WALAUPUN “MERASA” LEBIH TAHU…

[1]- Dari Ibnu ‘Umar -radhiyallaahu ‘anhumaa-, dia berkata: Kami berada di sisi Nabi -shallallaahu ‘alaihi wa sallam-, kemudian dibawakan jantung pohon kurma; maka beliau bersabda:

إِنَّ مِنَ الشَّجَرِ شَجَرَةً، مَثَلُهَا كَمَثَلِ الْمُسْلِمِ

“Sungguh, ada sebuah pohon yang permisalannya seperti seorang muslim.”

Maka aku ingin menjawab: “Pohon kurma.”; akan tetapi aku adalah yang paling muda di antara orang-orang yang ada.

Maka, Nabi -shallallaahu ‘alaihi wa sallam- bersabda:

هِيَ النَّخْلَةُ

“Itu adalah pohon kurma.”

[Muttafaqun ‘Alaihi]

[2]- Al-Hafiz Ibnu hajar -rahimahullaah- berkata:

“Di dalamnya terdapat faedah: menghormati yang lebih tua…dan hendaknya (anak muda) jangan terburu-buru (menyampaikan pendapatnya) WALAUPUN DIA MERASA BAHWA ITU ADALAH BENAR.”

[“Fat-hul Baarii” (I/194- cet. Daarus Salaam)]

-ditulis oleh: Ahmad Hendrix-

CARA MENUNTUT ILMU

[1]- MEMPERHATIKAN USHUUL (PONDASI-PONDASI ‘ILMIYYAH)

Syaikh Bakr Abu Zaid -rahimahullaah- berkata:

“- Barangsiapa yang tidak menguasai Ushuul (pondasi-pondasi); maka dia tidak akan sampai (tujuan).

– Barangsiapa yang ingin mendapatkan ilmu sekaligus; maka akan hilang sekaligus pula.

– Dan juga dikatakan: berdesakkannya ilmu pada pendengaran; akan menyesatkan pemahaman.

Oleh karena itu: maka harus dimulai dengan “Ta’shiil” (penguatan pondasi) dan “Ta’siis” (penguatan landasan) untuk setiap cabang ilmu yang ingin engkau cari; dengan cara penguasaan dasar ilmu tersebut dan ringkasannya melalui seorang guru yang menguasai (ilmu tersebut), BUKAN HANYA DENGAN CARA AUTODIDAK.

Seorang penuntut ilmu juga harus menuntut ilmu secara bertahap.

Allah -Ta’aalaa- berfirman:

وَقُرْآنًا فَرَقْنَاهُ لِتَقْرَأَهُ عَلَى النَّاسِ عَلَى مُكْثٍ وَنَزَّلْنَاهُ تَنْزِيلا

“Dan Al-Qur’an (Kami turunkan) dengan berangsur-angsur agar engkau membacakannya kepada manusia perlahan-lahan, dan Kami menurunkannya secara bertahap.” (QS. Al-Israa’: 106)

Allah juga berfirman:

وَقَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا لَوْلا نُزِّلَ عَلَيْهِ الْقُرْآنُ جُمْلَةً وَاحِدَةً كَذَلِكَ لِنُثَبِّتَ بِهِ فُؤَادَكَ وَرَتَّلْنَاهُ تَرْتِيلا

“Dan orang-orang kafir berkata: “Mengapa Al-Qur’an itu tidak diturunkan kepadanya sekaligus?” Demikianlah, agar Kami memperteguh hatimu dengannya, dan Kami membacakannya secara tartiil (berangsur-angsur, perlahan, dan benar).” (QS. Al-Furqaan: 32).”

[“Hilyah Thaalibil ‘Ilmi (hlm. 25-26)]

[2]- YANG DIMAKSUD DENGAN USHUUL

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin -rahimahullaah- berkata:

“Cara menuntut ilmu ini juga penting; agar seorang penuntut ilmu membangun pembelajarannya di atas Ushuul (pondasi-pondasi); sehingga tidak serampangan dan acak-acakan.

