HASMI, Siapa Mereka !?

HASMI, Siapa Mereka ?

Beberapa tahun yang lalu sekitar 2006 M, muncul sebuah buku “hitam” yang berisi celaan terhadap Salafiyyun maupun Dakwah Salafiyyah yang diberkahi ini. Sebuah buku yang berisi kerancuan dan tuduhan yang sangat menyesatkan terhadap dakwah Islam yang suci ini.

Buku “hitam” tersebut berjudul Membongkar Kedok Salafiyyun Sempalan (MKSS) yang disusun oleh Tim Studi Kelompok Sunniyyah [baca: Tim Studi Kelompok Sururiyyah]. Sedangkan pengedar buku tersebut adalah HASMI (Harakah Sunniyyah Masyarakat Islami) [baca: Harakah Sururiyyah Masyarakat Indonesia] yang berada di bawah naungan Yayasan Al Huda, Bogor.

Mereka dengan penuh kebodohan (dan kebingungan) ingin membatalkan wajibnya penisbatan terhadap istilah Salafiyyah dan Salafiyyun. Mereka pun dengan bangga (di atas kesesatannya) mencela para ulama Islam. Serta masih banyak lagi tuduhan dan celaan mereka terhadap dakwah Islam (baca: Salafiyyah) di dalam buku tersebut.

Tidaklah mengherankan apa yang mereka lakukan, karena begitulah sifat ahli bid’ah. Ketahuilah, “Di antara ciri ahli bid’ah adalah mencela ahli atsar!” Demikian perkataan dari Imam Abu Hatim Ar Razi –rahimahullah– (Ashlu Sunnah hal 24.).

Akan tetapi, Allah tidak akan pernah membiarkan agama yang suci ini dilecehkan oleh para pengikut kesesatan. Allah Rabbul ‘Arsy telah berfirman,

Mereka hendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, dan Allah tetap menyempurnakan cahaya-Nya meskipun orang-orang kafir benci (QS. Ash Shaf: 8)

Selain itu, pasti akan ada sekelompok orang (ahli ilmu) yang akan melakukan pembelaan terhadap dinul haq ini. Hal ini seperti yang diisyaratkan oleh Nabi kita Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam dalam sabda beliau yang mulia,

Senantiasa ada golongan dari umatku yang membela kebenaran (sunnah). Tidaklah membahayakan mereka orang yang menghinanya sampai datang ketentuan Allah pada hari kiamat. (HR. Muslim: 3554)

Walaupun musuh-musuh Islam begitu semangat melakukan makar, mereka pasti akan dikalahkan, dan agama yang mulia ini akan tetap berkibar hingga Yamus-Sa’ah nanti. Sungguh indah syi’ir dari Imam Ibnul Qayyim rahimahullah,

Kebenaran itu akan menang dan mendapat ujian

Janganlah heran, sebab ini adalah sunnah ar Rahman

(Lihat al Kafiyah asy Syafiyah no. 217)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah pun pernah berkata,

“Termasuk sunnatullah, apabila Dia ingin menampakkan agama-Nya, maka Dia membangkitkan para penentang agama, sehingga Dia akan memenangkan kebenaran dan melenyapkan kebatilan, karena kebatilan itu pasti akan hancur binasa” (Al Uqud ad Durriyyah Ibnu Abdil Hadi hal. 364).

Jadi, sesungguhnya celaan para ahli bid’ah terhadap dakwah Salafiyyah, pada hakekatnya justru semakin mengangkat kemuliaan dan membuktikan kebenaran dakwah Salafiyyah!

Selanjutnya, berkenaan dengan HASMI –organisasi yang “mengaku” sebagai Ahli Sunnah- yang menyebarkan buku MKSS, kami pernah mendengar langsung ucapan salah satu ustadz HASMI di Masjid Al Hikmah, Jatinangor, sekitar dua tahun yang lalu.

Beliau –hadahullah- dengan bangganya melakukan pembelaan terhadap seorang tokoh pemecah belah umat, yaitu Muhammad Surur Zainal Abidin (pendiri manhaj Sururiyyah) beserta majalah al Bayan yang diterbitkannya di negeri kuffar London.

Juga pembelaan beliau terhadap tokoh teroris internasional yang mempunyai ciri-ciri pemikiran Khawarij, yaitu Osama bin Ladin –hadahullah­-.

Dengan bangganya beliau membela tokoh-tokoh tersebut berdasarkan manhaj Muwazanah ala firqoh Sururiyyah.

Anehnya, beliau (dan pengikuti HASMI lainnya) pun dengan penuh ke-PD-an, mengaku sebagai pengikut Sunniy, Ahlus Sunnah wal Jama’ah?!

Benarkah klaim mereka (HASMI) bahwa mereka adalah pengikut Ahlus Sunnah seperti yang tertulis di buku MKSS?

Insya Allah, dengan menelaah (baca: radd) buku Membongkar Kedok Salafiyyun Sempalan yang mereka sebarkan, kita akan dapat menyingkap hakekat dakwah HASMI yang sebenarnya.

Apakah dakwah mereka termasuk dakwah Ahlus Sunnah-Sunniyyah yang selama ini mereka gembar-gemborkan? Ataukah merupakan dakwah Hizbiyyah Sururiyyah ala Muhammad Surur Zainal Abidin?!

Sepertinya perkataan seorang penyair berikut ini, sangat cocok jika kita hadiahkan kepada HASMI yang mengaku sebagai Ahli Sunnah,

Dan setiap pengakuan yang tiada bukti

Maka pengakuannya hanya pembual semata

Alhamdulillah, seorang ustadz Ahli Sunnah di negeri ini yang ilmunya insya Allah tidak diragukan lagi, yaitu Al Ustadz Al Fadhil Aunur Rafiq Ghufran hafizhahullah telah membantah buku MKSS dalam pengajiannya. Pengajian tersebut dilaksanakan di Kota Solo setahun setelah buku MKSS diedarkan.

Juga di dalam majalah kesayangan kita, majalah Al Furqon pada rubrik Kitab –majalah Edisi Januari 2007 (Edisi 5 Tahun 6 – Dzulhijjah 1429 H)-, terdapat ringkasan bantahan terhadap buku MKSS yang ditulis oleh Ustadz Abu Ahmad As Salafy –jazahullahu ahsanal jaza’-.

Semoga Allah senantiasa membalas kebaikan asatidzah pengasuh majalah Al Furqon yang tidak pernah bosan membantah buku-buku sesat yang beredar di tengah-tengah masyarakat kita. Amin.

Pada kesempatan kali ini, kami sajikan rekaman kajian bantahan terhadap buku MKSS yang diberi judul Waspadalah Terhadap Kedustaan, Kebingungan, dan Kesesatan Buku Membongkar Kedok Salafiyyun Sempalan. Anda dapat men-download (unduh) rekaman tersebut dengan meng-klik link di bawah ini:

  1. Muqaddimah oleh Ustadzuna Arief Budiman, Lc.
  2. Materi Kajian (Bantahan Buku MKSS) oleh Ustadz Aunur Rafiq Ghufran, Lc.
  3. Tanya Jawab Kajian oleh Ustadz Aunur Rafiq Ghufran, Lc.

Semoga usaha ini bermanfaat. Jazakumullah khairan.

TALBIS SALAFI HARAKI

TALBIS SALAFI HARAKI

Ustadz Arif Fathul Ulum bin Ahmad Saifulloh

MUQADDIMAH

Talbis (pencampuradukkan) antara haq dan kebatilan adalah cara-cara ahli bid’ah dari masa ke masa. Karena suatu bid’ah jika berupa kebatilan yang murni maka tidak akan mungkin diterima oleh manusia, bersegeralah setiap orang membantah dan mengingkarinya. Seandainya bid’ah itu kebenaran yang murni maka bukanlah merupakan bid’ah, tetapi adalah sunnah. Maka bid’ah dapat tersebar di kalangan manusia karena kebatilan yang terkandung di dalamnya diselimuti dengan sedikit kebenaran.

Di antara model talbis yang telah dilakukan oleh para hizbiyyin adalah menggabungkan antara kekufuran, kebid’ahan dan kesesatan zaman ini dengan ajaran-ajaran Islam, seperti demokrasi ISLAMI, sandiwara ISLAMI, musik ISLAMI, nyanyian ISLAMI, partai ISLAMI, dan sederet nama-nama Islami yang lainnya. Tidak berhenti disitu saja, bahkan mereka juga hendak mengaburkan kaum muslimin dari manhaj yang lurus, manhaj Salafush Shalih, dengan mencampuradukkan antara manhaj salaf dengan manhaj harakah yang bid’ah yang dikemas dengan nama baru, Salafi Haraki.

Dengan cara ini mereka hendak mengajak para pengikut Salafush Shalih untuk berpaling dari manhaj Salaf dan menganut manhaj Haraki yang bid’ah…!

Mengingat bahaya yang besar di balik syubhat ini, maka dalam pembahasan kali ini kami berusaha menyingkap syubhat mereka ini sebagai nasehat kepada kaum muslimin.

FIKRAH SALAFI HARAKI

Fikrah (pemikiran) Salafi Haraki atau Harakah Sunniyah adalah fikrah yang hendak menggabungkan antara manhaj Salaf Ahli Sunnah wal Jama’ah dengan manhaj Haraki yang bid’ah. Di antara pengusung fikrah ini adalah _*Hasan Al-Banna*_ ketika menyifati manhaj Ikhwanul Muslimin adalah; dakwah salafiyyah, thariqah sunniyyah, hakikat shufiyyah.

[Majmu’atu Rasa’il Hasan Al-Banna hal. 122]

Abdul Aziz bin Nashir Al-Jalil berkata,

Kami menghendaki sebuah manhaj dakwah yang tegak di atas Salafiyyatul manhaj wa ashriyyatul muwajahah (manhaj salaf dan sikap modern). Dengan manhaj yang menyeluruh dan Salafiyyah modern. Kita akan bisa selamat dan akan selamat aqidah kita yang kokoh dari rongrongan dan pencampuran.

