BINGUNG DENGAN PERSELISIHAN? INTROSPEKSI DIRI AJA DULU….

BINGUNG DENGAN PERSELISIHAN? INTROSPEKSI DIRI AJA DULU….

[35]- Apakah Shalawat Dari Malaikat Mempunyai Pengaruh Bagi Kehidupan Kita?

“Allah Ta’aalaa berfirman:

هُوَ الَّذِي يُصَلِّي عَلَيْكُمْ وَمَلَائِكَتُهُ لِيُخْرِجَكُمْ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ ۚ …

“Dialah yang memberi shalawat kepadamu dan Malaikat-Nya, supaya Dia mengeluarkan kamu dari kegelapan kepada cahaya (yang terang)…” (QS. Al-Ahzaab: 43)

Ayat ini memberikan faedah bahwa (shalawat Allah; yakni:) penyebutan Allah kepada kita di sisi Malaikat-Nya, dan (shalawat Malaikat; yakni:) do’a para Malaikat dan permintaan ampun mereka untuk kaum mukminin: adalah mempunyai pengaruh untuk hidayah bagi kita dan agar kita terbebas dari kegelapan kekufuran, kesyirikan dosa dan kemaksiatan; menuju jalan kebenaran -yaitu: Islam-. Dan agar kita mengetahui apa yang Allah inginkan, dan AGAR KITA BISA MENDAPATKAN CAHAYA YANG AKAN MENUNTUN KITA KEPADA KEBENARAN DALAM (MENYIKAPI): PERBUATAN, PERKATAAN, DAN INDIVIDU.”

[‘Aalamul Malaaikatil Abraar (hlm. 67), karya Syaikh ‘Umar Sulaiman Al-Asyqar -rahimahullaah-]

[36]- Antara Amalan Dan Kesesatan

Dari sini kita mengetahui: ketika ada perselisihan tentang benar atau tidaknya suatu perkataan, perbuatan atau individu: Jika ada orang-orang yang berselisih atau orang-orang yang menyelisihi kita dalam masalah perkataan, perbuatan atau individu tertentu; maka sebelum kita mencela mereka yang berselisih -atau salah satu pihak- (dengan alasan membuat kita bingung, membuat fitnah ataupun lainnya): hendaknya kita koreksi terlebih dahulu diri-diri kita: apa kekurangan kita sehingga tidak bisa mendapatkan kebenaran dalam masalah tersebut? Apakah ada kekurangan amalan? Ataukah berlebihnya kemaksiat-an!!!

Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah rahimahullaah berkata:

“SEMAKIN KUAT KEGELAPAN (MAKSIAT); MAKA AKAN SEMAKIN BERTAMBAH KEBINGUNANNYA; SAMPAI BISA MENJATUHKANNYA KE DALAM BID’AH, KESESATAN, DAN PERKARA-PERKARA YANG MEMBINASAKAN; SEDANGKAN_DIA_TIDAK_MENYADARI.”

[Ad-Daa’ Wad Dawaa’ (hlm. 87)]

-diambil dari buku “Iman (Faedah-Faedah Rukun Iman)” (hlm. 83-84), karya Ustadz Ahmad Hendrix-

BENARLAH SEGALA YANG DIFIRMANKAN ALLAH

قُلْ صَدَقَ اللهُ…

“KATAKANLAH: BENARLAH (SEGALA YANG DIFIRMANKAN) ALLAH…” (QS. Ali ‘Imran: 95)

[1]- Allah -Ta’aalaa- berfirman:

أَلَمْ تَرَ كَيْفَ فَعَلَ رَبُّكَ بِعَادٍ * إِرَمَ ذَاتِ الْعِمَادِ * إِرَمَ ذَاتِ الْعِمَادِ * الَّتِي لَمْ يُخْلَقْ مِثْلُهَا فِي الْبِلادِ * وَثَمُودَ الَّذِينَ جَابُوا الصَّخْرَ بِالْوَادِ * وَفِرْعَوْنَ ذِي الأوْتَادِ * الَّذِينَ طَغَوْا فِي الْبِلادِ * فَأَكْثَرُوا فِيهَا الْفَسَادَ * فَصَبَّ عَلَيْهِمْ رَبُّكَ سَوْطَ عَذَابٍ * إِنَّ رَبَّكَ لَبِالْمِرْصَادِ

