NASEHAT DALAM MENUNTUT ILMU

NASEHAT DALAM MENUNTUT ILMU (2)

Ustadz Yazid bin ‘Abdul Qadir Jawas -hafizhahullaah-

(Masjid Nurul Iman)

Rasulullah -shallallaahu ‘alaihi wa sallam- bersabda:

مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَطْلُبُ فِيْهِ عِلْمًا سَلَكَ اللهُ بِهِ طَرِيْقًا إِلَى الْجَنَّةِ، وَإِنَّ الْمَلَائِكَةَ لَتَضَعُ أَجْنِحَتَهَا رِضًا لِطَالِبِ الْعِلْمِ، وَإِنَّهُ لَيَسْتَغْفِرُ لِلْعَالِمِ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ، حَتَّى الْحِيتَانُ فِي الْمَاءِ، وَفَضْلُ الْعَالِمِ عَلَى الْعَابِدِ كَفَضْلِ الْقَمَرِ عَلَى سَائِرِ الْكَوَاكِبِ، إِنَّ الْعُلَمَاءَ هُمْ وَرَثَةُ الْأَنْبِيَاءِ، لَمْ يُوَرِّثُوْا دِيْنَارًا وَلَا دِرْهَمًا، وَإِنَّمَا وَرِثُوا الْعِلْمَ، فَمَنْ أَخَذَ بِهِ، أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ

“Barangsiapa yang berjalan menuntut ilmu; maka Allah mudahkan jalannya menuju Surga. Sesungguhnya Malaikat akan meletakkan sayapnya kepada orang yang menuntut ilmu karena ridha dengan apa yang mereka lakukan. Dan sesungguhnya seorang ‘alim (yang mengajarkan kebaikan): akan dimohonkan ampun oleh makhluk yang ada di langit maupun di bumi hingga ikan yang berada di air. Sesungguhnya keutamaan orang ‘alim atas ahli ibadah seperti keutamaan bulan atas seluruh bintang. Sesungguhnya para ulama itu pewaris para Nabi. Dan sesungguhnya para Nabi tidak mewariskan dinar dan tidak juga dirham, yang mereka wariskan hanyalah ilmu. Dan barangsiapa yang mengambil ilmu itu; maka sungguh, ia telah mendapatkan bagian yang banyak.” [HR. Ahmad, Abu Dawud, At-Tirmidizi, Ibnu Majah, dan Ibnu Hibban]

DERAJAT HADITS:

Hadits ini dalam sanadnya ada dua orang perawi yang majhul; yaitu: Dawud bin Jamil dan Katsir bin Qais. Akan tetapi hadits ini dikuatkan oleh Al-Hafizh Ibnu Hajar -rahimahullaah- dalam “Fat-hul Baari” Syarah Kitabul ‘Ilmi “Bab al-‘Ilmi Qablal Qauli wal ‘Amal” karena adanya penguat. Dan dihasankan oleh Syaikh Al-Albani -rahimahullaah- dalam “Shahiih at-Targhiib” (no. 70) dan dishahihkan oleh beliau dalam “Shahiihul Jaami’” (no. 6297).

PENJELASAN HADITS

[1]- Sabda Rasulullah -shallallaahu ‘alaihi wa sallam-:

مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَطْلُبُ فِيْهِ عِلْمًا

“Barangsiapa yang berjalan menuntut ilmu”

Ini sudah dijelaskan (pada kajian sebelumnya):

  • ”Menempuh jalan untuk menuntut ilmu” mempunyai dua makna:

PERTAMA: menempuh jalan dengan artian yang sebenarnya;yaitu: berjalan kaki menuju majelis-majelis para ulama.

Dan dahulu para ulama berjalan kaki untuk menuntut ilmu, sebagian ada yang naik kuda, dan sebagian lagi ada yang naik unta.

Imam Baqi’ bin Makhlad berjalan kaki dari Spanyol ke Baghdad untuk bertemu Imam Ahmad bin Hanbal dan mengambil ilmu dari beliau.

Imam Ahmad juga melakukan perjalanan dari Baghdad ke Yaman untuk bertemu dengan Imam ‘Abdurrazzaq bin Hammam Ash-Shan’ani -rahimahumullaah-.

Imam Adz-Dzahabi -rahimahullaah- menceritakan dalam biografi Muhammad bin Thahir Al-Maqdisi -rahimahullaah- bahwa beliau (Muhammad bin Thahir) berkata: “Saya tidak pernah naik kendaraan sama sekali ketika mencari hadits, saya pikul kitab-kitab di punggungku dan … saya kencing darah dua kali ketika mencari hadits.” [“Tadzkiratul Huffazh”]

Dan Imam Al-Bukhari -rahimahullaah- berkata dalam “Kitabul ‘Ilmi”, Bab: Al-Khuruuj Fii Thalabil ‘Ilmi:

وَرَحَلَ جَابِرُ بْنُ عَبْدِ اللهِ مَسِيرَةَ شَهْرٍ، إِلَى عَبْدِ اللَّهِ بْنِ أُنَيْسٍ، فِي حَدِيثٍ وَاحِدٍ

“Dan jabir bin ‘Abdillah melakukan perjalanan selama satu bulan menuju ‘Abdullah bin Unais untuk mendapatkan satu buah hadits.”

Sehingga (bagi kita): kalau ada ustadz yang jelas -‘aqidah & manhajnya- dan jelas pula kitab yang dikajinya; maka jangan lihat jauhnya jarak perjalanan untuk menuntut ilmu darinya. Yang penting jelas (ustadz & kitabnya), karena menuntut ilmu harus jelas. Muhammad bin Sirin -rahimahullaah- berkata:

إِنَّ هَذَا الْعِلْمَ دِينٌ، فَانْظُرُوا عَمَّنْ تَأْخُذُونَ دِينَكُمْ

“Ilmu ini adalah agama; maka lihatlah dari siapa kalian mengambil agama kalian.”

Tidak seperti sekarang: lihat di Youtube ada yang bagus; langsung dipanggil (untuk ceramah). Semestinya harus tahu dulu: manhaj dan ‘aqidahnya. Kalau tidak demikian; maka tidak akan mendapatkan keberkahan ilmu.

