AGAR PEMAHAMAN TIDAK TERBALIK…

[1]- Allah -Ta’aalaa- berfirman:
وَكَذَلِكَ نُفَصِّلُ الآيَاتِ وَلِتَسْتَبِينَ سَبِيلُ الْمُجْرِمِينَ
“Dan demikianlah Kami terangkan ayat-ayat Al Qur’an; (agar terlihat jelas jalan orang-orang yang shalih) dan agar terlihat jelas (pula) jalan orang-orang yang berdosa.” (QS. Al-An’aam: 55)

[2]- “Karena sungguh, jika jalan orang-orang yang berdosa itu diterangkan dan dijelaskan; maka akan bisa ditinggalkan dan dijauhi. Berebeda halnya jika jalan tersebut samar dan tidak jelas; maka tidak akan terwujud tujuan mulia ini.”
[Taisiirul Kariimir Rahmaan (hlm. 258- ceet. Muassasah ar-Risaalah)]

[3]- ‘Abdullah bin Mas’ud -radhiyallaahu ‘anhu- berkata:
كَيْفَ أَنْتُمْ إِذَا لَبِسَتْكُمْ فِتْنَةٌ؛ يَهْرَمُ فِيْهَا الْكَبِيْرُ، وَيَرْبُوْ فِيْهَا الصَّغِيْرُ، وَيَتَّخِذُهَا النَّاسُ سُنَّةً، فَإِذَا غُيِّرَتْ؛ قَالُوْا: غُيِّرَتِ السُّنَّةُ. قَالُوْا: وَمَتَى ذَلِكَ يَا أَبَا عَبْدِ الرَّحْمَنِ؟ قَالَ: إِذَا كَثُرَتْ قُرَّاؤُكُمْ وَقَلَّتْ فُقَهَاؤُكُمْ، وَكَثُرَتْ أُمَرَاؤُكُمْ وَقَلَّتْ أُمَنَاؤُكُمْ، وَالْتُمِسَتِ الدُّنْيَا بِعَمَلِ الآخِرَةِ.
“Bagaimana (keadaan) kalian jika (nanti) fitnah (ujian) meliputi kalian; dimana orang tua (melewati masanya sampai) menjadi pikun di dalam (fitnah) tersebut, dan anak kecil tumbuh dalam (keadaan mengenal fitnah) tersebut, dan (fitnah) itu pun dijadikan/dianggap sebagai Sunnah. Kalau diubah; maka mereka (manusia) akan mengatakan: Sunnah telah diubah.” Mereka (para sahabat Ibnu Mas’ud) bertanya: Kapan hal itu terjadi wahai Abu ‘Abdirrahman? Beliau (Ibnu Mas’ud) menjawab: “Jika qari’ (pembaca Al-Qur’an) kalian sudah banyak akan tetapi sedikit fuqaha’ (orang berilmu) kalian, banyak umara’ (para pemimpin) kalian akan tetapi sedikit orang yang amanah di antara kalian, dan dunia dicari dengan menggunakan amalan (yang seharusnya ditujukan untuk) akhirat.”
[SHAHIH: Diriwayatkan oleh Ad-Darimi (no. 191- cet. Daarul Ma’rifah) dan Al-Hakim (no. 191- cet. Daarul Ma’rifah), dengan sanad yang sesuai syarat Al-Bukhari dan Muslim. Hadits ini juga memiliki jalan lain menuju Ibnu Mas’ud]
Imam Muhammad Nashiruddin Al-Albani -rahimahullaah- berkata dalam kitabnya “Qiyaam Ramadhaan” (hlm. 4-5):
“(Atsar ini) telah shahih dari Ibnu Mas’ud secara mauquuf (dari perkataannya) akan tetapi hukumnya marfuu’ (dari sabda) Nabi -shallallaahu ‘alaihi wa sallam-…
Dan hadits ini termasuk tanda kenabian beliau -shallallaahu ‘alaihi wa sallam- dan kebenaran risalah (kerasulan) beliau. Karena tiap kalimatnya telah terbukti pada zaman sekarang. Diantaranya adalah: BANYAKNYA BID’AH, DAN MANUSIA TERFITNAH DENGANNYA (TERJATUH KE DALAMNYA) SAMPAI DIJADIKAN SUNNAH dan dijadikan agama yang diikuti; yang kalau Ahlus Sunnah yang hakiki berpaling darinya menuju Sunnah yang telah tetap (shahih) dari beliau (Nabi) -shallallaahu ‘alaihi wa sallam-; maka akan dikatakan: Sunnah telah ditinggalkan!”

