Tantangan Dakwah

Rasulullah -shallallaahu ‘alaihi wa sallam- bersabda:

“Sungguh, pada umat sebelum kalian: ada seorang laki-laki yang dibuatkan lubang di tanah untuknya, kemudian dia diletakkan di dalamnya, kemudian didatangkan gergaji lalu diletakkan di atas kepalanya; maka dia pun dibelah menjadi dua, dan (ada yang) disisir dengan sisir besi antara daging dan tulangnya; maka hal itu tidak menghalanginya dari agamanya. Demi Allah! Perkasa (Islam) ini akan sempurna sampai seorang berkendara dari Shan’a sampai ke Hadhramaut tidak ada yang dia takuti kecuali Allah dan serigala (ditakutkan memakan) kambingnya. AKAN TETAPI SUNGGUH, KALIAN TERBURU-BURU.” HR. Al-Bukhari (no. 6943)

DAKWAH NABI IBRAHIM -‘alaihis salaam- DAN UJIAN YANG MENIMPA BELIAU

DAKWAH NABI IBRAHIM -‘alaihis salaam- DAN UJIAN YANG MENIMPA BELIAU

[1]- Ibrahim -‘alaihis salaam- mendakwahi kaumnya kepada Tauhid, yaitu: agar mereka beribadah hanya kepada Allah dan meninggalkan peribadahan kepada tuhan-tuhan selain Allah. Beliau benar-benar mengingkari kesyirikan sampai menghancurkan berhala-berhala milik mereka, dan mereka pun berniat membakarnya. Allah -Ta’aala- berfirman:

وَتَاللَّهِ لَأَكِيدَنَّ أَصْنَامَكُمْ بَعْدَ أَنْ تُوَلُّوا مُدْبِرِينَ * فَجَعَلَهُمْ جُذَاذًا إِلَّا كَبِيرًا لَهُمْ لَعَلَّهُمْ إِلَيْهِ يَرْجِعُونَ * قَالُوا مَنْ فَعَلَ هَذَا بِآلِهَتِنَا إِنَّهُ لَمِنَ الظَّالِمِينَ * قَالُوا سَمِعْنَا فَتًى يَذْكُرُهُمْ يُقَالُ لَهُ إِبْرَاهِيمُ * قَالُوا فَأْتُوا بِهِ عَلَى أَعْيُنِ النَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَشْهَدُونَ * قَالُوا أَأَنْتَ فَعَلْتَ هَذَا بِآلِهَتِنَا يَا إِبْرَاهِيمُ * قَالَ بَلْ فَعَلَهُ كَبِيرُهُمْ هَذَا فَاسْأَلُوهُمْ إِنْ كَانُوا يَنْطِقُونَ * فَرَجَعُوا إِلَى أَنْفُسِهِمْ فَقَالُوا إِنَّكُمْ أَنْتُمُ الظَّالِمُونَ * ثُمَّ نُكِسُوا عَلَى رُءُوسِهِمْ لَقَدْ عَلِمْتَ مَا هَؤُلَاءِ يَنْطِقُونَ * قَالَ أَفَتَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لَا يَنْفَعُكُمْ شَيْئًا وَلَا يَضُرُّكُمْ * أُفٍّ لَكُمْ وَلِمَا تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ أَفَلَا تَعْقِلُونَ * قَالُوا حَرِّقُوهُ وَانْصُرُوا آلِهَتَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ فَاعِلِينَ * قُلْنَا يَا نَارُ كُونِي بَرْدًا وَسَلَامًا عَلَى إِبْرَاهِيمَ * وَأَرَادُوا بِهِ كَيْدًا فَجَعَلْنَاهُمُ الْأَخْسَرِينَ

“(Ibrahim berkata:) Demi Allah, sungguh, aku akan melakukan tipu daya terhadap berhala-berhalamu setelah kamu sekalian pergi meninggalkannya. Maka dia (Ibrahim) menghancurkan (berhala-berhala itu) berkeping-keping, kecuali yang terbesar (induknya); agar mereka kembali (untuk bertanya) kepadanya. Mereka (yang lain) berkata: “Siapakah yang melakukan (perbuatan) ini terhadap tuhan-tuhan kami? Sungguh, dia termasuk orang yang zhalim.” Mereka (yang lain) berkata: “Kami mendengar ada seorang pemuda yang mencela (berhala-berhala ini), namanya Ibrahim.” Mereka berkata: “(Kalau demikian) bawalah dia dengan diperlihatkan kepada orang banyak, agar mereka menyaksikan.” Mereka bertanya: “Apakah engkau, yang melakukan (perbuatan) ini terhadap tuhan-tuhan kami, wahai Ibrahim?” Dia (Ibrahim) menjawab: “Sebenarnya (patung) yang besar itulah yang melakukannya, maka tanyakanlah kepada berhala itu, jika mereka dapat berbicara.” Maka mereka kembali kepada kesadaran mereka dan berkata: “Sesungguhnya kamu sekalian adalah orang-orang yang menzhalimi (diri sendiri).” Kemudian mereka menundukkan kepala (lalu berkata): “Engkau (Ibrahim) pasti tahu bahwa (berhala-berhala) itu tidak dapat berbicara.” Dia (Ibrahim) berkata: “Maka mengapa kamu menyembah selain Allah, sesuatu yang tidak dapat memberi manfaat sedikit pun, dan tidak (pula) memberi mudharat kepada kamu? Celakalah kamu dan apa yang kamu sembah selain Allah! Tidakkah kamu mengerti? Mereka berkata: “Bakarlah dia dan bantulah tuhan-tuhan kamu, jika kamu benar-benar hendak berbuat.” Kami (Allah) berfirman: “Wahai api! Jadilah kamu dingin, dan penyelamat bagi Ibrahim.” Dan mereka hendak berbuat jahat terhadap Ibrahim, maka Kami menjadikan mereka itu orang-orang yang paling rugi.” (QS. Al-Anbiyaa’: 57-70)

[2]- Syaikh Rabi’ bin Hadi Al-Madkhali -hafizhahullaah- berkata:

“Al-Qur’an memberitahu kita tentang (dakwah) Nabi yang lurus ini (Nabi Ibrahim) yang merupakan imamnya para nabi, bahwa beliau memulai (dakwahnya) dengan memperbaiki ‘Aqidah, yakni: beliau berdakwah mengajak (kaumnya) untuk mentauhidkan Allah dan mengikhlaskan ibadah hanya kepada-Nya, dan beliau memerangi kesyirikan serta menghancurkannya dan juga (menghancurkan) sebab-sebabnya, sampai ke akar-akarnya….

