Apakah demonstrasi termasuk wasilah dakwah yang dibenarkan dalam syariat ?

Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin pernah ditanya:

Apakah demonstrasi termasuk wasilah dakwah yang dibenarkan dalam syariat ?
🍀 Jawab beliau :

demonstrasi adalah cara baru, tidak pernah dikenal di masa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, tidak pula di zaman Khulafaur Rasyidin, dan pula di masa shahabat lainnya radhiyallahu ‘anhum.
Kemudian demonstrasi hanya menimbulkan kekacauan sehingga mengakibatkan perkara terlarang, timbulnya pengrusakan, kaca dipecahkan pintu-pintu dirusak dan hal lainnya, adanya campur baur laki-laki dengan perempuan, kaula muda dengan orang tua, dan kemungkaran lainnya.
Adapun tuntutan dan tekanan kepada penguasa, jika ia adalah penguasa muslim maka cukup dengan nasihat al-Qur’an dan Sunnah Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam, inilah sebaik-baik cara yang diberikan kepada seorang muslim. Adapun jika penguasanya kafir, maka sejatinya mereka tidak peduli kepada para demonstran, dia akan berpura-pura secara zhahir sementara keburukannya terpendam dalam hati, karena itu kami melihat bahwa demonstrasi adalah kemungkaran.
Adapun jika ada yang mengatakan, ini hanya demonstrasi damai, bisa jadi pada awalnya adalah aksi damai, kemudian pengrusakan. Maka saya nasihati para pemuda agar menempuh jalan kaum salaf, karena sesungguhnya Allah memuji kaum Muhajirin dan Anshar, juga orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik.

Lihat al-Jawabul Abhar, hal: 75

FANS CLUB

FANS CLUB

Ditulis Oleh Ustadz Dika Wahyudi Lc.

Dahulu, para ulama sangat menganjurkan para penuntut ilmu agar menghiasi diri mereka dengan akhlak yang mulia di samping mereka mempelajari agama. Bahkan banyak di antara mereka yang menganjurkan belajar adab dan akhlak terlebih dahulu sebelum mereka membuka lembaran kitab hadis, fiqih, tafsir dan cabang ilmu lainnya.

Sebut saja Imam Sufyan Ats-Tsauri (161 H) yang mengatakan: “mereka tidak menyuruh anak-anak mereka untuk menuntut ilmu hingga mereka mempelajari adab dan beribadah selama dua puluh tahun.” (hilytul aulia (VI/361) dinukil dari adab & akhlak penuntut ilmu, syaikh kami Yazid Abdul Qodir Jawas)

Imam Muhammad bin Sirin juga berkata (110 H): “mereka (salafus sholih) mempelajari petunjuk Nabi tentang adab sebagai mana mereka belajar ilmu.” (Al-jaami’ Il Akhlaqir rowi wa adaabis sami’ (I/79))

Namun ketika ilmu dipelajari secara instan, ketika ilmu hanya dinilai dari lembaran-lembaran kertas ijazah ((walaupun kalau seseorang memiliki puluhan lembar ijazah tapi tidak berilmu, Sama saja ijazah itu dengan kertas koran pembungkus gorengan)), dan ketika ilmu diambil tidak lagi dengan hadir di majelis ilmu, ketika banyak orang dalam menuntut ilmu hanya mencukupkan diri dengan mendengarkan dan melihat media, maka untaian adab dan akhlak penuntut ilmu yang dahulu menghiasi kitab-kitab biografi ulama sekarang sudah mulai terlepas dan tercecer dari ikatannya.

Imam as-Sam’ani berkata: “sesungguhnya majelis Imam Ahmad dihadiri lima ribu orang, lima ratus orang mencatat dan sisanya mengambil sifat, adab dan akhlak dari Imam Ahmad.” Abu Bakar al-muthowi’i berkata: “aku datang menghadiri majelis Abu Abdillah (Imam Ahmad) sedangkan dia membacakan hadis pada anak-anaknya selama dua belas tahun. Dan aku tidaklah menulis hadis, akan tetapi aku melihat kepada adab dan akhlaknya.” (siyar a’lamin nubala (XI/316)

Sekarang kau bisa lihat, dai-dai yang ada seakan menggambarkan mereka tidak pernah belajar adab penuntut ilmu, atau lupa, atau pura-pura lupa!!!
Dahulu para salaf takut kalau mereka diikuti orang banyak. Nah sekarang justru ada banyak dai -Allahul musta’an- yang buat Frans Club layaknya klub sepak bola seperti THE JA* MANIA , klub musik seperti SLA***ERS, KERABAT K*TAK, musisi SEPERTI OI (ORANG IN****A) yang punya penggemar dan diidolakan.

