WASIAT ALI BIN ABI THOLIB KEPADA KUMAIL BIN ZIYAD

WASIAT ALI BIN ABI THOLIB KEPADA KUMAIL BIN ZIYAD

Alih bahasa Dika Wahyudi Lc.

 

عَنْ كُمَيْلِ بْنِ زِيَادٍ، قَالَ:

Dari Kumail bin Ziyad ia berkata:

” أَخَذَ عَلِيُّ بْنُ أَبِي طَالِبٍ بِيَدِي

Ali bin Abi Tholib mengambil tanganku.

فَأَخْرَجَنِي إِلَى نَاحِيَةِ الْجَبَّانِ،

Kemudian ia membawaku keluar sampai tepi padang pasir.

فَلَمَّا أَصْحَرْنَا جَلَسَ ثُمَّ تَنَفَّسَ ثُمَّ قَالَ:

Kemudian ketika kami memasuki tengah padang pasir ia duduk kemudian menghela nafas dan berkata:

” يَا كُمَيْلُ بْنَ زِيَادٍ الْقُلُوبُ أَوْعِيَةٌ

Wahai Kumail bin Ziyad, hati adalah bejana

فَخَيْرُهَا أَوْعَاهَا، وَاحْفَظْ مَا أَقُولُ لَكَ:

Maka yang paling baik adalah yang paling menampung, dan hapalkanlah apa yang aku katakan kepadamu.

النَّاسُ ثَلَاثَةٌ:
[1] فَعَالِمٌ رَبَّانِيٌّ،
[2] وَمُتَعَلِّمٌ عَلَى سَبِيلِ نَجَاةٍ،
[3] وَهَمَجٌ رَعَاعٌ أَتْبَاعُ كُلِّ نَاعِقٍ،

Manusia ada tiga golongan;

[1] Alim robbani, (ulama robbani)
[2] muta’allim (orang yang belajar) di atas jalan keselamatan,
[3] orang awam yang bodoh yang mengikuti setiap orang yang bersuara.

يَمِيلُونَ مَعَ كُلِّ رِيحٍ، لَمْ يَسْتَضِيئُوا بِنُورِ الْعِلْمِ، وَلَمْ يَلْجَئُوا إِلَى رُكْنٍ وَثِيقٍ.

Mereka akan condong bersama setiap hembusan angin, tidak diterangi dengan cahaya ilmu, dan tidak bersandar kepada tiang yang kokoh.

الْعِلْمُ خَيْرٌ مِنَ الْمَالِ،

Ilmu lebih baik dari harta.

الْعِلْمُ يَحْرُسُكَ، وَأَنْتَ تَحْرُسُ الْمَالَ،

1. Ilmu menjagamu, sedangkan kamu menjaga harta.

الْعِلْمُ يَزْكُو عَلَى الْعَمَلِ، وَالْمَالُ تُنْقِصُهُ النَّفَقَةُ،

2. Ilmu akan bertambah dengan diamalkan, sedang harta akan berkurang ketika dipakai (dinafkahkan)

وَمَحَبَّةُ الْعَالِمِ ديْنٌ يُدَانُ بِهَا،

3. Dan mencintai ahli ilmu adalah agama yang (kita) beragama dengannya.

الْعِلْمُ يُكْسِبُ الْعَالِمَ الطَّاعَةَ فِي حَيَاتِهِ، وَجَمِيلَ الْأُحْدُوثَةِ بَعْدَ مَوْتِهِ، وَصَنِيعَةُ الْمَالِ تَزُولُ بِزَوَالِهِ.

4. orang alim akan ditaati dengan ilmunya di kehidupannya, dan akan menyebabkan kisah kehidupan mereka menjadi indah setelah kematiannya, sedangkan kebaikan harta akan hilang dengan sirnanya harta.