Beliau mendebat mereka dengan hujjah yang kuat dan jelas…sampai akhirnya memaksa mereka untuk mengakui kezhaliman, kesesatan, fanatik buta, serta taklid kapada nenek moyang mereka:

قَالُوا وَجَدْنَا آبَاءَنَا لَـهَا عَابِدِيْـنَ

“Mereka berkata: Kami mendapati nenek moyang kami menyembahnya.” (QS. Al-Anbiyaa’: 53)…

DAN TATKALA MEREKA TIDAK LAGI MEMILIKI HUJJAH; MAKA MEREKA BERALIH KEPADA KEKUATAN, YANG MERUPAKAN SENJATA SETIAP ORANG YANG LEMAH DARI HUJJAH, DI SETIAP WAKTU DAN TEMPAT:

قَالُوْا حَـرِّقُوْهُ وَانْصُرُوْا آلِـهَتَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ فَاعِلِـيْـنَ

Mereka berkata: Bakarlah dia dan bantulah tuhan-tuhan kamu, jika kamu benar-benar hendak berbuat.” (QS. Al-Anbiyaa’: 68)

Dan Allah menyelamatkan Khalil-Nya: Ibrahim, dan Allah mengembalikan tipu daya orang-orang yang kafir dan merugi kepada mereka sendiri:

قُلْنَا يَا نَارُ كُونِي بَرْدًا وَسَلَامًا عَلَى إِبْرَاهِيمَ * وَأَرَادُوا بِهِ كَيْدًا فَجَعَلْنَاهُمُ الْأَخْسَرِينَ

“Kami (Allah) berfirman: “Wahai api! Jadilah kamu dingin, dan penyelamat bagi Ibrahim.” Dan mereka hendak berbuat jahat terhadap Ibrahim, maka Kami menjadikan mereka itu orang-orang yang paling rugi.” (QS. Al-Anbiyaa’: 69-70)”

[“Manhajul Anbiyaa’ Fid Da’wah Ilallaah Fiihil Hikmah Wal ‘Aql” (hlm. 60-61), karya Syaikh Rabi’ bin Hadi Al-Madkhali -hafizhahullaah-]

-ditulis oleh: Ustadz Ahmad Hendrix-

‘AQIDAH WASITHIYYAH [ Bagian 7 ]

KAJIAN ‘AQIDAH WASITHIYYAH 7

[Penjelasan Sifat Ilmu Bagi Allah Yang Meliputi Segala Sesuatu]

[1]- PEMBAHASAN AYAT PERTAMA

هُوَ الأوَّلُ وَالآخِرُ وَالظَّاهِرُ وَالْبَاطِنُ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيْمٌ

“Dialah Yang Awal, Yang Akhir, Yang Zhahir, dan Yang Bathin; dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS. Al-Hadiid: 3)

Nabi -shallallahu ‘alaihi wa- sallam telah menjelaskan sendiri makna nama-nama Allah ini: yaitu “Al- Awwalu”, “Al- Aakhiru”, “Az- Zhaahiru”, “Al- Baathinu” di dalam do’a beliau -shallallahu ‘alaihi wa sallam-:

أَنْتَ الْأَوَّلُ فَلَيْسَ قَبْلَكَ شَيْءٌ، وَأَنْتَ الْآخِرُ فَلَيْسَ بَعْدَكَ شَيْءٌ، وَأَنْتَ الظَّاهِرُ فَلَيْسَ فَوْقَكَ شَيْءٌ، وَأَنْتَ الْبَاطِنُ فَلَيْسَ دُوْنَكَ شَيْءٌ

“Ya Allah, Engkaulah “Al- Awwalu”: maka tidak ada sebelum-Mu sesuatu apapun, dan Engkaulah “Al- Aakhiru”: maka tidak ada setelah-Mu sesuatu apapun, dan Engkaulah “Az- Zhaahiru”: maka tidak ada di atas-Mu sesuatu apapun, dan Engkaulah “Al- Baathinu”: maka tidak ada selain-Mu sesuatu apa pun.” (HR. Muslim (no. 2713))

Al-Imam Ibnul Qayyim -rahimahullah- menjelaskan tentang 4 (empat) nama ini. Beliau mengatakan bahwa 4 (empat) nama ini maknanya saling berhadapan: 2 (dua) nama menjelaskan sifat Azali dan Abadi bagi Allah -Subhaanahu Wa Ta’aalaa- dan 2 (dua) nama menunjukkan ketinggian dan kedekatan Allah -Subhaanahu Wa Ta’aalaa-.

1. “Al- Awwalu” = menunjukkan sifat keawalan bagi Allah -Subhaanahu Wa Ta’aalaa- yang mendahului keawalan segala sesuatu selain Allah -Subhaanahu Wa Ta’aalaa-.

2. “Al- Aakhiru” = mengandung sifat keakhiran bagi Allah -Subhaanahu wa Ta’aalaa- yang tetap (kekal) setelah keakhiran segala sesuatu.

Maka sifat “Awwaliyyah” (keawalan) bagi Allah; yaitu: Allah -Subhaanahu Wa Ta’aalaa- mendahului segala sesuatu.

Sifat “Aakhiriyyah” (keakhiran) bagi Allah; yaitu: Allah -Subhaanahu Wa Ta’aalaa- kekal setelah segala sesuatu.

Awal dan akhir, ini berkaitan dengan sifat Azali dan Abadi bagi Allah -Subhaanahu wa Ta’aalaa-.

3. “Az- Zhaahiru” = mengandung makna “Az- Zhuhuuru” yang maknanya “Al-‘Uluwwu” yaitu tinggi.

4. “Al- Baathinu” = menunjukkan bahwa Allah -Subhaanahu Wa Ta’aalaa- dekat terhadap segala sesuatu.

Inilah 4 (empat) nama Allah -Subhaanahu Wa Ta’aalaa-.

[Lihat: “At-Tanbiihaat As-Saniyyah ‘Alal ‘Aqiidah Al-Waasithiyyah” (hlm. 54), karya Syaikh ‘Abdul ‘Aziz An-Nashir Ar-Rasyid -rahimahullaah-]

– Kemudian di akhir ayat disebutkan:

وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

“Dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu.”

Maka ini sebagai penyempurna dari 4 (empat) nama dan 4 (sifat) sebelumnya.

Kata بِكُلِّ شَيْءٍ = segala sesuatu.

Maka ini umum maknanya; yakni: mencakup segala sesuatu.

Sebagaimana dikatakan oleh para ulama: Bahwa Allah mengetahui segala sesuatu: apa yang telah terjadi, yang akan terjadi, dan sesuatu yang tidak terjadi: kalau terjadi; maka bagaimana terjadinya. Seperti contohnya firman Allah -Subhaanahu Wa Ta’aalaa-:

…وَلَوْ رُدُّوْا لَعَادُوْا لِمَا نُهُوْا عَنْهُ…

“… Seandainya mereka dikembalikan ke dunia; tentu mereka akan mengulang kembali apa yang telah dilarang mengerjakannya…” (QS. Al-An’aam:28)

Yakni: orang kafir itu tidak akan dikembalikan ke dunia, akan tetapi Allah -Subhaanahu Wa Ta’aalaa- mengetahui: kalaupun mereka dikembalikan; maka percuma: yakni mereka akan kembali lagi kepada perbuatan mereka dahulu yang mereka dilarang darinya.