Atau bahkan ga beda sama para politikus kotor yang membuat kelompok dan gerombolan orang pendukungnya, seperti TEMAN A**K. Seakan dai ini senang dengan popularitas dan ketenaran. Sungguh ini akan membawa kepada perbuatan ghuluw, dan bagi yang diikuti maupun mengikuti akan terjerat dalam tipu daya iblis. BAHKAN AKAN MENYERET PADA HIZBY.

Coba anda baca mushonnaf Ibnu Abi Syaibah ketika beliau rahimahullah membuat satu bab:
ما يكره للرجل أن يتبع أو يجتمع عليه
APA YANG DIBENCI BAGI SESEORANG KETIKA DIIKUTI DAN MANUSIA BERKUMPUL PADANYA.

Imam Ibnu Abi Syaibah membawakan atsar dari para salaf yang membenci hal demikian.
عن الهيثم قال رأى عاصم بن ضمرة قوما يتبعون رجلا فقال إنها فتنة للمتبوع مذلة للتابع
Dari al-Haitsam ia berkata: “’Ashim bin Dhomroh melihat satu kaum mengikuti seorang lelaki kemudian ia berkata: “sesungguhnya itu adalah fitnah bagi orang yang diikuti dan kehinaan bagi orang yang mengikuti.” (Ibnu Abi Syaibah, Mushonnaf (26313) cet. maktabah ar-Rusyd, Riyadh)

عن حبيب بن أبي ثابت قال رأى بن مسعود ناس فجعلوا يمشون خلفه فقال ألكم حاجة قالوا لا قال ارجعوا فإنها ذلة للتابع فتنة للمتبوع
Dari Habib Bin Abi Tsabit ia berkata: ”manusia melihat Ibnu Mas’ud kemudian mulailah mereka berjalan mengiringi di belakangnya. Kemudian ia berkata: “apakah kalian memiliki keperluan?” mereka berkata: “tidak.” Ia berkata: kembalilah! Sesungguhnya perbuatan kalian adalah kehinaan bagi orang yang mengikuti dan fitnah bagi orang yang diikuti.” (Ibnu Abi Syaibah, Mushonnaf (26314))

عن سليم بن حنظلة قال: أتينا أبي بن كعب لنتحدث عنده، فلما قام قمنا نمشي معه، فلحقه عمر فرفع عليه عمر الدرة فقال: يا أمير المؤمنين! أعلم ما تصنع قال: إنما ترى فتنة للمتبوع مذلة للتابع.
Dari Salim Bin Handzolah ia berkata: “kami mendatangi Ubay Bin Ka’ab untuk berbincang dengannya, ketika ia berdiri, kami pun ikut berdiri berjalan bersama beliau. Kemudian ia bertemu dengan Umar, kemudian Umar mengangkat pecut kepadanya. Maka (Ubay) berkata: “wahai Amirul Mu’minin, aku mengetahui apa yang akan kamu perbuat.” Umar berkata: “sesungguhnya kamu melihat fitnah bagi yang diikuti dan kehinaan bagi yang mengikuti.” (Ibnu Abi Syaibah, Mushonnaf (26315))

Inilah pemahaman salaf dari para sahabat, kalau seseorang mengaku dia adalah pengikut salaf, harusnya dia mencontoh pendahulunya!!
Kalau tidak cukup dengan itu lihat perbuatan ulama salaf terdahulu;

Imam adz-Dzahabi menuliskan biografi seorang imam besar Ayyub As-sakhtiyany dalam kitabnya siar a’lam annubala (VI/22). Berkata Syu’bah: “aku pernah pergi bersama Ayyub karena satu keperluan, dia tidak membiarkanku berjalan bersamanya dan keluar dari sini dan dari sini agar manusia tidak terfitnah dengannya. Berkata Hammad: “aku berjalan bersama Ayyub, dan ia mengambil sebuah jalan yang saya merasa sangat heran, bagaimana ia mengetahui jalan ini, karena dia lari dari manusia takut dikatakan oleh mereka inilah Ayyub!

