BOLEHKAH MENAMPAKKAN KEGEMBIRAAN DISAAT HARI RAYA ORANG KAFIR?

Pertanyan :

BOLEHKAH MENAMPAKKAN KEGEMBIRAAN DISAAT HARI RAYA ORANG KAFIR?

Jawabannya:

tidak boleh, dan perbuatan tersebut diharamkan juga.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata dalam majmu’ fatawa (XXV/239)

“tidak halal bagi seorang muslim meniru-niru mereka dalam suatu apapun yang khusus dalam hari raya mereka, tidaklah berupa makanan, tidak juga pakaian, (mengkhususkan) mandi (dalam hari raya mereka), menyalakan api, atau berjual beli terhadap suatu barang yang membantu mereka dalam perayaan tersebut dan untuk perayaan itu. Dan tidak boleh membiarkan anak-anak dan semisalnya melakukan permainan yang ada di dalam hari raya, dan tidak boleh menampakan perhiasan.

kesimpulannya tidak boleh bagi kaum muslimin mengkususkan hari raya mereka (orang kafir) dengan sesuatu apapun dari syi’ar (agama) mereka. Bahkan haruslah hari raya mereka bagi kaum muslimin (diberlakukan) sebagaimana hari-hari biasa lainnya.”

LANTAS KALAU KITA HANYA IKUT SENANG TAPI TIDAK BERNIAT TASYABBUH, KARENA ITU JUGA HARI LIBUR NASIONAL, BAGAIMANA??!

Jawabannya: perbuatan tersebut tetap diharamkan.

Imam adz-Dzahabi berkata dalam Tasyabuh al-Khosiis hlm. 30

“Apabila ada yang berkata: “Sesungguhnya kami tidak berniat tasabbuh kepada mereka!!!”

Maka dikatakan kepadanya: “kesesuaian dan ikut serta itu sendiri dengan mereka dalam hari raya mereka (orang kafir) dan musim (ibadah) mereka hukumnya haram. dengan dalil dalam Hadits Shahih yang telah tetap, bahwa Rasulullah Shalallahu Wassalam sesungguhnya beliau melarang dari shalat di waktu terbitnya matahari dan juga waktu terbenamnya dan ia berkata:

فَإِنَّهَا تَطْلُعُ حِينَ تَطْلُعُ بَيْنَ قَرْنَيْ شَيْطَانٍ، وَحِينَئِذٍ يَسْجُدُ لَهَا الْكُفَّار
رواه مسلم (833) وأبو داود (1277) والنسائي (1/279)

“Sesungguhnya ia terbit di antara dua tanduk setan dan di waktu itu orang-orang kafir sujud kepada matahari”

dan orang yang shalat pada waktu itu tidak meniatkan yang sujud kepada matahari, karena kalau ia meniatkan sujud kepada matahari maka ia telah kufur. akan tetapi kesesuaian dan ikut serta itu sendiri dengan mereka (dalam waktu yang sama) ini hukumnya di Haramkan.

KAMI HANYA MEMBUAT SENANG ANAK-ANAK DAN ISTRI DIWAKTU LIBURAN YANG BERTEPATAN DENGAN PERAYAAN MEREKA.

Berkata Imam Dzahabi rahimahullahu Ta’ala:

Apabila ada yang mengatakan: “Sesungguhnya kami melakukan yang demikian (ikut bersenang-senang) dalam hari raya orang kafir untuk menyenangkan anak-anak kecil dan juga wanita (para istri)!?”

maka dikatakan baginya:
seburuk-buruk keadaan manusia adalah orang yang membuat ridho keluarga/istri dan anak-anaknya dengan sesuatu yang membuat Allah murka kepadanya.