Buah yang bisa diambil dari beriman bahwa Allah -Subhaanahu Wa Ta’aalaa- mengetahui segala sesuatu yaitu sebagaimana dijelaskan oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Al- Utsaimin -rahimahullaah-:

“Buah yang dihasilkan dari beriman bahwa Allah -Subhaanahu Wa Ta’aalaa- mengetahui segala sesuatu yaitu: (1)merasa diawasi Allah -‘Azza Wa Jalla- (2)dan takut kepada-Nya.”

[“Syarh Al-‘Aqiidah Al-Waasithiyyah” (I/184), karya Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin -rahimahullaah-]

Maka dalam ayat ini terdapat 5 (lima) sifat, yang di antaranya adalah: sifat ilmu bagi Allah yang mencakup segala sesuatu, dan inilah yang kita bahas.

[2]- PEMBAHASAN AYAT KEDUA

…إِنَّ اللهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

“…Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Maha Mengenal.” (QS. Luqman: 34)

Dalam ayat ini terdapat 3 (tiga) Nama dan 3 (tiga) Sifat Allah -Subhaanahu Wa Ta’aalaa-:

(1)- Nama Allah: “Al- ‘Aliimu” (Yang Maha Mengetahui), dan nama ini mengandung sifat “Al-‘Ilmu” bagi Allah -Subhaanahu Wa Ta’aalaa-.

(2)- “Al- Khabiiru”; nama ini mengandung sifat “Al-Khibrah” (ilmu yang lebih khusus). Syaikh Muhammad bin Shalih Al- ‘Utsaimin -rahimahullaah- menjelaskan:

“Jadi ini (“Al-Khibrah”) adalah sifat yang lebih khusus (yang disebutkan) setelah sifat yang umum (“Al-‘Ilmu”).”

[“Syarh Al-‘Aqiidah Al-Waasithiyyah” (I/190), karya Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin -rahimahullaah-]

Jadi, 2 (dua) nama: “Al-‘Aliimu” dan “Al-Khabiiru”, keduanya menunjukkan: ilmu, akan tetapi “Al- Khabiir” lebih khusus lagi; karena “Al-Khabiir” yakni: ilmu-Nya meliputi hal-hal yang tidak tampak dan samar, sebagaimana meliputi juga terhadap hal-hal yang tampak.

[Lihat: “At-Tanbiihaat As-Saniyyah ‘Alal ‘Aqiidah Al-Waasithiyyah” (hlm. 58), karya Syaikh ‘Abdul ‘Aziz An-Nashir Ar-Rasyid -rahimahullaah-]

Sehingga dengan beriman terhadap sifat ini; maka akan menambah rasa takut kepada Allah -Subhaanahu Wa Ta’aalaa-; baik ketika terlihat di keramaian maupun ketika sendirian, karena Allah mengetahui segala sesuatu; baik yang lahir (tampak), maupun yang bathin (tidak nampak) oleh manusia.

(3)- Nama “Allaah” yang mengandung sifat “Al-Uluuhiyyah” (hak untuk diibadahi).

[3]- PEMBAHASAN AYAT KETIGA

…يَعْلَمُ مَا يَلِجُ فِي الأرْضِ وَمَا يَـخْرُجُ مِنْهَا وَمَا يَنْزِلُ مِنَ السَّمَاءِ وَمَا يَعْرُجُ فِيْهَا…

“…Dia mengetahui apa yang masuk ke dalam bumi dan apa yang keluar darinya, apa yang turun dari langit dan apa yang naik ke sana…” (QS. Al-Hadid: 4)

Maka lafazh مَا pada ayat ini: maknanya umum.

Yakni:

(1)- Allah -Subhaanahu Wa Ta’aalaa- mengetahui segala sesuatu yang masuk ke bumi; seperti: air hujan, biji-bijian yang ditanam, manusia yang dikuburkan, binatang yang ada di dalam bumi, dan segala macam yang masuk ke dalam bumi.

(2)- Dan Allah -Subhaanahu Wa Ta’aalaa- juga mengetahui segala sesuatu yang keluar dari bumi; seperti: air, tumbuh-tumbuhan, tanaman dan lainnya.

(3)- Allah -Subhaanahu Wa Ta’aalaa- juga mengetahui segala sesuatu yang turun dari langit; seperti: air hujan yang turun, wahyu, ataupun Malaikat yang turun dengan membawa perintah Allah.

(4)- Dan Allah -Subhaanahu Wa Ta’aalaa- juga mengetahui segala sesuatu yang naik ke langit; seperti: amal shalih, Malaikat yang naik, ruh seseorang yang dicabut kemudian diangkat ke langit, dan do’a yang naik ke atas.

[Lihat: “Taisiirul Kariimir Rahmaan” (hlm. 837-838- cet. Mu-assasah Ar-Risaalah), karya Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-S’adi -rahimahullaah-]

Maka ayat ini menyebutkan tentang: ilmu Allah yang meliputi segala sesuatu secara rinci.

[4]- PEMBAHASAN AYAT KEEMPAT

وَعِنْدَهُ مَفَاتِحُ الْغَيْبِ لا يَعْلَمُهَا إِلَّا هُوَ وَيَعْلَمُ مَا فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَمَا تَسْقُطُ مِنْ وَرَقَةٍ إِلَّا يَعْلَمُهَا وَلَا حَبَّةٍ فِيْ ظُلُمَاتِ الأرْضِ وَلَا رَطْبٍ وَلَا يَابِسٍ إِلَّا فِيْ كِتَابٍ مُبِيْنٍ

“Dan “Mafaatihul Ghaib” (kunci-kunci semua yang ghaib) ada pada-Nya; tidak ada yang mengetahui selain Dia. Dia mengetahui apa yang ada di darat dan di laut. Tidak ada sehelai daun pun yang gugur yang tidak diketahui-Nya, tidak ada sebutir biji pun dalam kegelapan bumi, dan tidak pula sesuatu yang basah atau yang kering; yang tidak tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh).” (QS. Al-An’aam: 59)

Maka di sini Allah -Subhaanahu Wa Ta’aalaa- menjelaskan tentang ilmu-Nya yang mencakup segala sesuatu:

– “Mafaatihul Ghaib” (kunci-kunci semua yang ghaib) adalah: seperti yang ditafsirkan Nabi -shallallaahu ‘alaihi wa sallam- ada 5 (lima), yaitu Allah -Subhaanahu Wa Ta’aalaa- sebutkan di dalam Al-Qur’an:

إِنَّ اللهَ عِنْدَهُ عِلْمُ السَّاعَةِ وَيُنَزِّلُ الْغَيْثَ وَيَعْلَمُ مَا فِي اْلأَرْحَامِ وَمَا تَدْرِيْ نَفْسٌ مَاذَا تَكْسِبُ غَدًا وَمَا تَدْرِيْ نَفْسٌ بِأَيِّ أَرْضٍ تَـمُوْتُ إِنَّ اللهَ عَلِيْمٌ خَبِيْرٌ

“Sesungguhnya hanya di sisi Allah: ilmu tentang Hari Kiamat; dan Dia yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. Dan tidak ada seorang pun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan dikerjakannya besok. Dan tidak seorang pun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Maha Mengenal.” (QS. Luqman: 34)

Jadi, “Mafaatihul Ghaib” (kunci-kunci semua yang ghaib) adalah:

1. Ilmu Allah terhadap Hari Kiamat.

2. Ilmu Allah terhadap turunnya “Al-Ghaitsu” (hujan).

Maka disini tidak menggunakan kata “Al-Mathar” (hujan) akan tetapi menggunakan “Al-Ghaitsu”.