“Tidakkah engkau memperhatikan bagaimana Rabb-mu berbuat terhadap kaum ‘Ad? (Yaitu) penduduk Iram yang mempunyai bangunan-bangunan yang tinggi, yang belum pernah dibangun (suatu kota) seperti itu; di negeri-negeri lain. Dan (terhadap) kaum Tsamud yang memotong batu-batu besar di lembah. Dan (terhadap) Fira’un yang mempunyai pasak-pasak (bangunan yang banyak), yang berbuat sewenang-wenang dalam negeri, lalu mereka berbuat banyak kerusakan dalam negeri itu. Karena itu Rabb-mu menimpakan cemeti adzab kepada mereka. Sungguh, Rabb-mu benar-benar mengawasi.” (QS. Al-Fajr: 6-14)

[2]- Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah -rahimahullaah- berkata:

“Ayat ini mengandung celaan terhadap orang yang terpedaya dengan: kekuatannya, kekuasaannya, dan hartanya. Mereka lah tiga golongan kaum tersebut:

– Kaum ‘Ad: terpedaya dengan kekuatan mereka.

– Tsamud: terpedaya dengan taman-taman, mata air, pertanian, dan perkebunan mereka.

– Dan kaum FIR’AUN: terpedaya dengan HARTA DAN KEKUASAAN.

Maka kesudahan mereka adalah sebagaimana yang Allah kisahkan kepada kita. Dan inilah perlakuan Allah terhadap SETIAP ORANG yang terpedaya dengan hal-hal tesebut: ALLAH PASTI AKAN MERUSAK (APA YANG DIBANGGAKAN)NYA DAN MENCABUT HAL ITU DARINYA.”

[“At-Tibyaan Fii Aymaanil Qur’aan” (hlm. 49-50)]

-ditulis oleh: UAhmad Hendrix-

CINTA TERLARANG

CINTA TERLARANG

Bagian 1

SEBELUM MASUK PEMBAHASAN INTI; maka perlu diketahui bahwa cinta ada beberapa macam:

PERTAMA: CINTA IBADAH

Yaitu: Cinta yang mengharuskan adanya penghinaan diri dan pengagungan kepada yang dicintai, dan didalam hati orang yang mencintai terdapat adanya pemuliaan dan pengagungan terhadap yang dicintai yang menuntut adanya pelaksanaan terhadap perintahnya dan menjauhi larangannya.

Cinta seperti ini harus dikhususkan bagi Allah semata. Inilah yang dinamakan dengan “Mahabbatullaah” (cinta kepada Allah).

Kalau cinta ibadah ini dipersembahkan kepada selain Allah, maka pelakunya terjatuh kedalam kesyirikan. Seperti yang Allah firmankan tentang orang-orang musyrik:

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَتَّخِذُ مِنْ دُونِ اللهِ أَنْدَادًا يُحِبُّونَهُمْ كَحُبِّ اللهِ…

“Dan diantara manusia ada orang yang menyembah tuhan selain Allah sebagai tandingan yang mereka cintai seperti mencintai Allah. Adapun orang-yang beriman sangat (lebih) besar cintanya kepada Allah…” (QS. Al-Baqarah: 165).

“Mahabbah Syirkiyyah” (cinta yang syirik) ini ada pada orang-orang yang beribadah kepada kubur orang-orang shalih atau wali-wali, juga terjadi pada sebagian pembantu (bawahan) kepada tokoh-tokoh atau atasan-atasannya.

[Lihat: “Al-Qaulul Mufiid” (II/44 dan 47-48) karya Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin -rahimahullaah-]

KEDUA: CINTA KARENA ALLAH

Yaitu: Cinta kepada apa-apa yang dicintai Allah dan cinta kepada orang-orang yang dicintai oleh Allah. Ini temasuk kesempurnaan iman.

