HADITS-HADITS “BULUUGHUL MARAAM MIN ADILLATIL AHKAAM”

HADITS-HADITS “BULUUGHUL MARAAM MIN ADILLATIL AHKAAM”

Allah -Ta’aalaa- berfirman:

…وَأَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الذِّكْرَ لِـتُـبَـيِّـنَ لِلنَّاسِ مَا نُـزِّلَ إِلَيْهِمْ وَلَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُوْنَ

“…Dan Kami turunkan Adz-Dzikr (Al-Qur’an) kepadamu, agar engkau menerangkan kepada manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan agar mereka memikirkan.” (QS. An-Nahl: 44)

“Sungguh, penjelasan Rasul -shallallaahu ‘alaihi wa sallam- yang disebutkan dalam ayat…ada 3 (tiga) jenis: perkataan, perbuatan, dan “taqriir” (persetujuan).”[1] “Sehingga, barangsiapa yang ingin memahami Al-Qura’n dari selain jalan Rasul -shallallaahu ‘alaihi wa sallam-; maka telah sesat dengan kesesatan yang jauh.”[2] “Apakah engkau dapatkan dalam Kitab (Al-Qur’an) bahwa Zhuhur dan ‘Ashar 4 (empat) raka’at, dan “jahr” (dikeraskan) bacaannya pada Shalat Shubuh, Maghrib, dan ‘Isya, dan dipelankan bacaannya pada Shalat Zhuhur dan ‘Ashr, dan…pada raka’at terakhir pada Shalat Maghrib dan dua raka’at terakhir pada Shalat ‘Isya…?”[3] dan seterusnya…Oleh karena itulah Rasulullah -shallallaahu ‘alaihi wa sallam- bersabda:

صَلُّوْا كَمَا رَأَيْتُمُوْنِيْ أُصَلِّيْ

“Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat saya Shalat.”[4]

“Maka menjadi tugas masing-masing orang untuk mengerahkan segenap usaha dan kemampuannya untuk mengenal apa yang beliau bawa serta untuk taat kepada beliau. Karena ini adalah jalan keselamatan dari adzab yang pedih, dan untuk mendapatkan kebahagiaan di negeri kenikmataan. Dan cara untuk hal tersebut adalah dengan: ilmu riwayat dan penukilan (hadits).”[5]

“Dan Al-Qur’an memiliki keistimewaan dimana Allah mengkhususkannya dengan mu’jizat yang membedakannya dengan perkataan manusia, sebagaimana firman-Nya:

قُلْ لَئِنِ اجْتَمَعَتِ الْإِنْسُ وَالْـجِنُّ عَلَى أَنْ يَأْتُوْا بِـمِثْلِ هٰذَا الْقُرْآنِ لَا يَأْتُوْنَ بِـمِثْلِهِ وَلَوْ كَانَ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ ظَهِيْرًا

“Katakanlah: Sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa (dengan) Al-Qur’an ini; mereka tidak akan dapat membuat yang serupa dengannya, sekalipun mereka saling membantu satu sama lain.” (QS. Al-Israa’: 88)

Dan Al-Qur’an telah dinukilkan dengan mutawatir, sehingga (dengan keadaan semacam ini); maka tidak ada seorang pun yang berhasrat untuk merubah lafazh maupun hurufnya. Akan tetapi setan berhasrat untuk memasukkan penyelewangan dan penggantian dalam makna-maknanya dengan perubahan dan takwil, dan setan juga berhasrat untuk memasukkan penambahan dan pengurangan dalam hadits-hadits agar bisa menyesatkan sebagian hamba.

Maka Allah -Ta’aalaa- para ahli dan kritikus (hadits), orang-orang yang berpetunjuk dan lurus, mereka mengalahkan golongan setan, mereka membedakan antara yang benar dengan yang dusta, mengorbankan diri untuk menjaga As-Sunnah dan makna-makna Al-Qur’an: agar tidak ditambah dan tidak pula dikurangi…

Maka para ulama yang ahli dalam ilmu penukilan dan kritik terhadap riwayat dan sanad; mereka melakukan perjalanan untuk itu ke berbagai negeri, dan mereka meninggalkan lezatnya pembaringan…dan banyak kisah-kisah mereka yang masyhur dalam hal ini…yang diketahui oleh para ahlinya…

Dan orang-orang yang menjaga ilmu yang diwarisi dari Rasulullah -shallallaahu ‘alaihi wa sallam-…yang menjaga (hadits) dari penambahan dan pengurangan: mereka adalah seagung-agungnya wali-wali Allah yang bertaqwa, dan golongan-Nya yang beruntung. Mereka memiliki kelebihan dari ahli iman dan amal shalih yang lainnya, sebagaimana yang Allah -Ta’aalaa- firmankan:

…يَرْفَعِ اللهُ الَّذِيْنَ آمَنُوْا مِنْكُمْ وَالَّذِيْنَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ…

