Nov 28

IGAUAN MEREKA.

IGAUAN MEREKA…

Syaikh Doktor Shalih bin Fauzan Al-Fauzan -hafizhahullaah- berkata:

“Shalat jama’ah adalah wajib dan fardhu atas setiap muslim. Orang yang meninggalkannya adalah berdosa, bahkan diberi hukuman juga. Karena Rasulullah -shallallaahu ‘alaihi wa sallam- bersabda:

مَنْ سَمِعَ النِّدَاءَ فَلَمْ يَأْتِه؛ِ فَلَا صَلَاةَ لَهُ، إِلَّا مِنْ عُذْرٍ

“Barangsiapa mendengar adzan kemudian tidak mendatanginya; maka tidak ada shalat baginya kecuali dia ada udzur.”…

Dan tatkala datang seorang buta kepada Nabi -shallallaahu ‘alaihi wa sallam- dengan menyebutkan kesulitannya untuk pergi ke masjid, sedangkan tidak ada orang yang menuntunnya, sehingga dia meminta keringanan dari Nabi -shallallaahu ‘alaihi wa sallam- untuk dibolehkan shalat di rumahnya. Maka Nabi -shallallaahu ‘alaihi wa sallam- bertanya kepadanya: “Apakah engkau mendengar adzan?” Orang buta itu menjawab: “Iya.” Maka Nabi -shallallaahu ‘alaihi wa sallam- bersabda: “Maka penuhilah (panggilan adzan) itu!”…

Maka ini menunjukkan atas wajibnya shalat jama’ah di masjid yang dikumandangkan adzan…

Maka shalat jama’ah adalah perkara yang agung, sehingga tidak boleh bermudah-mudahan dengannya… DAN JANGAN BERPALING KEPADA #IGAUAN ORANG-ORANG YANG MENGAMBIL PENDAPAT-PENDAPAT YANG MENYELISIHI DALIL, DAN MEREKA MENGUMPULKANNYA, KEMUDIAN BERKATA: “INI ADALAH PENDAPAT-PENDAPAT PARA ULAMA.” Kita katakan: “Pendapat-pendapat para ulama: bisa salah dan bisa benar. Maka yang wajib adalah: ittibaa’ (mengikuti) dalil, bukan mengikuti pendapat-pendapat manusia.”.”

[“It-haaful Qaari” (II/136-138)]

-diterjemahkan secara ringkas oleh: Ahmad Hendrix-

https://www.facebook.com/photo.php?fbid=535422520131962&set=a.360768724264010.1073741830.100009926563522&type=3

Nov 28

BANYAKNYA TULISAN… AKAN TETAPI, BANYAK YANG TIDAK BERMANFAAT

BANYAKNYA TULISAN…

AKAN TETAPI: BANYAK YANG TIDAK BERMANFAAT…

[1]- ‘Abdullah bin Mas’ud -radhiyallaahu ‘anhu- menyebutkan dari Nabi -shallallaahu ‘alaihi wa sallam- (beliau bersabda):

أَنَّ بَيْنَ يَدَيِ السَّاعَةِ تَسْلِيْمَ الْـخَاصَّةِ، وَفُشُوَّ التِّجَارَةِ، حَتَّى تُعِيْنَ الْمَرْأَةُ زَوْجَهَا عَلَى التِّجَارَةِ، وَقَطْعَ الْأَرْحَامِ، وَشَهَادَةَ الزُّوْرِ، وَكِتْمَانَ شَهَادَةِ الْـحَقِّ، وَظُهُوْرَ الْقَلَمِ

“Sesunggguhnya sebelum Hari Kiamat (akan terjadi): pemberian salam hanya kepada orang tertentu, tersebarnya perdagangan sampai seorang istri membantu suaminya di dalam berdagang, terputusnya silaturahmi (hubungan kekeluargaan), persaksian yang dusta, disembunyikannya persaksian yang benar, dan TAMPAKYA PENA.”

