Agu 01

HASMI, Siapa Mereka ? – Aunur Rafiq Ghufran hafizhahullah

Agu 01

MENCARI DALIL KEBENARAN YANG SESUAI DENGAN HAWA NAFSU DAN KEINGINAN?!!!

MENCARI DALIL KEBENARAN YANG SESUAI DENGAN HAWA NAFSU DAN KEINGINAN?!!!

Allah -Subhaanahu Wa Ta’aalaa- berfirman:

وَأَقْسَمُوا بِاللَّهِ جَهْدَ أَيْمَانِهِمْ لَئِنْ جَاءَتْهُمْ آيَةٌ لَيُؤْمِنُنَّ بِهَا قُلْ إِنَّمَا الآيَاتُ عِنْدَ اللَّهِ وَمَا يُشْعِرُكُمْ أَنَّهَا إِذَا جَاءَتْ لا يُؤْمِنُونَ

“Dan mereka bersumpah dengan nama Allah dengan segala kesungguhan, bahwa jika datang suatu mukjizat kepada mereka; pastilah mereka akan beriman kepada-Nya. Katakanlah: “Mukjizat-mukjizat itu hanya ada pada sisi Allah.” Dan tahukah kamu; bahwa apabila mukjizat (ayat-ayat) datang; mereka tidak juga akan beriman.” (QS. Al-An’aam: 109)

Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di -rahimahullaah- berkata;

“Tatkala beliau (Nabi -shallallaahu ‘alaihi wa sallam-) mendakwahi (mengajak) mereka kepada keimanan, dan beliau tunjukkan bukti (atas kebenaran beliau -shallallaahu ‘alaihi wa sallam-) dengan ayat-ayat (mu’jizat-mu’jizat); maka mereka ingin mencari pembenaran atas (kebatilan) mereka untuk (menipu) orang-orang rendahan dan orang-orang bodoh dengan berkata: “Coba datangkan ayat (mu’jizat) yang (semacam) ini dan ayat (mu’jizat) yang semacam itu; jika kamu memang orang yang benar! Kalau engkau tidak mendatangkannya; maka kami tidak akan membenarkanmu!!”

Cara semacam ini tidak akan diridhai oleh setiap orang yang jujur (mencari kebenaran-pent). Oleh karena itulah, Allah -Ta’aalaa- mengabarkan bahwa kalau Dia memenuhi permintaan mereka; mereka tetap tidak akan beriman, karena mereka memang sudah mempersiapkan diri mereka agar tetap ridha dengan agama (keyakinan) mereka (yang bathil/rusak-pent) dan mereka sudah mengetahui kebenaran; akan tetapi mereka menolaknya.”

[Al-Qawaa-‘idul Hisaan (hlm. 106-107) karya Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di -rahimahullaah-]

– diambil dari Buku: “Al-Istinbaath (2)”, Faedah Kedua Puluh Sembilan, karya Ahmad Hendrix.

Syaikh Sulaiman Ar-Ruhaili -hafizhahullaah- berkata dalam Dauroh di Batu-Malang:

“Di antara hal terbesar yang menghalangi untuk mengambil faedah dari kebaikkan ada 2 (dua) perkara:

Perkara Pertama: Bahwa seseorang bertanya dan mendengar; dengan tujuan: untuk mendengarkan (mendapatkan) apa yang dia inginkan; bukan untuk mengetahui kebenaran.

Dan ini adalah musibah

Dan Perkara Kedua: Bahwa seseorang kalau dia mendengar kebenaran; maka dia menyangka bahwa (kebenaran) itu di arahkan kepada orang lain (bukan dia yang dimaksud).

Kalau ada ulama yang mengkritik suatu perbuatan, dan bahwa ini adalah tidak boleh; maka orang itu bukannya berkata: “Saya yang melakukan perkara (yang dilarang) ini, dan sudah jelas bahwa perkara ini bathil; maka aku tinggalkan.”

(Dia) tidak (bersikap demikian); bahkan menyangka bahwa yang dimaksud adalah orang lain, adapun dia; maka bukan (dia yang dimaksud)!!”

– ditulis oleh Ustadz Ahmad Hendrix,

20 Syawwal 1437 H.

Agu 01

Bolehkah Masuk Parlemen / Organisasi ?