“…niscaya Allah akan mengangkat (derajat) orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat…” (QS. Al-Mujadilah: 11)

Sungguh, Allah telah menanamkan keimanan dalam hati mereka dan telah menguatkan mereka dengan pertolongan dari-Nya; tatkala mereka memberikan loyalitas kepada Allah dan Rasul-Nya dan memusuhi orang yang berpaling dari-Nya. Allah ­-Ta’aalaa- berfirman:

لَا تَـجِدُ قَوْمًا يُؤْمِنُوْنَ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ يُوَادُّوْنَ مَنْ حَادَّ اللهَ وَرَسُوْلَهُ وَلَوْ كَانُوْا آبَاءَهُمْ أَوْ أَبْنَاءَهُمْ أَوْ إِخْوَانَهُمْ أَوْ عَشِيْرَتَهُمْ أُولٰئِكَ كَتَبَ فِي قُلُوْبِـهِمُ الْإِيْـمَانَ وَأَيَّدَهُمْ بِرُوْحٍ مِنْهُ وَيُدْخِلُهُمْ جَنَّاتٍ تَـجْرِيْ مِنْ تَـحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِيْنَ فِيهَا رَضِيَ اللهُ عَنْهُمْ وَرَضُوْا عَنْهُ أُولٰئِكَ حِزْبُ اللهِ أَلَا إِنَّ حِزْبَ اللهِ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَ

“Engkau (Muhammad) tidak akan mendapatkan suatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari Akhir, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapaknya, anaknya, saudaranya atau keluarganya. Mereka itulah orang-orang yang Allah telah menanamkan keimanan dalam hati mereka dan menguatkan mereka dengan pertolongan yang datang dari-Nya. Lalu Dia memasukkan mereka ke dalam Surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Allah ridha terhadap mereka dan mereka pun merasa puas terhadap (limpahan rahmat)-Nya. Merekalah golongan Allah. Ingatlah, sesungguhnya golongan Allah itulah yang beruntung.” QS. Al-Mujadilah: 22).”[6]

“Demikianlah, dan sungguh, ilmu Hadits adalah termasuk ilmu yang paling utama dari ilmu-ilmu yang utama, dan yang paling bermanfaat di antara cabang-cabang ilmu yang bermanfaat, ilmu ini dicintai oleh laki-laki yang jantan dan gagah, yang ditekuni oleh para peneliti dari kalangan ulama yang sempurna (pada tingkatannya), dan dibenci oleh orang-orang yang rendah dan bawah.”[7]

Rasulullah -shallallaahu ‘alaihi wa sallam- bersabda:

نَضَّرَ اللهُ امْرَأً سَـمِعَ مِنَّا حَدِيْثًا، فَحَفِظَهُ حَتَّى يُـبَلِّغَهُ غَيْرَهُ، فَإِنَّهُ رُبَّ حَامِلِ فِقْهٍ لَيْسَ بِفَقِيْهٍ، وَرُبَّ حَامِلِ فِقْهٍ إِلَى مَنْ هُوَ أَفْقَهُ مِنْهُ

“Semoga Allah membaguskan wajah seorang yang mendengar hadits dari kami, kemudian dia menjaganya; sehingga dia sampaikan kepada orang lain. Sungguh, terkadang orang yang mengemban fiqih (hadits): tidaklah faqih (faham), dan terkadang pengemban fiqih (hadits) menyampaikan kepada orang yang lebih faqih (lebih faham) darinya.”[8]

Al-Khathib Al-Baghdadi rahimahullaah (wafat th. 462 H) berkata dalam “Kitaab al-Faqiih wal Mutafaqqih” (hlm. 548-549- cet. Daar Ibnil Jauzi):

“Maka beliau -shallallaahu ‘alaihi wa sallam- mengabarkan bahwa terkadang ada orang yang membawa hadits akan tetapi tidak menjaga dan tidak pula memahaminya. Dan kebanyakan para penulis hadits pada zaman ini jauh dari penjagaan dan kosong dari pemahaman. Mereka tidak bisa memisahkan antara (hadits) yang berpenyakit dengan yang shahih, tidak bisa membedakan antara rawi yang tsiqah dengan yang dicela (dha’if), mereka juga tidak membahas tentang makna (hadits) yang tidak mereka ketahui…”

Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah (wafat th. 751 H) -rahimahullaah- berkata:

“Dan “Ushuulul Ahkaam” (hadits-hadits inti dalam pembahasan Fiqih-pent) yang hukum-hukum (Fiqih) berporos padanya: ada sekitar 500 (lima ratus) hadits. Dan kalau dijabarkan dan dirinci lagi: menjadi sekitar 4000 (empat ribu) hadits. Dan sebenranya yang sangan menyulitkan dan memberatkan adalah: perkiraan-perkiraan (pembahasan) yang ada dalam pikiran, masalah-masalah pelik baik dalam furu’ maupun ushul; yang sebenarnya Allah tidak menurunkan keterangan atasnya.”[9]

Dan kitab “Buluughul Maraam” karya Al-Hafizh Ahmad bin ‘Ali bin Hajar Al-‘Asqalani -rahimahullaah-: mencakup lebih dari 1000 (seribu) hadits dalam masalah Fiqih, maka kemungkinan kitab ini telah mencakup “Ushuulul Ahkaam” (hadits-hadits inti dalam pembahasan Fiqih-pent) yang hukum-hukum (Fiqih) berporos padanya; yang jumlahnya hanya 500 (lima ratus) hadits.

