‘AQIDAH WASHITIYYAH [ Bagian 5 ]

KAJIAN ‘AQIDAH WASHITIYYAH 5

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah -rahimahullaah- berkata:

وَمَا وَصَفَ بِهِ نَفْسَهُ فِـيْ أَعْظَمِ آيَــةٍ فِـيْ كِـتَابِهِ حَيْثُ يَقُوْلُ: {اللَّهُ لا إِلَهَ إِلا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ لا تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلا نَوْمٌ لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الأرْضِ مَنْ ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلا بِإِذْنِهِ يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ وَلا يُحِيطُونَ بِشَيْءٍ مِنْ عِلْمِهِ إِلا بِمَا شَاءَ وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضَ وَلا يَئُودُهُ حِفْظُهُمَا وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ} وَلِـهٰذَا كَانَ مَنْ قَرَأَ هٰذِهِ الْآيَـةَ فِـيْ لَـيْلَةٍ؛ لَـمْ يَزَلْ عَلَيْهِ مِنَ اللهِ حَافِظٌ، وَلَا يَقْرَبُـهُ شَيْطَانٌ حَتَّى يُصْبِحَ.

Dan (termasuk dalam hal ini adalah:) apa yang Allah sifatkan tentang diri-Nya dalam ayat yang paling agung; yaitu firman Allah Ta’aalaa: “Allah, tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi selain Dia, Yang Maha Hidup, Yang terus-menerus mengurus (makhluk-Nya), tidak mengantuk dan tidak tidur. Milik-Nya apa yang ada dilangit dan apa yang ada di bumi. Tidak ada yang dapat memberi Syafa’at di sisi-Nya tanpa izin-Nya. Dia mengetahui apa yang di hadapan mereka dan apa yang di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui sesuatu apa pun tentang ilmu-Nya; melainkan apa yang Dia kehendaki. Kursi-Nya meliputi langit dan bumi. Dan Dia tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Dia Maha Tinggi, Maha Besar.” (QS. Al-Baqarah: 255) Oleh karena itulah: barangsiapa yang membaca ayat ini pada suatu malam; maka akan ada penjaga dari Allah, dan setan tidak akan mendekatinya sampai Shubuh.

[40]- TAFSIR AYAT KURSI (banyak diambil dari Syarah ‘Aqidah Wasithiyyah karya Syaikh Al-‘Utsaimin -rahimahullaah-)

Ayat ini dikenal dengan ayat kursi karena di dalamnya disebutkan kursi Allah -Subhaanahu Wa Ta’aalaa-. Dan ayat ini merupakan ayat yang paling agung dalam Al-Qur’an karena Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam- pernah bertanya kepada Ubay bin Ka’ab -radhiyallaahu’anhu-: “Wahai Abu Mundzir (Ubay bin Ka’ab)! Ayat apa di dalam Al-Qur’an yang engkau hafal yang paling agung? Ubay menjawab: اللهُ لاَ إِلهَ إِلاَّ هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّوْمُ (ayat kursi), maka beliau -shallallahu ‘alaihi Wasallam- bersabda: “Hendaknya ilmu itu membuatmu senang wahai Abu Mundzir.” [HR. Muslim]

Maka beliau telah men-taqriir (menetapkan/menyetujui) bahwa ayat kursi ini merupakan ayat yang paling agung.

– Makna:

اللهُ لاَ إِلهَ إِلاَّ هُوَ

“Allah, tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi selain Dia”

Maka di sini Allah mengabarkan tentang ke-esa-an-Nya dalam Uluhiyyah (hak untuk diibadahi).

Dan di dalamnya terdapat An-Nafyu dan Al-Itsbaat; yakni di dalamnya terkandung 2 (dua) rukun:

1. An-Nafyu (Peniadaan), yaitu meniadakan/mengingkari segala sesuatu yang disembah selain Allah.

2. Al-Itsbaat (Penetapan), yaitu menetapkan ibadah hanya kepada Allah saja.

(Sebagaimana telah kita jelaskan)

Jadi harus ada pengingkaran terhadap sesembahan selain Allah kemudian penetapan ibadah hanya kepada Allah saja.

– Makna:

الْحَيُّ الْقَيُّوْمُ

“Yang Maha Hidup, Yang terus menerus mengurus (makhluk-Nya)”

Ini adalah 2 nama yang Allah sebutkan.

Maka (الْحَيُّ) “Al-Hayyu” (Yang Maha Hidup); yaitu: Dzat yang memiliki kehidupan yang sempurna, yang tentunya di dalam nama ini terkandung segala sifat yang sempurna, kehidupan Allah tidak didahului dengan ketiadaan dan tidak akan menimpanya hilang/lenyap, serta tidak ada kekurangan sama sekali, karena itu hidup yang sempurna, berbeda dengan makhluk-Nya yang sebelumnya tidak ada.

Kata “Al-Hayyu” digunakan juga untuk selain Allah; yakni untuk makhluk-Nya, sebagaimana Allah -Subhaanahu Wa Ta’aalaa- berfirman:

… يُخْرِجُ الْحَيَّ مِنَ الْمَيِّتِ وَمُخْرِجُ الْمَيِّتِ مِنَ الْحَيِّ …

“… Dia mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup… ” (QS. Al-An’am: 95)

Jadi “Al-Hayyu” selain digunakan untuk Allah juga digunakan untuk makhluk-Nya, akan tetapi keduanya berbeda; maksudnya yaitu: sama nama akan tetapi berbeda dzat dan sifatnya.