Dikatakan: “Barangsiapa yang tidak menguasai Ushuul (pondasi-pondasi ‘ilmiyyah); maka dia tidak akan sampai (tujuan)”…Karena Ushuul adalah ilmu, dan masalah-masalah adalah cabang. Layaknya pokok dari sebuah pohon dan dahan-dahannya, jika dahan-dahan tidak berada pada pokok yang bagus; maka akan layu dan mati.

Apakah yang dimaksud dengan Ushuul:

(1)- Apakah yang dimaksud adalah dalil-dalil yang shahih?

(2)- Ataukah kaidah-kaidah dan prinsip-prinsip?

(3)- Atau kedua-duanya?

Yang dimaksud (di sini) adalah yang kedua. Engkau membangun di atas Ushuul yang terambil dari Al-Qur’an dan As-Sunnah, dan engkau membangun di atas kaidah-kaidah dan prinsip-prinsip yang didapatkan dengan cara tatabbu’ dan istiqraa’ (meneliti) dalil-dalil dari Al-Qur’an dan As-Sunnah; yang nantinya hukum-hukum Al-Qur’an dan As-Sunnah kembali kepada (Ushuul) tersebut. Dan ini termasuk hal yang paling penting bagi seorang penuntut ilmu.”

[“Syarh Kitaab Hilyah Thaalibil ‘Ilmi” (hlm. 51- cet. Daarul ‘Aqiidah)]

[3]- KOKOH DALAM ILMU

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin -rahimahullaah- juga berkata:

“At-Tsabaat (kokoh); maknanya adalah terus bersabar, tidak bosan, tidak mengambil sedikit dari sebuah kitab, atau sedikit dari sebuah cabang ilmu; kemudian ditinggalkan. Karena inilah yang akan membahayakan penuntut ilmu, dan akan menghabiskan waktunya dengan sia-sia tanpa faedah; jika dia tidak kokoh dalam sesuatu…Orang semacam ini biasanya tidak mendapatkan ilmu, dan kalaupun dia mendapatkan ilmu; maka hanya ilmu tentang beberapa permasalahan, bukan Ushuul (pondasi-pondasi) dari permasalahan-permasalahan tersebut….akan tetapi yang dibutuhkan adalah “Ta’shiil” (penguatan pondasi-pondasi), dan ilmu yang mendalam (kuat).”

[“Syarh Kitaab Hilyah Thaalibil ‘Ilmi” (hlm. 49-50- cet. Daarul ‘Aqiidah)]

[4]- KOKOH DALAM GURU

Syaikh Al-‘Utsaimin -rahimahullaah- juga berkata:

“Dan engkau juga harus kokoh dalam masalah guru yang engkau ambil ilmunya. JANGAN ENGKAU MENCARI YANG SESUAI SELERA: SETIAP PEKAN BELAJAR PADA SEORANG GURU (YANG BERBEDA), (ATAU) SETIAP BULAN BELAJAR PADA SEORANG GURU (YANG BERBEDA). MANTAPKANLAH TERLEBIH DAHULU: SIAPA GURU YANG AKAN ENGKAU AMBIL ILMUNYA, JIKA SUDAH MANTAP; MAKA KOKOHLAH (DENGAN GURU TERSEBUT).

Barangsiapa yang kokoh; maka dia akan terus berkembang, dan barangsiapa yang tidak kokoh; maka dia tidak akan berkembang, dan tidak akan mendapatkan apa pun.”

[“Syarh Kitaab Hilyah Thaalibil ‘Ilmi” (hlm. 50- cet. Daarul ‘Aqiidah)]

-ditulis oleh:Ustadz  Ahmad Hendrix-

Larangan memperdebatkan Ayat Ayat Allah

HADITS KELIMA

حديث: ((مِرَاءٌ فِي الْقُرْآنِ [وَفِيْ لَفْظٍ: جِدَالٌ] كُفْرٌ))

Hadits: “Miraa’ [dalam lafazh lain Jidaal] (berdebat) dalam tentang A-Qur’an adalah kekafiran.”