Dan untuk membahas Kitab “Buluughul Maraam”; maka harus diperhatikan Takhrij hadits-hadits yang ada, karena sebagaimana dikatakan oleh Imam Muhammad Nashiruddin Al-Albani -rahimahullaah-:

“(Orang-orang yang) konsentrasinya hanya pada perselisihan pendapat para ulama dalam masalah-masalah Fiqih dan penjelasan mana yang kuat dan mana yang lemah saja, sedangkan mereka tidak mendalami Ilmu Hadits dan hanya bersandar pada para ulama Ahli Hadits yang terdahulu maupun belakangan -yang dianggap terpercaya-; maka orang-orang semacam ini ijtihadnya tidaklah bersih dari kesalahan, dan…tindakan mereka tidak mencukupi untuk dikatakan sempurna. Karenag sungguh, (mereka) harus merujuk kaidah-kaidah ilmu Hadits,…karena relaitanya: ILMU FIQIH TEGAK DI ATAS ILMU HADITS.”[10]

Sehingga hadits-hadits yang terdapat dalam “Buluughul Maraam”; hendaknya dibahas secara “Riwaayah” maupun “Diraayah”. Silahkan lihat pembahasan kedua istilah tersebut di sini:

https://m.facebook.com/story.php…

Dan perlu kami ingatkan juga bahwa: pembahasan yang berkaitan dengan masalah-masalah Hadits dan Fiqih sangatlah penting: meskipun “kami (juga) mengetahui apa yang menimpa kaum muslimin (di berbagai negeri) berupa: ujian dan petaka, kekalahan dan musibah. (Akan tetapi) tidaklah ini menimpa mereka melainkan dikarenakan: jauhnya mereka dari sumber yang jernih dan manhaj yang lurus, yang Allah jelaskan dalam kitab-Nya dan Rasul terangkan dalam Siroh dan Sunnahnya.

Sehingga, mengenal hukum-hukum syar’i dan masalah-masalah Fiqih tidaklah dihentikan dan dipengaruhi oleh suatu perkara. Bahkan hal itu akan mendorong kaum muslimin untuk: berilmu, beramal, dan menyebarkan kebaikan serta dakwah mengajak kepada Allah -Tabaaraka Wa Ta’aalaa-.”[11]

Terakhir, bagi yang ingin membahas masalah Hadits dan Fiqih; maka harus diperhatikan juga 2 (dua) perkara berikut:

Pertama: Memulai dengan yang penting, sebagaiamana dikatakan oleh Imam Adz-Dzahabi (wafat th. 748 H) -rahimahullaah- tentang adab seorang Muhaddits (Ahli Hadits):

وَأَنْ لَا يَغُشَّ الْمُبْتَدِئِـيْـنَ، بَلْ يَدُلَّـهُمْ عَلَى الْمُهِمِّ، فَالدِّيْنُ النَّصِيْحَةُ

“Dan jangan berlaku curang kepada “mubtadi-iin” (para pemula), akan tetapi hendaknya menunjukkan mereka kepada yang penting, karena agama adalah nasihat.”[12]

Kedua: Mengutamakan pembahasan yang bisa diamalkan, sebagaimana dikatakan oleh Imam As-Syathibi (wafat th. 790 H) -rahimahullaah-:

كُلُّ مِسْأَلَةٍ لَا يَنْبَنِيْ عَلَيْهَا عَمَلٌ؛ فَالْـخَوْضُ فِيْهَا خَوْضٌ فِيْمَا لَـمْ يَدُلَّ عَلَى اسْتِحْسَانِهِ دَلِيْلٌ شَرْعِيٌّ. وَأَعْنِيْ بِالْعَمَلِ: عَمَلَ الْقَلْبِ وَعَمَلَ الْـجَوَارِحِ، مِنْ حَيْثُ هُوَ مَطْلُوْبٌ شَرْعًا

“Setiap permasalahan yang tidak terbangaun di atasnya sebuah amalan; maka mendalaminya adalah masuk ke dalam kategori mendalami sesuatu yang tidak ada dalil syar’i yang menunjukkan atas bagusnya (pendalaman) tersebut. Yang saya maksud dengan amalan adalah: amalan hati dan amalan anggota badan, dilihat dari segi bahwa hal itu dituntut secara syari’at.”[13]

وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَـبِـيِّـنَا مُـحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ

Semoga Allah memberikan shalawat dan salam atas Nabi kita Muhammad, dan atas keluarga dan Shahabat beliau.

