SETELAH SESEORANG PULANG DARI JIHAD PUN; HENDAKNYA DIA MENGAMBIL ILMU DARI YANG TIDAK BERANGKAT…

SETELAH SESEORANG PULANG DARI JIHAD PUN; HENDAKNYA DIA MENGAMBIL ILMU DARI YANG TIDAK BERANGKAT…

Allah -Subhaanahu Wa Ta’aalaa- berfirman:

وَمَا كَانَ الْمُؤْمِنُونَ لِيَنْفِرُوا كَافَّةً ۚ فَلَوْلَا نَفَرَ مِنْ كُلِّ فِرْقَةٍ مِنْهُمْ طَائِفَةٌ لِيَتَفَقَّهُوا فِي الدِّينِ وَلِيُنْذِرُوا قَوْمَهُمْ إِذَا رَجَعُوا إِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُونَ

“Dan tidak sepatutnya bagi kaum mukminin untuk pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka: beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama, dan untuk (nantinya) memberi peringatan kepada kaumnya; apabila mereka telah kembali (dari Jihad), agar mereka itu dapat menjaga dirinya.” (QS. At-Taubah: 122)

“(Yakni): janganlah kaum Mukminin berangkat Jihad semuanya, bahkan hendaknya: (1)ada sekelompok yang berangkat Jihad, dan (2)sebagian lainnya tidak berangkat Jihad; dengan tujuan untuk belajar agama.

Setelah kelompok yang berjihad datang kembali; maka yang tidak berangkat bertugas untuk: mengajarkan dan memahamkan mereka terhadap ilmu agama, tentang halal dan haram.”

[“Miftaah Daaris Sa’aadah” (I/335), karya Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah -rahimahullaah-]

“Dan di dalam ayat ini juga terdapat dalil, dan pengarahan, serta peringatan yang halus terhadap sebuah faedah yang penting; yaitu: Bahwa kaum muslimin hendaknya menyiapkan untuk setiap kemaslahatan dari maslahat-maslahat yang umum (disiapkan): orang-orang yang bisa untuk menunaikannya, dan dia memfokuskan waktunya untuk masalah tersebut, serta dia berusaha keras untuk mengurusinya, dan tidak berpaling kepada maslahat yang lainnya (karena itu tugas masing-masing ahlinya-pent), agar maslahat kaum muslimin secara keseluruhan tegak, dan agar sempurna manfaat yang mereka dapatkan. Sehingga arah mereka, dan niat mereka adalah satu; yaitu: tegaknya maslahat agama dan dunia mereka; walaupun berbeda-beda jalan dan berbilang masing-masing kemampuan. Maka amalannya berbeda-beda; akan tetapi tujuannya satu. Dan ini termasuk hikmah umum yang bermanfaat pada segala perkara.”

[“Taisiirul Kariimir Rahmaan” (hlm. 355- cet. Mu-assasah Ar-Risaalah), karya Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di -rahimahullaah-]

-ditulis oleh: Ustadz Ahmad Hendrix-

MINTALAH FATWA PADA HATIMU…

MINTALAH FATWA PADA HATIMU…

[1]- Rasulullah -shallallaahu ‘alaihi wa sallam-:

اِسْتِفْتِ قَلْبَكَ، اَلْبِرُّ مَا اطْمَأَنَّتْ إِلَيْهِ النَّفْسُ، وَاطْمَأَنَّ إِلَيْهِ الْقَلْبُ، وَالْإِثْـمُ مَا حَاكَ فِي النَّفْسِ، وَتَرَدَّدَ فِي الصَّدْرِ، وَإِنْ أَفْتَاكَ النَّاس وَأَفْتَوْكَ

“Mintalah fatwa pada dirimu: Kebajikan adalah yang membuat tenteram jiwa dan hati, sedangkan dosa adalah yang menggoncangkan di jiwa dan meragukan di hati, walaupun manusia memberi fatwa kepadamu dan mereka memberi fatwa kepadamu.”

[Lihat: “Al-Arba’iin AN-Nawawiyyah” no. 27]

[2]- Hadits ini adalah berkaitan dengan apa yang diistilahkan dengan: “Tahqiiqul Manaath Al-Khaashsh” (perwujudan “Manaath” secara khusus); yakni: Penerapan hukum syar’i terhadap perkara/realita yang ada.

[Lihat: “Al-Muwaafaqaat” (V/24-245), karya Imam Asy-Syathibi dan “Syarh Al-Waraqaat” (hlm. 559-560), karya Syaikh Masyhur bin Hasan Alu Salman]

[3]- Imam Asy-Syathibi -rahimahullaah- berkata:

“Ketahuilah bahwa setiap masalah adalah membutuhkan kepada dua pandangan: (1)melihat kepada hukum syar’i, dan (2)melihat kepada “Manaath” (keterkaitannya)…

Maka (contohnya seperti):

– bagi orang yang memiliki daging hewan sembelihan; maka halal baginya untuk memakannya, dikarenakan ke-halal-annya jelas baginya, karena telah terpenuhi syarat ke-halal-an; dengan terwujud “Manaath” (daging) tersebut jika ditinjau dari sudut pandangnya,

– atau orang yang memiliki daging bangkai; maka tidak halal baginya untuk memakannya, dikarenakan ke-haram-annya jelas baginya, karena telah hilang syarat ke-halal-an, dengan terwujud “Manaath” (daging) tersebut jika ditinjau dari sudut pandangnya.

Dan masing-masing dari dua “Manaath” tersebut kembali kepada apa yang ada dalam hati dan yang jiwa tenang kepadanya; bukan kepada dzat perkara itu sendiri. Tidakkah anda perhatikan bahwa bisa jadi dagingnya SATU dzatnya, dimana ada yang meyakini ke-halal-annya -sesuai dengan “Manaath” yang terwujud baginya-, akan tetapi ada orang lain yang meyakini ke-haram-annya -sesuai dengan “Manaath” yang terwujud baginya-. Sehingga yang pertama memakannya dengan halal, dan kewajiban yang kedua adalah menjauhinya dikarenakan ke-haram-annya (baginya)…

Maka hukum syari’at di sini sudah jelas. Adapun yang penerapannya meragukan bagimu; maka tinggalkanlah, dan jangan sampai kamu mengambilnya! Dan inilah makna sabda beliau -kalau Shahih-: “Mintalah fatwa kepada hatimu…walaupun mereka memberi fatwa”. Karena perwujudan “Manaath”-mu adalah khusus bagimu; tidak berkaitan dengan orang lain yang keadaannya sepertimu.

