Nasihat Fadhilatusy Syaikh Doktor Rabi’ bin Hadi Al-Madkhali

Fadhilatusy Syaikh Doktor Rabi’ bin Hadi Al-Madkhali -hafizhahullaah– berkata:

“Saya tidak menginginkan adanya sikap ghuluw (berlebihan) terhadap seorang pun, baik terhadap Rasulullah, para Shahabat, para Tabi’in, Ibnu Taimiyyah, Ibnul Qayyim, (Muhammad) bin ‘Abdul Wahhab, Syaikh (‘Abdul Muhasin) Al-‘Abbad, Syaikh Rabi’, dan tidak juga terhadap para penuntut ilmu seperti (fulan), dan yang semisalnya.

Ghuluw adalah: menempatkan seseorang di atas kedudukannya, sehingga sikap ghuluw wajib diperangi.

Zaman sekarang: Salafiyyun gampang sekali untuk terbagi/terpecah karena sebab apa saja. Maka pada kesempatan ini saya nasehatkan mereka untuk berrsaudara karena Allah, dan tidak berpecah belah disebabkan karena Syaikh (Fulan) dan Syaikh (Fulan); jangan sampai berpecah belah. Dahulu kami melewati masa-masa dimana terjadi perselisihan antara Syaikh Al-Abani dan masya-yikh yang lainnya, tapi demi Allah [kami tidak berpecah]…

Adapun sekarang: setiap kali engkau katakan: “Ini si fulan (yang direkomendasi).”; maka kita berpecah, setiap engkau mengkritik si fulan; maka kita berpecah.

Ini adalah jalan yang bodoh, ini cara Jahiliyyah!!

Dan kami sama sekali tidak setuju dengan cara-cara ini….

Maka saya wasiatkan kalian untuk bertakwa kepada Allah dan berpegang kepada Kitabullah dan Sunnah Rasul; hendaknya kita mengusung Dakwah ini dengan akal yang matang dan cerdas, serta hati yang kokoh dan tidak goyah.

Lihatlah di Inggris; mereka berpecah karena fulan dan fulan! Di Perancis; mereka berpecah karena fulan dan fulan! Di Emirat; mereka berpecah karena fulan dan fulan! Maka engkau lihat tubuh (Salafiyyin) menjadi kacau dengan begitu mudahnya!!

Maka saya wasiatkan kepadamu wahai saudaraku dan kepada saudara-saudaramu yang masih berakal: agar meninggalkan cara-cara ini, jangan fanatik terhadap si fulan dan si fulan…

Tinggalkan cara-cara ini, kita berusaha agar (A) dan (B) bersaudara, kita ingin menyelesaikan permasalahan ini. Akan tetapi yang tampak pada realitanya justru fanatik terhadap si fulan dan si fulan! Sehingga hasilnya: kita berpecah!

Tidak sepantasnya hal ini terjadi:

Mereka berpecah karena (si A)…

Mereka berpecah karena (si B)…

Mereka berpecah karena fulan…karena fulan!! Maka ini tidak ada kehati-hatian, tidak ada hikmah sama sekali.

Dakwah Salafiyyah butuh kepada ilmu, butuh kepada hikmah, butuh kepada kekokohan, dan butuh kepada akhlak yang tinggi.

Demi Allah, sungguh Al-Albani sejak kami mengenal beliau: telah terjadi berbagai perselisihan antara beliau dan ulama lainnya!! Maka kami tidak fanatik terhadap beliau dan tidak juga terhadap ulama lainnya.

Maka kami nasehatkan kepada kalian dengan nasehat yang baik ini.

Baarakallaahu Fiikum (semoga Allah memberkahi kalian) dan memberikan taufik kepada kami dan kepada kalian.”

[dinukil dari “Manhaj As-Salaf Ash-Shalih…” (hlm. 330-331- cet. II)]

BERGEMBIRA DENGAN ISLAM DAN AL-QUR’AN

BERGEMBIRA DENGAN ISLAM DAN AL-QUR’AN

(KHUTBAH ‘IDUL FITHRI 1438 H/2017 M)

[1]- Segala puji bagi Allah yang telah melimpahkan berbagai nikmat-Nya kepada kita, yang jika kita mencoba untuk menghitung nikmat-nikmat tersebut; maka kita tidak akan mampu untuk menghitungnya. Dan nikmat terbesar yang Allah berikan kepada kita adalah nikmat Islam dan Iman, yang merupakan sebab bagi kita untuk bisa mencapai kebahagaiaan di dunia dan di akhirat. Shalawat dan salam semoga senantiasa terlimpahkan kepada Nabi kita Muhmammad, yang Allah utus dengan membawa agama Islam yang Allah ridhai bagi hamba-hamba-Nya, dan Rasulullah -shallallaahu ‘alaihi wa sallam- telah sampaikan secara lengkap; sehingga tidak perlu ditambah-tambahi lagi.

[2]- Jama’ah Shalat ‘Idul Fithri -rahimakumullaah-

Umumnya kaum muslimin menyambut gembira datangnya ‘Idul Fithri ini, dan pada asalnya kegembiraan semacam ini tidak tercela; selama tidak disalurkan dengan cara-cara yang tidak baik. Karena jika kegembiraan pada ‘Idul Fithri ini disalurkan dengan cara berbangga dalam urusan dunia -baik melalui harta, pakaian, kendaraan, dan perkara-perkara dunia lainnya-; maka bisa mnegantarkan kepada hal yang tidak terpuji. Layaknya kebanggaan Qarun dan kegembiraannya dengan harta bendanya. Allah -Ta’aalaa- berfirman:

إِنَّ قَارُوْنَ كَانَ مِنْ قَوْمِ مُوسَى فَبَغَى عَلَيْهِمْ وَآتَيْنَاهُ مِنَ الْكُنُوْزِ مَا إِنَّ مَفَاتِـحَهُ لَتَنُوْءُ بِالْعُصْبَةِ أُولِي الْقُوَّةِ إِذْ قَالَ لَهُ قَوْمُهُ لا تَفْرَحْ إِنَّ اللهَ لَا يُـحِبُّ الْفَرِحِيْنَ

“Sesungguhnya Qarun termasuk kaum Musa, tetapi dia berlaku zhalim terhadap mereka, dan Kami telah menganugerahkan kepadanya perbendaharaan harta yang kunci-kuncinya sungguh berat dipikul oleh sejumlah orang yang kuat-kuat. (Ingatlah) ketika kaumnya berkata kepadanya: “Janganlah engkau terlalu bangga (gembira). Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang membanggakan diri (bergembira semacam ini).”.” (QS. Al-Qashash: 76)

Maka ini termasuk kebanggan yang tercela.

Dan ada juga kegembiraan yang justru Allah perintahkan agar kita bergembira dengannya. Allah -Ta’aalaa- berfirman:

قُلْ بِفَضْلِ اللهِ وَبِرَحْـمَتِهِ فَبِذٰلِكَ فَلْيَفْرَحُوْا هُوَ خَيْرٌ مِـمَّا يَـجْمَعُوْنَ

“Katakanlah (Muhammad): “Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya; hendaklah dengan itu mereka bergembira. Itu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan.” (Yunus: 58)

“Karunia Allah” adalah Islam, dan “rahmat-Nya” adalah: Al-Qur’an. Itu lebih baik dari harta benda, emas dan perak yang dikumpulkan manusia.