Walaupaun jauh, kalau jelas; maka datangi. Para ulama dulu: punya istri dan banyak anak; maka mereka tinggalkan untuk menuntut ilmu -sampai berbulan-bulan-.

KEDUA: menempuh jalan (cara) yang mengantarkan seseorang untuk mendapatkan ilmu; seperti: menghafal, belajar sungguh-sungguh, membaca, menela’ah kitab-kitab para ulama, menulis, dan berusaha untuk memahami apa-apa yang dipelajari. Dan cara-cara lain yang dapat mengantarkan seseorang untuk mendapatkan ilmu syar’i.

Penutut ilmu harus akrab dengan kitab-kitab. Ulama zaman dahulu ada yang membaca Shahih Bukhari sampai 100 kali, ada yang sepuluh kali, dan juga kitab-kitab yang lain. Karena kalau kita memabaca sebuah kitab kemudian kita ulangi; maka pasti ada faedah baru -selama kitab yang dibaca adalah jelas dan dianjurkan oleh para ulama untuk membacanya-.

  • “Barangsiapa yang berjalan menuntut ilmu; Allah mudahkan baginya jalan menuju Surga” mempunyai dua makna:

Pertama: Allah akan memudahkan memasuki Surga bagi orang yang menuntut ilmu yang tujuannya untuk mencari wajah Allah, untuk mendapatkan ilmu, mengambil manfaat dari ilmu syar’i, dan mengamalkan konsekuensinya.

Ilmu dicari untuk diamalkan, bukan hanya untuk dikoleksi. Karena hamba akan ditanya:

وَعَنْ عِلْمِهِ فِيْمَ فَعَلَ

“Dan (ditanya) tentang ilmunya: apa yang dia amalkan?”

Kedua: Allah akan memudahkan baginya jalan ke Surga pada hari Kiamat ketika melewati ”ash-Shiraath” dan dimudahkan dari berbagai ketakutan yang ada sebelum dan sesudahnya. Wallaahu A’lam.

[2]- Sabda Rasulullah -shallallaahu ‘alaihi wa sallam-:

وَإِنَّ الْمَلَائِكَةَ لَتَضَعُ أَجْنِحَتَهَا رِضًا لِطَالِبِ الْعِلْمِ

“Sesungguhnya Malaikat akan meletakkan sayapnya kepada orang yang menuntut ilmu karena ridha dengan apa yang mereka lakukan.”

Malaikat ridha terhadap orang-orang yang menuntut ilmu. Dan ini penghormatan. Malaikat ridha, senang dan juga mendo’akan kebaikan bagi orang-orang yang beriman -dan yang pertama kali adalah: para penuntut ilmu-. Allah -Subhaanahu Wa Ta’aalaa- berfirman:

{الَّذِينَ يَحْمِلُونَ الْعَرْشَ وَمَنْ حَوْلَهُ يُسَبِّحُونَ بِحَمْدِ رَبِّهِمْ وَيُؤْمِنُونَ بِهِ وَيَسْتَغْفِرُونَ لِلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا وَسِعْتَ كُلَّ شَيْءٍ رَحْمَةً وَعِلْمًا فَاغْفِرْ لِلَّذِينَ تَابُوا وَاتَّبَعُوا سَبِيلَكَ وَقِهِمْ عَذَابَ الْجَحِيمِ *رَبَّنَا وَأَدْخِلْهُمْ جَنَّاتِ عَدْنٍ الَّتِي وَعَدْتَهُمْ وَمَنْ صَلَحَ مِنْ آبَائِهِمْ وَأَزْوَاجِهِمْ وَذُرِّيَّاتِهِمْ إِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ * وَقِهِمُ السَّيِّئَاتِ وَمَنْ تَقِ السَّيِّئَاتِ يَوْمَئِذٍ فَقَدْ رَحِمْتَهُ وَذَلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ}

“(Malaikat-malaikat) yang memikul ‘Arsy dan (malaikat) yang berada di sekelilingnya bertasbih dengan memuji Rabb-nya dan mereka beriman kepada-Nya serta memohonkan ampunan untuk orang-orang yang beriman (seraya berkata): “Wahai Rabb kami, rahmat dan ilmu yang ada pada-Mu meliputi segala sesuatu, maka berilah ampunan kepada orang-orang yang bertobat dan mengikuti jalan (agama)-Mu dan peliharalah mereka dari adzab neraka yang menyala-nyala.Wahai Rabb kami, masukkanlah mereka ke dalam surga ‘Adn yang telah Engkau janjikan kepada mereka, dan orang yang shalih di antara nenek moyang mereka, istri-istri, dan keturunan mereka. Sungguh, Engkaulah Yang Mahaperkasa, Mahabijaksana,dan peliharalah mereka dari (bencana) kejahatan. Dan orang-orang yang Engkau pelihara dari (bencana) kejahatan pada hari itu; maka sungguh, Engkau telah menganugerahkan rahmat kepadanya dan demikian itulah kemenangan yang agung.” (QS. Ghafir: 7-9)

Masuk Surga adalah kesuksesan dan kemenangan yang besar, serta kebahagiaan yang hakiki. Orang yang diberikan kesenangan dunia; maka belum sukses. Allah -Ta’aalaa- berfirman:

{كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ}

“Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Dan hanya pada hari Kiamat sajalah diberikan dengan sempurna balasanmu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, sungguh, dia memperoleh kemenangan/kesuksesan. Kehidupan dunia hanyalah kesenangan yang memperdaya.” (QS. Ali ‘Imraan: 185)

Maka orang-orang yang sukses adalah:

  1. Para nabi dan rasul
  2. Para Shahabat
  3. Orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik

[3]- Sabda Rasulullah -shallallaahu ‘alaihi wa sallam-:

وَإِنَّهُ لَيَسْتَغْفِرُ لِلْعَالِمِ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ، حَتَّى الْحِيتَانُ فِي الْمَاءِ

“Dan sesungguhnya seorang ‘alim (yang mengajarkan kebaikan) akan dimohonkan ampun oleh makhluk yang ada di langit maupun di bumi hingga ikan yang berada di air.”