Hal ini akan semakin jelas ketika: ada “Manaath” yang masih musykil (janggal) bagimu sedangkan orang lain tidak menganggapnya musykil (janggal); karena tidak nampak baginya hal yang telah nampak bagimu…

Tapi, terkadang anda tidak memiliki kemampuan atau ketenangan untuk mewujudkan “Manaath”; sehingga orang lain lah yang mewujudkannya untukmu, dan anda TAKLID kepadanya. Dan keadaan ini tidak masuk dalam kandungan Hadits.”

[“Al-I’tishaam” (II/666-668- tahqiiq Syaikh Salim Al-Hilali)]

-ditulis oleh: Ustadz Ahmad Hendrix-

SIAPAKAH SESUNGGUHNYA PEMIMPIN YANG WAJIB DITA’ATI?

SIAPAKAH SESUNGGUHNYA PEMIMPIN YANG WAJIB DITA’ATI?

PERTANYAAN:

Assalaamu’alaikum Wa Rahmatullaahi Wa Barakaatuhu

Syaikh yang mulia…

Sebagian saudara kami di Indonesia telah menyempitkan pemahaman Ulil Amri (penguasa) sebatas kepada: penguasa yang berhukum dengan Kitabullah (Al-Qur’an) dan Sunah Rasul-Nya, berdalil dengan sabda Nabi -shallallaahu ‘alaihi wa sallam-:

إِنْ أُمِّرَ عَلَيْكُم عَبْدٌ مُـجَدَّعٌ أَسْوَدُ؛ يَقُوْدُكُمْ بِكِتَابِ اللهِ تَعَالَـى: فَـاسْـمَعُوْا لَهُ وَأَطِيْعُوْا

“Apabila diangkat bagi kalian pemimpin yang dia adalah seorang budak yang buntung (hidungnya dan lainnya) serta hitam (kulitnya); yang meminpin kalian dengan Kitabullah -Ta’aalaa-: maka dengarlah dan ta’atlah!”

Adapun orang yang berhukum dengan undang-undang (buatan manusia); maka bukanlah Ulil Amri.

Seperti itulah ucapan mereka.

Dan ini mengantarkan mereka untuk tidak mendengar dan tidak ta’at kepada pemimpin negara, dan mereka juga membicarakan keburukan pemimpin padahal dia (pemimpin itu) seorang muslim. Apakah perbuatan ini benar?

-Murid anda: Abu Abdirrahman [Agus Jaelani] dari Indonesia-

Baarakallaah Fiikum Wa Jazaakumullaahu Khairan.

JAWABAN SYAIKH DOKTOR IBRAHIM BANI SALAMAH -hafizhahullaah-:

Wa ‘Alaikumus Salaam Wa Rahmatullaahi Wa Barakaatuhu

Saudaraku yang dimuliakan…

Pemahaman ini -tidak ragu lagi- adalah pemahaman yang sakit; yang tidak ada dalilnya sama sekali.

Yang demikian dikarenakan:

[PERTAMA]:

– Sunnah telah menjelaskan bahwa: PENGUASA YANG WAJIB DITA’ATI ADALAH SEORANG MUSLIM; walaupun bermaksiat -selama tidak kafir-, dan telah datang hadits-hadits yang banyak yang menjelaskan hal ini; di antaranya:

1. Hadits ‘Ubadah bin Ash-Shamit -radhiyallaahu ‘anhu-, ia berkata:

بَايَعَنَا رَسُوْلُ اللهِ -صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- عَلَى السَّمْعِ وَالطَّاعَةِ، فِي الْيُسْرِ وَالْعُسْرِ، وَالْمَنْشَطِ والْمَكْرَهِ، وَعَلِى أَثَرَةٍ عَلَيْنَا، وَعَلَى أَنْ لاَ نُنَازِعَ الأَمْرَ أَهْلَهُ، إِلَّا أَنْ تَرَوْا كُفْرًا بَوَاحًا، عِنْدَكُمْ مِنَ اللهِ فِيْهِ بُرْهَانٌ. مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

“Kami membai’at Rasulullah -shallallaahu ‘alaihi wa sallam- untuk mendengar dan ta’at (kepada pemimpin): di saat susah dan senang, di saat semangat dan malas, (bahkan) dalam keadaan dia (pemimpin) menggunakan (harta rakyat) untuk kepentingan sendiri tanpa diberikan kepada kami, dan agar kami tidak mencabut kepemimpinan dari ahlinya; kecuali jika kalian melihat kekufuran yang jelas dan kalian memiliki bukti dari Allah.” Muttafaqun ‘Alaihi

2. Hadits Ummu Salamah -radhiyallaahu ‘anhaa-, ia berkata: sesungguhnya Rasulullah -shallallaahu ‘alaihi wa sallam- bersabda:

((إِنَّهُ يُسْتَعْمَلُ عَلَيْكُمْ أُمَرَاءُ، فَتَعْرِفُوْنَ وَتُنْكِرُوْنَ، فَمَنْ كَرِهَ؛ فَقَدْ بَرِئَ، وَمَنْ أَنْكَرَ؛ فَقَدْ سَلِمَ، وَلٰكِنْ مَنْ رَضِيَ وَتَابَعَ)) قَالُوْا: أَفَلَا نُقَاتِلُهُمْ؟ قَالَ: ((لَا، مَا صَلَّوْا)) أَخْرَجَهُ مُسْلِمٌ

“Sungguh, akan diangkat untuk kalian: para pemimpin; yang kalian menganggap ma’ruf (sebagian) perbuatan mereka dan kalian mengingkari (perbuatan) yang lainnya. Maka barangsiapa yang membenci (perbuatannya); maka ia telah berlepas diri. Dan barangsiapa yang mengingkari; maka ia telah selamat. Akan tetapi bagi yang ridha dan mengikuti; (merekalah yang celaka).” Mereka (para Shahabat) bertanya: Tidakkah kita memerangi mereka? Beliau menjawab: “Tidak! SELAMA MEREKA MASIH SHALAT.” HR. Muslim

3. Hadits Ibnu ‘Abbas- radhiyallaahu ‘anhumaa-, dari Nabi -shallallaahu ‘alaihi wa sallam-, beliau bersabda:

مَنْ رَأَى مِنْ أَمِيْرِهِ شَيْئًا يَكْرَهُهُ؛ فَلْيَصْبِرْ، فَإِنَّهُ مَنْ فَارَقَ الْـجَمَاعَةَ شِبْرًا فَمَاتَ؛ مَاتَ مِيْتَةً جَاهِلِيَّةً. مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

