MENCINTAI ISTRI

Kalau seseorang sudah terjatuh dalam fitnah Jatuh Cinta, maka jalan yang terbaik adalah menikah.

Rasulullah -shallallaahu ‘alaihi wa sallam- bersabda:

يَا مَعْشَـرَ الشَّـبَابِ! مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمُ الْـبَاءَةَ؛ فَـلْـيَـتَـزَوَّجْ، فَـإِنَّـهُ أَغَـضُّ لِـلْـبَـصَـرِ، وَأَحْـصَـنُ لِلْـفَـرْجِ، وَمَنْ لَـمْ يَـسْـتَـطِـعْ؛ فَعَـلَـيْـهِ بِالصَّـوْمِ، فَـإِنَّـهُ لَـهُ وِجَـاءٌ.

“Wahai para pemuda! Barangsiapa diantara kalian berkemampuan untuk menikah, maka menikahlah, karena nikah itu lebih menundukkan pandangan, dan lebih membentengi farji (kemaluan). Dan barangsiapa yang tidak mampu, maka hendaklah ia shaum (berpuasa), karena shaum itu dapat membentengi dirinya.”

[Muttafaqun ‘Alaihi: HR. Al-Bukhari (no. 1905, 5065, 5066), Muslim (no. 1400), dan lain-lain]

”Maka (dalam hadits ini) beliau (Nabi -shallallaahu ‘alaihi wa sallam-) menunjukkan kepada orang yang jatuh cinta kepada dua cara pengobatan: yang ASLI (menikah) dan yang PENGGANTI (berpuasa). Disini beliau memerintahkan kepada yang ASLI; dan ini adalah pengobatan yang beliau letakkan bagi penyakit ini, maka selama seorang mampu untuk menggunakan obat ini, tidak sepantasnya untuk berpaling kepada selainnya.

Ibnu Majah meriwayatkan dalam (kitab) Sunan-nya, dari Ibnu ‘Abbas radhiyallaahu ‘anhumaa, dari Nabi -shallallaahu ‘alaihi wa sallam-, bahwa beliau bersabda:

لَـمْ يُــرَ لِلْـمُـتَـحَـابَّــيْـنِ مِـثْـلُ الـنِّـكَاحِ.

“Tidak pernah terlihat dua orang yang saling mencintai seperti (yang terlihat dalam) pernikahan.”

[Shahih: HR. Ibnu Majah (no. 1847), Al-Hakim (II/160), dan Al-Baihaqi (VII/78). Lihat: Silsilah al-Ahaadiits ash-Shahiihah(no. 624) karya Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani -rahimahullaah-]

Makna inilah yang diisyaratkan oleh Allah -Subhaanahu Wa Ta’aalaa- setelah menghalalkan (menikahi) para wanita; baik (wanita) yang merdeka maupun yang budak -ketika dibutuhkan-, (Allah isyaratkan) dengan firman-Nya:

يُرِيدُ اللَّهُ أَنْ يُخَفِّفَ عَنْكُمْ وَخُلِقَ الإنْسَانُ ضَعِيفًا

“Allah hendak memberikan keringanan kepadamu, karena manusia diciptakan bersifat lemah.” (QS. An-Nisaa’: 28).

Maka disini Allah menyebutkan bahwa Dia memberikan keringanan kepada manusia dan Allah mengabarkan tentang kelemahan manusia; ini menunjukkan bahwa manusia lemah dalam menanggung syahwat (wanita) ini. Dan bahwa Allah meringankan (beratnya syahwat) ini dengan menghalalkan bagi manusia: (menikahi) wanita-wanita yang baik; dua, tiga, atau empat. Dan Allah juga membolehkan bagi manusia (untuk menggauli) budak wanita miliknya yang dikehendakinya. Kemudian Allah membolehkan baginya untuk menikahi budak-budak wanita -jika memang dibutuhkan- sebagai pengobatan bagi syahwat ini, dan sebagai bentuk keringanan dan rahmat (kasih sayang) bagi makhluk (manusia) yang lemah ini.”

