Sebab dibinasakan

HADITS KEDUA

حديث: ((مَهْلًا يَا قَوْمِ! بِهَذَا أُهْلِكَتِ الْأُمَمُ مِنْ قَبْلِكُمْ: بِاخْتِلَافِهِمْ عَلَى أَنْبِيَائِهِمْ، وَضَرْبِهِمُ الْكُتُبَ بَعْضَهَا بِبَعْضٍ، إِنَّ الْقُرْآنَ لَمْ يَنْزِلْ يُكَذِّبُ بَعْضُهُ بَعْضًا، بَلْ يُصَدِّقُ بَعْضُهُ بَعْضًا، فَمَا عَرَفْتُمْ مِنْهُ؛ فَاعْمَلُوا بِهِ، وَمَا جَهِلْتُمْ مِنْهُ؛ فَرُدُّوهُ إِلَى عَالِمِهِ))

Hadits: “Tenang wahai kaum! Dengan sebab inilah umat-umat sebelum kalian dibinasakan: dengan penyelisihan mereka terhadap nabi-nabi mereka, dan mereka mempertentangkan sebagian (isi) kitab dengan sebagian yang lainnya. Sungguh, Al-Qur’an tidak turun untuk saling mendustakan sebagian (isinya) dengan sebagian lainnya, bahkan sebagiannya membenarkan sebagian yang lainnya. Apa yang kamu ketahui (maknanya); maka amalkanlah, dan apa yang kalian tidak ketahui; maka kembalikanlah kepada yang ‘alim (berilmu) tentangnya.”

HASAN: Dikeluarkan oleh Ahmad (no. 6668, 6702, & 6741- cet. Daarul Hadiits), Ibnu Majah (no. 85), dan Ibnu Abi ‘Ashim dalam “As-Sunnah” (no. 406), dari beberapa jalan, dari ‘Amr bin Syu’aib, dari bapaknya, dari kakeknya, dia berkata: Saya dan saudara saya telah duduk di suatu majlis yang tidak saya sukai untuk ditukar dengan unta merah. Saya dan saudara saya datang, dan ternyata ada para pembesar Shahabat Rasulullah -shallallaahu ‘alaihi wa sallam- sedang duduk-duduk di sisi salah satu pintu, maka kami segan untuk memisahkan di antara mereka sehingga kami duduk menjauh. Kemudian mereka menyebutkan sebuah ayat dalam Al-Qur’an, lalu mereka berselisih tentangnya (dalam satu lafazh: mereka membicarakan tentang masalah takdir), sampai suara mereka meninggi. Maka Rasulullah -shallallaahu ‘alaihi wa sallam- keluar dengan marah, wajah beliau memerah, dan beliau melempar mereka dengan debu, dan bersabda:…kemudian disebutkan lafazh haditsnya. Dan lafazh ini adalah milik Ahmad dalam sebagian riwayatnya.

Saya katakan: Ini adalah sanad yang hasan, karena termasuk riwayat ‘Amr bin Syu’aib, dari bapaknya, dari kakeknya -dan kakeknya adalah: ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash-. Lihat: “Miizaanul I’tidaal” (III/263-268).

Dan asal haditsnya terdapat dalam Muslim (no. 2666).

Dan bagian akhirnya memiliki “Syahid” dari hadits Abu Hurairah, yang dikeluarkan oleh Ibnu Hibban (no. 74- cet. Daarul Fikr).

PENJELASAN HADITS:

[1]- Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah -rahimahullaah- berkata -setelah menyebutkan hadits ini-:

“Maka beliau (Rasulullah -shallallaahu ‘alaihi wa sallam-) memerintahkan orang yang tidak mengetahui suatu (makna) dari Kitabullah (Al-Qur’an): untuk menyerahkan kepada orang yang ‘alim (berilmu) tentangnya, dan jangan memberat-beratkan diri untuk mengatakan sesuatu yang dia tidak memiliki ilmu tentangnya.”

[“I’laamul Muwaqqi’iin” (hlm. 366- cet. Daar Thayyibah)]

[2]- Syaikh Masyhur bin Hasan Alu Salman -hafizhahullaah- berkata:

“Kewajiban setiap orang adalah: untuk menjadi penuntut ilmu; dengan mempelajari hal-hal yang bisa memperbaiki lahir dan batin-nya, serta hal-hal yang menjadi kewajibannya untuk sehari semalam. Dan ini bisa didapatkan dengan cara mengambil (ilmu) dari ulama; maka tidak boleh bagi orang yang bodoh untuk memberanikan diri: menetapkan hukum-hukum; padahal dia bukan ahlinya. Kewajiban dia adalah bertanya:

…فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لا تَعْلَمُونَ

“…Bertanyalah kepada ahludz dzikri (orang yang mempunyai pengetahuan) jika kamu tidak mengetahui.” (QS. An-Nahl: 43)

Maka orang yang tidak berilmu bertanya kepada yang berilmu.”

