Larangan memperdebatkan Ayat Ayat Allah

HADITS KELIMA

حديث: ((مِرَاءٌ فِي الْقُرْآنِ [وَفِيْ لَفْظٍ: جِدَالٌ] كُفْرٌ))

Hadits: “Miraa’ [dalam lafazh lain Jidaal] (berdebat) dalam tentang A-Qur’an adalah kekafiran.”

TAKHRIJ HADITS:

SHAHIH: Dikeluarkan oleh Abu Dawud (no. 4603), Ahmad (no. 7835, 9446, 10099, 10487, & 10778- cet. Daarul Hadiits), Al-Hakim (no. 2931- cet. Daarul Fikr), Al-Ajurri dalam “Asy-Syrii’ah” (hlm. 67), dari beberapa jalan, dari Muhammad bin ‘Amr bin ‘Alqamah, dari Abu Salamah, dari Abu Hurairah, dari Nabi -shallallaahu ‘alaihi wa sallam-, beliau bersabda: … kemudian disebutkan lafazh haditsnya.

Al-Hakim berkata:

“Shahih, sesuai syarat Muslim.” Dan disepakati oleh Adz-Dzahabi.

Saya katakan: Keduanya tidak benar, karena Muhammad bin ‘Amr bin ‘Alqamah: hanya Hasan haditsnya, dan Muslim hanya mengeluarkannya sebagai “Mutaaba’ah” (penyerta).

Dan di sini dia (Muhammad bin ‘Amr bin ‘Alqamah): mempunyai “Mutaaba’ah” (penyerta yang menguatkannya) dari riwayat: Sa’d bin Ibrahim -yaitu: Ibnu ‘Abdirrahman bin ‘Auf-: seorang yang tsiqah dan termasuk perawi Al-Kutubus Sittah. Diriwayatkan oleh Ahmad (no. 7499), dari jalan Zakariya, darinya (Sa’d bin Ibrahim) -dengan lafazh lain-. Dan Zakariya adalah: Ibnu Abi Zaidah: seorang yang tsiqah dan termasuk perawi Al-Kutubus Sittah.

Akan tetapi dia (Zakariya bin Abi Zaidah) diselisihi oleh yang lainnya:

Maka Ahmad mengeluarkannya (no. 10364) dari jalan Manshur -yakni: Ibnu Mu’tamir-, (no. 10154) dari jalan Sufyan -yakni: Ibnu ‘Uyainah-, Al-Hakim (no. 2938- cet. Daarul Ma’rifa) dari jalan Sa’id -yakni: Ibnu ‘Abdil ‘Aziz At-Tanuhi: Seorang yang tsiqah dan perawi Muslim, semuanya dari Sa’d bin Ibrahim, dari ‘Umar bin Abi Salamah, dan seterusnya -dengan lafazh lain (Jidaal)-.

Maka mereka menambahkan: ‘Umar bin Abi Salamah; dan dia adalah: “Shaduuq Yukhti’” -sebagaimana dikatakan oleh Al-Hafizh dalam “At-Taqriib”-.

Syaikh Ahmad Syakir dalam “Takhriij Al-Musnad” (no. 7499) lebih condong untuk menguatkan jalan ini.

Saya katakan: Hanya saja Al-Ajurri mengeluarkannya dalam “Asy-Syarii’ah” (hlm. 67) dari jalan Manshur, dari Sa’d bin Ibrahim, dari Abu Salamah, dan seterusnya, dengan lafazh: “Miraa’”. Maka tidak disebutkan ‘Umar bin Abi Salamah.

“Maka bisa jadi [Sa’d bin Ibrahim; yaitu: Ibnu ‘Abdirrahman bin ‘Auf] mendengarnya dari pamannya: Abu Salamah [yaitu: Ibnu ‘Abdirrahman bin ‘Auf], dan juga mendengarnya dari anak pamannya [‘Umar bin ‘Abi Salamah bin ‘Abdirrahman bin ‘Auf], dari bapaknya: Abu Salamah.

Sehingga [Sa’d] meriwayatkannya dengan dua segi.”

[“Takhriij Al-Musnad”]

“Dan manapun yang benar; maka hadits di atas adalah Shahih.”

[“Takhriij Al-Musnad”]

Yakni: baik yang kuat: ada tambahan ‘Umar bin Abi Salamah -yang dia ada kelemahan, sehingga sanadnya bisa terpengaruh-, atau memang Sa’d meriwayatkannya dari dua jalan -dengan tambahan ‘Umar dan tanpa tambahan-, maka hadits di atas tetap Shahih jika digabungkan dengan riwayat Muhammad bin ‘Amr bin ‘Alqamah.