مَاتَ خُزَّانُ الْأَمْوَالِ وَهُمْ أَحْيَاءٌ، وَالْعُلَمَاءُ بَاقُونَ مَا بَقِيَ الدَّهْرُ، أَعْيَانُهُمْ مَفْقُودَةٌ، وَأَمْثَالُهُمْ فِي الْقُلُوبِ مَوْجُودَةٌ،

5. Para pemilik harta sudah mati (di hati manusia) padahal mereka masih hidup, sedangkan para ulama tetap ada (di hati mereka) sepanjang masa. Jasad mereka telah hilang dan permisalan (teladan) mereka tetap ada di dalam hati.

هَاهْ إِنَّ هَهُنَا – وَأَشَارَ بِيَدِهِ إِلَى صَدْرِهِ – عِلْمًا لَوْ أَصَبْتُ لَهُ حَمَلَةً، بَلَى أَصَبْتُهُ لَقِنًا غَيْرَ مَأْمُونٍ عَلَيْهِ، يَسْتَعْمِلُ آلَةَ الدِّينِ لِلدُّنْيَا،

Duhai… Sesungguhnya didalam sini -(Ali) menunjuk kepada dadanya- seandainya aku mendapatkan orang yang akan mengembannya, memang aku sudah mendapati (empat golongan orang buruk yang mengembannya) ;

[1].orang yang cerdas akan tetapi dia tidak amanah, dia akan menjadikan alat agama (ilmu) untuk (mencari) dunia.

يَسْتَظْهِرُ بِحُجَجِ اللهِ عَلَى كِتَابِهِ، وَبِنِعَمِهِ عَلَى عِبَادِهِ،

Dia akan menampakkan (berdalih) dengan hujjah Allah untuk menyelisihi kitab-Nya (karena mendahulukan ilmunya pent.), dan menyombongkan nikmat Allah (yang diberikan padanya) di depan para hamba-Nya.

أَوْ مُنْقَادًا لِأَهْلِ الْحَقِّ لَا بَصِيرَةَ لَهُ فِي إِحْيَائِهِ، يَقْتَدِحُ الشَّكَّ فِي قَلْبِهِ، بِأَوَّلِ عَارِضٍ مِنْ شُبْهَةٍ، لَا ذَا وَلَا ذَاكَ،

Atau (diberikan) pada;
[2]. orang yang mengikuti/taqlid kepada ahli haq, yang dia sendiri tidak memiliki bashiroh (ilmu) untuk menghidupi kebenaran, keraguan akan membuat keruh hatinya dengan terjangan syubhat pada pertama kalinya. bukan ini dan tidak juga itu (yang pantas mengemban ilmu)

أَوْ مَنْهُوَمٌ بِاللَّذَّاتِ، سَلِسُ الْقِيَادِ لِلشَّهَوَاتِ،

Atau (diberikan) pada;
[3]. orang yang rakus terhadap kelezatan (dunia), mudah tergiring kepada syahwat.

أَوْ مُغْرًى بِجَمْعِ الْأَمْوَالِ وَالِادِّخَارِ،

Atau (diberikan) kepada;
[4]. orang yang rakus untuk mengumpulkan harta dan menumpuknya.

وَلَيْسَا مِنْ دُعَاةِ الدِّينِ، أَقْرَبُ شَبَهًا بِهِمَا الْأَنْعَامِ السَّائِمَةِ،

Dan kedua terakhir ini, bukanlah termasuk dai (penyeru) kepada agama. Bahkan mereka lebih mirip dengan binatang ternak yang digembalakan.

كَذَلِكَ يَمُوتُ الْعِلْمُ بِمَوْتِ حَامِلِيهِ،

Demikianlah, ilmu akan mati dengan kematian pembawanya.

اللهُمَّ بَلَى لَا تَخْلُو الْأَرْضُ مِنْ قَائِمٍ لِلَّهِ بِحُجَّةٍ، لِئَلَّا تَبْطُلَ حُجَجُ اللهِ وَبَيِّنَاتُهُ،

Ya Allah, memang, bumi ini tidak akan pernah kosong dari orang yang tegak diatas hujjah , agar hujjah Allah dan bukti-bukti penjelasan-Nya tidak lenyap.

أُولَئِكَ هُمُ الْأَقَلُّونَ عَدَدًا، الْأَعْظَمُونَ عِنْدَ اللهِ قَدْرًا،

Merekalah orang yang jumlahnya paling sedikit, akan tetapi memiliki kedudukan paling agung di sisi Allah.

