ANTARA: TA’ASHSHUB (FANATIK) MADZHAB, DAN BERHUKUM DENGAN HUKUM ALLAH, SERTA POLITIK

ANTARA: TA’ASHSHUB (FANATIK) MADZHAB, DAN BERHUKUM DENGAN HUKUM ALLAH, SERTA POLITIK

[1]- Syaikh Muhammad ‘Id ‘Abbasi -salah seorang murid senior Syaikh Al-Albani- berkata:

“Tidak lupa saya isyaratkan di sini bahwa: Ta’ashshub (Fanatik) Madzhab adalah: PENANGGUNG JAWAB TERBESAR DISINGKIRKANNYA SYARI’AT ISLAM DARI KETETAPAN, UNDANG-UNDANG, DAN HUKUM pada banyak Negara Islam, yang kemudian digantikan dengan undang-undang asing. Sebagaimana hal ini diketahui oleh para ahli sejarah perundang-undangan komtemporer; seperti Ustadz Mushthafa Az-Zarqa’ yang menjelaskan dalam kitabnya: “Al-Madkhal Ilaa Al-Fiq-hi Al-‘Aamm”: dimana kejumudan para syaikh dan ta’ashshub (fanatik) mereka terhadap madzhab Hanafi -yang digunakan pada zaman ‘Utsmani-: menjadi sebab untuk digunakannya undang-undang asing sebagai ganti dari Syari’at Islam.

Para penguasa Daulah ‘Utsmaniyyah dan para pejabatnya -pada dua kurun terakhir-; mereka berpandangan bahwa: apa yang ada pada Majalah “Al-Ahkaam Al-‘Adliyyah” -yang terikat dengan madzhab Hanafi-: tidak mencukupi untuk berbagai konsekuensi kehidupan baru, dan bahkan dalam pengamalannya terdapat kesulitan dan bahaya untuk rakyat. Maka mereka menawarkan kepada para Qadhi, mufti, dan masya-yikh ketika itu: untuk mengambil sebagian hukum dari madzhab-madzhab Islam yang lain. Maka mereka menolaknya sama sekali dan tetap berpegang kepada madzhab mereka. Sehingga pemerintah akhirnya berpaling dari Majalah “Al-Ahkaam Al-‘Adliyyah”, dan bahkan dari Syari’at Islam sedikit demi sedikit. Dan akhirnya mereka mengambil dari undang-undang asing.

Dan perkaranya tetap seperti itu sampai tahun 1949 M, ketika As’ad Al-Karwani, menteri Keadilan di Suria: dia membatalkan pengamalan dari sisa Majalah “Al-Ahkaam Al-‘Adliyyah”, dan mengambil undang-undang asing secara keseluruhan, karena mengikuti undang-undang kota Mesir. Dengan inilah Syari’at Islam dihilangkan dari perundang-undangan dan dari kehidupan. Dan sebabnya tidak lain adalah: ta’ashshub (fanatik) madzhab yang terlaknat.

Maka demi Rabb-ku: katakanlah wahai pambaca yang mulia: Manakah di antara dua Dakwah yang lebih berhak untuk kita tuduh bahwa ia telah memisahkan Islam dari kehidupan:

– Apakah Dakwah Salafiyyah: yang berpandangan untuk mengambil faedah dari seluruh madzhab Fiqih Islam dan mengambil dari semuanya; AKAN TETAPI BUKAN DENGAN BENTUK SERAMPANGAN -SEBAGAIMANA DISANGKA OLEH SEBAGIAN ORANG-, BAHKAN BERDASARKAN KUATNYA DALIL.

– Ataukah (Dakwah kepada) Madzhab secara Ta’ashshub (fanatik); yang tidak membolehkan mengambil dari selain madzhabnya, bahkan menganggap bahwa madzhab-madzhab lain seperti syari’at-syari’at tersendiri; yang tidak boleh diamalkan dan tidak boleh diambil?”

[2]- Syaikh ‘Abdul Malik bin Ahmad Ar-Ramadhani Al-Jaza-iri –hafihzhahullaah- berkata:

“Akan tetapi seiring dengan perjalanan waktu: maka banyak terjadi kasus yang tidak pernah diketahui oleh generasi sebelumnya, sehingga para penguasa lalu meminta fatwa pada para Fuqahaa’ (Ahli Fiqih) yang taqlid buta, yang mereka menutup pintu ijtihad, dan mengharamkan atas diri sendiri: untuk melihat kepada pendapat-pendapat yang tidak disebutkan oleh madzhab (mereka). Akibatnya para penguasa terpaksa melakukan ijtihad sendiri dalam menyelesaikan kasus-kasus baru tersebut; kadangkala dengan cara yang benar dan kadang kala dengan cara yang salah. Mereka semakin menjauhkan diri dari ulama syari’at, karena beranggapan bahwa syari’at tidak mampu memberikan solusi pemecahan problematika kontemporer yang tengah dihadapi.

