FAIDAH MUQADDIMAH MUSLIM ( Bagian ke 4 – terakhir )

FAIDAH MUQADDIMAH MUSLIM

(bersama Syaikh Ziyad Al-‘Abbadi -hafizhahullaah-)

Bagian Keempat

[23]- Pembahasan terakhir: tentang sanad “Mu’an’an” (riwayat yang di dalam sanadnya terdapat: fulan ‘an (dari) fulan)

Agar sanad “Mu’an’an” di antara dua perawi bisa diterima; maka Imam Muslim mensyaratkan:

1. Keduanya satu zaman.

2. Ada kemungkinan bertemu; seperti:

– keduanya hidup di satu kota, atau

– keduanya pernah bersafar (untuk mencari hadits) ke tempat yang sama, atau

– keduanya pernah bersafar dalam waktu yang sama (walaupun sebentar) ke tempat yang sama (seperti: berhaji atau ‘umrah).

3. (Rawi yang meriwayatkan dengan lafazh ‘an) bukan mudallis.

4. (Kedua perawi tersebut) tsiqah.

Kemudian ada orang yang membawa pendapat yang baru -menurut Imam Muslim-; yakni: untuk yang kedua: tidak cukup hanya dengan “kemungkinan bertemu”, akan tetapi “harus pernah bertemu”. Dan hal itu bisa diketahui dengan cara menemukan jalan sanad -walau satu- yang di dalamnya terdapat kejelasan pernah mendengar; sehingga bisa dipastikan: keduanya pernah bertemu.

Syarat ini dinisbatkan kepada Ibnul Madini dan Al-Bukhari dalam setiap riwayat. Dan ada yang berpendapat bahwa: Al-Bukhari hanya mensyaratkannya dalam kitab Shahih-nya.

Orang yang mensyaratkan “harus pernah bertemu” antara perawi -yang menggunakan ‘an- dengan gurunya (orang yang dia riwayatkan haditsnya), beralasan: karena jika mencukupkan dengan “ada kemungkinan bertemu”; maka dikhawatirkan terjadinya “Mursal Khafiyy”; yakni: ada perawi -yang bukan Mudallis- akan tetapi dia meriwayatkan dari orang yang sezaman dengannya padahal dia tidak bertemu (sehingga sanadnya terputus).

Maka Imam Muslim membantah dengan beberapa segi, dan di antara bantahan terkuat Imam Muslim adalah:

1. Kekhawatiran tersebut juga bisa terjadi pada orang yang pernah bertemu, akan tetapi di suatu saat dia meriwayatkan hadits darinya dengan lafazha ‘an, dan setelah diteliti ternyata dia tidak langsung meriwayatkan darinya (alias: dengan perantara) -padahal dia bukan Mudallis-.

Dan Imam Muslim membawakan bukti-bukti akan terjadinya hal tersebut.

Maka konsekuensi orang yang tidak menerima sanad ‘an yang “tidak ada kepastian bertemu” -karena khawatir terputus (karena tidak bertemu walaupun sezaman)-; maka dia juga harus menolak sanad ‘an walaupun keduanya pernah bertemu; karena kemungkinan terputus tetap ada.

Jadi, konsekuensinya dia harus:

– menolak seluruh sanad “Mu’an’an”, atau

– menerima semuanya asalkan ada kemungkinan bertemu.

2. Imam Muslim membawakan bukti-bukti bahwa ada riwayat-riwayat yang menggunakan lafazh ‘an padahal tidak ada kepastian bertemu, akan tetapi riwayat-riwayat tersebut disepakati ke-shahih-annya (oleh para ulama).

-ditulis oleh: Ustadz Ahmad Hendrix-

FAIDAH MUQADDIMAH SHAHIH MUSLIM ( Bagian ke 3 )

FAIDAH MUQADDIMAH SHAHIH MUSLIM

(bersama Syaikh Ziyad Al-‘Abbadi -hafizhahullaah-)

Bagian Ketiga

[17]- Mengambil ilmu hadits harus dari ahlinya

عَنْ سُلَيْمَانَ بْنِ مُوسَى، قَالَ : لَقِيتُ طَاوُسًا، فَقُلْتُ : حَدَّثَنِي فُلَانٌ: كَيْتَ وَكَيْتَ . قَالَ: إِنْ كَانَ صَاحِبُكَ مَلِيًّا فَخُذْ عَنْهُ.