[3]- Jama’ah Shalat ‘Idul Fithri -rahimakumullaah-

Maka karunia Allah berupa agama Islam yang Allah tunjukkan kepada kita; dengan itulah hendaknya kita bergembira. Dan para Shahabat pun sangat bangga dengan agama Islam ini, seperti yang dikatakan oleh Amirul Mukminin ‘Umar bin Al-Khaththab -radhiyallaahu ‘anhu-, beliau berkata:

إِنَّا كُنَّا أَذَلَّ قَوْمٍ، فَأَعَزَّنَا اللهُ بِالْإِسْلَامِ، فَمَهْمَا نَطْلُبُ الْعِزَّ بِغَيْرِ مَا أَعَزَّنَا اللهُ بِهِ؛ أَذَلَّنَا اللهُ

“Kita dahulunya adalah kaum yang paling hina, kemudian Allah muliakan kita dengan Islam, maka jika kita mencari kemuliaan dengan selain (Islam) yang Allah muliakan kita dengannya; niscaya Allah akan menghinakan kita.”[1]

Bahkan kalau kaum muslimin “nekat” untuk mencari kemuliaan dengan selain Islam, baik dengan mengumpulkan harta benda dan lainnya dari perkara-perkara dunia; niscaya Allah akan menghinakan mereka, sebagaiman disabdakan oleh Rasulullah -shallallaahu ‘alaihi wa sallam-:

إِذَا تَبَايَعْتُمْ بِالْعِيْنَةِ، وَأَخَذْتُمْ أَذْنَابَ الْبَقَرِ، وَرَضِيْتُمْ بِالزَّرْعِ، وَتَرَكْتُمُ الْجِهَادَ؛ سَلَّطَ اللهُ عَلَيْكُمْ ذُلًّا؛ لَا يَنْزِعُهُ حَتَّى تَرْجِعُوْا إِلَى دِيْنِكُمْ

“Jika kalian telah berjual beli dengan sistem “Bai’ul ‘Iinah”[2], kalian memegang ekor-ekor sapi dan ridha dengan pertanian[3], dan kalian meninggalkan jihad[4]; niscaya Allah akan menjadikan kehinaan menguasai kalian, Dia tidak akan mencabut (kehinaan) itu (dari kalian); hingga kalian kembali kepada agama kalian.”[5]

Maka kesibukkan kaum muslimin justru merupakan penyakit yang mengantarkan kepada kehinaan.

[4]- Inilah di antara penyakit dunia Islam: kesibukan terhadap dunia, yang menjadikan kebanyakan kaum muslimin pada zaman sekarang tidak layak mewakili agama Islam, karena mereka telah meninggalkan berbagai kewajiban dan menerjang berbagai larangan demi untuk meraih berbagai perkara keduniaan, baik: harta, wanita, maupun kekuasaan. Walaupun jumlah mereka banyak; akan tetapi mereka justru menjadi santapan musuh-musuh mereka. Rasulullah -shallallaahu ‘alaihi wa sallam- bersabda:

((يُوْشِكُ الْأُمَمُ أَنْ تَدَاعَى عَلَيْكُمْ كَمَا تَدَاعَى الْأَكَلَةُ إِلَى قَصْعَتِهَا)) فَقَالَ قَائِلٌ: وَمِنْ قِلَّةٍ نَحْنُ يَوْمَئِذٍ؟ قَالَ: ((بَلْ أَنْتُمْ يَوْمَئِذٍ كَثِيرٌ، وَلٰكِنَّكُمْ غُثَاءٌ كَغُثَاءِ السَّيْلِ، وَلَيَنْزَعَنَّ اللهُ مِنْ صُدُورِ عَدُوِّكُمُ الْمَهَابَةَ مِنْكُمْ، وَلَيَقْذِفَنَّ اللهُ فِيْ قُلُوْبِكُمُ الْوَهْنَ)) فَقَالَ قَائِلٌ: يَا رَسُولَ اللهِ! وَمَا الْوَهْنُ؟ قَالَ: ((حُبُّ الدُّنْيَا، وَكَرَاهِيَةُ الْمَوْتِ))

“Hampir tiba saatnya umat-umat (lain) mengerumuni kalian (kaum muslimin) seperti orang-orang yang akan makan mengerumuni bejana (makanan)nya.” Ada yang bertanya: Apakah dikarenakan jumlah kami pada waktu itu adalah sedikit? Beliau menjawab: “Bahkan jumlah kalian pada waktu itu banyak, akan tetapi keadaan kalian seperti buih yang dibawa arus air. Dan sungguh, Allah akan mencabut dari dada musuh kalian: rasa takut terhadap kalian, serta Allah akan timpakan “Al-Wahn” (kelemahan) di dalam hati kalian.” Ada yang bertanya: Wahai Rasululullah! Apakah “Al-Wahn” itu? Beliau menjawab: “Cinta dunia dan takut mati.”[6]

Maka di sini Rasulullah -shallallaahu ‘alaihi wa sallam- mengabarkan bahwa kaum kafirin -dengan berbagai macam kelompoknya- berkonspirasi untuk merebut harta dan negeri kaum muslimin. Hla itu terjadi ketika keadaan kaum muslimin ibarat buih yang hanyut terbawa gelombang pemikiran orang-orang kafir; baik dari segi agama maupun peradaban. Sehingga Allah mencabut rasa takut terhadap kaum muslimin dari dada orang-orang kafir. Dan Rasulullah -shallallaahu ‘alaihi wa sallam- juga mengabarkan bahwa kaum muslimin terkena penyakit “Al-Wahn” (kelemahan); yaitu: cinta dunia dan takut mati.

[5]- Kekuatan kaum muslimin bukanlah dengan hanya banyaknya jumlah, dan bukan pula dengan peralatan yang lengkap, akan tetapi kekuatan mereka terletak pada ‘Aqidah dan Manhaj mereka. Sehingga mereka akan kembali kuat dan ditakuti oleh musuh-musuh mereka: jika mereka mau kembali kepada agama mereka, dimana mereka mempelajari agama Islam yang murni, mengamalkannya, dan mendakwahkannya. Sebagaimana sabda Rasulullah -shallallaahu ‘alaihi wa sallam- pada hadits sebelumnya:

…سَلَّطَ اللهُ عَلَيْكُمْ ذُلًّا؛ لَا يَنْزِعُهُ حَتَّى تَرْجِعُوْا إِلَى دِيْنِكُمْ

“…niscaya Allah akan menjadikan kehinaan menguasai kalian, Dia tidak akan mencabut (kehinaan) itu (dari kalian); hingga kalian kembali kepada agama kalian.”