Makna “Al-Ghaitsu” adalah: hujan yang dapat menghilangkan kesusahan, kekeringan, paceklik, atau yang semisalnya.

Adapun “Al-Matharu” adalah: hujan yang terkadang tidak menumbuhkan tumbuh-tumbuhan.

Inilah yang diisyaratkan oleh Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam- dalam sabdanya:

لَيْسَتِ السَّنَةُ بِأَنْ لَا تُـمْطَرُوا، وَلَكِنِ السَّنَةُ أَنْ تُـمْطَرُوا وَتُـمْطَرُوا، وَلَا تُنْبِتُ الْأَرْضُ شَيْئًا

“Paceklik itu bukanlah kalian tidak diberi hujan. Akan tetapi paceklik itu terkadang terjadi: kalian diberi hujan dan kalian diberi hujan; akan tetapi tanah tidak menumbuhkan apapun.” (HR. Muslim, no. 2904)

Jadi terkadang ada hujan akan tetapi tidak menjadi “Al- Ghaitsu”, sehingga hanya Allah yang mengetahui turunnya “Al- Ghaitsu” (hujan yang dapat menghilangkan kesusahan).

3. Ilmu Allah terhadap apa yang ada di dalam rahim.

Yakni: tidak ada yang mengetahui segala sesuatu apa yang ada di dalam rahim kecuali Allah -Subhaanahu Wa Ta’aalaa- yang telah menciptakannya.

Kemudian, kalau ada orang yang mengatakan: bukankah sekarang sudah ditemukan alat USG yang bisa mengetahui apakah janin itu laki-laki atau perempuan? Maka jawabannya adalah sebagai berikut:

(1)- Bahwa USG tidak pasti -dan ini sering terjadi-; yakni terkadang tidak terlihat atau terkadang terlihat laki-laki akan tetapi ternyata lahir perempuan atau sebaliknya.

(2)- Bahwa USG tidak mungkin bisa mengetahui segala sesuatu yang berkaitan dengan apa yang di dalam rahim (janin); berupa: rizqinya, ajalnya, amalnya (amalan kebaikan atau sebaliknya), serta menjadi orang yang bahagia atau sengsara.

Maka jelaslah bahwa hanya Allah -Subhaanahu Wa Ta’aalaa- yang mengetahui segala sesuatu yang berkaitan dengan apa yang ada di dalam rahim.

4. Ilmu Allah terhadap apa yang akan terjadi pada hari esok.

Yakni: manusia tidak mengetahui apa yang akan terjadi dan apa yang akan dia lakukan pada hari esok, karena hanya Allah -Subhaanahu Wa Ta’aalaa- yang mengetahuinya. Manusia hanya bisa berencana, akan tetapi Allah -Subhaanahu Wa Ta’aalaa- yang menentukan.

5. Ilmu Allah tentang tempat kematian.

Selain “Mafaatihul Ghaib” yang 5 (lima) di atas; dalam ayat ini juga disebutkan bahwa: Allah mengetahui apa yang ada di daratan dan di laut, sampai dedaunan yang berguguran pun Allah mengetahuinya, dan juga biji-bijian di dalam kegelapan bumi pun Allah mengetahuinya, serta tidak ada yang basah dan yang kering kecuali Allah mengetahuinya. Dan semuanya itu telah ada di dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh).

[5]- PEMBAHASAN AYAT KELIMA

…وَمَا تَـحْمِلُ مِنْ أُنْثَى وَلا تَضَعُ إِلا بِعِلْمِهِ…

“…Tidak ada seorang perempuan pun yang mengandung dan melahirkan; melainkan dengan sepengetahuan-Nya…” (QS. Faathir: 11)

Kata أُنْثَى (perempuan) di sini mencakup: perempuan dari kalangan manusia atau betina dari kalangan binatang. Maka Allah -Subhaanahu Wa Ta’aalaa- mengetahui tentang mereka yang mengandung dan melahirkan.

Maka di sini disebutkan tentang: sifat ilmu bagi Allah.

[6]- PEMBAHASAN AYAT KEENAM

…لِتَعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ وَأَنَّ اللهَ قَدْ أَحَاطَ بِكُلِّ شَيْءٍ عِلْمًا

“… agar kamu mengetahui bahwa Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu, dan ilmu Allah benar-benar meliputi segala sesuatu.” (QS. Ath-Thalaq: 12)

Kelengkapan ayat ini adalah:

اللهُ الَّذِيْ خَلَقَ سَبْعَ سَـمَاوَاتٍ وَمِنَ اْلأَرْضِ مِثْلَهُنَّ يَتَنَزَّلُ اْلأَمْرُ بَيْنَهُنَّ لِتَعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ وَأَنَّ اللهَ قَدْ أَحَاطَ بِكُلِّ شَيْءٍ عِلْمًا

“Allah yang menciptakan tujuh langit dan (penciptaan) bumi juga serupa. Perintah Allah berlaku padanya, agar kamu mengetahui bahwasanya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu, dan, ilmu Allah benar-benar meliputi segala sesuatu.” (QS. Ath-Thalaq: 12)

Allah sebutkan di sini bahwa Dia menciptakan langit dan bumi: agar kalian mengetahui (berilmu) tentang kekuasaan-Nya atas segala sesuatu, dan bahwa ilmu-Nya yang meliputi segala sesuatu; yakni: mengetahui Allah dengan sifat-sifat-Nya. Itulah tujuan diciptakannya langit dan bumi.

Dan dalam ayat lain Allah -Subhaanahu Wa Ta’aalaa- berfirman:

وَمَا خَلَقْتُ الْـجِنَّ وَاْلإنْسَ إِلاَّ لِيَعْبُدُوْنِ

“Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzaariyaat: 56)

Sehingga kalau digabungkan kedua ayat tersebut (QS. Ath-Thalaq: 12 & QS. Adz-Dzaariyaat: 56), maka kandungannya adalah seperti yang dijelaskan oleh Imam Ibnu Qayyim Al- Jauziyah -rahimahullah-:

“Maka 2 (dua) ayat ini mengandung faedah bahwa Allah menciptakan langit dan bumi serta apa yang ada di antara keduanya, tujuannya adalah: (1)agar dikenal dengan nama-nama dan sifat-sifat-Nya, dan (2) agar diibadahi.”

[Lihat: “Al-‘Ilmu, Fadhluhu Wa Syarafuhu” (hlm. 69)]

Maka itulah tujuan diciptakannya langit dan bumi serta jin dan manusia.

