Dalam Beragama Haruslah Mengikuti Dalil Al-Qur’an dan As-Sunnah

Dalam Beragama Haruslah Mengikuti Dalil Al-Qur’an dan As-Sunnah

Allah ta’ala berfirman,

“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.” (Al-Isra’: 36)

di dalam ayat ini Allah Ta’ala melarang para hamba-Nya agar tidak mengikuti sesuatu yang tidak diketahuinya, terlebih dalam beragama. Sebab, semua akan dipertanggung jawabkan di akhirat kelak atas amalan-amalan yang dilakukan selama di dunia.

Oleh karena itu, dalam beragama haruslah mengikuti dalil al-Qur’an dan as-Sunnah, janganlah seseorang mengikuti guru, ustadz, kiai, syaikh, ataupun yg lainnya tanpa mengetahui dalilnya dari al-Qur’an dan as-Sunnah.

MEMBEDAKAN ANTARA ULAMA DAN YANG LAINNYA -SEPERTI: AHLI IBADAH, AHLI CERAMAH, ATAU AHLI MENULIS-

MEMBEDAKAN ANTARA ULAMA DAN YANG LAINNYA -SEPERTI: AHLI IBADAH, AHLI CERAMAH, ATAU AHLI MENULIS-

Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Muhammad As-Sadhan -hafizahullaah- berkata:

“Tersamar atas banyak orang-orang yang menghendaki perbaikan -terutama orang-orang yang baru-: untuk membedakan antara ulama -yang kita diperintahkan Allah -Ta’aalaa- untuk bertanya kepadanya-; dengan selain ulama; yang memang diberikan kemampuan dalam suatu cabang berupa: ceramah, ibadah, ataupun menulis.

Maka, karunia berupa: ahli dalam ceramah, menulis, dan banyaknya ibadah: semuanya termasuk pintu-pintu kebaikan dan keutamaan -itupun kalau dia berada di atas ilmu-. Akan tetapi walaupun demikian; untuk masalah fatwa -terutama dalam perkara-perkara besar-: haruslah diserahkan kepada ulama yang telah dikenal dengan kebenaran ‘Aqidahnya, keselamatan Manhajnya, dan kekokohan dalam ilmunya.

Kesamaran ini -yaitu: tidak bisa membedakan antara ulama dengan selainnya-; telah membawa banyak dari masyarakat kaum muslimin kepada musibah dan kejelekan; di waktu yang mereka sangat membutuhkan untuk saling bekerjasama dan bersatu.

Maka, tampilnya sebagian manusia yang tidak dikenal memiliki ilmu -apalagi bergelut dengannya-, kemudian dia menjadi ahli fatwa, dan mengeluarkan berbagai macam fatwa yang tidak disertai dalil syar’i; bahkan dengan hanya berdasar pada semangat yang menggebu atau sekedar meniru orang lain (ulama sesungguhnya-pent): hal ini telah menyia-nyiakan banyak dari usaha (perbaikan), serta menjadi sebab untuk tertutupnya pintu-pintu kebaikan, dan membuka pintu-pintu keburukan.

Kita minta kepada Allah -Ta’aalaa- agar menjaga orang-orang yang melakukan perbaikan: dari tipu daya hawa nafsu dan setan.

Oleh karena itulah, tugas seorang yang menginginkan perbaikan: agar berhati-hati ketika berbagai perkara tersamar atasnya. Jangan sampai dia mengambil semua perkataan yang dia dengar; meskipun dia dibuat kagum oleh orang yang berbicara; dimana perkataannya telah menarik hati manusia.

Maka semua ini tidak bisa memberikan pembenaran untuk mengambil perkataannya dengan penerimaan yang sempurna. Kedudukan seorang ulama tidak bisa dicapai oleh pembicara maupun tukang ceramah -mendekati pun tidak-; jika dia berpaling dari menuntut ilmu syar’i.

Demikian juga seorang yang menginginkan perbaikan; yang dia diberikan kutamaan berupa: ahli dalam ceramah, menulis, atau yang semisalnya, dan manusia berbaik sangka kepadanya; karena kebagusan akhlak dan adabnya; tugas dia adalah: mengenal kadar/tingkatan dirinya, jangan sampai dia berfatwa tanpa ilmu, dan jangan merasa enggan atau malu untuk mengatakan: “Aku tidak tahu”, agar dia tidak menjatuhkan dirinya dan orang lain ke dalam tempat-tempat ketergelinciran. Dan dia bisa untuk mengarahkan orang lain kepada ahli ilmu -dalam hal-hal yang dia tidak tahu-; sehingga dia telah menjadi penunjuk kepada kebaikan yang besar, dan juga dia telah membersihkan agamanya (dari ketergelinciran-pent).”