Dan banyak dari kaum muslimin telah membaca hadits ini dan sering mendengar sabda beliau:

…حَتَّى تَرْجِعُوْا إِلَى دِيْنِكُمْ

“…hingga kalian kembali kepada agama kalian”

Maka mereka mengira bahwa kembali kepada agama adalah suatu perkara yang mudah. Padahal kembali kepada agama adalah sangat membutuhkan usaha yang luar biasa kerasnya. Hal itu dikarenakan agama ini telah ditimpa banyak usaha untuk mengubah hakikat-hakikatnya. Bahkan sebagian orang telah berhasil untuk melakukan perubahan atau penyimpangan terhadap agama ini. Dan sebagian perubahan ini diketahui oleh banyak manusia, dan sebagiannya lagi tidak demikian; bahkan sebaliknya; yakni: banyak yang tidak diketahui oleh umumnya manusia. Ada masalah-masalah ‘Aqidah dan Fiqih yang mereka sangka hal itu bagian dari agama; padahal bukan bagian dari agama sama sekali…

Oleh karena itulah perbaikan sebenarnya -yang wajib dilakukan oleh para da’i yang mendakwahkan Islam-; adalah: dengan cara mereka harus mulai dengan memahamkan diri mereka, kemudian juga umat: terhadap agama yang dibawa oleh Rasulullah -‘alaihish shalaatu was salaam-. Dan tidak ada jalan untuk memahami hakikat agama yang Allah -‘Azza Wa Jalla- turunkan; kecuali dengan MEMPELAJARI AL-QUR’AN DAN AS-SUNNAH …

Oleh karena itu; maka kita harus mulai dengan mengajarkan agama Islam yang benar kepada manusia -sebagaimana Rasulullah ‘alaihish shalaatu was salaam memulai dengannya-. Akan tetapi kita tidak boleh mencukupkan diri hanya sekedar mengajarkan saja; karena sungguh, Islam telah dimasuki dengan hal-hal yang bukan berasal darinya dan yang tidak ada kaitannya sama sekali dengannya; berupa bida’ah-bid’ah dan hal-hal yang baru; yang menyebabkan hancurnya bangunan Islam yang kokoh.

[6]- Jama’ah Shalat ‘Idul Fithri -rahimakumullaah-

Kemudian di antara hal yang hendaknya kita bergembira dengannya adalah: Al-Qur’an, sebagaimana yang Allah firmankan:

قُلْ بِفَضْلِ اللهِ وَبِرَحْـمَتِهِ فَبِذٰلِكَ فَلْيَفْرَحُوْا هُوَ خَيْرٌ مِـمَّا يَـجْمَعُوْنَ

“Katakanlah (Muhammad): “Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya; hendaklah dengan itu mereka bergembira. Itu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan.” (Yunus: 58)

Ibnu ‘Abbas, Al-Hasan dan Qatadah berkata: “Karunia Allah” adalah Islam, dan “rahmat-Nya” adalah: Al-Qur’an.

Rasulullah -shallallaahu ‘alaihi wa sallam- bersabda:

كِتَابُ اللهِ: هُوَ حَبْلُ اللهِ الْمَمْدُوْدُ مَنَ السَّمَاءِ إِلَى الْأَرْضِ

“Kitabullah (Al-Qur’an) adalah: tali Allah yang terbentang dari langit ke bumi.”[7]

Beliau juga bersabda:

فَإِنَّ هٰذَا الْقُرْآنَ سَبَبٌ (أَيْ: حَبْلٌ)؛ طَرْفُهُ بِيَدِ اللهِ، وَطَرْفُهُ بِأَيْدِيْكُمْ، فَتَمَسَّكُوْا بِهِ

“Sungguh, Al-Qur’an ini adalah sebab (yakni: tali); yang ujungnya ada di tangan Allah, dan ujung (lainnya) ada di tangan-tangan kalian; maka berpeganglah kalian dengannya.”[8]

[7]- Maka jelas sekali bahwa sebagai umat Islam; mereka harus menjadikan Al-Qur’an sebagai pegangan hidup; dengan: membacanya, memahaminya, dan mengamalkannya; karena itu adalah tujuan Al-Qur’an diturunkan. Jangan sampai Al-Qur’an diabaikan, sebagaimana yang Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam pernah adukan kepada Allah:

وَقَالَ الرَّسُوْلُ يَا رَبِّ إِنَّ قَوْمِي اتَّـخَذُوْا هٰذَا الْقُرْآنَ مَهْجُوْرًا

“Dan Rasul (Nabi Muhammad) berkata, “Wahai Rabb-ku, sesungguhnya kaumku telah menjadikan Al-Qur’an ini diabaikan.” (QS. Al-Furqan: 30)

[8]- Allah telah menyebutkan bahwa di dalam Al-Qur’an terdapat obat:

وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْآنِ مَا هُوَ شِفَاءٌ وَرَحْـمَةٌ لِلْمُؤْمِنِيْنَ…

“Dan Kami turunkan dari Al-Qur’an (sesuatu yang menjadi penawar/obat dan rahmat bagi orang-orang yang beriman…” (QS. Al-Israa’: 82)

Maka di dalam Al-Qura’n terdapat obat bagi penyakit syubhat -yang menyerang keilmuan-, dan dari penyakit syahwat -yang menyerang amalan-.

Seorang yang mau mentadabburi Al-Qur’an; maka dia akan mendapatkan: penjelasan-penjelasan dan bukti-bukti yang pasti; yang menjelaskan kebenaran dan menolak kebatilan; sehingga hilanglah penyakit syubhat -yaitu; keraguan dan kerancuan dalam ilmu agama- yang ada pada dirinya.

Dan Al-Qur’an dengan: nasehatnya, anjuran dan ancamannya, permisalan, dan kisahnya; akan menghilangkan penyakit syahwat -yaitu keinginan yang jelek untuk tidak mengamalkan kebenaran- yang ada pada diri seorang hamba.

Maka di dalam Al-Qur’an juga terdapat obat bagi penyakit cinta dunia yang menyebabkan terpuruknya keadaan kaum muslimin -sebagaimana telah dijelaskan-. Karena di dalam Al-Qur’an terdapat ajakan untuk zuhud terhadap dunia; dengan memberikan penjelasan bahwa kehidupan dunia adalah sementara sedangkan kehidupan akhirat adalah kekal, termasuk juga penjelasan bagaimana kesudahan orang-orang yang berbangga dengan urusan keduniaan; seperti Fir’aun, Qarun, dan lainnya.

[9]- Dan di antara do’a yang diajarkan oleh Nabi -shallallaahu ‘alaihi wa sallam- adalah:

اَلـلّٰـهُـمَّ إِنِّــيْ عَـبْـدُكَ، ابْـنُ عَـبْـدِكَ، ابْـنُ أَمَـتِـكَ، نَـاصِـيَـتِـيْ بِـيَـدِكَ، مَـاضٍ فِـيَّ حُـكْـمُـكَ، عَـدْلٌ فِـيَّ قَـضَـاؤُكَ، أَسْـأَلُـكَ بِـكُـلِّ اسْـمٍ هُـوَ لَـكَ سَــمَّـيْـتَ بِـهِ نَـفْـسَـكَ، أَوْ أَنْــزَلْــتَـهُ فِـيْ كِــتَـابِـكَ، أَوْ عَـلَّـمْـتَـهُ أَحَـدًا مِـنْ خَـلْـقِـكَ، أَوِ اسْــتَـأْثَــرْتَ بِــهِ فِـيْ عِـلْـمِ الْــغَــيْـبِ عِــنْــدَكَ، أَنْ تَــجْـعَـلَ الْـقُـرْآنَ رَبِـيْـعَ قَـلْـبِـيْ، وَنُــوْرَ صَـدْرِيْ، وَجَـلَاءَ حُــزْنِـيْ، وَذَهَـابَ هَــمِّـيْ.

