YANG KITA BUTUHKAN ADALAH: ORANG BERILMU YANG KOKOH KEILMUANNYA

YANG KITA BUTUHKAN ADALAH: ORANG BERILMU YANG KOKOH KEILMUANNYA

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin -rahimahullaah- berkata:

“Manusia pada zaman sekarang butuh terhadap ilmu syar’i, dikarenakan dominannya kebodohan dan banyaknya orang-orang sok berilmu yang mengaku bahwa mereka adalah orang-orang yang berilmu, padahal mereka tidak memiliki ilmu kecuali hanya sedikit.

Maka kita membutuhkan para penuntut ilmu yang mereka memiliki ilmu yang kuat dan kokoh, yang dibangun di atas Al-Kitab dan As-Sunnah, agar mereka bisa membantah kekacauan ini yang telah menyebar di desa, kota, dan berbagai penjuru negeri, dimana masing-masing orang yang memiliki satu atau dua hadits dari Rasulullah -shallallaahu ‘alaihi wa sallam- kemudian dia langsung berfatwa dan bermudah-mudahan dengannya, seolah-olah dia Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, atau Imam Ahmad, atau Imam Asy-Syafi’i, atau imam-imam lainnya. Dan hal semacam ini mengisyaratkan kepada bahaya yang besar kalau Allah tidak memperbaiki umat ini dengan para ulama yang kokoh, yang mereka memiliki ilmu yang kuat dan hujjah yang kuat.”

“Oleh karena itulah kewajiban para pemuda umat Islam: untuk mempelajari ilmu dengan kuat dan kokoh, tidak dengan acak-acakan seperti didapati pada banyak dari rumah-rumah (sekolah-sekolah) ilmu yang mereka mempelajari ilmu dengan acak-acakan sehingga tidak kokoh di fikiran, yaitu: ilmu yang hanya ditujukan untuk mendapatkan surat keterangan atau ijazah saja. Padahal ilmu yang hakiki adalah: ilmu yang kokoh dalam hati, sehingga seakan menjadi tabiat bagi pemiliknya. Dan seorang yang memiliki ilmu (yang kokoh) semacam ini; maka engkau akan dapati bahwa: hampir-hampir tidak ada suatu permasalahan pun melainkan dia mengetahui bagaimana cara mengeluarkan dalilnya dari Al-Kitab, As-Sunnah, dan Qiyas yang benar. Maka harus kokoh keilmuan.”

[“Syarh Riyaadhis Shaalihiin” (II/149-150 & 55-56)]

-diterjemahkan oleh: Ahmad Hendrix-

IGAUAN MEREKA.

IGAUAN MEREKA…

Syaikh Doktor Shalih bin Fauzan Al-Fauzan -hafizhahullaah- berkata:

“Shalat jama’ah adalah wajib dan fardhu atas setiap muslim. Orang yang meninggalkannya adalah berdosa, bahkan diberi hukuman juga. Karena Rasulullah -shallallaahu ‘alaihi wa sallam- bersabda:

مَنْ سَمِعَ النِّدَاءَ فَلَمْ يَأْتِه؛ِ فَلَا صَلَاةَ لَهُ، إِلَّا مِنْ عُذْرٍ

“Barangsiapa mendengar adzan kemudian tidak mendatanginya; maka tidak ada shalat baginya kecuali dia ada udzur.”…

Dan tatkala datang seorang buta kepada Nabi -shallallaahu ‘alaihi wa sallam- dengan menyebutkan kesulitannya untuk pergi ke masjid, sedangkan tidak ada orang yang menuntunnya, sehingga dia meminta keringanan dari Nabi -shallallaahu ‘alaihi wa sallam- untuk dibolehkan shalat di rumahnya. Maka Nabi -shallallaahu ‘alaihi wa sallam- bertanya kepadanya: “Apakah engkau mendengar adzan?” Orang buta itu menjawab: “Iya.” Maka Nabi -shallallaahu ‘alaihi wa sallam- bersabda: “Maka penuhilah (panggilan adzan) itu!”…

Maka ini menunjukkan atas wajibnya shalat jama’ah di masjid yang dikumandangkan adzan…

Maka shalat jama’ah adalah perkara yang agung, sehingga tidak boleh bermudah-mudahan dengannya… DAN JANGAN BERPALING KEPADA #IGAUAN ORANG-ORANG YANG MENGAMBIL PENDAPAT-PENDAPAT YANG MENYELISIHI DALIL, DAN MEREKA MENGUMPULKANNYA, KEMUDIAN BERKATA: “INI ADALAH PENDAPAT-PENDAPAT PARA ULAMA.” Kita katakan: “Pendapat-pendapat para ulama: bisa salah dan bisa benar. Maka yang wajib adalah: ittibaa’ (mengikuti) dalil, bukan mengikuti pendapat-pendapat manusia.”.”