[“Ma’aalim Fii Thariiqil Ishlaah” (hlm. 28)]

MERASA BERJASA? KEPADA SIAPA?!

MERASA BERJASA? KEPADA SIAPA?!

Allah -Subhaanahu Wa Ta’aalaa- berfirman:

يَمُنُّونَ عَلَيْكَ أَنْ أَسْلَمُوا قُلْ لا تَمُنُّوا عَلَيَّ إِسْلامَكُمْ بَلِ اللَّهُ يَمُنُّ عَلَيْكُمْ أَنْ هَدَاكُمْ لِلإيمَانِ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ

“Mereka merasa berjasa kepadamu dengan keislaman mereka. Katakanlah: “Janganlah kamu merasa berjasa kepadaku dengan keislamanmu, sebenarnya Allah melimpahkan nikmat kepadamu dengan menunjukkan kamu kepada keimanan, jika kamu orang yang benar”.” (QS. Al-Hujuraat: 17)

Dalam ayat ini ada dua pembahasan:

PEMBAHASAN PERTAMA: MAKNA AYAT

Dijelaskan oleh sebagian ahli tafsir bahwa ayat ini turun berkaitan dengan sebagian orang-orang arab badui yang datang kepada Nabi -shallallaahu ‘alaihi wa sallam- untuk masuk Islam tanpa diperangi, sehingga mereka berbangga dan merasa berjasa kepada Nabi -shallallaahu ‘alaihi wa sallam-.

[Lihat: “Tafsiir al-Qur’aanil ‘Azhiim” (Tafsir Ibnu Katsir) (VII/390-391- tahqiiq Sami bin Muhammad As-Salamah)]

PEMBAHASAN KEDUA: SIKAP YANG BENAR DALAM BERAMAL

“Yaitu: mengakui bahwa karunia hanya milik Allah -Subhaanahu Wa Ta’aalaa-, Dia-lah yang menjadikan seorang hamba bisa berdiri untuk shalat, membuatnya mampu untuk mengerjakannya, dan memberikan taufik kepadanya untuk bisa menegakkan shalat dengan hati dan badannya demi untuk berkhidmat kepada-Nya. Kalau bukan karena Allah -Subhaanahu Wa Ta’aalaa-, maka tidak akan terwujud satu pun dari hal-hal tersebut; sebagaimana para Shahabat berkata dihadapan Nabi -shallallaahu ‘alaihi wa sallam-:

وَاللهِ لَوْ لَا اللهُ مَا اهْتَدَيْنَا…وَلَا تَصَدَّقْنَا وَلَا صَلَّيْنَا

Demi Allah, kalau bukan karena Allah; kami tidak akan mendapat petunjuk

tidak juga kami bisa bersedekah dan tidak juga kami bisa shalat

[Lihat: Shahih Al-Bukhari (no. 4106 & 4196) dan Shahiih Muslim (no. 1802 & 1807)]

Allah -Ta’aalaa- berfirman:

يَمُنُّونَ عَلَيْكَ أَنْ أَسْلَمُوا قُلْ لا تَمُنُّوا عَلَيَّ إِسْلامَكُمْ بَلِ اللَّهُ يَمُنُّ عَلَيْكُمْ أَنْ هَدَاكُمْ لِلإيمَانِ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ

“Mereka merasa berjasa kepadamu dengan keislaman mereka. Katakanlah: Janganlah kamu merasa berjasa kepadaku dengan keislamanmu, sebenarnya Allah yang melimpahkan nikmat kepadamu dengan menunjukkan kamu kepada keimanan, jika kamu orang yang benar.” (QS. Al-Hujurat: 17)

Maka Allah -Subhaanahu Wa Ta’aalaa-; Dia-lah yang menjadikan seorang agar bisa menjadi muslim dan seorang agar bisa melaksanakan shalat, seperti perkatakan (Nabi Ibrahim) al-Khaliil -‘alaihis salaam- (yang Allah ceritakan dalam Al-Qur’an-pent):

رَبَّنَا وَاجْعَلْنَا مُسْلِمَيْنِ لَكَ وَمِنْ ذُرِّيَّتِنَا أُمَّةً مُسْلِمَةً لَكَ…

“Wahai Rabb kami, jadikanlah kami orang muslim (yang berserah diri) kepada-Mu, dan anak cucu kami (juga) umat islam (yang berserah diri) kepada-Mu…” (QS. Al-Baqarah: 128)

Dan (juga) perkataan beliau (Nabi Ibrahim) (yang Allah ceritakan dalam Al-Qur’an-pent):

رَبِّ اجْعَلْنِي مُقِيمَ الصَّلاةِ وَمِنْ ذُرِّيَّتِي…

“Wahai Rabb-ku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang yang melaksanakan shalat…” (QS. Ibrahim: 40)

Allah -Ta’aalaa- berfirman:

وَمَا بِكُمْ مِنْ نِعْمَةٍ فَمِنَ اللهِ …

“Dan segala nikmat yang ada padamu (datangnya) dari Allah,…” (QS. An-Nahl: 53).