TAKHRIJ HADITS:

SHAHIH: Dikeluarkan oleh Abu Dawud (no. 4603), Ahmad (no. 7835, 9446, 10099, 10487, & 10778- cet. Daarul Hadiits), Al-Hakim (no. 2931- cet. Daarul Fikr), Al-Ajurri dalam “Asy-Syrii’ah” (hlm. 67), dari beberapa jalan, dari Muhammad bin ‘Amr bin ‘Alqamah, dari Abu Salamah, dari Abu Hurairah, dari Nabi -shallallaahu ‘alaihi wa sallam-, beliau bersabda: … kemudian disebutkan lafazh haditsnya.

Al-Hakim berkata:

“Shahih, sesuai syarat Muslim.” Dan disepakati oleh Adz-Dzahabi.

Saya katakan: Keduanya tidak benar, karena Muhammad bin ‘Amr bin ‘Alqamah: hanya Hasan haditsnya, dan Muslim hanya mengeluarkannya sebagai “Mutaaba’ah” (penyerta).

Dan di sini dia (Muhammad bin ‘Amr bin ‘Alqamah): mempunyai “Mutaaba’ah” (penyerta yang menguatkannya) dari riwayat: Sa’d bin Ibrahim -yaitu: Ibnu ‘Abdirrahman bin ‘Auf-: seorang yang tsiqah dan termasuk perawi Al-Kutubus Sittah. Diriwayatkan oleh Ahmad (no. 7499), dari jalan Zakariya, darinya (Sa’d bin Ibrahim) -dengan lafazh lain-. Dan Zakariya adalah: Ibnu Abi Zaidah: seorang yang tsiqah dan termasuk perawi Al-Kutubus Sittah.

Akan tetapi dia (Zakariya bin Abi Zaidah) diselisihi oleh yang lainnya:

Maka Ahmad mengeluarkannya (no. 10364) dari jalan Manshur -yakni: Ibnu Mu’tamir-, (no. 10154) dari jalan Sufyan -yakni: Ibnu ‘Uyainah-, Al-Hakim (no. 2938- cet. Daarul Ma’rifa) dari jalan Sa’id -yakni: Ibnu ‘Abdil ‘Aziz At-Tanuhi: Seorang yang tsiqah dan perawi Muslim, semuanya dari Sa’d bin Ibrahim, dari ‘Umar bin Abi Salamah, dan seterusnya -dengan lafazh lain (Jidaal)-.

Maka mereka menambahkan: ‘Umar bin Abi Salamah; dan dia adalah: “Shaduuq Yukhti’” -sebagaimana dikatakan oleh Al-Hafizh dalam “At-Taqriib”-.

Syaikh Ahmad Syakir dalam “Takhriij Al-Musnad” (no. 7499) lebih condong untuk menguatkan jalan ini.

Saya katakan: Hanya saja Al-Ajurri mengeluarkannya dalam “Asy-Syarii’ah” (hlm. 67) dari jalan Manshur, dari Sa’d bin Ibrahim, dari Abu Salamah, dan seterusnya, dengan lafazh: “Miraa’”. Maka tidak disebutkan ‘Umar bin Abi Salamah.

“Maka bisa jadi [Sa’d bin Ibrahim; yaitu: Ibnu ‘Abdirrahman bin ‘Auf] mendengarnya dari pamannya: Abu Salamah [yaitu: Ibnu ‘Abdirrahman bin ‘Auf], dan juga mendengarnya dari anak pamannya [‘Umar bin ‘Abi Salamah bin ‘Abdirrahman bin ‘Auf], dari bapaknya: Abu Salamah.

Sehingga [Sa’d] meriwayatkannya dengan dua segi.”

[“Takhriij Al-Musnad”]

“Dan manapun yang benar; maka hadits di atas adalah Shahih.”