[“At-Tahqiiqaat Wat Tanqiihaat As-Salafiyyaat ‘Alaa Matnil Waraqaat” (hlm. 641-642)]

[3]- Imam Asy-Syathibi -rahimahullaah- berkata:

“Seorang yang bukan Ahli Bid’ah; maka dia akan menjadikan hidayah kepada kebenaran sebagai awal tujuannya, dan dia mengakhirkan hawa nafsu (keinginan)nya -jika ada-, dan dijadikannya sebagai pengikut (kebenaran). (Dengan ini) dia akan mendapati umumnya dalil-dalil dan kebanyakan dari (isi) Kitab (Al-Qur’an): adalah jelas dalam tujuan yang dia cari; maka dia dapati jalan yang benar. Adapun yang janggal darinya; maka dia kembalikan kepada (yang sudah jelas) darinya, atau dia serahkan kepada ahlinya; dan tidak memberat-beratkan diri untuk membahas tentang maknanya.”

[“Al-I’tishaam” (I/178- tahqiiq Syaikh Salil Al-Hilali)]

[4]- Ibnu Hibban -rahimahullaah- berkata -setelah meriwayatkan hadits Abu Hurairah-:

“Sabda beliau: “dan apa yang kalian tidak ketahui; maka kembalikanlah kepada yang ‘alim (berilmu) tentangnya”; maka di dalamnya terdapat teguran dari kebalikan dari hal ini; yaitu: Jangan sampai bertanya kepada orang yang tidak mengetahui.”

-ditulis oleh: Ustadz Ahmad Hendrix-

ILMU, AMAL, & DAKWAH

HADITS-HADITS SEPUTAR: ILMU, AMAL, & DAKWAH

HADITS PERTAMA

حديث: ((مَنْ طَلَبَ العِلْمَ لِيُجَارِيَ [وفي لفظ: لِيُبَاهِيَ] بِهِ العُلَمَاءَ، أَوْ لِيُمَارِيَ بِهِ السُّفَهَاءَ، أَوْ يَصْرِفَ بِهِ وُجُوهَ النَّاسِ إِلَيْهِ؛ أَدْخَلَهُ اللهُ النَّارَ))

Hadits: “Barangsiapa yang menuntut ilmu untuk bergabung (dalam satu lafazh: berbangga) dengannya di hadapan ulama, atau untuk mendebat orang-orang bodoh, atau memalingkan wajah manusia agar mengahadap kepadanya; maka Allah akan memasukkannya ke dalam Neraka.”

TAKRIJ HADITS:

SHAHIH LIGHAIRIHI: Dikeluarkan oleh At-Tirmidzi (no. 2654), dia berkata: telah membawakan hadits kepada kami: Abul Asy’ats Ahmad bin Al-Miqdam Al-‘Ijli Al-Bashri, dia berkata: Telah membawakan hadits kepada kami: Umayyah bin Khalid, dia berkata: telah membawakan hadits kepada kami: Ishaq bin Yahya bin Thalhah, dia berkata: telah membawakan hadits kepada kami: Ibnu Ka’b bin Malik, dari bapaknya, dia berkata: Saya mendengar Rasulullah -shallallaahu ‘alaihi wa sallam- bersabda:…kemudian disebutkan lafazh di atas.

At-Tirmidzi berkata:

“Gharib, kami tidak mengetahuinya kecuali dari jalan ini. Dan Ishaq bin Thalhah tidak terlalu kuat menurut mereka, dia dibicarakan dari segi hafalannya.”

Saya berkata: Para perawi lainnya adalah tsiqah termasuk para perawi Shahih [istilah yang digunakan untuk menunjukkan bahwa sebagian perawinya adalah: perawi Al-Bukhari dan sebagian lainnya: perawi Muslim]. Dan hadits ini memilki beberapa “Syahid” (penguat dari jalan Shahabat yang lain) yang menguatkannya:

Syahid Pertama: Dari hadits Ibnu ‘Umar -dan di sinilah terdapat “lafazh lain”-:

Dikeluarkan oleh Ibnu Majah (no. 253), dia berkata: telah membawakan hadits kepada kami: Hisyam bin ‘Ammar, telah membawakan hadits kepada kami: Hammad bin ‘Abdurrahman, telah membawakan hadits kami kepada kami: Abu Karib Al-Azdi, dari Nafi’, darinya (Ibnu ‘Umar), dari Nabi -shallallaahu ‘alaihi wa sallam-, beliau bersabda:…kemudian disebutkan lafazh haditsnya.