“Ya Allah, sesungguhnya aku adalah hamba-Mu, anak hamba-Mu, dan anak hamba perempuan-Mu, ubun-ubunku berada di tangan-Mu, hukum-Mu berlaku terhadap diriku dan ketetapan-Mu adil pada diriku. Aku memohon kepada-Mu dengan segala Nama yang menjadi milik-Mu, yang Engkau namai diri-Mu dengannya, atau yang Engkau turunkan di dalam Kitab-Mu, atau yang Engkau ajarkan kepada seseorang dari makhluk-Mu, atau yang Engkau rahasiakan dalam ilmu ghaib yang ada di sisi-Mu, maka AKU MOHON DENGAN ITU AGAR ENGKAU JADIKAN AL-QUR’AN SEBAGAI PENYEJUK HATIKU, CAHAYA BAGI DADAKU, DAN PENGHILANG KESUSAHANKU.”[9]

[10]- Maka -sekali lagi- khathib ingatkan bahwa: selain kita bergembira dengan datangnya hari ‘Idul Fithri ini; maka kita juga harus: BERGEMBIRA DENGAN ISLAM DAN DENGAN AL-QUR’AN.

اللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ، وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ، اللٰهُمَّ بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ، وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ

اللّٰهُمَّ إِنّا نَسْأَلُكَ فِعْلَ الخَيْرَاتِ، وَتَرْكَ الْمُنْكَرَاتِ، وَحُبَّ الْمَسَاكِيْنِ، وَأَنْ تَغْفِرَ لَنَا وَتَرْحَمَنَا، وَإِذَا أَرَدْتَ فِتْنَةَ قَوْمٍ فَتَوَفَّنَا غَيْرَ مَفْتُونٍ، وَنَسْأَلُكَ حُبَّكَ وَحُبَّ مَنْ يُحِبُّكَ، وَحُبَّ عَمَلٍ يُقَرِّبنَا إِلَى حُبِّكَ

اللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْوَاتِ

اللّٰهُمَّ زَيِّـــنَّا بِـزِيْــنَــةِ الْإِيْـمَانِ، وَاجْــعَــلْــنَا هُــدَاةً مُــهْــتَــدِيْــنَ

اللّٰهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ أَنْ تَــجْـعَـلَ الْـقُـرْآنَ رَبِـيْـعَ قُلُوْبِنَا، وَنُــوْرَ صُدُوْرِنَا، وَجَـلَاءَ أَحْزَانِنَا، وَذَهَـابَ هُـمُوْمِنَا.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ، وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ

وَآخِرُ دَعْوَانَا: أَنِ الْحَمْدُ لِلّٰهِ رّبِّ الْعَالَمِيْنَ

[1] Diriwayatkan oleh Al-Hakim (no. 208).

[2] Jual beli yang didalamnya terkandung unsur riba terselubung.

[3] Isyarat kepada: sibuknya kaum muslimin dengan urusan dunia mereka.

[4] Kesibukan mereka dengan dunia sampai mengantarkan mereka untuk meninggalkan kewajiban mereka; diantaranya adalah jihad. Lihat: “At-Tashfiyah wat Tarbiyah Wa Haajatul Muslimiin Ilaihimaa” (hlm. 7-11) milik Imam Al-Albani -rahimahullaah-.

[5] Shahih: HR. Abu Dawud (no. 3462), dari ‘Abdullah bin ‘Umar -radhiyallaahu ‘anhumaa-. Lihat: “Silsilah al-Ahaadiits ash-Shahiiihah” (no. 11) karya Imam Muhammad Nashiruddin Al-Albani -rahimahullaah-.

[6] Shahih: HR. Abu Dawud (no. 4297), dan lainnya. Dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani -rahimahullaah- di dalam “Silsilah Al-Ahaadiits Ash-Shahiihah” (no. 958)

[7] “Ash-Shahiihah” (no. 2024).

[8] “Ash-Shahiihah” (no. 713).

[9] Nabi -shallallaahu ‘alaihi wa sallam- bersabda: “Tidaklah seorang pun ditimpa kesedihan dan kesusahan; kemudian membaca…(do’a ini); melainkan Allah akan hilangkan kesedihan dan kesusahannya, dan Dia gantikan dengan kegembiraan.” Maka ada yang bertanya: Wahai Rasulullah, tidakkah kami pelajari (do’a) itu? Beliau menjawab: “Iya, sepantasnya bagi setiap orang yang mendengarnya untuk mempelajarinya.”

Shahih: HR. Ahmad (I/391, 452), Al-Hakim (I/509), dan Ibnu Hibban (no. 968-At-Ta’liiqaatul Hisaan). Dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani -rahimahullaah- dalam “Silsilah al-Ahaadiits ash-Shahiihah” (no. 199). Lihat: Do’a & Wirid (hlm. 302-303-cet. kesebelas) karya Ustadz Yazid bin ‘Abdul Qadir Jawas -hafizhahullaah-.

Ustadz Ahmad Hendrix

https://www.facebook.com/ahmadhendrix.eskanto/posts/472226769784871

HADITS-HADITS “BULUUGHUL MARAAM MIN ADILLATIL AHKAAM”

HADITS-HADITS “BULUUGHUL MARAAM MIN ADILLATIL AHKAAM”

Allah -Ta’aalaa- berfirman:

…وَأَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الذِّكْرَ لِـتُـبَـيِّـنَ لِلنَّاسِ مَا نُـزِّلَ إِلَيْهِمْ وَلَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُوْنَ

“…Dan Kami turunkan Adz-Dzikr (Al-Qur’an) kepadamu, agar engkau menerangkan kepada manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan agar mereka memikirkan.” (QS. An-Nahl: 44)

“Sungguh, penjelasan Rasul -shallallaahu ‘alaihi wa sallam- yang disebutkan dalam ayat…ada 3 (tiga) jenis: perkataan, perbuatan, dan “taqriir” (persetujuan).”[1] “Sehingga, barangsiapa yang ingin memahami Al-Qura’n dari selain jalan Rasul -shallallaahu ‘alaihi wa sallam-; maka telah sesat dengan kesesatan yang jauh.”[2] “Apakah engkau dapatkan dalam Kitab (Al-Qur’an) bahwa Zhuhur dan ‘Ashar 4 (empat) raka’at, dan “jahr” (dikeraskan) bacaannya pada Shalat Shubuh, Maghrib, dan ‘Isya, dan dipelankan bacaannya pada Shalat Zhuhur dan ‘Ashr, dan…pada raka’at terakhir pada Shalat Maghrib dan dua raka’at terakhir pada Shalat ‘Isya…?”[3] dan seterusnya…Oleh karena itulah Rasulullah -shallallaahu ‘alaihi wa sallam- bersabda:

