‘AQIDAH WASITHIYAH

KAJIAN ‘AQIDAH WASITHIYAH 4

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah -rahimahullaah- berkata:

فَلَا يَنْفُوْنَ عَنْهُ مَا وَصَفَ بِهِ نَفْسَهُ، وَلَا يُـحَـرِّفُـوْنَ الْكَلِمَ عَنْ مَوَاضِعِهِ، وَلَا يُلْحِدُوْنَ فِـيْ أَسْـمَاءِ اللهِ وَآيَاتِهِ، وَلَا يُكَـيِّـفُوْنَ، وَلَا يُـمَثِّلُوْنَ صِفَاتِهِ بِـصِفَاتِ خَلْقِهِ، لِأَنَّهُ سُبْحَانَهُ لَا سَـمِيَّ لَهُ، وَلَا كُـفُوَ لَهُ، وَلَا نِدَّ لَهُ، وَلَا يُقَاسُ بِـخَلْقِهِ -سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى-، فَإِنَّهُ سُبْحَانَهُ أَعْلَمُ بِنَفْسِهِ وَبِغَـيْـرِهِ، وَأَصْدَقُ قِـيْلًا، وَأَحْـسَنُ حَدِيْـثًا مِنْ خَلْقِهِ.

“Mereka (Ahlus Sunnah) tidak menafikan dari Allah: sifat-sifat-Nya yang Dia tetapkan untuk diri-Nya, dan tidak menyelewengkan firman (Allah) dari lafazh/makna aslinya, serta tidak membuat ilhaad )menyalahartikan( nama-nama Allah dan ayt-ayat-Nya. Mereka tidak menanyakan bagaimana bentuknya, serta tidak menyerupakan sifat-sifat Allah dengan sifat-sifat makhluk-Nya; karena tidak ada yang sama dengan-Nya, tidak ada yang setara dengan-Nya, dan tidak ada tandingan bagi-Nya. Dan Dia tidak boleh dikiaskan dengan makhluk-Nya; karena sungguh, Allah lebih tahu tentang diri-Nya dan tentang selain-Nya, Allah itu paling benar dan paling baik perkataan-Nya daripada makhluk-Nya.”

[27]- Maka di sini Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah -rahimahullah- menjelaskan bahwa Ahlus Sunnah Wal Jama’ah tidak menafikan sifat-sifat Allah -Subhaanahu Wa Ta’aalaa- dan tidak pula melakukan “tahriif” (menyelewengkan lafazh/makna) serta “ilhaad” (menyalah artikan) nama-nama dan sifat-sifat Allah; yakni mengartikan tidak sesuai dengan makna yang sebenarnya, serta tidak melakukan “takyiif” (menanyakan bagaimana sifat-Nya), dan tidak pula melakukan “tamtsiil” (menyerupakan sifat Allah dengan sifat makhluk-Nya) karena Allah -Subhaanahu wa Ta’aalaa-tidak ada yang serupa dengan-Nya.

Dan pembahasan ini telah kita jelaskan sebelumnya.

[28]- AL-QUR’AN

Oleh karena itu: kita harus menerima apa-apa yang Allah kabarkan tentang diri-Nya, karena Allah -Subhaanahu wa Ta’aalaa-:

(1)- ilmu-Nya meliputi segala sesuatu; baik tentang diri-Nya maupun selain-Nya. Allah lebih tahu tentang diri-Nya maupun tentang makhluk-Nya,

(2)- dan Allah paling benar perkataan-Nya; yakni apa yang Allah katakan adalah benar bukan penipuan, dan bukan pula kedustaan,

(3)- dan Allah paling bagus penjelasan-Nya.

Kemudian sesungguhnya suatu perkataan itu dikatakan kurang penjelasannya atau kurang bisa menunjukkan terhadap sesuatu; jika terdapat 3 (tiga) hal di dalamnya:

1. Kebodohan; yaitu tidak adanya ilmu atau kurang ilmunya.

2. Tidak ada kefasihan dalam penjelasannya: yaitu tidak mampu menjelaskan dengan baik.

3. Kedustaan; yaitu tidak jujur dan tidak benar dalam penyampainnya.

Sebagaimana yang dijelaskan oleh Syaikh Nashir As-Sa’di -rahimahullah- dalam “At-Tanbiihaat Al-Lathiifah” (hlm. 18- tahqiiq Syaikh ‘Ali Al-Halabi).

Sehingga sebaliknya: suatu perkataan itu dikatakan baik penjelasannya dan bisa menunjukkan kepada sesuatu; jika terpenuhi padanya 3 (tiga) hal yang merupakan dari lawan yang telah disebutkan; yaitu: (1)sesuatu yang bersumber ilmu, (2)baiknya penjelasan, serta (3)dijelaskan dengan jujur dan benar.

Dan hal-hal tersebut terdapat di dalam nash-nash Al-Qur’an dan As-Sunnah.

Maka jelas terdapat dalam Al-Qur’an (perkataan Allah) karena Allah -Subhaanahu Wa Ta’aalaa- ilmu-Nya meliputi segala sesuatu; baik tentang diri-Nya maupun makhluk-Nya, kemudian Allah – Subhaanahu wa Ta’aalaa- adalah yang paling benar perkataann-Nya. Allah -Ta’aalaa- telah berfirman:

… وَمَنْ أَصْدَقُ مِنَ اللهِ حَدِيْثًا

“Siapakah yang lebih benar perkataannya dari pada Allah?” (QS. An-Nisa: 87)

… وَمَنْ أَصْدَقُ مِنَ اللهِ قِيْلاً

“Siapakah yang lebih benar perkataannya dari pada Allah?” (QS. An-Nisa: 122)

Dan juga Allah paling baik penjelasannya. Allah -Ta’aalaa- telah berfirman:

وَلاَ يَأْتُوْنَكَ بِمَثَلٍ إِلاَّ جِئْنكَ بِالْحَقِّ وَأَحْسَنَ تَفْسِيْرًا

“Dan mereka (orang-orang kafir itu) tidak datang kepadamu (membawa) sesuatu yang aneh, melainkan Kami datangkan kepadamu yang benar dan penjelasan yang paling baik.” (QS. Al-Furqan: 33)

Maka terpenuhi pada Al-Qur’an (perkataan Allah) berupa: (1)ilmu, (2)baiknya penjelasan, serta (3)jujur dan benar.

Begitu pula hal-hal tersebut juga terdapat dalam As-Sunnah (perkataan Rasulullah -shalallaahu ‘alaihi wa sallam-), karena beliau yang paling tahu tentang Allah sebagaimana dalam hadits:

أَنَا أَعْلَمُكُمْ بِاللهِ

“Aku adalah yang paling tahu di antara kalian tentang Allah.”

[Lihat: “Fat-hul Baari” (I/96- cet. Daarus Salaam)]

[29]- AS-SUNNAH

Kemudian jelasS ekali bahwa beliau (Nabi Muhammad -shallallaahu ‘alaihi wa sallam-) adalah yang paling baik penjelasannya, serta paling jujur dalam penjelasannya, dan benar, serta tidak berdusta, dan juga beliau adalah yang paling sayang terhadap umatnya. Oleh karena itulah penulis melanjutkan penjelasannya:

ثُـمَّ رُسُلُهُ صَادِقُوْنَ مَصْدُوْقُوْنَ؛ بِـخِلَافِ الَّذِيْنَ يَقُوْلُوْنَ عَلَيْهِ مَا لَا يَعْلَمُوْنَ، وَلِـهٰذَا قَالَ -سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى-: {سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ * وَسَلامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ * وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ} فَسَبَّحَ نَفْسَهُ عَمَّا وَصَفَهُ بِهِ الْمُخَالِـفُوْنَ لِلرُّسُلِ، وَسَلَّمَ عَلَى الْمُرْسَلِـيْـنَ لِسَلَامَةِ مَا قَالُوْهُ مِنْ الـنَّقْصِ وَالْعَيْبِ.