“Barangsiapa yang melihat pada pemimpinya ada sesuatu yang dia benci; maka bersabarlah! Karena sungguh, barangsiapa yang meninggalkan Jama’ah (kaum muslimin) sejengkal saja, kemudian ia mati; maka ia mati sebagai bangkai jahiliyah.” Muttafaqun ‘Alaihi

4. Hadits ‘Auf bin Malik Al-Asyja’i -radhiyallaahu ‘anhu-, ia berkata: Aku mendengar Rasulullah -shallallaahu ‘alaihi wa sallam- bersabda:

((خِيَارُ أَئِمَّتِكُمُ: الَّذِيْنَ تُحِبُّوْنَهُمْ وَيُحِبُّوْنَكُمْ، وَتُصَلُّوْنَ عَلَيْهِمْ وَيُصَلُّوْنَ عَلَيْكُمْ. وَشِرَارُ أَئِمَّتِكُمُ: الَّذِيْنَ تُبْغِضُوْنَهُمْ وَيُبْغِضُوْنَكُمْ، وَتَلْعَنُوْنَهُمْ وَيَلْعَنُوْنَكُمْ)) قَالَ: قُلْنَا: يَا رَسُوْلَ اللهِ، أَفَلَا نُنَابِذُهُمْ [بِالسَّيْفِ]؟ فَقَالَ: ((لَا، مَا أَقَامُوْا فِيْكُمُ الصَّلَاةَ، إِلَّا مَنْ وَلِيَ عَلَيْهِ وَالٍ، فَرَآهُ يَأْتِيْ شَيْئًا مِنْ مَعْصِيَةِ اللهِ؛ فَلْيَكْرَهْ مَا يَأْتِيْ مِنْ مَعْصِيَةِ اللهِ، وَلَا يَنْزِعَنَّ يَدًا مِنْ طَاعَةٍ)) أَخْرَجَهُ مُسْلِمٌ

“Sebaik-baik pemimpin kalian adalah: yang kalian mencintai mereka dan mereka pun mencintai kalian, serta kalian mendo’akan kebaikan untuk mereka dan mereka pun mendo’akan kebaikan untuk kalian. Dan seburuk-buruk pemimpin adalah: yang kalian benci kepada mereka dan mereka pun benci kepada kalian, serta kalian melaknat mereka dan mereka pun melaknat kalian.” Para Shahabat berkata: Wahai Rasulullah, bolehkah bagi kami mengangkat [pedang] untuk melawan mereka? Beliau bersabda: “Tidak! Selama mereka masih Shalat bersama kalian! Ketahuilah, barangsiapa yang dipimpin oleh seorang penguasa, kemudian ia melihat penguasanya mendatangi sebagian dari maksiat kepada Allah; maka bencilah kemaksiatannya, dan janganlah membatalkan bai’at ketaatan.” H.R. Muslim

5. Hadits ‘Abdullah bin ‘Umar -radhiyallahu ‘anhumaa-, ia berkata: Rasulullah -shallallaahu ‘alaihi wa sallam- bersabda:

((مَنْ خَلَعَ يَدًا مِنْ طَاعَةٍ؛ لَقِيَ اللهَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَلَا حُجَّةَ لَهُ، وَمَنْ مَاتَ وَلَيْسَ فِيْ عُنُقِهِ بَيْعَةٌ؛ مَاتَ مِيْتَةً جَاهِلِيَّةً)) أَخْرَجَهُ مُسْلِمٌ

“Barangsiapa yang melepaskan diri dari ketaatan; maka ia akan bertemu dengan Allah pada Hari Kiamat dengan tidak memiliki hujjah yang membelanya. Dan barangsiapa yang mati dan tidak ada bai’at di lehernya; maka ia akan mati sebagai bangkai jahiliyah.” HR. Muslim

6. Hadits Hudzaifah -radhiyallaahu ‘anhu-, ia berkata: Rasulullah -shallallaahu ‘alaihi wa sallam- bersabda:

((يَكُوْنُ بَعْدِيْ أَئِمَّةٌ لَا يَهْتَدُوْنَ بِـهَدْيِيْ، وَلَا يَسْتَنُّوْنَ بِسُنَّتِيْ، وَسَيَقُوْمُ فِيْهِمْ رِجَالٌ قُلُوْبُهُمْ قُلُوْبُ الشَّيَاطِيْنِ فِيْ جُثْمَانِ إِنْسٍ)) قَالَ: قُلْتُ: كَيْفَ أَصْنَعُ يَا رَسُوْلَ اللهِ، إِنْ أَدْرَكْتُ ذٰلِكَ؟ قَالَ: ((تَسْمَعُ وَتُطِيْعُ لِلْأَمِيْرِ، وَإِنْ ضُرِبَ ظَهْرُكَ، وَأُخِذَ مَالُكَ؛ فَاسْـمَعْ وَأَطِعْ))

“Akan ada setelahku: para pemimpin (penguasa) yang tidak mengambil petunjuk dariku, dan tidak mengambil Sunnahku. Dan akan ada sekelompok lelaki di antara mereka yang hati mereka adalah hati setan dalam tubuh manusia.” Aku bertanya: Apa yang harus aku lakukan apabila aku menemui yang demikian; wahai Rasulullah? Beliau menjawab: “Engkau dengar dan ta’at kepada pemimpin; walaupun punggungmu dipukul dan hartamu diambil, maka dengar dan ta’atlah!” HR. Muslim

Dalam riwayat yang lain: “Engkau tetap bersama jama’ah kaum muslimin dan imam mereka.” Hudzaifah bertanya: Apabila mereka tidak memiliki jama’ah dan imam? Beliau bersabda: “Tinggalkanlah seluruh kelompok itu walaupun engkau sampai menggigit akar pepohonan; sampai kematian menghampirimu dan engkau dalam keadaan seperi itu.” Muttafaqun ‘Alaih.

Seluruh hadits ini membicarakan bahwa: pemimpin (penguasa) wajib dita’ati selama tidak kafir, walaupun dia bermaksiat atau fasik.

