban persoalan tersebut dalam buku-buku tebal. Atau bisa juga disebabkan jauhnya kita dari nara sumber yang bisa kita tanyai tentang persoalan tersebut.

Bertanya. Itulah pintu segala ilmu. Jalan menuju hidayah. Dan cara untuk mendapatkan jawaban dari sebuah persoalan. Dan metode inilah yang digunakan oleh para penuntut ilmu dalam usahanya keluar dari kejahilan, bahkan ia digunakan oleh siapapun yang sedang mendapatkan kesulitan.

Misalnya seseorang sedang mendapatkan kesulitan/ was-was ketika shalat, berikut sebuah artikel tentang salah satu was-was tersebut len gkap solusi penjelasannya.

Jika seseorang yang sedang shalat dihinggapi keraguan apakah dia telah berhadast atau tidak ?  atau dia merasakan gerakan dalam perutnya, apakah dia menghentikan shalatnya atau tidak?

Jika dia yakin bahwa dia berhadast (wudhu’nya batal), maka dia harus menghentikan shalatnya.  Adapun jika dia merasakan ragu dan belum yakin, maka janganlah ia memutuskan shalatnya kecuali setelah merasa yakin, yaitu dengan mendengar suara kentut atau mencium baunya.  Jika dia mendapati hal tersebut hendaklah dia memutuskan shalatnya, namun jika tidak demikian, maka janganlah ia berpaling  (membatalkannya).

Dalilnya dari Abu Hurairah Radhiyallahu’anhu, ia berkata, “Rasulullah bersabda, ‘Jika salah seorang dari kalian ketika shalat merasa kentut, dia ragu apakah dia telah berhadast atau tidak, maka janganlah dia memutuskan shalatnya hingga dia mendengar suara atau mencium bau.’”

Demikianlah syari’at Islam yang agung ini memberikan jalan keluar untuk menghadapi was-was.

Maraji : langkah Tepat Menghadapi Kondisi Darurat karya Muhammad Shalih Al Munajid penerbit Pustaka At-Tibyan Surakarta