Ikan-ikan (yang besar) memohonkan ampunan, demikian juga yang ada di langit dan di bumi.

Yang ada di langit dan di bumi bertasbih kepada Allah, sebagaimana firman-Nya:

{تُسَبِّحُ لَهُ السَّمَاوَاتُ السَّبْعُ وَالأرْضُ وَمَنْ فِيهِنَّ…}

“Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah…” (QS. Al-Israa’: 44)

Dan selain bertasbih; semuanya juga memohonkan ampunan kepada Allah untuk orang-orang yang menuntut ilmu.

Maka bersyukurlah orang-orang yang menuntut ilmu dan mengajarkannya dengan ikhlas; karena dimohonkan ampunan (oleh penduduk bumi dan langit). Sehingga orang yang berdakwah: janganlah mengharap apa pun dari manusia; karena dia telah mendapatkan yang terbaik. (Dan dia juga menjadi manusia terbaik), Allah -Ta’aalaa- berfirman:

{وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلاً مِمَّنْ دَعَا إِلَى اللهِ وَعَمِلَ صَالِحًا وَقَالَ إِنَّنِي مِنَ الْمُسْلِمِينَ}

“Dan siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang berdakwah mengajak kepada Allah dan mengerjakan amal shalih dan berkata, “Sungguh, aku termasuk orang-orang muslim (yang berserah diri)?”.” (QS. Fushshilat: 33)

Al-Hiitaan yang disebutkan dalam hadits adalah jamak dari Al-Huut; yang artinya: ikan besar. Seperti firman Allah tentang Nabi Yunus:

{فَالْتَقَمَهُ الْحُوتُ وَهُوَ مُلِيمٌ}

“Maka dia ditelan oleh ikan besar dalam keadaan tercela.” (QS. Ash-Shaaffaat: 142)

Juga firman Allah:

{فَاصْبِرْ لِحُكْمِ رَبِّكَ وَلَا تَكُنْ كَصَاحِبِ الْحُوتِ إِذْ نَادَى وَهُوَ مَكْظُومٌ}

“Maka bersabarlah engkau (Muhammad) terhadap ketetapan Rabb-mu, dan janganlah engkau seperti (Yunus) orang yang berada dalam (perut) ikan ketika dia berdo’a dengan hati sedih.” (QS, Al-Qalam: 48)

Jadi: ikan-ikan yang besar memohonkan ampunan (bagi orang ‘alim yang mengajarkan ilmu); sehingga kita harus jaga keikhlasan dan kejujuran dalam menyampaikan ilmu.

[4]- Sabda Rasulullah -shallallaahu ‘alaihi wa sallam-:

وَفَضْلُ الْعَالِمِ عَلَى الْعَابِدِ كَفَضْلِ الْقَمَرِ عَلَى سَائِرِ الْكَوَاكِبِ

“Sesungguhnya keutamaan orang ‘alim atas ahli ibadah seperti keutamaan bulan atas seluruh bintang.”

Dalam hadits Abu Umamah -radhiyallaahu ‘anhu-, Rasulullah -shallallaahu ‘alaihi wa sallam- bersabda:

فَضْلُ العَالِمِ عَلَى العَابِدِ كَفَضْلِي عَلَى أَدْنَاكُمْ

“Keutamaan orang ‘alim atas ahli ibadah; seperti keutamaanku atas orang yang paling rendah di antara kalian.”

Kemudian Rasulullah -shallallaahu ‘alaihi wa sallam- bersabda:

إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ وَأَهْلَ السَّمَوَاتِ وَالأَرَضِينَ حَتَّى النَّمْلَةَ فِي جُحْرِهَا وَحَتَّى الحُوتَ لَيُصَلُّونَ عَلَى مُعَلِّمِ النَّاسِ الخَيْرَ

“Sungguh, Allah dan para malaikat-Nya serta penghuni langit dan bumi -sampai semut di liangnya, dan sampai ikan besar-: bershalawat atas orang yang mengajarkan kebaikan kepada manusia.” [HR. At-Tirmidzi, dan beliau mengatakan: Hasan Shahih]

Orang ‘alim akan menunjukki manusia kepada: kebenaran, Tauhid, Sunnah, keta’atan, dan jalan ke Surga.

Dan ahli ibadah tetap ada kebaikan padanya sebagaimana bintang ada cahayanya, akan tetapi masih kurang terang dibandingkan dengan bulan.

Dan kenapa orang berilmu diumpamakan dengan bulan dan bukan dengan matahari: karena bulan berbeda-beda ukurannya (jika dilihat dari bumi): ada yang sabit, dan terus membesar sampai purnama. Demikian juga orang-orang yang berilmu: keilmuan mereka adalah berbeda-beda dan bertingkat-tingkat. Ada ulama kibar, ada mujtahid, dan ada pula yang di bawahnya.

Dan yang harus diperhatikan: orang berilmu juga wajib untuk mengamalkan ilmunya dan wajib beribadah.

[5]- Sabda Rasulullah -shallallaahu ‘alaihi wa sallam-:

إِنَّ الْعُلَمَاءَ هُمْ وَرَثَةُ الْأَنْبِيَاءِ

“Sesungguhnya para ulama itu pewaris para Nabi.”

Karena para ulama itu pewaris para Nabi; maka para ulama harus berdakwah seperti dakwah para nabi, yaitu: mendakwahkan Tauhid.

Akan tetapi yang kita lihat sekarang: para da’i dan ustadz-ustadz di negeri ini: menyimpang dakwahnya dari dakwah para Nabi yang Allah firmankan:

{وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ…}

“Dan sungguh, Kami telah mengutus seorang rasul untuk setiap umat (untuk menyerukan): “Beribadahlah kepada Allah, dan jauhilah Thagut”,…” (QS. An-Nahl: 36)

Inilah yang harus dilakukan oleh ulama.

Di samping dakwah Tauhid; ulama juga harus memiliki rasa takut kepada Allah, seperti yang Allah frimankan:

{…إِنَّمَا يَخْشَى اللهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ…}

“…Di antara hamba-hamba Allah yang takut kepada-Nya, hanyalah para ulama…” (QS. Fathir: 28)

Karena “Ashlul ‘Ilmi: Khasy-yatullaah” (pokok ilmu adalah: takut kepada Allah).