[KEDUA]:

– Mereka membalik makna kalimat ini:

يَقُوْدُكُمْ بِكِتَابِ اللهِ

“memimpin kalian dengan Kitabullah”

[Yakni: mereka menganggap bahwa: “Kalau tidak memimpin dengan Kitabullah; berarti tidak wajib dita’ati”]

Maka, makna yang benar terhadap kalimat ini adalah: ENGKAU MENTA’ATI PENGUASA INI DAN MELAKSANAKAN PERINTAHNYA; SELAMA TIDAK MEMERINTAHKAN KEMAKSIATAN, apabila ia memerintahkan kemaksiatan; maka tidaklah kita menta’ati kemaksiatan tersebut; akan tetapi keta’atan padanya tetap ada selain pada kemaksiatan ini, maksudnya: Ulil Amri tetap dita’ati dan engkau benar-benar jauhi maksiatnya itu, sebagaimana yang telah dijelaskan oleh Nabi -shallallaahu ‘alaihi wa sallam- :

عَلَى الْمَرْءِ الْمُسْلِمِ السَّمْعُ وَالطَّاعَةُ مَا لَـمْ يُؤْمَرَ بِـمَعْصِيَةِ اللهِ، فَإِنْ أُمِرَ بِـمَعْصِيَةٍ؛ فَلَا سَـمْعَ وَلَا طَاعَةَ

“Wajib bagi seorang muslim: untuk mendengar dan ta’at selama tidak diperintahkan dengan kemaksiatan kepada Allah. Dan apabila diperintahkan kepada kemaksiatan; maka tidak mendengar dan tidak ada keta’atan.”

[KETIGA]:

– Bahwasanya mereka mendahulukan “Mafhuum Mukhaalafah” (pemahaman kebalikan) atas “Manthuuq” (pemahaman asli) dari Nash (dalil) yang jelas dan gamblang yang telah disebutkan [Yakni: wajibnya ta’at kepada penguasa walaupun ia tidak menjalankan syari’at, ia zhalim, atau fasik]. Padahal “Mafhuum Mukhaalafah” adalah dalil yang lemah menurut ulama Ushul Fiqh, sehingga tidak boleh bersandar kepadanya ketika ada Nash (dalil) yang shahih. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata: “…Telah diketahui: wajibnya mendahulukan Nash atas pendapat, dan mendahulukan syari’at atas hawa nafsu. Maka pokok yang membedakan antara orang-orang beriman kepada para rasul dengan orang yang menyelisihi para rasul- adalah: mendahulukan Nash-Nash atas pendapat dan mendahulukan syari’at atas hawa nafsu. Sedangkan pokok kejelekan adalah: mendahulukan pendapat atas Nash.” “Minhaajus Sunnah” (VIII/218)

[KEEMPAT]:

– Kalaulah kita anggap “Mafhuum Mukhaalafah” adalah dalil kuat yang diamalkan; maka sesungguhnya dia adalah dalil pengiring yang dihukumi dengan Nash-Nash Al-Qur’an dan As-Sunnah; sehingga tidak boleh diamalkan bersama dengan adanya Nash. Karena Nash lebih didahulukan atas “Mafhuum” (pemahaman kebalikan) -dan ini disepakati oleh Ulama-. Contohnya: apakah kita memahami secara kebalikan firman Allah -Ta’aalaa-:

…وَلَا تُكْرِهُوْا فَتَيَاتِكُمْ عَلَى الْبِغَاءِ إِنْ أَرَدْنَ تَحَصُّنًا…

“…Dan janganlah kamu paksa hamba sahaya perempuanmu untuk melakukan pelacuran; sedang mereka sendiri menginginkan kesucian…” (QS. An-Nuur: 33)

Apakah (dengan “Mafhuum” kemudian kita katakan bahwa): apabila mereka tidak ingin menginginkan kesucian; berarti kita boleh memaksa mereka untuk berzina dan melacur!!!

[KELIMA]:

– Sesungguhnya mereka berupaya membesarkan (atau mempropaganda) kesalahan (penguasa); untuk menjadikan sebagian kesalahan penguasa: sebagai alasan untuk mengkafirkan mereka, kemudian mensifati masyarakat: bahwa mereka adalah orang-orang yang dipimpin dengan hawa nafsu, serta bahwa negeri tersebut bukanlah negeri Islam. Ini adalah kebathilan. Karena sungguh, sebagian besar syi’ar Islam bisa nampak di negeri Islam.

Syaikh Ibnu ‘Utsaimin berkata: “Negeri Islam adalah negeri yang ditegakkan syariat Islam di dalamnya -tanpa melihat penguasanya- WALAUPUN DIPIMPIN OLEH SEORANG KAFIR, DAN WALAUPUN PENGUASANYA TIDAK MEMERINTAH DENGAN SYARI’AT ISLAM; maka negeri tersebut tetap dikatakan negeri Islam; selama Adzan dikumandangkan, Shalat ditegakkan, Shalat Jum’at didirikan, di dalamnya ada Hari Raya (’Id) yang syar’i, ada Shaum (puasa), (kaum muslimin dibolehkan menunaikan) ibadah Haji (ke Baitullah), dan yang semisalnya. Maka yang seperti ini adalah negeri Islam; walaupun para penguasanya adalah orang-orang kafir. Karena Rasulullah -shallallaahu ‘alaihi wa sallam- memerintahkan kita apabila melihat kekafiran yang jelas maka; kita memerangi mereka; sehingga maknanya adalah: bahwa negeri kita tetap negeri Islam, yang kita memerangi pemimpin kafir ini dan melengserkannya dari pemerintahan.”

[KEENAM]:

– Bahwa banyak dari peraturan yang berlaku di negeri kita -yang disangka oleh orang-orang yang pendek pemahamannya: adalah undang-undang buatan-, pada dasarnya adalah tata cara dan aturan yang bersumber dari aturan maslahat syar’i; seperti: aturan lalu lintas, paspor, diplomasi, dan selainnya.

[KEENAM]:

– Apa yang terjadi dari kekurangan dalam mempraktekkan aturan dan kaidah syariat di sebagian Negara; maka tidak ragu lagi bahwa itu merupakan kemaksiatan dan kekurangan. Akan tetapi kewajiban seorang muslim adalah: berusaha menyempurnakannya dengan cara yang hikmah dan nasihat yang baik; tanpa menimbulkan fitnah atau merusak keamanan. Maka setetes darah yang tertumpah (terbunuhnya seorang muslim): di sisi Allah adalah lebih besar dibandingkan hancurnya dunia; sebagaimana sabda Nabi -shallallaahu ‘alaihi wa sallam-:

لَزَوَالُ الدُّنْيَا أَهْوَنُ عِنْدَ اللهِ مِنْ سَفْكِ دَمِ امْرِءٍ مُسْلِمٍ

“Hancurnya dunia adalah lebih ringan dibandingkan tercecernya darah seorang muslim.”