PERTANYAAN: Kita akan bicara tentang politik, yakni politik yang syar’i -insyaa Allaah-.

Kami di Indonesia -sebagaimana yang anda ketahui- menggunakan undang-undang demokrasi perlemen, ada undang-undang parlemen, ada Syi’ah melawan Ahlus Sunnah dan kaum muslimin, (intinya:) semuanya bersatu untuk menyerang kaum muslimin.

Mereka (musuh-musuh yang bersatu tersebut) memiliki Jum’iyyah (organisasi), mereka memiliki partai, dan berbagai segi (dari sarana).

Dan kami -Salafiyyun- memiliki banyak ma’had (sekolah/pondok) dan juga yayasan. Akan tetapi sekolah-sekolah tersebut hanya khusus untuk mempelajari dan mengenal agama, dan kami tidak memiliki organisasi salafi yang bisa menasehati pemerintah. (Hal itu perlu) karena pemerintah sekarang -sebagaimana kalian ketahui bersama-: memusuhi kaum muslimin, maka bagaimana solusi dari hal ini?

SYAIKH ‘ALI BIN HASAN AL-HALABI menyela penanya: “KEADAAN KITA (di Indonesia) TIDAK SAMPAI DERAJAT INI (ditekan pemerintah-pent) wahai saudaraku!”

PENANYA melanjutkan: Apakah memungkinkan bagi kita untuk mendirikan Jum’iyyah (Organisasi) Salafiyyah, tidak terkait dengan sekolah-sekolah, yakni: ada orang-orang tertentu yang nantinya mereka mengurusi tujuan-tujuan ini?

SYAIKH ‘ALI BIN HASAN AL-HALABI -hafizhahullaah- menjawab:

“Baiklah, saya akan menjawab (pertanyaan) anda -insyaa Allaah-.

PERTAMA : maka kita bukanlah memusuhi organisasi yang didirikan untuk medan yang baik bagi Dakwah atau untuk bergerak dengan leluasa di negeri (ini), dan (kebutuhan lain) yang semisalnya. Akan tetapi kita katakan: yang menjadi permasalahan adalah DALAM PRAKTEKNYA, jadi permasalahannya bukanlah tentang pendirian organisasi…Kita bicara dengan ilmu, karena kalau kita bicara dengan kebodohan; maka kita (bingung apakah) menilai organisasi untuk mengkritiknya atau mengkritik prakteknya? Ini yang pertama.

KEDUA : Jika Ahlus Sunnah di negeri ini SEPAKAT ATAU SUDAH BERMUSYAWARAH UNTUK MENDIRIKAN ORGANISASI YANG BISA MEMPERSATUKAN -ATAU MINIMAL: TIDAK MEMECAH BELAH-: maka ini tidak terlarang.

KETIGA : Kami tidak menyarankan untuk mendirikan organisasi yang akan melalaikan kita dari tujuan utama kita; yaitu: mengajarkan agama Allah yang haq kepada manusia, karena (realitanya:) kebanyakan organisasi menyibukkan diri dengan kegiatan sosial, sibuk dengan harta, sibuk dengan memberikan bantuan; maka hal ini adalah bagus. Akan tetapi ini bukanlah tugas kita, tugas kita adalah lebih penting, lebih utama, dan lebih agung; yaitu: mengajarkan agama kepada manusia dan mengikat mereka dengan Allah -Subhaanahu Wa Ta’aalaa-.

KEEMPAT : Dalam masalah pemilu atau ikut andil dalam kancah politik -sebagaimana anda katakan-; maka saya ingin bertanya: apakah semua orang yang mencalonkan dirinya untuk menjadi pemimpin atau anggota parlemen atau pejabat: apakah semuanya orang-orang yang rusak? Mustahil. Memang pada mereka ada kerusakan, akan tetapi berbeda-beda.

Saya ingat betul dalam Pilpres kemarin: hampir sepakat atau berbagai usaha dari Salafiyyun untuk memilih capres yang (sekarang) tidak terpilih, bukankah begitu? Kenapa (Salafiyyun berpartisipasi-pent)? Karena dia (capres) memiliki sifat-sifat atau kelakuan yang lebih baik dari yang sekarang terpilih.