Dari Sulaiman bin Musa, dia berkata: Saya bertemu Thawus, maka saya katakan: Si fulan telah membawakan hadits ini dan hadits itu. Maka beliau (Thawus) berkata: “Kalau temanmu (yang membawakan hadits tersebut) adalah “maliyy”; maka ambillah darinya.”

“Maliyy” adalah: orang yang kuat dan kokoh ketika menerima dan menjaga hadits, dan bagus ketika menyampaikan.

عَنِ ابْنِ أَبِي الزِّنَادِ ، عَنْ أَبِيهِ قَالَ : أَدْرَكْتُ بِالْمَدِينَةِ مِائَةً، كُلُّهُمْ مَأْمُونٌ مَا يُؤْخَذُ عَنْهُمُ الْحَدِيثُ، يُقَالُ : لَيْسَ مِنْ أَهْلِهِ.

Dari Ibnu Abi Zinad, dari bapaknya, dia berkata: Saya dapati di Madinah seratus orang semuanya amanah, akan tetapi tidak diambil hadits dari mereka sama sekali. Dikatkan: karena memang bukan ahlinya.

Yakni: ada banyak orang yang terpercaya agamanya, orang-orang shalih dan ahli ibadah, mereka memiliki ketaqwaan; AKAN TETAPI MEREKA BUKAN AHLI ILMU. (Untuk riwayat hadits); maka harus terkumpul padanya dua perkara:

1. ‘Adaalah (terpercaya agamanya), dan

2. Dhabth (penjagaan terhadap riwayat).

Dan perawi yang terkumpul padanya dua perkara tersebut dinamakan: Tsiqah.

[18]- Mengkritik perawi dengan kejelekan yang ada pada mereka = termasuk nasehat dalam agama, dan bukan termasuk ghibah yang diharamkan

يَقُولُ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ الْمُبَارَكِ عَلَى رُءُوسِ النَّاسِ : دَعُوا حَدِيثَ عَمْرِو بْنِ ثَابِتٍ، فَإِنَّهُ كَانَ يَسُبُّ السَّلَفَ.

‘Abdullah bin Mubarak berkata di hadapan orang-orang: “Tinggalkanlah hadits-hadits yang diriwayatkan ‘Amr bin Tsabit; karena dia biasa mencela Salaf.”

Maka perkataan ‘Abdullah bin Mubarak ini secara lahiriyah adalah: Ghibah, karena Ghibah adalah: engkau menyebut saudaramu dengan sesuatu yang tidak dua sukai. Akan tetapi ini adalah Ghibah yang wajib. AKAN TETAPI (GHIBAH SEMACAM INI) HARUS DIUKUR SESUAI DENGAN KEBUTUHAN.

عَنْ يَحْيَى بْنِ سَعِيدٍ، قَالَ: سَأَلْتُ سُفْيَانَ الثَّوْرِيَّ، وَشُعْبَةَ، وَمَالِكًا، وَابْنَ عُيَيْنَةَ عَنِ الرَّجُلِ لَا يَكُونُ ثَبْتًا فِي الْحَدِيثِ، فَيَأْتِينِي الرَّجُلُ فَيَسْأَلُنِي عَنْهُ، قَالُوا: أَخْبِرْ عَنْهُ أَنَّهُ لَيْسَ بِثَبْتٍ.

Dari Yahya bin Sa’id, dia berkata: Saya bertanya kepada Sufyan Ats-Tsauri, Syu’bah, Malik, dan Ibnu ‘Uyainah: tentang seorang (rawi) yang tidak kokoh dalam hadits, kemudian ada orang yang datang kepadaku dan menanyakanku tentangnya. Mereka berkata: “Beritahu dia kalau (rawi) tersebut tidak kokoh!”

سُئِلَ ابْنُ عَوْنٍ، عَنْ حَدِيثٍ لِشَهْرٍ، وَهُوَ قَائِمٌ عَلَى أُسْكُفَّةِ الْبَابِ، فَقَالَ: إِنَّ شَهْرًا نَزَكُوهُ، إِنَّ شَهْرًا نَزَكُوهُ. قَالَ مُسْلِمٌ -رَحِمَهُ اللَّهُ-: يَقُولُ: أَخَذَتْهُ أَلْسِنَةُ النَّاسِ تَكَلَّمُوا فِيهِ.

