REALITA DAN SOLUSI UNTUK MENGHADAPINYA

REALITA DAN SOLUSI UNTUK MENGHADAPINYA

[1]- Imam Ibnul Qayyim berkata -seolah-olah beliau menyifati berita-berita politik dan semisalnya-:

“Dan di antara tipu daya SETAN adalah: perkataan batil, pendapat-pendapat yang saling bertentangan, khayalan-khayalan yang saling kontradiksi; yang merupakan sampah pemikiran dan buih yang dilontarkan kepada hati yang gelap dan kebingungan, yang menyamakan antara kebenaran dan kebatilan, antara kesalahan dan ketepatan. Gelombang-gelombang syubhat saling bergulung, awan-awan khayalan menjadi gelap, tunggangannya adalah katanya dan dikatakan, keraguan dan meragukan, banyaknya perdebatan, tidak ada hasil yang meyakinkan yang bisa dijadikan pedoman, dan tidak ada keyakinan yang sesuai dengan kebenaran yang bisa dijadikan rujukan, sebagian mereka membisikkan kepada sebagian yang lain: perkataan yang indah sebagai tipuan. DAN DENGAN SEBAB ITULAH MEREKA MENJADIKAN AL-QUR’AN INI DIABAIKAN.

[“Ighaatsatul Lahfaan” (hlm. 191-192- Mawaaridaul Amaan)]

[2]- Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah -rahimahullaah- berkata:

“Yang wajib adalah: memerintahkan orang-orang awam dengan perkara-perkara yang telah tetap dari nash syari’ dan ijmaa’, dan mereka (harus) dicegah dari menyelami hal-hal rinci yang hanya menimbulkan perpecahan dan perselisihan di antara mereka. Karena perpecahan dan perselisihan termasuk hal terbesar yang dilarang oleh Allah dan Rasul-Nya.”

[Majmuu’ Fataawaa (XII/237)]

-ditulis oleh: Ustadz Ahmad Hendrix-

NEGARA INDONESIA NEGARA ISLAM ATAU KAFIR ?

[1]-Pertanyaan:

Apa pendapat anda tentang orang yang mengatakan bahwa Negara Indonesia bukan termasuk Negara Islam?

Syaikh Ibrahim Bin ‘Amir Ar-Ruhaili -hafizhahullaah- Menjawab:

Orang (yang berpendapat seperti) ini PERLU DIBAWA KE RUMAH SAKIT. Karena kalau negeri seperti ini: yang dipenuhi kaum muslimin dan pemimpinnya juga muslim; kemudian ada yang mengatakan: “Ini bukan Negara Islam”; maka ini PERLU DIPERIKSA AKALNYA. Dan betapa banyak kami dengar pendapat semacam ini; yang penyebabnya bukanlah karena kelemahan ilmu; akan tetapi LEMAHNYA AKAL…

Negeri ini sekarang; berapa jumlah warganya?…200 (dua ratus) juta. Berapa persen kaum musliminnya?…80 (delapan puluh) persen. Bagaimana bisa dikatakan bukan negeri Islam? Mayoritas penduduknya adalah kaum muslimin, ditegakkan syi’ar-syi’ar Islam di negeri ini, ditegakkan shalat-shalat…Kemudian dikatakan Negara ini bukan Negara Islam?! Maka ini merupakan keberanian mereka untuk mengkafirkan; bukan hanya individu dan masyarakat; akan tetapi: pengkafiran sebuah Negara. Maka tidak usah diperdulikan masalah ini. Setiap kali bertambah sikap “ghuluww” (berlebihan) dalam pengkafiran; maka muncullah fitnah (kejelekan), dan hal ini sudah maklum.

[2]- TANYA-JAWAB (LIQAA’ MAFTUUH)

Pertanyaan: Sebagian orang menampakkan fitnah (kejelekan) berkaitan dengan masalah kepemimpinan. Fitnah (kejelekan) sudah dimulai; khususnya yang berkaitan dengan masalah kepemimpinan di Negara kami. Pertanyaanya: apa yang sepantasnya kami lakukan sebagai penuntut ilmu untuk menghadapi fenomena ini?