“Dan rasul-rasul adalah benar dan dibenarkan; berbeda dengan orang-orang yang berkata atas nama Allah apa yang mereka tidak ketahui. Karena itu Allah berfirman: “Maha Suci Rabb-mu Yang Maha Perkasa dari sifat yang mereka katakan. Dan selamat sejahtera bagi para rasul. Dan segala puji bagi Allah Rabb seluruh alam.” (Ash-Shaaffaat: 180-182) Allah mensucikan diri-Nya dari apa-apa yang disifatkan oleh orang-orang yang menyelisihi para rasul, dan Allah memberikan selamat sejahtera atas para rasul disebabkan keselamatan yang mereka ucapkan dari kekurangan dan aib.”

Jadi jelaslah bahwa Allah dan Rasul-Nya yang menunjukkan tentang ilmu, baiknya penjelasan, serta jujur dan benar dalam penjelasannya. Dan memang firman Allah dan sabda Rasul-Nya menyampaikan kepada derajat ilmu dan keyakinan. Maka dari sinilah kita mengambil penjelasan tentang nama-nama dan sifat-sifat Allah -Ta’aalaa- bahkan tentang berbagai permasalahan dalam Agama ini.

[30]- MANHAJ SALAF (PARA SHAHABAT)

Berbeda dengan anggapan orang-orang yang menyimpang dalam masalah ini, mereka menganggap bahwasannya firman Allah atau sabda Nabi -shalallaahu ‘alaihi wa sallam- tidak menjelaskan sesuai dengan hakikatnya dengan alasan karena mereka menganggap para Salaf (Shahabat) adalah orang-orang yang “ummiy” (tidak bisa baca tulis), danorang-orang bodoh, sehingga dengan demikian menurut mereka: Rasul menyampaikan kepada mereka sesuatu yang tidak seperti aslinya.

[Lihat: “Ash-Shawaa’iq Al-Mursalah” (I/162-170)]:

Maka anggapan ini lebih mengarah kepada pendapat orang-orang kafir yang mengingkari apa yang Rasul bawa; baik tentang nama-nama dan sifat-sifat Allah, tentang Hari Akhir, dan yang lainnya. Jadi maksudnya seperti: ketika Rasul menjelaskan tentang Hari Akhir; maka maksudnya Hari Akhir tidak ada, akan tetapi hal ini disampaikan demikian dikarenakan: yang dihadapi adalah orang-orang Arab Badui dan semisalnya, yaitu agar mereka semangat bergama atau yang semisalnya.

Jadi dianggap bahwa: apa yang Rasul bawa tidak sesuai dengan hakikatnya (ada ilmu yang lain, yakni: ada ilmu batin dan semisalnya).

[Semisal yang dikatakan oleh Ibnu Sina dalam Ar-Risaalah Al-Adh-hawiyyah -sebagaimana dinukil -dan dibantah- oleh Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah -rahimahullaah- dalam: “Ash-Shawaa-‘iqul Mursalah” (III/1097-1106)]

Padahal perkaranya adalah seperti apa yang dikatakan oleh Imam Ibnul Qayyim -rahimahullaah-:

“Sungguh Rasul -shalawaatullaah wa salaamuhu ‘alaihi-: tidak pernah bersabda bengan seorang pun dengan sesuatu yang sangat bertentangan dengan apa yang beliau nampakkan kepada manusia, dan pembesar para Shahabat juga tidak ada yang meyakini sesuatu yang bertentangan dengan apa yang beliau nampakkan kepada manusia.”

[“Ash-Shawaa-‘iqul Mursalah” (III/1107)]

Sehingga Ahlus Sunnah Wal Jama’ah (pengikut para Salaf/Shahabat), maka mereka meyakini keilmuan para Shahabat yang mana mereka mengenal dengan baik secara kepribadian maupun secara ilmunya. Mereka tidak akan beranggapan seperti orang-orang yang menyimpang tersebut, bahkan bisa kafir jika sampai mengingkari Hari Akhir walaupun dengan cara demikian.

Mereka (Ahlus Sunnah Wal Jama’ah) sangat mengagungkan para Shahabat dan orang yang membaca Al-Qur’an dan Sunnah Nabi -shalallaahu ‘alaihi wa Sallam- akan mengetahui keutamaan mereka; baik keilmuan maupun amalan. Oleh karena itu Ahlus Sunnah Wal Jama’ah sangat mengikuti apa yang diyakini dan diamalkan oleh para Shahabat, karena mereka yakin bahwa para Shahabat sangat faham terhadap apa yang Allah maksudkan dan Rasul inginkan, karena Rasul telah menjelaskan kepada mereka (para Shahabat) -sebagaimana Allah sendiri yang mengatakannya-:

… وَأَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الذِّكْرَ لِتُبَيِّنَ لِلنَّاسِ مَا نُزِّلَ إِلَيْهِمْ وَلَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُوْنَ

“… Dan Kami turunkan adz-Dzikr (Al-Quran) kepadamu, agar engkau menerangkan kepada manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan agar mereka memikirkan.” (QS. An-Nahl: 44)

Yakni Allah sendiri berfirman di dalam Al-Qur’an bahwa Allah menurunkan Al-Qur’an dan Allah memberi tugas kepada Rasul untuk memberikan “bayaan” (penjelasan) kepada para Shahabat, maka penjelasan di sini masuk di dalamnya: (1)penjelasan lafazh Al-Qur’an yang disampaikan kepada mereka, dan masuk juga: (2)penjelasan tentang maknanya; sehingga Rasulullah -shalallaahu ‘alaihi wa sallam- dengan sunnahnya menjelaskan tentang apa yang dimaksudkan Allah -Ta’aalaa-:

– baik Rasul jelaskan dengan perkataan bahkan terkadang lafazh per lafazh dari apa yang Allah firmankan, seperti: yang beliau jelaskan tentang lafazh (الظُّلْمُ) dalam firman Allah -Ta’alaa-:

الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا وَلَمْ يَلْبِسُوْا إِيْمنَهُمْ بِظُلْمٍ أُولئِكَ لَهُمُ اْلأَمْنُ وَهُمْ مُهْتَدُوْنَ

“Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman dengan kezhaliman (syirik), mereka itulah orang-orang yang mendapat rasa aman dan mereka mendapat petunjuk.” (QS. Al-An’am: 82)

Maka dijelaskan oleh beliau: (الظُّلْمُ) maksudnya adalah kesyirikan dan juga seperti disebutkan dalam ayat lainnya:

… إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيْمٌ

“… Sesungguhnya kesyirikan (mempersekutukan) Allah adalah kezhaliman yang besar” (QS. Luqman: 13)

– Terkadang juga beliau menjelaskan makna dari firman Allah -Subhaanahu Wa Ta’aalaa-.

– Atau beliau menjelaskan dengan perbuatan beliau.

– Terkadang beliau menguatkan apa yang Allah firmankan; yaitu apa yang beliau sabdakan sesuai dengan apa yang Allah firmankan.