(الْقَيُّوْمُ) “Al-Qayyuum” (Yang terus menerus mengurus makhluk-Nya); yaitu: Allah berdiri sendiri, tidak butuh kepada makhluk-Nya akan tetapi Allah-lah yang mengurusi makhluk-Nya. Allah -Subhaanahu Wa Ta’aalaa- berfirman:

أَفَمَنْ هُوَ قَائِمٌ عَلَى كُلِّ نَفْسٍ بِمَا كَسَبَتْ…

“Maka apakah Tuhan yang menjaga setiap jiwa terhadap apa yang diperbuatnya (sama dengan yang lain)?… “ (QS. Ar-Ra’d: 33)

Maka di sini Allah menjaga setiap jiwa terhadap apa yang diperbuatnya; yakni: Allah mengurusi makhluk-Nya.

– Makna:

لاَ تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلاَ نَوْمٌ

“Tidak mengantuk dan tidak tidur”

Di sini terdapat penafian sifat yang kurang atau aib bagi Allah -Subhaanahu Wa Ta’aalaa-; yaitu: rasa kantuk dan tidur. Kemudian -sebagaimana telah kita jelaskan- ketika ada penafian sifat yang kurang atau aib bagi Allah; maka maksudnya adalah untuk menetapkan lawannya. Sehingga ketika dinafikan sifat mengantuk dan tidur; maka maksudnya: untuk menetapkan kesempurnaan hidup bagi Allah dan kesempurnaan kepengurusan Allah terhadap diri-Nya dan selain-Nya. Karena di antara kesempurnaan Allah adalah: tidak butuh kepada tidur; karena Allah senantiasa mengurus makhluk-Nya.

Jika ada yang berkata: “Bukankah sifat tidur itu sempurna bagi makhluk? Karena jika seseorang tidak bisa tidur; maka itu adalah penyakit (sifat kurang). Kemudian mengapa hal itu dikatakan sifat sempurna bagi Allah -Ta’aalaa-?”

Maka jawabannya adalah: tidak setiap kesempurnaan yang disandarkan kepada makhluk = itu sempurna bagi Allah. Seperti di sini: sifat tidur; maka sifat ini sempurna bagi makhluk akan tetapi bagi Allah -yang senantiasa mengurus makhluk-Nya- maka ini merupakan sifat yang kurang bagi-Nya.

Begitu pula sebaliknya: tidak setiap sifat yang sempurna bagi Allah = itu sempurna bagi makhluk. Seperti sifat sombong, dimana sifat ini merupakan sifat sempurna bagi Allah; akan tetapi (sifat ini) sifat kurang bagi makhluk bahkan terlarang.

– Makna:

لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الأَرْضِ

“Milik-Nya apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi”

Ini menunjukkan tentang kepemilikan Allah terhadap semua yang ada di langit: malaikat dan yang lainnya, dan juga semua yang ada di bumi: makhluk yang ada di dalamnya.

– Makna:

مَنْ ذَا الَّذِيْ يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلاَّ بِإِذْنِهِ

“Tidak ada yang dapat memberi Syafa’at di sisi-Nya tanpa izin-Nya”

Makna Syafa’at:

– Secara bahasa adalah: menggenapkan.

– Secara istilah adalah: menjadi perantara bagi orang lain untuk mendatangkan manfaat atau menolak bahaya. Seperti Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam- memberikan Syafa’at kepada ahlul mauqif untuk segera diputuskan urusan mereka, dan yang lainnya.

Syafa’at yang diterima di sisi Allah yang memenuhi 3 (tiga) syarat:

1. Izin Allah -Ta’aalaa- bagi orang yang akan memberi Syafa’at.

Maka ini menunjukkan tentang kesempurnaan Rububiyyah Allah dan kekuasaan-Nya, sehingga Syafa’at itu semuanya milik Allah -Ta’aalaa-. Maka kita tidak bisa bertawakal kepada makhluk sehingga wajib bagi kita bertawakal kepada Allah saja.

2. Keridhaan Allah kepada orang yang akan diberi Syafa’at.

Allah -Subhaanahu Wa Ta’aalaa- berfirman:

… وَلاَ يَشْفَعُوْنَ إِلاَّ لِمَنِ ارْتَضَى …

“…Dan mereka tidak memberi Syafa’at melainkan kepada orang yang diridhai oleh Allah…” (QS. Ql-Anbiyaa : 28)

Sehingga ketika seseorang mengharapkan Syafa’at dari orang yang akan memberi Syafa’at; maka dia tidak bisa mencari Syafa’at tersebut dengan melakukan kesyirikan. Seperti yang dilakukan oleh orang-orang musyrik pada zaman Nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam-: mereka mengharapkan Syafa’at dengan beribadah kepada selain Allah. Allah -Subhaanahu Wa Ta’aalaa- berfirman:

وَيَعْبُدُوْنَ مِنْ دُونِ اللهِ مَا لاَ يَضُرُّهُمْ وَلاَ يَنْفَعُهُمْ وَيَقُوْلُوْنَ هَؤُلاَءِ شُفَعَاؤُنَا عِنْدَ اللهِ …