[“Takhriij Al-Musnad”]

Yakni: baik yang kuat: ada tambahan ‘Umar bin Abi Salamah -yang dia ada kelemahan, sehingga sanadnya bisa terpengaruh-, atau memang Sa’d meriwayatkannya dari dua jalan -dengan tambahan ‘Umar dan tanpa tambahan-, maka hadits di atas tetap Shahih jika digabungkan dengan riwayat Muhammad bin ‘Amr bin ‘Alqamah.

Terlebih lagi: Hadits ini mempunyai “Syaahid” (penguat dari jalan Shahabat lain), dari ‘Abdullah bin ‘Amr -dengan ada tambahan di awalnya-, yang telah ditakhrij oleh Syaikh Al-Albani -rahimahullaah- dalam “Ash-Shahiihah” (no. 1522).

PENJELASAN HADITS:

[1]- Dijelaskan dalam kitab “Aunul Ma’buud” (XIII/910 cet. Daarul Kutub Al-‘Ilmiyyah) -dengan menukil dari Abu ‘Ubaid-:

“Dikatakan: Bahwa hadits ini berkaitan dengan Al-Jidaal dan Al-Miraa’ (berdebat) tentang ayat-ayat yang menyebutkan tentang takdir dan yang semisalnya, dengan mengikuti madzhab Ahli Kalam dan para pengikut hawa nafsu dan ra’yu.

Bukan tentang kandungan ayat-ayat yang berupa: hukum serta bab-bab halal dan haram; karena (debat tentang) hal tersebut telah terjadi di antara para Shahabat dan para ulama setelah mereka. Hal itu (dibolehkan) jika tujuan dan pendorongnya adalah: nampaknya kebenaran agar bisa diikuti, bukan untuk menang dan melemahkan (orang lain).”

[2]- Faedah Dalam Berbantahan

Imam Adz-Dzahabi -rahimahullaah-berkata dalam “Siyar A’laam An-Nubalaa’” (X/341- cet. Daarul Fikr) -pada biografi: Muhammad bin ‘Abdullah bin ‘Abdul Hakam-:

“Para ulama sejak zaman dahulu sampai sekarang senantiasa saling berbantahan dalam masalah: pembahasan dan tulisan. Dan dengan hal ini: seorang ‘alim (berilmu) bisa menambah fiqih (ilmu)nya, dan hal-hal yang janggal bisa menjadi terang baginya.

Akan tetapi pada zaman kita: kadang seorang Faqih (berilmu) bisa terkena balasannya jika dia memfokuskan dirinya untuk hal ini; dikarenakan: buruk niatnya, serta ingin menang, dan memperbanyak (pengikut); sehingga dia akan dilawan oleh para Qadhi dan musuh-musuhnya.

Kita memohon (kepada Allah): Hus-nul Khaatimah dan Ikhlas dalam beramal.”

Syaikh ‘Ali bin Hasan Al-Halabi Al-Atsari -hafizhahullaah- berkata dalam “Ar-Raddul Burhaani” (hlm. 13-14):

“Maka demi Allah -yang tidak ada yang berhak diibadahi selain Dia-: Sungguh aku memperhatikan kepada bantahan atau kritikan kepadaku -dari siapa pun-: dengan perhatian inshaaf (tulus) yang jujur dengan penuh perhatian. Agar aku bisa mengetahui -melalui hal tersebut-: keadaanku saat ini; berupa derajat kebenaran dan ketepatan, atau hal yang mungkin aku terjatuh ke dalamnya berupa: kesalahan atau pun keraguan. Maka kalau aku dapatkan: aku pun senang dan bersegera untuk memperbaikinya. Adapun kalau tidak; maka aku akan membantah kritikan (atasku) tersebut, atau mengkritik bantahan (atasku) tersebut.”