صَلُّوْا كَمَا رَأَيْتُمُوْنِيْ أُصَلِّيْ

“Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat saya Shalat.”[4]

“Maka menjadi tugas masing-masing orang untuk mengerahkan segenap usaha dan kemampuannya untuk mengenal apa yang beliau bawa serta untuk taat kepada beliau. Karena ini adalah jalan keselamatan dari adzab yang pedih, dan untuk mendapatkan kebahagiaan di negeri kenikmataan. Dan cara untuk hal tersebut adalah dengan: ilmu riwayat dan penukilan (hadits).”[5]

“Dan Al-Qur’an memiliki keistimewaan dimana Allah mengkhususkannya dengan mu’jizat yang membedakannya dengan perkataan manusia, sebagaimana firman-Nya:

قُلْ لَئِنِ اجْتَمَعَتِ الْإِنْسُ وَالْـجِنُّ عَلَى أَنْ يَأْتُوْا بِـمِثْلِ هٰذَا الْقُرْآنِ لَا يَأْتُوْنَ بِـمِثْلِهِ وَلَوْ كَانَ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ ظَهِيْرًا

“Katakanlah: Sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa (dengan) Al-Qur’an ini; mereka tidak akan dapat membuat yang serupa dengannya, sekalipun mereka saling membantu satu sama lain.” (QS. Al-Israa’: 88)

Dan Al-Qur’an telah dinukilkan dengan mutawatir, sehingga (dengan keadaan semacam ini); maka tidak ada seorang pun yang berhasrat untuk merubah lafazh maupun hurufnya. Akan tetapi setan berhasrat untuk memasukkan penyelewangan dan penggantian dalam makna-maknanya dengan perubahan dan takwil, dan setan juga berhasrat untuk memasukkan penambahan dan pengurangan dalam hadits-hadits agar bisa menyesatkan sebagian hamba.

Maka Allah -Ta’aalaa- para ahli dan kritikus (hadits), orang-orang yang berpetunjuk dan lurus, mereka mengalahkan golongan setan, mereka membedakan antara yang benar dengan yang dusta, mengorbankan diri untuk menjaga As-Sunnah dan makna-makna Al-Qur’an: agar tidak ditambah dan tidak pula dikurangi…

Maka para ulama yang ahli dalam ilmu penukilan dan kritik terhadap riwayat dan sanad; mereka melakukan perjalanan untuk itu ke berbagai negeri, dan mereka meninggalkan lezatnya pembaringan…dan banyak kisah-kisah mereka yang masyhur dalam hal ini…yang diketahui oleh para ahlinya…

Dan orang-orang yang menjaga ilmu yang diwarisi dari Rasulullah -shallallaahu ‘alaihi wa sallam-…yang menjaga (hadits) dari penambahan dan pengurangan: mereka adalah seagung-agungnya wali-wali Allah yang bertaqwa, dan golongan-Nya yang beruntung. Mereka memiliki kelebihan dari ahli iman dan amal shalih yang lainnya, sebagaimana yang Allah -Ta’aalaa- firmankan:

…يَرْفَعِ اللهُ الَّذِيْنَ آمَنُوْا مِنْكُمْ وَالَّذِيْنَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ…

“…niscaya Allah akan mengangkat (derajat) orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat…” (QS. Al-Mujadilah: 11)

Sungguh, Allah telah menanamkan keimanan dalam hati mereka dan telah menguatkan mereka dengan pertolongan dari-Nya; tatkala mereka memberikan loyalitas kepada Allah dan Rasul-Nya dan memusuhi orang yang berpaling dari-Nya. Allah ­-Ta’aalaa- berfirman:

لَا تَـجِدُ قَوْمًا يُؤْمِنُوْنَ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ يُوَادُّوْنَ مَنْ حَادَّ اللهَ وَرَسُوْلَهُ وَلَوْ كَانُوْا آبَاءَهُمْ أَوْ أَبْنَاءَهُمْ أَوْ إِخْوَانَهُمْ أَوْ عَشِيْرَتَهُمْ أُولٰئِكَ كَتَبَ فِي قُلُوْبِـهِمُ الْإِيْـمَانَ وَأَيَّدَهُمْ بِرُوْحٍ مِنْهُ وَيُدْخِلُهُمْ جَنَّاتٍ تَـجْرِيْ مِنْ تَـحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِيْنَ فِيهَا رَضِيَ اللهُ عَنْهُمْ وَرَضُوْا عَنْهُ أُولٰئِكَ حِزْبُ اللهِ أَلَا إِنَّ حِزْبَ اللهِ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَ

“Engkau (Muhammad) tidak akan mendapatkan suatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari Akhir, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapaknya, anaknya, saudaranya atau keluarganya. Mereka itulah orang-orang yang Allah telah menanamkan keimanan dalam hati mereka dan menguatkan mereka dengan pertolongan yang datang dari-Nya. Lalu Dia memasukkan mereka ke dalam Surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Allah ridha terhadap mereka dan mereka pun merasa puas terhadap (limpahan rahmat)-Nya. Merekalah golongan Allah. Ingatlah, sesungguhnya golongan Allah itulah yang beruntung.” QS. Al-Mujadilah: 22).”[6]

“Demikianlah, dan sungguh, ilmu Hadits adalah termasuk ilmu yang paling utama dari ilmu-ilmu yang utama, dan yang paling bermanfaat di antara cabang-cabang ilmu yang bermanfaat, ilmu ini dicintai oleh laki-laki yang jantan dan gagah, yang ditekuni oleh para peneliti dari kalangan ulama yang sempurna (pada tingkatannya), dan dibenci oleh orang-orang yang rendah dan bawah.”[7]

Rasulullah -shallallaahu ‘alaihi wa sallam- bersabda:

نَضَّرَ اللهُ امْرَأً سَـمِعَ مِنَّا حَدِيْثًا، فَحَفِظَهُ حَتَّى يُـبَلِّغَهُ غَيْرَهُ، فَإِنَّهُ رُبَّ حَامِلِ فِقْهٍ لَيْسَ بِفَقِيْهٍ، وَرُبَّ حَامِلِ فِقْهٍ إِلَى مَنْ هُوَ أَفْقَهُ مِنْهُ

“Semoga Allah membaguskan wajah seorang yang mendengar hadits dari kami, kemudian dia menjaganya; sehingga dia sampaikan kepada orang lain. Sungguh, terkadang orang yang mengemban fiqih (hadits): tidaklah faqih (faham), dan terkadang pengemban fiqih (hadits) menyampaikan kepada orang yang lebih faqih (lebih faham) darinya.”[8]

Al-Khathib Al-Baghdadi rahimahullaah (wafat th. 462 H) berkata dalam “Kitaab al-Faqiih wal Mutafaqqih” (hlm. 548-549- cet. Daar Ibnil Jauzi):