Ibnu ‘Aun ditanya tentang hadits-hadits yang diriwayatkan oleh Syahr. Waktu itu beliau (Ibnu ‘Aun) sedang berdiri di (dekat) tiang pintu, maka beliau berkata: “Sungguh, Syahr telah ditinggalkan oleh mereka, Sungguh, Syahr telah ditinggalkan oleh mereka.”

Imam Muslim -rahimahullaah- menjelaskan: “Maksudnya: manusia (ahli ilmu) telah membicarakan (mencela)nya.”

[19]- Kedustaan dan kesalahan (sering) terjadi pada orang-orang shalih dan ahli ibadah (ketika meriwayatkan hadits)

Yahya bin Sa’id Al-Qaththan -rahimahullaah- berkata:

لَمْ نَرَ الصَّالِحِينَ فِي شَيْءٍ أَكْذَبَ مِنْهُمْ فِي الْحَدِيثِ.

“Kami tidak melihat orang yang lebih dusta dalam meriwayatkan hadits; dibandingkan orang-orang shalih.”

Beliau juga berkata:

لَمْ تَرَ أَهْلَ الْخَيْرِ فِي شَيْءٍ أَكْذَبَ مِنْهُمْ فِي الْحَدِيثِ.

“Tidaklah engkau lihat orang yang lebih dusta dalam meriwayatkan hadits; dibandingkan orang-orang yang baik.”

Imam Muslim -rahimahullaah- berkata:

يَقُولُ: يَجْرِي الْكَذِبُ عَلَى لِسَانِهِمْ، وَلَا يَتَعَمَّدُونَ الْكَذِبَ.

“Maksudnya: terjadi kedustaan pada mereka, dan mereka tidak sengaja berdusta.”

Yakni: Dusta dengan makna yang umum (mencakup sengaja dan tidak sengaja).

[20]- Macam-macam perawi yang di-jarh (mendapat celaan/kritikan)

1. Yang terkumpul padanya bid’ah dan kedustaan.

2. Para pemalsu hadits.

3. Tertuduh berdusta; dimana perawi tersebut:

– telah berdusta dalam kesehariannya (bukan dalam hadits), atau

– dia meriwayatkan hadits yang menyelisihi kaidah agama, dan dalam sanadnya: hanya dia yang tertuduh mendustakannya.

4. Ahlul Bid’ah.

5. Banyak salahnya.

6. Para mudallis.

[21]- Sebab kenapa para ulama mengkritik dan mencela para rawi

Imam Muslim -rahimahullaah- berkata:

“Dan kenapa (para ulama) menyingkap cacat para perawi hadits dan penukil khabar, dan mereka juga berfatwa (menjelaskannya) ketika ditanya: dikarenakan besarnya perkara ini. Sebab: khabar/hadits berisi permasalahan agama berupa: penghalalan, pengharaman, perintah, larangan, anjuran, atau peringatan.

Kalau ada perawi yang tidak terpercaya dan tidak amanah, kemudian ada orang yang mengetahui keadaannya akan tetapi tetap meriwayatkan darinya tanpa menjelaskan keadaannya kepada orang lain yang tidak mengetahuinya; maka orang ini berdosa dengan perbuatannya tersebut, dia telah berbuat curang terhadap orang-orang awam kaum muslimin.

Karena bisa jadi sebagian yang mendengar khabar/hadits tersebut: menggunakannya atau menggunakan sebagiannya, padahal bisa jadi kebanyakannya adalah kedustaan, tidak ada asalnya.

Padahal hadits-hadits yang diriwayatkan oleh para perawi yang tsiqah: sudah banyak dan mencukupi; sehingga tidak butuh kepada penukilan perawi yang tidak tsiqah.” Sekian perkataan Imam Muslim

Sebagai contoh terbesarnya adalah: Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim yang mencakup banyak sekali hadits yang shahih.

[22]- Celaan terhadap orang yang hanya memperbanyak hadits tanpa bisa memilah mana yang shahih.

Imam Muslim -rahimahullaah- berkata:

“Saya kira banya orang yang meriwayatkan hadits-hadits lemah ini -padahal dia mengetahui kelemahannya-; maka yang menjadikannya berbuat semacam ini adalah: hanya ingin memperbanyak hadits agar dilihat (dan dipuji) oleh orang-orang awam. Agar dikatakan: “Alangkah banyaknya hadits yang dikumpulkan oleh fulan, dan banyak sekali jumlah yang dia tulis.