“Dan mereka menyembah selain Allah; apa yang tidak dapat mendatangkan bencana kepada mereka dan tidak pula member manfaat, dan mereka berkata: “Mereka itu adalah pemberi Syafa’at kami di hadapan Allah.”…’” (QS. Yunus : 18)

3. Allah hanya ridha (memberikan Syafa’at) kepada orang-orang yang bertauhid.

Sebagaimana sabda Nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam- ketika beliau ditanya siapa manusia yang paling bahagia mendapatkan Syafa’atmu? Maka beliau bersabda: “Orang yang mengucapkan Laa Ilaaha Illallahu (tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi selain Allah) dengan ikhlas dari hatinya.” [HR. Al-Bukhari]

– Makna:

يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيْهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ

“Dia mengetahui apa yang di hadapan mereka apa yang di belakang mereka”

Yakni: Allah mengetahui apa yang telah terjadi dan apa yang akan terjadi. Ilmu Allah meliputi segala sesuatu; baik yang berkaitan tentang diri-Nya dan perbuatan-Nya maupun tentang perbuatan makhluk-Nya. Adapun makhluk; maka mengetahui dari ilmu Allah: hanya apa yang Allah kehendaki saja.

– Sehinngga selanjutnya Allah firmankan:

وَلا يُحِيْطُونَ بِشَيْءٍ مِنْ عِلْمِهِ إِلاَّ بِمَا شَاءَ

“Dan mereka tidak mengetahui sesuatu apapun tentang ilmu-Nya melainkan apa yang Dia kehendaki”

Jadi mereka tidak mengetahui tentang ilmu Allah -termasuk tentang dzat Allah, tentang sifat-sifat-Nya-: kecuali hanya sedikit dari apa yang Allah ajarkan kepada makhluk-Nya.

Allah -Subhaanahu wa Ta’aalaa- berfirman:

… وَمَا أُوتِيْتُمْ مِنَ الْعِلْمِ إِلاَّ قَلِيْلاً

“Dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit.” (QS. Al-Israa: 85)

– Makna:

وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضَ

“Kursi-Nya meliputi langit dan bumi”

Kursi Allah lebih besar dari langit dan bumi. Kursi adalah tempat kedua kaki Allah, sebagaimana disebutkan oleh Ibnu ‘Abbas -radhiyallaahu’anhu- dan Kursi berbeda dengan ‘Arsy.

Maka dalam kebesaran kursi -yang lebih besar dari langit dan bumi, serta ‘Arsy yang lebih besar dari kursi-; maka ini menunjukkan keagungan Allah -Subhaanahu Wa Ta’aalaa- sebagai penciptanya.

– Makna:

وَلاَ يَئُوْدُهُ حِفْظُهُمَا

“Dan Dia tidak merasa berat dalam memelihara keduanya”

Maka ini merupakan penafian rasa berat dari Allah untuk menjaga langit dan bumi yang menujukkan kesempurnaan kekuatan Allah, ilmu-Nya, bahkan disebutkan oleh Syaikh Al-‘Utsaimin -rahimahullah-: juga menunjukkan kasih sayang Allah -yang telah memelihara langit dan bumi-.

– Makna:

وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيْمُ

“Dan Dia Maha Tinggi, Maha Besar”

Ini adalah 2 (dua) nama Allah -Subhaanahu wa Ta’aalaa-.

Nama Allah: (الْعَلِيُّ) “Al-‘Aliyyu” (Yang Maha Tinggi); di dalamnya terkandung sifat “Al-‘Uluw” (ketinggian) bagi Allah; baik Dzat-Nya maupun sifat-Nya; yakni: Dzat Allah tinggi di atas makhluk-Nya dan sifat-Nya juga tinggi sebagaimana firman Allah -Taa’aalaa-:

وَلِلَّهِ الْمَثَلُ الْأَعْلَى … …

“… Dan Allah mempunyai sifat Yang Maha Tinggi … “ (QS. An-Nahl: 60)

Jadi sifat Allah semuanya tinggi dan tidak ada kekurangan sama sekali padanya.

Nama-Nya: (الْعَظِيْمُ) “Al-‘Azhiimu” (Yang Maha Besar); di dalamnya terkandung sifat “Al-‘Azhamah” (keagungan); yakni: Allah memiliki keagungan; yaitu: kekuatan, kesombongan, dan yang semisalnya.

Jadi secara umum: setiap nama yang Allah sebutkan; maka terkandung sifat di dalamnya.

Maka di dalam ayat Kursi ini terdapat 5 nama yang terkandung sifat di dalamnya:

1. “Allahu” = Mengandung sifat Uluhiyyah (yang berhak untuk diibadahi).

2. “Al-Hayyu” = Mengandung sifat Al-Hayaah (hidup yang sempurna).

3. “Al-Qayyuumu” = Mengandung sifat Al-Qayyuumiyyah (Allah mengurusi diri-Nya dan makhluk-Nya).

4. “Al-‘Aliyyu” = Mengandung sifat Al-‘Uluw (ketinggian); baik dzat maupun sifat-Nya.

5. “Al-‘Azhiimu” = Mengandung sifat Al-‘Azhamah (keagungan); yaitu kekuatan, kesombongan, dan yang semisalnya.

Dan juga di dalam ayat ini terkandung sifat yang lainnya baik Tsubuutiyyah (penetapan) maupun Salbiyyah (penolakan sifat yang kurang atau aib) bagi Allah -Ta’aalaa-.