“Maka beliau -shallallaahu ‘alaihi wa sallam- mengabarkan bahwa terkadang ada orang yang membawa hadits akan tetapi tidak menjaga dan tidak pula memahaminya. Dan kebanyakan para penulis hadits pada zaman ini jauh dari penjagaan dan kosong dari pemahaman. Mereka tidak bisa memisahkan antara (hadits) yang berpenyakit dengan yang shahih, tidak bisa membedakan antara rawi yang tsiqah dengan yang dicela (dha’if), mereka juga tidak membahas tentang makna (hadits) yang tidak mereka ketahui…”

Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah (wafat th. 751 H) -rahimahullaah- berkata:

“Dan “Ushuulul Ahkaam” (hadits-hadits inti dalam pembahasan Fiqih-pent) yang hukum-hukum (Fiqih) berporos padanya: ada sekitar 500 (lima ratus) hadits. Dan kalau dijabarkan dan dirinci lagi: menjadi sekitar 4000 (empat ribu) hadits. Dan sebenranya yang sangan menyulitkan dan memberatkan adalah: perkiraan-perkiraan (pembahasan) yang ada dalam pikiran, masalah-masalah pelik baik dalam furu’ maupun ushul; yang sebenarnya Allah tidak menurunkan keterangan atasnya.”[9]

Dan kitab “Buluughul Maraam” karya Al-Hafizh Ahmad bin ‘Ali bin Hajar Al-‘Asqalani -rahimahullaah-: mencakup lebih dari 1000 (seribu) hadits dalam masalah Fiqih, maka kemungkinan kitab ini telah mencakup “Ushuulul Ahkaam” (hadits-hadits inti dalam pembahasan Fiqih-pent) yang hukum-hukum (Fiqih) berporos padanya; yang jumlahnya hanya 500 (lima ratus) hadits.

Dan untuk membahas Kitab “Buluughul Maraam”; maka harus diperhatikan Takhrij hadits-hadits yang ada, karena sebagaimana dikatakan oleh Imam Muhammad Nashiruddin Al-Albani -rahimahullaah-:

“(Orang-orang yang) konsentrasinya hanya pada perselisihan pendapat para ulama dalam masalah-masalah Fiqih dan penjelasan mana yang kuat dan mana yang lemah saja, sedangkan mereka tidak mendalami Ilmu Hadits dan hanya bersandar pada para ulama Ahli Hadits yang terdahulu maupun belakangan -yang dianggap terpercaya-; maka orang-orang semacam ini ijtihadnya tidaklah bersih dari kesalahan, dan…tindakan mereka tidak mencukupi untuk dikatakan sempurna. Karenag sungguh, (mereka) harus merujuk kaidah-kaidah ilmu Hadits,…karena relaitanya: ILMU FIQIH TEGAK DI ATAS ILMU HADITS.”[10]

Sehingga hadits-hadits yang terdapat dalam “Buluughul Maraam”; hendaknya dibahas secara “Riwaayah” maupun “Diraayah”. Silahkan lihat pembahasan kedua istilah tersebut di sini:

https://m.facebook.com/story.php…

Dan perlu kami ingatkan juga bahwa: pembahasan yang berkaitan dengan masalah-masalah Hadits dan Fiqih sangatlah penting: meskipun “kami (juga) mengetahui apa yang menimpa kaum muslimin (di berbagai negeri) berupa: ujian dan petaka, kekalahan dan musibah. (Akan tetapi) tidaklah ini menimpa mereka melainkan dikarenakan: jauhnya mereka dari sumber yang jernih dan manhaj yang lurus, yang Allah jelaskan dalam kitab-Nya dan Rasul terangkan dalam Siroh dan Sunnahnya.

Sehingga, mengenal hukum-hukum syar’i dan masalah-masalah Fiqih tidaklah dihentikan dan dipengaruhi oleh suatu perkara. Bahkan hal itu akan mendorong kaum muslimin untuk: berilmu, beramal, dan menyebarkan kebaikan serta dakwah mengajak kepada Allah -Tabaaraka Wa Ta’aalaa-.”[11]

Terakhir, bagi yang ingin membahas masalah Hadits dan Fiqih; maka harus diperhatikan juga 2 (dua) perkara berikut:

Pertama: Memulai dengan yang penting, sebagaiamana dikatakan oleh Imam Adz-Dzahabi (wafat th. 748 H) -rahimahullaah- tentang adab seorang Muhaddits (Ahli Hadits):

وَأَنْ لَا يَغُشَّ الْمُبْتَدِئِـيْـنَ، بَلْ يَدُلَّـهُمْ عَلَى الْمُهِمِّ، فَالدِّيْنُ النَّصِيْحَةُ

“Dan jangan berlaku curang kepada “mubtadi-iin” (para pemula), akan tetapi hendaknya menunjukkan mereka kepada yang penting, karena agama adalah nasihat.”[12]

Kedua: Mengutamakan pembahasan yang bisa diamalkan, sebagaimana dikatakan oleh Imam As-Syathibi (wafat th. 790 H) -rahimahullaah-:

كُلُّ مِسْأَلَةٍ لَا يَنْبَنِيْ عَلَيْهَا عَمَلٌ؛ فَالْـخَوْضُ فِيْهَا خَوْضٌ فِيْمَا لَـمْ يَدُلَّ عَلَى اسْتِحْسَانِهِ دَلِيْلٌ شَرْعِيٌّ. وَأَعْنِيْ بِالْعَمَلِ: عَمَلَ الْقَلْبِ وَعَمَلَ الْـجَوَارِحِ، مِنْ حَيْثُ هُوَ مَطْلُوْبٌ شَرْعًا

“Setiap permasalahan yang tidak terbangaun di atasnya sebuah amalan; maka mendalaminya adalah masuk ke dalam kategori mendalami sesuatu yang tidak ada dalil syar’i yang menunjukkan atas bagusnya (pendalaman) tersebut. Yang saya maksud dengan amalan adalah: amalan hati dan amalan anggota badan, dilihat dari segi bahwa hal itu dituntut secara syari’at.”[13]

وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَـبِـيِّـنَا مُـحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ

Semoga Allah memberikan shalawat dan salam atas Nabi kita Muhammad, dan atas keluarga dan Shahabat beliau.

-ditulis oleh: Ahmad Hendrix-

[1] “Da’watunaa” (hlm. 62) milik Imam Al-Albani -rahimahullaah-.

[2] “Da’watunaa” (hlm. 60-61) milik Imam Al-Albani -rahimahullaah-.

[3] “Jummaa’ul ‘Ilmi” (IX/7-8- al-Umm) karya Imam Asy-Syafi’i –rahimahullaah-.

[4] HR. Al-Bukhari (no. 631).

[5] “Majmuu’ Fataawaa Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah” (I/5-6).

[6] “Majmuu’ Fataawaa Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah” (I/7-10).

[7] “Muqaddimah Ibnish Shalaah” (hlm. 11-12- at-Taqyiid wal Iidhaah)

[8] Shahih: HR. Ahmad dengan sanad yang shahih. Lihat: “Sullamul Wushuul Fii Takhriij Ahaadiits ar-Rasuul” (no. 140), karya Ahmad Hendrix.