Wallaahu A’lam.

Diterjemahkan oleh:

Ustadz Dika Wahyudi Lc.

Penanya: Agus Jaelani Abu Abdirrahman

Catatan:

1- Tambahan penjelasan dalam kurung [ ] adalah dari kami.

2- Syaikh banyak membawakan Hadits secara makna; jelas sekali bahwa beliau menulisnya dengan hafalan.

PENGUASA ADIL DAN PENGUASA ZHALIM

PENGUASA ADIL DAN PENGUASA ZHALIM

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin -rahimahullaah- berkata:

“Keadilan yang paling penting bagi penguasa adalah: dimana dia menghukumi di antara manusia dengan Syari’at Allah; karena Syari’at Allah itulah keadilan. Adapun penguasa yang berhukum dengan hukum buatan YANG MENYELISIHI SYARI’AT; maka dia merupakan penguasa yang paling zhalim -wal ‘iyaadzu billaah (kita berlindung kepada Allah)-, dan dia menjadi manusia yang dijauhkan untuk mendapatkan naungan dari Allah; pada hari tidak ada naungan melainkan naungan-Nya.”

[“Syarh Riyaadhish Shaalihiin” (III/643)]

Beliau -rahimahullaah- juga berkata:

“Maka keadilan adalah wajib dalam segala hal [dan wajib atas siapa pun], akan tetapi untuk para penguasa kewajiban tersebut lebih kuat, lebih utama, dan lebih besar. Karena ketidakadilan -jika terjadi pada penguasa-; maka akan terjadi kekacauan dan kebencian terhadap penguasa yang tidak adil.

Akan tetapi SIKAP KITA TERHADAP PENGUASA YANG TIDAK ADIL ADALAH: KITA BERSABAR; bersabar atas kezhalimannya, bersabar atas ketidakadilannya, dan bersabar atas pengutamaan (harta rakyat untuk diri)nya. Sampai-sampai Rasulullah -shallallaahu ‘alaihi wa sallam- mewasiatkan kepada para Shahabat Anshar -radhiyallaahu ‘anhum- dengan bersabda kepada mereka: “Sungguh, sepeninggalku kalian akan mendapati “Atsarah” -yakni: mengutamakan (harta) kalian (untuk dirinya)-; maka bersabarlah kalian sampai kalian menemuiku di telaga.” [Muttafaqun ‘Alaihi]

Hal itu dikarenakan bahwa: dengan menentang penguasa; maka akan mengakibatkan kejelekan dan kerusakan yang lebih besar dibandingkan ketidakadilan dan kezhalimannya. Dan sudah maklum bahwa akal dan syari’at: melarang dari menerjang madharat (kerusakan) yang paling berat di antara dua madharat, dan memerintahkan untuk mengerjakan madharat yang paling ringan di antara dua madharat -jika memang harus melakukan salah satunya-.”

[“Syarh Riyaadhish Shaalihiin” (III/641-642)]

Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah -rahimahullaah- berkata dalam “I’laamul Muqaqqi’iin” (hlm. 630- cet. Daaru Thayyibah), “Fasal Tentang “Saddu Adz-Dzaraa-’i (Menutup Jalan Yang Mengantarkan Kepada Kejelekan)”, ketika menyebutkan dalil-dalil yang melarang dari perbuatan yang mengantarkan kepada mafsadat yang lebih kuat; walaupun asal perbuatannya adalah dibolehkan, atau bahkan disunnahkan:

“Segi (Dalil) Kesembilan Puluh Delapan: Larangan beliau (Nabi -shallallaahu ‘alaihi wa sallam-) dari memerangi pemimpin dan (larangan) memberontak melawan penguasa -meskipun mereka tidak adil dan zhalim- selama mereka menegakkan Shalat; hal ini merupakan “Saddu Dzarii’ah” (menutup jalan yang mengarah) kepada kerusakan yang besar dan kejelekan yang banyak -sebagaimana realita yang ada-. Karena sungguh, dengan sebab memerangi dan memberontak melawan mereka; maka terjadi kerusakan yang berlipat ganda dibandingkan sebelumnya, dan umat pun masih merasakan sisa-sisa kejelekan tersebut sampai sekarang.”

Rasulullah -shallallaahu ‘alaihi wa sallam- bersabda:

((خِيَارُ أَئِمَّتِكُمُ الَّذِينَ تُـحِبُّوْنَهُمْ وَيُـحِبُّوْنَكُمْ، وَيُصَلُّوْنَ عَلَيْكُمْ وَتُصَلُّوْنَ عَلَيْهِمْ، وَشِرَارُ أَئِمَّتِكُمُ الَّذِيْنَ تُـبْغِضُوْنَهُمْ وَيُبْغِضُوْنَكُمْ، وَتَلْعَنُوْنَهُمْ وَيَلْعَنُوْنَكُمْ)) قِـيْـلَ: يَا رَسُوْلَ اللهِ، أَفَـلَا نُنَابِذُهُمْ بِالسَّـيْـفِ؟ فَقَالَ: ((لَا، مَا أَقَامُوا فِـيْكُمُ الصَّلَاةَ، وَإِذَا رَأَيْتُمْ مِنْ وُلَاتِكُمْ شَيْئًا تَكْرَهُوْنَهُ، فَاكْرَهُوْا عَمَلَهُ، وَلَا تَنْزِعُوا يَدًا مِنْ طَاعَةٍ))

“Sebaik-baik pemimpin kalian adalah: yang kalian mencintai mereka dan mereka pun mencintai kalian, serta kalian mendo’akan kebaikan untuk mereka dan mereka pun mendo’akan kebaikan untuk kalian. Dan seburuk-buruk pemimpin adalah: yang kalian benci kepada mereka dan mereka pun benci kepada kalian, serta kalian melaknat mereka dan mereka pun melaknat kalian.” Maka ada yang berkata: Wahai Rasulullah, bolehkah bagi kami mengangkat pedang untuk melawan mereka? Beliau bersabda: “Tidak! Selama mereka masih Shalat bersama kalian! Jika kalian melihat pemimpin kalian mendatangi suatu hal yang tidak kalian sukai; maka bencilah amalannya, dan janganlah membatalkan bai’at keta’atan.” [HR. Muslim (no. 1855)]