Terlebih lagi: Hadits ini mempunyai “Syaahid” (penguat dari jalan Shahabat lain), dari ‘Abdullah bin ‘Amr -dengan ada tambahan di awalnya-, yang telah ditakhrij oleh Syaikh Al-Albani -rahimahullaah- dalam “Ash-Shahiihah” (no. 1522).

PENJELASAN HADITS:

[1]- Dijelaskan dalam kitab “Aunul Ma’buud” (XIII/910 cet. Daarul Kutub Al-‘Ilmiyyah) -dengan menukil dari Abu ‘Ubaid-:

“Dikatakan: Bahwa hadits ini berkaitan dengan Al-Jidaal dan Al-Miraa’ (berdebat) tentang ayat-ayat yang menyebutkan tentang takdir dan yang semisalnya, dengan mengikuti madzhab Ahli Kalam dan para pengikut hawa nafsu dan ra’yu.

Bukan tentang kandungan ayat-ayat yang berupa: hukum serta bab-bab halal dan haram; karena (debat tentang) hal tersebut telah terjadi di antara para Shahabat dan para ulama setelah mereka. Hal itu (dibolehkan) jika tujuan dan pendorongnya adalah: nampaknya kebenaran agar bisa diikuti, bukan untuk menang dan melemahkan (orang lain).”

[2]- Faedah Dalam Berbantahan

Imam Adz-Dzahabi -rahimahullaah-berkata dalam “Siyar A’laam An-Nubalaa’” (X/341- cet. Daarul Fikr) -pada biografi: Muhammad bin ‘Abdullah bin ‘Abdul Hakam-:

“Para ulama sejak zaman dahulu sampai sekarang senantiasa saling berbantahan dalam masalah: pembahasan dan tulisan. Dan dengan hal ini: seorang ‘alim (berilmu) bisa menambah fiqih (ilmu)nya, dan hal-hal yang janggal bisa menjadi terang baginya.

Akan tetapi pada zaman kita: kadang seorang Faqih (berilmu) bisa terkena balasannya jika dia memfokuskan dirinya untuk hal ini; dikarenakan: buruk niatnya, serta ingin menang, dan memperbanyak (pengikut); sehingga dia akan dilawan oleh para Qadhi dan musuh-musuhnya.

Kita memohon (kepada Allah): Hus-nul Khaatimah dan Ikhlas dalam beramal.”

Syaikh ‘Ali bin Hasan Al-Halabi Al-Atsari -hafizhahullaah- berkata dalam “Ar-Raddul Burhaani” (hlm. 13-14):

“Maka demi Allah -yang tidak ada yang berhak diibadahi selain Dia-: Sungguh aku memperhatikan kepada bantahan atau kritikan kepadaku -dari siapa pun-: dengan perhatian inshaaf (tulus) yang jujur dengan penuh perhatian. Agar aku bisa mengetahui -melalui hal tersebut-: keadaanku saat ini; berupa derajat kebenaran dan ketepatan, atau hal yang mungkin aku terjatuh ke dalamnya berupa: kesalahan atau pun keraguan. Maka kalau aku dapatkan: aku pun senang dan bersegera untuk memperbaikinya. Adapun kalau tidak; maka aku akan membantah kritikan (atasku) tersebut, atau mengkritik bantahan (atasku) tersebut.”

-ditulis oleh: Ustadz Ahmad Hendrix-

Menuntut Ilmu Syari’i semaksimal Mungkin

HADITS KEEMPAT

حديث: ((لَيْسَ الْخَبَرُ كَالْمُعَايَنَةِ، إِنَّ اللهَ -عَزَّ وَجَلَّ- أَخْبَرَ مُوسَى بِمَا صَنَعَ قَوْمُهُ فِي الْعِجْلِ؛ فَلَمْ يُلْقِ الْأَلْوَاحَ، فَلَمَّا عَايَنَ مَا صَنَعُوا؛ أَلْقَى الْأَلْوَاحَ، فَانْكَسَرَتْ))

Hadits: “(Mendapat) kabar itu tidak sama dengan melihat langsung, sesungguhnya Allah -‘Azza Wa Jalla- mengabarkan kepada Musa apa yang diperbuat oleh kaumnya terhadap patung anak sapi, dan ketika itu (Musa) belum melemparkan lembaran-lembaran (Taurat). Akan tetapi ketika melihat langsung apa yang mereka perbuat; (Musa marah dan) melemparkan lembaran-lembaran itu sampai pecah (rusak).