Dan orang yang menempuh jalan ini; maka tidak ada bagian (dari ilmu hadits) baginya, dan dia lebih pantas dinamakan orang bodoh dibandingkan orang berilmu.” Sekian perkataan Imam Muslim secara ringkas.

Sebenarnya tidak mengapa engkau menghafal (atau mengumpulkan) hadits sebanyak-banyaknya, asalkan harus dipilih (mana yang shahih) ketika akan disampaikan.

-ditulis oleh Ustadz Ahmad Hendrix-

https://www.facebook.com/ahmadhendrix.eskanto/posts/482163708791177

FAIDAH MUQADDIMAH SHAHIH MUSLIM ( Bagian 2 )

FAEDAH MUQADDIMAH SHAHIH MUSLIM

dari Syaikh Ziyad Al-‘Abbadi -hafizhahullaah-

(bagian kedua)

[11]- Wajibnya teliti dalam periwayatan

Imam Muslim menyebutkan:

1. Keharusan untuk meriwayatkan dari para perawi yang terpercaya.

2. Tidak boleh meriwayatkan dari para perawi yang lemah (dan juga tidak boleh mengambil ilmu dari Ahlul Bid’ ah).

[12]- Dalil-dalil atas wajibnya teliti dalam periwayatan:

1. Allah -Ta’ aalaa- berfirman:

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَى مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ

“Wahai orang-orang yang beriman! Jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita; maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya; yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.” (QS Al-Hujuuraat: 6)

2. Allah -Ta’ aalaa- berfirman:

…وَاسْتَشْهِدُوا شَهِيدَيْنِ مِنْ رِجَالِكُمْ…

“…Dan persaksikanlah dengan dua orang saksi dari orang-orang lelaki (di antaramu)…”(QS Al-Baqarah: 282), ayat tentang hutang (khususnya persaksian dalam hutang).

3. Allah -Ta’ aalaa- berfirman:

…وَأَشْهِدُوا ذَوَيْ عَدْلٍ مِنْكُمْ…

“…Dan persaksikanlah dengan dua orang adil di antara kamu…”(QS Ath-Thalaq: 2), tentang persaksian dalam thalaq dan rujuk.

Periwayatan Khabar/Hadits dan persaksian sebenarnya memiliki perbedaan; karena:

– asal dari saksian adalah: bahwa saksi itu ‘aadil (terpercaya), yakni hanya melihat kepada lahiriyah kebaikan saksi,

– sedangkan asal dari perawi Khabar/Hadits adalah Majhul (tidak dikenal sampai ada yang men-tsiqah-kannya).

Akan tetapi antara Khabar dan persaksian memiliki kesamaan; yaitu: periwayatan dan persaksian seorang yang fasik adalah tidak diterima.

[13]- Ancaman keras dari berdusta atas nama Nabi -shallallaahu ‘alaihi wa sallam-.

Berdusta ada tiga:

1. Berdusta dengan makna umum; yaitu: mengabarkan sesuatu tidak sesuai dengan kenyataan; baik secara sengaja maupun tidak. Dan Nabi -shallallaahu ‘alaihi wa sallam- pernah menggunakannya dalam sabda Beliau:

كَذَبَ أَبُو السَّنَابِلِ

“Telah berdusta Abu Sanabil.”

Yakni: secara tidak sengaja, atau maknanya: telah salah.

2. Dusta dengan makna khusus; yakni: berdusta dengan sengaja.

3. Berdusta dengan makna yang lebih khusus (menurut Ahli Hadits); yakni: berdusta atas nama Nabi -shallallaahu ’alaihi wa sallam-, dan itulah sabda Nabi -shallallaahu ’alaihi wa sallam-:

مَن كَذَبَ عَلَيَّ مُتَعَمِّدًا فَليَتَبَوَّأ مَقعَدَهُ مِنَ النَّارِ

“Barangsiapa berdusta ATAS NAMAKU dengan sengaja; maka siapkanlah tempatnya di Neraka.”

Adapun berdusta atas selain Nabi -shallallaahu ’alaihi wa sallam-; maka Ahli Hadits menamakannya : Muttaham Bil Kadzib (tertuduh berdusta).

[14]- Larangan dari menyampaikan semua yang pernah didengar.

Yakni: tidak semua yang pernah didengar atau diketahui; kemudian disampaikan kepada orang lain.