[Waqafat Tarbawiyyah hal. 161-162]

Muhammad Badri berkata,

Jama’ah Ahli Sunnah adalah jama’ah yang menyeru anggota-anggota harakah Islamiyah untuk berpegang teguh dengannya, dialah jama’ah yang umum dan luas.

[Majalah Al-Bayan yang terbit di London edisi 28 hal. 15]

Ahmad Salam berkata,

“Adapun tujuan yang hendak saya capai dalam pembahasan ini (atau andil di dalamnya), adalah yang terangkum dalam beberapa point berikut :

…3. Mengembalikan ikatan hubungan harakah Islammiyyah dengan pokok-pokok manhaj salaf.”

[Ma’ Anna Alaihi wa Ashhabi hal.222]

Perkaaan Ahmad Salam ini dinukil oleh Majalah Harakah Sunniyyah As-Silmi Edisi 12 Rajab 1427H/ Agustus 2006M di halaman-halaman akhir setelah rubrik Panduan Haraki [1]
Majalah ini diterbitkan oleh PT MIM [2] yang berada di bawah naungan Yayasan Al-Huda Ciomas Bogor.

JANGANLAH KALIAN MENCAMPURADUKKAN ANTARA HAQ DAN BATIL…!

Pemikiran yang hendak menggabungkan antara manhaj salafi dengan manhaj haraki adalah pemikiran yang sangat berbahaya, karena menjurus kepada pencampuradukkan antara haq dan batil, sedangkan *Allah Subhanahu wa Ta’ala* telah berfirman dalam KitabNya,

وَلَا تَلْبِسُوا الْحَقَّ بِالْبَاطِلِ وَتَكْتُمُوا الْحَقَّ وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ

“Dan janganlah kalian campuradukkan yang haq dengan yang batil, dan janganlah kalian sembunyikan yang haq ini sedang kalian mengetahui.”

[Al-Baqarah/2 : 42]

Qatadah berkata tentang tafsir ayat ini,

“Janganlah kalian campur adukkan agama Yahudi dan Nashrani dengan agama Islam, padahal kalian mengetahui bahwa agama Allah yang haq adalah Islam, dan bahwasannya agama Yahudi dan Nashrani yang kalian pegang sekarang ini adalah agama yang bid’ah dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.” [6]

[Tafsir Ibnu Katsir 1/109]

Maka kami katakan kepada para pengusung fikrah Salafi-Haraki,

JANGANLAH KALIAN CAMPUR ADUKKAN MANHAJ HARAKI dengan MANHAJ SALAFI, padahal kalian MENGETAHUI bahwa MANHAJ YANG HAQ adalah MANHAJ SALAFI dan bahwasanya manhaj Haraki adalah manhaj yang bid’ah…!

TOKOH-TOKOH HARAKI MENGAKUI KEBENARAN MANHAJ SALAFI

Benarkah bahwa para pngusung fikrah Salafi-Haraki ini mengetahui bahwa manhaj yang haq adalah manhaj Salaf…? Berikut ini akan kami nukilkan perkataan tokoh-tokoh mereka tentang hal ini :

Hasan Al-Banna berkata,

“Wahai kaum, kami menyeru kalian kepada Kitabullah di tangan kanan dan Sunnah Rasulullah di tangan kiri, dan teladan kita adalah amal dari Salafush-Shalih.”

[Majmu’atu Rasa’il hal.40]

Abdullah Azzam berkata,

”Adapun aqidah Salafush Shalih maka dia adalah aqidah ahli Kitab wa Sunnah dan sesungguhnya aku dibesarkan atas aqidah ini, dan aku terus diatasnya dengan anugerah Allah, dan aku berharap agar Allah meneguhkanku di atasnya dan mematikanku di atasnya. Dan sesungguhnya yang memusuhi aqidah Salafush-Shalih maka dia memusuhi agama ini bahkan dia bukanlah seorang muslim dan sesungguhnya, tujuan kami adalah membela aqidah ini dengan izin Allah.”

[Majalah Mauqif edisi 68 tgl. 10 Jumada Tsaniyyah 1410H]

ANTARA MANHAJ SALAFI DAN MANHAJ HARAKI

Diantara perbedaan mendasar antara manhaj Salafi dan manhaj Haraki adalah di dalam metode berdakwah, “Salafiyyin menjadikan rujukan mereka di dalam berdakwah adalah dakwah para rasul, sedangkan metode dakwah harakiyyin sangat terpengaruh dengan situasi dan kondisi.”

Harakiyyun menjadikan tujuan utama dakwah mereka untuk menegakkan “khilafah” Inilah yang menjadikan mereka mengerahkan segala daya dan upaya untuk menggalang massa dalam jumlah yang besar untuk merebut kekuasaan. Upaya untuk menggalang massa ini bukanlah perkara yang mudah, karena massa yang hendak mereka kumpulkan memiliki keyakinan dan pemikiran yang beraneka ragam. Ada yang menyembah batu, ada yang menyembah pohon, ada yang menyembah kubur, ada yang mengikuti aqidah Shufiyyah, Asy-ariyyah, Mu’tazilah, Jahmiyah dan sebagainya. Untuk mendapatkan simpati dan dukungan dari massa maka mau tidak mau harus mengikuti kemauan mereka, tidak mengusik aqidah-aqidah mereka yang batil dan jalan mereka yang sesat, yang penting para haraki ini bisa mendapatkan suara sebanyak mungkin dan dukungan sekuat mungkin dari massa.

Hasan Al-Banna berkata,

“Hal yang paling penting sekarang ini yang hendaknya perhatian kaum muslimin diarahkan kepadanya adalah wajibnya mempersatukan barisan dan menyatukan kalimat dengan sekuat tenaga.”

[Majmu’atu Rasa’il hal. 452]

Seorang tokoh haraki yang lain, Hasan At-Turabi, mengatakan,

“Hendaknya kita biarkan para penyembah kubur thawaf di kubran-kuburan hingga kita bisa mencapai kubah parlemen…!”

[Majalah Al-Istiqomah, bulan Rabi’ul Awal 1408H hal. 26]

Adapun Salafiyyun maka mereka tidak memandang kepada sedikit dan banyaknya jumlah, dan tidak ada dalil yang menunjukkan atas sikap diam dari kesyirikan dengan alasan untuk mendapat dukungan massa. Adapun kekuasaan dan kemenangan adalah pemberian Allah bagi hamba-hambaNya yang bertaqwa sebagai balasan atas istiqamah mereka dalam agamaNya, Allah Subhanahu wa Ta’ala* telah berfirman,

أَنَّ الْأَرْضَ يَرِثُهَا عِبَادِيَ الصَّالِحُونَ

“Bahwasanya bumi ini diwarisi hamba-hambaKu yang shalih.”

[Al-Anbiya/21: 105]

Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

اسْتَعِينُوا بِاللَّهِ وَاصْبِرُوا ۖ إِنَّ الْأَرْضَ لِلَّهِ يُورِثُهَا مَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ ۖ وَالْعَاقِبَةُ لِلْمُتَّقِينَ

*“Mohonlah pertolongan kepada Allah dan bersabarlah; sesungguhnya bumi (ini) kepunyaan Allah; diwariskanNya kepada siapa yang dikehendakiNya dari hamba-hambaNya, dan kesudahan yang baik adalah bagi orang –orang yang bertaqwa.”*

[Al-A’raf/7: 128]

Allah telah mengingatkan kita jangan sampai terperdaya dengan jumlah massa yang banyak. Dia berfirman,

وَإِنْ تُطِعْ أَكْثَرَ مَنْ فِي الْأَرْضِ يُضِلُّوكَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ

*“Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah…”*

[Al-An’am/6 : 116]

PENEGAKKAN HUKUM ALLAH ANTARA MANHAJ SALAFI DAN MANHAJ HARAKI

Para tokoh haraki selalu berbicara tentang _pengkafiran setiap penguasa yang memakai undang-undang wadh’i (buatan manusia)._ Mereka mengkafirkan setiap penguasa yang tidak menerapkan hukum Allah, tanpa perincian lebih lanjut apakah penguasa tersebut mengingkari wajibnya berhukum dengan hukum Allah atau masih mengakui wajibnya berhukum dengan hukum Allah. [3]

Langkah berikutnya yang mereka tempuh adalah pencanangan jihad ofensif melawan para penguasa yang sudah dihukumi kafir ini dengan melancarkan gerakan-gerakan rahasia [4] atau gerakan-gerakan politik [5]

Dengan dua harakah/gerakan ini (pengkafiran penguasa dan jihad ofensif melawan penguasa) bisakah para harakiyyin ini menegakkan hukum Allah…?? Realita yang ada menunjukan mereka tidak memberikan manfaat apa-apa kepada kaum muslimin, bahkan tidak juga memberi manfaat kepada diri-diri mereka sendiri. Yang ada adalah terror, penumpahan darah, dan fitnah di mana-mana.

Hukum-hukum Islam tidak juga tegak di tangan mereka, bahkan tidak juga pada diri mereka, bahkan semakin banyak penyelewengan-penyelewengan syar’i yang mereka lakukan. Tidak henti-hentinya kita mendengar dari mereka aqidah-aqidah dan pemikiran yang menyeleweng dari Kitab dan Sunnah, amalan-amalan yang melanggar syar’i, lebih dari itu sepak terjang mereka yang selalu gagal dan menyelisihi syari’at.

Adapun Salafiyyun maka mereka berusaha menempuh jalan yang telah dicontohkan oleh Rasulillah Shallallahu ‘Alaihi wa sallam. Merupakan hal yang dimaklumi oleh setiap muslim yang pernah membaca sirah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, bahwa di saat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berdakwah di tengah-tengah orang-orang Quraisy yang tidak behukum dengan hukum Allah, bahkan mereka berhukum kepada thaghut di kabilah-kabilah mereka, apakah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam melancarkan dakwah dengan dua harakah diatas…?