Kemudian untuk sifat Al-‘Uluw” (ketinggian); maka ada kelompok yang menyelisihi Ahlus Sunnah Wal Jama’ah; yaitu: Jahmiyyah dan para pengikutnya.

Yang pertama kali menolak sifat bahkan seluruh sifat –secara umum- adalah Ja’d bin Dirham.

Kemudian pada awalnya Jahmiyyah ketika -menolak sifat Al-‘Uluw” (ketinggian)-: mereka mengatakan bahwa Dzat Allah ada di mana-mana. Kemudian para Ulama membantahnya; baik dengan dalil naqli (Al-Qur’an & As-Sunnah) maupun naqli (akal). Karena mereka pada awalnya adalah tidak berdalil; mereka menggunakan ilmu filsafat, ilmu kalam, dan semisalnya. Akan tetapi kemudian untuk mengecoh orang ‘Awwaam dari kaum muslimin, maka mereka membawakan dalil, seperti:

وَلاَ أَدْنَى مِنْ ذَلِكَ وَلاَ أَكْثَرَ إِلَّا هُوَ مَعَهُمْ أَيْنَ مَا كَانُوا … …

“… Dan tidak ada pembicaraan yang kurang dari itu atau lebih banyak, melainkan Dia (Allah) pasti ada bersama mereka di mana pun mereka berada … “ (QS. Al- Mujaadalah: 7)

Kemudian juga:

… وَهُوَ مَعَكُمْ أَيْنَ مَا كُنْتُمْ …

“… Dan Dia (Allah) bersama kamu di mana saja kamu berada … “ (QS. Al-Hadid: 4)

Maka dengan dalil tersebut -menurut mereka- = berarti Allah ada di mana-mana bersama makhluknya.

Padahal kata (مَعَ) (bersama) itu tidak mesti maknanya bercampur bersama mereka, sebagaimana Allah -Ta’aalaa- berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ

“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar.” (QS. At-Taubah: 119)

Maka jelas di sini makna “Bersama orang-orang yang benar” = (مَعَ الصَّادِقِيْنَ) bukan berarti bercampur; mengikuti mereka kemana saja, akan tetapi maksudnya adalah :mengikuti sifat-sifat mereka, dan seterusnya.

Demikian juga sabda Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- yaitu ketika Rasul pulang dari peperangan, kemudian diceritakan kepadanya tentang orang-orang yang tidak ikut berperang karena udzur; sakit atau yang lainnya, maka beliau sebutkan bahwa mereka yang tinggal di Madinah (yang tidak ikut berperang karena udzur), mereka bersama kalian = (مَعَكُمْ), padahal jelas maknanya tidak bercampur bersama mereka.

Dan memang secara akal juga demikian (menunjukkan bathilnya ’Aqidah tersebut); yakni: jika Allah ada di mana-mana; berarti ada di tempat bersih dan juga di tempat kotor (yang mana ini tercela bagi Allah).

Sehingga akhirnya mereka menarik diri dari ‘Aqidah tersebut (Allah ada di mana-mana), dan mereka menggantinya dengan ‘Aqidah: Allah tidak di mana-mana; yakni: Allah tidak di atas atau di bawah, tidak di kanan atau di kiri, tidak di dalam alam atau di luarnya, tidak berpisah dengan alam atau bersambung dengannya, dan yang lainnya, yang kesimpulannya: bahwa Allah tidak ada.

Maka jelas ‘Aqidah ini telah menyelisihi Ijma (kesepakatan) yang menetapkan Allah berada di atas. Dan banyak sekali dalil yang menunjukkan hal ini, sebagaimana dikatakan oleh Imam ibnu Qayyim Al-Jauziyah -rahimahullah-: Dalil-dalil dari Al-Qur’an dan As-Sunnah serta perkataan salaf yang menunjukkan tentang ketinggian Allah, maka jika dikumpulkan = mencapai 1000 (seribu) dalil.

Belum lagi tentang ketinggian Allah sudah di fithrahkan oleh Allah kepada manusia, sehingga jika ingin menolak ketinggian Allah maka harus menolak fithrah.

Kemudian penulis berkata:

وَلِـهٰذَا كَانَ مَنْ قَرَأَ هٰذِهِ الْآيَـةَ فِـيْ لَـيْلَةٍ؛ لَـمْ يَزَلْ عَلَيْهِ مِنَ اللهِ حَافِظٌ، وَلَا يَقْرَبُـهُ شَيْطَانٌ حَتَّى يُصْبِحَ.

Oleh karena itulah: barangsiapa yang membaca ayat ini pada suatu malam; maka akan ada penjaga dari Allah, dan setan tidak akan mendekatinya sampai Shubuh.

Hal ini sebagaimana hadits Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam-; yaitu: ketika beliau menugaskan Abu Hurairah -radhiyallaahu’anhu- untuk menjaga shadaqah, kemudian setiap syaithan mendatangi beliau dan mengajarkan agar membaca ayat Kursi sehingga akan ada penjaga dari Allah dan tidak akan didekati Syaithan sampai waktu shubuh. Dan hal ini dibenarkan oleh Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam- dengan sabda beliau: “Adapun dia (Syaithan) untuk kali ini jujur kepadamu, akan tetapi aslinya dia adalah sangat pendusta”.

Maka diketahui pendusta atau tidaknya yaitu: dari pembenaran Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam-.