Imam Ahmad juga berkata: “aku ingin di celah bebukitan kota Mekah sehingga aku tidak dikenal, sungguh, aku telah di uji dengan ketenaran (syuhroh)” (siyar a’lamin nubala (XI/210))

Dan bagi para pengikutnya hendaklah kalian jangan berlebihan mencintai seseorang karena kebaikan dan kesholehannya. Jangan dahulu takjub dengan keilmuan seseorang secara berlebihan. Karena tiada seorang pun yang tahu keistiqomahan seseorang dan dengan apa ia menutup amalnya. Lihatlah sabda Nabi berikut ini:

لَا تَعْجَبُوا بِأَحَدٍ، حَتَّى تَنْظُرُوا بِمَ يُخْتَمُ لَهُ، فَإِنَّ الْعَامِلَ يَعْمَلُ زَمَانًا مِنْ عُمْرِهِ، أَوْ بُرْهَةً مِنْ دَهْرِهِ، بِعَمَلٍ صَالِحٍ، لَوْ مَاتَ عَلَيْهِ دَخَلَ الْجَنَّةَ، ثُمَّ يَتَحَوَّلُ فَيَعْمَلُ عَمَلًا سَيِّئًا، وَإِنَّ الْعَبْدَ لَيَعْمَلُ الْبُرْهَةَ مِنْ دَهْرِهِ بِعَمَلٍ سَيِّئٍ، لَوْ مَاتَ عَلَيْهِ دَخَلَ النَّارَ، ثُمَّ يَتَحَوَّلُ فَيَعْمَلُ عَمَلًا صَالِحًا، وَإِذَا أَرَادَ اللهُ بِعَبْدٍ خَيْرًا اسْتَعْمَلَهُ قَبْلَ مَوْتِهِ “، قَالُوا: يَا رَسُولَ اللهِ وَكَيْفَ يَسْتَعْمِلُهُ ؟ قَالَ ” يُوَفِّقُهُ لِعَمَلٍ صَالِحٍ، ثُمَّ يَقْبِضُهُ عَلَيْه

“janganlah kalian merasa takjub dengan seseorang sampai kalian melihat dengan apa ia menutup amalnya (pada akhir hayatnya). Sesungguhnya ada seseorang yang beramal Soleh dalam waktu yang lama dari umurnya atau sebentar saja dari usianya yang kalau saja ia mati di atas amal itu ia akan masuk surga. Kemudian dia berubah dan beramal dengan amalan yang buruk.
Dan sesungguhnya ada seorang hamba yang beramal sebentar saja dari usianya dengan amalan buruk, uang kalau kiranya dia mati di atas amalan itu ia akan masuk neraka. Kemudian dia berubah, dan beramal dengan amal yang sholih.

Dan apabila Allah menginginkan kebaikan pada seorang hamba ia akan membuatnya mengerjakan kebaikan sebelum ia mati”
Para sahabat bertanya: wahai Rasulullah bagaimana Allah membuatnya mengerjakan kebaikan? Rasul bersabda: “Allah akan memberikan taufiq kepadanya untuk mengerjakan amal Soleh kemudian Allah matikan dia diatasnya” H.R. Ahmad (12214) cet. ar-Risalah lihat ash-Shohihah no. 1334