بِهِمْ يَدْفَعُ اللهُ عَنْ حُجَجِهِ، حَتَّى يَؤُدُوهَا إِلَى نُظَرَائِهِمْ، وَيَزْرَعُوهَا فِي قُلُوبِ أَشْبَاهِهِمْ،

Dengan sebab merekalah Allah membela hujjah-Nya, hingga mereka menyampaikan kepada orang yang semisal mereka, dan menanamkannya di hati-hati orang yang serupa dengan mereka.

هَجَمَ بِهِمُ الْعِلْمُ عَلَى حَقِيقَةِ الْأَمْرِ

Dengan sebab mereka, ilmu menghujam (sesuai) hakikatnya.

فَاسْتَلَانُوا مَا اسْتَوْعَرَ مِنْهُ الْمُتْرَفُونَ،

Mereka menjadikan (jalan ini) mudah yang tadinya dianggap sulit ditempuh bagi orang kaya yang berbuat semaunya.

وَأَنِسُوا مِمَّا اسْتَوْحَشَ مِنْهُ الْجَاهِلُونَ،

Dan menjadi jinak yang sebelumnya dianggap liar oleh orang jahil/bodoh.

صَحِبُوا الدُّنْيَا بِأَبْدَانٍ أَرْوَاحُهَا مُعَلَّقَةٌ بِالْمَنْظَرِ الْأَعْلَى،

Badan mereka berada di dunia sedangkan ruh mereka tergantung di akhirat.

أُولَئِكَ خُلَفَاءُ اللهِ فِي بِلَادِهِ، وَدُعَاتُهُ إِلَى دِينِهِ.

Merekalah kholifah Allah di negri-negri milik-Nya. Dan para dai (penyeru) kepada agamanya.

هَاهْ هَاهْ شَوْقًا إِلَى رُؤْيَتِهِمْ، وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكَ، إِذَا شِئْتَ فَقُمْ “

Hah…hah… duhai betapa rindu aku untuk melihat mereka, dan aku memohonkan ampun untuk diriku dan untukmu, kalau kamu mau kamu boleh berdiri (pergi)”

أخرجه أبو نعيم في ((الحلية))، (1/79)،
وابن عبد البر في ((جامع بيان العلم وفضله))، (1878)،
والخطيب في ((الفقيه والمتفقه))، (1/182).

Semoga apabila ada kesempatan, kita bisa mensyarah atsar di atas.

 

Bersambung…

DUA PEMBAHASAN DALAM MASALAH ILMU

Di sini akan disampaikan dua pembahasan dalam masalah ilmu:

1. Keutamaan Ilmu Dan Orang-Orang Yang Berilmu

2. Adab-Adab Dalam Menuntut Ilmu

Pembahasan Pertama: Untuk mendorong kita agar semangat dalam menuntut ilmu.

Pembahasan Kedua: Setelah kita semangat dalam menuntut ilmu; maka dengan Pembahasan Kedua: Agar kita menempuh jalan yang benar untuk mendapatkan ilmu.

PEMBAHASAN PERTAMA: KEUTAMAAN ILMU DAN ORANG-ORANG YANG BERILMU

Sebelum masuk ke pembahasan ini; maka yang pertama harus diketahui adalah: Bahwa pembahasan ini hanya bermanfaat bagi orang yang mengharapkan Allah dan Hari Akhir; bukan orang yang masih disibukkan dengan kecintaan kepada selain Allah; kecintaan kepada harta, kedudukan, wanita dan perkara-perkara dunia lainnya. Karena hanya orang-orang yang mengharapkan Allah dan Hari Akhir saja yang bisa akan mengambil manfaat dari ayat-ayat Al-Qur’an dan hadits-hadits Nabi -shallallaahu ‘alaihi wa sallam-, hanya mereka yang beriman dengan yang ghaib yang berusaha untuk mendapatkan kesuksesan di akhirat untuk masuk Surga.