Dan sungguh al-imam al-hasan al-bashri rahimahullah telah berkata: “tidaklah seorang laki-laki mentaati istrinya terhadap apa yang ia inginkan dari hawa nafsunya kecuali Allah Subhanahu Wa Ta’ala akan jebloskan dia ke dalam api neraka dan Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah berfirman dalam kitabnya yang mulia:

(يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ)

” Wahai orang-orang yang beriman jagalah diri kalian dan keluarga kalian dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan bebatuan…” at-tahrim: 6

dan maknanya; ajarkanlah mereka ilmu dan juga adab dan perintahkanlah mereka terhadap yang Ma’ruf dan larang lah mereka dari perbuatan yang munkar agar mereka bisa terjaga dari api neraka yang diantara sifatnya bahwa neraka itu dinyalakan dengan bahan bakar manusia dan juga bebatuan, dikatakan batu belerang. Semoga Allah Subhanahu Wa Ta’ala menyelamatkan kita dari api neraka.

dan dari Abdullah bin amr bin al ash radhiallahu anhuma Sesungguhnya ia berkata:

barangsiapa yang membuat/merayakan nayruz mereka, mahrojan mereka dan menyerupai mereka sampai mati dan ia dalam keadaan tersebut serta belum bertobat, maka ia akan dikumpulkan bersama mereka pada hari kiamat.

(dikeluarkan oleh Al Baihaqi dalam Al kubro 9 234 dan disahkan sanadnya oleh syaikhul Islam dalam iqtidho’ jilid 1/457)

dan perkataannya ini menunjukkan bahwa melakukan yang demikian/ merayakan hari raya orang kafir termasuk dosa-dosa besar. perbuatan yang sedikit dari hal itu akan menyeret kepada perbuatan yang banyak. maka layaklah bagi seorang muslim agar menutup pintu ini secara asal dan secara pokok. Dan membuat lari/jauh para istri dan anak-anaknya dari melakukan hal itu walaupun sedikit. karena kebaikan itu adalah dibiasakan dan menjauhi perbuatan Bid’ah adalah perbuatan ibadah.

dan janganlah seorang jahil mengatakan: aku membuat bahagia anak-anakku!!!

apakah tidak bisa kau Dapatkan -wahai seorang muslim- untuk membuat bahagia mereka kecuali dengan apa yang membuat murka Ar-Rahman dan membuat ridho syaithon, dan dia adalah perbuatan syi’ar kekufuran dan juga perbuatan tughyan/melampaui batas??

Maka seburuk-buruk pendidik adalah engkau akan tetapi dengan itulah sebenarnya engkau terdidik.

(Tasyabbuhul khosis hlm 36-37)

Ustadz Dika wahyudi lc.

HORMATI YANG LEBIH TUA

Islam adalah agama akhlak dan agama yang indah dengan akhlak yang dimilikinya. di antara keindahan akhlak islam adalah penghormatan dan penghargaan kepada orang yang umurnya lebih tua dari kita. Ada beberapa dalil khusus yang menjelaskan hak orang yang lebih tua, di antaranya;

إِنَّ مِنْ إِجْلاَلِ اللَّهِ إِكْرَامَ ذِي الشَّيْبَةِ الْمُسْلِمِ وَحَامِلِ الْقُرْآنِ غَيْرِ الْغَالِي فِيهِ وَالْجَافِي عَنْهُ وَإِكْرَامَ ذِى السُّلْطَانِ الْمُقْسِطِ

“sesungguhnya di antara bentuk mengagungkan Allah adalah memuliakan seorang muslim yang telah beruban, dan memuliakan penghafal al-Qur’an tanpa berlebihan (dalam memuliakan) dan tidak berlaku kasar kepadanya, serta memuliakan penguasa yang adil” H. R. Abu Daud (4843) dihasankan oleh Syaikh al-Albani dalam shohihul jami’ (2199)

Rasulullah juga bersabda:

لَيْسَ مِنَّا مَنْ لَمْ يَرْحَمْ صَغِيرَنَا، وَيُوَقِّرْ كَبِيرَنَا

“bukan termasuk golongan kami orang yang tidak menyayangi yang lebih muda di antara kami dan yang tidak menghormati yang lebih tua di antara kami” H. R. Tirmidzi (1919) lihat Ash-Shohihah (2196)