-ditulis oleh: Ahmad Hendrix-

[1] “Da’watunaa” (hlm. 62) milik Imam Al-Albani -rahimahullaah-.

[2] “Da’watunaa” (hlm. 60-61) milik Imam Al-Albani -rahimahullaah-.

[3] “Jummaa’ul ‘Ilmi” (IX/7-8- al-Umm) karya Imam Asy-Syafi’i –rahimahullaah-.

[4] HR. Al-Bukhari (no. 631).

[5] “Majmuu’ Fataawaa Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah” (I/5-6).

[6] “Majmuu’ Fataawaa Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah” (I/7-10).

[7] “Muqaddimah Ibnish Shalaah” (hlm. 11-12- at-Taqyiid wal Iidhaah)

[8] Shahih: HR. Ahmad dengan sanad yang shahih. Lihat: “Sullamul Wushuul Fii Takhriij Ahaadiits ar-Rasuul” (no. 140), karya Ahmad Hendrix.

[9] “I’laamul Muwaqqi’iin” (hlm. 414- cet. Daar Thayyibah).

[10] “Su-aalaat Ibni Abil ‘Ainain” (hlm. 50-53).

[11] Perkataan Syaikh ‘Ali bin Hasan Al-Halabi -hafizhahullaah- dalam “Ahkaamul ‘Iidain” (hlm. 9-10).

[12] “Al-Muuqizhah Fii ‘Ilmi Mushthalahil Hadiits” (hlm. 66).

[13] “Al-Muwaafaqaat” (I/43).

https://www.facebook.com/ahmadhendrix.eskanto/posts/474288109578737

FAIDAH MUQADDIMAH MUSLIM ( Bagian ke 4 – terakhir )

FAIDAH MUQADDIMAH MUSLIM

(bersama Syaikh Ziyad Al-‘Abbadi -hafizhahullaah-)

Bagian Keempat

[23]- Pembahasan terakhir: tentang sanad “Mu’an’an” (riwayat yang di dalam sanadnya terdapat: fulan ‘an (dari) fulan)

Agar sanad “Mu’an’an” di antara dua perawi bisa diterima; maka Imam Muslim mensyaratkan:

1. Keduanya satu zaman.

2. Ada kemungkinan bertemu; seperti:

– keduanya hidup di satu kota, atau

– keduanya pernah bersafar (untuk mencari hadits) ke tempat yang sama, atau

– keduanya pernah bersafar dalam waktu yang sama (walaupun sebentar) ke tempat yang sama (seperti: berhaji atau ‘umrah).

3. (Rawi yang meriwayatkan dengan lafazh ‘an) bukan mudallis.

4. (Kedua perawi tersebut) tsiqah.

Kemudian ada orang yang membawa pendapat yang baru -menurut Imam Muslim-; yakni: untuk yang kedua: tidak cukup hanya dengan “kemungkinan bertemu”, akan tetapi “harus pernah bertemu”. Dan hal itu bisa diketahui dengan cara menemukan jalan sanad -walau satu- yang di dalamnya terdapat kejelasan pernah mendengar; sehingga bisa dipastikan: keduanya pernah bertemu.

Syarat ini dinisbatkan kepada Ibnul Madini dan Al-Bukhari dalam setiap riwayat. Dan ada yang berpendapat bahwa: Al-Bukhari hanya mensyaratkannya dalam kitab Shahih-nya.

Orang yang mensyaratkan “harus pernah bertemu” antara perawi -yang menggunakan ‘an- dengan gurunya (orang yang dia riwayatkan haditsnya), beralasan: karena jika mencukupkan dengan “ada kemungkinan bertemu”; maka dikhawatirkan terjadinya “Mursal Khafiyy”; yakni: ada perawi -yang bukan Mudallis- akan tetapi dia meriwayatkan dari orang yang sezaman dengannya padahal dia tidak bertemu (sehingga sanadnya terputus).

Maka Imam Muslim membantah dengan beberapa segi, dan di antara bantahan terkuat Imam Muslim adalah:

1. Kekhawatiran tersebut juga bisa terjadi pada orang yang pernah bertemu, akan tetapi di suatu saat dia meriwayatkan hadits darinya dengan lafazha ‘an, dan setelah diteliti ternyata dia tidak langsung meriwayatkan darinya (alias: dengan perantara) -padahal dia bukan Mudallis-.

Dan Imam Muslim membawakan bukti-bukti akan terjadinya hal tersebut.

Maka konsekuensi orang yang tidak menerima sanad ‘an yang “tidak ada kepastian bertemu” -karena khawatir terputus (karena tidak bertemu walaupun sezaman)-; maka dia juga harus menolak sanad ‘an walaupun keduanya pernah bertemu; karena kemungkinan terputus tetap ada.