[4]- Maka, jelaslah bahwa kewajiban seseorang adalah untuk mengetahui kebenaran. Akan tetapi dia juga perlu mengetahui -atau kalau perlu: meneliti- kebatilan; bukan dengan tujuan untuk diamalkan; akan tetapi untuk dijauhkan, dan agar tidak terbalik pemahaman:
– banyak orang mengira bahwa mengagungkan dan menyembah kubur orang shalih merupakan bagian dari agama Islam; padahal justru itu adalah agama orang-orang musyrik yang Nabi -shallallaahu ‘alaihi wa sallam- perangi…karena ketidak tahuan mereka terhadap agama Islam-yang berlandaskan Tauhid-, dan juga ketidak tahuan mereka terhadap kesyirikan -yang dilakukan oleh kaum musyrikin padan zaman Nabi -shallallaahu ‘alaihi wa sallam-,
– merata di mana-mana pembangunan kubur untuk dijadikan tempat ibadah; padahal itu adalah kebiasaan orang-orang Yahudi dan Nasrani yang Nabi -shallallaahu ‘alaihi wa sallam- menegurnya dengan keras…hal itu terjadi dikarenakan ketidak tahuan terhadap kabar dari Nabi -shallallaahu ‘alaihi wa sallam- bahwa ini adalah perbuatan menyimpang yang dilakukan oleh orang-orang Yahudi dan Nasrani,
– dianggap remehnya Bid’ah (perbuatan baru dalam agama) oleh banyak orang, padahal Nabi -shallallaahu ‘alaihi wa sallam- terus mengulang-ulang peringatan tentang bahaya Bid’ah…dikarenakan mereka tidak mengetahui apa itu Bid’ah; yang para Salaf sangat gencar untuk memperingatkan darinya -bahkan dengan peringatan yang keras-,
– dan lain sebagainya.
Maka, terbaliklah pemahaman, disebabkan kemalasan untuk mempelajari kebenaran -apalagi untuk meneliti kebatilan-.
Wallaahu A’lam Wa Huwal Musta’aan.

-ditulis oleh Ustadz Ahmad Hendrix-

JANGAN MELAMPAUI BATAS KEILMUAN!

JANGAN MELAMPAUI BATAS KEILMUAN!

[1]- Dari ‘Abdullah bin ‘Abbas -radhiyallaahu ‘anhumaa-, dia berkata: Pada zaman Rasulullah -shallallaahu ‘alaihi wa sallam- ada seseorang yang terluka [di kepalanya], kemudian dia mimpi basah (junub), maka ada yang memerintahkannya untuk mandi, dan dia pun mandi, lalu mati. Hal itu kemudian sampai kepada Rasulullah -shallallaahu ‘alaihi wa sallam-, maka beliau berrsabda:

قَتَلُوهُ، قَتَلَهُمُ اللهُ! أَلَمْ يَكُنْ شِفَاءُ الْعِيِّ السُّؤَالَ؟! [قَدْ جَعَلَ اللهُ الصَّعِيْدَ -أَوْ التَّيَمُّمَ- طَهُوْرًا]

“Mereka telah membunuhnya, semoga Allah membunuh mereka! Bukankah obat kebodohan adalah bertanya?! [Allah telah menjadikan sha’iid (permukaan bumi) -atau tayammum- untuk bersuci.]

[HASAN SHAHIH: HR. Abu Dawud (no. 337), Ibnu Majah (no. 572), Ahmad (no. 3057- cet. Daarul Hadiits). Ad-Darimi (no. 756- cet. Daarul Ma’rifah), Al-Khathib Al-Baghdadi dalam “Kitaab Al-Faqiih Wal Mutafaqqih” (no. 759), Ibnu Khuzaimah (no. 273), Ibnu Hibban (no. 1311- At-Ta’liiqaatul Hisaan), dan Al-Hakim (I/165) -dan dia menshahihkannya, dan disepakati oleh Adz-Dzahabi-.]