[9] “I’laamul Muwaqqi’iin” (hlm. 414- cet. Daar Thayyibah).

[10] “Su-aalaat Ibni Abil ‘Ainain” (hlm. 50-53).

[11] Perkataan Syaikh ‘Ali bin Hasan Al-Halabi -hafizhahullaah- dalam “Ahkaamul ‘Iidain” (hlm. 9-10).

[12] “Al-Muuqizhah Fii ‘Ilmi Mushthalahil Hadiits” (hlm. 66).

[13] “Al-Muwaafaqaat” (I/43).

https://www.facebook.com/ahmadhendrix.eskanto/posts/474288109578737

FAIDAH MUQADDIMAH MUSLIM ( Bagian ke 4 – terakhir )

FAIDAH MUQADDIMAH MUSLIM

(bersama Syaikh Ziyad Al-‘Abbadi -hafizhahullaah-)

Bagian Keempat

[23]- Pembahasan terakhir: tentang sanad “Mu’an’an” (riwayat yang di dalam sanadnya terdapat: fulan ‘an (dari) fulan)

Agar sanad “Mu’an’an” di antara dua perawi bisa diterima; maka Imam Muslim mensyaratkan:

1. Keduanya satu zaman.

2. Ada kemungkinan bertemu; seperti:

– keduanya hidup di satu kota, atau

– keduanya pernah bersafar (untuk mencari hadits) ke tempat yang sama, atau

– keduanya pernah bersafar dalam waktu yang sama (walaupun sebentar) ke tempat yang sama (seperti: berhaji atau ‘umrah).

3. (Rawi yang meriwayatkan dengan lafazh ‘an) bukan mudallis.

4. (Kedua perawi tersebut) tsiqah.

Kemudian ada orang yang membawa pendapat yang baru -menurut Imam Muslim-; yakni: untuk yang kedua: tidak cukup hanya dengan “kemungkinan bertemu”, akan tetapi “harus pernah bertemu”. Dan hal itu bisa diketahui dengan cara menemukan jalan sanad -walau satu- yang di dalamnya terdapat kejelasan pernah mendengar; sehingga bisa dipastikan: keduanya pernah bertemu.

Syarat ini dinisbatkan kepada Ibnul Madini dan Al-Bukhari dalam setiap riwayat. Dan ada yang berpendapat bahwa: Al-Bukhari hanya mensyaratkannya dalam kitab Shahih-nya.

Orang yang mensyaratkan “harus pernah bertemu” antara perawi -yang menggunakan ‘an- dengan gurunya (orang yang dia riwayatkan haditsnya), beralasan: karena jika mencukupkan dengan “ada kemungkinan bertemu”; maka dikhawatirkan terjadinya “Mursal Khafiyy”; yakni: ada perawi -yang bukan Mudallis- akan tetapi dia meriwayatkan dari orang yang sezaman dengannya padahal dia tidak bertemu (sehingga sanadnya terputus).

Maka Imam Muslim membantah dengan beberapa segi, dan di antara bantahan terkuat Imam Muslim adalah:

1. Kekhawatiran tersebut juga bisa terjadi pada orang yang pernah bertemu, akan tetapi di suatu saat dia meriwayatkan hadits darinya dengan lafazha ‘an, dan setelah diteliti ternyata dia tidak langsung meriwayatkan darinya (alias: dengan perantara) -padahal dia bukan Mudallis-.

Dan Imam Muslim membawakan bukti-bukti akan terjadinya hal tersebut.

Maka konsekuensi orang yang tidak menerima sanad ‘an yang “tidak ada kepastian bertemu” -karena khawatir terputus (karena tidak bertemu walaupun sezaman)-; maka dia juga harus menolak sanad ‘an walaupun keduanya pernah bertemu; karena kemungkinan terputus tetap ada.

Jadi, konsekuensinya dia harus:

– menolak seluruh sanad “Mu’an’an”, atau

– menerima semuanya asalkan ada kemungkinan bertemu.

2. Imam Muslim membawakan bukti-bukti bahwa ada riwayat-riwayat yang menggunakan lafazh ‘an padahal tidak ada kepastian bertemu, akan tetapi riwayat-riwayat tersebut disepakati ke-shahih-annya (oleh para ulama).

-ditulis oleh: Ustadz Ahmad Hendrix-

FAIDAH MUQADDIMAH SHAHIH MUSLIM ( Bagian ke 3 )

FAIDAH MUQADDIMAH SHAHIH MUSLIM

(bersama Syaikh Ziyad Al-‘Abbadi -hafizhahullaah-)

Bagian Ketiga

[17]- Mengambil ilmu hadits harus dari ahlinya

عَنْ سُلَيْمَانَ بْنِ مُوسَى، قَالَ : لَقِيتُ طَاوُسًا، فَقُلْتُ : حَدَّثَنِي فُلَانٌ: كَيْتَ وَكَيْتَ . قَالَ: إِنْ كَانَ صَاحِبُكَ مَلِيًّا فَخُذْ عَنْهُ.

Dari Sulaiman bin Musa, dia berkata: Saya bertemu Thawus, maka saya katakan: Si fulan telah membawakan hadits ini dan hadits itu. Maka beliau (Thawus) berkata: “Kalau temanmu (yang membawakan hadits tersebut) adalah “maliyy”; maka ambillah darinya.”

“Maliyy” adalah: orang yang kuat dan kokoh ketika menerima dan menjaga hadits, dan bagus ketika menyampaikan.

عَنِ ابْنِ أَبِي الزِّنَادِ ، عَنْ أَبِيهِ قَالَ : أَدْرَكْتُ بِالْمَدِينَةِ مِائَةً، كُلُّهُمْ مَأْمُونٌ مَا يُؤْخَذُ عَنْهُمُ الْحَدِيثُ، يُقَالُ : لَيْسَ مِنْ أَهْلِهِ.

Dari Ibnu Abi Zinad, dari bapaknya, dia berkata: Saya dapati di Madinah seratus orang semuanya amanah, akan tetapi tidak diambil hadits dari mereka sama sekali. Dikatkan: karena memang bukan ahlinya.

Yakni: ada banyak orang yang terpercaya agamanya, orang-orang shalih dan ahli ibadah, mereka memiliki ketaqwaan; AKAN TETAPI MEREKA BUKAN AHLI ILMU. (Untuk riwayat hadits); maka harus terkumpul padanya dua perkara:

1. ‘Adaalah (terpercaya agamanya), dan

2. Dhabth (penjagaan terhadap riwayat).

Dan perawi yang terkumpul padanya dua perkara tersebut dinamakan: Tsiqah.

[18]- Mengkritik perawi dengan kejelekan yang ada pada mereka = termasuk nasehat dalam agama, dan bukan termasuk ghibah yang diharamkan

يَقُولُ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ الْمُبَارَكِ عَلَى رُءُوسِ النَّاسِ : دَعُوا حَدِيثَ عَمْرِو بْنِ ثَابِتٍ، فَإِنَّهُ كَانَ يَسُبُّ السَّلَفَ.

‘Abdullah bin Mubarak berkata di hadapan orang-orang: “Tinggalkanlah hadits-hadits yang diriwayatkan ‘Amr bin Tsabit; karena dia biasa mencela Salaf.”