SHAHIH: Dikeluarkan oleh Ahmad (no. 2447- cet. Daarul Hadiits), Ibnu Hibban (no. 6223- cet. Daarul Fikr), dan Al-Hakim (no. 3330- cet. Daarul Fikr), dari dua jalan, dari Husyaim, dari Abu Bisyr, dari Sa’id bin Jubair, dari Ibnu ‘Abbas -radhiyallaahu ‘anhumaa-, dia berkata: Rasulullah -shallallaahu ‘alaihi wa sallam- bersabda: … kemudian disebutkan lafazh haditsnya.

Dan dikeluarkan oleh Ahmad (no. 1842- cet. Daarul Hadiits), langsung dari Husyaim, dengan mencukupkan kepada sabda Nabi -shallallaahu ‘alaihi wa sallam-:

((لَيْسَ الْخَبَرُ كَالْمُعَايَنَةِ))

“(Mendapat) kabar itu tidak sama dengan melihat langsung.”

Al-Hakim berkata:

“Shahih, sesuai syarat Asy-Syaikhain (Al-Bukhari dan Muslim).” Dan disepakati oleh Adz-Dzahabi.

Saya katakan: Perkataan keduanya kurang tepat. Karena Husyaim -yaitu: Ibnu Basyir Al-Wasithi- walaupun dia termasuk perawi Al-Bukhari dan Muslim; akan tetapi dia adalah Mudallis, dan dia telah menggunakan عَنْ ‘An dalam periwayatannya.

Dan Al-Hafizh Ibnu Hajar telah memperingatkan dari hal semacam ini dalam “An-Nukat ‘Alaa Ibni Ash-Shalaah” (I/299-301); yakni: BAHWA DALAM KITAB Al-MUSTADRAK SERING TERJADI KESALAHAN SEMACAM INI: DIKATAKAN SESUAI SYARAT AL-BUKHARI DAN MUSLIM; AKAN TETAPI ADA ‘ILLAH (PENYAKIT), SEPERTI: ADA RAWI YANG MUDALLIS.

Akan tetapi di sini Husyaim memilki “Mutaaba’ah” (penyerta yang menguatkannya), dari periwayatan: Abu ‘Awanah -dan namanya adalah: Wadh-dhah Al-Yasykuri-, dan dia tsiqatun tsabtun, termasuk perawi Al-Kutubus Sittah.

Dikeluarkan oleh: Ibnu Abi Hatim dalam Tafsiir-nya (no. 8998), Ibnu Hibban (no. 6223- cet. Daarul Fikr), dari dua jalan, darinya (Abu ‘Awanah), dan seterusnya.

Dan hadits ini dishahihkan oleh Imam Al-Albani -rahimahullaah- dalam “Shahiih Al-Jaami’ Ash-Shaghiir (no. 537)”.

PENJELASAN HADITS:

[1]- Allah -Ta’aalaa- berfirman:

وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ رَبِّ أَرِنِي كَيْفَ تُحْيِ الْمَوْتَى قَالَ أَوَلَمْ تُؤْمِنْ قَالَ بَلَى وَلَكِنْ لِيَطْمَئِنَّ قَلْبِي قَالَ فَخُذْ أَرْبَعَةً مِنَ الطَّيْرِ فَصُرْهُنَّ إِلَيْكَ ثُمَّ اجْعَلْ عَلَى كُلِّ جَبَلٍ مِنْهُنَّ جُزْءًا ثُمَّ ادْعُهُنَّ يَأْتِينَكَ سَعْيًا وَاعْلَمْ أَنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ

“Dan (ingatlah) ketika Ibrahim berkata: “Wahai Rabb-ku, perlihatkanlah padaku bagaimana Engkau menghidupkan orang mati.” Allah berfirman: “Belum yakinkah kamu?” Ibrahim menjawab: “Aku telah meyakininya, akan tetapi agar hatiku tenang (mantap dengan imanku).” Allah berfirman: “Kalau begitu, ambillah empat ekor burung, lalu cincanglah semuanya olehmu, kemudian letakkan di atas masing-masing bukit: satu bagian, kemudian panggillah mereka; niscaya mereka datang kepadamu dengan segera.” Ketahuilah bahwa Allah Maha Perkasa, Maha Bijaksana.” (QS. Al-Baqarah: 260)

[2]- Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di -rahimahullaah- berkata:

“Oleh karena itulah; ‘AINUL YAQIIN -yaitu: melihat langsung dengan mata kepala- lebih besar dari ‘ILMUL YAQIIN -yaitu: ilmu yang didapatkan dari pengabaran-. Dan yang lebih tinggi lagi dari keduanya adalah: HAQQUL YAQIIN -yaitu: yang langsung dirasakan-.