[Zaadul Ma’aad Fii Hadyi Khairil ‘Ibaad (IV/221-cet. Daarul Fikr) karya Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah -rahimahullaah-]

Maka harus diketahui bahwa cinta kepada istri termasuk cinta yang bermanfa’at, karena bisa membantu untuk melaksanakan keta’atan kepada Allah. Dengan menikah, maka seorang laki-laki bisa menjaga dirinya dan istrinya, sehingga dirinya tidak menginginkan wanita-wanita yang haram baginya, jiwanya tidak menginginkan selain istrinya. Maka semakin kuat dan sempurna kecintaan diantara suami istri, semakin sempurna pula maksud dan tujuan ini.

[Lihat: Ighaatsatul Lahfaan (hlm. 401-Mawaaridul Amaan) karya Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah -rahimahullaah-]

Ketika Nabi -shallallaahu ‘alaihi wa sallam- ditanya: Siapa orang yang paling anda cintai? Beliau menjawab: “’Aisyah.”

[HR. Muslim (no. 2384), dari ‘Amr bin al-‘Ash -radhiyallaahu ‘anhu-]

“Maka tidak tercela bagi laki-laki untuk mencintai istrinya -bahkan sangat cinta kepadanya-, kecuali jika (kecintaannya) tersebut menyibukkannya dari kecintaan kepada yang lebih bermanfa’at baginya -yakni kecintaan kepada Allah dan Rasul-Nya-, serta (jangan sampai kecintaan kepada istri) mendesak kecintaan kepada Allah dan Rasul-Nya. Karena setiap kecintaan yang mendesak kecintaan kepada Allah dan Rasul-Nya -sehingga melemahkan dan menguranginya-; maka kecintaan seperti ini adalah tercela. Sebaliknya, jika (kecintaan kepada istri) tersebut bisa membantu (menambah) untuk cinta kepada Allah dan Rasul-Nya dan bisa menguatkannya; maka kecintaan seperti ini adalah terpuji.”

[Ighaatsatul Lahfaan (hlm. 401-Mawaaridul Amaan) karya Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah -rahimahullaah-]

KEBIASAAN HIZBIYYIN YANG MERUPAKAN WARISAN DARI KAUM MUSYRIKIN

KEBIASAAN HIZBIYYIN YANG MERUPAKAN WARISAN DARI KAUM MUSYRIKIN

[1]- Allah -Ta’alalaa- berfirman:

{يَسْأَلُونَكَ عَنِ الشَّهْرِ الْحَرَامِ قِتَالٍ فِيهِ ۖ قُلْ قِتَالٌ فِيهِ كَبِيرٌ ۖ وَصَدٌّ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ وَكُفْرٌ بِهِ وَالْمَسْجِدِ الْحَرَامِ وَإِخْرَاجُ أَهْلِهِ مِنْهُ أَكْبَرُ عِنْدَ اللَّهِ ۚ وَالْفِتْنَةُ أَكْبَرُ مِنَ الْقَتْلِ ۗ …}َ

“Mereka bertanya kepadamu (Muhammad) tentang berperang pada bulan Haram. Katakanlah: “Berperang dalam bulan itu adalah dosa besar; tetapi menghalangi (manusia) dari jalan Allah, kafir kepada Allah, (menghalangi masuk) Masjidil Haram dan mengusir penduduknya dari sekitarnya: adalah lebih besar (dosanya) di sisi Allah. Dan fitnah (kesyirikan kalian) lebih besar (dosanya) daripada membunuh (di bulan Haram)…” (QS. Al-Baqarah: 217)

Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di -rahimahullaah- berkata:

“Ayat ini turun disebabkan kejadian yang menimpa pasukan (kaum muslimin yang dipimpin) ‘Abdullah bin Jahsy yang membunuh (seorang musyrik yang bernama) ‘Amr bin Hadhrami dan mengambil harta mereka (kaum musyrikin) -dan dikatakan bahwa hal itu terjadi di bulan Rajab (yang termasuk dalam bulan Haram)-.

Maka kaum musyrikin mencela mereka (kaum muslimin) disebabkan mereka (menerjang larangan) berperang di bulan haram.

Dan mereka (kaum musyrikin) telah zhalim ketika mencela (kaum muslimin dalam masalah ini); KARENA KEJELEKAN-KEJELEKAN YANG ADA PADA MEREKA (KAUM MUSYRIKIN) ADA YANG LEBIH BESAR DIBANDINGKAN (PERANG DI BULAN HARAM) YANG MEREKA MENCELA KAUM MUSLIMIN DENGANNYA.”