(Kemudian) siapa yang menang? PRESIDEN (yang sekarang), dan -alhamdulillaah- KITA TIDAK MELIHAT TEKANAN ATAS SALAFIYYUN, KITA TIDAK MELIHAT SIKAP KERAS ATAS MEREKA. Mereka adalah suatu bagian dari masyarakat besar.

Jadi jangan membesar-besarkan permasalahan.

KELIMA ( Terakhir ) : Jika mereka masuk atau ikut andil dalam pemilihan pemimpin, atau pejabat, atau anggota parlemen; maka kita bermusyawarah untuk memilih yang lebih utama dan lebih baik serta paling sedikit kejelekan dan keburukannya. Maka ini juga termasuk politik.

POLITIK ADALAH: SERBA MUNGKIN. Sekarang di antara para politikus itu ada yang mendatangimu dan mengatakan: pilihlah aku; niscaya aku akan bekerja untuk (kemaslahatan)mu, saya akan berikan (kebaikan) untukmu. Padahal anda -kalau dia datang lagi (setelah menang-pent)- tidak berarti baginya. (Kalau) dikatakan kepada sebagian politikus yang telah menang dalam pemilu: “Saya telah berikan suaraku, maka setelah anda menang: apa yang akan anda berikan kepadaku?” Dia akan menjawab: “Saya berikan punggungku.” Yakni: Saya tidak akan memperdulikanmu dan tidak akan menghargaimu.

(Jadi) kita tidak menginginkan pada akhirnya kita hanya MENJADI PERMAINAN BAGI ORANG-ORANG POLITIK. (Benar), kita tahu pengaruh politik dan para politikus, tidak diragukan bahwa mereka berbahaya bagi masyarakat modern, akan tetapi DEMI ALLAH: POLITIK ADALAH TIDAK BAGUS, YANG PANTAS BAGI KITA ADALAH MEMPERSIAPKAN SYARI’AT (untuk umat). Kalau kita bisa mengurusi dan mempersiapkan syari’at dalam lingkungan kita, madrasah-madrasah kita, universitas-universitas kita, dan organisasi-organisasi kita; maka ini kebaikan yang besar dan sangat besar.

KEENAM ( Tambahan Pertanyaan ): Ada yang bertanya dan banyak yang mengeluhkannya kepadaku tentang: menjadi pejabat dalam urusan agama. Maka saya katakan: Barangsiapa yang mampu untuk bergabung dan besar prasangkanya bahwa dia mampu untuk mengagungkan syari’at dan memperbanyak kebaikan, yang hal ini tidak memutuskannya dari teman-temannya, dan tidak menghalanginya dari mausia yang terdekat dengannya dalam agama, ‘aqidahnya, serta (tidak menghalangi) dari Sunnah; maka kami tidak melarang.

Di sebagian negara (sebagian teman kita) menjadi pejabat, bahkan di negeri kami sebagian teman yang baik telah menjadi pejabat,…Akan tetapi yang penting jangan sampai jabatan mengorbankan persaudaraan, jangan sampai jabatan mengorbankan Dakwah, jangan sampai jabatan menyibukkan (diri dari) memperbanyak kemaslahatan dan meminimalisir kejelekan.

Dan Allah Yang Memberi Petunjuk kepada jalan yang lurus.

Assalaamu’alaikum Wa Rahmatullaahi Wa Baraakaatuh.

——————————————————

FAEDAH DAUROH MALANG -SYAWWAL 1438 H/JULI 2017 M-

-Ustadz Ahmad Hendrix-

https://www.facebook.com/ahmadhendrix.eskanto/posts/487592388248309

Agu 01

AKANKAH PONDASI YANG JELEK MEMBUAHKAN HASIL YANG BAIK?!

AKANKAH PONDASI YANG JELEK MEMBUAHKAN HASIL YANG BAIK?!