– Terkadang juga beliau merincinya; yaitu menjelaskan dengan jelas sesuatu yang masih globlal (umum) dalam Al-Qur’an.

– Dan terkadang juga beliau menambahkan sesuatu yang tidak ada dalam Al-Qur’an.

Maka secara umum Allah perintahkan untuk mengambil perkataan Rasul-Nya. Allah -Ta’aalaa- berfirman:

… وَمَا ءَاتكُمُ الرَّسُوْلُ فَخُذُوْهُ وَمَا نَهكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوْا …

“… Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah … “ (QS. Al- Hasyr: 7)

[Lihat: “Ar-Risaalah” (no. 299-308) karya Imam Asy-Syafi’i -rahimahullaah- dan “I’laamul Muwaqqi’iin” (hlm. 447-449-cet. Daar Thayyibah) karya Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah -rahimahullaah-]

Jadi sekali lagi, orang-orang yang menyimpang; maka di antara sebab penyimpangannya adalah: karena mereka tidak mengenal para Salaf, tidak mengenal keilmuan mereka, dan meremehkan mereka: sehingga terjadilah penyimpangan pada diri orang-orang tersebut.

Adapun Ahlus Sunnah; maka mereka sangat paham tentang kedudukan para Salaf berdasarkan dalil (firman Allah dan hadits Nabi), sehingga dengan itu mereka yakin bahwasannya rasul telah menyampaikan atau menjelaskan Al-Qur’an secara lafazh dan maknanya kepada mereka. Dan ketika mereka diam bukan berarti mereka tidak tahu artinya -seperti anggapan kelompok Mufawwidhah -sebagaimana telah kita jelaskan-, akan tetapi mereka diam karena tahu maknanya sehingga muncul perkataan mereka:

أَمِرُّوهَا كَمَا جَاءَتْ بِلاَ كَيْفَ

“Biarkanlah sifat-sifat Allah sebagaimana datangnya dan tidak perlu diberikan kaifiyatnya.”

Maka Ahlus Sunnah dalam beragama mereka benar-benar mengambil dari Allah dan rasul-Nya. Dan inilah jalan golongan yang selamat -sejak zaman dahulu- yang mengikuti Allah dan rasul-Nya.

[31]- PENGIKUT PARA RASUL

Kemudian pada ayat yang dibawakan oleh penulis.

{سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ * وَسَلامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ * وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ} فَسَبَّحَ نَفْسَهُ عَمَّا وَصَفَهُ بِهِ الْمُخَالِـفُوْنَ لِلرُّسُلِ، وَسَلَّمَ عَلَى الْمُرْسَلِـيْـنَ لِسَلَامَةِ مَا قَالُوْهُ مِنْ الـنَّقْصِ وَالْعَيْبِ.

“Maha Suci Rabb-mu Yang Maha Perkasa dari sifat yang mereka katakan. Dan selamat sejahtera bagi para rasul. Dan segala puji bagi Allah Rabb seluruh alam.” (Ash-Shaaffaat: 180-182) Allah mensucikan diri-Nya dari apa-apa yang disifatkan oleh orang-orang yang menyelisihi para rasul, dan Allah memberikan selamat sejahtera atas para rasul disebabkan keselamatan yang mereka ucapkan dari kekurangan dan aib.”

Karena yang mereka sampaikan adaah apa yang Allah wahyukan kepada mereka.

Itulah golongan yang selamat -pada setiap zaman- yaitu yang mentauhidkan Allah -Ta’aalaa- dan mengikuti rasul yang diutus kepada mereka; baik dari golongan Yahudi dan Nasrani (umat-umat yang sebelum kita). Allah -Ta’aalaa- berfirman:

إِنَّ الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا وَالَّذِيْنَ هَادُوْا وَالنَّصَارَى وَالصَّابِئِيْنَ مَنْ ءَامَنَ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ وَعَمِلَ صَالِحًا فَلَهُمْ أَجْرُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ وَلاَ خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلاَ هُمْ يَحْزَنُوْنَ

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani, dan orang-orang Shaabi-iin, siapa saja (diantara mereka) yang beriman kepada Allah dan hari akhir dan melakukan kebajikan, mereka mendapat pahala dari Tuhannya, tidak ada rasa takut pada mereka dan mereka tidak bersedih hati.” (QS. Al-Baqarah; 62)

Maka orang-orang Yahudi dan Nasrani (umat-umat sebelum kita) bisa selamat jika mereka beriman kepada Allah dan hari akhir, beramal shalih dan mengikuti rasul yang diutus kepada mereka. Dan itu adalah Islam yaitu beribadah kepada Allah dan mengikuti rasul yang diutus kepadanya.

Sehingga pada zaman kita setelah diutusnya Rasulullah -Shalallahu ‘alaihi Wasallam-, maka yang ingin selamat harus mengikuti beliau; yaitu mentauhidkan Allah dan mengikuti rasul.

[32]- AGAMA PARA RASUL

Dan itulah Agama para rasul semuanya; yaitu mentauhidkan Allah dan mengenal nama-nama dan sifat-sifat-Nya. Dan juga itulah hikmah/tujuan dari penciptaan mereka (jin dan manusia): yaitu kita diciptakan untuk beribadah kepada Allah dan untuk mengenal-Nya. Allah -Ta’aalaa- berfirman:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالإِنْسَ إِلاَّ لِيَعْبُدُوْنِ

“Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzaariyat: 56)

Dan Allah juga berfirman:

اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ سَبْعَ سَمَاوَاتٍ وَمِنَ الأَرْضِ مِثْلَهُنَّ يَتَنَزَّلُ الأَمْرُ بَيْنَهُنَّ لِتَعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ وَأَنَّ اللَّهَ قَدْ أَحَاطَ بِكُلِّ شَيْءٍ عِلْمًا

“Allah menciptakan tujuh langit dan dari (penciptaan) bumi juga serupa. Perintah Allah berlaku padanya, agar kamu mengetahui bahwa Allah Mahakuasa atas segala sesuatu dan ilmu Allah meliputi segala sesuatu.” (QS. Ath-Thalaq: 12)

Maka dari 2 (dua) ayat ini menunjukkan bahwasannya Allah menciptakan kita semua untuk beribadah kepada Allah dan untuk mengenal-Nya sebagaimana dikatakan oleh Imam Ibnu Qayyim A-Jauziyah -rahimahullah- dalam “Miftaah Daaris Sa’aadah” (I/267 -tahqiiq Syaikh ‘Ali Al-Halabi):

“Maka dua ayat ini mengandung bahwa: Allah -Subhaanahu- menciptakan langit dan bumi serta apa saja yang di antara keduanya: hanyalah agar Dia dikenal dengan nama-nama-Nya dan sifat-sifat-Nya, serta agar Dia diibadahi.”

Sehingga dengan demikian ketika seseorang beragama harus mengambil apa yang Allah firmankan dan yang Nabi sabdakan -terlebih lagi dalam masalah yang sifatnya “tauqiifiyyah” (yang harus berdalil dengan syari’at)-.