[Taisiirul Kariimir Rahmaan (hlm. 97- cet. Muassasah Ar-Risaalah)]

[2]- Maka, bandingkanlah dengan keadaan kaum Hizbiyyin -dan orang-orang awam kaum muslimin- yang sering mencela Salafiyyin karena kekurangan yang ada -baik dalam amalan maupun sikap keseharian-; PADAHAL PENYIMPANGAN MANHAJ -BAHKAN ‘AQIDAH- YANG ADA PADA HIZBIYYIN DAN LAIN-LAIN: LEBIH BESAR DIBANDINGKAN KEKURANGAN YANG ADA PADA SALAFIYYIN

-ditulis oleh: Ahmad Hendrix-

HARUSKAH MENDENGARKAN SYUBHAT???

HARUSKAH MENDENGARKAN SYUBHAT???

Allah -Subhaanahu Wa Ta’aalaa- berfirman:

الْحَقُّ مِنْ رَبِّكَ فَلا تَكُنْ مِنَ الْمُمْتَرِينَ

“Kebenaran itu dari Rabb-mu, karena itu janganlah engkau termasuk orang yang ragu.” (QS.Ali Imraan: 60)

“Didalam ayat ini…terdapat sebuah kaidah yang mulia; yaitu: bahwa segala perkara yang telah tegak dalil-dalil tentang kebenarannya dan seorang hamba merasa pasti dengannya -baik dalam masalah-masalah ‘Aqidah (keyakinan) maupun yang lainnya-; maka kewajiban (hamba) tersebut adalah meyakini bahwa segala yang menentangnya adalah bathil (tidak benar) dan semua syubhat (kerancuan) yang dipaparkan kepadanya adalah rusak; sama saja apakah hamba tersebut mampu untuk memecahkan (syubhat) tersebut atau tidak. Sehingga ketidak mampuannya dalam menjawab syubhat tersebut; tidaklah merusak ilmunya (yang telah kokoh). Karena segala yang menyelisihi kebenaran: pasti bathil,

…فَمَاذَا بَعْدَ الْحَقِّ إِلا الضَّلالُ…

“…maka tidak ada setelah kebenaran itu melainkan kesesatan…” (QS. Yunus: 32)

Maka dengan kaidah syar’i ini; akan terpecahkan dari seseorang: banyak kejanggalan yang diberikan oleh para ahli kalam dan ahli mantiq.

– Kalau seseorang mampu untuk menemukan jawabannya; maka itu (bagus tapi) tidak wajib atasnya.

– Kalau dia tidak mampu (untuk memecahkannya); maka tugasnya hanyalah menyampaikan kebenaran dan mengajak (manusia) kepadanya.”

[Taisiirul Kariimir Rahmaan (hlm. 133-cet. Muassasah ar-Risaalah), karya Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di -rahimahullaah-]

-diambil dari “Al-Istinbaath (1), Faedah Kesembilan: Prinsip Yang Tak Tergoyahkan”,

karya: Ustadz Ahmad Hendrix-

INILAH YANG SEKARANG INI SANGAT KITA BUTUHKAN…

WALLAAHU A’LAM: INILAH YANG SEKARANG INI SANGAT KITA BUTUHKAN…

BAHKAN: SEBELUM INI DAN SETERUSNYA…

[1]- ADAB DAN SEBAB TERKABULNYA DOA

Berikut adab berdoa dan faktor-faktor penyebab dikabulkannya doa:

1. Ikhlas berdoa karena Allah semata -sebagaimana dalam QS. Al-Mukmin: 14 dan Al-Bayyinah: 5-.

2. Mengawali berdoa dengan pujian dan sanjungan kepada Allah, lalu diikuti bacaan shalawat kepada Rasulullah -shallallaahu ‘alaihi wa sallam-, dan diakhiri dengan cara yang sama.

3. Bersungguh-sungguh di dalam berdoa serta yakin bahwasanya setiap permohonan yang dipanjatkan seorang hamba pastilah dikabulkan oleh Allah -baik sekarang ketika di dunia ataupun kelak ketika kita berada di akhirat-.