Dan ini mencakup semua cabang ilmu (hadits maupun yang lainnya); karena ketika engkau mengumpulkan (membaca atau mendengar) ilmu; maka yang engkau kumpulkan tersebut ada yang benar dan ada yang salah, ada yang baik dan ada pula yang buruk; sehingga harus diseleksi terlebih dahulu sebelum disampaikan.

Contohnya: Imam Al-Bukhari dan Muslim; yang keduanya telah memilih dari hadits-hadits yang banyak sekali; hanya sebagian kecil saja yang dimasukan ke dalam kitab Shahih milik keduanya.

Rasulullah -shallaallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda:

كَفَى بِالـمَرءِ كَذِبًا أَن يُحَدِّثَ بِكُلِّ مَا سَمِعَ

“Cukuplah seseorang dikatakan berdusta; ketika ia menyampaikan semua yang ia dengar.”

Imam Malik bin Anas -rahimahullaah- berkata:

اِعلَم أَنَّهُ لَيْسَ يَسلَمُ رَجُلٌ حَدَّثَ بِكُلِّ مَا سَمِعَ، وَلَا يَكُونُ إِمَامًا أَبَدًا وَهُوَ يُحَدِّثُ بِكُلِّ مَا سَمِعَ

“Ketahuilah! Bahwa tidak akan selamat seseorang yang menyampaikan semua yang ia dengar, dan tidak akan menjadi imam -selamanya-: seseorang yang menyampaikan semua yang ia dengar.”

[15]- Berhati-hati dalam mengambil riwayat, dan larangan mengambil riwayat dari orang-orang yang dha’ if (lemah).

Maka tidak boleh mengambil riwayat dari semua orang (tanpa menyeleksi). Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam- bersabda:

سَيَكُونُ فِي آخِرِ أُمَّتِي أُنًاسٌ يُحَدِّثُونَكُم مَا لَمْ تَسمَعُوا أَنتُم وَلَا آبَاؤُكُم، فَإِيَّاكُم وَإِيَّاهُمْ!

“Nanti di penghujung umatku akan ada orang-orang yang menyampaikan kepada kalian: sesuatu yang tidak pernah didengar oleh kalian maupun oleh pendahulu kalian, maka waspadalah terhadap orang-orang itu!”

Maka beliau mengabarkan tentang adanya orang-orang yang menyampaikan sesuatu yang tidak dikenal oleh manusia dan tidak dikenal dalam ilmu; yakni: tidak ada ada asalnya; baik dalam Al-Kitab maupun As-Sunnah.

[16]- Sanad termasuk dari agama.

Maka jangan sampai mengambil riwayat atau ilmu dari Ahli Bid’ ah, karena sangat cepat dia akan mempengaruhimu; walaupun dia (Ahli Bid’ ah tersebut) memiliki ilmu Nahwu, Sharaf dan lain-lain. Karena tabi’ at seorang manusia adalah mencintai orang yang berbuat baik kepadanya.

Muhammad bin Sirih -rahimahullaah- berkata:

إِنَّ هَذَا العِلمَ دِينٌ فَانظُرُوا عَمَّنْ تَأخُذُونَ دِينَكُمْ!

“Sungguh, ilmu ini adalah agama; maka perhatikanlah: dari siapa kalian mengambil agama kalian!”

Beliau juga berkata:

لَمْ يَكُونُوا يَسْأَلُونَ عَنِ الْإِسْنَادِ، فَلَمَّا وَقَعَتِ الْفِتْنَةُ، قَالُوا : سَمُّوا لَنَا رِجَالَكُمْ، فَيُنْظَرُ إِلَى أَهْلِ السُّنَّةِ فَيُؤْخَذُ حَدِيثُهُمْ، وَيُنْظَرُ إِلَى أَهْلِ الْبِدَعِ فَلَا يُؤْخَذُ حَدِيثُهُمْ

“Tadinya mereka (para Salaf) tidak menanyakan tentang sanad (suatu riwayat), akan tetapi setelah terjadinya fitnah (kekacauan); maka mereka mengatakan: “Sebutkanlah para perawinya!” Sehingga kalau perawinya adalah Ahlus Sunnah; maka haditsnya diambil, dsn kalau perawinya adalah Ahlul Bid’ah; maka haditsnya tidak diambil.”