Maka perkataan ‘Abdullah bin Mubarak ini secara lahiriyah adalah: Ghibah, karena Ghibah adalah: engkau menyebut saudaramu dengan sesuatu yang tidak dua sukai. Akan tetapi ini adalah Ghibah yang wajib. AKAN TETAPI (GHIBAH SEMACAM INI) HARUS DIUKUR SESUAI DENGAN KEBUTUHAN.

عَنْ يَحْيَى بْنِ سَعِيدٍ، قَالَ: سَأَلْتُ سُفْيَانَ الثَّوْرِيَّ، وَشُعْبَةَ، وَمَالِكًا، وَابْنَ عُيَيْنَةَ عَنِ الرَّجُلِ لَا يَكُونُ ثَبْتًا فِي الْحَدِيثِ، فَيَأْتِينِي الرَّجُلُ فَيَسْأَلُنِي عَنْهُ، قَالُوا: أَخْبِرْ عَنْهُ أَنَّهُ لَيْسَ بِثَبْتٍ.

Dari Yahya bin Sa’id, dia berkata: Saya bertanya kepada Sufyan Ats-Tsauri, Syu’bah, Malik, dan Ibnu ‘Uyainah: tentang seorang (rawi) yang tidak kokoh dalam hadits, kemudian ada orang yang datang kepadaku dan menanyakanku tentangnya. Mereka berkata: “Beritahu dia kalau (rawi) tersebut tidak kokoh!”

سُئِلَ ابْنُ عَوْنٍ، عَنْ حَدِيثٍ لِشَهْرٍ، وَهُوَ قَائِمٌ عَلَى أُسْكُفَّةِ الْبَابِ، فَقَالَ: إِنَّ شَهْرًا نَزَكُوهُ، إِنَّ شَهْرًا نَزَكُوهُ. قَالَ مُسْلِمٌ -رَحِمَهُ اللَّهُ-: يَقُولُ: أَخَذَتْهُ أَلْسِنَةُ النَّاسِ تَكَلَّمُوا فِيهِ.

Ibnu ‘Aun ditanya tentang hadits-hadits yang diriwayatkan oleh Syahr. Waktu itu beliau (Ibnu ‘Aun) sedang berdiri di (dekat) tiang pintu, maka beliau berkata: “Sungguh, Syahr telah ditinggalkan oleh mereka, Sungguh, Syahr telah ditinggalkan oleh mereka.”

Imam Muslim -rahimahullaah- menjelaskan: “Maksudnya: manusia (ahli ilmu) telah membicarakan (mencela)nya.”

[19]- Kedustaan dan kesalahan (sering) terjadi pada orang-orang shalih dan ahli ibadah (ketika meriwayatkan hadits)

Yahya bin Sa’id Al-Qaththan -rahimahullaah- berkata:

لَمْ نَرَ الصَّالِحِينَ فِي شَيْءٍ أَكْذَبَ مِنْهُمْ فِي الْحَدِيثِ.

“Kami tidak melihat orang yang lebih dusta dalam meriwayatkan hadits; dibandingkan orang-orang shalih.”

Beliau juga berkata:

لَمْ تَرَ أَهْلَ الْخَيْرِ فِي شَيْءٍ أَكْذَبَ مِنْهُمْ فِي الْحَدِيثِ.

“Tidaklah engkau lihat orang yang lebih dusta dalam meriwayatkan hadits; dibandingkan orang-orang yang baik.”

Imam Muslim -rahimahullaah- berkata:

يَقُولُ: يَجْرِي الْكَذِبُ عَلَى لِسَانِهِمْ، وَلَا يَتَعَمَّدُونَ الْكَذِبَ.

“Maksudnya: terjadi kedustaan pada mereka, dan mereka tidak sengaja berdusta.”

Yakni: Dusta dengan makna yang umum (mencakup sengaja dan tidak sengaja).

[20]- Macam-macam perawi yang di-jarh (mendapat celaan/kritikan)

1. Yang terkumpul padanya bid’ah dan kedustaan.

2. Para pemalsu hadits.

3. Tertuduh berdusta; dimana perawi tersebut:

– telah berdusta dalam kesehariannya (bukan dalam hadits), atau

– dia meriwayatkan hadits yang menyelisihi kaidah agama, dan dalam sanadnya: hanya dia yang tertuduh mendustakannya.

4. Ahlul Bid’ah.

5. Banyak salahnya.

6. Para mudallis.

[21]- Sebab kenapa para ulama mengkritik dan mencela para rawi

Imam Muslim -rahimahullaah- berkata:

“Dan kenapa (para ulama) menyingkap cacat para perawi hadits dan penukil khabar, dan mereka juga berfatwa (menjelaskannya) ketika ditanya: dikarenakan besarnya perkara ini. Sebab: khabar/hadits berisi permasalahan agama berupa: penghalalan, pengharaman, perintah, larangan, anjuran, atau peringatan.

Kalau ada perawi yang tidak terpercaya dan tidak amanah, kemudian ada orang yang mengetahui keadaannya akan tetapi tetap meriwayatkan darinya tanpa menjelaskan keadaannya kepada orang lain yang tidak mengetahuinya; maka orang ini berdosa dengan perbuatannya tersebut, dia telah berbuat curang terhadap orang-orang awam kaum muslimin.

Karena bisa jadi sebagian yang mendengar khabar/hadits tersebut: menggunakannya atau menggunakan sebagiannya, padahal bisa jadi kebanyakannya adalah kedustaan, tidak ada asalnya.

Padahal hadits-hadits yang diriwayatkan oleh para perawi yang tsiqah: sudah banyak dan mencukupi; sehingga tidak butuh kepada penukilan perawi yang tidak tsiqah.” Sekian perkataan Imam Muslim

Sebagai contoh terbesarnya adalah: Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim yang mencakup banyak sekali hadits yang shahih.

[22]- Celaan terhadap orang yang hanya memperbanyak hadits tanpa bisa memilah mana yang shahih.

Imam Muslim -rahimahullaah- berkata:

“Saya kira banya orang yang meriwayatkan hadits-hadits lemah ini -padahal dia mengetahui kelemahannya-; maka yang menjadikannya berbuat semacam ini adalah: hanya ingin memperbanyak hadits agar dilihat (dan dipuji) oleh orang-orang awam. Agar dikatakan: “Alangkah banyaknya hadits yang dikumpulkan oleh fulan, dan banyak sekali jumlah yang dia tulis.

Dan orang yang menempuh jalan ini; maka tidak ada bagian (dari ilmu hadits) baginya, dan dia lebih pantas dinamakan orang bodoh dibandingkan orang berilmu.” Sekian perkataan Imam Muslim secara ringkas.

Sebenarnya tidak mengapa engkau menghafal (atau mengumpulkan) hadits sebanyak-banyaknya, asalkan harus dipilih (mana yang shahih) ketika akan disampaikan.

-ditulis oleh Ustadz Ahmad Hendrix-

https://www.facebook.com/ahmadhendrix.eskanto/posts/482163708791177