TIDAK…! Bahkan *Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam* memulai langkah beliau dengan mendakwahkan tauhid, dan melarang kaumnya dari kesyirikan berupa peribadatan terhadap orang-orang shalih yang sudah mati yang mereka wujudkan dalam bentuk Latta, Uzza, Manat dan yang lainnya.

Kemudian satu persatu dari mereka memenuhi seruan dakwah *Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam,* hingga kemudian kaum muslimin mendapat tantangan yang keras dan siksaan yang berat dari kaum musyrikin di Mekkah, kemudian datanglah perintah hijrah yang pertama dan kedua…., hingga Allah meneguhkan Islam di Madinah. [6]

GHAZWUL FIKRI DAN SOLUSINYA ANTARA MANHAJ SALAFI DAN MANHAJ HARAKI

Salafiyyun tidaklah lalai dan menutup mata dari usaha-usaha ghazwul fikri (perang pemikiran) yang dilancarkan secara terus menerus oleh musuh-musuh Islam. Allah telah mengisyaratkan ghazwul fikri ini dalam kitabNya dan sekaligus menyebutkan tujuan utama ghazwul fikri ini. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَدُّوا لَوْ تَكْفُرُونَ كَمَا كَفَرُوا فَتَكُونُونَ سَوَاءً

“Mereka ingin supaya kalian menjadi kafir sebagaimana mereka telah menjadi kafir, lalu kalian menjadi sama (dengan mereka)….”

[An-Nisa/4 : 89]

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam telah memperingatkan umatnya dari ghazwul fikri ini dan melarang umatnya dari meniru orang-orang kafir, di dalam kekhususan-kekhususan orang-orang kafir, untuk menjaga kepribadian dan karakteristik seorang muslim. Telah datang hadits-hadits yang melarang kaum muslimin dari loyalitas, kecintaan, dan taklid kepada orang-orang kafir, demikian juga Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa sallam memerintahkan setiap muslim agar menyelisihi orang-orang kafir dalam segala hal seperti masalah pakaian, tingkah laku dan sebagainya.

Inilah solusi satu-satunya terhadap ghazwul fikri karena syari’at Islam penuh dengan perbendaharaan-perbendaharaan yang sangat berharga, mencakup seluruh gerak-gerik seorang muslim tentang bagaimana dia bergaul dengan saudaranya sesama muslim, bagaimana bergaul dengan orang kafir, bagaimana bergaul dengan tetangga, bagaimana bersikap terhadap wanita yang bukan mahram, bagaimana bergaul dengan anak dan isteri, bagaimana dia naik kendaraan, bagaimana seharusnya pemikirannya, bagaimana dia berpakaian, bagaimana dia berdagang, dan secara ringkas seperti yang disabdakan oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam (artinya),

“Sesungguhnya tidaklah ada sesuatu yang mendekatkan kalian ke surga melainkan telah aku perintahkan kepada kalian, dan tidaklah ada sesuatu yang mendekatkan kalian ke neraka melainkan telah aku larang kalian darinya.”

[Diriwayatklan oleh Abu Bakar Al-Haddad dalam Muntakhab min Fawaid Ibnu Aluwiyyah Al-Qaththan hal. 168 dan Ibnu Marduwiyah dalam Tsalatsatu Majalis hal. 188, dihasankan oleh Syaikh Al-Albani dalam Silsilah Shahihah 6/865]

Semua hal inilah yang seharusnya memenuhi kehidupan seorang muslim dan pemikirannya, sehingga tidak menyisakan tempat bagi pemikiran-pemikiran yang diselundupkan dari luar kecuali yang sejalan dengan Islam, inilah usaha kita dalam membentengi dan menyelamatkan diri dari ghazwul fikri.

Adapun orang-orang haraki, mereka bagitu lantang mengingatkan umat dari ghazwul fikri di dalam pembicaraan-pembicaraan dan tulisan-tulisan mereka, tetapi tanpa menyodorkan solusi yang tersebut di atas. Bahkan mereka begitu meremehkan terhadap orang-orang yang mereka pandang mengutamakan penampilan-penampilan Islami yang diperintahkan oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam* seperti memanjangkan jenggot, memendekkan celana diatas mata kaki, hijab bagi wanita, dan menyelisihi orang-orang kafir di dalam berpakaian, mereka katakan bahwa hal tersebut lebih mementingkan kulit daripada isi…(!!!) Mereka membuat bid’ah dengan membagi-bagi agama menjadi qusyur (kulit) dan lubab (isi).

Seorang tokoh haraki yang masyhur, Muhammad Al-Ghazali, tulisan-tulisannya penuh dengan ejekan kepada penampilan-penampilan Islami tersebut, dia katakan sebagai kulit…(!),
perkara yang tidak berguna (!),
sikap kekanak-kanakan (!),
dan perkataan-perkataan yang kotor lainnya.
Tetapi yang sangat mengherankan bahwa perpustakaan-perpustakaan Islam penuh dengan tulisan-tulisan Muhammad Al-Ghazali tentang bahaya ghazwul fikri…(?)

FULAN AQIDAHNYA SALAFI TAPI MANHAJNYA HARAKI…?!

Syaikh Dr Muhammad bin Umar Bazmul hafizhahullahu berkata,

“Sebagian orang mengatakan : ‘Fulan Salafi aqidahnya tetapi manhajnya bukan Salafi’. Demikianlah mereka katakan. Ucapan ini mengandung kekeliruan yang besar, karena sesungguhnya aqidah (keyakinan)nya, barangsiapa memiliki aqidah tertentu maka pasti manhaj dan jalannya beranjak dari keyakinan tersebut.
Barangsiapa yang memiliki keyakinan bahwa aqidah adalah perkara yang diada-adakan dalam agama, dan bahwasanya para ahli bid’ah adalah bahaya yang mengancam kaum muslimin dalam agamanya, bagaimana dia menyikapi para ahli bid’ah…?
Tentunya dia akan menyikapi mereka sesuai dengan keyakinannya pada mereka. Tidaklah logis kalau dia menyikapi mereka ini dengan manhaj yang menyelisihi keyakinannya tentang mereka.

Maka sesungguhnya ucapan di atas menyelisihi realita. Ucapan di atas membawa pemahaman yang keliru yaitu bahwasanya aqidah hanyalah bab-bab tertentu, sebagaimana sebagian orang menyangka bahwa aqidah hanyalah masalah asma dan ahkam, serta asma wa shifat, barangsiapa yang mencocoki Salaf dalam masalah-masalah ini dan menyelisihi Salaf dalam masalah-masalah yang lainnya, maka aqidahnya sudah benar, sehingga dia dikatakan Salafi dari segi aqidah dan bukan Salafi (tetapi haraki) dalam manhaj…!! Orang seperti ini telah berbuat kesalahan di dalam pembenaran aqidahnya, dia perlu belajar pemahaman yang benar tentang hakikat aqidah.”

[Ibarat Muhimah hal. 11]

PENUTUP

Kami akhiri pembahasan ini dengan nasehat-nasehat para ulama tentang masalah ini.

Syaikh Al-Allamah Shalih bin Fauzan Al-Fauzan hafizhahullahu berkata,

“Menamakan diri dengan Salafiyyah tidak apa-apa jika benar-benar demikian keadaannya, adapun jika penamaan tersebut hanya sekedar klaim tanpa bukti maka tidak boleh menamakan diri dengan Salafiyyah padahal dia tidak berada di atas manhaj Salaf. Orang yang mengaku sebagai ahli sunnah, hendaknya dia mengikuti jalan Ahli Sunnah wal Jama’ah dan meninggalkan jalan orang-orang yang menyeleweng. Adapun jika dia hendak mengumpulkan antara Dhab dan ikan Nun, yaitu mengumpulkan antara binatang padang pasir dengan binatang lautan, maka ini hal yang mustahil, atau menggabungkan antara api dan air dalam satu daun timbangan. Maka tidak akan berkumpul antara Ahli Sunnah wal Jama’ah bersama madzhab orang-orang yang menyelisihi mereka seperti ; Khawarij, Mu’tazilah dan Hizbbiyyin seperti orang yang mereka namakan sebagai muslim modern, yaitu orang yang hendak menggabungkan antara kesesatan-kesesatan modern dengan manhaj Salaf.”

[Ajwibah Mufidah hal.18-19]

Beliau juga berkata,

“Yang kami wasiatkan pada diri kami dan para saudara-saudara kami adalah : Hendaknya selalu bertaqwa kepada Allah, berpegang teguh kepada manhaj Salafush Shalih, menjauhi bid’ah dan ahlinya, memberikan perhatian yang besar kepada aqidah shahihah (yang benar) dan ma’rifat (pengetauhuan) tentang kesyirikan, dan mengambil ilmu dari para ulama yang terpercaya dalam ilmu dan aqidah mereka. Demikian juga, hendaknya mewaspadai dan menjauhi para da’i su’ (jahat) yang mencampuradukkan antara yang haq dan yang batil dan menyembunyikan yang haq padahal mereka mengetahui.”

[Ajwibah mufidah hal. 119]

Syaikh Al-Allamah Rabi bin Hadi Al-Madkhali hafizhahullahu berkata,

“Saya menasehati orang yang mengatakan perkataan ini dan yang semisalnya agar bertaqwa kepada Allah dan menjelaskan kepada kaum muslimin manhaj Salafi yang shahih. Janganlah mencampuradukkan agama ini dengan manhaj Sayyid Quthb dan yang semisalnya, karena manhaj Salafi dan manhaj Sayyid Quthb [seorang mubtadi (ahli bid’ah) yang tenggelam ke dalam kebid’ahan dan kesesatan], tidaklah keduanya melainkan dua hal yang kontradiksi yang tidak akan bisa bertemu di dalam manhaj dan tidak juga dalam aqidah. Bertaqwalah kalian pada para pemuda umat ini, jadilah kalian sebagai orang-orang yang jujur dan menjauhi sikap membela dan menjunjung ahli bid’ah, jauhilah tadlis (penyamaran untuk menutupi hakikat dari sebuah kebatilan), hendaknya kalian memberi penjelasan dengan penjelasan yang gamblang dan jelas yang merupakan jalan para nabi Alaihimush Shalatu was Sallam, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ رَسُولٍ إِلَّا بِلِسَانِ قَوْمِهِ لِيُبَيِّنَ لَهُمْ

Kami tidak mengutus seorang rasul pun, melainkan dengan bahasa kaumnya, supaya dia dapat memberi penjelasan dengan terang kepada mereka.”