[2]- Orang yang salah bisa mendapat pahala -dan dosanya diampuni-; kalau dia salah setelah berijtihad -sebagaimana dalam hadits yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari (no. 7352) dan Muslim (no. 1716)-.

Adapun mereka -yang disebutkan dalam hadits-; maka mereka salah dan dicela karena mereka bukan ahli ilmu. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah -rahimahullaah- berkata:

“Mereka telah salah tanpa ijtihad; karena mereka memang bukan ahli ilmu.”

[Raf’ul Malaam ‘An A-immatil A’laam (hlm. 48- cet. Al-Maktab Al-Islami)]

Dan ilmu yang dimaksud; adalah seperti apa yang dikatakan oleh Imam As-Syafi’i -rahimahullaah-:

“Tidak boleh bagi seorang pun -selama-lamanya- untuk bicara halal dan haram kecuali dengan disertai ilmu. Dan ilmu adalah: Al-Qur’an, As-Sunnah, Ijma’ atau Qiyas.”

[Ar-Risaalah (no. 120)]

[3]- Maka, bagi orang yang tidak berilmu; janganlah dia melampaui batasnya, janganlah berusaha untuk berijtihad sendiri, akan tetapi bertanyalah kepada ahli ilmu; sebagaimana firman Allah -Ta’aalaa-:

…فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لا تَعْلَمُونَ

“…Bertanyalah kepada ahludz dzikri (orang yang mempunyai pengetahuan) jika kamu tidak mengetahui.” (QS. An-Nahl: 43)

Ahludz dzikri adalah ahli ilmu -sebagaimana disebutkan dalam “Kitaab Al-Faqiih Wal Mutafaqqih” (no. 758)-.

[4]- Kalau seorang yang tidak berilmu kemudian dia tidak mau bersandar kepada orang yang berilmu; maka dia akan menjadi:

هَمَجٌ رَعَاعٌ أَتْبَاعُ كُلِّ نَاعِقٍ يَمِيْلُوْنَ مَعَ كُلِّ رِيْحٍ؛ لَمْ يَسْتَضِيْئُوْا بِنُوْرِ الْعِلْمِ وَلَمْ يَلْجَأُوْا إِلَى رُكْنٍ وَثِيْقٍ

“Manusia bodoh yang mengikuti setiap seruan, condong mengikuti setiap angin, tidak mempunyai cahaya ilmu dan tidak bersandar kepada tiang yang kokoh.”

-sebagaimana dikatakan oleh ‘Ali bin Abi Thalib dalam wasiatnya kepada Ziyad bin Kumail-.

“Dan yang lebih tepat dari maksud ‘Ali -radhiyallaahu ‘anhu- adalah: bahwa mereka bukan orang-orang yang memiliki bashirah (ilmu yakin) yang bisa mengambil cahaya dari ilmu tersebut, dan mereka tidak mau menuju kepada orang berilmu yang memiliki bashirah untuk taqlid kepadanya, sehingga dia menjadi orang yang tidak mempunyai bashirah dan tidak mau mengikuti orang yang memiliki bashirah.”

Sebagaimana dikatakan oleh Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah -rahimahullaah- dalam “Miftaah Daaris Sa’aadah” (I/410). Akan tetapi bukan berarti beliau menganjurkan untuk bertaqlid bagi orang yang mampu memahami dalil (seperti para penuntut ilmu) atau berijtihad di dalamnya (seperti para ulama).

[5]- Dan kita lihat dalam realita dakwah; banyak sekali orang yang melampaui batas kelimuannya: seorang yang hanya pantas menjadi makmum; dia justru memilih untuk menjadi imam, orang awam yang harusnya diam; dia justru membahas dan merajihkan (menguatkan) pendapat dengan mengikuti hawa nafsu dan perasaan, dan lain-lain -apalagi dengan adanya Medsos, juga orang-orang kaya dan panitia pengajian; tampil untuk mengatur jalannya Dakwah, serta artis dan pejabat -yang jelas tidak berilmu-; menjadi pembicara dan pengarah bagi para penuntut ilmu??!! Hal-hal inilah menjadikan keadaan semakin membingungkan dan menjadikan api fitnah semakin besar dan berkobar.