Syaikh Abdurrozzaq bin Abdul Muhsin Albadr berkata:

“sabda Nabi shallallahu alaihi wa salam (ليس منا) di dalamnya terkandung bahwa barang siapa yang tidak menghormati yang lebih tua dan menghargainya Maka dia tidak berada dalam petunjuk Nabi Shallallahu alaihi wa salam, dan tidak berada dalam jalan dan sunnahnya sholawatullah wa Salamuhu alaih

Kemudian, hak ini bertambah agung dan besar dengan sisi yang mengelilinginya. Apabila orang tua tersebut termasuk kerabat, maka ia memiliki hak kekerabatan dan hak usia tua. Apabila ia adalah tetangga maka ditambah dari hak usia tuanya (kemuliaan) hak bertetangga, apabila ia seorang muslim, maka bersama hak usianya ia memiliki hak islam. Dan apabila orang tua tersebut adalah bapak atau paman, maka haknya lebih besar lagi. Bahkan kalaupun orang tua tersebut non muslim ia juga memiliki hak usia tua. Karena syariat datang untuk menjaga hak orang yang lebih tua walaupun kepada non muslim. Mungkin saja perhatianmu terhadap hak usia tua menjadi sebab Bagi mereka masuk ke agama ini di fase akhir dari kehidupan mereka dan dekatnya mereka dari berpisah kepada dunia. Maka ia akan melihat kelapangan agama ini, kelembutannya, keramahannya dan keindahannya. Terlebih lagi ia melihat hak-haknya hilang sia-sia dalam aqidah batilnya, dan agama yang palsu yang ia tumbuh dan hidup bersamanya. Maka ia masuk ke dalam agama islam dengan sebab perkara (akhlak) yang bercahaya yang memperhatikannya, di mana apabila hak itu disia-siakan maka sungguh akan menghalangi ia dari menerima agama ini, dan ini adalah pandangan yang harus diperhatikan” huquq kibaris sinn,Syaikh Abdurrozzaq al-Badr, hlm. (14-15)

Maka bayangkan betapa besarnya hak bagi orang yang dia adalah guru kita sendiri, yang mengajarkan kebaikan kepada kita dan menjadi sebab dari hidayah kita. maka haknya lebih besar lagi. Ia memiliki hak islam, hak ahli ilmu, hak orang tua, hak orang yang telah berbuat baik kepadanya. Jangan sampai gelar dan titel kita yang seabrek menghiasi Bagian depan dan belakang nama asli kita melupakan hak-hak yang wajib kita tunaikan.

Berkata Abu ‘Ashim an-Nabil:

aku mendengar Sufyan Ats-Tsauri berkata dan telah hadir dalam majelisnya serang pemuda yang berilmu, akan tetapi dia merasa besar, ia berbicara dan sombong dengan ilmu yang ia miliki kepada orang yang lebih tua darinya. Maka marahlah Sufyan dan berkata: “tidaklah kaum Salaf seperti ini! Dahulu salah seorang di antara mereka tidaklah mengaku menjadi imam dan tidaklah duduk di depan (untuk mengajar) sampai ia belajar tiga puluh tahun. Sedangkan kamu berlaku sombong terhadap orang yang lebih tua dari mu. Berdirilah pergi dari ku! Dan aku tidak mau melihat engkau mendekat dari majelisku. [almadkhol ilas sunanil kubro, Imam al-Baihaqi hlm. 388]

Semoga bermanfaat

Ustadz Dika Wahyudi Lc.

SEBUAH NASEHAT DARI SYAIKH IBRAHIM AR-RUHAILI -hafizhahullaah-

SEBUAH NASEHAT DARI SYAIKH IBRAHIM AR-RUHAILI -hafizhahullaah- DI MAJLIS TERAKHIR

Saya tidak menasehatkan para penuntut ilmu untuk masuk ke partai politik, karena tidak ada seorang pun yang memasukinya kemudian bisa keluar dengan selamat. Setiap yang masuk ke dalamnya; maka LENYAP. Ini sudah ma’ruf dalam realitanya.