Al-Bushiri berkata dalam “Mishbaahuz Zujaajah” (no. 100):

“Ini adalah sanad yang dha’if (lemah), dikarenakan lemahnya Hammad dan Abu Karib.”

Saya berkata: Benar seperti yang dikatakannya, akan tetapi perkataan beliau kurang tepat. Yang tepat adalah: “dikarenakan lemahnya Hammad dan MAJHUL-nya Abu Karib” Wallaahu A’lam.

Syahid Kedua: Dari hadits Jabir bin ‘Abdillah, dan lafazhnya:

((لَا تَعَلَّمُوا الْعِلْمَ لِتُبَاهُوْا بِهِ الْعُلَمَاءَ، وَلَا لِتُمَارُوْا بِهِ السُّفَهَاءَ، وَلَا تَخَيَّرُوْا بِهِ الْمَجَالِسَ، فَمَنْ فَعَلَ ذٰلِكَ؛ فَالنَّارُ النَّارُ))

“Janganlah kalian mempelajari ilmu untuk berbangga dengannya di hadapan ulama, jangan pula untuk mendebat orang-orang bodoh, dan jangan pula untuk memilih-milih majlis. Barangsiapa yang melakukannya; maka baginya adalah Neraka.”

Dikeluarkan oleh Ibnu Majah (no. 254), Ibnu Hibban (77- cet. Daarul Fikr), Al-Hakim (no. 292 & 293- cet. Daarul Fikr), Ibnu ‘Abdil Barr dalam “Jaami’ Bayaanil ‘Ilmi Wa Fadhlihi” (no. 1127- cet. Daar Ibnil Jauzi), Al-Kahthib Al-Baghdadi dalam “Kitaab Al-Faqiih Wal Mutafaqqih” (no. 878- cet. Daar Ibnil Jauzi), semuanya dari dua jalan, dari Yahya bin Ayyub, dari Ibnu Juraij, dari Abuz Zubair, darinya (Jabir), bahwa Nabi -shallallaahu ‘alaihi wa sallam- bersabda:…kemudian disebutkan lafazhnya.

Al-Bushiri berkata dalam “Mishbaahuz Zujaajah” (no. 101):

“Ini sanad yang para perawinya tsiqah sesuai syarat Muslim.”

Syaikh Al-Atsyubi berkata dalam “Syarh Ibnu Majah” (IV/486):

“Benar seperti yang dikatakannya, akan tetapi dalam (sanad)nya terdapat ‘An’anah-nya Ibnu Juraij dan Abuz Zubair, sedangkan keduanya adalah Mudallis.”

Saya berkata: Benar seperti yang dikatakannya, akan tetapi dalam salah satu riwayat Al-Hakim: ada hal yang menunjukkan atas “Tahdiits” (periwayatan secara langsung) Ibnu Juraij dari Abuz Zubair. Wallaahu A’lam.

Syahid Ketiga: Dari hadits Abu Hurairah.

Dikeluarkan oleh Ibnu Majah (no. 260), Ibnu Hibban (78), Al-Khathib (no. 809), dari beberapa jalan, darinya (Abu Hurairah).

Dan hadits ini sebenarnya mempunyai Syahid Keempat dari hadits Hudzaifah, yang dikeluarkan oleh Ibnu Majah (no. 259), akan tetapi sandanya “Saaqith” (berat ke-dha’if-annya).

Walhasil bahwa hadits di atas adalah “Shahih Ligharihi”, sebagaimana dikatakan oleh Imam Al-Albani -rahimahullaah- dalam “At-Ta’liiqaatul Hisaan” (no. 77).

PENJELASAN HADITS:

Al-Hafizh Ibnu Rajab Al-Hanbali -rahimahullaah- berkata dalam “Fadhlu ‘Ilmis Salaf ‘Alal Khalaf” (hlm. 61-62):

“Maka pada zaman yang rusak ini (manusia harus memilih):

(1)- apakah dia ridha agar dirinya menjadi seorang ‘alim (berilmu) menurut Allah,

(2)- ataukah dia tidak ridha kecuali (harus) menjadi ‘alim menurut manusia zaman sekarang.