-Ustadz Ahmad Hendrix-

‘AQIDAH WASITHIYYAH [ Bagian 6 ]

KAJIAN ‘AQIDAH WASITHIYYAH 6

Kemudian di sini disebutkan firman Allah -Subhaanahu Wa Ta’aalaa-:

وَتَوَكَّلْ عَلَى الْحَيِّ الَّذِيْ لاَ يَمُوْتُ…

“Dan bertawakkallah kepada Allah Yang Hidup, Yang tidak mati…” (QS. Al-Furqaan: 58)

[41]- Dalam sebagian naskah ayat ini diletakkan setelah ayat:

هُوَ الأَوَّلُ وَالآخِرُ وَالظَّاهِرُ وَالْبَاطِنُ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

“Dialah Yang Awal dan Yang Akhir, Yang Zahir dan Yang Batin; dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS. Al-Hadiid: 3)

Akan tetapi kita mengikuti matan ini yang diambil dari kitab “Majmuu’ Fataawaa” Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah -rahimahullaahu-.

وَتَوَكَّلْ عَلَى الْحَيِّ الَّذِيْ لاَ يَمُوْتُ …

“Dan bertawakkallah kepada Allah Yang Hidup (Kekal), Yang tidak mati. . .” (QS. Al-Furqaan: 58)

[42]- Maka di sini -sebagaimana telah dijelaskan di awal pembahasan ‘Aqidah Wasithiyyah ini- bahwasannya inti dari pembawaan ayat-ayat Al-Qur’an dan hadits-hadits Nabi -shallallaahu ‘alaihi wa sallam- yang disebutkan penulis adalah untuk menjelaskan bahwasannya ayat-ayat dan hadits-hadits yang tersebut di dalamnya adalah: terkandung nama-nama dan sifat-sifat Allah -Subhaanahu Wa Ta’aalaa-. Bahkan sebagian Ulama ketika mensyarah/menjelaskan kitab ini adalah: tidak memberikan syarah/penjelasan yang panjang lebar ketika melewati bagian penyebutan ayat-ayat dan hadits-hadits Nabi tersebut, karena intinya adalah mengambil faedah: bahwasannya dalam ayat-ayat dan hadits-hadits tersebut terdapat nama-nama dan sifat-sifat Allah -Subhaanahu Wa Ta’aalaa-.

Akan tetapi -sebagaimana telah kita jelaskan di awal- metode kita adalah menjelaskan faedah yang terdapat dalam ayat ini, walaupun mungkin terkadang tidak ada kaitannya dengan penyebutan nama dan sifat Allah -Subhaanahu Wa Ta’aalaa- (keluar dari pembahasan) atau mungkin ada kaitannya akan tetapi tidak langsung.

[43]- Maka pada ayat ini -yang telah dibawakan oleh penulis- nampak sekali bahwasannya dibawakan ayat ini untuk menyebutkan nama Allah -Subhaanahu Wa Ta’aalaa- yaitu: “Al- Hayyu (Yang Maha Hidup)” dan sifat “Laa Yamuutu (Tidak Mati)”.

[44]- Kemudian juga pada ayat ini dijelaskan tentang tawakkal. Ayat ini berisi perintah dari Allah -Subhaanahu Wa Ta’aalaa- untuk bertawakal kepada-Nya, Yang Maha Hidup, Yang tidak mengalami kematian -sebagaimana yang yang telah kita jelaskan-.

Makna tawakkal berasal dari kata:

تَوَكَّلَ – يَتَوَكَّلُ – تَوَكُّلاً

Kata (تَوَكُّلاً) = bentuk masdhar-nya.

Kata (تَوَكَّلَ) = bentuk fi’il madhi-nya.

Dan kata (تَوَكَّلْ) = bentuk fi’il amr-nya.

Kata (التَّوَكُّلُ) “At-Tawakkulu” diambil dari:

)وَكَلَ الشَّيْءَ إِلَى غَيْرَهُ(

= memasrahkan sesuatu kepada orang lain.

Jika dikatakan:

( التَّوَكُّلُ عَلَى الْغَيْرِ)

bertawakkal kepada orang lain = pasrah kepadanya. Ini makna secara bahasa.

[45]- Sebagian Ulama memberikan pengertian bertawakkal kepada Allah yaitu: jujur dalam bersandar kepada Allah dalam mendapatkan manfaat dan menolak bahaya disertai dengan rasa percaya kepada-Nya dan dengan melakukan sebab-sebab yang dibenarkan.

– Yaitu engkau benar-benar bersandar kepada Allah -Subhaanahu Wa Ta’aalaa- dengan penyandaran yang jujur dimana engkau tidak meminta kepada selain Allah, tidak meminta pertolongan kepada selain Allah, tidak mengharap kepada selain Allah, dan tidak takut kepada selain Allah. Jadi, engkau benar-benar bersandar kepada Allah dalam mendapatkan manfaat dan menolak bahaya, juga disertai rasa percaya kepada Allah -Subhaanahu Wa Ta’aalaa- dengan tetap melaksanakan sebab-sebab yang Allah izinkan yaitu sebab-sebab yang tidak terlarang.

– Jadi secara lahiriah: anggota badan kita tetap melakukan sebab, dan secara batin/hati kita: keyakinan kita bertawakkal kepada Allah -Subhaanahu Wa Ta’aalaa-, bersandar kepada-Nya.

Maka barang siapa yang tidak bertawakkal kepada Allah -Subhaanahu Wa Ta’aalaa-, akan tetapi sebaliknya; justru mengandalkan kekuatan, harta, dan jumlah; maka dia akan dihinakan oleh Allah -Subhaanahu Wa Ta’aalaa-, tidak akan diberikan pertolongan.

Dan ini pernah terjadi pada para Shahabat ketika mereka ‘ujub (bangga) dengan jumlah yang banyak, padahal biasanya mereka dengan jumlah yang sedikitpun: Allah menangkan. Akan tetapi ketika banyak jumlahnya; justru muncul perkataan yang tidak pantas, yaitu mereka mengatakan bahwasannya mereka tidak akan kalah karena jumlahnya banyak, sehingga Allah tidak tolong mereka dan ini Allah firmankan dalam Al-Qur’an:

لَقَدْ نَصَرَكُمُ اللهُ فِي مَوَاطِنَ كَثِيرَةٍ وَيَوْمَ حُنَيْنٍ إِذْ أَعْجَبَتْكُمْ كَثْرَتُكُمْ فَلَمْ تُغْنِ عَنْكُمْ شَيْئًا وَضَاقَتْ عَلَيْكُمُ الأرْضُ بِمَا رَحُبَتْ ثُمَّ وَلَّيْتُمْ مُدْبِرِينَ

“Sesungguhnya Allah telah menolong kamu (mukminin) di banyak medan perang, dan (ingatlah) perang Hunain, ketika jumlahmu yang besar itu membanggakan kamu, tetapi (jumlah yang banyak itu) sama sekali tidak berguna bagimu, dan bumi yang luas itu terasa sempit bagimu, kemudian kamu berbalik ke belakang dan lari tunggang langgang.” (QS. At-Taubah: 25)

Inilah keadaan orang yang tidak bertawakkal kepada Allah, walaupun sudah terwujud sebab untuk kemenangan, keberhasilan; akan tetapi tanpa tawakkal: maka tidak akan Allah tolong. Begitu pula sebaliknya; orang yang bertawakkal kepada Allah akan tetapi tidak melakukan sebab yang diizinkan: maka ini juga tidak jujur tawakkalnya, bahkan kurang akalnya selain kurang Agamanya, karena ini celaan yang jelas terhadap hikmah Allah -Subhaanahu Wa Ta’aalaa-.