[33]- ASH-SHIRAATHUL MUSTAQIIM (JALAN YANG LURUS)

Kemudian penulis melanjutkan perkataannya:

وَهُوَ سُبْحَانَهُ قَدْ جَـمَعَ فِـيْمَا وَصَفَ وَسَـمَّى بِـهِ نَفْسَهُ بَيْنَ الـنَّفْيِ وَالْإِثْــبَاتِ، فَلَا عُدُوْلَ لِأَهْلِ السُّــنَّةِ وَالْـجَمَاعَةِ عَمَّا جَاءَ بِـهِ الْمُرْسَلُوْنَ؛ فَإِنَّهُ الصِّرَاطُ الْمُسْتَقِـيْمُ، صِرَاطُ الَّذِيْـنَ أَنْعَمَ اللهُ عَلَـيْهِمْ: مِنَ الـنَّـبِـيِّـيْـنَ، وَالصِّـدِّيْـقِـيْـنَ، وَالشُّـهَدَاءِ، وَالصَّــالِـحِيْـنَ.

“Allah telah menggabungkan antara penafian dan penetapan dalam nama dan sifat-Nya; maka tidak ada jalan bagi Ahlus Sunnah untuk berpaling dari apa-apa yang dibawa oleh para rasul. Karena sungguh, itu adalah Ash-Shiraatul Mustaqiim (jalan yang lurus); yaitu jalannya orang-orang yang Allah telah memberi nikmat kepada mereka: dari para nabi, shiddiiqiin, syuhadaa’, dan shaalihiin.”

Jadi -sebagaimana telah dijelaskan- ketika Allah menjelaskan nama-nama dan sifat-sifat-Nya; maka Allah telah menggabungkan antara An-Nafyu (peniadaan) dan Al-Itsbaat (penetapan).

Maka Ahlus Sunnah Wal Jama’ah -yang pada hakekatnya mereka adalah orang-orang yang berpegang kepada Islam yang haqiqi-: mereka tidak akan berpaling dari apa yang dibawa oleh para rasul, karena yang mereka bawa adalah Ash-Shiraathal Mustaqiim; yaitu Ilmu yang bermanfaat dan amal Shalih, bukan jalannya orang-orang yang berilmu tanpa amal, dan bukan pula jalannya orang-orang yang beramal tanpa ilmu -sebagiamana telah kita jelaskan-.

Maka Ash-Shiraathal Mustaqiim inilah jalannya para Nabi dan Shiddiqiin serta Syuhada dan Shaalihiin.

Dan untuk kalangan umat ini yaitu Nabi kita Muhammad -Shalallahu ‘alaihi Wasallam- dan para Shahabatnya. Telah dijelaskan oleh Ibnu Qayyim al-Jauziyah -Rahimahullah-)

وَلاَ رَيْبَ أَنَّ مَا كَانَ عَلَيْهِ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَصْحَابُهُ عِلْمًا وَعَمَلاً وَهُوَ مَعْرِفَةُ الْحَقِّ وتَقْدِيْمُهُ وَإِيْثَارُهُ عَلَى غَيْرِهِ وَهُوَ الصِّرَاطُ الْمُسْتَقِيْمُ

“Dan tidak diragukan lagi bahwasannya apa yang Rasul -shalallahu ‘alaihi wa sallam- dan para Shahabatnya berada di atasnya -berupa ilmu dan amal, yaitu: mengenal kebenaran serta mendahulukan kebenaran tersebut (dengan diamalkan) atas selainnya-: maka inilah Ash-Shiraath Al-Mustaqiim.”

[“Madaarijus Saalikiin” (I/100- cet. Ad-Daar Al-‘Aalamiyyah)]

[34]- RINCIAN AYAT-AYAT AL-QURAN DAN HADITS-HADITS NABI TENTANG NAMA-NAMA DAN SIFAT-SIFAT ALLAH

Kemudian dilanjutkan oleh penulis

وَقَدْ دَخَلَ فِـيْ هٰذِهِ الْـجُمْلَةِ: مَا وَصَفَ بِهِ نَفْسَهُ فِـيْ سُوْرَةِ الْإِخْلَاصِ الَّتِـيْ تَعْدِلُ ثُلُثَ الْقُرْآنِ؛ حَيْثُ يَقُولُ: {قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ * اللَّهُ الصَّمَدُ * لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ * وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ}

“Dan telah masuk pula dalam penjelasan ini: apa yang Allah sifatkan tentang diri-Nya dalam Surat Al-Ikhlash yang menyamai sepertiga Al-Quran; Allah berfirman: “Katakanlah (wahai Rasul): Dia-lah Allah, Yang Maha Esa. Allah tempat meminta segala sesuatu. (Allah) tidak beranak dan tidak pula diperanakkan. Dan tidak ada sesuatu yang setara dengan Dia.” (QS. Al-Ikhlash: 1-4)”

Setelah penulis menjelaskan kaedahnya; yakni jalan selamat dalam memahami nama-nama dan sifat-sifat Allah -Ta’aalaa- yang disebutkan Allah dan rasul-Nya,maka di sini penulis mulai memasuki rincian penyebutan dari ayat-ayat Al-Qur’an, yang nanti akan dilanjutkan dengan hadits-hadits Nabi tentang masalah nama-nama dan sifat-sifat Allah -Subhaanahu Wa Ta’aalaa-.

[35]- METODE SYARH

Namun sebelum kita melanjutkan maka di sini ada yang perlu diketahui bahwasannya ketika penulis membawakan ayat-ayat atau hadits-hadits Nabi (biasa disebut dengan matan) di dalam kitab mereka, maka mereka ingin ber-istidlaal (menjadikan dalil) dengan satu kata atau satu kalimat yang terdapat dalam ayat atau hadits tersebut; atas apa yang mereka inginkan.

Jadi maksudnya:ketika dibawakan di dalam kitab ini ayat-ayat atau hadits-hadits Nabi; maka yang diinginkan adalah: di dalamnya terdapat penyebutan tentang nama-nama dan sifat-sifat Allah, dan terdapat penetapan nama-nama dan sifat-sifat Allah yang sempurna, serta penafiaan tentang sifat-sifat yang kurang dan aib bagi Allah.

Dan begitu juga dengan pembahasan lainnya; baik dalam masalah tauhid ibadah (uluhiyyah), dan yang lainnya.

Kemudian juga perlu diketahui yaitu: kebiasaan para pen-syarh ketika mereka menjelaskan apa yang dibawakan oleh penulis dalam matannya; maka selain mereka menjelaskan “Asy-Syaahid” tersebut (pokok masalah yang diinginkan oleh penulis) -dari ayat atau hadits-: mereka juga menjelaskan faedah yang lainnya yang terdapat dalam ayat atau hadits tersebut.

Maka disini kita akan mengikuti cara para ulama tersebut: yaitu ketika mensyarh atau menjelaskan ayat dan hadits tidak hanya pada tempat “Syaahid”-nya saja akan tetapi juga faedah yang dapat diambil dari ayat atau hadits tersebut.

Dan yang demikian ini memiliki kelebihan dan kekurangan:

– Kelebihannya: pembahasan semakin meluas lagi banyak faedahnya.

– Kekurangannya: terkadang membuat pembaca atau pendengar lupa dari inti pembahasan.

[36]- SURAT AL-IKHLAS SEBANDING DENGAN SEPERTIGA AL-QUR’AN

Maka kita mulai dari sifat surat Al-Ikhlas yang dibawakan oleh Penulis.

Surat Al-Ikhlas menyamai sepertiga Al-Qur’an sebagaimana yang dikatakan oleh Nabi -shalallaahu ‘alaihi wa sallam-:

قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ تَعْدِلُ ثُلُثَ الْقُرْآنِ

“Qul Huwallaahu Ahad (Surat Al-Ikhlash) sebanding dengan sepertiga Al-Qur’an.”