‘Abdullah bin Mubarak -rahimahullaah- berkata:

اَلإِسْنَادُ مِنَ الدِّينِ وَلَو لَا الْإِسنَادُ لَقَالَ مَنْ شَاءَ مَا شَاءَ

“Sanad itu termasuk bagian dari agama, kalau bukan karena sanad; maka semua orang bisa (dengan mudah) mengatakan sesuai keinginannya.”

Maka kita tidak menerima sebuah khabar/hadits; kecuali dengan sanad.

Dan kita tidak menerima sebuah sanad; kecuali jika sanad tersebut terpenuhi padanya syarat diterimanya sanad (seperti: para perawinya tsiqah, dan sanadnya bersambung).

-Ustadz Ahmad Hendrix

FAEDAH-FAEDAH MUQADDIMAH SHAHIH IMAM MUSLIM

FAEDAH-FAEDAH MUQADDIMAH SHAHIH IMAM MUSLIM -rahimahullaah-

(Diambil dari Muhadharah Syaikh Ziyad Al-‘Abbadi -hafizhahullaah-)

[1]- Di antara keistimewaan Shahih Imam Muslim atas Shahih Imam Al-Bukhari:

1. Imam Muslim menulis Muqaddimah untuk kitab Shahihnya.

2. Beliau menggabungkan hadits-hadits yang semakna babnya dalam satu tempat.

[2]- Jenis kitab beliau adalah Jaami’ , yaitu: yang mencakup berbagai jenis bab-bab ilmu; baik fiqih, ‘aqidah, dan lainnya, seperti Jaami’ (shahih) Bukhari dan Tirmidzi (walaupun dikenal dengan sunan). Adapun Abu Dawud, An-Nasa-i dan Ibnu Majah; itulah yang Kitab Sunan.

[3]- Sebab penulisan kitab Shahih Muslim:

1. Memenuhi permintaan sebagian orang.

2. Karena Imam Muslim melihat banyak orang-orang yang mengumpulkan hadits-hadits akan tetapi seperti hathibul lail (pencari kayu bakar di waktu malam; sehingga tidak bisa membedakan antara kayu dengan ular).

[4]- Faedah-faedah dari mengumpulkan hadits-hadits shahih:

1. Membedakan hadits-hadits shahih dari yang dha’ if, dan mengumpulkan hadits-hadits shahih -walaupun sedikit- lebih baik daripada banyak akan tetapi tercampur aduk; dengan tidak terbedakan.

2. Mengumpulkan hadits-hadits yang berulang-ulang.

[5]- Dalam pengulangan hadits terdapat beberapa faedah:

1. Ada tambahan faedah dalam hadits yang disebutkan lagi; baik dari segi makna maupun sanad.

2. Mengulangi hadits dengan sempurna setelah sebelumnya telah disebutkan dengan kurang lengkap.

[6]- Pembagian Para Perawi hadits dalam Shahih Muslim:

1. Para Perawi Tsiqah yang Dhabith (bisa menyampaikan hadits sesuai dengan yang dia terima).

Maka para perawi ini adalah yang banyak dikeluarkan haditsnya oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya.

2. Para perawi Shaduq yang dibawah tingkatan pertama (biasanya disifati: “shaduuq yahim”, dan yang semisalnya)

Maka ini juga dikeluarkan haditsnya akan tetapi tidak sebanyak yang pertama. Biasanya dikeluarkan dalam mutaba’ah, sedangkan yang pertama dikeluarkan dalam “Al-Ashl” atau Hadits Bab.

Hadits Bab atau Hadits Ashl adalah yang dikeluatrkan pertama kali setelah disebutkan bab. Sedangkan Mutaba’ah atau Syawahid adalah yang setelahnya.

– Mutaba’ah adalah dua orang murid yang meriwayatkan dari seorang guru secara langsung, dan ini dinamakan Mutaba’ah Taammah. Adapuna kalau dua orang meriwayatkan dengan sanad yang bertemu pada seorang syaikh di tengah sanad, dan itu jelas tidak secara langsung; maka ini Mutaba’ah Qashirah.

– Adapun Syahid adalah: dua orang Shahabat yang meriwayatkan hadits yang sama.

3. Para perawi yang lemah atau sangat lemah; maka ini tidak dikeluarkan haditsnya.

[7]- Menempatkan manusia sesuai dengan kedudukannya.