Kemudian yang harus diperhatikan juga adalah: bahwa para Nabi ikhlas dalam berdakwah karena Allah dan tidak mengharapkan upah. Ketika Allah sebutkan para nabi dan rasul; maka Allah sebutkan di akhirnya:

{أُولَئِكَ الَّذِينَ هَدَى اللهُ فَبِهُدَاهُمُ اقْتَدِهِ قُلْ لا أَسْأَلُكُمْ عَلَيْهِ أَجْرًا إِنْ هُوَ إِلَّا ذِكْرَى لِلْعَالَمِينَ}

“Mereka itulah (para nabi) yang telah diberi petunjuk oleh Allah, maka ikutilah petunjuk mereka. Katakanlah (Muhammad): “Aku tidak meminta imbalan kepadamu dalam menyampaikan (Al-Qur-an).” Al-Qur-an itu tidak lain hanyalah peringatan untukseluruh alam (segala umat).” (QS. Al-An’aam: 90)

Maka para ulama harus mengikuti para nabi, karena para ulama adalah pewaris para nabi. Dan mereka berdakwah tidak meminta upah, seperti yang Allah firmankan tentang perkataan Nabi Nuh, Nabi Hud, Nabi Shalih, Nabi Luth, dan Nabi Syu’aib -‘alaihimus salaam-:

{وَمَا أَسْأَلُكُمْ عَلَيْهِ مِنْ أَجْرٍ إِنْ أَجْرِيَ إِلَّا عَلَى رَبِّ الْعَالَمِينَ}

“Dan aku tidak meminta imbalan kepadamu atas ajakan itu; imbalanku hanyalah dari Rabb seluruh alam.” (QS, Asy-Syu’aaraa: 109, 127, 145, 164 & 180)

[6]- Sabda Rasulullah -shallallaahu ‘alaihi wa sallam-:

إِنَّ الْعُلَمَاءَ هُمْ وَرَثَةُ الْأَنْبِيَاءِ، لَمْ يُوَرِّثُوْا دِيْنَارًا وَلَا دِرْهَمًا

“Dan sesungguhnya para Nabi tidak mewariskan dinar dan tidak juga dirham,”

Para nabi bukan mencari dinar dan dirham dalam dakwah, mereka mangajak umatnya ke Surga. Oleh karena itulah warisan mereka adalah ilmu.

Secara umum kalau orang semakin banyak ilmu; maka akan semakin tunduk, sedangkan semakin banyak harta; maka akan semakin sombong.

[7]- Sabda Rasulullah -shallallaahu ‘alaihi wa sallam-:

وَإِنَّمَا وَرِثُوا الْعِلْمَ، فَمَنْ أَخَذَ بِهِ، أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ

“Yang mereka (para nabi)wariskan hanyalah ilmu. Dan barangsiapa yang mengambil ilmu itu; maka sungguh, ia telah mendapatkan bagian yang banyak.”

Ilmu yang diwariskan oleh Nabi Muhammad -shallallaahu ‘alaihi wa sallam- adalah: Al-Qur-an dan As-Sunnah, bukan ra’yu dan bukan pula pendapat.

Kita harus berusaha terus menuntut ilmu sampai diwafatkan oleh Allah. Harus terus menerus, dan bukan hanya sekali-kali saja dalam menunutut ilmu. Harus ada kesungguhan,

Ilmu Al-Qur-an dan As-Sunnah lebih baik dari istana, lebih baik dari emas: sehingga para ulama adalah orang-orang yang bahagia.

Rasulullah -shallallaahu ‘alaihi wa sallam- bersabda:

احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ، وَاسْتَعِنْ بِاللهِ وَلَا تَعْجَزْ

“Bersungguh-sungguhlah engkau dalam hal yang bermanfaat bagimu, mohonlah pertolongan kepada Allah, dan janganlah lemah.” [HR. Muslim]

Dan di antara yang paling bermanfaat adalah: menuntut ilmu. Maka kita harus berkemauan keras dalam menuntut ilmu. Allah ridha terhadap orang yang menuntut ilmu; maka kita gunakan hidup kita untuk menuntut ilmu. Allah berfirman:

{قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ}

“Katakanlah (Muhammad): “Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Rabb seluruh alam.” (QS. Al-An’aam: 162)

Kita gunakan waktu kita untuk menuntut ilmu, karena di antara “Ushuulun Ni’am” (pokok-pokok kenikmatan) adalah: waktu.

Waktu adalah Modal, kalo digunakan dalam kebaikan dan hal-hal yg Manfaat, maka orang itu akan Beruntung, tapi kalo digunakan buat yg sia2, maka dia akan rugi.

Rasulullah -shallallaahu ‘alaihi wa sallam- bersabda:

نِعْمَتَانِ مَغْبُوْنٌ فِيْهِمَا كَثِيْرٌ مِنَ النَّاسِ: الصِّحَّةُ وَالفَرَاغُ

“Dua nikmat yang banyak manusia tertipu di dalamnya: kesehatan dan waktu luang.” [HR. Al-Bukhari]

Di antara perkataan Syaikh Masyhur bin Hasan Alu Salman -hafizhahullaah- adalah: “Jika engkau (ingin) melihat orang-orang yang berakal; maka perhatikanlah waktu mereka.”

Yang kita lihat sekarang adalah: orang-orang yang motor-motoran, goes; maka berarti akalnya tidak ada.

Waktu sangatlah penting, sampai Allah bersumpah dengan waktu:

{وَالْعَصْرِ * إِنَّ الإنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ * إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ}

“Demi masa, sungguh, manusia berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran.” (QS. Al-‘Ashr: 1-3)

Rasulullah -shallallaahu ‘alaihi wa sallam- juga bersabda bahwa hamba akan ditanya tentang umurnya:

لَا تَزُولُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ عُمُرِهِ فِيْمَا أَفْنَاهُ…

“Tidak akan bergeser kedua kaki seorang hamba pada Hari Kiamat sampai dia ditanya tentang: umurnya; untuk apa ia habiskan?…”

Main-main selama-lamanya tidak akan menjadi Sunnah, seperti bid’ah yang selama-lamanya tidak akan menjadi Sunnah; walaupun dilakukan oleh ulama.