Kalau dia ridha dengan yang pertama; maka cukuplah dengan pengetahuan Allah tentang dirinya. Dan barangsiapa yang antara dirinya dengan Allah ada pengenalan; maka dia akan mencukupkan diri dengan pengenalan Allah terhadap dirinya.

Dan barangsiapa yang tidak ridha kecuali agar bisa menjadi ‘alim menurut manusia; maka dia masuk ke dalam sabda Nabi -shallallaahu ‘alaihi wa sallam-: “Barangsiapa yang menuntut ilmu untuk berbangga dengannya di hadapan ulama, atau untuk mendebat orang-orang bodoh, atau memalingkan wajah manusia agar mengahadap kepadanya; maka siapkanlah tempatnya di Neraka.”

Wuhaib bin Al-Ward berkata: Betapa banyak orang ‘alim (berilmu) yang manusia menyebutnya sebagai seorang ‘alim, ternyata menurut Allah: dia tergolong orang bodoh.”

Dan seorang Shahabat yang mulia: ‘Utbah bin Ghazwan -radhiyallaahu ‘anhu- berkata:

وَإِنِّي أَعُوذُ بِاللهِ أَنْ أَكُونَ فِي نَفْسِيْ عَظِيمًا، وَعِنْدَ اللهِ صَغِيرًا

“Dan sungguh, aku berlindung kepada Allah dari (sifat) merasa besar pada diri sendiri, sedangkan di sisi Allah adalah kecil.”

Diriwayatkan oleh Muslim (no. 2967)

-ditulis oleh: Ustadz Ahmad Hendrix-

MUQADDIMAH TAKHRIJ HADITS

MUQADDIMAH TAKHRIJ HADITS

Berkata Syaikhu Syuyukhina Fadhilatul Ustadz ‘Abdul Hakim bin ‘Amir Abdat -hafizhahullaah-:

“Perkataan beliau [Imam Al-Bukhari]: “Tidak ada satupun hadits yang aku takhrij dalam kitab ini melainkan yang shahih.”

Maksudnya adalah:

PERTAMA: Hakikat Takhrijul Hadits ialah: meriwayatkan hadits dengan sanad dari dirinya.

Contohnya: seperti Imam Al-Bukhari, dia telah meriwayatkan hadits dengan sanad darinya, dari gurunya, dan seterusnya, sampai kepada Nabi -shallaallahu ‘alaihi wa sallam-, atau sampai kepada Sahabat -radhiyallahu ‘anhum-, atau sampai kepada Tabi’in, dan seterusnya. Oleh karena itu: Imam Al-Bukhari -dan saudara-saudaranya sesama perawi hadits- dinamakan “Mukharrij”; yaitu: orang yang mentakhrij hadits, sesuai dengan ta’rif (definisi) di atas.

KEDUA: Adapun ketika cara yang pertama -yang tadi saya terangkan- tidak memungkinkan lagi untuk dilakukan -yaitu: meriwayatkan hadits dengan sanad darinya sendiri- seperti pada zaman kita sekarang ini, bahkan pada zaman-zaman sebelumnya, disebabkan jarak yang demikian jauhnya, dan hadits telah dicatat dan dikumpulkan oleh para Imam ahli hadits lengkap dengan sanadnya: maka Takhrijul Hadits untuk cara yang kedua ialah: MERIWAYATKAN HADITS DARI KITAB-KITAB HADITS, DENGAN MENGUMPULKAN SANADNYA, KEMUDIAN MENGHUKUMI HADITS TEESEBUT: APAKAH DIA HADITS SAH ATAU TIDAK?

Inilah yang dinamakan Takhrijul Hadits. Oleh karena itu para imam ahli hadits yang datang belakangan: semuanya menempuh cara yang kedua ini.

Adapun semata-mata meriwayatkan atau mengembalikan hadits kepada asalnya -seperti ungkapan: hadits tersebut telah dikeluarkan oleh Abu Dawud, dan At-Tirmidzi, dan An-Nasa-i, dan lain-lain -tanpa menghukumi hadits tersebut: sah atau tidaknya-; maka pada hakikatnya itu bukanlah Takhrijul Hadits.

Dari sini kita mengetahui bahwa: hakikat dari Takhrijul Hadits adalah IJTIHAD, BUKAN TAQLID. Yakni ijtihad dari seorang ahlinya (yang) men-takhrij-nya (dia memberikan ijtihad hukumnya) setelah dia menempuh (tiga jalan):

– Pertama: Mengumpulkan sanad, memeriksanya, meneliti rawi-rawi-nya, matan-nya, atau lafazh-lafazh-nya, dan seterusnya yang berkaitan erat dengan status hukum sebuah hadits.