[Ibrahim/14 : 4]

[Dari kaset Ajwibah ‘ala As’ilah Manhajiyah tangal 9 Syawwal 1419H]

[Pembahasan ini banyak menukil dari kitab Thariq Ila Jama’atil umm oleh Syaikh Utsman Abdussalam Nuh]

[Disalin dari Majalah Al-Furqon Edisi 06 Tahun VI/Muharram 1428H (Februari 2007), Diterbitkan Lajnah Dakwah Ma’had Al-Furqon, Alamat Maktabah Ma’had Al-Furqon, Srowo Sidayu Gresik Jatim 61153]

_______

Footnote

[1]. Di akhir nukilan disebutkan keterangan tentang Ahmad Sallam, yaitu bahwa dia adalah seorang penulis yang banyak menuangkan pandangan tentang dakwah dan manhaj berdasarkan thariqah Ahlus Sunnah wal Jama’ah, dan dia adalah kontributor (?!) di majalah Al-ASholah, Urdun (Yordania) (yang diterbitkan oleh Syaikh Muhammad Musa Alu Nashr, Syaikh Ali bin Hasan Al-Halabi dan yang lainnya). Keterangan majalah (As-Silmi) tersebut tentang Ahmad Sallam ini adalah keterangan yang keliru, karena yang benar dia adalah seorang Haraki yang banyak mencela para ulama Slafiyyin, memuji kelompok Ikhwanul Muslimin, membela para tokoh bid’ah seperti Hasan Al-Banna, Sayyid Quthb dan Adnan Ar’ur, serta menganut manhaj Muwazanah yang bid’ah.
Ahmad Sallam ini dikatakan oleh Syaikh Ubaid Al-Jabiri hafizhahullahu sebagai orang Quthbi, dan Ahmad Sallam ini telah ditahdzir dan dijelaskan kesalahannya oleh banyak ulama seperti Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin, Syaikh Shalih Al-Luhaidan, Syaikh Ahmad bin Yahya An-Najmi, Syaikh Ali bin Hasan Al-Halabi, dan yang lainnya.
Lihat kaset Kasyfu Litsam an Mukhalafati Ahmad Sallam kumpulan dari jawaban para Syaikh dan kitab Tahdzirul Anam min Akhtha’i Ahmad Sallam oleh Abu Nur bin Hasan bin Muhammad Al-Kurdi dengan kata pengantar Syaikh Ubaid Al-Jabiri.

[2]. Penerbit buku Membongkar Kedok Salafiyyun Sempalan yang penuh dengan celaan dan kedustaan terhadap manhaj Salaf dan para ulama Salafiyyin. Lihat bantahan terhadap buku ini dalam majalah Al-Furqon Th 6 Edisi 5 Dzulhijjah 1427H

[3]. Adapun para ulama Ahli Sunnah wal Jama’ah telah sepakat bahwa barangsiapa yang berhukum dengan selain hukum Allah dari undang-undang buatan manusia dan hukum-hukum jahiliah, dengan mengingkari wajibnya berhukum dengan hukum Allah, atau berpendapat bahwasanya hukum Allah tidak relevan dengan zaman sekarang, atau berpendapat sama saja berhukum dengan hukum Allah atau dengan yang lainnya, maka orang ini keluar dari Islam secara keseluruhan.
Demikian juga para ulama Ahli Sunnah sepakat bahwa siapa saja yang berhukum dengan selain hukum Allah dengan mengakui wajibnya berhukum dengan hukum Allah dan tidak mengingkarinya, maka dia belum sampai kepada kekufuran yang mengeluarkannya dari Islam.
(Lihat Fiqh Siyasah Syar’iyyah hal. 86).
Kesepakatan ulama Ahli Sunnah ini tidak diterima oleh para Harakiyyin, mereka tetap bersikeras pada pendirian mereka dan menghukumi orang yang mengikuti perincian hukum di atas sebagai orang-orang Murji’ah seperti yang tercantum dalam Majalah Haraki An-Najah Surakarta Edisi 12/Th I Rajab 1427H/ Agustus 2006.
Tentang bantahan kepada mereka dalam masalah ini lihat pembahasan Tafsir Ibnu Abbas terhadap “Ayat Hukum” dalam Majalah Al-Furqon Th. 6 Edisi 5 Dzul-Hijjah 1427H rubrik Manhaj

[4]. Dengan tanzhim sirri (jaringan rahasia). Lihat pembahasan Tanzhim Sirri dalam Majalah Al-Furqon Thn 5 Edisi 10 rubrik Manhaj

[5]. Dengan membentuk partai sebagai sarana merebut kekuasaan. Dua langkah inilah yang ditempuh oleh seorang tokoh haraki yang paling masyhur yaitu _*Hasan Al-Banna,*_ dia menyusun gerakan rahasia yang bernama Jaringan Khusus pada tahun 1940M dan pada tahun 1942M dia membawa kelompok Ikhwanul Muslimin untuk ikut pemilu Mesir.
Mahmud Ash-Shabbagh, seorang tokoh Ikhwanul Muslimin dalam kitabnya Tanzhim Khash, menyebutkan bahwa di antara tugas Jaringan Khusus adalah melakukan peledakan dan pembunuhan dalam rangka penggulingan kekuasaan.
Ternyata dua langkah yang ditempuh oleh Hasan Al-Banna ini diikuti oleh para haraki di seluruh dunia, termasuk Indonesia.

[6]. Inilah jalan yang ditempuh oleh Salafiyyun dari zaman ke zaman, seperti dakwah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah di Jazirah Arabia yang (dengan izin Allah) menghasilkan sebuah negeri yang berlandaskan kepada hukum Allah yaitu Daulah Su’udiyyah.
Lihat pembahasan Dakwah Salafiyyah dan Daulah Su’udiyyah dalam majalah Al-Furqon Thn 5 Edisi 9 rubrik manhaj

Disunting dari https://almanhaj.or.id/2172-talbis-salafi-haroki.html

Wallahu waliyyut taufiq.

Semoga bermanfaat.
Baarakallahu fiykum.

Nasihat Fadhilatusy Syaikh Doktor Rabi’ bin Hadi Al-Madkhali

Fadhilatusy Syaikh Doktor Rabi’ bin Hadi Al-Madkhali -hafizhahullaah– berkata:

“Saya tidak menginginkan adanya sikap ghuluw (berlebihan) terhadap seorang pun, baik terhadap Rasulullah, para Shahabat, para Tabi’in, Ibnu Taimiyyah, Ibnul Qayyim, (Muhammad) bin ‘Abdul Wahhab, Syaikh (‘Abdul Muhasin) Al-‘Abbad, Syaikh Rabi’, dan tidak juga terhadap para penuntut ilmu seperti (fulan), dan yang semisalnya.

Ghuluw adalah: menempatkan seseorang di atas kedudukannya, sehingga sikap ghuluw wajib diperangi.

Zaman sekarang: Salafiyyun gampang sekali untuk terbagi/terpecah karena sebab apa saja. Maka pada kesempatan ini saya nasehatkan mereka untuk berrsaudara karena Allah, dan tidak berpecah belah disebabkan karena Syaikh (Fulan) dan Syaikh (Fulan); jangan sampai berpecah belah. Dahulu kami melewati masa-masa dimana terjadi perselisihan antara Syaikh Al-Abani dan masya-yikh yang lainnya, tapi demi Allah [kami tidak berpecah]…

Adapun sekarang: setiap kali engkau katakan: “Ini si fulan (yang direkomendasi).”; maka kita berpecah, setiap engkau mengkritik si fulan; maka kita berpecah.

Ini adalah jalan yang bodoh, ini cara Jahiliyyah!!

Dan kami sama sekali tidak setuju dengan cara-cara ini….

Maka saya wasiatkan kalian untuk bertakwa kepada Allah dan berpegang kepada Kitabullah dan Sunnah Rasul; hendaknya kita mengusung Dakwah ini dengan akal yang matang dan cerdas, serta hati yang kokoh dan tidak goyah.

Lihatlah di Inggris; mereka berpecah karena fulan dan fulan! Di Perancis; mereka berpecah karena fulan dan fulan! Di Emirat; mereka berpecah karena fulan dan fulan! Maka engkau lihat tubuh (Salafiyyin) menjadi kacau dengan begitu mudahnya!!

Maka saya wasiatkan kepadamu wahai saudaraku dan kepada saudara-saudaramu yang masih berakal: agar meninggalkan cara-cara ini, jangan fanatik terhadap si fulan dan si fulan…

Tinggalkan cara-cara ini, kita berusaha agar (A) dan (B) bersaudara, kita ingin menyelesaikan permasalahan ini. Akan tetapi yang tampak pada realitanya justru fanatik terhadap si fulan dan si fulan! Sehingga hasilnya: kita berpecah!

Tidak sepantasnya hal ini terjadi:

Mereka berpecah karena (si A)…

Mereka berpecah karena (si B)…

Mereka berpecah karena fulan…karena fulan!! Maka ini tidak ada kehati-hatian, tidak ada hikmah sama sekali.

Dakwah Salafiyyah butuh kepada ilmu, butuh kepada hikmah, butuh kepada kekokohan, dan butuh kepada akhlak yang tinggi.