[1]- Allah -Subhaanahu Wa Ta’aalaa-:

وَمَثَلُ كَلِمَةٍ خَبِيثَةٍ كَشَجَرَةٍ خَبِيثَةٍ اجْتُثَّتْ مِنْ فَوْقِ الأرْضِ مَا لَهَا مِنْ قَرَارٍ

“Dan perumpamaan kalimat yang buruk seperti pohon yang buruk, yang telah dicabut akar-akarnya dari permukaan bumi; tidak dapat (tegak) sedikitpun.” (QS. Ibrahim: 26)

[2]- Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah (wafat th. 728 H) -rahimahullaah- berkata:

فَإِذَا كَانَ الْاِعْتِقَادُ فَاسِدًا؛ أَوْرَثَ عَمَلًا فَاسِدًا

“Kalau ‘Aqidah seseorang itu rusak; maka akan mewariskan amalan yang rusak pula.”

[“Bayaan Talbiis Al-Jahmiyyah” (I/456)]

[3]- Dan termasuk ‘Aiqdah yang rusak adalah: ‘Aqidah Khawarij

Muhammad bin ‘Abdul Karim Asy-Syahrastani (wafat th. 548 H) berkata -ketika mendefinisikan firqah Khawarij-:

“Setiap yang memberontak melawan imam yang sah, yang disepakati oleh jama’ah (kaum muslimin); maka dia (pemberontak tersebut) dinamakan “khaariji” (pengikut Khawarij), baik dia memberontak di zaman para Shahabat -memberontak melawan Khulafa-ur Rasyidin-, maupun setelah mereka -yaitu memberontak melawan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik-, dan (juga memberontak kepada) imam-imam di setiap masa.”

[“Al-Milal Wan Nihal” (hlm. 114-cet. Daarul Fikr)]

[4]- Dan termasuk Khawarij juga adalah: orang-orang yang mencela Ulil Amri; sebagaimana dijelaskan oleh Syaikh Shalih Al-Fauzan -hafizhahullaah-.

Pertanyaan: Ada seseorang yang saya nasehati agar jangan mencela Ulil Amri, maka dia meng-hajr-ku (memboikotku) dengan sebab itu. Dan tatkala aku bertemu dengannya di suatu tempat, maka aku mengucapkan salam kepadanya, akan tetapi dia tidak menjawab salamku sejak dia meng-hajr-ku. Apakah dia berdosa dalam hal ini?

Syaikh Shalih Al-Fauzan menjawab:

“Orang ini termasuk Khawarij, yang memprovokasi untuk menentang Ulil Amri adalah termasuk Khawarij -wal ‘iyaadzu billaah- (kita berlindung kepada Allah). Dia tidak boleh berbuat semacam ini. Ulil Amri memiliki hak (untuk dihormati), bisakah anda hidup di suatu negeri tanpa ada Ulil Amri?…Anda telah benar ketika menasehatinya…bahkan anda harus memperingatkan (orang lain) darinya dan menjelaskan perkara (kejelekan)nya ini, serta (kejelekan) para pengikutnya…”

http://www.alfawzan.af.org.sa/node/14662

[5]- Berbeda dengan ‘Aqidah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah; sebagaiamana dijelaskan oleh Imam Ahlus Sunnah: Imam Ahmad bin Hanbal (wafat th. 241 H) -rahimahullaah-:

وَالسَّمْعُ وَالطَّاعَةُ لِلْأَئِمَّةِ وَأَمِـيْـرِ الْمُؤْمِـنِـيْـنَ؛ اَلْـبَـرِّ وَالْفَاجِرِ، وَمَنْ وَلِـيَ الْـخِلَافَةَ وَاجْتَمَعَ النَّاسُ عَلَيْهِ وَرَضُوْا بِهِ، وَمَنْ عَلِيَهُمْ بِالسَّيْفِ حَتَّى صَارَ خَلِيْفَةً وَسُـمِّيَ أَمِيْرَ الْمُؤْمِـنِـيْـنَ.

“Mendengar dan taat kepada para imam dan amirul mu’minin (pemimpin kaum mu’minin) baik (pemimpin itu) orang yang baik maupun orang yang jelek. (Juga mendengar dan taat kepada) siapa saja yang meraih kekhilafahan (kepemimpinan) dan manusia berkumpul (sepakat) dan rela atasnya. Dan (demikian juga) orang yang menguasai mereka dengan pedang (kekerasan) sehingga menjadi khalifah (pemimpin) dan dia dinamakan amirul mukminin (maka dia juga harus ditaati-pent).”