Meunutut ilmu dari dahulu sampai sekarang adalah dengan cara seperti ini: duduk dan membaca kitab, tidak dengan diiringi dengan main-main. Bahkan ketika Allah sebutkan bahwa dunia itu main-main; setelah itu Allah perintahkan untuk mohon ampun kepada-Nya. Allah berfirman:

{اعْلَمُوا أَنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرٌ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِي الأمْوَالِ وَالأوْلادِ كَمَثَلِ غَيْثٍ أَعْجَبَ الْكُفَّارَ نَبَاتُهُ ثُمَّ يَهِيجُ فَتَرَاهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَكُونُ حُطَامًا وَفِي الآخِرَةِ عَذَابٌ شَدِيدٌ وَمَغْفِرَةٌ مِنَ اللهِ وَرِضْوَانٌ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ * سَابِقُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ…}

“Ketahuilah, sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan sendagurauan, perhiasan dan saling berbangga di antara kamu serta berlomba dalam kekayaan dan anak keturunan, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian (tanaman) itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada adzab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia tidak lain hanyalah kesenangan yang palsu.Berlomba-lombalah kamu untuk mendapatkan ampunan dari Rabb-mu…” (QS. Al-Hadiid: 20-21)

-ditulis dengan ringkas oleh: Ahmad Hendrix

NASEHAT DALAM MENUNTUT ILMU

NASEHAT DALAM MENUNTUT ILMU bagian 1

Ustadz Yazid bin ‘Abdul Qadir Jawas -hafizhahullaah-

(Masjid Nurul Iman)

[1]- Menuntut ilmu sangat dibutuhkan oleh manusia -terutama ilmu ‘aqidah & manhaj-. Ilmu adalah “al-Ashlul Akbar” (prinsip terbesar) dan “al-Ashlul A’zham” (prinsip paling agung).

Kita membahas buku “Panduan Menuntut Ilmu” agar kita kembali ke awal (dalam menuntut ilmu). Terkadang kalau kita sudah ceramah, khuthbah, belajar bahasa Arab: maka merasa sudah pintar, padahal (keilmuannya) masih jauh (dari sempurna).

Dan terkadang kita dapati pada orang-orang yang (sudah banyak) ceramah; tapi tidak memiliki “ushuul” (prinsip-prinsip dasar). Padahal dikatakan oleh para ulama:

مَنْ حُرِمَ الْأُصُوْلَ؛ حُرِمَ الْوُصُوْلَ

“Barangsiapa yang tercegah dari “ushuul”; maka tercegah dari tujuan.”

Dan tujuan kita dalam menuntut ilmu adalah: untuk menegakkan ibadah kepada Allah, menghilangkan kebodohan, dan mendapatkan ilmu yang bermanfaat; bukan untuk berbangga-bangga.

[2]- Kita datang ke pengajian seperti ini: karena ini merupakan majlis penyubur iman. Dan kita juga merasakan sendiri bahwa iman kita bertambah, karena ini merupakan “Riyaadhul Jannah” (Taman Surga); sebagaimana disabdakan oleh Rasulullah -shallallaahu ‘alaihi wa sallam-:

((إِذَا مَرَرْتُمْ بِرِيَاضِ الْجَنَّةِ)) فَارْتَعُوا قَالُوْا: وَمَا رِيَاضُ الْجَنَّةِ؟ قَالَ: ((حِلَقُ الذِّكْرِ))

”Apabila kalian berjalan melewati taman-taman Surga;maka duduklah bersama mereka (perbanyaklah berdzikir).” Para Shahabat bertanya: Wahai Rasulullah, apakah yang dimaksud taman-taman Surga itu? Beliau -shallallaahu ‘alaihi wasallam- menjawab: ”Yaituhalaqah-halaqah dzikir (majelis ilmu).” [HR. At-Tirmidzi, dan lainnya]

’Atha’ bin Abi Rabah (wafat th. 114 H) -rahimahullaah- mengatakan:

”Majelis-majelis dzikir yang dimaksud adalah: majelis-majelis halal dan haram, bagaimana harus membeli, menjual, berpuasa, mengerjakan shalat, bersedekah, menikah, cerai, melakukan haji, dan yang sepertinya.”

Dan tentu yang paling pokok dari majlis dzikir ini adalah: mempelajari Tauhidullah.

[3]- Rasulullah -shallallaahu ‘alaihi wa sallam- bersabda:

نِعْمَتَانِ مَغْبُوْنٌ فِيْهِمَا كَثِيْرٌ مِنَ النَّاسِ: الصِّحَّةُ وَالفَرَاغُ

“Dua nikmat yang banyak manusia tertipu di dalamnya: kesehatan dan waktu luang.” [HR. Al-Bukhari]

Hendaknya kita manfaatkan dua nikmat ini untuk menuntut ilmu. Waktu termasuk “Ushuul an-Ni’am” (pokok-pokok nikmat), yang jika tidak digunakan untuk menuntut ilmu, beribadah, membaca buku-buku: pasti rugi. Allah -Subhaanahu Wa Ta’aalaa- berfirman:

{وَالْعَصْرِ * إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِيْ خُسْرٍ * إِلَّا الَّذِيْنَ آمَنُوْا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ}

“Demi masa, sungguh, manusia berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran.” (QS. Al-‘Ashr: 1-3)

Oleh karena itu, jika ada orang membuat kajian dengan membuang waktu -seperti motor-motoran, jalan-jalan-: maka ini tidak benar.

[4]- Semoga melalui majelis taklim yang kita kaji di dalamnyakitab-kitab para ulama Salaf:Allah memberikan hidayah kepada kita di atas Islam, ditetapkan hati dalam beriman, istiqamah di atas Sunnah, serta diberikan hidayah taufik oleh Allah untuk dapat melaksanakan syari’at Islam secara “kaaffah”(menyeluruh).