Beliau -hafizhahullaah- Menjawab:

Wajib atas kalian untuk senantiasa mendengar dan ta’at, dan menasehati pemerintah dengan sembunyi-sembunyi bagi ahli ilmu dan bagi orang yang memiliki pengetahuan dan hikmah. Dan kewajiban bagi semuanya adalah mendengar dan ta’at kepada pemerintah, dan waspada dari fitnah (kejelekan), dan jangan sampai memberontak melawan pemerintah. Karena fitnah (pemberontakan) ini tidak akan mendatangkan kebaikan.

Kalian berada di suatu Negara yang -alhamdulillaah-: aman…kalian bisa berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya dengan aman…kalian bisa beribadah kepada Allah…kalian bisa shalat…kalian bisa menegakkan agama kalian tanpa ada tekanan…maka ini adalah kebaikan yang besar.

Adapun adanya penyelisihan dan kekurangan dari pemerintahan; maka pemerintah dinasehati. Dengan cara nasehat inilah: kebaikan akan tetap terjaga, keamanan akan tetap terjaga, dan darah juga akan terjaga, DAN MUSUH JUGA TIDAK BERKUASA DAN MASUK KE NEGARA KALIAN…maka ini lebih baik bagi kalian dibandingkan fitnah (kejelekan) yang merata.

ADAPUN MASUKNYA SEBAGIAN ORANG UNTUK MENYULUT FITNAH (KEJELEKAN); MAKA AKAN MEMBUKA PELUANG BAGI MUSUH-MUSUH ISLAM (UNTUK BERKUASA) DI NEGARA KALIAN. SEKARANG MUSUH-MUSUH ISLAM SEDANG MENUNGGU KESEMPATAN. TIDAKLAH FITNAH (KEJELEKAN) TERSEBAR DI SUATU NEGARA; MELAINKAN MEREKA BERUSAHA IKUT CAMPUR…SEMUA NEGARA TURUT CAMPUR…MASING-MASING INGIN PUNYA ANDIL DI NEGARA YANG SEDANG KONFLIK; KARENA INGIN MENDAPATKAN BAGIAN MASLAHAT.

Maka kita bersabar atas adanya penyelisihan dan kekurangan dari pemerintah; dengan disertai nasehat sesuai perintah Allah dan Rasul-Nya -shallallaahu ‘alaihi wa sallam-…

Negara kalian tidak tertimpa seperti sebagian Negara lain yang kaum muslimin dilarang untuk shalat…dilarang memanjangkan jenggot…Justru sebaliknya: penduduk Negara kalian dengan leluasa setiap tahunnya melaksanakan ibadah (ke Makkah). Sampai-sampai kalau datang jama’ah Indonesia; maka kami (penduduk Arab Sa’udi) jadi tahu bahwa waktu haji telah dekat…karena masjid penuh (dengan jama’ah Indonesia). Alhamdulillaah…kalian diperbolehkan untuk melaksanakan Haji dan ‘Umrah…

Kami juga saksikan kebaikan besar untuk Negara ini…dimana tiap tahunnya kami diperbolehkan untuk mengunjungi Negara ini tanpa ada tekanan…kami jelaskan permasalahan agama…kami bertemu para penuntut ilmu…

Agar nikmat ini tetap ada; maka kalian harus mensyukuri nikmat ini dan jauhi fitnah (kejelekan). WALAUPUN YANG MENGAJAK KEPADA FITNAH (PEMBERONTAKAN) ADALAH ORANG YANG DIKATAKAN SEBAGAI MANUSIA YANG PALING BERILMU DAN PALING UTAMA: MAKA JANGANLAH KALIAN MENTA’ATINYA!!! KARENA HAL INI MENYELISIHI APA DIPERINTAHKAN OLEH NABI KALIAN -shallallaahu ‘alaihi wa sallam-:

«مَنْ كَرِهَ مِنْ أَمِيرِهِ شَيْئًا فَلْيَصْبِرْ،….»

“Barangsiapa mendapati hal yang tidak dia sukai dari pemimpinnya; maka hendaklah dia bersabar.”