Kalau zaman dahulu dikatakan tentang ilmu filsafat: seseorang telah masuk ke dalamanya kemudian tidak bisa keluar darinya; demikian juga politik. Pada kesempatan semacam ini Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata bahwa banyak kelompok telah menentang syari’at, beliau sebutkan di antaranya adalah: ahli filsafat dan para umara’. Maka lihatlah kepada perbandingan ini; antara ahli filsafat dan para umara’:

– orang yang masuk ke filsafat: tidak mampu untuk keluar darinya, dan

– orang yang masuk ke politik: tidak mampu untuk keluar darinya.

TIDAK ADA YANG LEBIH UTAMA UNTUK KEDUDUKAN PENUNTUT ILMU DIBANDINGKAN: MENGAJARI MANUSIA DI MASJID, SAMPAI BERTEMU ALLAH; SEDANG DIA DALAM KEADAAN SEPERTI INI.

Jabatan (ilmu) ini tidak mungkin untuk dilengserkan…tidak mungkin seorang ulama dilengserkan (dari ilmunya). Walaupun dia berada di atas gunung; maka dia akan menyebarkan ilmunya sehingga manusia pun mengambil manfaat darinya.

Adapun menteri: maka bisa dilengserkan …pemimpin: juga bisa dilengserkan …bahkan para raja pun: bisa dilengserkan. Adapun ulama: maka tidak akan dilengserkan. Dan kita memiliki kabar gembira dari hadits Nabi -shallallaahu ‘alaihi wa sallam-:

إِنَّ اللَّهَ لاَ يَقْبِضُ العِلْمَ انْتِزَاعًا يَنْتَزِعُهُ مِنَ العِبَادِ، وَلَكِنْ يَقْبِضُ العِلْمَ بِقَبْضِ العُلَمَاءِ

“Sungguh, Allah tidak akan mencabut ilmu dari (dada )para hamba, akan tetapi Allah akan mencabut ilmu dangan mewafatkan para ulama.”

Dan sepanjang sejarah: orang-orang yang diberikan taufiq; siapakah mereka: mereka adalah orang-orang yang senantiasa fokus memberikan pengajaran, menasehati manusia, dan mengarahkan manusia. (Seperti) Imam Ahmad; tatkala terjadi kemenangan (untuk Ahlus Sunnah), dan beliau dimuliakan oleh Al-Mutawakkil; dan -ada yang mengatakan-: Khalifah berniat untuk membangun istana untuk Imam Ahmad di sisi Khalifah; maka ini kemenangan besar untuk Ahlus Sunnah; dimana Imam Ahmad punya istana di samping khalifah, sehingga bisa senantiasa menasehatinya, maka ini kebaikan. Bagaimanakah sikap Imam Ahmad: beliau menolaknya.

Beliau mengetahui bahwa: ketika beliau punya istana di samping khalifah; maka akan datang waktunya muncul suatu perkara yang beliau nanti berselisih dengan khalifah, atau sebaliknya: beliau menyetujui dan melakukan Mudaahanah; maka beliau sudah mengetahui ini dari awal.

Tapi kita juga tidak mengatakan untuk menjauhi penguasa. Tetap usahakan untuk ada hubungan dengan mereka; untuk menasehati: bagi orang yang memiliki ilmu serta dia mempunyai kepercayaan terhadap dirinya: dimana dia tidak akan melenceng dan tidak pula melakukan Mudaahanah.