Demi Allah, sungguh Al-Albani sejak kami mengenal beliau: telah terjadi berbagai perselisihan antara beliau dan ulama lainnya!! Maka kami tidak fanatik terhadap beliau dan tidak juga terhadap ulama lainnya.

Maka kami nasehatkan kepada kalian dengan nasehat yang baik ini.

Baarakallaahu Fiikum (semoga Allah memberkahi kalian) dan memberikan taufik kepada kami dan kepada kalian.”

[dinukil dari “Manhaj As-Salaf Ash-Shalih…” (hlm. 330-331- cet. II)]

BERGEMBIRA DENGAN ISLAM DAN AL-QUR’AN

BERGEMBIRA DENGAN ISLAM DAN AL-QUR’AN

(KHUTBAH ‘IDUL FITHRI 1438 H/2017 M)

[1]- Segala puji bagi Allah yang telah melimpahkan berbagai nikmat-Nya kepada kita, yang jika kita mencoba untuk menghitung nikmat-nikmat tersebut; maka kita tidak akan mampu untuk menghitungnya. Dan nikmat terbesar yang Allah berikan kepada kita adalah nikmat Islam dan Iman, yang merupakan sebab bagi kita untuk bisa mencapai kebahagaiaan di dunia dan di akhirat. Shalawat dan salam semoga senantiasa terlimpahkan kepada Nabi kita Muhmammad, yang Allah utus dengan membawa agama Islam yang Allah ridhai bagi hamba-hamba-Nya, dan Rasulullah -shallallaahu ‘alaihi wa sallam- telah sampaikan secara lengkap; sehingga tidak perlu ditambah-tambahi lagi.

[2]- Jama’ah Shalat ‘Idul Fithri -rahimakumullaah-

Umumnya kaum muslimin menyambut gembira datangnya ‘Idul Fithri ini, dan pada asalnya kegembiraan semacam ini tidak tercela; selama tidak disalurkan dengan cara-cara yang tidak baik. Karena jika kegembiraan pada ‘Idul Fithri ini disalurkan dengan cara berbangga dalam urusan dunia -baik melalui harta, pakaian, kendaraan, dan perkara-perkara dunia lainnya-; maka bisa mnegantarkan kepada hal yang tidak terpuji. Layaknya kebanggaan Qarun dan kegembiraannya dengan harta bendanya. Allah -Ta’aalaa- berfirman:

إِنَّ قَارُوْنَ كَانَ مِنْ قَوْمِ مُوسَى فَبَغَى عَلَيْهِمْ وَآتَيْنَاهُ مِنَ الْكُنُوْزِ مَا إِنَّ مَفَاتِـحَهُ لَتَنُوْءُ بِالْعُصْبَةِ أُولِي الْقُوَّةِ إِذْ قَالَ لَهُ قَوْمُهُ لا تَفْرَحْ إِنَّ اللهَ لَا يُـحِبُّ الْفَرِحِيْنَ

“Sesungguhnya Qarun termasuk kaum Musa, tetapi dia berlaku zhalim terhadap mereka, dan Kami telah menganugerahkan kepadanya perbendaharaan harta yang kunci-kuncinya sungguh berat dipikul oleh sejumlah orang yang kuat-kuat. (Ingatlah) ketika kaumnya berkata kepadanya: “Janganlah engkau terlalu bangga (gembira). Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang membanggakan diri (bergembira semacam ini).”.” (QS. Al-Qashash: 76)

Maka ini termasuk kebanggan yang tercela.

Dan ada juga kegembiraan yang justru Allah perintahkan agar kita bergembira dengannya. Allah -Ta’aalaa- berfirman:

قُلْ بِفَضْلِ اللهِ وَبِرَحْـمَتِهِ فَبِذٰلِكَ فَلْيَفْرَحُوْا هُوَ خَيْرٌ مِـمَّا يَـجْمَعُوْنَ

“Katakanlah (Muhammad): “Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya; hendaklah dengan itu mereka bergembira. Itu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan.” (Yunus: 58)

“Karunia Allah” adalah Islam, dan “rahmat-Nya” adalah: Al-Qur’an. Itu lebih baik dari harta benda, emas dan perak yang dikumpulkan manusia.

[3]- Jama’ah Shalat ‘Idul Fithri -rahimakumullaah-

Maka karunia Allah berupa agama Islam yang Allah tunjukkan kepada kita; dengan itulah hendaknya kita bergembira. Dan para Shahabat pun sangat bangga dengan agama Islam ini, seperti yang dikatakan oleh Amirul Mukminin ‘Umar bin Al-Khaththab -radhiyallaahu ‘anhu-, beliau berkata:

إِنَّا كُنَّا أَذَلَّ قَوْمٍ، فَأَعَزَّنَا اللهُ بِالْإِسْلَامِ، فَمَهْمَا نَطْلُبُ الْعِزَّ بِغَيْرِ مَا أَعَزَّنَا اللهُ بِهِ؛ أَذَلَّنَا اللهُ

“Kita dahulunya adalah kaum yang paling hina, kemudian Allah muliakan kita dengan Islam, maka jika kita mencari kemuliaan dengan selain (Islam) yang Allah muliakan kita dengannya; niscaya Allah akan menghinakan kita.”[1]

Bahkan kalau kaum muslimin “nekat” untuk mencari kemuliaan dengan selain Islam, baik dengan mengumpulkan harta benda dan lainnya dari perkara-perkara dunia; niscaya Allah akan menghinakan mereka, sebagaiman disabdakan oleh Rasulullah -shallallaahu ‘alaihi wa sallam-:

إِذَا تَبَايَعْتُمْ بِالْعِيْنَةِ، وَأَخَذْتُمْ أَذْنَابَ الْبَقَرِ، وَرَضِيْتُمْ بِالزَّرْعِ، وَتَرَكْتُمُ الْجِهَادَ؛ سَلَّطَ اللهُ عَلَيْكُمْ ذُلًّا؛ لَا يَنْزِعُهُ حَتَّى تَرْجِعُوْا إِلَى دِيْنِكُمْ

“Jika kalian telah berjual beli dengan sistem “Bai’ul ‘Iinah”[2], kalian memegang ekor-ekor sapi dan ridha dengan pertanian[3], dan kalian meninggalkan jihad[4]; niscaya Allah akan menjadikan kehinaan menguasai kalian, Dia tidak akan mencabut (kehinaan) itu (dari kalian); hingga kalian kembali kepada agama kalian.”[5]

Maka kesibukkan kaum muslimin justru merupakan penyakit yang mengantarkan kepada kehinaan.

[4]- Inilah di antara penyakit dunia Islam: kesibukan terhadap dunia, yang menjadikan kebanyakan kaum muslimin pada zaman sekarang tidak layak mewakili agama Islam, karena mereka telah meninggalkan berbagai kewajiban dan menerjang berbagai larangan demi untuk meraih berbagai perkara keduniaan, baik: harta, wanita, maupun kekuasaan. Walaupun jumlah mereka banyak; akan tetapi mereka justru menjadi santapan musuh-musuh mereka. Rasulullah -shallallaahu ‘alaihi wa sallam- bersabda:

((يُوْشِكُ الْأُمَمُ أَنْ تَدَاعَى عَلَيْكُمْ كَمَا تَدَاعَى الْأَكَلَةُ إِلَى قَصْعَتِهَا)) فَقَالَ قَائِلٌ: وَمِنْ قِلَّةٍ نَحْنُ يَوْمَئِذٍ؟ قَالَ: ((بَلْ أَنْتُمْ يَوْمَئِذٍ كَثِيرٌ، وَلٰكِنَّكُمْ غُثَاءٌ كَغُثَاءِ السَّيْلِ، وَلَيَنْزَعَنَّ اللهُ مِنْ صُدُورِ عَدُوِّكُمُ الْمَهَابَةَ مِنْكُمْ، وَلَيَقْذِفَنَّ اللهُ فِيْ قُلُوْبِكُمُ الْوَهْنَ)) فَقَالَ قَائِلٌ: يَا رَسُولَ اللهِ! وَمَا الْوَهْنُ؟ قَالَ: ((حُبُّ الدُّنْيَا، وَكَرَاهِيَةُ الْمَوْتِ))

“Hampir tiba saatnya umat-umat (lain) mengerumuni kalian (kaum muslimin) seperti orang-orang yang akan makan mengerumuni bejana (makanan)nya.” Ada yang bertanya: Apakah dikarenakan jumlah kami pada waktu itu adalah sedikit? Beliau menjawab: “Bahkan jumlah kalian pada waktu itu banyak, akan tetapi keadaan kalian seperti buih yang dibawa arus air. Dan sungguh, Allah akan mencabut dari dada musuh kalian: rasa takut terhadap kalian, serta Allah akan timpakan “Al-Wahn” (kelemahan) di dalam hati kalian.” Ada yang bertanya: Wahai Rasululullah! Apakah “Al-Wahn” itu? Beliau menjawab: “Cinta dunia dan takut mati.”[6]

Maka di sini Rasulullah -shallallaahu ‘alaihi wa sallam- mengabarkan bahwa kaum kafirin -dengan berbagai macam kelompoknya- berkonspirasi untuk merebut harta dan negeri kaum muslimin. Hla itu terjadi ketika keadaan kaum muslimin ibarat buih yang hanyut terbawa gelombang pemikiran orang-orang kafir; baik dari segi agama maupun peradaban. Sehingga Allah mencabut rasa takut terhadap kaum muslimin dari dada orang-orang kafir. Dan Rasulullah -shallallaahu ‘alaihi wa sallam- juga mengabarkan bahwa kaum muslimin terkena penyakit “Al-Wahn” (kelemahan); yaitu: cinta dunia dan takut mati.