Sehingga, selayaknya bagi seorang hamba untuk berusaha mendapatkan ilmu yang bermanfaat, dan tidak mencukupkan diri dengan ‘ilmul yaqin kalau memang dia mampu untuk mendapat ‘ainul yaqin; sebagaimana Ibrahim Al-Khalil -‘alaihis salaam- meminta kepada Allah agar Allah menunjukkan kepadanya bagaimana Dia menghidupkan yang sudah mati; AGAR BISA MENINGKAT DARI SATU ILMU MENUJU ILMU YANG LEBIH TINGGI LAGI.”

[“Al-Mu’iin ‘Alaa Tahshiil Aadaabil ‘ilmi Wa Akhlaaqil Muta’allimiin” (hlm. 260)]

[3]- Imam Muhammad bin Idris Asy-Syafi’i -rahimahullaah- berkata:

“Selayaknya bagi para penuntut ilmu untuk mencapai usaha yang maksimal dalam memperbanyak ilmu, dan bersabar atas segala penghalang dalam menuntutnya. Serta mengikhlaskan niatnya karena Allah dalam mencapai ilmu; baik ilmu yang berupa nash (lafazh dari dalil-dalil) maupun istinbaath (pengambilan kesimpulan dari lafazh). Serta berharap kepada Allah agar menolongnya dalam (menuntut ilmu) tersebut; karena kebaikan tidak akan didapatkan melainkan hanya dengan pertolongan-Nya.”

[“Ar-Risaalah” (hlm. 109, no. 45)]

-ditulis oleh: Ustadz Ahmad Hendrix-

Ilmu adalah obat untuk kebodohan

HADITS KETIGA

حديث: ((قَتَلُوْهُ قَتَلَهُمُ اللهُ! أَلَمْ يَكُنْ شِفَاءُ الْعِيِّ السُّؤَالَ))

Hadits: “Mereka telah membunuhnya, semoga Allah membunuh mereka! Bukankah obat kebodohan adalah bertanya?!”

TAKHRIJ HADITS:

HASAN SHAHIH: Dikeluarkan Abu Dawud (no. 337), Ibnu Majah (no. 572), Ahmad (no. 3057- cet. Daarul Hadiits), Ad-Darimi (no. 756- cet. Daarul Ma’rifah), dan Al-Khathib Al-Baghdadi dalam “Kitaab Al-Faqiih Wal Mutafaqqih” (no. 759), dari beberapa jalan, dari Al-Auza’i, bahwa sampai kepadanya dari ‘Atha’ bin Abi Rabah, bahwa dia mendengar dari ‘Abdullah bin ‘Abbas, dia berkata: Pada zaman Rasulullah -shallallaahu ‘alaihi wa sallam- ada seseorang yang terluka [di kepalanya], kemudian dia mimpi basah (junub), maka ada yang memerintahkannya untuk mandi, dan dia pun mandi, lalu mati. Hal itu kemudian sampai kepada Rasulullah -shallallaahu ‘alaihi wa sallam-, maka beliau bersabda:…kemudian disebutkan lafazhnya.

Saya berkata: Sanad hadits ini para perawinya tsiqah dan merupakan para perawi Al-Bukhari dan Muslim; hanya saja: dikatakan ada ‘illah (penyakit) berupa keterputusan antara Al-Auza’i -namanya adalah: ‘Abdurrahman bin ‘Amr bin Abi ‘Amr- dan ‘Atha’ bin Abi Rabah. Syaikh Ahmad Syakir lebih menguatkan ketersambungannya -dalam Takhrii “Al-Musnad”-, demikian juga Syaikh ‘Ali bin Hasan Al-Halabi -dalam tahqiiq “Miftaah Daaris Sa’aadah” (I/363-364)-.