-ditulis oleh: Ustadz Ahmad Hendrix-

Menuntut Ilmu Syari’i semaksimal Mungkin

HADITS KEEMPAT

حديث: ((لَيْسَ الْخَبَرُ كَالْمُعَايَنَةِ، إِنَّ اللهَ -عَزَّ وَجَلَّ- أَخْبَرَ مُوسَى بِمَا صَنَعَ قَوْمُهُ فِي الْعِجْلِ؛ فَلَمْ يُلْقِ الْأَلْوَاحَ، فَلَمَّا عَايَنَ مَا صَنَعُوا؛ أَلْقَى الْأَلْوَاحَ، فَانْكَسَرَتْ))

Hadits: “(Mendapat) kabar itu tidak sama dengan melihat langsung, sesungguhnya Allah -‘Azza Wa Jalla- mengabarkan kepada Musa apa yang diperbuat oleh kaumnya terhadap patung anak sapi, dan ketika itu (Musa) belum melemparkan lembaran-lembaran (Taurat). Akan tetapi ketika melihat langsung apa yang mereka perbuat; (Musa marah dan) melemparkan lembaran-lembaran itu sampai pecah (rusak).

SHAHIH: Dikeluarkan oleh Ahmad (no. 2447- cet. Daarul Hadiits), Ibnu Hibban (no. 6223- cet. Daarul Fikr), dan Al-Hakim (no. 3330- cet. Daarul Fikr), dari dua jalan, dari Husyaim, dari Abu Bisyr, dari Sa’id bin Jubair, dari Ibnu ‘Abbas -radhiyallaahu ‘anhumaa-, dia berkata: Rasulullah -shallallaahu ‘alaihi wa sallam- bersabda: … kemudian disebutkan lafazh haditsnya.

Dan dikeluarkan oleh Ahmad (no. 1842- cet. Daarul Hadiits), langsung dari Husyaim, dengan mencukupkan kepada sabda Nabi -shallallaahu ‘alaihi wa sallam-:

((لَيْسَ الْخَبَرُ كَالْمُعَايَنَةِ))

“(Mendapat) kabar itu tidak sama dengan melihat langsung.”

Al-Hakim berkata:

“Shahih, sesuai syarat Asy-Syaikhain (Al-Bukhari dan Muslim).” Dan disepakati oleh Adz-Dzahabi.

Saya katakan: Perkataan keduanya kurang tepat. Karena Husyaim -yaitu: Ibnu Basyir Al-Wasithi- walaupun dia termasuk perawi Al-Bukhari dan Muslim; akan tetapi dia adalah Mudallis, dan dia telah menggunakan عَنْ ‘An dalam periwayatannya.

Dan Al-Hafizh Ibnu Hajar telah memperingatkan dari hal semacam ini dalam “An-Nukat ‘Alaa Ibni Ash-Shalaah” (I/299-301); yakni: BAHWA DALAM KITAB Al-MUSTADRAK SERING TERJADI KESALAHAN SEMACAM INI: DIKATAKAN SESUAI SYARAT AL-BUKHARI DAN MUSLIM; AKAN TETAPI ADA ‘ILLAH (PENYAKIT), SEPERTI: ADA RAWI YANG MUDALLIS.

Akan tetapi di sini Husyaim memilki “Mutaaba’ah” (penyerta yang menguatkannya), dari periwayatan: Abu ‘Awanah -dan namanya adalah: Wadh-dhah Al-Yasykuri-, dan dia tsiqatun tsabtun, termasuk perawi Al-Kutubus Sittah.

Dikeluarkan oleh: Ibnu Abi Hatim dalam Tafsiir-nya (no. 8998), Ibnu Hibban (no. 6223- cet. Daarul Fikr), dari dua jalan, darinya (Abu ‘Awanah), dan seterusnya.

Dan hadits ini dishahihkan oleh Imam Al-Albani -rahimahullaah- dalam “Shahiih Al-Jaami’ Ash-Shaghiir (no. 537)”.