Hasan Al-Bashri (seorang tabi’im, wafat th. 110 H) berkata:

“Demi Allah, seandainya manusia ketika mereka mendapatkan ujian dari arah penguasa mereka: kemudian mereka bersabar; maka tidak akan lama untuk kemudian Allah -‘Azza Wa Jalla- mengangkat (uijian) tersebut dari mereka. Akan tetapi mereka terburu-buru dengan menggunakan pedang; sehingga mereka pun diserahkan (oleh Allah) kepada diri-diri mereka sendiri (Allah tidak menolong mereka-pent). Demi Allah, mereka tidak pernah membawa kebaikan satu hari pun.” Kemudian beliau membaca:

…وَتَمَّتْ كَلِمَةُ رَبِّكَ الْحُسْنَى عَلَى بَنِي إِسْرَائِيلَ بِمَا صَبَرُوا وَدَمَّرْنَا مَا كَانَ يَصْنَعُ فِرْعَوْنُ وَقَوْمُهُ وَمَا كَانُوا يَعْرِشُونَ

“…Dan telah sempurnalah firman Rabb-mu yang baik itu (sebagai janji) untuk Bani Isra-il DISEBABKAN KESABARAN MEREKA. Dan Kami hancurkan apa yang telah dibuat Fir’aun dan kaumnya dan apa yang telah mereka bangun.” (QS. Al-A’raaf: 137)

[Diriwayatkan oleh Al-Ajurri dalam “Asy-Syarii’ah” (hlm. 38)]

“Maka kita memohon kepada Allah -Ta’aalaa- agar memudahkan kaum muslimin untuk mendapatkan para penguasa yang adil; yang menghukumi mereka dengan Kitabullah dan dengan Syari’at yang Dia pilihkan untuk hamba-hamba-Nya.”

[“Syarh Riyaadhish Shaalihiin” (III/644), karya Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin -rahimahullaah-]

-diterjemahkan dari: “Al-Majmuu’ah Al-Hadiitsiyyah” (I/44-47), karya Ustadz Ahmad Hendrix

USAHA KITA UNTUK MENEGAKKAN HUKUM ALLAH -TA’AALAA- DI NEGERI KITA

USAHA KITA UNTUK MENEGAKKAN HUKUM ALLAH -TA’AALAA- DI NEGERI KITA

[1]- CAKUPAN BERHUKUM DENGAN HUKUM ALLAH

“Saya katakan: Sungguh, tema ini (berhukum dengan hukum Allah) telah menyibukkan umat ini dan banyak dari mereka yang kurang pemahamannya dalam masalah ini.

Tatkala saya melihat bahwa hal ini asangatlah penting; maka saya ingin menulis tentang permasalahan ini untuk menjelasakan -sebisa mungkin-: jalan untuk mengamalkan konsekuensi dari berhukum dengan hukum Allah -Ta’aalaa-, dan bagaimana cara kita untuk mewujudkannya dan menjalankannya; agar tidak terjadi fitnah (kejelekan) dan agar agama hanya bagi Allah.

Dan saya jelaskan bahwa hal ini (berhukum dengan hukum Allah) mencakup setiap individu (perorangan). Maka setiap anak Adam (manusia) adalah pemimpin. Sebagaimana penguasa adalah bertanggung jawab atas rakyat dan negaranya; maka setiap dari kita juga bertanggung jawab atas rakyatnya: di rumahnya dan pada keluarganya, bahkan -sebelum yang lainnya-: setiap diri kita adalah bertanggung jawab atas diri sendiri.

Dan saya juga menjelaskan pentingnya ilmu dalam hal ini.”

[“Kaifa Tahkumu Nafsaka Wa Ahlaka Wa Man Talii Umuurahum Bihukmillaah” (Bagaimana Engkau Menghukumi Dirimu, Keluargamu Dan Orang-Orang Yang Dibawah Tanggung Jawabmu: Dengan Hukum Allah) (hlm. 7), karya Syaikh Husain bin ‘Audah Al-‘Awayisyah -hafizhahullaah-]

[2]- BAGAIMANA CARA BERHUKUM DENGAN HUKUM ALLAH

“Hal itu dilakukan dengan mengharamkan yang haram dan menghalalkan yang halal.

Dan untuk mengenal halal dan haram: haruslah dengan ilmu…

Maka, marilah kita berhukum dengan hukum Allah -Ta’aalaa- dalam Shalat.

Marilah kita berhukum dengan hukum Allah -Ta’aalaa- dalam Puasa.

Marilah kita berhukum dengan hukum Allah -Ta’aalaa- dalam Zakat.

Marilah kita berhukum dengan hukum Allah -Ta’aalaa- dalam Haji.

Marilah kita berhukum dengan hukum Allah -Ta’aalaa- dalam pernikahan dan juga kematian.

Marilah kita berhukum dengan hukum Allah -Ta’aalaa- dalam berpakaian.

Marilah kita berhukum dengan hukum Allah -Ta’aalaa- dalam makanan dan minuman.

Marilah kita berhukum dengan hukum Allah -Ta’aalaa- dalam perkara-perkara individu, keluarga, masyarakat dan umat.

Marilah kita berhukum dengan hukum Allah -Ta’aalaa- dalam ekonomi.

Marilah kita berhukum dengan hukum Allah -Ta’aalaa- dalam perdamaian dan juga peperangan.

Marilah kita berhukum dengan hukum Allah -Ta’aalaa- dalam segala aspek kehidupan kita.”

[“Kaifa Tahkumu…” (hlm. 13-14)]

[3]- HUKUM ALLAH HANYA DIKETAHUI DENGAN ILMU

“Urgensi (sangat pentingnya) meneliti, men-tahqiq, dan membahas (ilmu).

Sungguh, perwujudan berhukum dengan hukum Allah -Ta’aalaa- tidak akan terlaksana -selama-lamanya- tanpa adanya: penelitian, tahqiq, mencari (kebenaran) dan pembahasan (ilmu). Hal itu dikarenakan bahwa: sungguh agama ini adalah (berdasarkan):

– apa yang Allah firmankan,

– apa yang Nabi sabdakan, dan

– apa yang para Shahabat katakan.

* Untuk Al-Qur’an; maka -alhamdulillaah- kedustaan tidak akan mengenainya sama sekali. Akan tetapi kita harus meneliti tafsir dan makna yang menjelaskan maksud Allah -Ta’aalaa-. Karena kalau tidak dilakukan hal ini; maka akan mengantarkan kepada penyelisihan dalam penerapan berhukum kepada Allah -Subhaanahu Wa Ta’aalaa-.