4. Mendesak dengan penuh tawadhu’ atau kerendahan hati tatkala berdoa serta tidak terburu-buru dalam memohonkannya.

5. Menghadirkan hati tatkala memanjatkan doa atau permohonan.

6. Memanjatkan doa baik pada waktu dalam keadaan lapang maupun ketika susah.

7. Tidak boleh berdoa ataupun memohon sesuatu kecuali kepada Allah semata; Rabb semesta alam.

8. Merendahkan suara ketika berdoa; yaitu: antara samar-samar dan keras. Ini sebagaimana dalam QS. Al-A’raaf: 55 & 205.

9. Mengakui dosa yang pernah diperbuat, kemudian memohon ampunan atasnya, serta mengakui segala nikmat yang telah diterima, dan juga bersyukur kepada Allah atas segala nikmat tersebut.

10. Tidak perlu kita membebani diri dengan membuat sajak dalam berdoa.

11. Tadharru’ (merendahkan diri), khusyu’, Raghbah (berharap untuk dikabulkan) dan Rahbah (rasa takut tidak dikabulkan). Sikap berdoa yang demikian sebagaimana tersebut dalam QS. Al-Anbiyaa’: 90.

12. Mengembalikan hak orang lain yang dizhalimi disertai dengan taubat.

13. Memanjatkan doa tiga kali.

14. Menghadap kiblat.

15. Berdoa untuk memanjatkan permohonan seraya mengangkat dua tangan.

16. Apabila memungkinkan: maka hendaklah berwudhu terlebih dahulu sebelum memanjatkan doa kepada Allah.

17. Bertawassul kepada Allah dengan Asmaul Husna beserta sifat-sifat-Nya yang Maha Tinggi, atau dengan amal shalih yang pernah dikerjakan sendiri atau dengan doa orang shalih yang masih hidup serta berada di hadapannya.

18. Makanan dan minuman yang dikonsumsi serta pakaian yang dikenakan harus berasal dari usaha yang halal.

19. Menjauhi segala macam kemaksiatan.

20. Harus menegakkan Amar Ma’ruf dan Nahi Munkar; yaitu: dengan menyuruh kepada kebaikan serta mencegah dari kemungkaran.

[2]- WAKTU, KEADAAN, DAN TEMPAT DIKABULKANNYA DOA

Termasuk waktu, keadaan, serta tempat dikabulkannya doa atau permohonan yang dipanjatkan seorang hamba antara lain:

1. Malam Lailatul Qadar.

2. Pertengahan malam terakhir; ketika tinggal sepertiga malam yang terakhir.

3. Pada setiap akhir shalat-shalat wajib.

4. Waktu antara adzan dan iqomat.

5. Suatu waktu pada malam hari.

6. Pada waktu bertemu musuh di medan jihad fii sabiilillah; yakni: ketika berperang demi menegakkan agama Allah.

7. Pada waktu yang tertentu di hari Jum’at. Pendapat yang paling kuat dalam masalah ini: bahwa waktu yang dimaksudkan ialah Ba’da (sesudah) shalat ‘Ashar pada hari Jum’at itu.

8. Tatkala bersujud dalam shalat.

9 . Doa seorang muslim untuk sesama muslim tanpa sepengetahuannya

10. Doa orang yang sedang berpuasa sampai tiba waktu berbuka puasa.

11. Setiap doa yang dipanjatkan hamba setelah mengucap pujian dan sanjungan kepada Allah, serta bershalawat kepada Rasulullah -shallallaahu ‘alaihi wa sallam- ketika Tasyahud akhir.

12. Doa dari musafir: seorang yang sedang bersafar atau melakukan perjalanan.

13. Doa di Shafa.

14. Doa di Marwah.

15. Memanjatkan doa di dalam Ka’bah, juga termasuk orang-orang yang mengerjakan sholat di Hijr (Hijr Isma’il). Karena ia adalah bagian dari Baitullah.