[46]- Jadi sebagaimana dijelaskan oleh Al- Imam Ibnu Katsir -rahimahullaahu– (dalam Tafsirnya):

فَالسَّعْيُ فِيْ السَّبَبِ لاَ يُنَافِيْ التَّوَكُّلِ

“Seorang melakukan usaha dalam menjalankan sebab, itu tidak bertentangan dengan tawakkal.”

Rasulullah -shallallaahu ‘alaihi wa sallam- pernah bersabda:

لَوْ أَنَّكُمْ تَوَكَّلُوْنَ عَلَى اللهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ لَرَزَقَكُمْ كَمَا يَرْزُقُ الطَّيْرَ تَغْدُوْ حِمَاصًا وَتَرُوْحُ بِطَانًا

“Kalaulah seandainya kalian bertawakkal kepada Allah dengan sebenar-benar tawakkal kepada-Nya; niscaya Allah akan memberikan rizqi kepada kalian sebagaimana Allah memberikan rizqi kepada burung. Burung pergi di pagi hari dalam keadaan perut lapar dan pulang di sore hari dalam keadaan perut kenyang.”

Maka di sini Rasulullah -shallallaahu ‘alaihi wa sallam- mengatakan kepada kita (kaum Muslimin) agar benar-benar bertawakkal kepada Allah -Subhaanahu Wa Ta’aalaa-, niscaya Allah akan memberikan rizqi. Namun bukan berarti tawakkal itu tidak berusaha, karena di sini disebutkan bahwa Allah memberikan rizqi kepada burung sedangkan burung tidak diam saja di sangkarnya; akan tetapi pergi berusaha mencari makanan, pergi dalam keadaan perut kosong dan pulang dalam keadaan perut kenyang.

Kemudian juga Imam Ibnu Katsir -setelah membawakan hadits yang diriwayatkan oleh Imam At- Tirmidzi, An-Nasa-i, dan Ibnu Majah di atas-; beliau berkata:

فَأَثْبَتَ لَهَا رَوَاحًا وَغُدُوًّا لِطَلَبِ الرِّزْقِ مَعَ تَوَكُّلِهَا عَلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ

“Nabi telah tetapkan burung ini pulang dan pergiuntuk mencari rizqi disertai tawakkalnya kepada Allah -‘Azza Wa Jalla-.”

Jadi tetap ada usaha.

Imam Ibnu Rajab Al-Hanbali -rahimahullaahu– membawakan hadits dari Imam At- Tirmidzi, dari Anas, ketika ada seseorang berkata: “Wahai Rasulullah! Apakah saya mengikat binatang tunggangan saya ini kemudian saya bertawakkal kepada Allah? Atau saya biarkan saja (tidak di ikat) kemudian saya bertawakkal? Kemudian Nabi jawab: “Ikatlah dulu! Baru bertawakkal.”

Maka inilah Sunnah Nabi -shallallaahu ‘alaihi wa sallam-; yaitu: menjalankan sebab yang diperbolehkan, baru kemudian bertawakkal.

Jadi harus ada 2 (dua) hal tersebut: (1)menjalankan sebab, dan (2)jangan lupa bertawakkal, karena akan sia-sia kalau tidak ada penyandaraan (bertawakkal) kepada Allah. Demikian juga bertawakkal dan jangan lupa menjalankan sebab.

Maka jelas keduanya (bertawakkal dan menjalankan sebab yang diperbolehkan) tidak akan bertentangan.

[47]- Dan juga di sini kita mengetahui bahwasannya tidak mungkin untuk golongan Qadariyyah -jenis yang baru- bisa bertawakkal kepada Allah, karena kita mengetahui bahwa mereka adalah menolak keterkaitan perbuatan hamba dengan takdir Allah -Subhaanahu Wa Ta’aalaa-.

Kemudian juga nanti ada pembahasan tersendiri dari Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah -rahimahullahu- tentang golongan Qadariyyah ini (jenis yang baru), mereka menolak bahwa Allah menciptakan perbuatan hamba; dalam artian mereka menganggap apa yang mereka perbuat tidak ada kaitannya dengan takdir Allah -Subhaanahu Wa Ta’aalaa-.

Maka kalau demikian halnya; mereka berkeyakinan bahwasannya perbuatan mereka, usaha mereka, apa yang mereka lakukan: di luar takdir Allah -Subhaanahu Wa Ta’aalaa-, apakah kira-kira mungkin mereka itu bertawakkal kepada Allah? Bersandar kepada-Nya dalam mewujudkan keinginan mereka baik urusan dunia maupun akhirat? Maka ini tidak mungkin! Kenapa? Karena mereka tidak berkeyakinan bahwasannya Allah mentakdirkan perbuatan mereka. Inilah jenis Qadariyyah yang baru, karena ada Qadariyyah yang lama yang mengingkari ilmu Allah -Subhaanahu Wa Ta’aalaa- dan mereka inilah yang dikafirkan oleh para Ulama.

[48]- IBADAH DAN ISTI’ANAH (TAWAKKAL)

[Kaitan antara Isti’aanah (minta pertolongan kepada Allah) dengan Tawakkal (bersandar kepada Allah) adalah seperti yang dijelaskan oleh Imam Al-Maqrizi dalam “Tajriidut Tauhiid Al-Mufiid” (hlm. 77):

“Kalau ada yang bertanya: Apa hakikat Isti’aanah secara amalan?

Jawabannya adalah: (Isti’aanah) itu adalah apa yang terungkapkan dengan (istilah) Tawakkal.”]

Imam Ibnul Qayyim -rahimahullahu- menjelaskan tentang kebaikan dan kebahagian seorang hamba adalah: dalam mewujudkan ibadah dan tawakkalnya kepada Allah -Subhaanahu Wa Ta’aalaa-; yaitu intinya mewujudkan firman Allah yang kita baca setiap harinya :

إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ

“Hanya kepada Engkaulah kami beribadah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan.” (QS. Al-Faatihah: 5)

Beribadah kepada Allah dan minta tolong kepada-Nya atas segala urusan, menyandarkan kesuksesan, urusan kita -baik urusan Agama maupun dunia- kepada Allah -Subhaanahu Wa Ta’aalaa-.