[6]- Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah -rahimahullaah- juga berkata -setelah membawakan ayat di atas dan lainnya-:

وَالْأَقْوَالُ وَالْأَفْعَالُ صِفَاتُ الْقَائِلِ الْفَاعِلِ؛ فَإِذَا كَانَتْ النَّفْسُ مُتَّصِفَةً بِالسُّوءِ وَالْخُبْثِ لَمْ يَكُنْ مَحَلُّهَا إلَّا مَا يُنَاسِبُهَا؛ فَمَنْ أَرَادَ أَنْ يَجْعَلَ الْحَيَّاتِ وَالْعَقَارِبَ يُعَاشِرُونَ النَّاسَ كَالسَّنَانِيرِ لَمْ يَصْلُحْ ؛ وَمَنْ أَرَادَ أَنْ يَجْعَلَ الْكَذِبَ شَاهِدًا لَمْ يَصْلُحْ ، وَكَذَلِكَ مَنْ أَرَادَ أَنْ يَجْعَلَ الْجَاهِلَ مُعَلِّمًا ؛ أَوْ الْأَحْمَقَ سَائِسًا

“Perkataan dan perbuatan adalah sifat dari orang yang berkata dan berbuat. Sehingga jika jiwa itu bersifat dengan kejelekan dan keburukan; maka tempatnya tidak lain adalah: yang sesuai dengannya. Maka barangsiapa yang ingin menjadikan ular dan kelajengking agar hidup bersama manusia layaknya kucing: ini tidak benar. Dan barangsiapa yang ingin menjadikan pendusta sebagai saksi; ini juga tidak benar. Demikian juga yang ingin menjadikan orang bodoh sebagai pengajar atau ORANG DUNGU SEBAGAI AHLI PENGATUR (AHLI POLITIK); (juga tidak benar).”

[“Majmuu’ Fataawaa” (VIII/226)]

[7]- Dan Rasulullah -shallallaahu ‘alaihi wa sallam- bersabda:

…أَلَا وَإِنَّ فِـي الْـجَسَدِ مُضْغَةً: إِذَا صَلَحَتْ؛ صَلَحَ الْـجَسَدُ كُلُّهُ، وَإِذَا فَسَدَتْ؛ فَسَدَ الْـجَسَدُ كُلُّهُ، أَلاَ وَهِيَ الْـقَلْبُ.

“…Ketahuilah bahwa di dalam tubuh manusia terdapat segumpal daging. Jika ia baik; maka baik pula seluruh tubuhnya, dan jika ia rusak; maka rusak pula seluruh tubuhnya. Ketahuilah bahwa segumpal daging itu adalah hati.” [Muttafaqun ‘Alaih]

– Ustadz Ahmad Hendrix-

Agu 01

Celaan Terhadap Hizbiyyah dan Fanatik Golongan

FAEDAH KAJIAN SABTU PAGI (6 Dzul Qa’dah 1438 H/29 Juli 2017 M)

bersama Fadhilatul Ustadz Yazid bin ‘Abdul Qadir Jawas -hafizhahullaah-

-via RODJA TV live streaming-

———————————————————————

[1]- TERMASUK PENYIMPANGAN DALAM MANHAJ: BERGABUNG DENGAN KELOMPOK-KELOMPOK ATAU PARTAI-PARTAI

Celaan Terhadap Hizbiyyah dan Fanatik Golongan

Allah -Subhaanahu Wa Ta’aalaa- berfirman:

وَإِنَّ هٰذِهِ أُمَّتُكُمْ أُمَّةً وَاحِدَةً وَأَنَا رَبُّكُمْ فَاتَّقُوْنِ * فَتَقَطَّعُوْا أَمْرَهُمْ بَيْنَهُمْ زُبُــرًا كُلُّ حِزْبٍ بِـمَا لَدَيْهِمْ فَرِحُوْنَ

“Sesungguhnya (agama tauhid) inilah agama kamu, agama yang satu dan Aku adalah Rabb-mu, maka bertakwalah kepada-Ku. Kemudian mereka terpecah-belah dalam urusan (agama)nya menjadi beberapa golongan. Setiap “Hizb” (golongan) merasa bangga dengan apa yang ada pada mereka (masing-masing).” (QS. Al-Mu’minuun: 52-53)