Jadi, konsekuensinya dia harus:

– menolak seluruh sanad “Mu’an’an”, atau

– menerima semuanya asalkan ada kemungkinan bertemu.

2. Imam Muslim membawakan bukti-bukti bahwa ada riwayat-riwayat yang menggunakan lafazh ‘an padahal tidak ada kepastian bertemu, akan tetapi riwayat-riwayat tersebut disepakati ke-shahih-annya (oleh para ulama).

-ditulis oleh: Ustadz Ahmad Hendrix-

FAIDAH MUQADDIMAH SHAHIH MUSLIM ( Bagian ke 3 )

FAIDAH MUQADDIMAH SHAHIH MUSLIM

(bersama Syaikh Ziyad Al-‘Abbadi -hafizhahullaah-)

Bagian Ketiga

[17]- Mengambil ilmu hadits harus dari ahlinya

عَنْ سُلَيْمَانَ بْنِ مُوسَى، قَالَ : لَقِيتُ طَاوُسًا، فَقُلْتُ : حَدَّثَنِي فُلَانٌ: كَيْتَ وَكَيْتَ . قَالَ: إِنْ كَانَ صَاحِبُكَ مَلِيًّا فَخُذْ عَنْهُ.

Dari Sulaiman bin Musa, dia berkata: Saya bertemu Thawus, maka saya katakan: Si fulan telah membawakan hadits ini dan hadits itu. Maka beliau (Thawus) berkata: “Kalau temanmu (yang membawakan hadits tersebut) adalah “maliyy”; maka ambillah darinya.”

“Maliyy” adalah: orang yang kuat dan kokoh ketika menerima dan menjaga hadits, dan bagus ketika menyampaikan.

عَنِ ابْنِ أَبِي الزِّنَادِ ، عَنْ أَبِيهِ قَالَ : أَدْرَكْتُ بِالْمَدِينَةِ مِائَةً، كُلُّهُمْ مَأْمُونٌ مَا يُؤْخَذُ عَنْهُمُ الْحَدِيثُ، يُقَالُ : لَيْسَ مِنْ أَهْلِهِ.

Dari Ibnu Abi Zinad, dari bapaknya, dia berkata: Saya dapati di Madinah seratus orang semuanya amanah, akan tetapi tidak diambil hadits dari mereka sama sekali. Dikatkan: karena memang bukan ahlinya.

Yakni: ada banyak orang yang terpercaya agamanya, orang-orang shalih dan ahli ibadah, mereka memiliki ketaqwaan; AKAN TETAPI MEREKA BUKAN AHLI ILMU. (Untuk riwayat hadits); maka harus terkumpul padanya dua perkara:

1. ‘Adaalah (terpercaya agamanya), dan

2. Dhabth (penjagaan terhadap riwayat).

Dan perawi yang terkumpul padanya dua perkara tersebut dinamakan: Tsiqah.

[18]- Mengkritik perawi dengan kejelekan yang ada pada mereka = termasuk nasehat dalam agama, dan bukan termasuk ghibah yang diharamkan

يَقُولُ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ الْمُبَارَكِ عَلَى رُءُوسِ النَّاسِ : دَعُوا حَدِيثَ عَمْرِو بْنِ ثَابِتٍ، فَإِنَّهُ كَانَ يَسُبُّ السَّلَفَ.

‘Abdullah bin Mubarak berkata di hadapan orang-orang: “Tinggalkanlah hadits-hadits yang diriwayatkan ‘Amr bin Tsabit; karena dia biasa mencela Salaf.”

Maka perkataan ‘Abdullah bin Mubarak ini secara lahiriyah adalah: Ghibah, karena Ghibah adalah: engkau menyebut saudaramu dengan sesuatu yang tidak dua sukai. Akan tetapi ini adalah Ghibah yang wajib. AKAN TETAPI (GHIBAH SEMACAM INI) HARUS DIUKUR SESUAI DENGAN KEBUTUHAN.

عَنْ يَحْيَى بْنِ سَعِيدٍ، قَالَ: سَأَلْتُ سُفْيَانَ الثَّوْرِيَّ، وَشُعْبَةَ، وَمَالِكًا، وَابْنَ عُيَيْنَةَ عَنِ الرَّجُلِ لَا يَكُونُ ثَبْتًا فِي الْحَدِيثِ، فَيَأْتِينِي الرَّجُلُ فَيَسْأَلُنِي عَنْهُ، قَالُوا: أَخْبِرْ عَنْهُ أَنَّهُ لَيْسَ بِثَبْتٍ.