بَلِ الإنْسَانُ عَلَى نَفْسِهِ بَصِيرَةٌ * وَلَوْ أَلْقَى مَعَاذِيرَهُ

“Bahkan manusia itu menjadi saksi atas dirinya sendiri, meskipun dia mengemukakan alasan-alasannya.” (Al-Qiyamah: 14-15)

Di antara pujian Imam Al-Albani -rahimahullaah- terhadap salah seorang muridnya:

لاَ يَقُوْلُ إِلاَّ مَا وَصَلَ إِلَيْهِ عِلْمُهُ

“Dia tidak mengatakan kecuali apa yang ilmunya sampai kepadanya.”

[Silsilah Al-Ahaadiits Adh-Dha’iifah (I/32)]

JANGAN TERBURU-BURU DALAM MENYEBARKAN BERITA!

JANGAN TERBURU-BURU DALAM MENYEBARKAN BERITA!

JANGAN TERBURU-BURU DALAM MENYEBARKAN BERITA!

[1]- Allah -Ta’aalaa- berfirman:
وَإِذَا جَاءَهُمْ أَمْرٌ مِنَ الأمْنِ أَوِ الْخَوْفِ أَذَاعُوا بِهِ وَلَوْ رَدُّوهُ إِلَى الرَّسُولِ وَإِلَى أُولِي الأمْرِ مِنْهُمْ لَعَلِمَهُ الَّذِينَ يَسْتَنْبِطُونَهُ مِنْهُمْ وَلَوْلا فَضْلُ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُ لاتَّبَعْتُمُ الشَّيْطَانَ إِلا قَلِيلا
“Dan apabila sampai kepada mereka suatu berita tentang keamanan ataupun ketakutan; mereka (langsung) menyiarkannya. (Padahal) apabila mereka menyerahkannya kepada Rasul dan Ulil Amri di antara mereka; tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya (akan dapat) mengetahuinya dari mereka (Rasul dan Ulil Amri). Sekiranya bukan karena karunia dan rahmat Allah kepadamu; tentulah kamu mengikuti Syaithan, kecuali sebagian kecil saja (di antara kamu).” (QS. An-Nisaa’: 83)

[2]- Ayat ini menerangkan secara jelas: Ta’shiil (pondasi/kaidah dasar) dalam masalah ini.
Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di -rahimahullaah- berkata:
“Ayat ini berisi pelajaran dari Allah untuk hamba-hamba-Nya agar tidak melakukan perbuatan yang tidak layak (seperti yang disebutkan dalam ayat). Seharusnya ketika datang kepada mereka berita tentang kemaslahatan umum; yang berkaitan dengan kegembiraan kaum muslimin atau ketakutan yang di dalamnya terdapat musibah atas mereka; maka seharusnya mereka mengecek terlebih dahulu dan tidak terburu-buru dalam menyebarkannya. Hendaknya mereka mengkonfimasikannya kepada Rasul dan Ulil Amri dikalangan mereka; yaitu: orang-orang yang punya pandangan luas, ahli ilmu, orang-orang jujur, dan berakal, serta memiliki pikiran yang matang. Merekalah yang mengetahui duduk persoalannya dan mengetahui maslahat dan tidaknya.
– Jika menurut mereka penyiaran berita itu memotivasi dan menggembirakan kaum mukminin serta agar mereka berjaga-jaga dari bahaya musuh; barulah boleh disebarkan.
– Jika menurut mereka tidak ada maslahatnya, atau ada maslahatnya akan tetapi mudharat-nya lebih besar dari maslahatnya; berarti berita itu tidak boleh disiarkan. Oleh sebab itu Allah mengatakan:
لَعَلِمَهُ الَّذِينَ يَسْتَنْبِطُونَهُ مِنْهُمْ
“tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya (akan dapat) mengetahuinya dari mereka (Rasul dan Ulil Amri)”
Yakni: Mereka dapat mengambil sikap dan kebijaksanaan dengan pemikiran dan pandangan mereka yang tepat, serta dengan ilmu mereka yang lurus.
Ayat ini berisi dalil untuk sebuah kaidah dalam masalah adab, yaitu: dalam membahas setiap persoalan: hendaklah diserahkan kepada ahlinya dan jangan mendahuluinya. Itulah tindakan yang paling tepat dan paling selamatdari kesalahan-kesalahan.
Di dalam ayat ini juga terdapat: larangan dari terburu-buru menyebarkan informasi yang didengar (atau dibaca), sekaligus perintah untuk meneliti terlebih dahulu sebelum berkomentar, dan melihat: apakah ada maslahatnya untuk disebarkan kepada masyarakat ataukah tidak. Bila tidak; maka tidak disebarkan.”
[Taisiirul kariimir Rahmaan (hlm. 190- cet. Muassasah ar-Risaalah)]