[5]- Kekuatan kaum muslimin bukanlah dengan hanya banyaknya jumlah, dan bukan pula dengan peralatan yang lengkap, akan tetapi kekuatan mereka terletak pada ‘Aqidah dan Manhaj mereka. Sehingga mereka akan kembali kuat dan ditakuti oleh musuh-musuh mereka: jika mereka mau kembali kepada agama mereka, dimana mereka mempelajari agama Islam yang murni, mengamalkannya, dan mendakwahkannya. Sebagaimana sabda Rasulullah -shallallaahu ‘alaihi wa sallam- pada hadits sebelumnya:

…سَلَّطَ اللهُ عَلَيْكُمْ ذُلًّا؛ لَا يَنْزِعُهُ حَتَّى تَرْجِعُوْا إِلَى دِيْنِكُمْ

“…niscaya Allah akan menjadikan kehinaan menguasai kalian, Dia tidak akan mencabut (kehinaan) itu (dari kalian); hingga kalian kembali kepada agama kalian.”

Dan banyak dari kaum muslimin telah membaca hadits ini dan sering mendengar sabda beliau:

…حَتَّى تَرْجِعُوْا إِلَى دِيْنِكُمْ

“…hingga kalian kembali kepada agama kalian”

Maka mereka mengira bahwa kembali kepada agama adalah suatu perkara yang mudah. Padahal kembali kepada agama adalah sangat membutuhkan usaha yang luar biasa kerasnya. Hal itu dikarenakan agama ini telah ditimpa banyak usaha untuk mengubah hakikat-hakikatnya. Bahkan sebagian orang telah berhasil untuk melakukan perubahan atau penyimpangan terhadap agama ini. Dan sebagian perubahan ini diketahui oleh banyak manusia, dan sebagiannya lagi tidak demikian; bahkan sebaliknya; yakni: banyak yang tidak diketahui oleh umumnya manusia. Ada masalah-masalah ‘Aqidah dan Fiqih yang mereka sangka hal itu bagian dari agama; padahal bukan bagian dari agama sama sekali…

Oleh karena itulah perbaikan sebenarnya -yang wajib dilakukan oleh para da’i yang mendakwahkan Islam-; adalah: dengan cara mereka harus mulai dengan memahamkan diri mereka, kemudian juga umat: terhadap agama yang dibawa oleh Rasulullah -‘alaihish shalaatu was salaam-. Dan tidak ada jalan untuk memahami hakikat agama yang Allah -‘Azza Wa Jalla- turunkan; kecuali dengan MEMPELAJARI AL-QUR’AN DAN AS-SUNNAH …

Oleh karena itu; maka kita harus mulai dengan mengajarkan agama Islam yang benar kepada manusia -sebagaimana Rasulullah ‘alaihish shalaatu was salaam memulai dengannya-. Akan tetapi kita tidak boleh mencukupkan diri hanya sekedar mengajarkan saja; karena sungguh, Islam telah dimasuki dengan hal-hal yang bukan berasal darinya dan yang tidak ada kaitannya sama sekali dengannya; berupa bida’ah-bid’ah dan hal-hal yang baru; yang menyebabkan hancurnya bangunan Islam yang kokoh.

[6]- Jama’ah Shalat ‘Idul Fithri -rahimakumullaah-

Kemudian di antara hal yang hendaknya kita bergembira dengannya adalah: Al-Qur’an, sebagaimana yang Allah firmankan:

قُلْ بِفَضْلِ اللهِ وَبِرَحْـمَتِهِ فَبِذٰلِكَ فَلْيَفْرَحُوْا هُوَ خَيْرٌ مِـمَّا يَـجْمَعُوْنَ

“Katakanlah (Muhammad): “Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya; hendaklah dengan itu mereka bergembira. Itu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan.” (Yunus: 58)

Ibnu ‘Abbas, Al-Hasan dan Qatadah berkata: “Karunia Allah” adalah Islam, dan “rahmat-Nya” adalah: Al-Qur’an.

Rasulullah -shallallaahu ‘alaihi wa sallam- bersabda:

كِتَابُ اللهِ: هُوَ حَبْلُ اللهِ الْمَمْدُوْدُ مَنَ السَّمَاءِ إِلَى الْأَرْضِ

“Kitabullah (Al-Qur’an) adalah: tali Allah yang terbentang dari langit ke bumi.”[7]

Beliau juga bersabda:

فَإِنَّ هٰذَا الْقُرْآنَ سَبَبٌ (أَيْ: حَبْلٌ)؛ طَرْفُهُ بِيَدِ اللهِ، وَطَرْفُهُ بِأَيْدِيْكُمْ، فَتَمَسَّكُوْا بِهِ

“Sungguh, Al-Qur’an ini adalah sebab (yakni: tali); yang ujungnya ada di tangan Allah, dan ujung (lainnya) ada di tangan-tangan kalian; maka berpeganglah kalian dengannya.”[8]

[7]- Maka jelas sekali bahwa sebagai umat Islam; mereka harus menjadikan Al-Qur’an sebagai pegangan hidup; dengan: membacanya, memahaminya, dan mengamalkannya; karena itu adalah tujuan Al-Qur’an diturunkan. Jangan sampai Al-Qur’an diabaikan, sebagaimana yang Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam pernah adukan kepada Allah:

وَقَالَ الرَّسُوْلُ يَا رَبِّ إِنَّ قَوْمِي اتَّـخَذُوْا هٰذَا الْقُرْآنَ مَهْجُوْرًا

“Dan Rasul (Nabi Muhammad) berkata, “Wahai Rabb-ku, sesungguhnya kaumku telah menjadikan Al-Qur’an ini diabaikan.” (QS. Al-Furqan: 30)

[8]- Allah telah menyebutkan bahwa di dalam Al-Qur’an terdapat obat:

وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْآنِ مَا هُوَ شِفَاءٌ وَرَحْـمَةٌ لِلْمُؤْمِنِيْنَ…

“Dan Kami turunkan dari Al-Qur’an (sesuatu yang menjadi penawar/obat dan rahmat bagi orang-orang yang beriman…” (QS. Al-Israa’: 82)

Maka di dalam Al-Qura’n terdapat obat bagi penyakit syubhat -yang menyerang keilmuan-, dan dari penyakit syahwat -yang menyerang amalan-.

Seorang yang mau mentadabburi Al-Qur’an; maka dia akan mendapatkan: penjelasan-penjelasan dan bukti-bukti yang pasti; yang menjelaskan kebenaran dan menolak kebatilan; sehingga hilanglah penyakit syubhat -yaitu; keraguan dan kerancuan dalam ilmu agama- yang ada pada dirinya.

Dan Al-Qur’an dengan: nasehatnya, anjuran dan ancamannya, permisalan, dan kisahnya; akan menghilangkan penyakit syahwat -yaitu keinginan yang jelek untuk tidak mengamalkan kebenaran- yang ada pada diri seorang hamba.

Maka di dalam Al-Qur’an juga terdapat obat bagi penyakit cinta dunia yang menyebabkan terpuruknya keadaan kaum muslimin -sebagaimana telah dijelaskan-. Karena di dalam Al-Qur’an terdapat ajakan untuk zuhud terhadap dunia; dengan memberikan penjelasan bahwa kehidupan dunia adalah sementara sedangkan kehidupan akhirat adalah kekal, termasuk juga penjelasan bagaimana kesudahan orang-orang yang berbangga dengan urusan keduniaan; seperti Fir’aun, Qarun, dan lainnya.

[9]- Dan di antara do’a yang diajarkan oleh Nabi -shallallaahu ‘alaihi wa sallam- adalah:

اَلـلّٰـهُـمَّ إِنِّــيْ عَـبْـدُكَ، ابْـنُ عَـبْـدِكَ، ابْـنُ أَمَـتِـكَ، نَـاصِـيَـتِـيْ بِـيَـدِكَ، مَـاضٍ فِـيَّ حُـكْـمُـكَ، عَـدْلٌ فِـيَّ قَـضَـاؤُكَ، أَسْـأَلُـكَ بِـكُـلِّ اسْـمٍ هُـوَ لَـكَ سَــمَّـيْـتَ بِـهِ نَـفْـسَـكَ، أَوْ أَنْــزَلْــتَـهُ فِـيْ كِــتَـابِـكَ، أَوْ عَـلَّـمْـتَـهُ أَحَـدًا مِـنْ خَـلْـقِـكَ، أَوِ اسْــتَـأْثَــرْتَ بِــهِ فِـيْ عِـلْـمِ الْــغَــيْـبِ عِــنْــدَكَ، أَنْ تَــجْـعَـلَ الْـقُـرْآنَ رَبِـيْـعَ قَـلْـبِـيْ، وَنُــوْرَ صَـدْرِيْ، وَجَـلَاءَ حُــزْنِـيْ، وَذَهَـابَ هَــمِّـيْ.

“Ya Allah, sesungguhnya aku adalah hamba-Mu, anak hamba-Mu, dan anak hamba perempuan-Mu, ubun-ubunku berada di tangan-Mu, hukum-Mu berlaku terhadap diriku dan ketetapan-Mu adil pada diriku. Aku memohon kepada-Mu dengan segala Nama yang menjadi milik-Mu, yang Engkau namai diri-Mu dengannya, atau yang Engkau turunkan di dalam Kitab-Mu, atau yang Engkau ajarkan kepada seseorang dari makhluk-Mu, atau yang Engkau rahasiakan dalam ilmu ghaib yang ada di sisi-Mu, maka AKU MOHON DENGAN ITU AGAR ENGKAU JADIKAN AL-QUR’AN SEBAGAI PENYEJUK HATIKU, CAHAYA BAGI DADAKU, DAN PENGHILANG KESUSAHANKU.”[9]

[10]- Maka -sekali lagi- khathib ingatkan bahwa: selain kita bergembira dengan datangnya hari ‘Idul Fithri ini; maka kita juga harus: BERGEMBIRA DENGAN ISLAM DAN DENGAN AL-QUR’AN.

اللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ، وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ، اللٰهُمَّ بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ، وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ

اللّٰهُمَّ إِنّا نَسْأَلُكَ فِعْلَ الخَيْرَاتِ، وَتَرْكَ الْمُنْكَرَاتِ، وَحُبَّ الْمَسَاكِيْنِ، وَأَنْ تَغْفِرَ لَنَا وَتَرْحَمَنَا، وَإِذَا أَرَدْتَ فِتْنَةَ قَوْمٍ فَتَوَفَّنَا غَيْرَ مَفْتُونٍ، وَنَسْأَلُكَ حُبَّكَ وَحُبَّ مَنْ يُحِبُّكَ، وَحُبَّ عَمَلٍ يُقَرِّبنَا إِلَى حُبِّكَ

اللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْوَاتِ

اللّٰهُمَّ زَيِّـــنَّا بِـزِيْــنَــةِ الْإِيْـمَانِ، وَاجْــعَــلْــنَا هُــدَاةً مُــهْــتَــدِيْــنَ

اللّٰهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ أَنْ تَــجْـعَـلَ الْـقُـرْآنَ رَبِـيْـعَ قُلُوْبِنَا، وَنُــوْرَ صُدُوْرِنَا، وَجَـلَاءَ أَحْزَانِنَا، وَذَهَـابَ هُـمُوْمِنَا.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ، وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ

وَآخِرُ دَعْوَانَا: أَنِ الْحَمْدُ لِلّٰهِ رّبِّ الْعَالَمِيْنَ

[1] Diriwayatkan oleh Al-Hakim (no. 208).

[2] Jual beli yang didalamnya terkandung unsur riba terselubung.

[3] Isyarat kepada: sibuknya kaum muslimin dengan urusan dunia mereka.

[4] Kesibukan mereka dengan dunia sampai mengantarkan mereka untuk meninggalkan kewajiban mereka; diantaranya adalah jihad. Lihat: “At-Tashfiyah wat Tarbiyah Wa Haajatul Muslimiin Ilaihimaa” (hlm. 7-11) milik Imam Al-Albani -rahimahullaah-.

[5] Shahih: HR. Abu Dawud (no. 3462), dari ‘Abdullah bin ‘Umar -radhiyallaahu ‘anhumaa-. Lihat: “Silsilah al-Ahaadiits ash-Shahiiihah” (no. 11) karya Imam Muhammad Nashiruddin Al-Albani -rahimahullaah-.

[6] Shahih: HR. Abu Dawud (no. 4297), dan lainnya. Dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani -rahimahullaah- di dalam “Silsilah Al-Ahaadiits Ash-Shahiihah” (no. 958)

[7] “Ash-Shahiihah” (no. 2024).

[8] “Ash-Shahiihah” (no. 713).

[9] Nabi -shallallaahu ‘alaihi wa sallam- bersabda: “Tidaklah seorang pun ditimpa kesedihan dan kesusahan; kemudian membaca…(do’a ini); melainkan Allah akan hilangkan kesedihan dan kesusahannya, dan Dia gantikan dengan kegembiraan.” Maka ada yang bertanya: Wahai Rasulullah, tidakkah kami pelajari (do’a) itu? Beliau menjawab: “Iya, sepantasnya bagi setiap orang yang mendengarnya untuk mempelajarinya.”

Shahih: HR. Ahmad (I/391, 452), Al-Hakim (I/509), dan Ibnu Hibban (no. 968-At-Ta’liiqaatul Hisaan). Dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani -rahimahullaah- dalam “Silsilah al-Ahaadiits ash-Shahiihah” (no. 199). Lihat: Do’a & Wirid (hlm. 302-303-cet. kesebelas) karya Ustadz Yazid bin ‘Abdul Qadir Jawas -hafizhahullaah-.

Ustadz Ahmad Hendrix

https://www.facebook.com/ahmadhendrix.eskanto/posts/472226769784871

HADITS-HADITS “BULUUGHUL MARAAM MIN ADILLATIL AHKAAM”

HADITS-HADITS “BULUUGHUL MARAAM MIN ADILLATIL AHKAAM”

Allah -Ta’aalaa- berfirman:

…وَأَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الذِّكْرَ لِـتُـبَـيِّـنَ لِلنَّاسِ مَا نُـزِّلَ إِلَيْهِمْ وَلَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُوْنَ

“…Dan Kami turunkan Adz-Dzikr (Al-Qur’an) kepadamu, agar engkau menerangkan kepada manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan agar mereka memikirkan.” (QS. An-Nahl: 44)

“Sungguh, penjelasan Rasul -shallallaahu ‘alaihi wa sallam- yang disebutkan dalam ayat…ada 3 (tiga) jenis: perkataan, perbuatan, dan “taqriir” (persetujuan).”[1] “Sehingga, barangsiapa yang ingin memahami Al-Qura’n dari selain jalan Rasul -shallallaahu ‘alaihi wa sallam-; maka telah sesat dengan kesesatan yang jauh.”[2] “Apakah engkau dapatkan dalam Kitab (Al-Qur’an) bahwa Zhuhur dan ‘Ashar 4 (empat) raka’at, dan “jahr” (dikeraskan) bacaannya pada Shalat Shubuh, Maghrib, dan ‘Isya, dan dipelankan bacaannya pada Shalat Zhuhur dan ‘Ashr, dan…pada raka’at terakhir pada Shalat Maghrib dan dua raka’at terakhir pada Shalat ‘Isya…?”[3] dan seterusnya…Oleh karena itulah Rasulullah -shallallaahu ‘alaihi wa sallam- bersabda:

صَلُّوْا كَمَا رَأَيْتُمُوْنِيْ أُصَلِّيْ

“Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat saya Shalat.”[4]

“Maka menjadi tugas masing-masing orang untuk mengerahkan segenap usaha dan kemampuannya untuk mengenal apa yang beliau bawa serta untuk taat kepada beliau. Karena ini adalah jalan keselamatan dari adzab yang pedih, dan untuk mendapatkan kebahagiaan di negeri kenikmataan. Dan cara untuk hal tersebut adalah dengan: ilmu riwayat dan penukilan (hadits).”[5]

“Dan Al-Qur’an memiliki keistimewaan dimana Allah mengkhususkannya dengan mu’jizat yang membedakannya dengan perkataan manusia, sebagaimana firman-Nya:

قُلْ لَئِنِ اجْتَمَعَتِ الْإِنْسُ وَالْـجِنُّ عَلَى أَنْ يَأْتُوْا بِـمِثْلِ هٰذَا الْقُرْآنِ لَا يَأْتُوْنَ بِـمِثْلِهِ وَلَوْ كَانَ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ ظَهِيْرًا

“Katakanlah: Sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa (dengan) Al-Qur’an ini; mereka tidak akan dapat membuat yang serupa dengannya, sekalipun mereka saling membantu satu sama lain.” (QS. Al-Israa’: 88)

Dan Al-Qur’an telah dinukilkan dengan mutawatir, sehingga (dengan keadaan semacam ini); maka tidak ada seorang pun yang berhasrat untuk merubah lafazh maupun hurufnya. Akan tetapi setan berhasrat untuk memasukkan penyelewangan dan penggantian dalam makna-maknanya dengan perubahan dan takwil, dan setan juga berhasrat untuk memasukkan penambahan dan pengurangan dalam hadits-hadits agar bisa menyesatkan sebagian hamba.

Maka Allah -Ta’aalaa- para ahli dan kritikus (hadits), orang-orang yang berpetunjuk dan lurus, mereka mengalahkan golongan setan, mereka membedakan antara yang benar dengan yang dusta, mengorbankan diri untuk menjaga As-Sunnah dan makna-makna Al-Qur’an: agar tidak ditambah dan tidak pula dikurangi…

Maka para ulama yang ahli dalam ilmu penukilan dan kritik terhadap riwayat dan sanad; mereka melakukan perjalanan untuk itu ke berbagai negeri, dan mereka meninggalkan lezatnya pembaringan…dan banyak kisah-kisah mereka yang masyhur dalam hal ini…yang diketahui oleh para ahlinya…

Dan orang-orang yang menjaga ilmu yang diwarisi dari Rasulullah -shallallaahu ‘alaihi wa sallam-…yang menjaga (hadits) dari penambahan dan pengurangan: mereka adalah seagung-agungnya wali-wali Allah yang bertaqwa, dan golongan-Nya yang beruntung. Mereka memiliki kelebihan dari ahli iman dan amal shalih yang lainnya, sebagaimana yang Allah -Ta’aalaa- firmankan:

…يَرْفَعِ اللهُ الَّذِيْنَ آمَنُوْا مِنْكُمْ وَالَّذِيْنَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ…

“…niscaya Allah akan mengangkat (derajat) orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat…” (QS. Al-Mujadilah: 11)

Sungguh, Allah telah menanamkan keimanan dalam hati mereka dan telah menguatkan mereka dengan pertolongan dari-Nya; tatkala mereka memberikan loyalitas kepada Allah dan Rasul-Nya dan memusuhi orang yang berpaling dari-Nya. Allah ­-Ta’aalaa- berfirman:

لَا تَـجِدُ قَوْمًا يُؤْمِنُوْنَ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ يُوَادُّوْنَ مَنْ حَادَّ اللهَ وَرَسُوْلَهُ وَلَوْ كَانُوْا آبَاءَهُمْ أَوْ أَبْنَاءَهُمْ أَوْ إِخْوَانَهُمْ أَوْ عَشِيْرَتَهُمْ أُولٰئِكَ كَتَبَ فِي قُلُوْبِـهِمُ الْإِيْـمَانَ وَأَيَّدَهُمْ بِرُوْحٍ مِنْهُ وَيُدْخِلُهُمْ جَنَّاتٍ تَـجْرِيْ مِنْ تَـحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِيْنَ فِيهَا رَضِيَ اللهُ عَنْهُمْ وَرَضُوْا عَنْهُ أُولٰئِكَ حِزْبُ اللهِ أَلَا إِنَّ حِزْبَ اللهِ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَ

“Engkau (Muhammad) tidak akan mendapatkan suatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari Akhir, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapaknya, anaknya, saudaranya atau keluarganya. Mereka itulah orang-orang yang Allah telah menanamkan keimanan dalam hati mereka dan menguatkan mereka dengan pertolongan yang datang dari-Nya. Lalu Dia memasukkan mereka ke dalam Surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Allah ridha terhadap mereka dan mereka pun merasa puas terhadap (limpahan rahmat)-Nya. Merekalah golongan Allah. Ingatlah, sesungguhnya golongan Allah itulah yang beruntung.” QS. Al-Mujadilah: 22).”[6]

“Demikianlah, dan sungguh, ilmu Hadits adalah termasuk ilmu yang paling utama dari ilmu-ilmu yang utama, dan yang paling bermanfaat di antara cabang-cabang ilmu yang bermanfaat, ilmu ini dicintai oleh laki-laki yang jantan dan gagah, yang ditekuni oleh para peneliti dari kalangan ulama yang sempurna (pada tingkatannya), dan dibenci oleh orang-orang yang rendah dan bawah.”[7]

Rasulullah -shallallaahu ‘alaihi wa sallam- bersabda:

نَضَّرَ اللهُ امْرَأً سَـمِعَ مِنَّا حَدِيْثًا، فَحَفِظَهُ حَتَّى يُـبَلِّغَهُ غَيْرَهُ، فَإِنَّهُ رُبَّ حَامِلِ فِقْهٍ لَيْسَ بِفَقِيْهٍ، وَرُبَّ حَامِلِ فِقْهٍ إِلَى مَنْ هُوَ أَفْقَهُ مِنْهُ

“Semoga Allah membaguskan wajah seorang yang mendengar hadits dari kami, kemudian dia menjaganya; sehingga dia sampaikan kepada orang lain. Sungguh, terkadang orang yang mengemban fiqih (hadits): tidaklah faqih (faham), dan terkadang pengemban fiqih (hadits) menyampaikan kepada orang yang lebih faqih (lebih faham) darinya.”[8]

Al-Khathib Al-Baghdadi rahimahullaah (wafat th. 462 H) berkata dalam “Kitaab al-Faqiih wal Mutafaqqih” (hlm. 548-549- cet. Daar Ibnil Jauzi):

“Maka beliau -shallallaahu ‘alaihi wa sallam- mengabarkan bahwa terkadang ada orang yang membawa hadits akan tetapi tidak menjaga dan tidak pula memahaminya. Dan kebanyakan para penulis hadits pada zaman ini jauh dari penjagaan dan kosong dari pemahaman. Mereka tidak bisa memisahkan antara (hadits) yang berpenyakit dengan yang shahih, tidak bisa membedakan antara rawi yang tsiqah dengan yang dicela (dha’if), mereka juga tidak membahas tentang makna (hadits) yang tidak mereka ketahui…”

Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah (wafat th. 751 H) -rahimahullaah- berkata:

“Dan “Ushuulul Ahkaam” (hadits-hadits inti dalam pembahasan Fiqih-pent) yang hukum-hukum (Fiqih) berporos padanya: ada sekitar 500 (lima ratus) hadits. Dan kalau dijabarkan dan dirinci lagi: menjadi sekitar 4000 (empat ribu) hadits. Dan sebenranya yang sangan menyulitkan dan memberatkan adalah: perkiraan-perkiraan (pembahasan) yang ada dalam pikiran, masalah-masalah pelik baik dalam furu’ maupun ushul; yang sebenarnya Allah tidak menurunkan keterangan atasnya.”[9]

Dan kitab “Buluughul Maraam” karya Al-Hafizh Ahmad bin ‘Ali bin Hajar Al-‘Asqalani -rahimahullaah-: mencakup lebih dari 1000 (seribu) hadits dalam masalah Fiqih, maka kemungkinan kitab ini telah mencakup “Ushuulul Ahkaam” (hadits-hadits inti dalam pembahasan Fiqih-pent) yang hukum-hukum (Fiqih) berporos padanya; yang jumlahnya hanya 500 (lima ratus) hadits.

Dan untuk membahas Kitab “Buluughul Maraam”; maka harus diperhatikan Takhrij hadits-hadits yang ada, karena sebagaimana dikatakan oleh Imam Muhammad Nashiruddin Al-Albani -rahimahullaah-:

“(Orang-orang yang) konsentrasinya hanya pada perselisihan pendapat para ulama dalam masalah-masalah Fiqih dan penjelasan mana yang kuat dan mana yang lemah saja, sedangkan mereka tidak mendalami Ilmu Hadits dan hanya bersandar pada para ulama Ahli Hadits yang terdahulu maupun belakangan -yang dianggap terpercaya-; maka orang-orang semacam ini ijtihadnya tidaklah bersih dari kesalahan, dan…tindakan mereka tidak mencukupi untuk dikatakan sempurna. Karenag sungguh, (mereka) harus merujuk kaidah-kaidah ilmu Hadits,…karena relaitanya: ILMU FIQIH TEGAK DI ATAS ILMU HADITS.”[10]

Sehingga hadits-hadits yang terdapat dalam “Buluughul Maraam”; hendaknya dibahas secara “Riwaayah” maupun “Diraayah”. Silahkan lihat pembahasan kedua istilah tersebut di sini:

https://m.facebook.com/story.php…

Dan perlu kami ingatkan juga bahwa: pembahasan yang berkaitan dengan masalah-masalah Hadits dan Fiqih sangatlah penting: meskipun “kami (juga) mengetahui apa yang menimpa kaum muslimin (di berbagai negeri) berupa: ujian dan petaka, kekalahan dan musibah. (Akan tetapi) tidaklah ini menimpa mereka melainkan dikarenakan: jauhnya mereka dari sumber yang jernih dan manhaj yang lurus, yang Allah jelaskan dalam kitab-Nya dan Rasul terangkan dalam Siroh dan Sunnahnya.

Sehingga, mengenal hukum-hukum syar’i dan masalah-masalah Fiqih tidaklah dihentikan dan dipengaruhi oleh suatu perkara. Bahkan hal itu akan mendorong kaum muslimin untuk: berilmu, beramal, dan menyebarkan kebaikan serta dakwah mengajak kepada Allah -Tabaaraka Wa Ta’aalaa-.”[11]

Terakhir, bagi yang ingin membahas masalah Hadits dan Fiqih; maka harus diperhatikan juga 2 (dua) perkara berikut:

Pertama: Memulai dengan yang penting, sebagaiamana dikatakan oleh Imam Adz-Dzahabi (wafat th. 748 H) -rahimahullaah- tentang adab seorang Muhaddits (Ahli Hadits):

وَأَنْ لَا يَغُشَّ الْمُبْتَدِئِـيْـنَ، بَلْ يَدُلَّـهُمْ عَلَى الْمُهِمِّ، فَالدِّيْنُ النَّصِيْحَةُ

“Dan jangan berlaku curang kepada “mubtadi-iin” (para pemula), akan tetapi hendaknya menunjukkan mereka kepada yang penting, karena agama adalah nasihat.”[12]

Kedua: Mengutamakan pembahasan yang bisa diamalkan, sebagaimana dikatakan oleh Imam As-Syathibi (wafat th. 790 H) -rahimahullaah-:

كُلُّ مِسْأَلَةٍ لَا يَنْبَنِيْ عَلَيْهَا عَمَلٌ؛ فَالْـخَوْضُ فِيْهَا خَوْضٌ فِيْمَا لَـمْ يَدُلَّ عَلَى اسْتِحْسَانِهِ دَلِيْلٌ شَرْعِيٌّ. وَأَعْنِيْ بِالْعَمَلِ: عَمَلَ الْقَلْبِ وَعَمَلَ الْـجَوَارِحِ، مِنْ حَيْثُ هُوَ مَطْلُوْبٌ شَرْعًا

“Setiap permasalahan yang tidak terbangaun di atasnya sebuah amalan; maka mendalaminya adalah masuk ke dalam kategori mendalami sesuatu yang tidak ada dalil syar’i yang menunjukkan atas bagusnya (pendalaman) tersebut. Yang saya maksud dengan amalan adalah: amalan hati dan amalan anggota badan, dilihat dari segi bahwa hal itu dituntut secara syari’at.”[13]

وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَـبِـيِّـنَا مُـحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ

Semoga Allah memberikan shalawat dan salam atas Nabi kita Muhammad, dan atas keluarga dan Shahabat beliau.

-ditulis oleh: Ahmad Hendrix-

[1] “Da’watunaa” (hlm. 62) milik Imam Al-Albani -rahimahullaah-.

[2] “Da’watunaa” (hlm. 60-61) milik Imam Al-Albani -rahimahullaah-.

[3] “Jummaa’ul ‘Ilmi” (IX/7-8- al-Umm) karya Imam Asy-Syafi’i –rahimahullaah-.

[4] HR. Al-Bukhari (no. 631).

[5] “Majmuu’ Fataawaa Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah” (I/5-6).

[6] “Majmuu’ Fataawaa Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah” (I/7-10).

[7] “Muqaddimah Ibnish Shalaah” (hlm. 11-12- at-Taqyiid wal Iidhaah)

[8] Shahih: HR. Ahmad dengan sanad yang shahih. Lihat: “Sullamul Wushuul Fii Takhriij Ahaadiits ar-Rasuul” (no. 140), karya Ahmad Hendrix.

[9] “I’laamul Muwaqqi’iin” (hlm. 414- cet. Daar Thayyibah).

[10] “Su-aalaat Ibni Abil ‘Ainain” (hlm. 50-53).

[11] Perkataan Syaikh ‘Ali bin Hasan Al-Halabi -hafizhahullaah- dalam “Ahkaamul ‘Iidain” (hlm. 9-10).

[12] “Al-Muuqizhah Fii ‘Ilmi Mushthalahil Hadiits” (hlm. 66).

[13] “Al-Muwaafaqaat” (I/43).

https://www.facebook.com/ahmadhendrix.eskanto/posts/474288109578737