Oleh karena itu dijelaskan oleh Ibnu Katsir -rahimahullahu- di dalam tafsirnya tentang firman Allah tersebut:

أَيْ لاَ نَعْبُدُ إِلاَّ إِيَّاكَ، وَلاَ نَتَوَكَّلُ إِلاَّ عَلَيْكَ، وَهَذَا هُوَ كَمَالُ الطَّاعَةِ. وَالدِّيْنُ يَرْجِعُ كُلُّهُ إِلَى هٰذَيْنِ الْمَعْنَيَيْنِ، وَهٰذَا كَمَا قَالَ بَعْضُ السَّلَفِ: الْفَاتِحَةُ سِرُّ الْقُرْآنِ، وَسِرُّهَا هَذِهِ الْكَلِمَةُ {إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُ} فَالأَوَّلُ تَبَرُّؤٌ مِنَ الشِّرْكِ، وَالثَّانِيْ تَبَرُّؤٌ مِنَ الْحَوْلِ وَالْقُوَّةِ وَالتَّفْوِيْضِ إِلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ

“Yakni: kami tidak beribadah kecuali hanya kepada-Mu, dan tidak bertawakkal kecuali hanya kepada-Mu, dan ini merupakan kesempurnaan ketaatan. Dan Agama ini semuanya kembali kepada 2 (dua) makna ini (tawakkal dan ibadah), dan ini seperti perkataan sebagian Salaf bahwasannya: Surat Al- Faatihah adalah inti/rahasia dari Al- Qur’an, dan rahasianya terletak pada kalimat ini: “Hanya kepada Engkaulah kami beribadah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan.”

Perkataan: إِيَّاكَ نَعْبُدُ = Hanya kepada Engkaulah kami beribadah.

Maka di sini kita berlepas diri dari kesyirikan (mempersekutukan Allah dalam beribadah).

Perkataan: وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ = Dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan.

Maka di sini kita berlepas diri dari daya dan upaya, kekuatan kita sendiri, kita serahkan semuanya kepada Allah -Subhaanahu Wa Ta’aalaa-, dan benar-benar pasrah kepada-Nya.

Kemudian kata beliau (Imam Ibnu Katsir) -rahimahullahu-:

وَهَذَا الْمَعْنىَ فِيْ غَيْرِ آيَةٍ مِنَ الْقُرْآنِ

“Dan makna semacam ini (penggabungan antara ibadah dan tawakkal) disebutkan dalam beberapa ayat Al-Qur’an. Seperti dalam surat Hud:

… فَاعْبُدْهُ وَتَوَكَّلْ عَلَيْهِ

“ …Beribadahlah kepada-Nya dan bertawakkal kepada-Nya” (QS. Hud: 123).

[49]- ULUHIYYAH DAN RUBUBIYYAH

Kemudian juga pada ayat ini (pada surat Al- Faatihah) disebutkan oleh Al- Imam Ibnul Qayyim -rahimahullahu- dalam kitabnya “Ighaatsatul Lahfaan”:

وَلِهٰذَا كَانَ صَلاَحُ الْعَبْدِ وَسَعَادَتُهُ بِتَحْقِيْقِ مِعْنىَ قَوْلِهِ : {إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُ}

“Oleh karena itulah kebaikan hamba dan kebahagiannya terdapat dalam: mewujudkan firman Allah: “Hanya kepada Engkaulah kami beribadah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan”.

Perkataan: إِيَّاكَ نَعْبُدُ = Hanya kepada Engkaulah kami beribadah.

Ini adalah makna Uluuhiyyah (Hak Allah unuk diibadahi). karena hanya Allah yang diibadahi , dicintai dengan pengagungan, ketundukan hati, takut, harap itulah makna:

إِيَّاكَ نَعْبُدُ

= beribadah hanya kepada Allah, karena Dialah yang mempunyai Uluuhiyyah (hak untuk diibadahi)

Perkataan: وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ = Dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan.

Ini makna Rubuubiyyah Allah -Subhaanahu Wa Ta’aalaa-. Karena Ar-Raab yang memberikan pertolongan kepada hamba-Nya, memberikannya petunjuk pada mashlahat-mashlahat yang dibutuhkan hamba. Maka وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ = makna Rubuubiyyah Allah -Subhaanahu Wa Ta’aalaa-.

Jadi di dalam kalimat إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُ (Hanya kepada Engkaulah kami beribadah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan); di dalamnya terdapat makna Uluuhiyyah dan Rubuubiyyah.

[48]- EMPAT GOLONGAN MANUSIA DALAM IBADAH DAN ISTI’ANAH

Manusia dalam masalah ibadah dan isti’aanah (minta pertolongan) kepada Allah terbagi menjadi beberapa kelompok:

1- Kelompok yang paling sempurna yaitu orang yang benar-benar beribadah kepada Allah dan minta pertolongan kepada-Nya (bertawakkal kepada-Nya).

Minta pertolongan kepada Allah terutama dalam masalah ibadah dan dalam hal-hal yang dapat mendekatkan diri kepada Allah -Subhaanahu Wa Ta’aalaa-, seperti yang Nabi -shallallaahu ‘alaihi wa sallam- ajarkan kepada Mu’adz bin Jabal –Radhiyallahu ‘anhu-:

اللَّهُمَّ أَعِنِّيْ عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ

“Ya Allah, Berilah pertolongan kepadaku untuk senantiasa bisa berdzikir kepada-Mu (mengingat-Mu), bersyukur kepada-Mu, dan beribadah kepada-Mu dengan baik.”

Intinya do’a yang paling baik adalah: minta pertolongan dalam hal-hal yang membuat Allah ridha, minta pertolongan dalam urusan Agama. Allah -Subhaanahu Wa Ta’aalaa- telah isyaratkan tentang hal ini dalam firman-Nya:

وَمِنْهُمْ مَنْ يَقُوْلُ رَبَّنَا آتِنَا فِيْ الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِيْ الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

“Dan di antara mereka ada orang yang berdoa: “Wahai Rabb kami! Berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan lindungilah kami dari adzab Neraka.” (QS. Al-Baqaarah: 201)

Maka pada ayat ini menunjukkan boleh dan bukan termasuk hal tercela: seseorang meminta kepada Allah ntang urusan keduniaan, akan tetapi jangan lupa meminta dalam urusan akhirat. Karena telah ada dalam hadits Qudsi -sebagaimana telah kita bahas dalam Hadits Arba’in-:

… يَا عِبَادِيْ كُلُّكُمْ جَائِعٌ إِلاَّ مَنْ أَطْعَمْتُهُ فَاسْتَطْعِمُوْنِيْ أُطْعِمْكُمْ …

“…Wahai hambaku! Setiap dari kalian adalah lapar kecuali orang yang aku beri makan, maka mintalah makanan kepada-Ku; niscaya aku beri kalian makan…”

Maka di sini Allah sendiri yang memerintahkan kita untuk minta makan kepada-Nya. Jadi boleh dan tidak tercela: meminta urusan keduniaan, akan tetapi kemudian tidak lupa urusan akhirat.

2- Orang yang Isti’aanah (minta pertolongan) kepada Allah akan tetapi tidak beribadah.