Beliau tidak mengatakan: “Hendaklah kalian memberontak!” Yang mengatakan: “Hendaklah kalian memberontak”; adalah Khawarij.

Kalau sudah terjadi fitnah dan peperangan; maka siapa yang bisa menghentikan?! Tidak ada yang bisa mengembalikan keamanan. Masuk ke fitnah itu mudah; akan tetapi sulit untuk keluar darinya; dimana penyesalan tidak lagi berguna.

Tanyalah penduduk Mesir…tanyalah penduduk negara-negara yang terjadi fitnah (pemberontakan): Apakah mereka memuji pemberontakan? Mendapatkan apa yang mereka inginkan? Syari’at diterapkan? Ekonomi mengalami kestabilan? Tidak, sama sekali tidak….sampai sebagian kaum muslimin -bahkan sebagian salafiyyin- saling bunuh.

Maka pada da’i fitnah yang mengajak untuk memberontak dan menentang pemerintah: mereka tidaklah menghendaki kebaikan untuk kalian! Orang yang jujur dan cinta kepada kalian adalah: orang yang memerintahkan kalian untuk tetap mendengar dan ta’at.

Inilah perkataan saya; maka sampaikanlah kepada siapa saja yang kalian mampu dari penduduk negeri ini. Saya katakan: tetaplah bergabung dengan kaum muslimin, dengar dan ta’atlah kepada pemerintah kalian.

Kalau kalian melihat penyelisihan pemerintah atau kalian mendengarnya -tanpa mencari-cari cela mereka dan tanpa merubah perkataan dengan tidak semestinya-; maka bencilah dengan hati kalian, dan ulama kalian serta Ahlul Halli Wal ‘Aqdi kalian yang memberikan nasehat kepada pemerintah. Kalau ada perubahan; maka Alhamdulillah. Dan kalau tidak; maka kalian sudah melaksanakan kewajiban kalian. Allah akan menjadikan kebaikan bagi kalian dan mengubah keadaan kalian menjadi yang lebih baik.

Saya bukannya membela pemerintah (Indonesia); karena saya tidak kenal pemerintah dan dia juga tidak mengenalku. Saya hanya bicara untuk maslahat umat, dan maslahat bangsa kaum muslimin. Tidak ada kebaikan dalam pemberontakan…tidak kebaikan dalam fitnah…tidak akan terjadi perbaikan dengannya…dan tidak akan ditegakkan syari’at dengan cara tersebut.

Dan kewajiban kain untuk menasehati orang orang yang mengajak kepada fitnah (pemberontakan) ini.

———————————————————————-

Diringkas Dari Jawaban Syaikh Ibrahim Bin ‘Amir Ar-Ruhaili -hafizhahullaah- Terhadap Dua Pertanyaan

-disarikan dengan ringkas oleh: Ustadz Ahmad Hendrix-

EMPAT PERTANYAAN DALAM MASALAH TAKDIR

EMPAT PERTANYAAN DALAM MASALAH TAKDIR

PERTANYAAN PERTAMA:

Kenapa amal perbuatan manusia -yang mana itu muncul dari kehendaknya- masuk dalam ciptaan Allah?

Jawab:

Karena perbuatan manusia muncul dari kehendak/keinginan dan kemampuan:

– tidak akan muncul perbuatan yang tidak diinginkan -walaupun dia mampu-,

– dan tidak akan muncul perbuatan yang memang dia tidak mampu untuk melaksanakannya -walaupun dia menghendaki-.

Sedangkan keduanya (kehendak dan kemampuan) merupakan ciptaan Allah. Hal itu bisa dirasakan ketika tiba-tiba keinginan bisa berubah, atau melemah, dan lain-lain, dan dengan kemampuan yang tiba-tiba Allah lemahkan atau Allah hilangkan.

PERTANYAAN KEDUA:

Kalau amal perbuatan manusia adalah Allah yang mentakdirkan; maka kenapa kemudian Dia mengadzab mereka atas dosa-dosa mereka; padahal Dia lah yang telah menciptakan perbuatan manusia; bukankah ini tidak adil?