Kemudian yang perlu diingat -sebagaimana pernah kita jelaskan-: dalam masalah do’a, ta’awwudz (minta perlindungan) kepada Allah -Ta’aalaa- itu ibarat senjata. Sedangkan senjata itu:

(1)- tergantung orang yang menggunakannya; yakni tangannya harus kokoh,

(2)- dan tergantung juga senjata itu sendiri; yakni harus bagus/tajam,

(3)- serta tidak ada penghalang; yakni yang dipukul tidak terhalangi oleh perisai atau yang lainnya sehingga tidak mempan.

Jadi, kalau 3 (tiga) hal ini terpenuhi; maka akan berhasil (penggunaan senjata tersebut).

Begitu pula dengan do’a; maka harus terkumpul 3 (tiga) hal ini:

(1) Do’anya harus bagus; yakni: sesuai syariat yang telah Nabi ajarkan.

(2)- Harus mengumpulkan antara hati dan lisannya dalam berdo’a; yakni: benar-benar menghayati apa yang diucapkan.

(3)- Kemudian benar-benar tidak ada penghalang, sehingga diijabahi apa yang dia inginkan. Karena ada penghalang-penghalang diijabahinya suatu do’a, yaitu sebagaimana yang Nabi sabdakan:

وَمَطْعَمُهُ حَرَامٌ، وَمَشْرَبُهُ حَرَامٌ، وَمَلْبَسُهُ حَرَامٌ، وَغُذِيَ بِالْحَرَامِ، فَأَنَّى يُسْتَجَابُ لِذَلِكَ؟

“… sedangkan makanannya haram, minumannya haram,pakainnya haram; maka bagaimana do’anya akan dikabulkan?!”

Maka inilah diantara hal-hal yang dapat menghalangi do’a seseorang untuk diijabahi.

————————————————-

-ditranskrip oleh: Al-Akh Alda, dan diedit kembali oleh pemateri: Ahmad Hendrix-

Download  Audionya :

https://drive.google.com/file/d/0B3FT6ui1GzNVRDlFX21UQTRLZE0/view

MENCARI DALIL KEBENARAN YANG SESUAI DENGAN HAWA NAFSU DAN KEINGINAN?!!!

MENCARI DALIL KEBENARAN YANG SESUAI DENGAN HAWA NAFSU DAN KEINGINAN?!!!

Allah -Subhaanahu Wa Ta’aalaa- berfirman:

وَأَقْسَمُوا بِاللَّهِ جَهْدَ أَيْمَانِهِمْ لَئِنْ جَاءَتْهُمْ آيَةٌ لَيُؤْمِنُنَّ بِهَا قُلْ إِنَّمَا الآيَاتُ عِنْدَ اللَّهِ وَمَا يُشْعِرُكُمْ أَنَّهَا إِذَا جَاءَتْ لا يُؤْمِنُونَ

“Dan mereka bersumpah dengan nama Allah dengan segala kesungguhan, bahwa jika datang suatu mukjizat kepada mereka; pastilah mereka akan beriman kepada-Nya. Katakanlah: “Mukjizat-mukjizat itu hanya ada pada sisi Allah.” Dan tahukah kamu; bahwa apabila mukjizat (ayat-ayat) datang; mereka tidak juga akan beriman.” (QS. Al-An’aam: 109)

Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di -rahimahullaah- berkata;

“Tatkala beliau (Nabi -shallallaahu ‘alaihi wa sallam-) mendakwahi (mengajak) mereka kepada keimanan, dan beliau tunjukkan bukti (atas kebenaran beliau -shallallaahu ‘alaihi wa sallam-) dengan ayat-ayat (mu’jizat-mu’jizat); maka mereka ingin mencari pembenaran atas (kebatilan) mereka untuk (menipu) orang-orang rendahan dan orang-orang bodoh dengan berkata: “Coba datangkan ayat (mu’jizat) yang (semacam) ini dan ayat (mu’jizat) yang semacam itu; jika kamu memang orang yang benar! Kalau engkau tidak mendatangkannya; maka kami tidak akan membenarkanmu!!”

Cara semacam ini tidak akan diridhai oleh setiap orang yang jujur (mencari kebenaran-pent). Oleh karena itulah, Allah -Ta’aalaa- mengabarkan bahwa kalau Dia memenuhi permintaan mereka; mereka tetap tidak akan beriman, karena mereka memang sudah mempersiapkan diri mereka agar tetap ridha dengan agama (keyakinan) mereka (yang bathil/rusak-pent) dan mereka sudah mengetahui kebenaran; akan tetapi mereka menolaknya.”

[Al-Qawaa-‘idul Hisaan (hlm. 106-107) karya Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di -rahimahullaah-]

– diambil dari Buku: “Al-Istinbaath (2)”, Faedah Kedua Puluh Sembilan, karya Ahmad Hendrix.

Syaikh Sulaiman Ar-Ruhaili -hafizhahullaah- berkata dalam Dauroh di Batu-Malang:

“Di antara hal terbesar yang menghalangi untuk mengambil faedah dari kebaikkan ada 2 (dua) perkara:

Perkara Pertama: Bahwa seseorang bertanya dan mendengar; dengan tujuan: untuk mendengarkan (mendapatkan) apa yang dia inginkan; bukan untuk mengetahui kebenaran.