Allah -Subhaanahu Wa Ta’aalaa- berfirman:

الٓم * ذٰلِكَ الْكِتَابُ لَا رَيْبَ فِيْهِ هُدًى لِلْمُتَّقِيْنَ * الَّذِيْنَ يُؤْمِنُوْنَ بِالْغَيْبِ …

“Alif Laam Miim. Kitab (Al Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa, (yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib,…” (QS. Al-Baqarah: 1-3)

Sungguh Allah -Ta’aalaa- telah memuji ilmu dan ahli ilmu, dan Dia mendorong hamba-hamba-Nya kepada ilmu dan agar mereka berbekal dengannya. Demikian juga Nabi -shallallaahu ‘alaihi wa sallam- sebutkan dalam Sunnah beliau.

Di antara keutamaan orang-orang yang berilmu -dan juga keutamaan orang-orang yang menuntut ilmu- yang disebutkan di dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah, adalah:

1. Dengan ilmu seseorang bisa mencapai derajat menjadi saksi atas Tauhid.

Allah -Ta’aalaa- berfirman:

شَهِدَ اللهُ أَنَّهُ لَا إِلٰهَ إِلَّا هُوَ وَالْمَلَائِكَةُ وَأُولُو الْعِلْمِ قَائِمًا بِالْقِسْطِ لَا إِلٰهَ إِلَّا هُوَ الْعَزِيْزُ الْحَكِيْمُ

“Allah bersaksi (menyatakan) bahwa tidak ada sesembahan (yang berhak diibadahi) selain Dia; (demikian pula) para malaikat dan orang-orang yang berilmu yang menegakkan keadilan, tidak ada sesembahan (yang berhak diibadahi) selain Dia, Yang Mahaperkasa, Mahabijaksana.” (QS. Ali ‘Imran: 18)

Pada ayat ini Allah -Ta’aalaa- menjadikan orang-orang yang berilmu sebagai saksi atas sesuatu yang sangat agung; yaitu keesaan Allah. Maka ini menunjukkan keutamaan orang-orang yang berilmu.

Selain itu ayat tersebut juga memuat rekomendasi Allah tentang kesucian dan keadilan orang-orang yang berilmu.

2. Ahli ilmu adalah salah satu dari 2 (dua) golongan Ulil Amri; yang Allah perintahkan untuk ta’at kepada mereka dalam firman-Nya:

يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا أَطِيْعُوا اللهَ وَأَطِيْعُوا الرَّسُوْلَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ …

“Wahai orang-orang yang beriman! Taatilah Allah dan taatilah Rasul (Muhammad) dan Ulil Amri (pemegang kekuasaan) di antara kamu…” (QS. An-Nisaa’: 59)

Maka Ulil Amri di sini mencakup: Ulil Amri dari kalangan pemerintah dan penguasa dan juga mencakup Ulil Amri dari kalangan Ulama dan para penuntut ilmu.

3. Ilmu adalah warisan para Nabi -‘alaihimush shalaatu was salaam-.

Rasulullah -shallallaahu ‘alaihi wa sallam- bersabda:

إِنَّ الْعُلَمَاءَ وَرَثَةُ الْأَنْبِيَاءِ، وَإِنَّ الْأَنْبِيَاءَ لَـمْ يُوَرِّثُوْا دِيْنَارًا، وَلَا دِرْهَـمًا [وَإِنَّمَا] وَرَّثُوا الْعِلْمَ، فَمَنْ أَخَذَهُ أَخَذَ بـِحَظٍّ وَافِرٍ

“Sungguh, para ulama adalah pewaris para nabi, dan para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham, mereka hanya mewariskan ilmu, barangsiapa yang mau mengambilnya; maka dia telah mengambil bagian yang banyak.” [HR. Abu Dawud (no. 3641), Ahmad (V/196) dan lainnya dari Abu Darda -radhiyallaahu ‘anhu-]

4. Menuntut ilmu adalah jalan menuju Surga.

Rasulullah -shallallaahu ‘alaihi wa sallam- bersabda:

…وَمَنْ سَلَكَ طَرِيْقًا يَلْتَمِسُ فِيْهِ عِلْمًا؛ سَهَّلَ اللهُ لَهُ بِـهِ طَرِيْقًا إِلَى الْـجَنَّةِ…