[“It-haaful Qaari” (II/136-138)]

-diterjemahkan secara ringkas oleh: Ahmad Hendrix-

IGAUAN MEREKA…Syaikh Doktor Shalih bin Fauzan Al-Fauzan -hafizhahullaah- berkata:"Shalat jama'ah adalah wajib dan…

Posted by Ahmad Hendrix Eskanto on Monday, November 20, 2017

BANYAKNYA TULISAN… AKAN TETAPI, BANYAK YANG TIDAK BERMANFAAT

BANYAKNYA TULISAN…

AKAN TETAPI: BANYAK YANG TIDAK BERMANFAAT…

[1]- ‘Abdullah bin Mas’ud -radhiyallaahu ‘anhu- menyebutkan dari Nabi -shallallaahu ‘alaihi wa sallam- (beliau bersabda):

أَنَّ بَيْنَ يَدَيِ السَّاعَةِ تَسْلِيْمَ الْـخَاصَّةِ، وَفُشُوَّ التِّجَارَةِ، حَتَّى تُعِيْنَ الْمَرْأَةُ زَوْجَهَا عَلَى التِّجَارَةِ، وَقَطْعَ الْأَرْحَامِ، وَشَهَادَةَ الزُّوْرِ، وَكِتْمَانَ شَهَادَةِ الْـحَقِّ، وَظُهُوْرَ الْقَلَمِ

“Sesunggguhnya sebelum Hari Kiamat (akan terjadi): pemberian salam hanya kepada orang tertentu, tersebarnya perdagangan sampai seorang istri membantu suaminya di dalam berdagang, terputusnya silaturahmi (hubungan kekeluargaan), persaksian yang dusta, disembunyikannya persaksian yang benar, dan TAMPAKYA PENA.”

HR. Ahmad (no. 3870- cet. Daarul Hadiits), dishahihkan oleh Syaikh Ahmad Syakir dan Syaikh Al-Albani -rahimahumallaah-.

[2]- Tampaknya pena, maksudnya adalah: tulisan -sebagaimana disebutkan oleh Syaikh Ahmad Syakir-.

[“Al-Musnad” (VII/65- cet. Daarul Hadiits)]

[3]- Selain mengabarkan tentang tampaknya pena -yakni: banyak tersebarnya tulisan-; maka Nabi -shallallaahu ‘alaihi wa sallam- juga mengabarkan tentang: DIANGKATNYA ILMU DAN TERSEBARNYA KEBODOHAN, beliau bersabda:

إِنَّ مِنْ أَشْرَاطِ السَّاعَةِ أَنْ يُرْفَعَ الْعِلْمُ، وَيَظْهَرَ الْـجَهْلُ…

“Sesunggunya di antara tanda Hari Kiamat (akan terjadi): diangkatnya ilmu dan tampaknya kebodohan…” [(HR. Al-Bukhari (no. 80) & Muslim (no. 2671)]

Maka yang dimaksud dengan ILMU YANG DIANGKAT adalah: ILMU SYAR’I, YANG DENGANNYA MANUSIA MENGENAL RABB MEREKA DAN BERIBADAH KEPADA-NYA DENGAN SEBENAR-BENAR PERIBADAHAN. Realita yang ada adalah: banyak tulisan akan tetapi :tidak menambah melainkan kebodohan dan jauh dari syari’at Islam, kecuali sedikit saja.

[Lihat: “Silsilah Al-Ahaadiits Ash-Shahiihah” (VI/635), karya Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani -rahimahullaah-]

[4]- “Tersebarnya pena; yakni: banyaknya tulisan…Tentunya tulisan-tulisan tersebut ada yang bermanfaat dan (ada yang) mudharat…

(1)- Barangsiapa yang menulis tentang sesuatu yang bermanfaat; maka dia terpuji sebagai pelaku dari salah satu tanda-tanda Hari Kiamat.

(2)- Sebaliknya: barangsiapa yang menulis tentang sesuatu yang mudharat; maka dia tercela sebagai pelaku salah satu dari tanda-tanda Hari Kiamat.

Saya berharap mudah-mudahan Allah -Jalla Jalaaluhu- memasukkan saya ke dalam golongan yang pertama bersama saudara-saudara saya sesama penulis yang berjalan di atas Manhaj Salaful Ummah.”

[“Telah Datang Zamannya” (hlm. 183-183 -dengan diringkas-), karya Fadhilatul Ustadz ‘Abdul Hakim bin ‘Amir Abdat -hafizhahullaah-]

-ditulis oleh: Ahmad Hendrix-