[Shahih: HR. Muslim (no. 811) dari Abu Darda -radhiyallaahu ‘anhu-, dan diriwayatkan oleh Al-Bukhari (no. 5013) dari Abu Sa’id Al-Khudri -radhiyallaahu ‘anhu-]

Kemudian di antara penjelasan para Ulama tentang maksud dari sepertiga Al-Qur’an -dan dua pertiga lainnya- yaitu: bahwasannya makna Al-Qur’an ada 3 (tiga) jenis:

1- Tauhid; yaitu: menjelaskan tentang tauhid Rububiyah, Uluhiyah dan Asma’ Wa Shifat, tentang Allah, perbuatannya, dan tentang hak-Nya untuk diibadahi.

2- Kisah-kisah; yaitu: menjelaskan tentang kisah Nabi Muhammad -shalallaahu ‘alaihi was allam-, para nabi sebelumnya, orang shalih, serta kisah para Shahabat beliau -shalallaahu ‘alaihi wa sallam-, tentang peperangan beliau, serta kehidupan beliau dan para Shahabatnya.

3- Masalah hukum (fiqih); yaitu: menjelaskan tentang berbagai hukum, mulai dari wudhu, tayamum, shalat, zakat, puasa, haji, jual beli, hutang piutang, dan yang lainnya.

Sehingga orang yang ingin menguasai tafsir Al-Qur’an maka dia harus menguasai 3 (tiga) ilmu tersebut.

[Lihat: “At-Tanbiihaat As-Saniyyah ‘Alal ‘Aqiidah Al-Waasithiyyah” (hlm. 44), karya Syaikh ‘Abdul ‘Aziz An-Nashir Ar-Rasyid -rahimahullaah-]

[37]- AN-NAFYU & AL-ITSBAAT DALAM SURAT AL-IKHLAS

Kemudian disini Allah perintahkan rasul-Nya untuk mengatakan bahwa Allah yang Maha Esa (tidak ada yang menandinginya) dan Allah adalah Ash-Shamad (segala sesuatu menuju dan meminta kepada-Nya) dan Allah tidak beranak dan tidak pula diperanakkan dan tidak ada yang setara dengan Dia.

Maka disini Allah -Ta’aalaa- menyebutkan -di dalam surat Al-Ikhlas- tentang penggabungan antara An-Nafyu dan Al-Itsbaat; yaitu tentang pensucian diri-Nya dan penetapan kesempurnaan bagi-Nya.

[38]- FAEDAH-FAEDAH DARI SURAT AL-IKHLAS

Maka dalam ayat ini terdapat beberapa faedah:

1. Keutamaan surat Al-Ikhlas yang sebanding dengan sepertiga al-Qur’an.

2. Surat ini mengandung tentang keutamaan ilmu Tauhid, karena ilmu Tauhid ini adalah sepertiga ilmu Al-Qur’an. Kemudian juga karena keutamaan sebuah ilmu mengikuti keutamaan yang dibahas. Maka jelas ilmu Tauhid adalah ilmu yang utama karena dibahas di dalamnya adalah ilmu tentang Allah dan tentang sifat-sifat-Nya.

3. Menunjukkan bahwa Al-Qur’an adalah Kalamullah (firman Allah)

قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ

“Katakanlah (Muhammad) “Dialah Allah Yang Maha Esa.”

Yakni Allah perintahkan kepada Nabi-Nya untuk mengatakan demikian, dan Nabi sampaikan sesuai dengan apa yang Allah firmankan. Maka jika memang Al-Qur’an itu buatan Nabi -Shalallaahu ‘alaihi Wasallam- maka mengapa terdapat padanya kata (قُلْ) “Katakanlah”?!!!

Dan mengapa beliau tidak hanya mengatakan (هُوَ اللهُ أَحَدٌ) “Dialah Allah Yang Maha Esa”, akan tetapi beliau sampaikan semua; yakni terdapat kata (قُلْ) padanya?!!!

Jadi ini memang berasal dari Allah dan tugas rasul hanya menyampaikan saja (sesuai apa yang Allah firmankan).

Allah -Ta’aalaa- berfirman:

… وَمَا عَلَى الرَّسُوْلِ إِلاَّ الْبَلاَغُ الْمُبِيْنُ

“… Dan kewajiban rasul hanyalah menyampaikan (amanat Allah) dengan jelas.” (QS. An-Nur: 54)

4. Terdapat dalil tentang: terang-terangan dalam menyampaikan keyakinan kita, dan menjelaskan dengan sejelas-jelasnya tentang ‘Aqidah kita; berdasarkan firman Allah: (قُلْ) “Katakanlah”. Maka Allah perintahkan untuk mengatakan dengan sejelas-jalasnya.

5. Allah mennyebutkan tentang diri-Nya:

Bahwa Dia adalah (أَحَدٌ) “Esa”; yaitu: Allah tidak ada yang sebanding dengan-Nya,

Dan Dia adalah (الصَّمَدُ) yaitu: segala sesuatu menuju kepada-Nya; hati ini cinta dan harap serta takut hanya kepada-Nya, seluruh makhluk menuju kepada-Nya dalam permintaan dan kebutuhan mereka.

Dia juga (لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُوْلَدْ) “ tidak beranak dan tidak pula diperanakkan”. Maka ini bantahan kepada orang Yahudi yang mengatakan bahwa ‘Uzair adalah anak Allah, dan kepada orang Nashrani yang mengatakan bahwa Al- Masih (Nabi Isa) adalah anak Allah. Allah -Ta’aalaa- berfirman:

وَقَالَتِ الْيَهُودُ عُزَيْرٌ ابْنُ اللَّهِ وَقَالَتِ النَّصَارَى الْمَسِيحُ ابْنُ اللَّهِ ذَلِكَ قَوْلُهُمْ بِأَفْوَاهِهِمْ …

“Dan orang-orang Yahudi berkata, “Uzair putra Allah,” dan orang-orang Nasrani berkata, “Al-Masih putra Allah.” Itulah ucapan yang keluar dari mulut mereka … “ (QS. At-Taubah: 30)

Dan bantahan kepada orang Musyrik yang mengatakan Malaikat adalah anak perempuan Allah. Maka Allah mengingkarinya:

أَلَكُمُ الذَّكَرُ وَلَهُ الْأُنْثَى * تِلْكَ إِذًا قِسْمَةٌ ضِيزَى

“Apakah (pantas) untuk kamu yang laki-laki dan untuk-Nya yang perempuan? Yang demikian itu tentulah pembagian yang tidak adil.” (QS. An-Najm: 21-22)

[Lihat: “At-Tanbiihaat As-Saniyyah ‘Alal ‘Aqiidah Al-Waasithiyyah” (hlm. 45-47), karya Syaikh ‘Abdul ‘Aziz An-Nashir Ar-Rasyid -rahimahullaah-]

[39]- “AS-SYAAHID” (SISI PENDALILAN) DARI SURAT AL-IKHLAS

Jadi dalam ayat ini terdapat tentang nama-nama dan sifat-sifat Allah -Subhaanahu Wa Ta’aalaa- selain itu juga di dalamnya terdapat penggabungan antara An-Nafyu (peniadaan) dan Al-Itsbaat (penetapan) dalam nama-nama dan sifat-sifat Allah, serta faedah-faedah lain yang terdapat di dalam surat ini yang telah kita jelaskan.