Dan ini adalah musibah

Dan Perkara Kedua: Bahwa seseorang kalau dia mendengar kebenaran; maka dia menyangka bahwa (kebenaran) itu di arahkan kepada orang lain (bukan dia yang dimaksud).

Kalau ada ulama yang mengkritik suatu perbuatan, dan bahwa ini adalah tidak boleh; maka orang itu bukannya berkata: “Saya yang melakukan perkara (yang dilarang) ini, dan sudah jelas bahwa perkara ini bathil; maka aku tinggalkan.”

(Dia) tidak (bersikap demikian); bahkan menyangka bahwa yang dimaksud adalah orang lain, adapun dia; maka bukan (dia yang dimaksud)!!”

– ditulis oleh Ustadz Ahmad Hendrix,

20 Syawwal 1437 H.

Bolehkah Masuk Parlemen / Organisasi ?

PERTANYAAN: Kita akan bicara tentang politik, yakni politik yang syar’i -insyaa Allaah-.

Kami di Indonesia -sebagaimana yang anda ketahui- menggunakan undang-undang demokrasi perlemen, ada undang-undang parlemen, ada Syi’ah melawan Ahlus Sunnah dan kaum muslimin, (intinya:) semuanya bersatu untuk menyerang kaum muslimin.

Mereka (musuh-musuh yang bersatu tersebut) memiliki Jum’iyyah (organisasi), mereka memiliki partai, dan berbagai segi (dari sarana).

Dan kami -Salafiyyun- memiliki banyak ma’had (sekolah/pondok) dan juga yayasan. Akan tetapi sekolah-sekolah tersebut hanya khusus untuk mempelajari dan mengenal agama, dan kami tidak memiliki organisasi salafi yang bisa menasehati pemerintah. (Hal itu perlu) karena pemerintah sekarang -sebagaimana kalian ketahui bersama-: memusuhi kaum muslimin, maka bagaimana solusi dari hal ini?

SYAIKH ‘ALI BIN HASAN AL-HALABI menyela penanya: “KEADAAN KITA (di Indonesia) TIDAK SAMPAI DERAJAT INI (ditekan pemerintah-pent) wahai saudaraku!”

PENANYA melanjutkan: Apakah memungkinkan bagi kita untuk mendirikan Jum’iyyah (Organisasi) Salafiyyah, tidak terkait dengan sekolah-sekolah, yakni: ada orang-orang tertentu yang nantinya mereka mengurusi tujuan-tujuan ini?

SYAIKH ‘ALI BIN HASAN AL-HALABI -hafizhahullaah- menjawab:

“Baiklah, saya akan menjawab (pertanyaan) anda -insyaa Allaah-.

PERTAMA : maka kita bukanlah memusuhi organisasi yang didirikan untuk medan yang baik bagi Dakwah atau untuk bergerak dengan leluasa di negeri (ini), dan (kebutuhan lain) yang semisalnya. Akan tetapi kita katakan: yang menjadi permasalahan adalah DALAM PRAKTEKNYA, jadi permasalahannya bukanlah tentang pendirian organisasi…Kita bicara dengan ilmu, karena kalau kita bicara dengan kebodohan; maka kita (bingung apakah) menilai organisasi untuk mengkritiknya atau mengkritik prakteknya? Ini yang pertama.

KEDUA : Jika Ahlus Sunnah di negeri ini SEPAKAT ATAU SUDAH BERMUSYAWARAH UNTUK MENDIRIKAN ORGANISASI YANG BISA MEMPERSATUKAN -ATAU MINIMAL: TIDAK MEMECAH BELAH-: maka ini tidak terlarang.

KETIGA : Kami tidak menyarankan untuk mendirikan organisasi yang akan melalaikan kita dari tujuan utama kita; yaitu: mengajarkan agama Allah yang haq kepada manusia, karena (realitanya:) kebanyakan organisasi menyibukkan diri dengan kegiatan sosial, sibuk dengan harta, sibuk dengan memberikan bantuan; maka hal ini adalah bagus. Akan tetapi ini bukanlah tugas kita, tugas kita adalah lebih penting, lebih utama, dan lebih agung; yaitu: mengajarkan agama kepada manusia dan mengikat mereka dengan Allah -Subhaanahu Wa Ta’aalaa-.

KEEMPAT : Dalam masalah pemilu atau ikut andil dalam kancah politik -sebagaimana anda katakan-; maka saya ingin bertanya: apakah semua orang yang mencalonkan dirinya untuk menjadi pemimpin atau anggota parlemen atau pejabat: apakah semuanya orang-orang yang rusak? Mustahil. Memang pada mereka ada kerusakan, akan tetapi berbeda-beda.

Saya ingat betul dalam Pilpres kemarin: hampir sepakat atau berbagai usaha dari Salafiyyun untuk memilih capres yang (sekarang) tidak terpilih, bukankah begitu? Kenapa (Salafiyyun berpartisipasi-pent)? Karena dia (capres) memiliki sifat-sifat atau kelakuan yang lebih baik dari yang sekarang terpilih.

(Kemudian) siapa yang menang? PRESIDEN (yang sekarang), dan -alhamdulillaah- KITA TIDAK MELIHAT TEKANAN ATAS SALAFIYYUN, KITA TIDAK MELIHAT SIKAP KERAS ATAS MEREKA. Mereka adalah suatu bagian dari masyarakat besar.