[3]- Bandingkan Dengan Keadaan Orang-Orang Pergerakkan (Harakiyyin dan Hizbiyyin)
Syaikh ‘Abdul Malik bin Ahmad Ar-Ramadhani -hafizhahullaah- berkata:
“Dewasa ini dapat kita saksikan sandaran terbesar orang-orang politik adalah: mengikuti perkembangan berita. Anda saksikan mereka menghabiskan umur mereka demi mempelajari metode penyebaran berita dengan lebih cermat, tujuannya agar bisa menebarkan rasa takut di kalangan kaum muslimin…sekiranya anda mengatakan kepada mereka: “Biarkanlah orang-orang awam, jangan sibukkan mereka dengan perkara-perkara politik! Janganlah membantu musuh dengan menyebarkan berita tentang (kehebatan) mereka; karena itu semua akan melemahkan kaum muslimin! Cukuplah bagi kalian firman Allah berikut ini (sebagai pelajaran):
…وَإِنْ تَصْبِرُوا وَتَتَّقُوا لا يَضُرُّكُمْ كَيْدُهُمْ شَيْئًا إِنَّ اللَّهَ بِمَا يَعْمَلُونَ مُحِيطٌ
“…Jika kamu bersabar dan bertakwa; niscaya tipu daya mereka tidak akan menyusahkannmu sedikit pun. Sungguh, Allah meliputi segala apa yang mereka kerjakan.” (QS. Ali ‘Imran: 120)
Maka, dengan berani -dan tanpa menghiraukan ayat di atas- mereka berkata: “Patutkah kita berpangku tangan menghadapi musuh yang telah menyiapkan makar?”
Mereka tidak mentadabburi bahwa Allah Yang Maha Mengetahui makar musuh-musuh-Nya: telah memerintahkan kita supaya bersabar (dan bertakwa)…
Lagipula: menahan diri pada masa-masa tertentu termasuk salah satu perintah Allah, dimana Allah berfirman:
أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ قِيلَ لَهُمْ كُفُّوا أَيْدِيَكُمْ وَأَقِيمُوا الصَّلاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ فَلَمَّا كُتِبَ عَلَيْهِمُ الْقِتَالُ إِذَا فَرِيقٌ مِنْهُمْ يَخْشَوْنَ النَّاسَ كَخَشْيَةِ اللَّهِ أَوْ أَشَدَّ خَشْيَةً…
“Tidakkah engkau memperhatikan orang-orang yang dikatakan kepada mereka: “Tahanlah tanganmu (dari berperang), dirikanlah Shalat dan tunaikanlah Zakat!” Maka ketika mereka diwajibkan berperang; tiba-tiba sebagian mereka (golongan munafik) takut kepada manusia (musuh), seperti takutnya kepada Allah, bahkan lebih takut (dari itu)…” (QS. An-Nisaa’: 77)
Maka ini merupakan ketentuan Syari’at yang tetap (dilaksanakan) ketika datang masanya. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah -rahimahullaah- berkata [dalam ash-Shaarimul Masluul (hlm. 221)]:
“Apabila kaum muslimin di suatu negeri dalam kondisi lemah atau pada masa lemah; maka hendaklah mereka mengamalkan ayat-ayat yang berisi perintah untuk bersabar, berlapang dada, dan memberikan maaf kepada Ahlul Kitab dan kaum musyrikin yang menyakiti Allah dan Rasul-Nya. Dan orang-orang yang memiliki kekuatan; maka hendaklah mereka mengamalkan ayat-ayat yang berisi perintah untuk memerangi gembong-gembong kekafiran yang menghujat agama, dan (hendaklah) mengamalkan ayat yang berisi perintah memerangi Ahlul Kitab hingga mereka membayar jizyah (pajak) dengan patuh sedang mereka dalam keadaan tunduk.”.”
[Madaarikun Nazhar Fis Siyaasah (hlm. 171-172 -cet. I)]

-ditulis oleh Ustadz Ahmad Hendrix-