[Lihat: “Fat-hul Majiid” (hlm. 390) karya Syaikh ‘Abdurrahman bin Hasan Aalu Syaikh -rahimahullaah-]

Para ulama menjelaskan cinta jenis ini dalam pembahasan mereka tentang Al-Walaa’ dan Al-Baraa’.

Al-Walaa’ artinya: Penyesuaian diri seorang hamba terhadap apa yang disukai dan diridhai Allah, berupa perkataan, perbuatan, kepercayaan (keyakinan), dan orang.

Al-Baraa’ artinya: Penyesuaian diri seorang hamba terhadap apa yang dibenci dan dimurkai Allah, berupa perkataan, perbuatan, kepercayaan (keyakinan), dan orang.

Dari sini kemudian kaitan-kaitan Al-Walaa’ dan Al-Baraa’dibagi menjadi empat

1- PERKATAAN, maka dzikir dicintai Allah, sedangkan mencela dan memaki dibenci Allah.

2- PERBUATAN; shalat, puasa, zakat, sedekah, berbuat kebajikan, dan mengerjakan sunnah-sunnah Rasul -shallallaahu ‘alaihi wa sallam- dicintai Allah sedangkan zina, minum khamr, berbuat syirik, dan berbuat bid’ah dibenci Allah.

3- KEPERCAYAAN (KEYAKINAN); iman dan tauhid dicintai Allah sedang kufur dan syirik dibenci Allah.

4- ORANG; orang-orang yang shalih, para nabi dan rasul dicintai Allah sedangkan orang-orang kafir, musrik, dan munafiq dibenci Allah.

[Lihat: Prinsip Dasar Islam (hlm. 221-223) karya Ustadz Yazid bin ‘Abdul Qadir Jawas -hafizhahullaah-]

Maka, masuk dalam kategori Cinta Karena Allah adalah Cinta kepada Rasulullah -shallallaahu ‘alaihi wa sallam-. Bahkan beliau harus kita cintai melebihi kecintaan kita kepada anak-anak kita, orang tua kita, bahkan seluruh manusia.

Rasulullah -shallallaahu ‘alaihi wa sallam- bersabda:

لَا يُـؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُـوْنَ أَحَبَّ إِلَـيْـهِ مِنْ وَالِدِهِ، وَوَلَدِهِ، وَالـنَّاسِ أَجْـمَعِـيْـنَ.

“Tidaklah beriman seorang diantara kalian hingga aku lebih dicintainya melebihi kecintannya kepada orang tuanya, anaknya, dan seluruh manusia”.

[Muttafaqun ‘Alaihi: HR. Al-Bukhari (no. 15), Muslim (no. 44), Ahmad (III/275), dan An-Nasa-i (VIII/114-115), dari Shahabat Anas bin Malik -radhiyallaahu ‘anhu-]

Bahkan, demi sempurnanya kecintaan kita kepada Rasulullah -shallallaahu ‘alaihi wa sallam-, kita harus mencintai beliau melebihi kecintaan kita kepada diri sendiri.

Sebagaimana yang tedapat dalam kisah ‘Umar bin Al-Khaththab -radhiyallaahu ‘anhu-, yaitu sebuah hadits dari Shahabat ‘Abdullah bin Hisyam -radhiyallaahu ‘anhu-, ia berkata: “Kami mengiringi Nabi -shallallaahu ‘alaihi wa sallam-, dan beliau menggandeng tangan ‘Umar bin Al-Khaththab -radhiyallaahu ‘anhu-. Kemudian ‘Umar berkata kepada Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam: ‘Wahai Rasulullah, sungguh engkau sangat aku cintai melebihi apapun selain diriku.’ Maka Nabi -shallallaahu ‘alaihi wa sallam- menjawab: ‘Tidak, demi (Allah) yang jiwaku berada ditangan-Nya, (hal itu belum cukup-pent) hingga aku sangat engkau cintai melebihi dirimu.’ Lalu ‘Umar berkata: ‘Sungguh sekaranglah saatnya, demi Allah, engkau sangat aku cintai melebihi diriku.’ Maka Nabi -shallallaahu ‘alaihi wa sallam- bersabda: ‘Sekarang (engkau benar), wahai ‘Umar.’”