– Kedua: Melihat dan meneliti dengan cermat keputusan para ahli hadits mengenai status hadits tersebut.

– Ketiga: Keputusan darinya: adakalanya dengan menyetujui sebagian ahli hadits yang men-sah-kannya atau men-dha’if-kannya, dan adakalanya dia menyalahi nya…dan begitulah seterusnya yang menunjukkan kepada para pelajar yang mendalami ilmu yang mulia ini bahwa: hakikat dari takhrijul hadits adalah sebuah ijtihad dari seorang yang ahli men-takhrij-nya, bukan taqlid.

Maka apabila keputusan status hukum terhadap hadits diserahkan saja kepada ahlinya -seperti dia mengatakan bahwa hadits tersebut telah di-sah-kan oleh Imam fulan atau telah di-dha’if- kan oleh Imam Fulan; maka ini adalah taqlid, bukan hakikat dari Takhrijul Hadits. Dan dia harus menjelaskannya dan mengatakannya: Kepada siapa dia menyerahkan keputusan hukum tersebut? Supaya dia jangan (sampai) dituduh sebagai pencuri.

Tentunya hal yang demikian dibolehkan selama dia menyandarkannya dan menyerahkannya kepada ahlinya, bukan kepada orang-orang yang jahil atau yang bukan ahlinya. Dibolehkannya taqlid dalam masalah ini: karena tidak ada seorang pun juga yang selamat; meskipun dia orang yang ahli dalam sebagian pembahasan ilmiahnya, walaupun tidak menjadi kebiasaannya.

Adapun bagi orang-orang awam: maka seluruh keputusan takhrij diserahkan pada ahlinya. Demikian juga bagi para pelajar ilmiah yang tidak mendalami ilmu yang mulia ini -karena pada setiap ilmu ada orang yang mendalaminya dan ahlinya-: mereka disamakan dengan orang-orang awam dalam bab ini, maka seluruh keputusan takhrij diserahkan kepada ahlinya.

Sedikit saya panjangkan masalah takhrij ini: karena seringkali terjadi kesalahan ilmiah dari sebagian pelajar -khususnya para pemula- yang mendalami ilmu yang mulia ini. Ilmu yang sangat besar ini (adalah ilmu) yang membutuhkan waktu cukup lama -sampai puluhan tahun- untuk mempelajarinya, dengan kepandaian yang cukup serta kesabaran yang dalam.”

[Majalah As-Sunnah (hlm. 27-28), No. 1/Tahun XVI, Jumadil Akhir 1433 H / Mei 2012 M]

DAKWAH PARA NABI DAN PENGIKUT MEREKA

[1]- Nabi-Nabi Dan Para Pengikutnya Merupakan Manusia Yang Paling Berat Coabaannya

عَنْ سَعْدِ بْنِ أَبِيْ وَقَّاص، قَالَ: قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ، أَيُّ النَّاسِ أَشَدُّ بَلاَءً؟ قَالَ: ((الأَنْبِيَاءُ، ثُمَّ الأَمْثَلُ، فَالأَمْثَلُ،…))

Dari Sa’d bin Abi Waqhqhash -radhiyallaahu ‘anhu-, dia berkata: Aku bertanya: Wahai Rasulullah, siapakah manusia yang paling berat cobaannya? Beliau bersabda: “Para nabi, kemudian yang semisal, dan yang semisal (mereka)…”

[SANADNYA HASAN: HR. At-Tirmidzi (no. 2398), Ibnu Majah (no. 4023), Ahmad (no. 1481, 1494, 1555, & 1607- cet. Daarul Hadiits), dan lain-lain, dari Sa’d bin Abi Waqqash, dengan sanad yang hasan]

[2]- Pengikut Yang Hakiki Dari Para Nabi

“Yang semisal, dan yang semisal (mereka); mereka adalah: orang-orang shalih yang berjalan di atas manhaj mereka (para nabi) dalam berdakwah mengajak kepada Allah, dan BERDAKWAH SESUAI DENGAN DAKWAH MEREKA; BERUPA: MENTAUHIDKAN ALLAH, MENGIKHLASKAN IBADAH HANYA KEPADA-NYA SAJA, DAN MENYINGKIRKAN KESYIRIKAN DENGAN SELAIN-NYA, dan mereka mendapatkan gangguan dan cobaan seperti apa yang menimpa para teladan mereka; yakni: para nabi.