-disarikan dengan ringkas oleh: Ustadz Ahmad Hendrix-

SYUKUR YANG SESUNGGUHNYA

16406929_818863214934207_4825564137854999212_n

sering kali kita berucap atau mendengar seorang berkata:

*”wajar saya berhasil, saya diberikan kecerdasan oleh Allah, alhamdulillah“*

*”Alhamdulillah, Allah memberikan kemampuan bagi saya berusaha, jadi sangatlah pantas saya berhasil“*

Perkataan demikian tidaklah termasuk bersyukur terhadap nikmat yang Allah berikan kepada kita.
Syaikh Muhammad bin Abdulwahhab memberikan sebuah bab khusus dalam Kitab Tauhid: Bab 48

وَلَئِنْ أَذَقْنَاهُ رَحْمَةً مِنَّا مِنْ بَعْدِ ضَرَّاءَ مَسَّتْهُ لَيَقُولَنَّ هَٰذَا لِي…

Dan jika Kami merasakan kepadanya sesuatu rahmat dari Kami sesudah dia ditimpa kesusahan, pastilah dia berkata: “Ini adalah hakku... Q.S. Fushshilat: 50

Mujahid berkata: “ini adalah karena jerih payah usahaku dan aku memang berhak mendapatkannya”

dan Ibnu Abbas berkata: “maksudnya ini adalah dari diriku sendiri” [lihat alqoulus sadid, hlm. 249 tahqiq Sobri Salamah]

Lantas bagaimana bersyukur yang sesungguhnya bagi seorang hamba dan seharusnya?

Ibnu Qoyyim berkata:
pokok dari Syukur adalah pengakuan terhadap nikmat yang diberikan oleh al-Mun’im (zat yang telah memberikan nikmat) disertai dengan ketundukan pada-Nya, kerendahkan diri dan rasa cinta pada-Nya.

maka barangsiapa yang tidak mengetahui nikmat Bahkan ia jahil terhadap nikmat tersebut, belumlah Ia mensyukuri nikmat tersebut.

Dan barangsiapa yang mengetahui Nikmat tersebut dan dia tidak mengenal al-Mun’im (Dzat yang telah memberikan nikmat) kepadanya, tidak juga dia bersyukur terhadap nikmat tersebut.

Dan barang siapa yang mengetahui nikmat dan mengetahui al-Mun’im, akan tetapi ia mengingkari nikmat tersebut sebagaimana orang yang mengingkari nikmat al-Mun’im, maka sungguh ia telah kufur nikmat.

Barang siapa yang mengetahui nikmat dan al-Mun’im dan mengakuinya serta tidak mengingkarinya, akan tetapi dia tidak tunduk kepada-Nya, tidak mencintai-Nya, tidak ridho terhadap nikmat dan (tidak ridho) kepada-Nya, tidak juga dia bersyukur.

Dan barang siapa yang mengetahui nikmat, mengetahui al-Mun’im dan mengakuinya, dan tunduk kepada al-Mun’im, mencintai-Nya, meridhoi nikmat dan kepada-Nya, dan dia menggunakannya dalam hal yang dicintai-Nya dan dalam ketaatan kepada-Nya. Maka inilah orang yang bersyukur kepada nikmat.

Haruslah dalam mensyukuri nikmat ada ilmu di dalam hati dan amal yang mengiringi ilmu, dan dia adalah condong kepada al-Mun’im dan mencintai serta tunduk kepada-Nya” [madarijus salikin, (II/232)]

Semoga bermanfaat

Ustadz Dika wahyudi Lc.

EMPAT GOLONGAN PENGHANCUR ISLAM

images

EMPAT GOLONGAN PENGHANCUR ISLAM

Api peperangan antara haq dan bathil akan terus menyala dari waktu ke waktu, zaman ke zaman dan disetiap tempat dimana bumi dipijak.

Iblis dan bala tentaranya tak kenal lelah menghalangi ahlul haq dari shirothol mustaqim. Dan terkadang tak sadar sebagian orang berada dalam barisan mereka untuk menghancurkan islam dari dalam. Oleh karena itu kenalilah mereka jangan sampai terjebak dalam perangkapnya atau bahkan jangan sampai kita termasuk didalam shof dan barisan mereka.