* Adapun untuk Sunnah (Nabi); maka jelas kita harus melakukan tahqiq dan penelitian. Karena perkataan kita: “Rasulullah -shalllallaahu ‘alaihi wa sallam- bersabda”; ini merupakan agama. Kalau ada kedustaan atas nama Nabi -shallallaahu ‘alaihi wa sallam-; maka ini juga kedustaan atas nama Allah, sehingga akan ada pensyari’atan agama yang tidak diizinkan oleh Allah.

(Intinya bahwa) tidak adanya penelitian: akan menyampaikan kepada berhukum dengan selain hukum Allah -Subhaanahu Wa Ta’aalaa-.”

[“Kaifa Tahkumu…” (hlm. 16-17)]

[4]- TASHFIYAH DAN TARBIYAH ADALAH JALAN UNTUK MENEGAKKAN BERHUKUM DENGAN SYARI’AT ALLAH

Syaikh Al-Albani -rahimahullaah- berkata:

“Oleh karena itu; maka kita harus mulai dengan mengajarkan agama Islam yang benar kepada manusia -sebagaimana Rasulullah -‘alaihish shalaatu was salaam- memulai dengannya-. Akan tetapi kita tidak boleh mencukupkan diri hanya sekedar mengajarkan saja; karena sungguh, Islam telah dimasuki dengan hal-hal yang bukan berasal darinya dan yang tidak ada kaitannya sama sekali dengannya; berupa bida’ah-bid’ah dan hal-hal yang baru; yang menyebabkan hancurnya bangunan Islam yang kokoh.

Oleh karena itulah wajib atas para da’i untuk memulai dengan men-TASHFIYAH (memurnikan) islam ini dari hal-hal yang masuk ke dalamnya.

Inilah PRINSIP YANG PERTAMA: TASHFIYAH.

Adapun PRINSIP YANG KEDUA; yaitu: Tashfiyah ini harus disertai TARBIYAH (pembinaan) pemuda muslim di atas Islam yang sudah dimurnikan ini.”

[“Fitnatut Takfiir” (hlm. 42), dikumpulkan oleh: ‘Ali bin Husain Abu Luz. Dan lihat: “Fiq-hus Siyaasah Asy-Syar’iyyah” (hlm. 96-111), karya Syaikh Doktor Khalid bin ‘Ali Al-‘Anbari -hafizhahullaah-]

[5]- MEMULAI DARI DIRI SENDIRI

A. Secara Ilmu

Allah -Ta’aalaa- berfirman:

…إِنِ الْحُكْمُ إِلاَّ لِلَّهِ أَمَرَ أَلاَ تَعْبُدُوا إِلاَّ إِيَّاهُ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لاَ يَعْلَمُونَ

“…Hukum (keputusan) itu hanyalah milik Allah. Dia telah memerintahkan agar kamu tidak menyembah selain Dia. Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (QS. Yusuf: 40)

“Al‑Baghawi berkata dalam Tafsirnya: “Hukum (keputusan) itu” (Yakni): keputusan, perintah dan larangan [“hanyalah milik Allah”].”

“Hukum itu hanyalah milik Allah”; apakah dalam perkara yang kecil ataupun besar, sedikit maupun banyak; maka keputusan, perintah dan larangan di dalamnya adalah milik Allah -Ta’aalaa-. Terkadang hukum Allah diselisihi dikarenakan fanatik terhadap keluarga dan kerabat, atau dikarenakan kecintaan kepada harta, perdagangan, kelompok, golongan, guru, atau perkara-perkara yang semisalnya.

Maka kita harus mengenal dalil-dalil yang berisi: pengharaman dan penghalalan, serta perintah dan larangan; agar kita mengharamkan apa yang Allah haramkan, menghalalkan apa yang Allah halalkan, melaksanakan perintah Allah, dan menjauhi apa yang Allah larang.

Maka ini berkonsekuensi agar kita mengerahkan segenap usaha kita untuk ilmu, berlutut di hadapan para ahli ilmu, menyelami kitab-kitab, dan mengambil faedah dari para ulama umat ini yang terdahulu. Semua itu sesuai kemampuan yang dimiliki, sehingga akan ada:

– orang ‘alim (berilmu) yang mengajarkan, dan

– ada para penuntut ilmu yang belajar.

– Adapun bagi yang tidak memilki kemampuan; maka jangan sampai dia berfatwa ataupun memberikan pengajaran; akan tetapi tugasnya adalah belajar.

– Dan jangan pula engkau menjadi orang yang mengahalangi (dari menuntut ilmu), atau orang yang mengkritisi (orang yang menuntut ilmu; sehingga engkau termasuk) orang-orang yang binasa.”

[“Kaifa Tahkumu…” (hlm. 15-16)]

B. Secara Amal

“Apakah perbaikan dimulai dari pemerintah atau dengan cara memperbaiki umat?…

Maka jawabannya…terdapat dalam nash ayat dan hadits -dan tidak boleh berijtihad ketika ada nash-.

Allah -Ta’aalaa- berfirman:

…إِنَّ اللَّهَ لاَ يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ…

“…Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan mereka sendiri…” (QS. Ar-Ra’d: 11)

Maka, alangkah jelasnya ayat ini! Akan tetapi, walaupun jelas; tetap saja banyak orang-orang yang manamakan diri mereka dengan harakah (pergerakan) Islami; mereka telah berijtihad, dan keadaan mereka seolah-olah berkata: “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah pemerintah mereka!!” Laa Haula Wa Laa Quwwata Illaa Billaah. Seakan mereka menutup mata dari Siroh (perjalanan hidup) Nabi -shallallaahu ‘alaihi wa sallam- yang menafsirkan penjelasan ini. Mereka mengabaikan bahwa: sesungguhnya mereka tidak akan jaya sebelum mereka menjadikan agama ini sebagai sumber hukum dalam diri-diri mereka; berdasarkan hadits Ibnu ‘umar -radhiyallaahu ‘anhumaa-, bahwa Nabi -shallallaahu ‘alaihi wa sallam- bersabda:

إِذَا تَـبَايَـعْـتُـمْ بِـالْـعِـيْـنَـةِ، وَأَخَــذْتُـمْ أَذْنَـابَ الْـبَقَرِ، وَرَضِيْـتُمْ بِـالـزَّرْعِ، وَتَرَكْــتُمُ الْـجِهَـادَ؛ سَلَّـطَ اللهُ عَـلَيْكُمْ ذُلاًّ؛ لاَ يَـنْـزِعُـهُ حَتَّى تَـرْجِــعُــوْا إِلَـى دِيْــنِـكُمْ

“Jika kalian telah berjual beli dengan sistem Bai’ul ‘Iinah, kalian memegang ekor-ekor sapi dan ridha dengan pertanian, dan kalian meninggalkan jihad; niscaya Allah akan menjadikan kehinaan menguasai kalian, Dia tidak akan mencabut (kehinaan) itu dari kalian; hingga kalian kembali kepada agama kalian.”