Mereka minta pertolongan kepada Allah dalam urusan keduniaan, dalam melampiaskan syahwatnya, dan seterusnya sehingga lupa akan akhirat. Allah isyaratkan tentang kelompok ini di dalam firman-Nya:

فَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَقُوْلُ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا وَمَا لَهُ فِي الآخِرَةِ مِنْ خَلاقٍ

“… Maka di antara manusia ada orang berdoa: “Wahai Rabb kami! Berilah kami (kebaikan) di dunia.” dan di akhirat dia tidak memperoleh bagian apa pun.” (QS. Al-Baqaarah: 200)

3- Orang yang beribadah akan tetapi dia tidak Isti’aanah (minta pertolongan) kepada Allah.

Mereka benar dalam beribadah; seperti: mempunyai wirid khusus dan seterusnya, akan tetapi tidak minta pertolongan kepada Allah, maka ini berbahaya; karena dikhawatirkan akan ada rasa ‘ujub (berbangga); merasa ibadahnya adalah atas usahanya sendiri, bukan karena petunjuk/karunia dari Allah. Padahal orang bisa masuk Surga itu dengan karunia Allah, seperti yang Nabi -shallallaahu ‘alaihi wa sallam- sabdakan:

((لَنْ يَدْخُلَ أَحَدٌ مِنْكُمُ الْـجَنَّةَ بِعَمَلِهِ)) قَــالُــوْا: وَلَا أَنْــتَ يَــا رَسُــوْلَ اللهِ؟ قَــالَ: ((وَلَا أَنَا، إِلَّا أَنْ يَــتَـغَمَّدَنِـيَ اللهُ بِـرَحْـمَةٍ مِنْهُ وَفَضْلٍ))

“Tidak ada seorang pun diantara kalian yang masuk Surga sebagai ganti atas amalannya.” Para shahabat bertanya: Anda juga tidak wahai Rasulullah? Beliau bersabda: “Tidak juga saya, kecuali jika Allah meliputiku dengan rahmat dan karunia dari-Nya.”

Oleh karena itulah ketika orang masuk Surga; maka mereka memuji Allah, seperti yang Allah firmankan dalam Al-Qur’an:

وَالَّذِيْنَ آمَنُوْا وَعَمِلُوْا الصَّالِحَاتِ لاَ نُكَلِّفُ نَفْسًا إِلاَّ وُسْعَهَا أُولَئِكَ أَصْحَابُ الْجَنَّةِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ * وَنَزَعْنَا مَا فِيْ صُدُوْرِهِمْ مِنْ غِلٍّ تَجْرِيْ مِنْ تَحْتِهِمُ الأَنْهَارُ وَقَالُوْا الْحَمْدُ لِلّهِ الَّذِيْ هَدَانَا لِهَذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلاَ أَنْ هَدَانَا اللّهُ لَقَدْ جَاءَتْ رُسُلُ رَبِّنَا بِالْحَقِّ وَنُوْدُوْا أَنْ تِلْكُمُ الْجَنَّةُ أُوْرِثْتُمُوْهَا بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ

“Dan orang-orang yang beriman serta mengerjakan kebajikan, Kami tidak membebani seseorang melainkan menurut kesanggupannya. Mereka itulah penghuni Surga; mereka kekal di dalamnya. Dan Kami cabut rasa dendam dari dalam dada mereka, di bawahnya mengalir sungai-sungai. Mereka berkata: “Segala puji bagi Allah yang telah menunjukkan kami ke (Surga) ini. Kami tidak akan mendapat petunjuk sekiranya Allah tidak menunjukkan kami. Sesungguhnya rasul-rasul Raab kami telah datang membawa kebenaran.” Diserukan kepada mereka: “Itulah surga yang diwariskan kepadamu, karena apa yang telah kamu kerjakan.”.” (QS. Al-A’raaf: 42-43)

Dan dalam ayat ini menjelaskan bahwa seseorang masuk Surga dengan sebab amalnya akan tetapi bukan sebagai ganti (Surga), sedang yang Nabi sabdakan di atas -yang tidak bisa itu- adalah: sebagai ganti.

Jadi amal seorang hamba itu bukan sebagai ganti surga Allah, karena orang bisa beramal; maka itu adalah nikmat (petunjuk) dari Allah, belum lagi nikmat-nikmat lain yang banyak sekali (yang tidak bisa dihitung), yang kalaulah amalan hamba ditukar sebagai rasa syukur dari nikmat-nikmat tersebut; niscaya tidak akan bisa untuk menggantikannya -sebagaimana dijelaskan oleh Imam Ibnul Qayyim- (di akhir “Risaalah” beliau).

Jadi sekali lagi, amal seorang hamba tidak akan mampu mengganti nikmat-nikmat Allah yang banyak sekali (yang tidak bisa dihitung). Allah -Subhaanahu Wa Ta’aalaa- berfirman:

… وَإِنْ تَعُدُّوْا نِعْمَةَ اللهِ لاَ تُحْصُوْهَا …

“… Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak dapat menghitungnya…” (QS. Ibrahim: 34)

Maka kesimpulannya orang yang beribadah tanpa Isti’aanah (minta pertolangan) kepada Allah ini berbahaya, karena akan timbul rasa ujub (berbangga) dengan amal shalihnya, merasa sudah beramal shalih karena usahanya sendiri; bukan pertolongan dari Allah.

4- Kelompok yang terburuk yaitu orang yang tidak beribadah dan tidak Isti’aanah (minta pertolongan) kepada Allah.

[49]- Masuk pembahasan yang berkaitan dengan ayat ini adalah penyebutan Nama dan Sifat Allah:

(1)- Al- Hayyu (Yang Maha Hidup).

Di sini kita diperintahkan untuk bertawakkal kepada Al- Hayyu (Allah Yang Maha Hidup).

Makna Al- Hayyu (Yang Maha Hidup) = Nama Allah yang mengandung semua sifat yang sempurna dalam kehidupan -sebagaimana telah kita jelaskan-.

Kemudian kaitannya dengan tawakkal adalah: hanya Allah lah yang pantas untuk kita bersandar kepada-Nya karena Dia memiliki hidup yang sempurna yang tidak tertimpa kematian.

(2)- Al- Hayaah (sifat hidup)

Di dalam ayat ini juga terdapat penetapan sifat Al- Hayaah (hidup) yang terkandung di dalam nama Allah Al- Hayyu (Yang Maha Hidup).

(3)- Penafian sifat kematian bagi Allah -Subhaanahu Wa Ta’aalaa-.

Dan juga di dalam ayat ini terdapat penafiaan sifat kematian bagi Allah. Dan telah kita jelaskan; kalau ada sifat penafian; yaitu: karena kandungan kesempurnaan lawannya. Maka penafian sifat kematiaan bagi Allah = mengandung kesempurnaan sifat hidup bagi Allah -Subhaanahu Wa Ta’aalaa-.

Jadi di sini ada 2 (dua) sifat dan 1 (satu) nama.

-ditranskrip oleh: Al-Akh Alda, dan diedit kembali oleh pemateri: Ustadz Ahmad Hendrix-

Download Audionya :

https://drive.google.com/file/d/0B3FT6ui1GzNVOEdDaEpuOHd5MUE/view