Jawab:

Memang Allah lah yang menciptakan perbuatan hamba; termasuk dosa, akan tetapi itu adalah sebagai hukuman atas dosa sebelumnya, karena hukuman bagi kemaksiatan adalah kemaksiatan yang selanjutnya.

PERTANYAAN KETIGA:

Kalau Allah mentakdirkan dosa disebabkan dosa yang sebelumnya; lalu bagaimana dengan dosa yang pertama?

Jawab:

Itu juga sebagai hukuman atas tidak adanya pengamalan terhadap tujuan dia diciptakan di dunia; yaitu: beribadah kepada Allah.

Karena Allah menciptakan hamba untuk beribadah kepada-Nya saja; tidak ada sekutu bagi-Nya, dan Allah memfitrahkan hamba untuk mencintai-Nya, beribadah kepada-Nya dan senantiasa kembali kepada-Nya.

Tatkala hamba tidak melakukan tujuan dia diciptakan: berupa cinta kepada Allah, beribadah kepada-Nya dan senantiasa kembali kepada-Nya; maka hamba dihukum atas ketidak adaan hal tersebut dengan hukuman berupa: adanya syaithan yang menghias-hiasi perbuatannya berupa kesyirikan dan kemaksiatan; dan hal itu mengenai hati yang kosong yang bisa menerima kebaikan maupun keburukan.

Kalau lah ada kebaikan dalam hati yang bisa digunakan untuk menolak kejelekkan; maka kejelekkan tidak akan menetap di dalamnya.

PERTANYAAN KEEMPAT:

Kalau dosa pertama dikarenakan mereka tidak mau melaksanakan ibadah -yang merupakan tujuan mereka diciptakan-; lalu kenapa Allah memberikan petunjuk kepada yang ini untuk melakukan ibadah dan tidak memberikan petunjuk kepada yang itu?

Jawab:

Ini adalah pertanyaan tentang HIKMAH Allah; kenapa Dia memberikan karunia kepada yang ini dan tidak memberikannya kepada yang itu.

Maka Allah sendiri yang langsung menjawabnya dengan firman-Nya:

…ذَلِكَ فَضْلُ اللَّهِ يُؤْتِيهِ مَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ ذُو الْفَضْلِ الْعَظِيمِ

“…Itulah karunia Allah, yang diberikan kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah mempunyai karunia yang besar.” (QS. Al-Hadid: 23)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah -rahimahullaah- berkata dalam Minhajus Sunnah (III/177):

“Rincian HIKMAH Allah dalam penciptaan dan perintahnya; tidak mampu diketahui oleh akal-akal manusia.”

Demikian juga dikatakan oleh Imam Ibnul Qayyim -rahimahullaah- dalam Ash-Shawaa-‘iqul Mursalah- (IV/1560). Dan beliau juga berkata (Mukhtashar Ash-Shawaa-‘iq Al-Mursalah) (hlm. 324-325- cet. Daarul Fikr):

“Dan tidak termasuk hikmah: memberikan ilmu kepada salah satu individu manusia tentang kesempurnaan HIKMAH Allah dalam pemberian dan pencegahan-Nya. Bahkan, kalau Allah nampakkan bagi hamba tentang sedikit dari HIKMAH-Nya dalam penciptaan, perintah, pahala dan hukuman-Nya, dan hamba meperhatikan keadaan tempat-tempat hal tersebut; maka dengan apa yang telah hamba ketahui (tentang hikmah Allah dalam tempat-tempat tersebut); dia jadikan dalil (untuk meng-qiyas-kannya kepada) apa yang tidak dia ketahui.”