Allah -Subhaanahu Wa Ta’aalaa- berfirman:

…وَلَا تَكُونُوْا مِنَ الْمُشْرِكِينَ * مِنَ الَّذِيْنَ فَرَّقُوا دِيْنَهُمْ وَكَانُوْا شِيَـعًا كُلُّ حِزْبٍ بِـمَا لَدَيْهِمْ فَرِحُوْنَ

“…Dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah, yaitu orang-orang yang memecah belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. Setiap “Hizb” (golongan) merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka.” (QS. Ar-Ruum: 31-32)

“Al-Hizb” secara bahasa adalah: golongan (kumpulan) dari manusia, berkumpulnya manusia karena adanya sifat yang bersekutu atau kemaslahatan yang menyeluruh…

Bukanlah sesuatu yang tersembunyi bagi orang yang berakal bahwa: setiap “Hizb” mempunyai: prinsip-prinsip, pemikiran, sandaran yang sifatnya intern, dan teori-teori yang menjadi patokan sebagai undang-undang bagi kelompok “Hizb”, meskipun sebagian mereka tidak menyebutnya sebagai undang-undang…

Maka undang-undang itu adalah asas wala’ (kesetiaan/loyalitas) dan bara’ (permusuhan), (asas) persatuan dan perpecahan, (asas) kepedulian dan ketidakpedulian.

Atas pertimbangan yang demikian; maka sesungguhnya di dunia ini hanya ada dua “Hizb”, yaitu: Hizb Allah dan Hizb setan, yang menang dan yang kalah, yang muslim dan yang kafir.

Orang yang memasukkan hizb-hizb (kelompok, pergerakan, jama’ah-jama’ah) yang lain ke dalam hizb Allah, maka dia telah merobek-robek hizb Allah, memecah belah kalimat Allah -Ta’aalaa-.

SEORANG MUSLIM WAJIB UNTUK MENINGGALKAN DAN MENANGGALKAN SEMUA BENTUK HIZBIYYAH yang sempit dan terkutuk YANG TELAH MELEMAHKAN HIZB ALLAH dan tidak boleh toleran kepada semua kelompok/golongan/jama’ah. Supaya agama Islam ini seluruhnya milik Allah.

[Lihat: “Ad-Da’wah Ilallaah Baina At-Tajammu’ Hizbiyy Wa At-Ta’aawun Asy-Syar’iyy” (hlm. 53-55), oleh Syaikh ‘Ali Hasan Al-Halabi Al-Atsari -hafizhahullaah-]

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah -rahimahullaah- berkata: “Barangsiapa mengangkat pemimpin -siapa pun orangnya- lalu wala’ dan bara’-nya menurut persetujuan perkataan/perbuatannya, maka ia termasuk:

مِنَ الَّذِيْنَ فَرَّقُوْا دِيْنَهُمْ وَكَانُوا شِيَعًا كُلُّ حِزْبٍ بِـمَا لَدَيْهِمْ فَرِحُوْنَ

“orang-orang yang memecah belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan…” (QS. Ar-Ruum: 32)

[“Majmuu’ Fataawaa” (XX/8)]

Beliau juga berkata: “Barangsiapa bergabung (berjanji setia) bersama orang tertentu untuk memberikan loyalitas kepada orang yang loyal kepadanya dan memusuhi orang yang memusuhinya, maka ia serupa dengan bangsa Tatar yang berperang di jalan setan. Dan yang seperti ini bukanlah termasuk orang yang berjuang di jalan Allah, tidak pula termasuk tentara kaum Muslimin, bahkan mereka lebih pantas menjadi bala tentara setan.”