Diriwayatkan oleh Abu Dawud dan hadits ini Hasan.

Inilah hukum Allah dan Rasul-Nya;

…فَبِأَيِّ حَدِيثٍ بَعْدَ اللَّهِ وَآيَاتِهِ يُؤْمِنُونَ

“…maka dengan perkataan mana lagi mereka akan beriman setelah Allah dan ayat-ayat-Nya.” (QS. Al-Jaatsiyah: 6).”

[Madaarikun Nazhar Fis Siyaasah (hlm.132- cet. I), karya Syaikh ‘Abdul Malik bin Ahmad Ar-Ramadhani Al-Jaza-iri -hafizhahullaah-]

Rasulullah -shallallaahu ‘alaihi wa sallam- bersabda:

كُلُّكُمْ رَاعٍ، وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، الإِمَامُ رَاعٍ وَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، وَالرَّجُلُ رَاعٍ فِي أَهْلِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، وَالْمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ فِي بَيْتِ زَوْجِهَا وَمَسْئُولَةٌ عَنْ رَعِيَّتِهَا…

“Setiap dari kalian adalah pemimpin, dan masing-masing bertanggung jawab atas rakyatnya. Imam (penguasa) adalah pemimpin dan dia bertanggung jawab atas rakyatnya. Laki-laki adalah pemimpin di keluarganya dan bertanggung jawab atas rakyatnya. Wanita juga pemimpin di rumah suaminya dan bertanggung jawab atas rakyatnya.”

[HR. Al-Bukhari (no. 893) dan Muslim (no. 1829)]

“Demikianlah, setiap orang adalah pemimpin dan penguasa di rumahnya, dan dia mempunyai banyak tanggung jawab yang besar yang harus ditunaikan…”

[“Kaifa Tahkumu…” (hlm. 44)]

Jika anda menunda-nunda dalam pelaksanaan tanggung jawab anda -dengan alasan ingin mendahulukan penegakan syar’iat di Negara ini-: Siapa yang bisa menjamin bahwa anda akan tetap hidup sampai nantinya tegak syari’at di Negara ini?!

[Lihat: “Kaifa Tahkumu…” (hlm. 50)]

[6]- LALU BAGAIMANA DENGAN MUSUH-MUSUH ISLAM

Syaikh ‘Ali bin Hasan Al-Halabi -hafizhahullaah- berkata:

“Mungkin ada orang yang akan mengatakan: “Kalau kami mengikuti jalan-jalan kalian…; maka sungguh, musuh-musuh (Islam) itu tidak akan tinggal diam dan tidak akan membiarkan kita.

Maka jawabannya dari dua segi:

Pertama: Bahwa jalan kita ini adalah jalan para Salaf, maka tidak membahayakan kita setelah itu: apa yang akan menimpa kita -baik dari mereka (musuh-musuh Islam) maupun dari yang lainnya-.

وَأَنَّ هَذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ وَلا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ…

“Dan sungguh, ini adalah jalan-Ku yang lurus; maka ikutilah! Janganlah kamu ikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu akan mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya…” (QS. Al-An’aam: 153)

Kedua: Bahwa jalan kami ini adalah cara yang tepat untuk menghancurkan rancangan mereka (musuh-musuh Islam) dan menggagalkan tipu daya mereka. Karena, tidak ada alasan bagi mereka sama sekali untuk menyifati kami dan juga kalian dengan sifat “Teroris” atau “Ekstrimis”! Sedangkan cara kalian justru mengajak dan mengingatkan mereka untuk terus menjalankan rancangan mereka, dan mewujudkan keinginan mereka, serta menjadikan orang-orang melampaui batas terhadap kalian.”

[“Ru’yah Waaqi’iyyah Fil Manaahij Al-Jadiidah” (hlm. 93-94- cet. I)]

[7]- TERAKHIR…JANGAN REMEHKAN ORANG-ORANG LEMAH

Rasulullah -shallallaahu ‘alaihi wa sallam- bersabda:

ابْغُوْنِي الضُّعَفَاءَ، فَإِنَّمَا تُرْزَقُوْنَ وَتُنْصَرُوْنَ بِضُعَفَائِكُمْ

“Carikanlah orang-orang lemah untukku. Sungguh kalian diberi rizki dan ditolong: hanya dengan sebab orang-orang lemah di antara kalian.”

[HR. Abu Dawud (no. 2594), dan lainnya dengan sanad yang Shahih]

Dalam hadits lain beliau -shallallaahu ‘alaihi wa sallam- menjelaskan:

إِنَّمَا يَنْصُرُ اللهَ هٰذِهِ الْأُمَّةَ بِضَعِيْفِهَا: بِدَعْوَتِهِمْ، وَصَلاَتِهِمْ، وَإِخْلاَصِهِمْ

“Allah menolong umat ini hanyalah dengan sebab orang-orang lemahnya: dengan do’a mereka, shalat mereka, dan keikhlasan mereka.”

[Diriwayatkan oleh An-Nasa-i dan lainnya. Lihat: “Ash-Shahiihah” (no. 779)]

“Demikianlah Allah akan menolong umat ini disebabkan orang-orang lemahnya; maka tidak sepantasnya kita meremehkan orang lemah dan bersombong atasnya. Karena dengan do’anya, shalatnya dan keikhlasannya: kita diberikan pertolongan dan rizki -dengan izin Allah Subhaanahu Wa Ta’aalaa-. Dan kita tidak diperkenankan -sama sekali- untuk meremehkan amalan shalih, tidak boleh pula kita meremehkan kebaikan yang dilakukan oleh seorang muslim -sedikit maupun banyak-.”

[“Kaifa Tahkumu…” (hlm. 69)]

-ditulis oleh: Ustadz Ahmad Hendrix-