[Shahih: HR. Al-Bukhari (no. 6632)]

Akan tetapi, “barangsiapa mengklaim (mengaku) cinta kepada Nabi -shallallaahu ‘alaihi wa sallam- tanpa mutaaba’ah (mengikuti sunnah beliau-pent), dan tanpa mendahulukan perkataan beliau dari perkataan selain beliau, maka dia telah berdusta (dalam pengakuannya). Sebagaimana firman (Allah) -Ta’aalaa-:

وَيَقُولُونَ آمَنَّا بِاللهِ وَبِالرَّسُولِ وَأَطَعْنَا ثُمَّ يَتَوَلَّى فَرِيقٌ مِنْهُمْ مِنْ بَعْدِ ذَلِكَ وَمَا أُولَئِكَ بِالْمُؤْمِنِينَ

“Dan mereka (orang-orang munafik) berkata, “Kami telah beriman kepada Allah dan Rasul (Muhammad), dan kami menaati (Allah dan Rasul).” Kemudian mereka berpaling setelah itu. Mereka itu bukanlah orang-orang beriman.” (QS. An-Nuur: 47).

Maka (dalam ayat diatas), Dia (Allah) menafikan (meniadakan) keimanan dari orang yang berpaling dari ketaatan kepada Rasul -shallallaahu ‘alaihi wa sallam-.”

[Fat-hul Majiid (hlm.386-387) karya Syaikh ‘Abdurrahman bin Hasan Aalu Syaikh –rahimahullaah-]

Dan juga termasuk BUKTI cinta kepada Rasul -shallallaahu ‘alaihi wa sallam- adalah: “menolong Sunnah [perkataan, perbuatan, dan ketetapan] beliau, membela syari’atnya dan membantah orang-orang yang menentangnya, serta memerintahkan kepada yang ma’ruf dan melarang dari yang mungkar (amar ma’ruf nahi munkar).”

[“Fat-hul Baari” (I/83-cet. Daarus Salaam) karya al-Hafizh Ibnu Hajar al-‘Asqalani -rahimahullaah-]

KETIGA: CINTA SECARA TABI’AT

Yaitu: Kecenderungan seorang manusia kepada sesuatu yang sesuai dengan tabiatnya, seperti: seorang yang haus cinta kepada air minum, orang yang lapar cinta kepada makanan, orang yang mengantuk cinta kepada tidur, atau kecintaan seseorang kepada istri dan anaknya.

Maka kecintaan seperti ini -pada asalnya- adalah tidak tercela, bahkan bisa menjadi ibadah kalau diniatkan untuk ketaatan.

[Lihat: Al-Qaulul Mufiid (II/45-46) karya Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin -rahimahullaah-]

Rasulullah -shallallaahu ‘alaihi wa sallam- bersabda:

إِنَّـمَا الأَعْمَالُ بِالـنِّــيَّـاتِ وَإِنَّـمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَـوَى…

“Sesungguhnya amal-amal itu (tergantung) pada niatnya. Dan sesungguhnya setiap orang akan memperoleh (dari Allah) sesuai dengan apa yang diniatkannya…”

[Muttafaqun ‘Alaihi: HR. Al-Bukhari (no. 1) dan Muslim (no. 1907), dari Shahabat ‘Umar bin Al-Khaththab -radhiyallaahu ‘anhu-]

Sebaliknya, kecintaan seperti ini bisa tercela jika melalaikan dari berdzikir kepada Allah dan menyibukkan diri dari kecintaan kepada-Nya. Allah -Subhaanahu Wa Ta’aalaa- berfirman:

قُلْ إِنْ كَانَ آبَاؤُكُمْ وَأَبْنَاؤُكُمْ وَإِخْوَانُكُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ وَعَشِيرَتُكُمْ وَأَمْوَالٌ اقْتَرَفْتُمُوهَا وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسَاكِنُ تَرْضَوْنَهَا أَحَبَّ إِلَيْكُمْ مِنَ اللهِ وَرَسُولِهِ وَجِهَادٍ فِي سَبِيلِهِ فَتَرَبَّصُوا حَتَّى يَأْتِيَ اللهُ بِأَمْرِهِ وَاللهُ لا يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ

“Katakanlah, “Jika bapak-bapakmu, anak-anakmu, saudara-saudaramu, istri-istrimu, keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perdagangan yang kamu khawatirkan kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, lebih kamu cintai daripada Allah dan rasul-Nya serta berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah memberikan keputusan-Nya.” Dan Allah tidak memberikan petunjuk kepada orang-orang fasik.” (QS. At-Taubah: 24).