16. Berdoa di Multazam; yaitu: tempat antara pintu Ka’bah dan Hajar Aswad.

17. Doa seorang yang sedang menunaikan ibadah Haji.

18. Doa seorang yang sedang menunaikan ibadah ‘Umroh.

[3]- PENGHALANG TERKABULNYA DOA

1. Mengkonsumsi barang haram; berupa: makanan, dan minuman, atau pakaian, dan yang dari hasil usaha yang haram.

2. Meminta supaya doa yang dipanjatkan cepat terkabul; hingga meninggalkan doa ketika tidak mampu bersabar.

3. Berbuat maksiat dan melakukan apa yang diharamkan Allah.

4. Meninggalkan kewajiban yang telah Allah perintahkan.

5. Tidak bersikap sungguh-sungguh saat memanjatkan doa.

6. Lalai dan dikuasai hawa nafsu.

* diringkas dari: “DO’A & WIRID” (hlm. 79-107, cet. ke-32), karya USTADZ YAZID BIN ‘ABDUL QADIR JAWAS -hafizhahullaah-

PRINSIP AHLUS SUNNAH

Imam Ahmad bin Hanbal -rahimahullaah- menjelaskan siapa yang berhak untuk dikatakan amirul mukminin (pemimpin kaum mukminin) yang harus ditaati, beliau -rahimahullaah- berkata dalam “USHUULUS SUNNAH”:

وَمَنْ وَلِـيَ الْـخِلَافَـةَ وَاجْتَمَعَ الـنَّاسُ عَلَـيْـهِ وَرَضُـوْا بِـهِ، وَمَنْ عَلِـيَهُمْ بِالسَّيْفِ حَتَّى صَارَ خَلِيْفَـةً، وَسُـمِّيَ أَمِـيْرَ الْمُؤْمِــنِـيْـنَ

“(Juga mendengar dan ta’at kepada) siapa saja yang meraih kekhilafahan (kepemimpinan) dan manusia berkumpul (sepakat) dan rela atasnya. Dan (demikian juga) orang yang menguasai mereka dengan pedang (kekerasan) sehingga menjadi khalifah (pemimpin) dan dia dinamakan amirul mukminin (maka dia juga harus dita’ati-pent).”

SYARH:

Para Ulama menyebutkan bahwa cara memilih pemimpin yang ditetapkan oleh Salaf ada dua:

[Lihat: “Fiq-hus Siyaasah asy-Syar’iyyah” (hlm. 135-148), karya Doktor Khalid bin ‘Ali bin Muhammad Al-Anbari -hafizhahullaah-]

1. Dengan cara bai’at yang dilakukan oleh Ahlul Halli Wal ‘Aqdi.

2. Istikhlaaf, yakni: Khalifah (pemimpin) yang akan wafat menentukan satu orang khalifah yang menggantikannya atau menentukan sekelompok orang agar mereka menentukan satu pemimpin di antara mereka.

[Lihat: “Fat-hul Baarii” (XIII/254-cet. Daarus Salaam)]

Dua cara inilah yang dicontohkan oleh para Shahabat -radhiyallaahu ‘anhum-.

Cara pertama dipraktekkan oleh mereka ketika pengangkatan Abu Bakr Ash-Shiddiq -radhiyallaahu ‘anhu- sebagai khalifah, dimana para pembesar Shahabat membai’at beliau di di Saqiifah Bani Sa’idah .

[Lihat: Shahih Al-Bukhari (no. 3667 & 3668)]

Adapun cara kedua, maka dipraktekkan oleh Abu Bakr Ash-Shiddiq ketika mengangkat ‘Umar bin Al-Khaththab sebagai pengganti beliau [Lihat: Shahih Al-Bukhari (no. 7218)]. Juga dipraktekan oleh ‘Umar dengan memberikan amanat kepada enam orang Shahabat -yang kemudian terkenal dengan Ahlu Syuuraa- untuk memilih pemimpin kaum muslimin di antara mereka [Lihat: Shahih Al-Bukhari (no. 3700)].

Inilah dua cara yang syar’i dalam memilih pemimpin yang dicontohkan oleh para Shahabat Nabi -shallallaahu ‘alaihi wa sallam-.

Ada cara yang ketiga yang tidak sesuai dengan syari’at, yaitu: terpilihnya pemimpin dengan cara kekerasan; berupa: pemberontakan, kudeta atau yang semisalnya. Ini hukumnya haram dalam syari’at.