Tatkala orang-orang musyrik merasa janggal terhadap peng-khusus-an ini dengan perkataan mereka:

…أَهَؤُلاءِ مَنَّ اللَّهُ عَلَيْهِمْ مِنْ بَيْنِنَا…

“…Orang-orang semacam inikah di antara kita yang diberi anugerah oleh Allah?…” (QS. Al-An’aam: 53)

Maka Allah menjawab mereka dengan firman-Nya:

…أَلَيْسَ اللَّهُ بِأَعْلَمَ بِالشَّاكِرِينَ

“…Tidakkah Allah yang lebih mengetahui tentang mereka yang bersyukur kepada-Nya?” (QS. Al-An’aam: 53)

Ini adalah jawaban yang mencukupi dan memuaskan, di dalamnya terkandung bahwa Allah lebih mengetahui terhadap tempat yang pantas untuk ditanami pohon nikmat; sehingga akan membuahkan syukur, dan Allah mengetahui tempat yang tidak layak, yang kalau ditanami pohon nikmat; maka tidak akan berbuah, sehingga menanami nikmat padanya adalah suatu hal yang sia-sia dan tidak sesuai dengan hikmah. Sebagaimana firman Allah:

…اللَّهُ أَعْلَمُ حَيْثُ يَجْعَلُ رِسَالَتَهُ…

“…Allah lebih mengetahui di mana Dia menempatkan tugas kerasulan-Nya…” (QS. Al-An’aam: 124)

[Lihat: Mukhtashar Ash-Shawaa-‘iq Al-Mursalah (hlm. 320-325- cet. Daarul Fikr), Syarh Al-‘Aqidah Ath-Thahawiyyah (hlm. 439-443- takhriij Imam Al-Albani), dan At-Tanbiihaat Al-Lathiifah (hlm. 82- tahqiiq Syaikh ‘Ali Al-Halabi)]

Sepenggal Kisah Ustadz Abdul Hakim bin Amir Abdat – Semoga Allah menjaganya

Ada sepenggal kisah keluar nya buku kecil ini di alam penerbitan dari penulis nya sendiri, yakni Syaikhina Abdul Hakim bin Amir Abdat hafidzhahullah..

Berikut ini kisah selengkapnya secara ringkas.
“Ketika shalat Ashar di sebuah masjid jami’, saya melihat seorang ikhwan-panggilan akrab untuk laki-laki muslim- yang berada di samping saya memakai celana yang sangat panjang dan melewati mata kaki, atau berbuat sangat isbal.
Saya sedih dan merasa amat kasihan.
Selesai shalat dan berdzikir, hati saya terus berbicara memikirkan si ikhwan: ” tentu saja dia seperti kebanyakan muslimin, yang belum tahu perihal hukum isbal yang sebenarnya.”
Saat itu tiba-tiba saya teringat, bahwa saya pernah menulis perkara isbal di dalam kitab Al Masaa-il pada beberapa jilidnya pada empat masalah, maka alangkah baiknya apabila saya kumpulkan jadi satu buku kecil sebagai upaya atau cara dalam mendakwahkan masalah ini kepada umat Islam terkait hukumnya. Karena dakwah melalui tulisan atau kitab besar sekali manfaatnya, terkhusus pada hari ini.
Berapa banyak manusia yang tidak mau atau menolak atau belum paham saat didakwahkan dengan lisan (ucapan), namun begitu tulisan atau kitab yang sampai ke tangan mereka, kemudian kitab itu dibaca dan dipelajarinya, maka yang sebelumnya tidak tahu pun menjadi tahu, yang awalnya belum paham sekarang sudah paham, yang pernah menolak kini sadar dan menerima.
Semuanya terjadi dengan izin dan hidayah dari Rabbul ‘alamin (Rabb semesta alam).
Cara berdakwah ini saya coba berkali-kali sejak puluhan tahun, serta telah diberitahukan kepada oleh beberapa muslimin tentang manfaatnya yang amat besar. Maka itu segala puji bagi Allah, Rabbul ‘alamin.
Demikian salah satu keistimewaan dakwah dengan tulisan atau kitab, yang juga termasuk dalam bab jihad dan penulisnya dinilai sebagai mujahid yang sedang berjihad dengan pena!
Tentu yang dimaksud adalah tulisan Ilmiyyah, dan ditulis oleh Ulama ataupun Penuntut ilmu yang bahasannya didukung oleh dalil-dalil yang kuat dari Al Qur’an dan as Sunnah yang Shahih.
Sungguh, tulisan ataupun kitab yang tidak memenuhi kriteria ilmiah justru hanyalah akan memberikan kepada para pembaca kebodohan, penipuan, dan kesesatan!
Maka kemudian, setibanya di rumah, segera saya kumpulkan materi yang bertebaran dalam kitab Al Masaa-il dari bab isbal. Lalu saya susun kembali semuanya itu dengan sedikit tambahan atau pengurangan dari “wajah” aslinya. Hingga jadilah, dengan izin Allah ‘azza wa jalla, satu kitab kecil yang sekarang berada di tangan Anda.
Akhir kata, sebagai penutup muqaddimah ini, saya ucapkan: Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush shalihat Rabbil ‘alamin; Segala puji bagi Allah, yang dengan sebab nikmat-Nya saja sempurnalah segala kebaikan. Shalawat serta salam tercurah atas Nabi yang mulia shalallahu’alaihi wasallam.