PENJELASAN HADITS:

[1]- Allah -Ta’aalaa- berfirman:

وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ رَبِّ أَرِنِي كَيْفَ تُحْيِ الْمَوْتَى قَالَ أَوَلَمْ تُؤْمِنْ قَالَ بَلَى وَلَكِنْ لِيَطْمَئِنَّ قَلْبِي قَالَ فَخُذْ أَرْبَعَةً مِنَ الطَّيْرِ فَصُرْهُنَّ إِلَيْكَ ثُمَّ اجْعَلْ عَلَى كُلِّ جَبَلٍ مِنْهُنَّ جُزْءًا ثُمَّ ادْعُهُنَّ يَأْتِينَكَ سَعْيًا وَاعْلَمْ أَنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ

“Dan (ingatlah) ketika Ibrahim berkata: “Wahai Rabb-ku, perlihatkanlah padaku bagaimana Engkau menghidupkan orang mati.” Allah berfirman: “Belum yakinkah kamu?” Ibrahim menjawab: “Aku telah meyakininya, akan tetapi agar hatiku tenang (mantap dengan imanku).” Allah berfirman: “Kalau begitu, ambillah empat ekor burung, lalu cincanglah semuanya olehmu, kemudian letakkan di atas masing-masing bukit: satu bagian, kemudian panggillah mereka; niscaya mereka datang kepadamu dengan segera.” Ketahuilah bahwa Allah Maha Perkasa, Maha Bijaksana.” (QS. Al-Baqarah: 260)

[2]- Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di -rahimahullaah- berkata:

“Oleh karena itulah; ‘AINUL YAQIIN -yaitu: melihat langsung dengan mata kepala- lebih besar dari ‘ILMUL YAQIIN -yaitu: ilmu yang didapatkan dari pengabaran-. Dan yang lebih tinggi lagi dari keduanya adalah: HAQQUL YAQIIN -yaitu: yang langsung dirasakan-.

Sehingga, selayaknya bagi seorang hamba untuk berusaha mendapatkan ilmu yang bermanfaat, dan tidak mencukupkan diri dengan ‘ilmul yaqin kalau memang dia mampu untuk mendapat ‘ainul yaqin; sebagaimana Ibrahim Al-Khalil -‘alaihis salaam- meminta kepada Allah agar Allah menunjukkan kepadanya bagaimana Dia menghidupkan yang sudah mati; AGAR BISA MENINGKAT DARI SATU ILMU MENUJU ILMU YANG LEBIH TINGGI LAGI.”

[“Al-Mu’iin ‘Alaa Tahshiil Aadaabil ‘ilmi Wa Akhlaaqil Muta’allimiin” (hlm. 260)]

[3]- Imam Muhammad bin Idris Asy-Syafi’i -rahimahullaah- berkata:

“Selayaknya bagi para penuntut ilmu untuk mencapai usaha yang maksimal dalam memperbanyak ilmu, dan bersabar atas segala penghalang dalam menuntutnya. Serta mengikhlaskan niatnya karena Allah dalam mencapai ilmu; baik ilmu yang berupa nash (lafazh dari dalil-dalil) maupun istinbaath (pengambilan kesimpulan dari lafazh). Serta berharap kepada Allah agar menolongnya dalam (menuntut ilmu) tersebut; karena kebaikan tidak akan didapatkan melainkan hanya dengan pertolongan-Nya.”

[“Ar-Risaalah” (hlm. 109, no. 45)]

-ditulis oleh: Ustadz Ahmad Hendrix-

Ilmu adalah obat untuk kebodohan

HADITS KETIGA

حديث: ((قَتَلُوْهُ قَتَلَهُمُ اللهُ! أَلَمْ يَكُنْ شِفَاءُ الْعِيِّ السُّؤَالَ))

Hadits: “Mereka telah membunuhnya, semoga Allah membunuh mereka! Bukankah obat kebodohan adalah bertanya?!”

TAKHRIJ HADITS:

HASAN SHAHIH: Dikeluarkan Abu Dawud (no. 337), Ibnu Majah (no. 572), Ahmad (no. 3057- cet. Daarul Hadiits), Ad-Darimi (no. 756- cet. Daarul Ma’rifah), dan Al-Khathib Al-Baghdadi dalam “Kitaab Al-Faqiih Wal Mutafaqqih” (no. 759), dari beberapa jalan, dari Al-Auza’i, bahwa sampai kepadanya dari ‘Atha’ bin Abi Rabah, bahwa dia mendengar dari ‘Abdullah bin ‘Abbas, dia berkata: Pada zaman Rasulullah -shallallaahu ‘alaihi wa sallam- ada seseorang yang terluka [di kepalanya], kemudian dia mimpi basah (junub), maka ada yang memerintahkannya untuk mandi, dan dia pun mandi, lalu mati. Hal itu kemudian sampai kepada Rasulullah -shallallaahu ‘alaihi wa sallam-, maka beliau bersabda:…kemudian disebutkan lafazhnya.