Seorang Muslim tidak akan bisa melaksanakan agamanya dengan benar, kecuali dengan belajar Islam yang benar berdasarkan Al-Qur-an dan As-Sunnah menurut pemahaman Salafush Shalih. Agama Islam adalah agama ilmu dan amal;karena Nabi -shallallaahu ‘alaihi wa sallam- diutus dengan membawa ilmu dan amal shalih.

Allah -Subhaanahu Wa Ta’aalaa- berfirman:

{هُوَ الَّذِيْ أَرْسَلَ رَسُوْلَهُ بِالْهُدَى وَدِيْنِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّيْنِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُوْنَ}

”Dia-lah (Allah) yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang benaragar dimenangkan-Nya terhadap semua agama. Walaupun orang-orang musyrik tidak menyukai.” (QS. At-Taubah: 33)

Yang dimaksud dengan “al-hudaa” (petunjuk) dalam ayat ini adalah: ilmu yang bermanfaat. Dan yang dimaksud dengan“diinul haqq” (agama yang benar) adalah amal shalih. Allah -Tabaaraka Wa Ta’aalaa- mengutus Nabi Muhammad -shallallaahu ‘alaihi wa sallam- untuk menjelaskan kebenaran dari kebathilan, menjelaskan Nama-Nama Allah, sifat-sifat-Nya, perbuatan-perbuatan-Nya, hukum-hukum dan berita yang datang dari-Nya, serta memerintahkan untuk melakukan segala apa yang bermanfaat bagi hati, ruh, dan jasad.

Beliau -shallallaahu ‘alaihi wa sallam- menyuruh ummatnya agar mengikhlaskan ibadah semata-mata karena Allah -Subhaanahu Wa Ta’aalaa-, mencintai-Nya, berakhlak yang mulia, beradab dengan adab yang baik dan melakukan amal shalih. Beliau -shallallaahu ‘alaihi wa sallam- melarang ummatnya dari perbuatan syirik, amal danakhlak yang buruk yang berbahaya bagi hati, badan, dan kehidupan dunia dan akhiratnya.

Dengan menuntut ilmu; maka kita akan tahu: mana yang haq mana yang bathil, mana yang Tauhid mana yang syirik, mana yang Sunnah mana yang bid’ah, mana yang ma’ruf mana yang mungkar, mana yang bermanfaat mana yang berbahaya, mana yang lurus mana yang bengkok, dan mana yang bersungguh-sungguh mana yang main-main.

[5]- Rasulullah -shallallaahu ‘alaihi wa sallam- bersabda:

طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ

“Menuntut ilmu itu wajib atas setiap muslim.” [HR. Ibnu Majah]

Karena menuntut ilmu itu wajib; maka harus dikedepankan dari yang lainnya (seperti: bekerja, tamasya, dan semisalnya). Yang Allah perintahkan (dalam Al-Qur-an) kepada Nabi-Nya adalah: untuk meminta tambahan ilmu, bukan tambahan harta. Jadi setiap hari harus bertambah ilmu kita, harus kita luangkan waktu untuk baca; karena menuntut ilmu: jalan menuju Surga.

[6]- Rasulullah -shallallaahu ‘alaihi wa sallam- bersabda:

مَنْ نَفَّسَ عَنْ مُؤْمِنٍ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ الدُّنْيَا؛ نَفَّسَ اللهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ، وَمَنْ يَسَّرَ عَلَى مُعْسِرٍ؛ يَسَّرَ اللهُ عَلَيْهِ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ، وَمَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا؛ سَتَرَهُ اللهُ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ، وَاللهُ فِيْ عَوْنِ الْعَبْدِ مَا كَانَ الْعَبْدُ فِيْ عَوْنِ أَخِيْهِ، وَمَنْ سَلَكَ طَرِيْقًا يَلْتَمِسُ فِيْهِ عِلْمًا؛ سَهَّلَ اللهُ لَهُ بِهِ طَرِيْقًا إِلَى الْجَنَّةِ، وَمَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِيْ بَيْتٍ مِنْ بُيُوْتِ اللهِ يَتْلُوْنَ كِتَابَ اللهِ وَيَتَدَارَسُوْنَهُ بَيْنَهُمْ؛ إِلَّا نَزَلَتْ عَلَيْهِمُ السَّكِيْنَةُ، وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ، وَحَفَّتْهُمُ الْمَلَائِكَةُ، وَذَكَرَهُمُ اللهُ فِيْمَنْ عِنْدَهُ، وَمَنْ بَطَّأَ بِهِ عَمَلُهُ؛ لَمْ يُسْرِعْ بِهِ نَسَبُهُ

“Barangsiapa yang melapangkan satu kesusahan dunia dari seorang mukmin; maka Allah melapangkan darinya satu kesusahan di Hari Kiamat. Barangsiapa memudahkan (urusan) orang yang kesulitan (dalam masalah utang); maka Allah memudahkan baginya (dari kesulitan) di dunia dan di akhirat. Barangsiapa menutupi (aib) seorang muslim; maka Allah akan menutup (aib)nya di dunia dan akhirat. Allah senantiasa menolong seorang hamba selama hamba tersebut menolong saudaranya. Barangsiapa menempuh suatu jalan untuk menuntut ilmu; maka Allah akan mudahkan baginya jalan menuju Surga. Tidaklah suatu kaum berkumpul di salah satu rumah Allah (masjid) untuk membaca Kitabullah dan mempelajarinya di antara mereka; melainkan ketenteraman turun atas mereka, rahmat meliputi mereka, malaikat mengelilingi mereka, dan Allah menyanjung mereka di tengah para malaikat yang berada di sisi-Nya. Dan barangsiapa yang lambat amalnya; maka tidak dapat dikejar oleh nasabnya.”[HR. Muslim]

Dalam hadits ini ada beberapa pembahasan:

PERTAMA: Sabda Rasulullah -shallallaahu ‘alaihi wa sallam-:

مَنْ نَفَّسَ عَنْ مُؤْمِنٍ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ الدُّنْيَا؛ نَفَّسَ اللهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ

“Barangsiapa yang melapangkan satu kesusahan dunia dari seorang mukmin; maka Allah melapangkan darinya satu kesusahan di Hari Kiamat.”