HR. Ahmad (no. 3870- cet. Daarul Hadiits), dishahihkan oleh Syaikh Ahmad Syakir dan Syaikh Al-Albani -rahimahumallaah-.

[2]- Tampaknya pena, maksudnya adalah: tulisan -sebagaimana disebutkan oleh Syaikh Ahmad Syakir-.

[“Al-Musnad” (VII/65- cet. Daarul Hadiits)]

[3]- Selain mengabarkan tentang tampaknya pena -yakni: banyak tersebarnya tulisan-; maka Nabi -shallallaahu ‘alaihi wa sallam- juga mengabarkan tentang: DIANGKATNYA ILMU DAN TERSEBARNYA KEBODOHAN, beliau bersabda:

إِنَّ مِنْ أَشْرَاطِ السَّاعَةِ أَنْ يُرْفَعَ الْعِلْمُ، وَيَظْهَرَ الْـجَهْلُ…

“Sesunggunya di antara tanda Hari Kiamat (akan terjadi): diangkatnya ilmu dan tampaknya kebodohan…” [(HR. Al-Bukhari (no. 80) & Muslim (no. 2671)]

Maka yang dimaksud dengan ILMU YANG DIANGKAT adalah: ILMU SYAR’I, YANG DENGANNYA MANUSIA MENGENAL RABB MEREKA DAN BERIBADAH KEPADA-NYA DENGAN SEBENAR-BENAR PERIBADAHAN. Realita yang ada adalah: banyak tulisan akan tetapi :tidak menambah melainkan kebodohan dan jauh dari syari’at Islam, kecuali sedikit saja.

[Lihat: “Silsilah Al-Ahaadiits Ash-Shahiihah” (VI/635), karya Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani -rahimahullaah-]

[4]- “Tersebarnya pena; yakni: banyaknya tulisan…Tentunya tulisan-tulisan tersebut ada yang bermanfaat dan (ada yang) mudharat…

(1)- Barangsiapa yang menulis tentang sesuatu yang bermanfaat; maka dia terpuji sebagai pelaku dari salah satu tanda-tanda Hari Kiamat.

(2)- Sebaliknya: barangsiapa yang menulis tentang sesuatu yang mudharat; maka dia tercela sebagai pelaku salah satu dari tanda-tanda Hari Kiamat.

Saya berharap mudah-mudahan Allah -Jalla Jalaaluhu- memasukkan saya ke dalam golongan yang pertama bersama saudara-saudara saya sesama penulis yang berjalan di atas Manhaj Salaful Ummah.”

[“Telah Datang Zamannya” (hlm. 183-183 -dengan diringkas-), karya Fadhilatul Ustadz ‘Abdul Hakim bin ‘Amir Abdat -hafizhahullaah-]

-ditulis oleh: Ahmad Hendrix-

Sep 12

Metode Nabi Dalam Mendidik Anak

Sep 12

Tantangan Dakwah

Rasulullah -shallallaahu ‘alaihi wa sallam- bersabda:

“Sungguh, pada umat sebelum kalian: ada seorang laki-laki yang dibuatkan lubang di tanah untuknya, kemudian dia diletakkan di dalamnya, kemudian didatangkan gergaji lalu diletakkan di atas kepalanya; maka dia pun dibelah menjadi dua, dan (ada yang) disisir dengan sisir besi antara daging dan tulangnya; maka hal itu tidak menghalanginya dari agamanya. Demi Allah! Perkasa (Islam) ini akan sempurna sampai seorang berkendara dari Shan’a sampai ke Hadhramaut tidak ada yang dia takuti kecuali Allah dan serigala (ditakutkan memakan) kambingnya. AKAN TETAPI SUNGGUH, KALIAN TERBURU-BURU.” HR. Al-Bukhari (no. 6943)