Jadi jangan membesar-besarkan permasalahan.

KELIMA ( Terakhir ) : Jika mereka masuk atau ikut andil dalam pemilihan pemimpin, atau pejabat, atau anggota parlemen; maka kita bermusyawarah untuk memilih yang lebih utama dan lebih baik serta paling sedikit kejelekan dan keburukannya. Maka ini juga termasuk politik.

POLITIK ADALAH: SERBA MUNGKIN. Sekarang di antara para politikus itu ada yang mendatangimu dan mengatakan: pilihlah aku; niscaya aku akan bekerja untuk (kemaslahatan)mu, saya akan berikan (kebaikan) untukmu. Padahal anda -kalau dia datang lagi (setelah menang-pent)- tidak berarti baginya. (Kalau) dikatakan kepada sebagian politikus yang telah menang dalam pemilu: “Saya telah berikan suaraku, maka setelah anda menang: apa yang akan anda berikan kepadaku?” Dia akan menjawab: “Saya berikan punggungku.” Yakni: Saya tidak akan memperdulikanmu dan tidak akan menghargaimu.

(Jadi) kita tidak menginginkan pada akhirnya kita hanya MENJADI PERMAINAN BAGI ORANG-ORANG POLITIK. (Benar), kita tahu pengaruh politik dan para politikus, tidak diragukan bahwa mereka berbahaya bagi masyarakat modern, akan tetapi DEMI ALLAH: POLITIK ADALAH TIDAK BAGUS, YANG PANTAS BAGI KITA ADALAH MEMPERSIAPKAN SYARI’AT (untuk umat). Kalau kita bisa mengurusi dan mempersiapkan syari’at dalam lingkungan kita, madrasah-madrasah kita, universitas-universitas kita, dan organisasi-organisasi kita; maka ini kebaikan yang besar dan sangat besar.

KEENAM ( Tambahan Pertanyaan ): Ada yang bertanya dan banyak yang mengeluhkannya kepadaku tentang: menjadi pejabat dalam urusan agama. Maka saya katakan: Barangsiapa yang mampu untuk bergabung dan besar prasangkanya bahwa dia mampu untuk mengagungkan syari’at dan memperbanyak kebaikan, yang hal ini tidak memutuskannya dari teman-temannya, dan tidak menghalanginya dari mausia yang terdekat dengannya dalam agama, ‘aqidahnya, serta (tidak menghalangi) dari Sunnah; maka kami tidak melarang.

Di sebagian negara (sebagian teman kita) menjadi pejabat, bahkan di negeri kami sebagian teman yang baik telah menjadi pejabat,…Akan tetapi yang penting jangan sampai jabatan mengorbankan persaudaraan, jangan sampai jabatan mengorbankan Dakwah, jangan sampai jabatan menyibukkan (diri dari) memperbanyak kemaslahatan dan meminimalisir kejelekan.

Dan Allah Yang Memberi Petunjuk kepada jalan yang lurus.

Assalaamu’alaikum Wa Rahmatullaahi Wa Baraakaatuh.

——————————————————

FAEDAH DAUROH MALANG -SYAWWAL 1438 H/JULI 2017 M-

-Ustadz Ahmad Hendrix-

https://www.facebook.com/ahmadhendrix.eskanto/posts/487592388248309

AKANKAH PONDASI YANG JELEK MEMBUAHKAN HASIL YANG BAIK?!

AKANKAH PONDASI YANG JELEK MEMBUAHKAN HASIL YANG BAIK?!

[1]- Allah -Subhaanahu Wa Ta’aalaa-:

وَمَثَلُ كَلِمَةٍ خَبِيثَةٍ كَشَجَرَةٍ خَبِيثَةٍ اجْتُثَّتْ مِنْ فَوْقِ الأرْضِ مَا لَهَا مِنْ قَرَارٍ

“Dan perumpamaan kalimat yang buruk seperti pohon yang buruk, yang telah dicabut akar-akarnya dari permukaan bumi; tidak dapat (tegak) sedikitpun.” (QS. Ibrahim: 26)

[2]- Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah (wafat th. 728 H) -rahimahullaah- berkata:

فَإِذَا كَانَ الْاِعْتِقَادُ فَاسِدًا؛ أَوْرَثَ عَمَلًا فَاسِدًا

“Kalau ‘Aqidah seseorang itu rusak; maka akan mewariskan amalan yang rusak pula.”

[“Bayaan Talbiis Al-Jahmiyyah” (I/456)]

[3]- Dan termasuk ‘Aiqdah yang rusak adalah: ‘Aqidah Khawarij

Muhammad bin ‘Abdul Karim Asy-Syahrastani (wafat th. 548 H) berkata -ketika mendefinisikan firqah Khawarij-:

“Setiap yang memberontak melawan imam yang sah, yang disepakati oleh jama’ah (kaum muslimin); maka dia (pemberontak tersebut) dinamakan “khaariji” (pengikut Khawarij), baik dia memberontak di zaman para Shahabat -memberontak melawan Khulafa-ur Rasyidin-, maupun setelah mereka -yaitu memberontak melawan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik-, dan (juga memberontak kepada) imam-imam di setiap masa.”

[“Al-Milal Wan Nihal” (hlm. 114-cet. Daarul Fikr)]

[4]- Dan termasuk Khawarij juga adalah: orang-orang yang mencela Ulil Amri; sebagaimana dijelaskan oleh Syaikh Shalih Al-Fauzan -hafizhahullaah-.