Ibnu qoyyim berkata:

“Berkata Muhammad bin Al-Fadhl Ash-Shufi Az-Zahid:

Islam akan hancur ditangan 4 golongan manusia

1. golongan yang tidak mengamalkan ilmu yang mereka ketahui

2. golongan yang mengamalkan apa yang tidak mereka ketahui

3. golongan yang tidak beramal dan tidak juga berilmu

4. golongan yang menghalangi manusia dari mempelajari ilmu.

Aku katakan (ibnu qoyyim):

-golongan yang pertama orang yang memiliki ilmu tidak mengamalkan ilmu. Orang tersebut adalah orang yang paling berbahaya bagi orang-orang Awam karena dia akan menjadi alasan bagi orang awam pada setiap perbuatan yang tercela dan perbuatan yang celaka (yang mereka lakukan)

-Golongan yang kedua adalah: ahli ibadah yang bodoh, karena sesungguhnya manusia akan berbaik sangka terhadapnya :dengan ibadahnya dan kesholehannya. Maka mereka mencontohnya dengan kebodohannya.

Dan dua golongan inilah yang sebagian salaf menyebutkan mereka dalam nasehatnya: “jauhilah orang alim yang fajir (hanyut dalam kemaksiatan) dan ahli ibadah yang bodoh. Karena sesungguhnya fitnah mereka berdua adalah fitnah bagi setiap orang. Karena manusia sesungguhnya hanya mencontoh ulama dan ahli ibadah mereka. Apabila ulamanya adalah orang yang hanyut dalam maksiat dan ahli ibadahnya adalah orang yang bodoh. Maka musibah akan menyeluruh dengan keduanya, dan fitnah akan membesar menimpa orang khusus dan orang awam.

-Dan golongan yang ketiga: yang tidak memiliki ilmu dan tidak beramal, sesungguhnya mereka layaknya binatang ternak yang digembalakan.

Golongan yang keempat: mereka adalah PERWAKILAN IBLIS di muka bumi, dan merekalah yang MENGHALANGI MANUSIA DARI MENUNTUT ILMU dan mendalami agama. Merekalah golongan yang lebih berbahaya dari SETAN JENIS JIN. Karena mereka menghalangi hati-hati manusia dari hidayah Allah dan jalan Allah.

Dan empat golongan inilah yang disebutkan oleh orang yang arif ini rohimahullah. Dan mereka semuanya berada dalam tepi jurang yang runtuh dan berada dalam jalan kebinasaan.

Dan tidaklah seorang alim dan da’i -yang menyeru- kepada Allah dan Rasulnya menemui gangguan dan permusuhan, kecuali dari tangan empat golongan tersebut. Dan Allah akan menggunakan siapa saja yang dikehendaki untuk melampiaskan murka-Nya, sebagaimana menggunakan siapa saja yang ia cintai untuk menyampaikan ridho-Nya. Sesungguhnya Dia dzat yang Maha mengabarkan lagi Maha melihat.”

[Miftah daaris sa’adah, ibnul qoyyim(1/160)cet. Darul kutub ilmiyyah]

Maka jangan heran, apabila ada pengusiran pada dai’ ahlus sunnah, pencekalan, penggusuran pesantren dan masjid mereka, pembubaran kajian mereka. Tidak lain itu semua adalah usaha iblis untuk memadamkan cahaya Allah.

يُرِيدُونَ لِيُطْفِئُوا نُورَ اللَّهِ بِأَفْوَاهِهِمْ وَاللَّهُ مُتِمُّ نُورِهِ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ

Mereka ingin memadamkan cahaya Allah dengan mulut (tipu daya) mereka, tetapi Allah (justru) menyempurnakan cahaya-Nya, walau orang-orang kafir membencinya”. [Surat ash-shof:8]

Semoga bermanfaat

Ustadz Dika Wahyudi Lc.