Sep 12

DAKWAH NABI IBRAHIM -‘alaihis salaam- DAN UJIAN YANG MENIMPA BELIAU

DAKWAH NABI IBRAHIM -‘alaihis salaam- DAN UJIAN YANG MENIMPA BELIAU

[1]- Ibrahim -‘alaihis salaam- mendakwahi kaumnya kepada Tauhid, yaitu: agar mereka beribadah hanya kepada Allah dan meninggalkan peribadahan kepada tuhan-tuhan selain Allah. Beliau benar-benar mengingkari kesyirikan sampai menghancurkan berhala-berhala milik mereka, dan mereka pun berniat membakarnya. Allah -Ta’aala- berfirman:

وَتَاللَّهِ لَأَكِيدَنَّ أَصْنَامَكُمْ بَعْدَ أَنْ تُوَلُّوا مُدْبِرِينَ * فَجَعَلَهُمْ جُذَاذًا إِلَّا كَبِيرًا لَهُمْ لَعَلَّهُمْ إِلَيْهِ يَرْجِعُونَ * قَالُوا مَنْ فَعَلَ هَذَا بِآلِهَتِنَا إِنَّهُ لَمِنَ الظَّالِمِينَ * قَالُوا سَمِعْنَا فَتًى يَذْكُرُهُمْ يُقَالُ لَهُ إِبْرَاهِيمُ * قَالُوا فَأْتُوا بِهِ عَلَى أَعْيُنِ النَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَشْهَدُونَ * قَالُوا أَأَنْتَ فَعَلْتَ هَذَا بِآلِهَتِنَا يَا إِبْرَاهِيمُ * قَالَ بَلْ فَعَلَهُ كَبِيرُهُمْ هَذَا فَاسْأَلُوهُمْ إِنْ كَانُوا يَنْطِقُونَ * فَرَجَعُوا إِلَى أَنْفُسِهِمْ فَقَالُوا إِنَّكُمْ أَنْتُمُ الظَّالِمُونَ * ثُمَّ نُكِسُوا عَلَى رُءُوسِهِمْ لَقَدْ عَلِمْتَ مَا هَؤُلَاءِ يَنْطِقُونَ * قَالَ أَفَتَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لَا يَنْفَعُكُمْ شَيْئًا وَلَا يَضُرُّكُمْ * أُفٍّ لَكُمْ وَلِمَا تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ أَفَلَا تَعْقِلُونَ * قَالُوا حَرِّقُوهُ وَانْصُرُوا آلِهَتَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ فَاعِلِينَ * قُلْنَا يَا نَارُ كُونِي بَرْدًا وَسَلَامًا عَلَى إِبْرَاهِيمَ * وَأَرَادُوا بِهِ كَيْدًا فَجَعَلْنَاهُمُ الْأَخْسَرِينَ

“(Ibrahim berkata:) Demi Allah, sungguh, aku akan melakukan tipu daya terhadap berhala-berhalamu setelah kamu sekalian pergi meninggalkannya. Maka dia (Ibrahim) menghancurkan (berhala-berhala itu) berkeping-keping, kecuali yang terbesar (induknya); agar mereka kembali (untuk bertanya) kepadanya. Mereka (yang lain) berkata: “Siapakah yang melakukan (perbuatan) ini terhadap tuhan-tuhan kami? Sungguh, dia termasuk orang yang zhalim.” Mereka (yang lain) berkata: “Kami mendengar ada seorang pemuda yang mencela (berhala-berhala ini), namanya Ibrahim.” Mereka berkata: “(Kalau demikian) bawalah dia dengan diperlihatkan kepada orang banyak, agar mereka menyaksikan.” Mereka bertanya: “Apakah engkau, yang melakukan (perbuatan) ini terhadap tuhan-tuhan kami, wahai Ibrahim?” Dia (Ibrahim) menjawab: “Sebenarnya (patung) yang besar itulah yang melakukannya, maka tanyakanlah kepada berhala itu, jika mereka dapat berbicara.” Maka mereka kembali kepada kesadaran mereka dan berkata: “Sesungguhnya kamu sekalian adalah orang-orang yang menzhalimi (diri sendiri).” Kemudian mereka menundukkan kepala (lalu berkata): “Engkau (Ibrahim) pasti tahu bahwa (berhala-berhala) itu tidak dapat berbicara.” Dia (Ibrahim) berkata: “Maka mengapa kamu menyembah selain Allah, sesuatu yang tidak dapat memberi manfaat sedikit pun, dan tidak (pula) memberi mudharat kepada kamu? Celakalah kamu dan apa yang kamu sembah selain Allah! Tidakkah kamu mengerti? Mereka berkata: “Bakarlah dia dan bantulah tuhan-tuhan kamu, jika kamu benar-benar hendak berbuat.” Kami (Allah) berfirman: “Wahai api! Jadilah kamu dingin, dan penyelamat bagi Ibrahim.” Dan mereka hendak berbuat jahat terhadap Ibrahim, maka Kami menjadikan mereka itu orang-orang yang paling rugi.” (QS. Al-Anbiyaa’: 57-70)