Akan tetapi, mana pun yang lebih kuat -baik tersambung maupun terputus-; maka Al-Auza’i telah memiliki “Mutaaba’ah” (penyerta yang menguatkannya); yaitu: Al-Walid bin ‘Abdullah bin Abi Rabah, yang dikeluarkan oleh: Ibnu Khuzaimah (no. 273) -dan dari jalannya: Ibnu Hibban (no. 1311- At-Ta’liiqaatul Hisaan)-, dan Al-Hakim (I/165), dari jalan ‘Umar bin Hafsh bin Ghiyats, dari bapaknya, darinya (Al-Walid).

Dishahihkan oleh Al-Hakim dan disepakati oleh Adz-Dzahabi.

Saya berkata: Para perawinya tsiqah dan merupakan para perawi Al-Bukhari dan Muslim; kecuali Al-Walid ini, maka dia bukan perawi keduanya, dan dia di-dha’if-kan oleh Ad-Daruquthni serta di-tsiqah-kan oleh Yahya bin Ma’in -sebagaimana dalam “Al-Jarh Wat Ta’diil” karya Ibnu Abi Hatim-. Maka ini merupakan “Mutaaba’ah” yang kuat untuk Al-Auza’i.

Dan telah menyelisi keduanya (Al-Auza’i dan Al-Walid): Az-Zubair bin Khuraiq, maka dia meriwayatkannya dari ‘Atha’, dan menjadikannya dari hadits Jabir, sebagaimana dikeluarkan oleh Abu Dawud (no. 336). Akan tetapi Az-Zubair adalah “Layyinul Hadits” (lembek haditsnya) -sebagaiman dalam “At-Taqriib”-.

PENJELASAN HADITS:

[1]- Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah -rahimahullaah- berkata:

“Mereka telah salah tanpa ijtihad; karena mereka memang bukan ahli ilmu.”

[“Raf’ul Malaam ‘An A-immatil A’laam” (hlm. 48- cet. Al-Maktab Al-Islami)]

[2]- Imam As-Syafi’i -rahimahullaah- berkata:

“Tidak boleh bagi seorang pun selama-lamanya: untuk bicara halal dan haram kecuali dengan disertai ilmu. Dan ilmu adalah: Al-Qur’an, As-Sunnah, Ijma’ atau Qiyas.”

[“Ar-Risaalah” (no. 120)]

[3]- Allah -Ta’aalaa- berfirman:

…فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لا تَعْلَمُونَ

“…Bertanyalah kepada ahludz dzikri (orang yang mempunyai pengetahuan) jika kamu tidak mengetahui.” (QS. An-Nahl: 43)

Ahludz dzikri adalah ahli ilmu -sebagaimana disebutkan dalam “Kitaab Al-Faqiih Wal Mutafaqqih” (no. 758)-.

-ditulis oleh: Ustadz Ahmad Hendrix-

Sebab dibinasakan

HADITS KEDUA

حديث: ((مَهْلًا يَا قَوْمِ! بِهَذَا أُهْلِكَتِ الْأُمَمُ مِنْ قَبْلِكُمْ: بِاخْتِلَافِهِمْ عَلَى أَنْبِيَائِهِمْ، وَضَرْبِهِمُ الْكُتُبَ بَعْضَهَا بِبَعْضٍ، إِنَّ الْقُرْآنَ لَمْ يَنْزِلْ يُكَذِّبُ بَعْضُهُ بَعْضًا، بَلْ يُصَدِّقُ بَعْضُهُ بَعْضًا، فَمَا عَرَفْتُمْ مِنْهُ؛ فَاعْمَلُوا بِهِ، وَمَا جَهِلْتُمْ مِنْهُ؛ فَرُدُّوهُ إِلَى عَالِمِهِ))

Hadits: “Tenang wahai kaum! Dengan sebab inilah umat-umat sebelum kalian dibinasakan: dengan penyelisihan mereka terhadap nabi-nabi mereka, dan mereka mempertentangkan sebagian (isi) kitab dengan sebagian yang lainnya. Sungguh, Al-Qur’an tidak turun untuk saling mendustakan sebagian (isinya) dengan sebagian lainnya, bahkan sebagiannya membenarkan sebagian yang lainnya. Apa yang kamu ketahui (maknanya); maka amalkanlah, dan apa yang kalian tidak ketahui; maka kembalikanlah kepada yang ‘alim (berilmu) tentangnya.”