Semoga bermanfaat

NASIHAT AHLUSSUNNAH WAL JAMAAH

B3u3g3TCMAAOyTf

🚦NASIHAT AHLUSSUNNAH WAL JAMAAH🚦
——— ————
Iblis telah berhasil menipu Bapak manusia padahal beliau adalah orang yang paling alim di dunia yang Allah beri tazkiyah dengan ayatnya :
وَعَلَّمَ آَدَمَ الْأَسْمَاءَ كُلَّهَا
Dan Dia telah mengajarkan Adam semua nama,
sesuatu yang tidak Allah ajarkan kepada kita, janganlah kita merasa lebih pandai lebih cerdas daripada beliau kalau kita tidak ingin disebut merendahkan makna ayat tadi.
Bagaimana kita merasa aman dari tipudaya iblis, apa yag kita andalkan, iblis sangat licik, mungkin jutaan atau trilyunan manusia kena tipunya, bukan hanya orang kafir, juga yang telah beriman tak lepas darinya, banyak yang terjatuh, kita hanya bisa lepas darinya kalau kita masuk ke benteng yang diajarkan rasulullah shallallahu alaihi wa sallam yaitu benteng sunnah. Ahlu sunnah bukan milik penguasa bukan pula milik rakyat dia hanya berpihak hanya kepada sunnah sunnah nabi saja.
Iblis berhasil memecah belah kaum muslimin setingkat sahabat apalagi setingkat manusia zaman sekarang tentu lebih mudah, apalagi terhadap permasalahan yang melibatkan banyak orang, kalau keliru kita akan mempertanggungjawabkan dihadapan Allah,
Perekrutan massa dari dulu sampai sekarang kalau tidak sesuai dengan petunjuk sunnah maka akan menjadi kerugian bagi kaum muslimin itu sendiri.
Tradisi demonstrasi pertama didirikan oleh abdullah bin Saba` al yahudi, jadi bukan dari sunnah nabi kita, korbannya adalah manusia terbaik zaman itu usman bin affan radliallohu `anhu terbunuh,
Perekrutan massa berikutnya, walaupun dengan niat yang paling ikhlas dan dilakukan oleh banyak manusia yang baik baik, berdasarkan ijtihad maksimal yang mereka lakukan untuk memperoleh kebaikan, tetapi tidak direstui ulil amri yang sah, tetap bisa dimanfaatkan oleh iblis dan anak buahnya untuk menistakan kaum muslimin, Para ulama memandangnya sebagai ijtihad yang keliru dan kita tidak boleh menirunya, karena kalau shahabat berselisih maka kita harus mengikuti pendapat mereka yang rajih( kuat) bukan yang marjuh( lemah).
Pemberontak dibawah pimpinan Abdullah bin saba` mengancam Ali radliallohu `anhu jika tidak segera menjadi khalifah dengan pengawasan mereka maka mereka akan menodai kehormatan istri dan wanita para shahabat yang ada di madinah. Kebetulan madinah kosong dari shahabat sebagai reaksi mereka atas perintah Utsman radliallohu `anhu sebelumya untuk tidak menghadang pemberontak karena dia ingin korban pemberontakan cuma dia saja. Lalu para sahabat pergi meninggalkan kota.
Ali radliallohu `anhu berijtihad supaya kaum muslimin secara umum taat kepada beliau yang telah diangkat dan bersikap tenang baru nanti menangkap pembunuh usman radliallohu `anhu, Muawiyah radliallohu`anhu berijtihad tangkap dulu pembunuhnya baru ditegakkan kekhalifahan,
Ulama ahlu sunnah sepakat ijtihad Ali radliallahu `anhu benar, ijtihad Muawiyah radliallohu`anhu salah mendapat satu pahala saja,
Muawiyah radliallohu`anhu mendatangi Ali radliallohu`anhu membawa manusia yang sangat banyak jumlahnya, berniat untuk menasehati Ali radliallohu`anhu terhadap yang dia anggap keliru dan bukan untuk memberontak.