Buah pena,
Abu Unaisah Abdul Hakim bin Amir Abdat
Jakarta, Muharram 1435H
——————-
November 2013M

JANGAN SETENGAH SETANGAH KALAU MAU BELA AGAMA

BELA AL-MAIDAH:51 TOTALITAS, NGGA SETENGAH2

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا الْيَهُودَ وَالنَّصَارَىٰ أَوْلِيَاءَ ۘ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ ۚ وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ مِنْكُمْ فَإِنَّهُ مِنْهُمْ ۗ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa diantara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim. Al-Maidah: 51

Berkata Imam adz-Dzahabi dalam Tasyabbuhul Khosiis hlm. 34-35 -tahqiq syaikh ali hasan-

“berkata para ulama:

dan di antara bentuk loyalitas kepada mereka adalah dengan tasyabbuh (meniru dan menerupai) mereka, serta menampakan (mensyi’arkan) hari raya mereka. Padahal mereka (kaum muslimin) diperintahkan untuk menyembunyikan hari raya mereka di negeri kaum muslimin.

Apabila seorang muslim merayakan hari raya tersebut bersama mereka Maka sungguh mereka telah membantu orang-orang kafir menampakan (mensyi’arkan) hari raya mereka. Dan ini adalah perbuatan yang munkar dan bid’ah dalam agama Islam, dan tidak ada yang melakukan yang demikian kecuali orang yang sedikit agamanya dan sedikit imannya, dia telah masuk dalam sabda Nabi Shallallahu alaihi wasallam:

مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ

رواه أبو داود (اللباس / 3512) قال الألباني في صحيح أبي داود : حسن صحيح . برقم (3401)

“barangsiapa yang meniru-niru sebuah kaum maka ia termasuk kaum tersebut”

dan sungguh Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah memuji orang-orang yang tidak menyaksikan hari raya orang-orang kafir dan tidak menghadirinya. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

وَالَّذِينَ لَا يَشْهَدُونَ الزُّورَ وَإِذَا مَرُّوا بِاللَّغْوِ مَرُّوا كِرَامًا

Dan orang-orang yang tidak memberikan persaksian palsu, dan apabila mereka bertemu dengan (orang-orang) yang mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tidak berfaedah, mereka lalui (saja) dengan menjaga kehormatan dirinya.” surat al-furqon: 72

Maka mafhumnya (pemahaman kebalikannya) bahwa orang yang menyaksikan dan menghadirinya adalah orang yang tercela dan dimurkai; karena ia menyaksikan kemungkaran dan tidak bisa untuk mengingkarinya. Nabi salam wa sallam bersabda:

مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ , فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ , وَذَلِكَ أَضْعَفُ الْإيمَانِ

رواه مسلم (49) والترمذي (2173) وأبو داود (1140) والنسائي (8/111) وابن ماجه (4013)

“barangsiapa yang melihat kemungkaran maka rubahlah dengan tangannya dan apabila dia tidak mampu maka rubahlah dengan lisannya dan apabila dia tidak mampu maka rubahlah dengan hatinya dan yang demikian adalah selemah-lemahnya iman.”

dan kemungkaran manalagi yang lebih besar dari berserikat (berkumpul) bersama orang Yahudi dan Nasrani dalam hari raya dan musim mereka dan berbuat sebagaimana yang mereka perbuat…”

Alih bahasa Oleh Ustadz Dika wahyudi Lc.