Dari Yahya bin Sa’id, dia berkata: Saya bertanya kepada Sufyan Ats-Tsauri, Syu’bah, Malik, dan Ibnu ‘Uyainah: tentang seorang (rawi) yang tidak kokoh dalam hadits, kemudian ada orang yang datang kepadaku dan menanyakanku tentangnya. Mereka berkata: “Beritahu dia kalau (rawi) tersebut tidak kokoh!”

سُئِلَ ابْنُ عَوْنٍ، عَنْ حَدِيثٍ لِشَهْرٍ، وَهُوَ قَائِمٌ عَلَى أُسْكُفَّةِ الْبَابِ، فَقَالَ: إِنَّ شَهْرًا نَزَكُوهُ، إِنَّ شَهْرًا نَزَكُوهُ. قَالَ مُسْلِمٌ -رَحِمَهُ اللَّهُ-: يَقُولُ: أَخَذَتْهُ أَلْسِنَةُ النَّاسِ تَكَلَّمُوا فِيهِ.

Ibnu ‘Aun ditanya tentang hadits-hadits yang diriwayatkan oleh Syahr. Waktu itu beliau (Ibnu ‘Aun) sedang berdiri di (dekat) tiang pintu, maka beliau berkata: “Sungguh, Syahr telah ditinggalkan oleh mereka, Sungguh, Syahr telah ditinggalkan oleh mereka.”

Imam Muslim -rahimahullaah- menjelaskan: “Maksudnya: manusia (ahli ilmu) telah membicarakan (mencela)nya.”

[19]- Kedustaan dan kesalahan (sering) terjadi pada orang-orang shalih dan ahli ibadah (ketika meriwayatkan hadits)

Yahya bin Sa’id Al-Qaththan -rahimahullaah- berkata:

لَمْ نَرَ الصَّالِحِينَ فِي شَيْءٍ أَكْذَبَ مِنْهُمْ فِي الْحَدِيثِ.

“Kami tidak melihat orang yang lebih dusta dalam meriwayatkan hadits; dibandingkan orang-orang shalih.”

Beliau juga berkata:

لَمْ تَرَ أَهْلَ الْخَيْرِ فِي شَيْءٍ أَكْذَبَ مِنْهُمْ فِي الْحَدِيثِ.

“Tidaklah engkau lihat orang yang lebih dusta dalam meriwayatkan hadits; dibandingkan orang-orang yang baik.”

Imam Muslim -rahimahullaah- berkata:

يَقُولُ: يَجْرِي الْكَذِبُ عَلَى لِسَانِهِمْ، وَلَا يَتَعَمَّدُونَ الْكَذِبَ.

“Maksudnya: terjadi kedustaan pada mereka, dan mereka tidak sengaja berdusta.”

Yakni: Dusta dengan makna yang umum (mencakup sengaja dan tidak sengaja).

[20]- Macam-macam perawi yang di-jarh (mendapat celaan/kritikan)

1. Yang terkumpul padanya bid’ah dan kedustaan.

2. Para pemalsu hadits.

3. Tertuduh berdusta; dimana perawi tersebut:

– telah berdusta dalam kesehariannya (bukan dalam hadits), atau

– dia meriwayatkan hadits yang menyelisihi kaidah agama, dan dalam sanadnya: hanya dia yang tertuduh mendustakannya.

4. Ahlul Bid’ah.

5. Banyak salahnya.

6. Para mudallis.

[21]- Sebab kenapa para ulama mengkritik dan mencela para rawi

Imam Muslim -rahimahullaah- berkata:

“Dan kenapa (para ulama) menyingkap cacat para perawi hadits dan penukil khabar, dan mereka juga berfatwa (menjelaskannya) ketika ditanya: dikarenakan besarnya perkara ini. Sebab: khabar/hadits berisi permasalahan agama berupa: penghalalan, pengharaman, perintah, larangan, anjuran, atau peringatan.

Kalau ada perawi yang tidak terpercaya dan tidak amanah, kemudian ada orang yang mengetahui keadaannya akan tetapi tetap meriwayatkan darinya tanpa menjelaskan keadaannya kepada orang lain yang tidak mengetahuinya; maka orang ini berdosa dengan perbuatannya tersebut, dia telah berbuat curang terhadap orang-orang awam kaum muslimin.

Karena bisa jadi sebagian yang mendengar khabar/hadits tersebut: menggunakannya atau menggunakan sebagiannya, padahal bisa jadi kebanyakannya adalah kedustaan, tidak ada asalnya.

Padahal hadits-hadits yang diriwayatkan oleh para perawi yang tsiqah: sudah banyak dan mencukupi; sehingga tidak butuh kepada penukilan perawi yang tidak tsiqah.” Sekian perkataan Imam Muslim

Sebagai contoh terbesarnya adalah: Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim yang mencakup banyak sekali hadits yang shahih.

[22]- Celaan terhadap orang yang hanya memperbanyak hadits tanpa bisa memilah mana yang shahih.