-ditranskrip oleh Akh Alda, dan diedit kembali oleh pemateri: Ustadz Ahmad Hendrix-

Silahkan Download kajian di bawah ini. semoga bermanfaat

https://drive.google.com/…/0B3FT6ui1GzNVYTlGNXNXbkJsZ…/view…

BID’AH TA’ASHSHUB (FANATIK) MADZHAB

Syaikh Muhammad ‘Id ‘Abbasi -salah seorang murid senior Syaikh Al-Albani- berkata:

“Telah tersebar di kalangan kaum muslimin -sejak berabad-abad lamanya- (keyakinan) bahwa: seorang muslim yang sudah baligh dan mulai mengamalkan hukum-hukum agamanya; maka kewajiban dia adalah: untuk berpegang kepada salah satu dari 4 (empat) madzhab fiqih: Syafi’i, Hanafi, Maliki, dan Hanbali. Dan biasanya mereka mengharuskannya untuk taqlid kepada madzhab bapaknya, dan tidak boleh menyelisihi madzhabnya, serta tidak boleh mengambil dari madzhab-madzhab lainnya. Dan mengambil lebih dari satu madzhab dalam satu ibadah: mereka namakan sebagai “Talfiiq”, dan mereka tidak membolehkannya.

Sehingga mereka mengingkari setiap muslim yang tidak berpegang dengan salah satu dari empat madzhab -yang (pada hakikatnya) madzhab-madzhab tersebut adalah tersebar dikarenakan sebab dan kondisi tertentu-. Dan banyak dari mereka yang beranggapan bahwa: orang yang tidak mengikuti mereka dalam bid’ah ini sebagai: Laa Madzhabiyy (tanpa madzhab), dan sebagian mereka sampai mengklaim bahwa: tidak berpegang kepada suatu madzhab adalah: bid’ah paling berbahaya yang mengancam syari’at Islam.

Padahal sudah maklum bagi setiap pembahas yang jujur bahwa: berpegangnya manusia dengan salah satu dari empat madzhab dalam setiap permasalahan (agama), dan hal itu dilakukakan secara turun temurun = inilah bid’ah yang diada-adakan, yang tidak ada pada zaman Nabi -shallallaahu ‘alaihi wa sallam-, tidak juga pada zaman Khulafa-ur Rasyidin, serta para Shahabat beliau yang mendapat petunjuk. Dan (bid’ah) ini tersebar setelah berakhirnya tiga generasi yang dipuji oleh Nabi -shallallaahu ‘alaihi wa sallam-.

Dan sungguh, bid’ah madzhab telah tersebar, sehingga membuahkan ta’ashshub (fanatik) yang tercela. Dan fanatik ini juga melahirkan generasi buruk, yang ciri mereka adalah: menyelisihi dalil-dalil shahih, dan lebih mendahulukan ra’yu (pendapat) atas dalil-dalil tersebut, serta menyebarkan perselisihan dan fitnah (kejelekan) di antara kaum muslimin, dan juga tipuan dalam agama, serta jumud dalam taqlid, serta tersebarnya kebodohan, dan tertutupnya pintu ijtihad, dan digantikan dengan permasalahan-permasalahan khayalan…dst.

Kami -para da’i dan pengikut Manhaj Salafush Shalih- mengimani bahwa: tidak mungkin perbaikan hakiki akan sempurna kecuali dengan Islam, dan tidak mungkin perbaikan dengan jalan Islam akan sempurna kecuali dengan: kembali kepada hakikat Islam yang bersih dan kosong dari bid’ah dan khurafat, serta suci dari tambahan dan kotoran. Dan hal itu dengan cara menjadikan Kitabullah (Al-Qur’an) dan Sunnah Rasulullah -shallallaahu ‘alaihi wa sallam- sebagai: sumber hukum dalam semua perkara agama, dan dengan kembali kepada jalan Salafush Shalih, serta mengikuti jejak mereka dan mengambil petunjuk dari mereka.

Dan di antara perkara yang kami lihat wajib untuk diperbaiki dan diperingatkan adalah: permasalah Madzhab ini. Karena sungguh, ini adalah permasalahan penting serta bahaya, dan bukan masalah yang remeh dan sepele -sebagaimana anggapan sebagian orang-. Karena sungguh, seorang muslim setiap harinya membutuhkan kepada kejelasan hukum Allah -‘Azza Wa Jalla- dalam perkara-perkara hidupnya; yakni: apa yang mesti dia kerjakan? Adapun kami; maka kami katakan: dia harus melakukan apa yang Allah -‘Azza Wa Jalla- perintahkan kepadanya; berupa:

(1)- bertanya kepada ‘alim (orang berilmu) mana pun -jika dia memang orang yang jahil (bodoh)-, sebagaimana ini yang diamalkan pada zaman Salafush Shalih,

(2)- atau: menela’ah (meneliti) dalil -jika dia memang seorang yang ahli-.

Adapun mereka (orang-orang madzhab); maka mereka mengatakan: wajib atasnya untuk taqlid kepada madzhab tertentu -sebagaimana ini tersebar pada generasi khlaf (belakangan)-.”

[“Bid’ah At-Ta’ashshub Al-Madzhabiyy” (hlm. 5-6)]

-diterjemahkan oleh: Ustadz Ahmad Hendrix-

APAKAH SEORANG MUSLIM DIHARUSKAN MENGIKUTI MADZHAB TERTENTU???

Syaikh Muhammad ‘Id ‘Abbasi -salah seorang murid senior Syaikh Al-Albani- berkata:

“Maka kami berpandangan bahwa termasuk kewajiban kami adalah: menjelaskan pemikiran kami kepada kaum muslimin, dan mendakwahkan mereka kepada kebenaran yang kami yakini, serta memperingatkan mereka dari bid’ah yang mereka warisi dari bapak-bapak dan kakek-kakek mereka; yang Allah tidak menurunkan suatu keterangan pun atasnya.

Maka sejak beberapa bulan yang lalu; kami telah menerbitkan: risalah “Hadiyyatus Sulthaan Ilaa Muslimii Bilaadil Yabaan” (Hadiah Sulthan Kepada Kaum Muslimin Negeri Jepang), dengan memperhatikan tema-nya; yaitu: “Apakah Seorang Muslim Harus Mengikuti Madzhab Tertentu Dari Empat Madzhab?” Risalah ini adalah karya Syaikh Muhammad Sulthan Al-Ma’shumi, pengajar di Masjidil Haram. Sang Penulis telah menerbitkannya untuk cetakan pertamanya pada tahun: 1368 H/1949 M.

Dia (penulis) mengajak kaum muslimin untuk kembali kepada generasi terbaik yang dipuji oleh Rasulullah -shallallaahu ‘alaihi wa sallam-, yang (mereka) tidak berpegang kepada madzhab fiqih tertentu:

(1)- MEREKA MENGAMBIL DARI MUJTAHID MANA PUN YANG MEREKA TEMUI, TANPA MENYENGAJA UNTUK MENUJU SALAH SATU DARI MEREKA. Karena Allah -‘Azza Wa Jalla- tidak mengharuskan hal tersebut kepada kita, dan tidak juga Rasul-Nya -shallallaahu ‘alaihi wa sallam-, serta tidak juga dilakukan oleh para Shahabat dan Tabi’in -radhiyallaahu ‘anhum-.

(2)- Dan kewajiban muslim yang mampu untuk memahami dalil-dalil syar’i adalah: berusaha untuk mencari (dalil-dalil) tersebut, mempelajarinya, memahaminya, dan mengamalkannya.