Oleh karena itulah; anda saksikan banyak dari para da’i yang berpaling dari manhaj yang berat dan jalan yang sulit ini. Karena, da’i yang menempuh jalan ini; maka dia akan menghadapi ibunya, bapaknya, saudaranya, orang-orang yang dicintainya dan teman-temannya. Dia juga akan menghadapi masyarakat; permusuhann ejekan dan gangguan mereka.”

[Manhajul Anbiyaa’ Fid Da’wah Ilallaah Fiihil Hikmah Wal ‘Aql (hlm. 50), karya Syaikh Rabi’ bin Hadi Al-Madkhali -hafizhahullaah-]

-ditulis oleh: ustadz Ahmad Hendrix-

PILIH-PILIHLAH DALAM BERTEMAN -BAIK DI DUNIA NYATA MAUPUN DI DUNIA MAYA-!!

Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah -rahimahullaah- berkata:

“Yang dimaksud dengan barakah (keberkahan) seseorang adalah: dia mengajarkan kebaikan di mana pun dia berada dan memberikan nasihat kepada setiap orang yang berkumpul dengannya. Allah Ta’aalaa berfirman mengabarkan tentang (perkataan Nabi ‘Isa) Al-Masih -‘alaihis salaam-:

وَجَعَلَنِي مُبَارَكًا أَيْنَ مَا كُنْتُ…

“dan Dia menjadikan aku seorang yang diberkahi di mana saja aku berada…” (QS. Maryam: 31)

Yakni: mengajarkan kebaikan, berdakwah mengajak kepada Allah, mengingatkan tentang-Nya dan mendorong untuk taat kepada-Nya. Inilah yang dimaksud keberkahan seseorang.

Barangsiapa yang tidak memilki sifat-sifat ini; maka dia tidak mempunyai berkah, bertemu dan berkumpul dengan orang semacam ini adalah tidak berkah, bahkan keberkahan orang yang bertemu dan berkumpul dengannya dihapus. Karena orang semacam ini hanya menyia-nyiakan waktu untuk membicarakan peristiwa-peristiwa yang terjadi dan merusak hati.

Setiap cacat yang masuk pada seorang hamba; maka sebabnya adalah: terbuangnya waktu dan rusaknya hati, dan hal itu akan mengakibatkan hilangnya bagian dia disisi Allah dan dan berkurangnya derajat dan kedudukan dia disisi-Nya. Karena; kapan saja waktu disia-siakan dan hati ditimpa kerusakan; maka semua perkara hamba akan sia-sia, dan termasuk kedalam firman Allah:

…وَلَا تُطِعْ مَنْ أَغْفَلْنَا قَلْبَهُ عَنْ ذِكْرِنَا وَاتَّبَعَ هَوَاهُ وَكَانَ أَمْرُهُ فُرُطًا

“…dan janganlah engkau mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingat Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan perkaranya sia-sia.” (QS. Al-Kahfi: 28)

Siapa saja yang memperhatikan keadaan makhluk; niscaya akan dia dapatkan keadaan mereka semua -kecuali sedikit- termasuk orang-orang yang hatinya lalai dari mengingat Allah -Ta’aalaa-, mengikuti hawa nafsu mereka dan perkara-perkara serta kemaslahatan-kemaslahatan mereka menjadi sia-sia; yakni: mereka kurang memperhatikan hal-hal yang bermanfaat dan mengandung maslahat bagi mereka, mereka sibuk dengan hal-hal yang tidak bermanfaat bagi mereka, bahkan berbahaya bagi mereka; baik di dunia maupun di akhirat.

Allah -Subhaanahu Wa Ta’aalaa- telah memerintahkan Rasul-Nya agar tidak mentaati mereka. Maka (dari sini kita ambil kesimpulan-pent): KETA’ATAN KITA KEPADA RASUL -shallallaahu ‘alaihi wa sallam- TIDAK AKAN SEMPURNA KECUALI DENGAN TIDAK TA’AT KEPADA MEREKA; KARENA MEREKA HANYALAH MENGAJAK KEPADA HAL-HAL YANG SESUAI DENGAN MEREKA; BERUPA: MENGIKUTI HAWA NAFSU DAN LALAI DARI DZIKIR (MENGINGAT) ALLAH.”

[Risaalah Ibnil Qayyim Ilaa Ahadi Ikhwaanihi (hlm. 3-4)]