Imam Muslim -rahimahullaah- berkata:

“Saya kira banya orang yang meriwayatkan hadits-hadits lemah ini -padahal dia mengetahui kelemahannya-; maka yang menjadikannya berbuat semacam ini adalah: hanya ingin memperbanyak hadits agar dilihat (dan dipuji) oleh orang-orang awam. Agar dikatakan: “Alangkah banyaknya hadits yang dikumpulkan oleh fulan, dan banyak sekali jumlah yang dia tulis.

Dan orang yang menempuh jalan ini; maka tidak ada bagian (dari ilmu hadits) baginya, dan dia lebih pantas dinamakan orang bodoh dibandingkan orang berilmu.” Sekian perkataan Imam Muslim secara ringkas.

Sebenarnya tidak mengapa engkau menghafal (atau mengumpulkan) hadits sebanyak-banyaknya, asalkan harus dipilih (mana yang shahih) ketika akan disampaikan.

-ditulis oleh Ustadz Ahmad Hendrix-

https://www.facebook.com/ahmadhendrix.eskanto/posts/482163708791177

FAIDAH MUQADDIMAH SHAHIH MUSLIM ( Bagian 2 )

FAEDAH MUQADDIMAH SHAHIH MUSLIM

dari Syaikh Ziyad Al-‘Abbadi -hafizhahullaah-

(bagian kedua)

[11]- Wajibnya teliti dalam periwayatan

Imam Muslim menyebutkan:

1. Keharusan untuk meriwayatkan dari para perawi yang terpercaya.

2. Tidak boleh meriwayatkan dari para perawi yang lemah (dan juga tidak boleh mengambil ilmu dari Ahlul Bid’ ah).

[12]- Dalil-dalil atas wajibnya teliti dalam periwayatan:

1. Allah -Ta’ aalaa- berfirman:

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَى مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ

“Wahai orang-orang yang beriman! Jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita; maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya; yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.” (QS Al-Hujuuraat: 6)

2. Allah -Ta’ aalaa- berfirman:

…وَاسْتَشْهِدُوا شَهِيدَيْنِ مِنْ رِجَالِكُمْ…

“…Dan persaksikanlah dengan dua orang saksi dari orang-orang lelaki (di antaramu)…”(QS Al-Baqarah: 282), ayat tentang hutang (khususnya persaksian dalam hutang).

3. Allah -Ta’ aalaa- berfirman:

…وَأَشْهِدُوا ذَوَيْ عَدْلٍ مِنْكُمْ…

“…Dan persaksikanlah dengan dua orang adil di antara kamu…”(QS Ath-Thalaq: 2), tentang persaksian dalam thalaq dan rujuk.

Periwayatan Khabar/Hadits dan persaksian sebenarnya memiliki perbedaan; karena:

– asal dari saksian adalah: bahwa saksi itu ‘aadil (terpercaya), yakni hanya melihat kepada lahiriyah kebaikan saksi,

– sedangkan asal dari perawi Khabar/Hadits adalah Majhul (tidak dikenal sampai ada yang men-tsiqah-kannya).

Akan tetapi antara Khabar dan persaksian memiliki kesamaan; yaitu: periwayatan dan persaksian seorang yang fasik adalah tidak diterima.

[13]- Ancaman keras dari berdusta atas nama Nabi -shallallaahu ‘alaihi wa sallam-.

Berdusta ada tiga:

1. Berdusta dengan makna umum; yaitu: mengabarkan sesuatu tidak sesuai dengan kenyataan; baik secara sengaja maupun tidak. Dan Nabi -shallallaahu ‘alaihi wa sallam- pernah menggunakannya dalam sabda Beliau:

كَذَبَ أَبُو السَّنَابِلِ

“Telah berdusta Abu Sanabil.”

Yakni: secara tidak sengaja, atau maknanya: telah salah.

2. Dusta dengan makna khusus; yakni: berdusta dengan sengaja.

3. Berdusta dengan makna yang lebih khusus (menurut Ahli Hadits); yakni: berdusta atas nama Nabi -shallallaahu ’alaihi wa sallam-, dan itulah sabda Nabi -shallallaahu ’alaihi wa sallam-:

مَن كَذَبَ عَلَيَّ مُتَعَمِّدًا فَليَتَبَوَّأ مَقعَدَهُ مِنَ النَّارِ

“Barangsiapa berdusta ATAS NAMAKU dengan sengaja; maka siapkanlah tempatnya di Neraka.”

Adapun berdusta atas selain Nabi -shallallaahu ’alaihi wa sallam-; maka Ahli Hadits menamakannya : Muttaham Bil Kadzib (tertuduh berdusta).

[14]- Larangan dari menyampaikan semua yang pernah didengar.

Yakni: tidak semua yang pernah didengar atau diketahui; kemudian disampaikan kepada orang lain.