Akibatnya tindakan mereka berlanjut sampai mereka berpaling dari apa yang Allah turunkan; berupa ayat-ayat Al-Qur’an yang sudah jelas maknanya. Mereka berhukum dengan ra’yu (pendapat), dikarenakan kebodohan atau kezaliman. Pada akhirnya masyarakat awam juga berani terhadap syari’at; sampai mengubah-ubah banyak dari hukum syariat.

Bahkan lebih dahsyat dan lebih pahit lagi: bahwa belakangan ini muncul sejumlah orang yang ta’at beragama, akan tetapi mereka jahil (bodoh). Mereka berusaha memperbaiki penyimpangan ini, akan tetapi mereasa berat untuk menempuh Manhaj para nabi dan jalannya kaum mukminin (para Shahabat). Akhirnya mereka beralih ke sistem Barat yang kafir agar bisa mendirikan pemerintahan yang melaksanakan hukum-hukum Allah. Itu persangkaan mereka!

Contohnya: mereka melibatkan diri dalam permainan demokrasi, dan memasuki parlemen, mereka mengumpulkan massa untuk menekan pemerintah. Terkadang mereka mengaku bahwa: langkah semacam ini merupakan “maslahah mursalah” dan syari’at yang fleksibel! Dan terkadang mereka mengaku terpaksa dan sangat berat hati dalam melakukannya!!

Mereka terus menerus melakukan cara-cara politik semacam itu hingga mereka menganggap baik dusta dan makian, menganggap biasa khianat dan makar terhadap partai-partai (lain). Sampai-sampai sudah populer di kalangan masyarakat awam bahwa: politikus itu identik dengan pembohong yang plin-plan.

Pengaruh mereka lebih buruk dibandingkan penyimpangan para penguasa itu sendiri, karena penguasa semacam itu tidak diteladani oleh rakyat pada umumnya negeri Islam, lain halnya dengan para politikus yang memakai label Islam itu; maka mereka dipandang sebagai tokoh panutan bagi masyarakat awam; sehingga mereka menjadi panutan bagi orang-orang khusus dan orang-orang awam. Maka, alangkah besarnya fitnah (kejelekan) mereka terhadap manusia.”

[“Madaarikun Nazhar Fis Siyaasah” (hlm. 129-130- cet. I)]

-ditulis oleh: Ustadz Ahmad Hendrix-

KESALAHAN DALAM BERDALIL DENGAN DALIL YANG BENAR

Yakni: bahwa dalil yang dibawakan adalah benar (dari Al-Qur’an atau Hadits Shahih); akan tetapi salah dalam berdalil.

Dan kesalahan dalam berdalil ada 2 (dua):

PERTAMA: Kesalahan dalam:

– dalil, yakni: dalam segi pendalilannya, bahwa dalil tersebut tidak menunjukkan atas apa yang dinginkan,

– dan salah pula dalam sesuatu yang di-dalil-i (diberikan dalil atasnya), yakni: sesuatu yang akan diberikan dalil: adalah sesuatu yang bathil (rusak/tidak benar), sehingga tidak mungkin dalil yang benar akan menunjukkan atasnya.

KEDUA: Kesalam dalam dalil/pendalilan saja, walaupun sesuatu yang di-dalil-i (diberikan dalil atasnya) adalah sesuatu yang haq (benar).

Untuk yang PERTAMA; Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah -rahimahullaah- berkata:

“Maksudnya: orang-orang seperti mereka = meyakini suatu ra’yu (pendapat/pemikiran), kemudian mereka memaksakan lafazh-lafazh Al-Qur’an untuk diarahkan kepada (ra’yu) tersebut. Padahal mereka tidak memiliki Salaf (pendahulu) dari kalangan para Shahabat dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik; dari kalangan imam-imam kaum muslimin; tidak dari ra’yu (pendapat) mereka dan tidak pula dari tafsir mereka.”