Dan Allah berfirman:

… وَلَكِنَّ اللهَ حَبَّبَ إِلَيْكُمُ الإيمَانَ وَزَيَّنَهُ فِي قُلُوبِكُمْ وَكَرَّهَ إِلَيْكُمُ الْكُفْرَ وَالْفُسُوقَ وَالْعِصْيَانَ أُولَئِكَ هُمُ الرَّاشِدُونَ

“…Tetapi Allah menjadikan kamu cinta kepada keimanan, dan menjadikan (iman) itu indah dalam hatimu, serta menjadikan kamu benci kepada kekafiran, kefasikan dan kedurhakaan. Mereka itulah orang-orang yang mengikuti jalan yang lurus.” (QS. Al-Hujurat: 7)

(Pengakuan bahwa semua karunia itu adalah dari Allah); ini termasuk hal terbesar dan paling bermanfaat bagi seorang hamba, semakin besar tauhid seorang hamba; maka semakin sempurna bagiannya dari (pengakuan) ini.

Dan didalamnya terdapat beberapa faedah; di antaranya: bisa menghalangi hati dari sifat ujub (bangga) dan melihat (besar) amalannya. Karena kalau dia menyaksikan bahwa Allah-lah yang memberikan karunia kepadanya, memberinya taufik dan petunjuk; maka hadirnya hal tersebut akan menyibukkan dirinya dari melihat (besar) dan bangga (terhadap amalnya-pent), dan (mencegahnya) untuk meremehkan manusia. Sehingga (sifat ujub) itu bisa terangkat dari hatinya dan hatinya tidak lagi ujub, dan bisa terangkat dari ucapannya; sehingga dia tidak menyebut-nyebutnya dan tidak menyombongkan diri dengan (amalan)nya. Dan inilah ciri amalan yang terangkat (diterima).

Di antara faedahnya adalah: seorang hamba senantiasa menyandarkan pujian kepada pemiliknya dan yang berhak mendapatkannya (yaitu: Allah-pent), sehingga dia tidak merasa dirinya pantas untuk dipuji, bahkan dia yakini bahwa segala pujian hanya milik Allah; sebagaimana dia meyakini bahwa segala nikmat adalah milik Allah, semua karunia adalah milik-Nya dan segala kebaikan berada di kedua tangan-Nya, dan ini termasuk kesempurnaan tauhid. Maka pijakan tauhidnya tidak akan menetap kecuali dengan ilmu dan persaksian ini. Jika dia sudah berilmu tentangnya dan kokoh ilmunya; maka hal itu akan menjadi sebuah hal yang tetap baginya. Dan apabila di dalam hatinya sudah terdapat hal ini; maka akan membuahkan kecintaan, senang dengan (kedekatan kepada) Allah, rindu untuk bertemu dengan-Nya dan merasa nikmat dengan berdzikir (mengingat)-Nya dan taat kepada-Nya; yang (kenikmatan semacam ini) tidak akan tertandingi -sama sekali- dengan kenikmatan dunia yang tertinggi sekalipun.

Seseorang tidak memiliki kebaikan sama sekali di kehidupan dunia ini; jika hatinya terhalang dari hal ini dan jika jalan menuju kesana terhalangi. Bahkan perkaranya adalah seperti yang Allah -Ta’aalaa- firmankan:

ذَرْهُمْ يَأْكُلُوا وَيَتَمَتَّعُوا وَيُلْهِهِمُ الأمَلُ فَسَوْفَ يَعْلَمُونَ

“Biarkanlah mereka (di dunia ini) makan dan bersenang-senang dan dilalaikan oleh angan-angan (kosong) mereka, kelak mereka akan mengetahui (akibat perbuatannya).” (QS. Al-Hijr: 3).”