Imam Muhammad Nashiruddin Al-Albani -rahimahullaah- berkata:

“JALAN UNTUK TERBEBAS (DARI KEZHALIMAN PENGUASA) BUKANLAH SEPERTI YANG DISANGKA OLEH SEBAGIAN ORANG; YAITU: REVOLUSI DENGAN MENGANGKAT SENJATA MELAWAN PENGUASA MELALUI KUDETA MILITER. HAL ITU -SELAIN MERUPAKAN BID’AH ZAMAN SEKARANG-; JUGA MENYELISIHI DALIL-DALIL SYAR’I.”

[Syarh Wa Ta’liiq ‘Alaa Al-‘Aqiidah Ath-Thahaawiyyah (hlm.69-cet. Al-Maktab Al-Islaami)]

Akan tetapi, apabila ada seseorang yang berhasil menjadi pemimpin dengan jalan kekerasan tersebut; maka kewajiban kita adalah mentaatinya. Inilah yang dimaksudkan oleh Imam Ahmad dalam perkataan beliau diatas. Hal ini karena melihat sebuah kaidah besar dalam syari’at; yaitu: kaidah memperhatikan maslahat (kebaikan) dan mafsadat (kerusakan). Dimana ketidakta’atan kepada pemimipin semacam ini akan menimbulkan kerusakan yang banyak ditengah-tengah umat.

Dari sini kita mengetahui dua permasalahan penting yang berkaitan dengan kehidupan kita pada zaman sekarang:

Pertama: Cara memilih pemimpin dengan cara Pemilu adalah tidak dicontohkan dalam syari’at, terlebih lagi Pemilu merupakan buah dari Demokrasi yang kufur dan sesat, dimana hukum bukan lagi milik Allah; akan tetapi diserahkan kepada rakyat.

[Lihat: “Tanwiiru Azh-Zhulumaat Li Kasyfi Mafaasid Wa Syubuhaat Al-Intikhabaat”, karya Syaikh Muhammad bin ‘Abdillah Al-Imam -hafizhahullaah-, yang diberi rekomendasi dan muqaddimah oleh Syaikh Muqbil bin Hadi Al-Wadi’i -rahimahullaah-]

Kedua: Walaupun demikian; akan tetapi siapa yang terpilih menjadi pemimipin -dengan cara yang salah ini- maka harus kita ta’ati -selama tidak memerintahkan kepada kemaksiatan-, ini semua demi menjaga kemaslahatan. Karena: PEMIMPIN YANG MENANG DENGAN PEDANG (KEKERASAN) -YANG DENGANNYA SERING TERJADI PERTUMPAHAN DARAH- SAJA: KITA WAJIB TA’AT KEPADANYA; TERLEBIH LAGI PEMIMPIN YANG MENANG DENGAN PEMUNGUTAN SUARA.

Kemudian ada perkara yang ketiga yang berkaitan juga dengan keadaan di sekitar kita; yaitu: dimana beberapa kelompok/jama’ah kaum muslimin yang mereka mengangkat seseorang untuk menjadi pimpinan mereka; banyak di antara mereka yang mem-bai’at pimpinannya dan menganggapnya sebagai Amirul Mukminin (pemimpin kaum mukminin) atau khalifah; maka hal ini tidak benar. Karena yang dinamakan Amirul Mukminin (pemimpin kaum mukminin) atau khalifah adalah yang “manusia berkumpul (sepakat) dan rela atasnya” sebagaimana perkataan Imam Ahmad di atas. Sedangkan yang terjadi di antara kelompok-kelompok tersebut adalah: masing-masing tidak rela dan tidak mengakui pimpinan di luar jama’ah mereka.

Maka kita tanya kepada mereka: Bagaimana kalian mengahadapi sabda Nabi -shallallaahu ‘alaihi wa sallam-:

إِذَا بُـوْيِــعَ لِـخَـلِـيْـفَـتَـيْـنِ؛ فَاقْـتُـلُوا الآخَـرَ مِنْهُمَا

“Jika di bai’at dua khalifah; maka bunuhlah yang lain (yang terakhir).”

[Shahih: HR. Muslim (no. 1853) dari Abu Sa’id Al-Khudri -radhiyallaahu ‘anhu-]

-diambil dari “Syarah Ushulus Sunnah”, karya : Ustadz Ahmad Hendrix-