Termasuk kecintaan yang tercela adalah kecintaan yang bisa memutuskan kecintaan kepada Allah atau menguranginya. Seperti seorang pria yang jatuh cinta kepada wanita yang tidak halal baginya -sebagaimana akan diluaskan pembahasannya-.

-ditulis oleh: Ustadz Ahmad Hendrix-

SETELAH SESEORANG PULANG DARI JIHAD PUN; HENDAKNYA DIA MENGAMBIL ILMU DARI YANG TIDAK BERANGKAT…

SETELAH SESEORANG PULANG DARI JIHAD PUN; HENDAKNYA DIA MENGAMBIL ILMU DARI YANG TIDAK BERANGKAT…

Allah -Subhaanahu Wa Ta’aalaa- berfirman:

وَمَا كَانَ الْمُؤْمِنُونَ لِيَنْفِرُوا كَافَّةً ۚ فَلَوْلَا نَفَرَ مِنْ كُلِّ فِرْقَةٍ مِنْهُمْ طَائِفَةٌ لِيَتَفَقَّهُوا فِي الدِّينِ وَلِيُنْذِرُوا قَوْمَهُمْ إِذَا رَجَعُوا إِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُونَ

“Dan tidak sepatutnya bagi kaum mukminin untuk pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka: beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama, dan untuk (nantinya) memberi peringatan kepada kaumnya; apabila mereka telah kembali (dari Jihad), agar mereka itu dapat menjaga dirinya.” (QS. At-Taubah: 122)

“(Yakni): janganlah kaum Mukminin berangkat Jihad semuanya, bahkan hendaknya: (1)ada sekelompok yang berangkat Jihad, dan (2)sebagian lainnya tidak berangkat Jihad; dengan tujuan untuk belajar agama.

Setelah kelompok yang berjihad datang kembali; maka yang tidak berangkat bertugas untuk: mengajarkan dan memahamkan mereka terhadap ilmu agama, tentang halal dan haram.”

[“Miftaah Daaris Sa’aadah” (I/335), karya Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah -rahimahullaah-]

“Dan di dalam ayat ini juga terdapat dalil, dan pengarahan, serta peringatan yang halus terhadap sebuah faedah yang penting; yaitu: Bahwa kaum muslimin hendaknya menyiapkan untuk setiap kemaslahatan dari maslahat-maslahat yang umum (disiapkan): orang-orang yang bisa untuk menunaikannya, dan dia memfokuskan waktunya untuk masalah tersebut, serta dia berusaha keras untuk mengurusinya, dan tidak berpaling kepada maslahat yang lainnya (karena itu tugas masing-masing ahlinya-pent), agar maslahat kaum muslimin secara keseluruhan tegak, dan agar sempurna manfaat yang mereka dapatkan. Sehingga arah mereka, dan niat mereka adalah satu; yaitu: tegaknya maslahat agama dan dunia mereka; walaupun berbeda-beda jalan dan berbilang masing-masing kemampuan. Maka amalannya berbeda-beda; akan tetapi tujuannya satu. Dan ini termasuk hikmah umum yang bermanfaat pada segala perkara.”