Dan ini mencakup semua cabang ilmu (hadits maupun yang lainnya); karena ketika engkau mengumpulkan (membaca atau mendengar) ilmu; maka yang engkau kumpulkan tersebut ada yang benar dan ada yang salah, ada yang baik dan ada pula yang buruk; sehingga harus diseleksi terlebih dahulu sebelum disampaikan.

Contohnya: Imam Al-Bukhari dan Muslim; yang keduanya telah memilih dari hadits-hadits yang banyak sekali; hanya sebagian kecil saja yang dimasukan ke dalam kitab Shahih milik keduanya.

Rasulullah -shallaallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda:

كَفَى بِالـمَرءِ كَذِبًا أَن يُحَدِّثَ بِكُلِّ مَا سَمِعَ

“Cukuplah seseorang dikatakan berdusta; ketika ia menyampaikan semua yang ia dengar.”

Imam Malik bin Anas -rahimahullaah- berkata:

اِعلَم أَنَّهُ لَيْسَ يَسلَمُ رَجُلٌ حَدَّثَ بِكُلِّ مَا سَمِعَ، وَلَا يَكُونُ إِمَامًا أَبَدًا وَهُوَ يُحَدِّثُ بِكُلِّ مَا سَمِعَ

“Ketahuilah! Bahwa tidak akan selamat seseorang yang menyampaikan semua yang ia dengar, dan tidak akan menjadi imam -selamanya-: seseorang yang menyampaikan semua yang ia dengar.”

[15]- Berhati-hati dalam mengambil riwayat, dan larangan mengambil riwayat dari orang-orang yang dha’ if (lemah).

Maka tidak boleh mengambil riwayat dari semua orang (tanpa menyeleksi). Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam- bersabda:

سَيَكُونُ فِي آخِرِ أُمَّتِي أُنًاسٌ يُحَدِّثُونَكُم مَا لَمْ تَسمَعُوا أَنتُم وَلَا آبَاؤُكُم، فَإِيَّاكُم وَإِيَّاهُمْ!

“Nanti di penghujung umatku akan ada orang-orang yang menyampaikan kepada kalian: sesuatu yang tidak pernah didengar oleh kalian maupun oleh pendahulu kalian, maka waspadalah terhadap orang-orang itu!”

Maka beliau mengabarkan tentang adanya orang-orang yang menyampaikan sesuatu yang tidak dikenal oleh manusia dan tidak dikenal dalam ilmu; yakni: tidak ada ada asalnya; baik dalam Al-Kitab maupun As-Sunnah.

[16]- Sanad termasuk dari agama.

Maka jangan sampai mengambil riwayat atau ilmu dari Ahli Bid’ ah, karena sangat cepat dia akan mempengaruhimu; walaupun dia (Ahli Bid’ ah tersebut) memiliki ilmu Nahwu, Sharaf dan lain-lain. Karena tabi’ at seorang manusia adalah mencintai orang yang berbuat baik kepadanya.

Muhammad bin Sirih -rahimahullaah- berkata:

إِنَّ هَذَا العِلمَ دِينٌ فَانظُرُوا عَمَّنْ تَأخُذُونَ دِينَكُمْ!

“Sungguh, ilmu ini adalah agama; maka perhatikanlah: dari siapa kalian mengambil agama kalian!”

Beliau juga berkata:

لَمْ يَكُونُوا يَسْأَلُونَ عَنِ الْإِسْنَادِ، فَلَمَّا وَقَعَتِ الْفِتْنَةُ، قَالُوا : سَمُّوا لَنَا رِجَالَكُمْ، فَيُنْظَرُ إِلَى أَهْلِ السُّنَّةِ فَيُؤْخَذُ حَدِيثُهُمْ، وَيُنْظَرُ إِلَى أَهْلِ الْبِدَعِ فَلَا يُؤْخَذُ حَدِيثُهُمْ

“Tadinya mereka (para Salaf) tidak menanyakan tentang sanad (suatu riwayat), akan tetapi setelah terjadinya fitnah (kekacauan); maka mereka mengatakan: “Sebutkanlah para perawinya!” Sehingga kalau perawinya adalah Ahlus Sunnah; maka haditsnya diambil, dsn kalau perawinya adalah Ahlul Bid’ah; maka haditsnya tidak diambil.”

‘Abdullah bin Mubarak -rahimahullaah- berkata:

اَلإِسْنَادُ مِنَ الدِّينِ وَلَو لَا الْإِسنَادُ لَقَالَ مَنْ شَاءَ مَا شَاءَ

“Sanad itu termasuk bagian dari agama, kalau bukan karena sanad; maka semua orang bisa (dengan mudah) mengatakan sesuai keinginannya.”

Maka kita tidak menerima sebuah khabar/hadits; kecuali dengan sanad.

Dan kita tidak menerima sebuah sanad; kecuali jika sanad tersebut terpenuhi padanya syarat diterimanya sanad (seperti: para perawinya tsiqah, dan sanadnya bersambung).

-Ustadz Ahmad Hendrix