Pertanyaan: Ada seseorang yang saya nasehati agar jangan mencela Ulil Amri, maka dia meng-hajr-ku (memboikotku) dengan sebab itu. Dan tatkala aku bertemu dengannya di suatu tempat, maka aku mengucapkan salam kepadanya, akan tetapi dia tidak menjawab salamku sejak dia meng-hajr-ku. Apakah dia berdosa dalam hal ini?

Syaikh Shalih Al-Fauzan menjawab:

“Orang ini termasuk Khawarij, yang memprovokasi untuk menentang Ulil Amri adalah termasuk Khawarij -wal ‘iyaadzu billaah- (kita berlindung kepada Allah). Dia tidak boleh berbuat semacam ini. Ulil Amri memiliki hak (untuk dihormati), bisakah anda hidup di suatu negeri tanpa ada Ulil Amri?…Anda telah benar ketika menasehatinya…bahkan anda harus memperingatkan (orang lain) darinya dan menjelaskan perkara (kejelekan)nya ini, serta (kejelekan) para pengikutnya…”

http://www.alfawzan.af.org.sa/node/14662

[5]- Berbeda dengan ‘Aqidah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah; sebagaiamana dijelaskan oleh Imam Ahlus Sunnah: Imam Ahmad bin Hanbal (wafat th. 241 H) -rahimahullaah-:

وَالسَّمْعُ وَالطَّاعَةُ لِلْأَئِمَّةِ وَأَمِـيْـرِ الْمُؤْمِـنِـيْـنَ؛ اَلْـبَـرِّ وَالْفَاجِرِ، وَمَنْ وَلِـيَ الْـخِلَافَةَ وَاجْتَمَعَ النَّاسُ عَلَيْهِ وَرَضُوْا بِهِ، وَمَنْ عَلِيَهُمْ بِالسَّيْفِ حَتَّى صَارَ خَلِيْفَةً وَسُـمِّيَ أَمِيْرَ الْمُؤْمِـنِـيْـنَ.

“Mendengar dan taat kepada para imam dan amirul mu’minin (pemimpin kaum mu’minin) baik (pemimpin itu) orang yang baik maupun orang yang jelek. (Juga mendengar dan taat kepada) siapa saja yang meraih kekhilafahan (kepemimpinan) dan manusia berkumpul (sepakat) dan rela atasnya. Dan (demikian juga) orang yang menguasai mereka dengan pedang (kekerasan) sehingga menjadi khalifah (pemimpin) dan dia dinamakan amirul mukminin (maka dia juga harus ditaati-pent).”

[6]- Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah -rahimahullaah- juga berkata -setelah membawakan ayat di atas dan lainnya-:

وَالْأَقْوَالُ وَالْأَفْعَالُ صِفَاتُ الْقَائِلِ الْفَاعِلِ؛ فَإِذَا كَانَتْ النَّفْسُ مُتَّصِفَةً بِالسُّوءِ وَالْخُبْثِ لَمْ يَكُنْ مَحَلُّهَا إلَّا مَا يُنَاسِبُهَا؛ فَمَنْ أَرَادَ أَنْ يَجْعَلَ الْحَيَّاتِ وَالْعَقَارِبَ يُعَاشِرُونَ النَّاسَ كَالسَّنَانِيرِ لَمْ يَصْلُحْ ؛ وَمَنْ أَرَادَ أَنْ يَجْعَلَ الْكَذِبَ شَاهِدًا لَمْ يَصْلُحْ ، وَكَذَلِكَ مَنْ أَرَادَ أَنْ يَجْعَلَ الْجَاهِلَ مُعَلِّمًا ؛ أَوْ الْأَحْمَقَ سَائِسًا

“Perkataan dan perbuatan adalah sifat dari orang yang berkata dan berbuat. Sehingga jika jiwa itu bersifat dengan kejelekan dan keburukan; maka tempatnya tidak lain adalah: yang sesuai dengannya. Maka barangsiapa yang ingin menjadikan ular dan kelajengking agar hidup bersama manusia layaknya kucing: ini tidak benar. Dan barangsiapa yang ingin menjadikan pendusta sebagai saksi; ini juga tidak benar. Demikian juga yang ingin menjadikan orang bodoh sebagai pengajar atau ORANG DUNGU SEBAGAI AHLI PENGATUR (AHLI POLITIK); (juga tidak benar).”

[“Majmuu’ Fataawaa” (VIII/226)]

[7]- Dan Rasulullah -shallallaahu ‘alaihi wa sallam- bersabda:

…أَلَا وَإِنَّ فِـي الْـجَسَدِ مُضْغَةً: إِذَا صَلَحَتْ؛ صَلَحَ الْـجَسَدُ كُلُّهُ، وَإِذَا فَسَدَتْ؛ فَسَدَ الْـجَسَدُ كُلُّهُ، أَلاَ وَهِيَ الْـقَلْبُ.

“…Ketahuilah bahwa di dalam tubuh manusia terdapat segumpal daging. Jika ia baik; maka baik pula seluruh tubuhnya, dan jika ia rusak; maka rusak pula seluruh tubuhnya. Ketahuilah bahwa segumpal daging itu adalah hati.” [Muttafaqun ‘Alaih]

– Ustadz Ahmad Hendrix-