Kalau ada seorang mukmin yang kesusahan dalam urusan agama, keluarga, atau ma’iisyah: maka kita bantu. Siapa saja yang butuh bantuan; maka kita bantu. Dan ini bisa seperti jihad. Rasulullah -shallallaahu ‘alaihi wa sallam- bersabda:

السَّاعِيْ عَلَى الْأَرْمَلَةِ وَالمِسْكِينِ: كَالْمُجَاهِدِ فِيْ سَبِيْلِ اللهِ

“Orang yang membantu janda-janda dan orang-orang miskin: seperti orang yang berjihad di jalan Allah.” [HR. Al-Bukhari dan Muslim]

Tapi bagi orang yang berada dalam kesusahan; maka dia jangan sampai minta-minta kepada manusia; tapi hendaknya ia adukan kesusahannya kepada Allah.

KEDUA: Sabda Rasulullah -shallallaahu ‘alaihi wa sallam-:

وَمَنْ يَسَّرَ عَلَى مُعْسِرٍ؛ يَسَّرَ اللهُ عَلَيْهِ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ

“Barangsiapa memudahkan (urusan) orang yang kesulitan (dalam masalah utang); maka Allah memudahkan baginya (dari kesulitan) di dunia dan di akhirat.”

Terkadang ada orang miskin yang dia benar-benar tidak mampu; tapi ia tidak mau minta-minta, dan dia lebih memilih pinjam. Jika dia tidak mampu membayar; maka kita bantu.

Tapi yang harus diingat bagi yang berhutang: dia harus bayar. Karena Nabi -shallallaahu ‘alaihi wa sallam- sampai tidak mau menshalati jenazah yang belum membayar hutang ketika hidupya. Dan orang yang mati syahid sampai terhalang dari masuk Surga dikarenakan hutangnya. Dan Nabi -shallallaahu ‘alaihi wa sallam- bersabda:

نَفْسُ الْمُؤْمِنِ مُعَلَّقَةٌ بِدَيْنِهِ، حَتَّى يُقْضَى عَنْهُ

“Jiwa seorang mukmin tergantung dengan hutangnya sampai ditunaikan.” [HR, At-Tirmidzi & Ibnu Majah]

Maka jangan sampai orang yang berhutang dituntut pada Hari Kiamat. Lebih baik dia menjual apa yang dia miliki untuk membayar hutangnya,

KETIGA: Sabda Rasulullah -shallallaahu ‘alaihi wa sallam-:

وَمَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا؛ سَتَرَهُ اللهُ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ

“Barangsiapa menutupi (aib) seorang muslim; maka Allah akan menutup (aib)nya di dunia dan akhirat.”

Kita harus menutup aib seseorang yang berkaitan dengan urusan pribadi. Tapi kalau kaitannya dengan maslah umat -seperti penyimpangan & kesesatan seseorang-; maka ketika kita membicarakannya: itu bukan termasuk ghibah.

KEEMPAT: Sabda Rasulullah -shallallaahu ‘alaihi wa sallam-:

وَاللهُ فِيْ عَوْنِ الْعَبْدِ مَا كَانَ الْعَبْدُ فِيْ عَوْنِ أَخِيْهِ

“Allah senantiasa menolong seorang hamba selama hamba tersebut menolong saudaranya.”

Maka yang terbaik adalah kita tawarkan kepada orang lain: apa yang bisa saya bantu? Dan yang pertama kali adalah: orang tua kita. Allah berfirman:

{وَقَضَى رَبُّكَ أَلا تَعْبُدُوا إِلا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا…}

“Dan Rabb-mu telah memerintahkan agar kamu jangan beribadah kecuali hanya kepada-Nya, dan hendaklah kamu berbuat baik kepada kedua orang tuamu…” (QS. Al-Israa’: 23)

KELIMA: Sabda Rasulullah -shallallaahu ‘alaihi wa sallam-:

وَمَنْ سَلَكَ طَرِيْقًا يَلْتَمِسُ فِيْهِ عِلْمًا؛ سَهَّلَ اللهُ لَهُ بِهِ طَرِيْقًا إِلَى الْجَنَّةِ

“Barangsiapa menempuh suatu jalan untuk menuntut ilmu; maka Allah akan mudahkan baginya jalan menuju Surga.”

  • ”Menempuh jalan untuk menuntut ilmu” mempunyai dua makna:

Pertama: menempuh jalan dengan artian yang sebenarnya;yaitu: berjalan kaki menuju majelis-majelis para ulama.

Kedua: menempuh jalan (cara) yang mengantarkan seseorang untuk mendapatkan ilmu; seperti:menghafal, belajar (sungguh-sungguh), membaca, menela’ah kitab-kitab (para ulama), menulis, dan berusaha untuk memahami (apa-apa yang dipelajari). Dan cara-cara lain yang dapat mengantarkan seseorang untuk mendapatkan ilmu syar’i.

  • ”Allah mudahkan baginya jalan menuju Surga” mempunyai dua makna:

Pertama: Allah akan memudahkan memasuki Surga bagi orang yang menuntut ilmu yang tujuannya untuk mencari wajah Allah, untuk mendapatkan ilmu, mengambil manfaat dari ilmu syar’i, dan mengamalkan konsekuensinya.

Kedua: Allah akan memudahkan baginya jalan ke Surga pada hari Kiamat ketika melewati ”ash-Shiraath” dan dimudahkan dari berbagai ketakutan yang ada sebelum dan sesudahnya. Wallaahu A’lam.[Lihat: “Jaami’ al-‘Uluum Wal Hikam” (II/297)]

Kalau menuntut ilmu adalah jalan menuju Surga; maka kita harus semangat, karena ini adalah hal yang bermanfaat.Rasulullah -shallallaahu ‘alaihi wa sallam- bersabda:

احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ، وَاسْتَعِنْ بِاللهِ وَلَا تَعْجَزْ

“Bersungguh-sungguhlah engkau dalam hal yang bermanfaat bagimu, mohonlah pertolongan kepada Allah, dan janganlah lemah.” [HR. Muslim]

Menuntut ilmu bukan sekedar main-main, tapi dengan semangat.