Penulis mengajak untuk meninggalkan perselisihan dalam masalah-masalah fiqih, dan membuang ta’ashshub (fanatik) madzhab yang hanya mengantarkan kepada: permusuhan dan perselisihan. Dan hal itu mengakibatkan dampak-dampak negatif yang terjadi dalam sejarah kaum muslimin.

Kemudian penulis menyebutkan sebagian perkataaan para imam madzhab; yang mereka sendiri menasehatkan para pengikutnya: dengan mewajibkan berpegang kepada Al-Kitab (Al-Qur’an) dan As-Sunnah, dan wajib untuk tidak taqlid kepada mereka dalam perkara yang jelas-jelas menyelisihi Al-Kitab (Al-Qur’an) dan As-Sunnah.

Dan beliau juga berbicara mengenai khalaf (generasi belakangan) pada kurun waktu terakhir ini: yang menyelisihi keadaan para Salaf (generasi terdahulu) pada kurun waktu awal yang utama.

Dan (penulis membicarakan) bahwa: mengharuskan manusia untuk bermadzhab dengan salah satu dari empat madzhab: adalah bid’ah, tidak ada pada zaman Salafush Shalih. Dan beliau menguatkan hal ini dengan membawakan perkataan para pembesar ulama dan fuqaha’ (ahli fiqih). Dan beliau menjelaskan bahwa para imam mujtahid adalah manusia biasa yang tidak ma’shum, mereka bisa salah dan bisa benar, akan tetapi dalam semua keadaan (benar atau pun salah) mereka mendapatkan pahala.

Oleh karena itu, bagi orang yang mampu (untuk meneliti): tidak dibolehkan untuk berpegang dengan pendapat-pendapat mereka; tanpa melihat kepada keselarasannya atau penyelisihannya terhadap dalil-dalil syar’i.’

Dan beliau menyebutkan contoh-contoh fanatisme orang-orang madzhab, dan penolakan mereka terhadap dalil-dalil syar’i; dengan menta’wilnya (memalingkannya dari lahiriyahnya) dengan ta’wilan-ta’wilan yang jauh, serta tipuan-tipuan yang aneh. Mereka merasa berat untuk menolak pendapat seorang ahli fiqih, akan tetapi dengan mudahnya menolak ayat atau hadits.

Beliau menguatkan hal tersebut dengan tafsir Ar-Razi terhadap ayat yang mulia:

اتَّخَذُوا أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللهِ…

“Mereka menjadikan orang-orang alim (Yahudi) dan rahib-rahibnya (Nasrani) sebagai tuhan selain Allah…” (QS. At-Taubah: 31)

Dan bahwa ini adalah keadaan banyak dari fuqaha’ (ahli fiqih) yang taklid.

Penulis menyebutkan bahwa: kewajiban seorang muslim adalah: menerima kebenaran dari madzhab mana pun, dan bahwa: orang-orang yang tidak mau menerima kebenaran dari selain madzhab mereka; maka mereka seperti “Al-Maghdhuub ‘Alaihim” (orang-orang yang dimurkai); yakni: orang-orang Yahudi.

Dan setelah itu penulis mendorong kaum muslimin untuk mempelajari Al-Kitab (Al-Qur’an) dan As-Sunnah, dan berusaha memahami keduanya. Barangsiapa yang tidak mampu; maka tugasnya adalah meminta bantuan para ulama terpercaya yang memahami Al-Kitab (Al-Qur’an) dan As-Sunnah.

Terakhir beliau menyebutkan: pengaruh berbagai kondisi dan kepentingan politik yang menyebabkan tersebarnya sebagian madzhab, dan lemahnya penyebaran madzhab lainnya, bahkan ada sebagian madzhab yang hilang sama sekali.

Inilah ringkasan dari Risalah tersebut yang kami terbitkan beberapa bulan yang lalu.”

[“Bid’ah At-Ta’ashshub Al-Madzhabiyy” (hlm. 6-7)]

-diterjemahkan oleh: Ustadz Ahmad Hendrix-

JANGAN BERPUTUS ASA DALAM MENGUSAHAKANNYA

Syaikh Doktor Khalid bin ‘Ali Al-‘Anbari -hafizhahullaah- (salah seorang murid Syaikh Al-Albani -rahimahullaah-) berkata -ketika menjelaskan Rukun Pertama bagi Daulah Islamiyyah; yaitu: Wajibnya Berhukum Dengan Hukum Allah-:

“Dan yang dituntut -SECARA SYARI’AT- untuk mewujudkan rukun paling utama ini adalah:

1. Negara harus berpegang kepada ‘Aqidah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah, yang terambil dari Al-Kitab dan As-Sunnah, dan (berpegang kepada) apa yang para Salaful Ummah berada di atasnya, yang cirinya adalah: Tauhid yang murni; dengan tiga macam jenisnya: Tauhid Rububiyyah, Tauhid Uluhiyyah, dan Tauhid Asma Wa Shifat, serta menolak kesyirikan dengan berbagai macam jenis dan bentuknya.

2. Berpegang kepada hukum-hukum yang telah diketahui dalam agama secara pasti.

3. Menghalalkan apa yang Allah dan Rasul-Nya halalkan, dan mengharamkan apa yang Allah dan Rasul-Nya haramkan, serta mewajibkan hukuman yang telah ditetapkan atas (penerjangan terhadap) apa yang Allah dan Rasul-Nya haramkan.

4. Menerapkan aturan politik, ekonomi, dan sosial secara Islami.

5. Negara tidak menyelisihi dalil-dalil Al-Kitab, As-Sunnah, Ijma’ Ummat, Kaidah-Kaidah Syari’at, dan prinsip-prinsipnya yang umum.”

[“Fiq-hus Siyaasah Asy-Syar’iyyah” (hlm. 81)]

-ditulis oleh: Ustadz Ahmad Hendrix-

Artiket Bermanfaat

MUQADDIMAH (AL-MAQAALAAT 4)
http://ahmadhendrix.blogspot.co.id/…/muqaddimah-al-maqaalaa…

100- DUA PONDASI TA’SHIIL TERBESAR
http://ahmadhendrix.blogspot.co.id/…/100-dua-pondasi-tashii…

101- KEPADA SIAPA ENGKAU MENGGANTUNGKAN HARAPAN?
http://ahmadhendrix.blogspot.co.id/…/101-kepada-siapa-engka…

102- PERTOLONGAN HANYALAH DARI ALLAH…
http://ahmadhendrix.blogspot.co.id/…/102-pertolongan-hanyal…

103- SOLUSI UNTUK KELEMAHAN KAUM MUSLIMIN
http://ahmadhendrix.blogspot.co.id/…/103-solusi-untuk-kelem…

104- BENARKAH SYI’AH & NASRANI SEKARANG SUDAH MENGEPUNG KAUM MUSLIMIN DI INDONESIA???
http://ahmadhendrix.blogspot.co.id/…/104-benarkah-syiah-nas…

105- WALAUPUN KITA TIDAK MERAGUKAN KEIHKLASAN MEREKA…
http://ahmadhendrix.blogspot.co.id/…/105-walaupun-kita-tida…

106- CARA BERDALIL AHLUS SUNNAH
http://ahmadhendrix.blogspot.co.id/…/106-cara-berdalil-ahlu…

107- SUMBER KEKALAHAN
http://ahmadhendrix.blogspot.co.id/…/107-sumber-kekalahan.h…