[“Taisiirul Kariimir Rahmaan” (hlm. 355- cet. Mu-assasah Ar-Risaalah), karya Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di -rahimahullaah-]

-ditulis oleh: Ustadz Ahmad Hendrix-

MINTALAH FATWA PADA HATIMU…

MINTALAH FATWA PADA HATIMU…

[1]- Rasulullah -shallallaahu ‘alaihi wa sallam-:

اِسْتِفْتِ قَلْبَكَ، اَلْبِرُّ مَا اطْمَأَنَّتْ إِلَيْهِ النَّفْسُ، وَاطْمَأَنَّ إِلَيْهِ الْقَلْبُ، وَالْإِثْـمُ مَا حَاكَ فِي النَّفْسِ، وَتَرَدَّدَ فِي الصَّدْرِ، وَإِنْ أَفْتَاكَ النَّاس وَأَفْتَوْكَ

“Mintalah fatwa pada dirimu: Kebajikan adalah yang membuat tenteram jiwa dan hati, sedangkan dosa adalah yang menggoncangkan di jiwa dan meragukan di hati, walaupun manusia memberi fatwa kepadamu dan mereka memberi fatwa kepadamu.”

[Lihat: “Al-Arba’iin AN-Nawawiyyah” no. 27]

[2]- Hadits ini adalah berkaitan dengan apa yang diistilahkan dengan: “Tahqiiqul Manaath Al-Khaashsh” (perwujudan “Manaath” secara khusus); yakni: Penerapan hukum syar’i terhadap perkara/realita yang ada.

[Lihat: “Al-Muwaafaqaat” (V/24-245), karya Imam Asy-Syathibi dan “Syarh Al-Waraqaat” (hlm. 559-560), karya Syaikh Masyhur bin Hasan Alu Salman]

[3]- Imam Asy-Syathibi -rahimahullaah- berkata:

“Ketahuilah bahwa setiap masalah adalah membutuhkan kepada dua pandangan: (1)melihat kepada hukum syar’i, dan (2)melihat kepada “Manaath” (keterkaitannya)…

Maka (contohnya seperti):

– bagi orang yang memiliki daging hewan sembelihan; maka halal baginya untuk memakannya, dikarenakan ke-halal-annya jelas baginya, karena telah terpenuhi syarat ke-halal-an; dengan terwujud “Manaath” (daging) tersebut jika ditinjau dari sudut pandangnya,

– atau orang yang memiliki daging bangkai; maka tidak halal baginya untuk memakannya, dikarenakan ke-haram-annya jelas baginya, karena telah hilang syarat ke-halal-an, dengan terwujud “Manaath” (daging) tersebut jika ditinjau dari sudut pandangnya.

Dan masing-masing dari dua “Manaath” tersebut kembali kepada apa yang ada dalam hati dan yang jiwa tenang kepadanya; bukan kepada dzat perkara itu sendiri. Tidakkah anda perhatikan bahwa bisa jadi dagingnya SATU dzatnya, dimana ada yang meyakini ke-halal-annya -sesuai dengan “Manaath” yang terwujud baginya-, akan tetapi ada orang lain yang meyakini ke-haram-annya -sesuai dengan “Manaath” yang terwujud baginya-. Sehingga yang pertama memakannya dengan halal, dan kewajiban yang kedua adalah menjauhinya dikarenakan ke-haram-annya (baginya)…

Maka hukum syari’at di sini sudah jelas. Adapun yang penerapannya meragukan bagimu; maka tinggalkanlah, dan jangan sampai kamu mengambilnya! Dan inilah makna sabda beliau -kalau Shahih-: “Mintalah fatwa kepada hatimu…walaupun mereka memberi fatwa”. Karena perwujudan “Manaath”-mu adalah khusus bagimu; tidak berkaitan dengan orang lain yang keadaannya sepertimu.

Hal ini akan semakin jelas ketika: ada “Manaath” yang masih musykil (janggal) bagimu sedangkan orang lain tidak menganggapnya musykil (janggal); karena tidak nampak baginya hal yang telah nampak bagimu…

Tapi, terkadang anda tidak memiliki kemampuan atau ketenangan untuk mewujudkan “Manaath”; sehingga orang lain lah yang mewujudkannya untukmu, dan anda TAKLID kepadanya. Dan keadaan ini tidak masuk dalam kandungan Hadits.”

[“Al-I’tishaam” (II/666-668- tahqiiq Syaikh Salim Al-Hilali)]

-ditulis oleh: Ustadz Ahmad Hendrix-