HASAN: Dikeluarkan oleh Ahmad (no. 6668, 6702, & 6741- cet. Daarul Hadiits), Ibnu Majah (no. 85), dan Ibnu Abi ‘Ashim dalam “As-Sunnah” (no. 406), dari beberapa jalan, dari ‘Amr bin Syu’aib, dari bapaknya, dari kakeknya, dia berkata: Saya dan saudara saya telah duduk di suatu majlis yang tidak saya sukai untuk ditukar dengan unta merah. Saya dan saudara saya datang, dan ternyata ada para pembesar Shahabat Rasulullah -shallallaahu ‘alaihi wa sallam- sedang duduk-duduk di sisi salah satu pintu, maka kami segan untuk memisahkan di antara mereka sehingga kami duduk menjauh. Kemudian mereka menyebutkan sebuah ayat dalam Al-Qur’an, lalu mereka berselisih tentangnya (dalam satu lafazh: mereka membicarakan tentang masalah takdir), sampai suara mereka meninggi. Maka Rasulullah -shallallaahu ‘alaihi wa sallam- keluar dengan marah, wajah beliau memerah, dan beliau melempar mereka dengan debu, dan bersabda:…kemudian disebutkan lafazh haditsnya. Dan lafazh ini adalah milik Ahmad dalam sebagian riwayatnya.

Saya katakan: Ini adalah sanad yang hasan, karena termasuk riwayat ‘Amr bin Syu’aib, dari bapaknya, dari kakeknya -dan kakeknya adalah: ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash-. Lihat: “Miizaanul I’tidaal” (III/263-268).

Dan asal haditsnya terdapat dalam Muslim (no. 2666).

Dan bagian akhirnya memiliki “Syahid” dari hadits Abu Hurairah, yang dikeluarkan oleh Ibnu Hibban (no. 74- cet. Daarul Fikr).

PENJELASAN HADITS:

[1]- Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah -rahimahullaah- berkata -setelah menyebutkan hadits ini-:

“Maka beliau (Rasulullah -shallallaahu ‘alaihi wa sallam-) memerintahkan orang yang tidak mengetahui suatu (makna) dari Kitabullah (Al-Qur’an): untuk menyerahkan kepada orang yang ‘alim (berilmu) tentangnya, dan jangan memberat-beratkan diri untuk mengatakan sesuatu yang dia tidak memiliki ilmu tentangnya.”

[“I’laamul Muwaqqi’iin” (hlm. 366- cet. Daar Thayyibah)]

[2]- Syaikh Masyhur bin Hasan Alu Salman -hafizhahullaah- berkata:

“Kewajiban setiap orang adalah: untuk menjadi penuntut ilmu; dengan mempelajari hal-hal yang bisa memperbaiki lahir dan batin-nya, serta hal-hal yang menjadi kewajibannya untuk sehari semalam. Dan ini bisa didapatkan dengan cara mengambil (ilmu) dari ulama; maka tidak boleh bagi orang yang bodoh untuk memberanikan diri: menetapkan hukum-hukum; padahal dia bukan ahlinya. Kewajiban dia adalah bertanya:

…فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لا تَعْلَمُونَ

“…Bertanyalah kepada ahludz dzikri (orang yang mempunyai pengetahuan) jika kamu tidak mengetahui.” (QS. An-Nahl: 43)

Maka orang yang tidak berilmu bertanya kepada yang berilmu.”

[“At-Tahqiiqaat Wat Tanqiihaat As-Salafiyyaat ‘Alaa Matnil Waraqaat” (hlm. 641-642)]

[3]- Imam Asy-Syathibi -rahimahullaah- berkata:

“Seorang yang bukan Ahli Bid’ah; maka dia akan menjadikan hidayah kepada kebenaran sebagai awal tujuannya, dan dia mengakhirkan hawa nafsu (keinginan)nya -jika ada-, dan dijadikannya sebagai pengikut (kebenaran). (Dengan ini) dia akan mendapati umumnya dalil-dalil dan kebanyakan dari (isi) Kitab (Al-Qur’an): adalah jelas dalam tujuan yang dia cari; maka dia dapati jalan yang benar. Adapun yang janggal darinya; maka dia kembalikan kepada (yang sudah jelas) darinya, atau dia serahkan kepada ahlinya; dan tidak memberat-beratkan diri untuk membahas tentang maknanya.”

[“Al-I’tishaam” (I/178- tahqiiq Syaikh Salil Al-Hilali)]

[4]- Ibnu Hibban -rahimahullaah- berkata -setelah meriwayatkan hadits Abu Hurairah-:

“Sabda beliau: “dan apa yang kalian tidak ketahui; maka kembalikanlah kepada yang ‘alim (berilmu) tentangnya”; maka di dalamnya terdapat teguran dari kebalikan dari hal ini; yaitu: Jangan sampai bertanya kepada orang yang tidak mengetahui.”