“…Dan barangsiapa yang menempuh suatu jalan untuk menuntut ilmu; maka Allah mudahkan baginya jalan menuju Surga…” [HR. Muslim (no. 2699), dari Abu Hurairah -radhiyallaahu ‘anhu-]

5. Faham dalam masalah agama termasuk tanda-tanda kebaikan.

Rasulullah -shallallaahu ‘alaihi wa sallam- bersabda:

مَنْ يُرِدِ اللهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّيْنِ

“Barangsiapa dikehendaki kebaikan oleh Allah; maka Dia akan memberikan pemahaman agama kepadanya.” [Muttafaqun ‘Alaihi: HR. Al-Bukhari (no. 71) dan Muslim (no. 1037), dari Mu’awiyah bin Abi Sufyan -radhiyallaahu ‘anhumaa-]

Pemahaman agama yang dimaksud dalam hadits ini adalah: Pemahaman terhadap ilmu Tauhid, Ushuulud Diin (prinsip-prinsip agama), dan hal-hal yang berkaitan dengan syari’at Allah -Ta’aalaa-.

Kalaulah tidak ada dalil dari Al-Qur’an dan As-Sunnah tentang keutamaan ilmu kecuali hadits ini; maka sungguh telah cukup untuk mendorong kepada menunut ilmu syar’i.

PENBAHASAN KEDUA: ADAB-ADAB DALAM MENUNTUT ILMU

Setelah kita semangat dalam menuntut ilmu; maka kita harus menempuh jalan yang benar untuk mendapatkan ilmu. Karena, betapa banyak orang yang mencari ilmu dan semangat di dalamnya; akan tetapi tidak mendapatkannya.

1. Mengikhlaskan niat dalam menuntut ilmu hanya untuk Allah saja.

Ikhlas dalam menuntut ilmu bisa dicapai dengan beberapa perkara:

a. Meniatkan untuk melaksanakan perintah Allah, karena Allah memerintahkan dengannya.

Allah Ta’aalaa berfirman:

فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ …

“Maka ketahuilah, bahwa tidak ada sesembahan (yang berhak diibadahi) selain Allah…” (QS. Muhammad: 19)

Allah -Ta’aalaa- mendorong kepada ilmu, hal itu berkonsekuensi bahwa Dia mencintainya, meridhainya, dan memerintahkan kepadanya.

b. Meniatkan untuk menjaga Syari’at, karena menjaga Syari’at itu dengan cara menuntut belajar dan menjaganya di dada (dengan menghafal) dan juga dengan menulisnya.

c. Meniatkan untuk membela Syari’at, karena dengan adanya ulama yang membantah orang-orang yang menentang Syari’at; maka Syari’at terjaga.

d. Meniatkan untuk ittibaa’ (mengikuti) Syari’at Nabi Muhammad -shallallaahu ‘alaihi wa sallam-, karena tidak mungkin seseorang bisa ittibaa’ (mengikuti) Syari’at beliau sebelum berilmu tentang Syari’at tersebut.

e. Meniatkan untuk mengangkat kebodohan dari diri sendiri dan dari orang lain.

2. Berpegang kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah.

Maka wajib atas penuntut ilmu untuk mengambil ilmu dari Al-Qur’an dan As-Sunnah; yang penuntut ilmu tidak akan sukses kalau tidak memulai dengan keduanya.

* Al-Qur’an: Wajib atas penuntut ilmu untuk semangat dalam membacanya, menghafalkannya, memahaminya dengan pemahaman Salaf, mengamalkannya, dan mendakwahkannya.

* As-Sunnah: Merupakan penjelas dari Al-Qur’an, maka tugas penuntut ilmu adalah menghafal hadits-hadits, mempelajari sanad dan matannya, serta membedakan antara hadits yang shahih dengan yang dha’if. Dan menjaga Sunnah juga dengan cara membantah syubhat (kerancuan) yang dilemparkan oleh Ahlul Bid’ah dalam masalah Sunnah.