[“Muqaddimah At-Tafsiir” (hlm. 110- Syarh Syaikh Al-‘Utsaimin)]

Untuk yang KEDUA; Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah -rahimahullaah- berkata:

“Adapun orang-orang yang salah dalam dalil/pendalilan; bukan dalam sesuatu yang di-dalil-i (diberikan dalil atasnya); maka seperti banyak dari kaum Sufi, para pemberi nasehat, Fuqaha’ (Ahli Fiqih), dan selain mereka. Mereka menafsirkan Al-Qur’an dengan makna-makna yang benar; akan tetapi Al-Qur’an tidak menunjukkan atasnya. Seperti banyak orang yang disebutkan oleh Abu ‘Abdirrahman As-Sulami dalam “Haqaa-iqut Tafsiir”.

Adapun kalau di antara yang mereka sebutkan: ada makna-makna yang bathil (rusak/tidak benar); maka masuk pada bagian yang PERTAMA; yaitu: salah dalam dalil/pendalilan dan salah pula dalam hal yang di-dalil-i (diberikan dalil atasnya); dimana makna yang mereka maskudkan adalah makna yang rusak.”

[“Muqaddimah At-Tafsiir” (hlm. 126- Syarh Syaikh Al-‘Utsaimin)]

-ditulis oleh: Ustadz Ahmad Hendrix-

HADITS KEDELAPAN

HADITS KEDELAPAN

عَنْ سَعْدِ بْنِ أَبِيْ وَقَّاص، قَالَ: قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ، أَيُّ النَّاسِ أَشَدُّ بَلَاءً؟ قَالَ: ((الأَنْبِيَاءُ)) [ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ: ((الْعُلَمَاءُ]، [ثُمَّ الصَّالِحُوْنَ]، ثُمَّ الْأَمْثَلُ، فَالْأَمْثَلُ، فَيُبْتَلَى الرَّجُلُ عَلَى حَسَبِ دِيْنِهِ، فَإِنْ كَانَ دِينُهُ صُلْبًا؛ اشْتَدَّ بَلاَؤُهُ، وَإِنْ كَانَ فِي دِينِهِ رِقَّةٌ؛ ابْتُلِيَ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ، فَمَا يَبْرَحُ البَلَاءُ بِالعَبْدِ حَتَّى يَتْرُكَهُ يَمْشِي عَلَى الأَرْضِ مَا عَلَيْهِ خَطِيئَةٌ))

Dari Sa’d bin Abi Waqhqhash -radhiyallaahu ‘anhu-, dia berkata: Wahai Rasulullah, siapakah manusia yang paling berat cobaannya? Beliau bersabda: “Para nabi.” [Kemudian siapa? Beliau bersabda: “Para ulama], [kemudian orang-orang shalih], kemudian yang semisal dan yang semisal (mereka). Maka seseorang diberikan cobaan sesuai dengan tingkat agamanya. Kalau agamanya kuat; maka cobaannya semakin berat, dan kalau agamanya lemah; maka dia diberi cobaan sesuai dengan agamanya. Cobaan akan terus menerus menimpa seorang hamba; sampai dia berjalan di muka bumi dengan tidak memiliki dosa.”

TAKHRIJ HADITS:

SANADNYA HASAN: Dikeluarkan oleh At-Tirmidzi (no. 2398), Ibnu Majah (no. 4023), Ahmad (no. 1481, 1494, 1555, & 1607- cet. Daarul Hadiits), Ad-Darimi (2785- cet. Daarul Ma’rifah), dan Al-Hakmi (no. 121- cet. Daarul Fikr), dari beberapa jalan, dari ‘Ashim bin Bahdalah, dari Mush’ab bin Sa’d [bin Abi Waqqash], dari bapaknya, dan seterusnya. Tambahan dalam kurung [ ] yang kedua adalah salah satu dari riwayat Ahmad.

At-Tirmidzi berkata:

“Hasan Shahih.”

Saya berkata: Sanadnya hasan, karena ‘Ashim bin Bahdalah: hasan haditsnya.

Mush’ab bin Sa’d bin Abi Waqqash adalah perawi yang tsiqah dan termasuk perawi Al-Kutubus Sittah.

Dalam Sunan Ibnu Majah cetakan Maktabah Al-Ma’arif tertulis:

((عَنْ مُصْعَبِ بْنِ سَعْدٍ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ سَعْدِ بْنِ أَبِيْ وَقَّاص))

“Dari Mush’ab bin Sa’d, dari bapaknya, dari Sa’d bin Abi Waqqash.”

Yang benar adalah dngan membuang عَنْ (dari), sebelum سَعْد بْن أَبِيْ وَقَّاصٍ (Sa’d bin Abi Waqqash).