-ditulis oleh: Ustadz Ahmad Hendrix-

ILMU, AMAL, & DAKWAH

HADITS-HADITS SEPUTAR: ILMU, AMAL, & DAKWAH

HADITS PERTAMA

حديث: ((مَنْ طَلَبَ العِلْمَ لِيُجَارِيَ [وفي لفظ: لِيُبَاهِيَ] بِهِ العُلَمَاءَ، أَوْ لِيُمَارِيَ بِهِ السُّفَهَاءَ، أَوْ يَصْرِفَ بِهِ وُجُوهَ النَّاسِ إِلَيْهِ؛ أَدْخَلَهُ اللهُ النَّارَ))

Hadits: “Barangsiapa yang menuntut ilmu untuk bergabung (dalam satu lafazh: berbangga) dengannya di hadapan ulama, atau untuk mendebat orang-orang bodoh, atau memalingkan wajah manusia agar mengahadap kepadanya; maka Allah akan memasukkannya ke dalam Neraka.”

TAKRIJ HADITS:

SHAHIH LIGHAIRIHI: Dikeluarkan oleh At-Tirmidzi (no. 2654), dia berkata: telah membawakan hadits kepada kami: Abul Asy’ats Ahmad bin Al-Miqdam Al-‘Ijli Al-Bashri, dia berkata: Telah membawakan hadits kepada kami: Umayyah bin Khalid, dia berkata: telah membawakan hadits kepada kami: Ishaq bin Yahya bin Thalhah, dia berkata: telah membawakan hadits kepada kami: Ibnu Ka’b bin Malik, dari bapaknya, dia berkata: Saya mendengar Rasulullah -shallallaahu ‘alaihi wa sallam- bersabda:…kemudian disebutkan lafazh di atas.

At-Tirmidzi berkata:

“Gharib, kami tidak mengetahuinya kecuali dari jalan ini. Dan Ishaq bin Thalhah tidak terlalu kuat menurut mereka, dia dibicarakan dari segi hafalannya.”

Saya berkata: Para perawi lainnya adalah tsiqah termasuk para perawi Shahih [istilah yang digunakan untuk menunjukkan bahwa sebagian perawinya adalah: perawi Al-Bukhari dan sebagian lainnya: perawi Muslim]. Dan hadits ini memilki beberapa “Syahid” (penguat dari jalan Shahabat yang lain) yang menguatkannya:

Syahid Pertama: Dari hadits Ibnu ‘Umar -dan di sinilah terdapat “lafazh lain”-:

Dikeluarkan oleh Ibnu Majah (no. 253), dia berkata: telah membawakan hadits kepada kami: Hisyam bin ‘Ammar, telah membawakan hadits kepada kami: Hammad bin ‘Abdurrahman, telah membawakan hadits kami kepada kami: Abu Karib Al-Azdi, dari Nafi’, darinya (Ibnu ‘Umar), dari Nabi -shallallaahu ‘alaihi wa sallam-, beliau bersabda:…kemudian disebutkan lafazh haditsnya.

Al-Bushiri berkata dalam “Mishbaahuz Zujaajah” (no. 100):

“Ini adalah sanad yang dha’if (lemah), dikarenakan lemahnya Hammad dan Abu Karib.”

Saya berkata: Benar seperti yang dikatakannya, akan tetapi perkataan beliau kurang tepat. Yang tepat adalah: “dikarenakan lemahnya Hammad dan MAJHUL-nya Abu Karib” Wallaahu A’lam.

Syahid Kedua: Dari hadits Jabir bin ‘Abdillah, dan lafazhnya:

((لَا تَعَلَّمُوا الْعِلْمَ لِتُبَاهُوْا بِهِ الْعُلَمَاءَ، وَلَا لِتُمَارُوْا بِهِ السُّفَهَاءَ، وَلَا تَخَيَّرُوْا بِهِ الْمَجَالِسَ، فَمَنْ فَعَلَ ذٰلِكَ؛ فَالنَّارُ النَّارُ))

“Janganlah kalian mempelajari ilmu untuk berbangga dengannya di hadapan ulama, jangan pula untuk mendebat orang-orang bodoh, dan jangan pula untuk memilih-milih majlis. Barangsiapa yang melakukannya; maka baginya adalah Neraka.”