3. Bersungguh-sungguh untuk bisa memahami maksud Allah dan Rasul-Nya -shallallaahu ‘alaihi wa sallam-.

Termasuk perkara yang penting dalam menuntut ilmu adalah masalah pemahaman, tidak cukup hanya menghafal Al-Qur’an dan As-Sunnah tanpa disertai pemahaman. Alangkah banyaknya terjadi penyimpangan dan kesesatan dikarenakan orang-orang yang berdalil dengan nash-nash akan tetapi tidak sesuai dengan maksud Allah dan Rasul-Nya -shallallaahu ‘alaihi wa sallam-.

4. Menghormati para ulama.

Jangan sampai nama seorang ulama itu jelek, karena kalau namanya jelek; maka perkataan mereka juga tidak akan dihargai, padahal dia mengatakan kebenaran dan mengajak kepadanya. Sesungguhnya membicarakan kejelekan seorang berilmu; akan menghalangi manusia dari ilmu syar’i-nya, dan ini sangat berbahaya.

5. Sabar di atas ilmu.

Yaitu: Penuntut ilmu terus di atas ilmu, tidak terputus dan tidak bosan. Dia terus mempelajarinya sampai puncak kemampuannya.

[Diringkas dari Kitaabul ‘Ilmi (hlm. 15-55 & 186-187), milik Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin -rahimahullaah-]

JANGAN TERBURU-BURU DALAM MENYEBARKAN BERITA!

[1]- Allah -Ta’aalaa- berfirman:

وَإِذَا جَاءَهُمْ أَمْرٌ مِنَ الأمْنِ أَوِ الْخَوْفِ أَذَاعُوا بِهِ وَلَوْ رَدُّوهُ إِلَى الرَّسُولِ وَإِلَى أُولِي الأمْرِ مِنْهُمْ لَعَلِمَهُ الَّذِينَ يَسْتَنْبِطُونَهُ مِنْهُمْ وَلَوْلا فَضْلُ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُ لاتَّبَعْتُمُ الشَّيْطَانَ إِلا قَلِيلا

“Dan apabila sampai kepada mereka suatu berita tentang keamanan ataupun ketakutan; mereka (langsung) menyiarkannya. (Padahal) apabila mereka menyerahkannya kepada Rasul dan Ulil Amri di antara mereka; tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya (akan dapat) mengetahuinya dari mereka (Rasul dan Ulil Amri). Sekiranya bukan karena karunia dan rahmat Allah kepadamu; tentulah kamu mengikuti Syaithan, kecuali sebagian kecil saja (di antara kamu).” (QS. An-Nisaa’: 83)

[2]- Ayat ini menerangkan secara jelas: Ta’shiil (pondasi/kaidah dasar) dalam masalah ini.
Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di -rahimahullaah- berkata:
“Ayat ini berisi pelajaran dari Allah untuk hamba-hamba-Nya agar tidak melakukan perbuatan yang tidak layak (seperti yang disebutkan dalam ayat). Seharusnya ketika datang kepada mereka berita tentang kemaslahatan umum; yang berkaitan dengan kegembiraan kaum muslimin atau ketakutan yang di dalamnya terdapat musibah atas mereka; maka seharusnya mereka mengecek terlebih dahulu dan tidak terburu-buru dalam menyebarkannya. Hendaknya mereka mengkonfimasikannya kepada Rasul dan Ulil Amri dikalangan mereka; yaitu: orang-orang yang punya pandangan luas, ahli ilmu, orang-orang jujur, dan berakal, serta memiliki pikiran yang matang. Merekalah yang mengetahui duduk persoalannya dan mengetahui maslahat dan tidaknya.
– Jika menurut mereka penyiaran berita itu memotivasi dan menggembirakan kaum mukminin serta agar mereka berjaga-jaga dari bahaya musuh; barulah boleh disebarkan.
– Jika menurut mereka tidak ada maslahatnya, atau ada maslahatnya akan tetapi mudharat-nya lebih besar dari maslahatnya; berarti berita itu tidak boleh disiarkan. Oleh sebab itu Allah mengatakan:

لَعَلِمَهُ الَّذِينَ يَسْتَنْبِطُونَهُ مِنْهُمْ

“tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya (akan dapat) mengetahuinya dari mereka (Rasul dan Ulil Amri)”
Yakni: Mereka dapat mengambil sikap dan kebijaksanaan dengan pemikiran dan pandangan mereka yang tepat, serta dengan ilmu mereka yang lurus.
Ayat ini berisi dalil untuk sebuah kaidah dalam masalah adab, yaitu: dalam membahas setiap persoalan: hendaklah diserahkan kepada ahlinya dan jangan mendahuluinya. Itulah tindakan yang paling tepat dan paling selamatdari kesalahan-kesalahan.
Di dalam ayat ini juga terdapat: larangan dari terburu-buru menyebarkan informasi yang didengar (atau dibaca), sekaligus perintah untuk meneliti terlebih dahulu sebelum berkomentar, dan melihat: apakah ada maslahatnya untuk disebarkan kepada masyarakat ataukah tidak. Bila tidak; maka tidak disebarkan.”
[Taisiirul kariimir Rahmaan (hlm. 190- cet. Muassasah ar-Risaalah)]

[3]- Bandingkan Dengan Keadaan Orang-Orang Pergerakkan (Harakiyyin dan Hizbiyyin)
Syaikh ‘Abdul Malik bin Ahmad Ar-Ramadhani -hafizhahullaah- berkata:
“Dewasa ini dapat kita saksikan sandaran terbesar orang-orang politik adalah: mengikuti perkembangan berita. Anda saksikan mereka menghabiskan umur mereka demi mempelajari metode penyebaran berita dengan lebih cermat, tujuannya agar bisa menebarkan rasa takut di kalangan kaum muslimin…sekiranya anda mengatakan kepada mereka: “Biarkanlah orang-orang awam, jangan sibukkan mereka dengan perkara-perkara politik! Janganlah membantu musuh dengan menyebarkan berita tentang (kehebatan) mereka; karena itu semua akan melemahkan kaum muslimin! Cukuplah bagi kalian firman Allah berikut ini (sebagai pelajaran):

…وَإِنْ تَصْبِرُوا وَتَتَّقُوا لا يَضُرُّكُمْ كَيْدُهُمْ شَيْئًا إِنَّ اللَّهَ بِمَا يَعْمَلُونَ مُحِيطٌ

“…Jika kamu bersabar dan bertakwa; niscaya tipu daya mereka tidak akan menyusahkannmu sedikit pun. Sungguh, Allah meliputi segala apa yang mereka kerjakan.” (QS. Ali ‘Imran: 120)
Maka, dengan berani -dan tanpa menghiraukan ayat di atas- mereka berkata: “Patutkah kita berpangku tangan menghadapi musuh yang telah menyiapkan makar?”
Mereka tidak mentadabburi bahwa Allah Yang Maha Mengetahui makar musuh-musuh-Nya: telah memerintahkan kita supaya bersabar (dan bertakwa)…
Lagipula: menahan diri pada masa-masa tertentu termasuk salah satu perintah Allah, dimana Allah berfirman:

أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ قِيلَ لَهُمْ كُفُّوا أَيْدِيَكُمْ وَأَقِيمُوا الصَّلاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ فَلَمَّا كُتِبَ عَلَيْهِمُ الْقِتَالُ إِذَا فَرِيقٌ مِنْهُمْ يَخْشَوْنَ النَّاسَ كَخَشْيَةِ اللَّهِ أَوْ أَشَدَّ خَشْيَةً…