[“Risaalah Ibnil Qayyim Ilaa Ahadi Ikhwaanihi” (hlm. 46-49) karya Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah -rahimahullaah-]

diambil dari Al-Istinbaath (2), Faedah Ke-26: Merasa Berjasa? Kepada Siapa?!,

karya: Ustadz Ahmad Hendrix

Orang Cerdas Bisa Membedakan Antara Kemuliaan Jihad Dengan Kekeliruan Fitnah

Orang Cerdas Bisa Membedakan Antara Kemuliaan Jihad Dengan Kekeliruan Fitnah/Kejelekkan

Syaikh ‘Abdul Malik bin Ahmad Ramadhani -hafizhahullaah- berkata:

“Betapa banyak orang-orang yang membicarakan tentang jihad secara panjang lebar, kemudian tiba-tiba mereka menjadi lemah di hadapan orang yang mereka anggap akan berjihad melawannya; dengan hanya dikarenakan sedikit tekanan atau guncangan. Dan kebanyakan orang yang berceloteh tentang masalah politik kontemporer: mereka termasuk dalam jenis pengecut ini. Oleh karena itulah para ahli makar dari kalangan sekuler: dengan mudahnya mencairkan orang-orang semacam ini dan membentuknya dengan pengawasan mereka (orang-orang sekuler tersebut).

Abu Nu’aim meriwayatkan (IV/16), dari anaknya Thawus, dia berkata:

“Saya terus menerus berkata kepada bapakku: “Harusnya dilakukan pemberontakan melawan penguasa ini. Dan harusnya dia diberikan hukuman.”

Maka pada suatu hari kami keluar untuk menunaikan ibadah Haji, dan kami pun singgah di sebuah desa; yang di situ ada seorang pejabat yang merupakan bawahan dari Muhammad bin Yusuf atau Ayyub bin Yahya, yang disebut: Abu Najih, dan dia termasuk pejabat yang paling buruk.

Maka kami menghadiri Shalat Subuh di masjid, dan ternyata Abu Najih (pejabat tersebut) telah diberi tahu tentang kedatangan bapakku. Maka pejabat ini duduk di hadapan bapakku, dan mengucapkan salam; ternyata bapakku tidak menjawab. Lalu pejabat itu mengajaknya bicara; akan tetapi bapakku berpaling. Kemudian pejabat itu berpindah ke sisi lainnya (untuk menghadap ke arah bapakku); akan tetapi bapakku kembali berpaling.

Tatkala aku melihat kejadian ini; maka aku segera berdiri menuju pejabat tersebut untuk menjabat tangannya, dan bertanya-tanya kepadanya (berbasa-basi). Dan aku berkata padanya: “Sungguh, Abu ‘Abdirrahman (yaitu: Thawus) tidak mengenal anda.” Akan tetapi pejabat itu mengatakan: “Justru karena dia mengenalku; maka dia bersikap demikian.”

Maka pejabat itu pun pergi, dan bapakku diam saja tidak mengatakan apapun kepadaku. Maka tatkala aku hendak masuk rumah; bapakku berpaling kepadaku dan mengatakan: “Hei anak dungu! Bukannya tadinya kamu ingin memberontak melawan mereka dengan pedangmu?! Ternyata (setelah bertemu langsung) kamu tidak bisa menahan ucapanmu?!”

Yakni: Engkau tadinya berniat memberontak melawannya, akan tetapi tatkala dia berada di hadapanmu; lisanmu tidak bisa diam untuk memuji dan menyanjungnya!”

[“Tamyiiz Dzawil Fithan Baina Syarafil Jihaad Wa Sarafil Fitan” (Orang Cerdas (Bisa) Membedakan Antara Kemuliaan Jihad Dengan Kekeliruan Fitnah/Kejelekkan) (hlm. 40-41)]

-diterjemahkan oleh: Ustadz Ahmad Hendrix-

HARAM MEMILIH ORANG KAFIR JADI GUBERNUR

HARAM MEMILIH ORANG KAFIR JADI GUBERNUR

((بَشِّرِ الْمُنَافِقِينَ بِأَنَّ لَهُمْ عَذَابًا أَلِيمًا * الَّذِينَ يَتَّخِذُونَ الْكَافِرِينَ أَوْلِيَاءَ مِنْ دُونِ الْمُؤْمِنِينَ ۚ أَيَبْتَغُونَ عِنْدَهُمُ الْعِزَّةَ فَإِنَّ الْعِزَّةَ لِلَّهِ جَمِيعًا))

“Kabarkanlah kepada orang-orang munafik bahwa mereka akan mendapat siksaan yang pedih,(yaitu) orang-orang yang mengambil orang-orang kafir menjadi PEMIMPIN dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Apakah mereka mencari kekuatan di sisi orang kafir itu? Maka sesungguhnya semua kekuatan kepunyaan Allah”
[Surat An-Nisa’ 138 – 139]