Pada malam menjelang perundingan abdullah bin saba` menyuruh anak buahnya untuk membunuh satu dari pihak Ali radliallohu`anhu dan satu dari pihak Muawiyah radliallohu`anhu, terjadilah salah paham, mereka berperang 70ribu nyawa melayang,
Para sahabat menghukumi para korban itu jubar yakni percuma tidak ada yang harus menebusnya dengan diat atau denda atau qisos, jadilah dia luka yang dalam pada hati keluarga mereka dan kepahitan sejarah.
Perekrutan massa berikutnya mengatasnamakan agama tetapi keliru dan dianggap salah oleh para ulama termasuk Imam Hasan Al bashori ialah perekrutan yang dilakukan Abdurrahman ibnu Al`asy`ats terhadap Hajjaj.
Abdurrahman adalah panglima penakluk turki dan tentaranya adalah para qurra` (penghafal qur`an). Hajjaj adalah tangan kanan khalifah Marwan. Hajjaj Pembunuh berdarah dingin korban di tangannya 120ribu orang disembelih tidak ada ulama yang mencintainya, tetapi salafuna sholeh seperti para shahabat yang masih hidup pada masa itu tidak menganjurkan untuk memberontak pada beliau.
Abdurrahman ibn Al`asy`ats menolak perintah hajjaj untuk memburu raja turki yang masih kafir yang masih sembunyi di pedalaman dan menganggap perintah itu tipu muslihat supaya dia tewas dalam peperangan lalu turki akan dikuasai oleh hajjaj,
kemudian dia mengumpulkan pasukannya mencapai 200ribu tentara ( bukan rakyat biasa) dari para penghafal alqur`an yang mungkin setara dengan jumlah pasukan negri kita.
Ijtihadnya tidak didukung oleh para ulama seperti hasan al bashori dan yang lainnya.
Ia merangsek mulai menyerang Hajjaj sekaligus khalifah Marwan bersama pasukannya peperangan berlangsung berbulan bulan dan hampir khalifah Marwan bersama Hajjaj hancur. Allah tidak menakdirkan itu tetapi bahkan sedikit demi sedikit mereka mulai terdesak sehingga akhirnya Abdurrahman bersembunyi dan meminta perlindungan kepada raja turki yang masih kafir yang dulu ia taklukkan. Hajjaj mengancam raja turki untuk menyerahkan Abdurrahman ibn al`asy`ats maka diserahkan tapi ditengah perjalanan Abdurrahman ibn al`asy`ats menjatuhkan diri ke jurang bunuh diri, wal `iyadzu billah semoga Allah mengampuninya.
Perekrutan berikutnya dalam sejarah adalah pada masa Imam Ahmad bin hambal, karena pada masa belaiu ada juga orang yang ingin melawan kezaliman penguasa dengan cara merekrut manusia dan mengarahkannya kepada penguasa yang zalim yang menganggap alqur`an makhluk (ada kurangnya) dan keyakinan ini diyakini oleh rajanya langsung dan semua rakyat dipaksa untuk meyakininya. Rencana demonnya tidak dibantu oleh Allah dan ditumpas, justru yang berhasil adalah cara yang dilakukan oleh imam Ahmad yang ketika para ulama telah berkumpul dan bersepakat untuk mengerahkan kekuatan kepada penguasa, mereka merasa perlu untuk mendapat restu dari Imam Ahmad dan belaiu tidak mengizinkan bahkan beliau berkata
: “Wajib bagi kalian mengingkari (kejahatan penguasa) di dalam hati-hati kalian, Namun kalian jangan mencabut tangan dari ketaatan (memberontak kepada penguasa), jangan kalian tumpahkan darah-darah kalian dan darah-darah kaum muslimin bersama kalian, pertimbangkanlah akibat kesudahan perkara kalian, dan bersabarlah hingga orang yang baik itu beristirahat (dengan kematiannya dari kesibukan dunia dan penderitaannya) dan berisitirahatlah manusia dari kejahatan orang yang fajir .
Beliau juga berkata: Ini tidaklah benar
Ini menyelisihi atsar.