“Tidakkah engkau memperhatikan orang-orang yang dikatakan kepada mereka: “Tahanlah tanganmu (dari berperang), dirikanlah Shalat dan tunaikanlah Zakat!” Maka ketika mereka diwajibkan berperang; tiba-tiba sebagian mereka (golongan munafik) takut kepada manusia (musuh), seperti takutnya kepada Allah, bahkan lebih takut (dari itu)…” (QS. An-Nisaa’: 77)
Maka ini merupakan ketentuan Syari’at yang tetap (dilaksanakan) ketika datang masanya. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah -rahimahullaah- berkata [dalam ash-Shaarimul Masluul (hlm. 221)]:
“Apabila kaum muslimin di suatu negeri dalam kondisi lemah atau pada masa lemah; maka hendaklah mereka mengamalkan ayat-ayat yang berisi perintah untuk bersabar, berlapang dada, dan memberikan maaf kepada Ahlul Kitab dan kaum musyrikin yang menyakiti Allah dan Rasul-Nya. Dan orang-orang yang memiliki kekuatan; maka hendaklah mereka mengamalkan ayat-ayat yang berisi perintah untuk memerangi gembong-gembong kekafiran yang menghujat agama, dan (hendaklah) mengamalkan ayat yang berisi perintah memerangi Ahlul Kitab hingga mereka membayar jizyah (pajak) dengan patuh sedang mereka dalam keadaan tunduk.”.”
[Madaarikun Nazhar Fis Siyaasah (hlm. 171-172 -cet. I)]

-ditulis oleh Ustadz Ahmad Hendrix-

KALAULAH INI DINAMAKAN DEMONSTRASI; MAKA PERHATIKANLAH: BAGAIMANA KESUDAHANNYA!

KALAULAH INI DINAMAKAN DEMONSTRASI; MAKA PERHATIKANLAH: BAGAIMANA KESUDAHANNYA!

TETAPLAH BERDO’A…

Imam Ibnu Katsir -rahimahullaah- berkata dalam “Al-Bidaayah Wan Nihaayah” (XIII/335-336):

“Kejadian ‘Assaf si Nashrani.

Orang ini adalah penduduk Suwaida, dan sekelompok orang telah memberikan kesaksian bahwa dia mencela Nabi -shallallaahu ‘alaihi wa sallam-. Dan ‘Assaf berlindung kepada Ibnu Ahmad bin Hajji Amir Keluarga ‘Ali.

Maka Syaikh Taqiyyuddin Ibnu Taimiyyah berkumpul dengan Syaikh Zainuddin Al-Fariqi; Syaikh Darul Hadits, keduanya masuk menemui Syaikh ‘Izzuddin Aibak Al-Hamawi; wakil pemerintahan. Keduanya berbicara kepadanya mengenai perkara (‘Assaf) ini, maka dia pun setuju dengan keduanya. Dan dia pun mengutus orang untuk menghadirkannya (‘Assaf).

Maka keduanya keluar dari sisinya dan bersama keduanya ada banyak manusia. Dan manusia melihat ‘Assaf ketika dia datang dan dia disertai seorang laki-laki dari ‘Arab. Maka mereka mencela dan mencacinya. Akan tetapi orang (Arab) Badui itu berkata: “Orang Nasrani ini lebih baik dari kalian!” Maka langsung orang-orang melemparinya dengan batu dan (batu) juga mengenai ‘Assaf, dan terjadilah kekacauan luar biasa.

Maka wakil (pemerintahan) mengutus orang untuk memanggil Ibnu Taimiyyah dan Al-Fariqi dan keduanya dipukuli di hadapannya…

Dan datanglah si Nasrani itu dan masuk Islam, maka dibuatlah sebuah majlis (gelar perkara) yang di dalamnya ditetapkan bahwa sebenarnya ada permusuhan antara dia dan para saksi (yang mengatakan bahwa dia mencela Nabi); sehingga terjagalah darahnya. Kemudian dipanggillah kedua Syaikh dan dibuat puas, untuk kemudian keduanya dibebaskan.

Kemudian si Nasrani pergi ke negeri Hijaz dan dia (dibunuh yang) pembunuhannya bertepatan di dekat Madinah; kota Rasulullah -shallallaahu ‘alaihi wa sallam-. DIA DIBUNUH OLEH ANAK SAUDARANYA DI SANA.

Dan karena kejadian ini; Syaikh Taqiyuddin Ibnu Taimiyyah menulis kitabnya: “Ash-Shaarimul Masluul ‘Alaa Saabbir Rasuul” (Pedang Terhunus Atas Orang Yang Mencela Rasul).”

-ditulis oleh: Ustadz Ahmad Hendrix-