Saya berkata: Sanad hadits ini para perawinya tsiqah dan merupakan para perawi Al-Bukhari dan Muslim; hanya saja: dikatakan ada ‘illah (penyakit) berupa keterputusan antara Al-Auza’i -namanya adalah: ‘Abdurrahman bin ‘Amr bin Abi ‘Amr- dan ‘Atha’ bin Abi Rabah. Syaikh Ahmad Syakir lebih menguatkan ketersambungannya -dalam Takhrii “Al-Musnad”-, demikian juga Syaikh ‘Ali bin Hasan Al-Halabi -dalam tahqiiq “Miftaah Daaris Sa’aadah” (I/363-364)-.

Akan tetapi, mana pun yang lebih kuat -baik tersambung maupun terputus-; maka Al-Auza’i telah memiliki “Mutaaba’ah” (penyerta yang menguatkannya); yaitu: Al-Walid bin ‘Abdullah bin Abi Rabah, yang dikeluarkan oleh: Ibnu Khuzaimah (no. 273) -dan dari jalannya: Ibnu Hibban (no. 1311- At-Ta’liiqaatul Hisaan)-, dan Al-Hakim (I/165), dari jalan ‘Umar bin Hafsh bin Ghiyats, dari bapaknya, darinya (Al-Walid).

Dishahihkan oleh Al-Hakim dan disepakati oleh Adz-Dzahabi.

Saya berkata: Para perawinya tsiqah dan merupakan para perawi Al-Bukhari dan Muslim; kecuali Al-Walid ini, maka dia bukan perawi keduanya, dan dia di-dha’if-kan oleh Ad-Daruquthni serta di-tsiqah-kan oleh Yahya bin Ma’in -sebagaimana dalam “Al-Jarh Wat Ta’diil” karya Ibnu Abi Hatim-. Maka ini merupakan “Mutaaba’ah” yang kuat untuk Al-Auza’i.

Dan telah menyelisi keduanya (Al-Auza’i dan Al-Walid): Az-Zubair bin Khuraiq, maka dia meriwayatkannya dari ‘Atha’, dan menjadikannya dari hadits Jabir, sebagaimana dikeluarkan oleh Abu Dawud (no. 336). Akan tetapi Az-Zubair adalah “Layyinul Hadits” (lembek haditsnya) -sebagaiman dalam “At-Taqriib”-.

PENJELASAN HADITS:

[1]- Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah -rahimahullaah- berkata:

“Mereka telah salah tanpa ijtihad; karena mereka memang bukan ahli ilmu.”

[“Raf’ul Malaam ‘An A-immatil A’laam” (hlm. 48- cet. Al-Maktab Al-Islami)]

[2]- Imam As-Syafi’i -rahimahullaah- berkata:

“Tidak boleh bagi seorang pun selama-lamanya: untuk bicara halal dan haram kecuali dengan disertai ilmu. Dan ilmu adalah: Al-Qur’an, As-Sunnah, Ijma’ atau Qiyas.”

[“Ar-Risaalah” (no. 120)]

[3]- Allah -Ta’aalaa- berfirman:

…فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لا تَعْلَمُونَ

“…Bertanyalah kepada ahludz dzikri (orang yang mempunyai pengetahuan) jika kamu tidak mengetahui.” (QS. An-Nahl: 43)

Ahludz dzikri adalah ahli ilmu -sebagaimana disebutkan dalam “Kitaab Al-Faqiih Wal Mutafaqqih” (no. 758)-.

-ditulis oleh: Ustadz Ahmad Hendrix-