Dikeluarkan oleh Ibnu Majah (no. 254), Ibnu Hibban (77- cet. Daarul Fikr), Al-Hakim (no. 292 & 293- cet. Daarul Fikr), Ibnu ‘Abdil Barr dalam “Jaami’ Bayaanil ‘Ilmi Wa Fadhlihi” (no. 1127- cet. Daar Ibnil Jauzi), Al-Kahthib Al-Baghdadi dalam “Kitaab Al-Faqiih Wal Mutafaqqih” (no. 878- cet. Daar Ibnil Jauzi), semuanya dari dua jalan, dari Yahya bin Ayyub, dari Ibnu Juraij, dari Abuz Zubair, darinya (Jabir), bahwa Nabi -shallallaahu ‘alaihi wa sallam- bersabda:…kemudian disebutkan lafazhnya.

Al-Bushiri berkata dalam “Mishbaahuz Zujaajah” (no. 101):

“Ini sanad yang para perawinya tsiqah sesuai syarat Muslim.”

Syaikh Al-Atsyubi berkata dalam “Syarh Ibnu Majah” (IV/486):

“Benar seperti yang dikatakannya, akan tetapi dalam (sanad)nya terdapat ‘An’anah-nya Ibnu Juraij dan Abuz Zubair, sedangkan keduanya adalah Mudallis.”

Saya berkata: Benar seperti yang dikatakannya, akan tetapi dalam salah satu riwayat Al-Hakim: ada hal yang menunjukkan atas “Tahdiits” (periwayatan secara langsung) Ibnu Juraij dari Abuz Zubair. Wallaahu A’lam.

Syahid Ketiga: Dari hadits Abu Hurairah.

Dikeluarkan oleh Ibnu Majah (no. 260), Ibnu Hibban (78), Al-Khathib (no. 809), dari beberapa jalan, darinya (Abu Hurairah).

Dan hadits ini sebenarnya mempunyai Syahid Keempat dari hadits Hudzaifah, yang dikeluarkan oleh Ibnu Majah (no. 259), akan tetapi sandanya “Saaqith” (berat ke-dha’if-annya).

Walhasil bahwa hadits di atas adalah “Shahih Ligharihi”, sebagaimana dikatakan oleh Imam Al-Albani -rahimahullaah- dalam “At-Ta’liiqaatul Hisaan” (no. 77).

PENJELASAN HADITS:

Al-Hafizh Ibnu Rajab Al-Hanbali -rahimahullaah- berkata dalam “Fadhlu ‘Ilmis Salaf ‘Alal Khalaf” (hlm. 61-62):

“Maka pada zaman yang rusak ini (manusia harus memilih):

(1)- apakah dia ridha agar dirinya menjadi seorang ‘alim (berilmu) menurut Allah,

(2)- ataukah dia tidak ridha kecuali (harus) menjadi ‘alim menurut manusia zaman sekarang.

Kalau dia ridha dengan yang pertama; maka cukuplah dengan pengetahuan Allah tentang dirinya. Dan barangsiapa yang antara dirinya dengan Allah ada pengenalan; maka dia akan mencukupkan diri dengan pengenalan Allah terhadap dirinya.

Dan barangsiapa yang tidak ridha kecuali agar bisa menjadi ‘alim menurut manusia; maka dia masuk ke dalam sabda Nabi -shallallaahu ‘alaihi wa sallam-: “Barangsiapa yang menuntut ilmu untuk berbangga dengannya di hadapan ulama, atau untuk mendebat orang-orang bodoh, atau memalingkan wajah manusia agar mengahadap kepadanya; maka siapkanlah tempatnya di Neraka.”

Wuhaib bin Al-Ward berkata: Betapa banyak orang ‘alim (berilmu) yang manusia menyebutnya sebagai seorang ‘alim, ternyata menurut Allah: dia tergolong orang bodoh.”

Dan seorang Shahabat yang mulia: ‘Utbah bin Ghazwan -radhiyallaahu ‘anhu- berkata:

وَإِنِّي أَعُوذُ بِاللهِ أَنْ أَكُونَ فِي نَفْسِيْ عَظِيمًا، وَعِنْدَ اللهِ صَغِيرًا

“Dan sungguh, aku berlindung kepada Allah dari (sifat) merasa besar pada diri sendiri, sedangkan di sisi Allah adalah kecil.”

Diriwayatkan oleh Muslim (no. 2967)

-ditulis oleh: Ustadz Ahmad Hendrix-