[“Majmuu’ Fataawaa” (XXVIII/20-21)]

-dinukil secara ringkas dari: “Mulia Dengan Manhaj Salaf” (361-364- cet. ke-12), karya Fadhilatul Ustadz Yazid bin ‘Abdul Qadir Jawas -hafizhahullaah-

[2]- TIDAK BOLEH BERKUMPUL DENGAN AHLUL BID’AH, KARENA AKAN HILANG AMAR MA’RUF NAHI MUNKAR

Penjelasan Tentang Keharusan Menjauhi Ahli Bid’ah

وَإِذَا رَأَيْتَ الَّذِيْنَ يَـخُوْضُوْنَ فِـيْ آيَـاتِــنَا فَأَعْرِضْ عَنْهُمْ حَتَّى يَـخُوْضُوْا فِـيْ حَدِيْثٍ غَيْرِهِ وَإِمَّا يُنْسِيَنَّكَ الشَّيْطَانُ فَلَا تَقْعُدْ بَعْدَ الذِّكْرَى مَعَ الْقَوْمِ الظَّالِمِيْنَ

“Apabila engkau (Muhammad) melihat orang-orang memperolok-olokkan ayat-ayat Kami, maka tinggalkanlah mereka hingga mereka beralih ke pembicaraan lain. Dan jika syaitan menjadikan engkau lupa (akan larangan ini), setelah ingat kembali janganlah engkau duduk bersama orang-orang yang zhalim.” (QS. Al-An’aam: 68)

Imam Asy-Syaukani -rahimahullaah- (wafat th. 1250 H) berkata: “Dalam ayat ini terdapat nasihat yang agung bagi orang yang masih memperbolehkan untuk duduk bersama ahli bid’ah; yang mereka itu mengubah Kalam Allah, dan mempermainkan Kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya, dan memahami Al-Qur’an dan As-Sunnah sesuai dengan hawa nafsu mereka yang menyesatkan dan sesuai dengan bid’ah-bid’ah mereka yang rusak.

Maka sesungguhnya jika seseorang tidak dapat mengingkari mereka dan tidak dapat mengubah keadaan mereka, maka minimalnya (paling tidak) ia harus meninggalkan duduk dengan mereka, dan yang demikian itu mudah baginya dan tidak sulit.

BISA JADI PARA AHLI BID’AH MEMANFAATKAN HADIRNYA SESEORANG DI MAJLIS MEREKA, MESKIPUN IA TERHINDAR DARI SYUBHAT YANG MEREKA LONTARKAN, TETAPI MEREKA DAPAT MENGABURKAN DENGAN SYUBHAT TERSEBUT KEPADA ORANG-ORANG AWAM, maka hadirnya seseorang dalam majlis ahli bid’ah merupakan kerusakan yang lebih besar daripada sekedar kerusakan berupa mendengarkan kemungkaran. Dan kami telah melihat di majelis-majelis yang terlaknat ini yang jumlahnya banyak sekali, dan kami bangkit untuk membela kebenaran, melawan kebathilan semampu kami, dan mencapai kepada puncak kemampuan kami.

Barang siapa mengetahui syari’at yang suci ini dengan yang sebenar-benarnya, maka dia akan mengetahui bahwa bermajelis dengan ahlul bid’ah kerusakannya lebih besar (berlipat ganda) dibandingkan bermajlis dengan orang-orang yang bermaksiat kepada Allah dengan melakukan hal-hal yang diharamkan, lebih-lebih lagi bagi orang yang belum mapan ilmunya tentang Al-Qur’an dan As-Sunnah, maka ia mungkin sekali terpengaruh dengan kedustaan mereka berupa kebathilan yang jelas sekali, lalu kebathilan tersebut akan tergores di dalam hatinya sehingga sangat sulit sekali mencari penyembuh dan pengobatannya, maka dia pun mengamalkannya sepanjang umurnya. Dan ia akan menemui Allah dengan kebathilan yang ia yakini tersebut sebagai kebenaran, padahal itu merupakan sebesar-besar kebathilan dan sebesar-besar kemunkaran.”

[“Faidhul Qadiir” (II/128-129, cet. Daarul Fikr, th. 1393 H)]

-dinukil dari: “Syarah ‘Aqidah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah” (hlm. 521-523- cet. ke-15), karya Fadhilatul Ustadz Yazid bin ‘Abdul Qadir Jawas -hafizhahullaah-

disarikan oleh :

– Ustadz Ahmad Hendrix-

https://www.facebook.com/ahmadhendrix.eskanto/posts/489648148042733

Post sebelumnya «

» Post terbaru