[2]- Syaikh Rabi’ bin Hadi Al-Madkhali -hafizhahullaah- berkata:

“Al-Qur’an memberitahu kita tentang (dakwah) Nabi yang lurus ini (Nabi Ibrahim) yang merupakan imamnya para nabi, bahwa beliau memulai (dakwahnya) dengan memperbaiki ‘Aqidah, yakni: beliau berdakwah mengajak (kaumnya) untuk mentauhidkan Allah dan mengikhlaskan ibadah hanya kepada-Nya, dan beliau memerangi kesyirikan serta menghancurkannya dan juga (menghancurkan) sebab-sebabnya, sampai ke akar-akarnya….

Beliau mendebat mereka dengan hujjah yang kuat dan jelas…sampai akhirnya memaksa mereka untuk mengakui kezhaliman, kesesatan, fanatik buta, serta taklid kapada nenek moyang mereka:

قَالُوا وَجَدْنَا آبَاءَنَا لَـهَا عَابِدِيْـنَ

“Mereka berkata: Kami mendapati nenek moyang kami menyembahnya.” (QS. Al-Anbiyaa’: 53)…

DAN TATKALA MEREKA TIDAK LAGI MEMILIKI HUJJAH; MAKA MEREKA BERALIH KEPADA KEKUATAN, YANG MERUPAKAN SENJATA SETIAP ORANG YANG LEMAH DARI HUJJAH, DI SETIAP WAKTU DAN TEMPAT:

قَالُوْا حَـرِّقُوْهُ وَانْصُرُوْا آلِـهَتَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ فَاعِلِـيْـنَ

Mereka berkata: Bakarlah dia dan bantulah tuhan-tuhan kamu, jika kamu benar-benar hendak berbuat.” (QS. Al-Anbiyaa’: 68)

Dan Allah menyelamatkan Khalil-Nya: Ibrahim, dan Allah mengembalikan tipu daya orang-orang yang kafir dan merugi kepada mereka sendiri:

قُلْنَا يَا نَارُ كُونِي بَرْدًا وَسَلَامًا عَلَى إِبْرَاهِيمَ * وَأَرَادُوا بِهِ كَيْدًا فَجَعَلْنَاهُمُ الْأَخْسَرِينَ

“Kami (Allah) berfirman: “Wahai api! Jadilah kamu dingin, dan penyelamat bagi Ibrahim.” Dan mereka hendak berbuat jahat terhadap Ibrahim, maka Kami menjadikan mereka itu orang-orang yang paling rugi.” (QS. Al-Anbiyaa’: 69-70)”

[“Manhajul Anbiyaa’ Fid Da’wah Ilallaah Fiihil Hikmah Wal ‘Aql” (hlm. 60-61), karya Syaikh Rabi’ bin Hadi Al-Madkhali -hafizhahullaah-]

-ditulis oleh: Ustadz Ahmad Hendrix-

Post sebelumnya «

» Post terbaru