Adapun tambahan dalam kurung [ ] yang pertama: dikeluarkan oleh Al-Hakim (no. 119-cet. Daarul Fikr), dari Abu Sa’id Al-Khudri, dengan sanad yang hasan pula.

PENJELASAN HADITS:

[1]- PENGIKUT NABI YANG HAKIKI

“Yang semisal, dan yang semisal (mereka); mereka adalah: orang-orang shalih yang berjalan di atas manhaj (jalan) mereka (para nabi) dalam berdakwah mengajak kepada Allah, dan BERDAKWAH SESUAI DENGAN DAKWAH MEREKA; BERUPA: MENTAUHIDKAN ALLAH, MENGIKHLASKAN IBADAH HANYA KEPADA-NYA SAJA, DAN MENYINGKIRKAN KESYIRIKAN DENGAN SELAIN-NYA, dan mereka mendapatkan gangguan dan cobaan seperti apa yang menimpa para teladan mereka; yakni: para nabi.

Oleh karena itulah; anda saksikan banyak dari para da’i yang berpaling dari manhaj yang berat dan jalan yang sulit ini. Karena, da’i yang menempuh jalan ini; maka dia akan menghadapi ibunya, bapaknya, saudaranya, orang-orang yang dicintainya dan teman-temannya. Dia juga akan menghadapi masyarakat; permusuhan, ejekan dan gangguan mereka.

Sehingga (para da’i) tersebut berpaling menuju beberapa bagian dari Islam yang memang mempunyai kedudukan; yang tidak akan diingkari oleh orang yang beriman kepada Allah, dimana bagian-bagian ini tidak memiliki kesusahan, kesulitan, ejekan dan gangguan; khususnya di kalangan masyarakat Islam. Maka, sungguh, umat Islam akan mengelilingi da’i semacam ini, mereka akan memberikan pengagungan dan pemuliaan; tanpa ada ejekan dan tidak juga gangguan…

[Dan cara (Dakwah) semacam ini -pada zaman ini-; hampir-hampir menjadi jalan terdekat menuju hati orang-orang bodoh, dan cara tercepat untuk mendapatkan ridha masyarakat dan mengumpulkan massa!!

Akan tetapi, hal semacam ini tidak akan tetap dan tidak langgeng, serta tidak akan menyampai-kan kepada kepada keistiqamahan dan tidak juga kemantapan…

Dan kebenaran -serta manhajnya- akan tetap nampak dan menang; sebagaimana difirmankan oleh Rabb kita (Allah) -Ta’aalaa-:

… فَأَمَّا الزَّبَدُ فَيَذْهَبُ جُفَاءً وَأَمَّا مَا يَنْفَعُ النَّاسَ فَيَمْكُثُ فِي الأرْضِ…

“…adapun buih; maka akan hilang sebagai sesuatu yang tidak berguna, tetapi yang bermanfaat bagi manusia; maka akan tetap ada di bumi…” (QS. Ar-Ra’d: 17)]

[“Manhajul Anbiyaa’ Fid Da’wah Ilallaah Fiihil Hikmah Wal ‘Aql” (hlm. 50), dan tambahan dalam kurung [ ] merupakan perkataan Syaikh ‘Ali bin Hasan Al-Halabi -hafizhahullaah- dalam muqaddimah “Da’watunaa” (hlm. 8)]

[2]- ADA JUGA YANG MENDAPAT GANGGUAN; AKAN TETAPI BUKAN PENGIKUT NABI

“Kecuali orang-orang yang melawan pemerintahan dan mengancam kekuasaan mereka; maka ketika itu: (para penguasa) tersebut akan menumpas mereka dengan sangat keras; seperti: partai-partai politik yang menentang para penguasa dan mengancam kedudukan mereka. Maka para penguasa -dalam hal ini- tidak akan memperdulikan apakah lawannya adalah: kerabat, teman dekat, muslim, maupun kafir.”

[“Manhajul Anbiyaa’ Fid Da’wah Ilallaah Fiihil Hikmah Wal ‘Aql” (hlm. 50)]

-ditulis oleh: Ustadz Ahmad Hendrix-

ADAB PENUNTUT ILMU

DI ANTARA ADAB PENUNTUT ILMU ADALAH: MENGHADIRI HALAQAH-HALAQAH (KAJIAN-KAJIAN) ILMU YANG DIA MAMPU UNTUK MENDATANGINYA

Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Muhammad As-Sadhan -hafizhahullaah- berkata -ketika menjelasakan adab-adab penuntut ilmu-:

“Perkara (Adab) Yang Ketujuh: Menghadiri Halaqah-Halaqah (Kajian-Kajian) Ilmu Yang Dia Mampu Untuk Mendatanginya:

Sebagian manusia beralasan dengan banyaknya kesibukan, jahunya jarak, dan lemahnya semangat. Dan semua itu memang ada, akan tetapi AKAN HILANG JIKA SEORANG HAMBA MERASAKAN LEZATNYA ILMU, DAN MERASAKAN NIKMATNYA FAEDAH DAN TAMBAHAN ILMU…

Maka, jika Allah memberkahi waktu, dan memberikan rizki kepadamu berupa: semangat dan tekad yang kuat; maka engkau akan mendapatkan banyak kebaikan. Akan tetapi dengan syarat: Allah mengetahui bahwa engkau tidak meremehkan halaqah-halaqah (kajian-kajian) ilmu, jangan merendahkannya, dan jangan menyia-nyiakannya.

Bisa jadi: bersama berlalunya waktu -jika engkau diberi umur panjang-: engkau akan menyesal dan gigit jari (karena tidak menghadiri kajian-kajian ilmu-pent). Syaikh Ibnu Jibrin -semoga Allah memberikan pahala kepadanya- telah menyebutkan: ADA BEBERAPA PENUNTUT ILMU YANG BERSEDIH DAN MENYESAL DIKARENAKAN MEREKA MENDAPATI ZAMAN BEBERAPA SYAIKH; AKAN TETAPI MEREKA TIDAK MENGHADIRI HALAQAH-HALAQAH (KAJIAN-KAJIAN) PARA SYAIKH TERSEBUT…

Allah telah memberikan nikmat kepada kita dengan banyaknya wasilah (perantara) untuk MENUNTUT ILMU DARI BUKU-BUKU DAN KASET-KASET, AKAN TETAPI HAL ITU TIDAK MENCUKUPI JIKA TIDAK MENGHADIRI HALAQAH-HALAQAH (KAJIAN-KAJIAN). Karena, dalam bergabung dengan halaqah (kajian): ada pahala baginya. Jika engkau menghadiri halaqah (kajian); maka engkau berada dalam suatu ibadah, dan para malaikat akan bershalawat atasmu.

Ditambah lagi pemusatan pikiran dalam menghadiri halaqah-halaqah (kajian-kajian): adalah lebih terfokus dibandingkan engkau mendengarkan kaset. Dan engkau pun sudah mengetahui bahwa: melihat langsung itu lebih mengena dan lebih membekas di dalam jiwa dibandingkan hanya mendengar…

لَيْسَ الْخَبَرُ كَالْمُعَايَنَةِ

“(Mendapat) kabar itu tidak sama dengan melihat langsung.”

[HR. Ahmad, Al-Hakim, dan lainnya]

Maka, menghadiri halaqah (kajian), berdesakan dengan ulama dan para penuntut ilmu dengan (bersimpuh di atas) lutut, serta mendekat dengan ahli ilmu: sangat berbeda jauh dibandingkan dengan hanya mendengar kaset atau yang semisalnya.”

[“Ma’aalim Fii Thariiq Thalabil ‘Ilmi” (hlm. 62-63)]

-diterjemahkan dengan diringkas oleh: Ustadz Ahmad Hendrix-

WALAUPUN “MERASA” LEBIH TAHU…

[1]- Dari Ibnu ‘Umar -radhiyallaahu ‘anhumaa-, dia berkata: Kami berada di sisi Nabi -shallallaahu ‘alaihi wa sallam-, kemudian dibawakan jantung pohon kurma; maka beliau bersabda:

إِنَّ مِنَ الشَّجَرِ شَجَرَةً، مَثَلُهَا كَمَثَلِ الْمُسْلِمِ

“Sungguh, ada sebuah pohon yang permisalannya seperti seorang muslim.”

Maka aku ingin menjawab: “Pohon kurma.”; akan tetapi aku adalah yang paling muda di antara orang-orang yang ada.

Maka, Nabi -shallallaahu ‘alaihi wa sallam- bersabda:

هِيَ النَّخْلَةُ

“Itu adalah pohon kurma.”

[Muttafaqun ‘Alaihi]

[2]- Al-Hafiz Ibnu hajar -rahimahullaah- berkata:

“Di dalamnya terdapat faedah: menghormati yang lebih tua…dan hendaknya (anak muda) jangan terburu-buru (menyampaikan pendapatnya) WALAUPUN DIA MERASA BAHWA ITU ADALAH BENAR.”

[“Fat-hul Baarii” (I/194- cet. Daarus Salaam)]

-ditulis oleh: Ahmad Hendrix-