Suatu saat dia juga berkata yang maknanya : kalian dakwahkan sunnah ke seluruh negri dan kalian perbanyak doa dan aku mencoba menasehati mereka. Ternyata langkah beliau berhasil ulil amri dan rakyat sama-sama kembali kepada sunnah walaupun harus melalui empat kali ganti penguasa Alma`mun, almu`tashim, al watsiq, al-mutawakkil,
Kejadian demi kejadian terus berlangsung sampai zaman ini FIS aljazair dengan demonya dan sudah 80% mereka memenangkan pemilu, akibatnya ratusan ribu manusia tewas di bantai, mesir untuk membela pemimpinya yang di kudeta mereka ingin mengkudeta balik hasilnya ribuan manusia juga seperti itu. Tidakkah cukup contoh yang dilakukan amirul mukminin ahlisunnah Imam Ahmad bin Hambal?

قُلِ اللَّهُمَّ مَالِكَ الْمُلْكِ تُؤْتِي الْمُلْكَ مَنْ تَشَاءُ وَتَنْزِعُ الْمُلْكَ مِمَّنْ تَشَاءُ وَتُعِزُّ مَنْ تَشَاءُ وَتُذِلُّ مَنْ تَشَاءُ بِيَدِكَ الْخَيْرُ إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِير
Katakanlah : Ya Allah Engkaulah penguasa dari segala penguasa kau berikan kekuasaan kepada yang engkau kehendaki dan engkau cabut kekuasaan dari yang yang engkau kehendaki, Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engau hinakan orang yang engkau kehendaki, Kebaikan itu di tanganMu dan Engkau maha kuasa atas segala sesuatu.(ali imran 26)
وَكَذَلِكَ نُوَلِّي بَعْضَ الظَّالِمِينَ بَعْضًا بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ (129)
Dan demikianlah kami kuasakan sebagian orang yang zholim kepada sebagian orang zholim yang lain disebabkan apa yang telah mereka perbuat(ali Imran 129)
Kalau kita tidak ingin dikuasai orang zholim maka kita harus menghilangkan kezholiman dari diri kita dan masyarakat kita dan caranyapun bukan dengan cara yang zholim (tidak pada tempatnya) tapi dengan cara yang sunnah. Alangkah banyaknya yang harus diperbaiki maka mulailah dari Kezholiman kesyirikan (dakwah tauhid) Kemudian untuk perbaikan umat kita ikuti amirul mukminin ahlu sunnah wal jamaah Imam Ahmad bin Hambal yang telah berpesan yang maknanya :
“Kalian sebarkan ilmu sunnah diseluruh negri, perbanyak doa. Aku akan menasehati mereka (bukan di depan umum)”.
Tidak usah kita mencari perhatian menusia, penguasa dan dunia apalagi wartawan dengan demo, sangat tipis harapan berhasil dan resiko besar ( telah beredar pamflet yang merekrut massa untuk melakukan aksi dan yang mau ikut supaya berwasiat kepada keluarga mungkin mereka tidak kembali) jangan kita terkena hadis nabi tentang fatwa yang salah sampai orang yang menjalankan fatwa itu meninggal lalu Rasul bersabda kepada mereka:
” قتلوه قتلهم الله “
*merekalah yang membunuhnya semoga Allah membunuh mereka*“
apakah kalau kita terbunuh dengan sebab fatwa yang salah pasti dapat jaminan masuk sorga, bukankah nabi bersabda seperti itu dalam rangka mencela orang yang memberi fatwa sembarangan dan bukan memujinya ? hadis ini diriwayatkan oleh Abu Daud dan dihasankan oleh syaikh Al bani.
carilah perhatian Allah kepada kita di senyapnya malam dengan doa doa seluruh negri dari ikhwan ikhwan yang ikhlas untuk agama ini dan siang hari sibuk dengan penyebaran ilmu dan sunnah. Jangan mengorbankan manusia pada hal hal yang masih samar yang salafuna shaleh tidak mendukungnya.
Ya Allah gabungkan semangat kami dan kecemburuan kami kepada agama ini dengan ilmu yang bermanfaat dan amal yang shaleh tepat sesuai petunjuk nabi kami dengan pemahaman para pendahulu kami yang shaleh shaleh. Berilah keimanan dan keamanan kepada penguasa dan rakyat negri kami jauhkan kami dari fitnah yang membinasakan agama dan dunia kami.
سبحانك اللهم وبحمدك أشهد أن لا إله إلا أنت استغفرك و أتوب إليك

Rujukan
“al-Adab asy-Syar’iyyah” karya Ibnu Muflih, “as-Sunnah” karya al-Khallal dan siyar `alamin nubala` karya Imam Adz Dzahabi tentang biografi Imam Ahmad.

SETIDAKNYA…KITA SUDAH BERUSAHA…

SETIDAKNYA…KITA SUDAH BERUSAHA…

Syaikh ‘Abdul Malik bin Ahmad Ramadhani -hafizhahullaah- berkata:

“Setelah kejadian penghancuran yang dinamakan dengan 11 September; maka manusia sangat gembira dan berbahagia, dan kebahagiaan mereka melampaui angan-angannya. Sungguh, kami ketika itu -yang jumlahnya sedikit sekali-: kami mengetahui bahwa perbuatan ini adalah fitnah (ujian yang mengarah kepada kejelekan) dan bukan jihad, karena hal itu akan menyeret kaum muslimin kepada kerugian yang besar dalam urusan agama maupun selainnya. Akan tetapi sungguh, waktu itu kami benar-benar HAMPIR-HAMPIR TIDAK MAMPU UNTUK MENGINGKARI kecuali dengan hati-hati kami, kami tidak banyak peduli untuk membantah orang-orang yang mendukung hal tersebut sampai mereka sadar dari mabuknya, KARENA TIDAK TERMASUK HIKMAH BICARA KEPADA ORANG-ORANG YANG SEDANG MABUK. Dan sungguh sejak dahulu sudah dikatakan: “Barangsiapa yang tidak mengambil pelajaran dengan kejadian; maka dia tidak akan mengambil manfaat dari celaan.” Bahkan KALAU ENGKAU -KETIKA ITU- BICARA SESUAI DENGAN FIQIH JIHAD NABI; MAKA BANYAK ORANG DI ANTARA MEREKA YANG TIDAK MERAGUKAN LAGI AKAN KEKAFIRANMU, DAN SUNGGUH, MEREKA AKAN MENGHUJANIMU DENGAN AYAT-AYAT WALA WAL BARA’, DAN MEREKA AKAN MENGATAKAN BAHWA ENGKAU MUNAFIK; KARENA ENGKAU MEMBELA ORANG-ORANG KAFIR YANG ZHALIM DAN ENGKAU TIDAK SUKA DENGAN KEMENANGAN KAUM MUSLIMIN. Dan aku tidak tahu: kemenangan mana yang didapatkan oleh kaum muslimin setelah dihancurkannya 2 gedung tersebut; melainkan hanya dihancurkannya 2 negeri kaum muslimin sebagai ganti dari 2 gedung tersebut: Afghanistan dan Irak -kita minta kepada Allah untuk mengangkat musibah yang menimpa kedua negeri tersebut dan agar Allah membinasakan setiap musuh kaum muslimin-. Bersamaan dengan kerugian ini; mereka menyebutnya sebagai “perang”!! Padahal mereka menyaksikan apa yang dialami kaum muslimin berupa tercegah (dari kebaikan) dan terkena kerendahan serta kehinaan!

Dan saya tidak tahu: kemenangan mana yang dicapai kaum muslimin; padahal dengan sebab peristiwa tersebut banyak dari kaum muslimin yang ikut jadi korban -itu kalau mereka benar-benar jujur mempunyai belas kasihan terhadap kaum muslimin?!- Bagaimana bisa terbunuhnya puluhan kaum muslimin (dalam peristiwa tersebut) -apa lagi yang tidak bersalah di antara mereka- dianggap remeh hanya untuk membuat marah musuh dengan menghancurkan 2 bangunan, kemudian dikatakan: “Kita telah menjadikan mereka mengalami kerugian yang besar dalam bidang ekonomi.” Apa artinya ekonomi dibandingkan menghilangkan ruh seorang muslim?! Dan Nabi yang sangat penyayang dan penyantun kepada umatnya -shallallaahu ‘alaihi wa sallam- telah mengabarkan bahwa kebinasaan dunia semuanya -dengan gedung-gedungnya, sungai-sungainya dan gunung-gunungnya- adalah lebih ringan di sisi Allah dibandingkan pembunuhan satu orang muslim saja, beliau bersabda:

لَزَوَالُ الدُّنْيَا أَهْوَنُ عَلَى اللهِ مِنْ قَتْلِ رَجُلٍ مُسْلِمٍ

“Sungguh, hilangnya dunia lebih ringan di sisi Allah dibandingkan pembunuhan seorang muslim.”

HR. At-Tirmidzi (no. 1395), An-Nasa-i (no. 3987), Ibnu Majah (no. 2619), dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani -rahimahullaah-.

Dan terjadi banyak kerusakan dalam Dakwah setelah kejadian tersebut -sebagaimana yang telah saya jelaskan secara global-; itupun kalau mereka benar-benar mempunyai perhatian terhadap Dakwah Islam.

– Akan tetapi dorongan syahwat kemarahan telah menghalangi pandangan bijaksana dari mata mereka.

– Dan keinginan untuk membalas dendam telah melupakan mereka untuk lebih mendahulukan kemaslahatan yang umum, dan juga telah mendorong mereka untuk terburu-buru hingga membutakan mereka dari melihat hasil akhirnya, serta (membutakan) untuk menimbang antara maslahat dan mafsadat.

– Ditambah lagi kurangnya keikhlasan; sehingga menjadikan seseorang untuk lebih mendahulukan maslahat memuaskan diri daripada maslahat agama.”

[Tamyiiz Dzawil Fithan Baina Syarafil Jihaad Wa Sarafil Fitan (hlm. 164-165), karya Syaikh ‘Abdul Malik bin Ahmad Ramadhani -hafizhahullaah-]

Ustadz Ahmad Hendrix-