108- BELA NEGARA ATAU BELA AGAMA???
http://ahmadhendrix.blogspot.co.id/…/108-bela-negara-atau-b…

109- PENGUASA ADIL DAN PENGUASA ZHALIM
http://ahmadhendrix.blogspot.co.id/…/109-penguasa-adil-dan-…

110- USAHA KITA UNTUK MENEGAKKAN HUKUM ALLAH -TA’AALAA- DI NEGERI KITA
http://ahmadhendrix.blogspot.co.id/…/110-usaha-kita-untuk-m…

111- TASHFIYAH DAN TARBIYAH, SERTA KEBUTUHAN KAUM MUSLIMIN TERHADAPNYA
http://ahmadhendrix.blogspot.co.id/…/111-tashfiyah-dan-tarb…

112- ORANG-ORANG YANG TERPEDAYA
http://ahmadhendrix.blogspot.co.id/…/112-orang-orang-yang-t…

113- PRINSIP AHLUS SUNNAH DALAM PENETAPAN KEPEMIMPINAN
http://ahmadhendrix.blogspot.co.id/…/113-prinsip-ahlus-sunn…

114- BAHAYA MENCELA PENGUASA
http://ahmadhendrix.blogspot.co.id/…/114-bahaya-mencela-pen…

115- WALAUPUN PENGUASA MEYAKINI KEKUFURAN…
http://ahmadhendrix.blogspot.co.id/…/115-walaupun-penguasa-…

116- JANGAN SAMPAI MEYAKINI ADA YANG LEBIH BAIK DARI PETUNJUK NABI -shallallaahu ‘alaihi wa sallam-
http://ahmadhendrix.blogspot.co.id/…/116-jangan-sampai-meya…

117- SEBUAH FAEDAH TENTANG DEMONSTRASI…
http://ahmadhendrix.blogspot.co.id/…/117-sebuah-faedah-tent…

118- FATWA SYAIKH ‘ABDUL MUHSIN AL-‘ABBAD -hafizhahullaah- (sekarang beliau berusia 85 tahun -hitungan tahun Hijriyyah-) TENTANG DEMO 4-11-2016:
http://ahmadhendrix.blogspot.co.id/…/118-fatwa-syaikh-abdul…

119- PERSATUAN SEMU
http://ahmadhendrix.blogspot.co.id/…/119-persatuan-semu.htm…

120- BERNARKAH INI PERSATUAN ???!!!
http://ahmadhendrix.blogspot.co.id/…/120-bernarkah-ini-pers…

121- LEBIH SESAT DARI “BINATANG” TERNAK
http://ahmadhendrix.blogspot.co.id/…/121-lebih-sesat-dari-b…

122- TENTANG INDONESIA….
http://ahmadhendrix.blogspot.co.id/…/122-tentang-indonesia.…

123- MEREKA TIDAK TAKUT LAGI…
http://ahmadhendrix.blogspot.co.id/…/123-mereka-tidak-takut…

124- PARA SALAF TIDAK TAKUT KEPADA MEREKA, DAN SEHARUSNYA SALAFIYYIN JUGA DEMIKIAN…
http://ahmadhendrix.blogspot.co.id/…/124-para-salaf-tidak-t…

125- PENUNTUT ILMU JANGAN MASUK POLITIK!
http://ahmadhendrix.blogspot.co.id/…/125-penuntut-ilmu-jang…

126- BELAJAR HADITS TAPI BUKAN “AHLUL HADITS”???!!!
http://ahmadhendrix.blogspot.co.id/…/126-belajar-hadits-tap…

127- TULISAN DENGAN MEMPERBANYAK NUKILAN
http://ahmadhendrix.blogspot.co.id/…/127-tulisan-dengan-mem…

128- METODE LAIN DARI PENULISAN
http://ahmadhendrix.blogspot.co.id/…/128-metode-lain-dari-p…

129- MENINGKATKAN KE-‘ILMIYYAH-AN DENGAN MENINGGIKAN RUJUKAN
http://ahmadhendrix.blogspot.co.id/…/129-meningkatkan-ke-il…

130- SETENGAH-SETENGAH…
http://ahmadhendrix.blogspot.co.id/…/130-setengah-setengah.…

131- HARUSKAH MENDENGARKAN SYUBHAT???
http://ahmadhendrix.blogspot.co.id/…/131-haruskah-mendengar…

132- FAEDAH-FAEDAH RINGKAS TENTANG JARH WA TA’DIIL
http://ahmadhendrix.blogspot.co.id/…/132-faedah-faedah-ring…

133- INGIN DITERIMA OLEH SEMUA???
http://ahmadhendrix.blogspot.co.id/…/133-ingin-diterima-ole…

134- CINTA TERLARANG
http://ahmadhendrix.blogspot.co.id/…/134-cinta-terlarang.ht…

135- DUNIA ADALAH PENJARA BAGI MUKMIN DAN SURGA BAGI KAFIR
http://ahmadhendrix.blogspot.co.id/…/135-dunia-adalah-penja…

136- KALAU PUN ANDA BERPENDAPAT “NYOBLOS”…
http://ahmadhendrix.blogspot.co.id/…/136-kalau-pun-anda-ber…

137- COBLOSLAH CALON YANG PALING SHOLEH !
http://ahmadhendrix.blogspot.co.id/…/137-cobloslah-calon-ya…

138- MINTALAH FATWA PADA HATIMU…
http://ahmadhendrix.blogspot.co.id/…/138-mintalah-fatwa-pad…

139- MUNAFIK DI SETIAP MASA
http://ahmadhendrix.blogspot.co.id/…/139-munafik-di-setiap-…

140- DI ANTARA SIFAT MUNAFIK
http://ahmadhendrix.blogspot.co.id/…/140-di-antara-sifat-mu…

141- WALAUPUN TIDAK SEMUANYA KEMBALI…
http://ahmadhendrix.blogspot.co.id/…/141-walaupun-tidak-sem…

142- SETIDAKNYA…KITA SUDAH BERUSAHA…
http://ahmadhendrix.blogspot.co.id/…/142-setidaknyakita-sud…

143- YANG TIDAK TERBAWA PERASAAN…
http://ahmadhendrix.blogspot.co.id/…/143-yang-tidak-terbawa…

144- MEREKA MENINGGALKAN ‘UMAR…
http://ahmadhendrix.blogspot.co.id/…/144-mereka-meninggalka…

145- KISAH ‘ASSAF
http://ahmadhendrix.blogspot.co.id/…/…/145-kisah-assaf.html…

146- MERASA BERJASA? KEPADA SIAPA?!
http://ahmadhendrix.blogspot.co.id/…/146-merasa-berjasa-kep…

147- CANDAAN BERBUAH KEKAFIRAN
http://ahmadhendrix.blogspot.co.id/…/147-candaan-berbuah-ke…

148- IBNU TAIMIYYAH DAN PEMBAHASAN ‘AQIDAH
http://ahmadhendrix.blogspot.co.id/…/148-ibnu-taimiyyah-dan…

149- MENYIKAPI KETERGELINCIRAN
http://ahmadhendrix.blogspot.co.id/…/149-menyikapi-ketergel…

150- SISA SAMPAH
http://ahmadhendrix.blogspot.co.id/…/…/150-sisa-sampah.html…

PENUTUP (AL-MAQAALAAT 4)
http://ahmadhendrix.blogspot.co.id/…/penutup-al-maqaalaat-4…