Maka yang tsiqah kita katakan tsiqah, yang dha’ if kita katakan dha’if, bahkan yang sangat dha’ if-pun kita katakan: sangat dha’ if. Tidak boleh kita merasa sungkan dalam menjelaskan.

Diriwayatkan dari ‘Aisyah -radhiyallaahu ‘anhaa-, bahwa dia berkata: Rasulullah -shallallaahu ‘alaihi wa sallam- telah memerintahkan kita untuk menempatkan manusia sesuai dengan kedudukannya.

Dan Allah juga berfirman:

…وَفَوْقَ كُلِّ ذِي عِلْمٍ عَلِيمٌ

“…Dan di atas setiap yang berilmu ada yang lebih mengetahui” [QS Yusuf: 76]

[8]- Ciri-ciri perawi yang munkar haditsnya menurut Imam Muslim.

Yaitu: jika riwayat-riwayatnya dibandingkan dengan para perawi tsiqah; maka riwayat-riwayatnya tersebut menyelisihi riwayat-riwayat mereka; sehingga mayoritas hadits-haditsnya adalah menyelisihi para perawi yang Tsiqah. Maka dia dinamakan: rawi yang Munkarul Hadits.

[9]- Syarat-syarat diterimanya kesendirian perawi

Kesendirian (tafarrud) perawi bukanlah ‘illah (penyakit) bagi hadits, akan tetapi kemungkinan bagi ‘illah, dimana kemungkinan bersalahnya lebih besar dibandingkan jika dia ada yang menyepakatinya.

Seperti: jika ada seseorang terpercaya yang membawa berita; maka walaupun kita terima; tapi ada kemungkinan salah. Jika datang orang lain yang tidak salinf kenal dengan yang pertama dan dia membawa berita yang sama; maka kita semakin percaya. Demikian juga jika datang orang ketiga, dan seterusnya, sampai derajatnya mutawatir.

Maka -menurut Imam Muslim-:

1. Jika dia adalah seorang perawi yang riwayat-riwayatnya sering sesuai dengan para perawi Tsiqah, kemudian pada suatu waktu dia memiliki tambahan; maka tambahan ini diterima darinya.

2. Adapun seorang rawi yang meriwayatkan dari Imam besar seperti Az-Zuhri dan ‘Urwah bin Zubair yang riwayatnya ini tidak diriwayatkan oleh para sahabat/murid keduanya -dan riwayat-riwayat rawi ini juga tidak sesuai dengan mereka-: maka riwayatnya ini tertolak.

[10]- Akan dijelaskan ‘Ilalul Hadiits.

Sekian penjelasan Syaikh Ziyad Al-‘Abbadi -hafizhahullaah-.

Tambahan untuk point [9]- bagian 2:

Imam Muhammad Nashiruddin Al-Albani -rahimahullaah- berkata:

“Jika ada seorang Imam -seperti Az-Zuhri- yang mempunya murid-murid yang terkenal meriwayatkan darinya,…kemudian ada seorang rawi Shaduq yang meriwayatkan sebuah Hadits dari Az-Zuhri yang tidak diriwayatkan oleh mereka…maka dalam keadaan ini sajalah Imam Muslim berpendapat bahwa Hadits rawi Shaduq ini dianggap Munkar…

Akan tetapi saya ingin katakan: Sesungguhnya pendapat Imam Muslilm ini -menurut kritikan dan ilmuku- tidak mungkin digunakan secara umum…Saya katakan ini dikarenakan: yang kita perhatikan dari para Hafizh -yang datang setelah Imam Muslim dan mengambil faedah dari ilmunya dan dari yang semisalnya dari kalangan Mutaqaddimiin (para ulama terdahulu)-: mereka tidak menggunakan pendapat dari Imam (Muslim) ini dengan penggunaan yang rinci; dimana: setiap ada rawi Shaduq yang meriwayatkan dari Imam -seperti Az-Zuhri-; kemudian mereka melemahkan Haditsnya. Maka tidak kita ketahui hal ini menjadi madzhab dari para Hafizh Muta-akhkhiriin (belakangan) dan (para ulama) yang mempunyai perhatian dengan Takhrij Hadits-Hadits dan sanad-sanad (milik para perawi) Mutaqaddimiin.”

[“Suaalaat Ibni Abil ‘Ainain” (hlm. 86-87), dan lihat (hlm. 88-89)]

– Ustadz Ahmad Hendrix-

https://www.facebook.com/ahmadhendrix.eskanto/posts/480909865583228