Imam Ibnu Jauzi -rahimahullaah- berkata dalam “Talbiis Ibliis”:

اِعْلَمْ أَنَّ أَوَّلَ تَلْبِيْسِ إِبْلِيْسَ عَلَى النَّاسِ: صَدُّهُمْ عَنِ الْعِلْمِ، لِأَنَّ الْعِلْمَ نُوْرٌ، فَإِذَا أَطْفَأَ مَصَابِيْحَهُمْ؛ خَبَّطَهُمْ فِي الظُّلَمِ كَيْفَ شَاءَ

“Ketahuilah bahwa “Talbiis Ibliis” (tipuan Iblis) yang pertama kali kepada manusia adalah: menghalangi mereka dari ilmu. Karena ilmu adalah cahaya, sehingga kalau Iblis bisa memadamkan cahaya mereka; maka dia bisa menyesatkan mereka dalam kegelapan sesuai keinginannya.”

Dan ilmu yang dimaksud adalah yang kita belajar dalil, bukan kata orang.

Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah -rahimahullaah- menukil perkataan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah -rahimahullah-:

مَنْ فَارَقَ الدَّلِيْلَ؛ ضَلَّ السَّبِيْلَ، وَلَا دَلِيْلَ إِلَّا بِمَا جَاءَ بِهِ الرَّسُوْلُ

“Barangsiapa meninggalkan dalil; maka dia telah tersesat jalan. Dan tidak ada dalil kecuali dengan apa yang dibawa oleh Rasul -shallallaahu ‘alaihi wa sallam-.” [“Miftaah Daaris Sa’aadah”]

KEENAM: Sabda Rasulullah -shallallaahu ‘alaihi wa sallam-:

وَمَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِيْ بَيْتٍ مِنْ بُيُوْتِ اللهِ يَتْلُوْنَ كِتَابَ اللهِ وَيَتَدَارَسُوْنَهُ بَيْنَهُمْ؛ إِلَّا نَزَلَتْ عَلَيْهِمُ السَّكِيْنَةُ، وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ، وَحَفَّتْهُمُ الْمَلَائِكَةُ، وَذَكَرَهُمُ اللهُ فِيْمَنْ عِنْدَهُ

“Tidaklah suatu kaum berkumpul di salah satu rumah Allah (masjid) untuk membaca Kitabullah dan mempelajarinya di antara mereka; melainkan ketenteraman turun atas mereka, rahmat meliputi mereka, malaikat mengelilingi mereka, dan Allah menyanjung mereka di tengah para malaikat yang berada di sisi-Nya.”

Dengan kita berkumpul di rumah Allah (masjid); maka:

  1. Kita akan mendapatkan ketenangan. Ketika kita ikhlas; maka pasti tenang.
  2. Allah liputi dengan rahmat.
  3. Dikelilingi oleh malaikat, sebagai bentuk penghormatan. Seperti disebutkan dalam hadits lain:

…وَإِنَّ الْمَلَائِكَةَ لَتَضَعُ أَجْنِحَتَهَا رِضًا لِطَالِبِ الْعِلْمِ…

“…Sesungguhnya malaikat akan meletakkan sayapnya karena ridha kepada orang yang menuntut ilmu …” [HR, Abu Dawud dan lainnya]

  1. Allah menyebut dan memuji: orang yang menuntut ilmu dengan niat karena Allah.

KETUJUH: Sabda Rasulullah -shallallaahu ‘alaihi wa sallam-:

وَمَنْ بَطَّأَ بِهِ عَمَلُهُ؛ لَمْ يُسْرِعْ بِهِ نَسَبُهُ

“Dan barangsiapa yang lambat amalnya; maka tidak dapat dikejar oleh nasabnya.”

Meski nasab tinggi -seperti keturunan Nabi-, tapi kalau tidak beramal; maka nasabnya tidak bisa mengejarnya. Karena Allah menghisab atas amal. Jadi keturunan Nabi harus mengikuti Nabi -shallallaahu ‘alaihi wa sallam-.

Sekali lagi bahwa yang harus terus diingat dalam menuntut ilmu adalah: agar menuntut ilmu ini mendekatkan diri kita kepada Allah.

[7]- Juga yang perlu diperhatikan dalam menuntut ilmu adalah: harus hafal Al-Qur-an. Imam Ibnu ‘Abdil Barr (wafat th. 463 H) -rahimahulaah- berkata:

”Menuntut ilmu memiliki tingkatan dan tahapan yang tidak boleh dilanggar. Siapa yang melanggamya secara keseluruhan; maka ia telah melanggar jalan para ulama Salaf. Dan siapa yang melanggar jalan mereka dengan sengaja; maka ia telah tersesat. Dan siapa yang melanggarnya lantaran ijtihadnya, maka ia telah tergelincir.

Awal dari ilmu adalah menghafalkan Kitabullah dan memahaminya. Segala apa yang dapat membantu untuk memahaminya (As-Sunnah, bahasa Arab, dan lain-lain -pent);maka wajib untuk mempelajarinya. Aku tidak mengatakan bahwa menghafal seluruh Al-Qur-an adalah fardhu, tetapi aku katakan bahwa hal itu adalah wajib (sunnah yang mendekati wajib) dan keharusan bagi siapa saja yang ingin menjadi seorang yang alim, bukan fardhu.” [“Jaami’ Bayaanil ‘Ilmi wa Fadhlihi”]

Banyak penuntut ilmu yang belajar bertahun-tahun tapi tidak bertambah hafalan. Banyak yang tidak mengalami peningkatan, sehingga kita harus belajar setiap hari dengan membaca agar ilmu kita meningkat.

Dan -sebelumnya-: hati kita harus bersih terlebih dahulu, karena ibarat mau menanam; maka tanahnya harus dibersihkan terlebih dahulu; baru kemudian ditanami. Ketika akan menuntut ilmu; maka harus bersih hati ini, karena betapa banyak orang yang kotor hatinya ketika menuntut ilmu.

-ditulis dengan ringkas oleh: Ahmad Hendrix