TENTANG ILMU JARH WA TA’DIL (CELAAN/KRITIKAN DAN PUJIAN)

SEKALI LAGI TENTANG ILMU JARH WA TA’DIL (CELAAN/KRITIKAN DAN PUJIAN)

[1]- Ilmu Jarh Wa Ta’dil memiliki para ahli yang mereka memang memiliki keahlian dalam masalah ini. Sebagai contoh besarnya adalah kitab yang ditulis oleh Imam Adz-Dzhahabi (wafat th. 748 H) -rahimahullaah-: “Dzikru Man Yu’tamadu Qauluhu Fil Jarh Wat Ta’diil (Penyebutan Orang-Orang Yang Perkataannya Dijadikan Sandaran/Rujukan Dalam Jarh Wa Ta’dil)”, yang jelas sekali berisi nama-nama dari orang-orang yang bisa diterima perkataannya dalam Jarh Wa Ta’dil.

[2]- Sehingga dalam memberikan Ta’dil (pujian) -maupun Jarh (celaan/kritikan-); ada dua cara:

1- Memeriksa secara langsung orang -atau kelompok- yang akan dipuji -atau dikritik-.

2- Dengan mengambil pujian -atau kritikan- dari orang yang telah meneliti langsung individu -atau suatu kelompok-.

[Lihat: “Muqaddimah Ibnish Shalaah” (hlm. 137-138 & 141- “At-Taqyiid Wal Iidhaah”)]

[3]- Sehingga, KETIKA MENGKRITIK KELOMPOK IKHWANUL MUSLIMIN; MAKA IMAM ‘ABDUL ‘AZIZ BIN BAZ -rahimahullaah- MENGKRITIKNYA DENGAN BERSANDAR KEPADA PERKATAAN PARA ULAMA YANG TELAH MENELITI KELOMPOK INI.

Samahatul ‘Allamah Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdullah bin Baz -rahimahullaah- ditanya tentang “Al-Ikhwanul Muslimun” pada majalah “Al-Majallah” edisi (806), tanggal 25 Shafar 1416 H (hlm. 24). Berikut ini pertanyaannya:

“Samahatusy Syaikh: Harakah “Al-Ikhwan Al-Muslimin” telah masuk ke Mamlakah sejak beberapa waktu, dan memiliki kegiatan yang nampak di kalangan para penuntut ilmu. Apa pendapat anda tentang Harakah ini? Dan seberapa jauh kesesuaiannya dengan Manhaj Ahlus Sunnah Wal Jama’ah?”

Syaikh Imam ‘Abdul ‘Aziz bin Baz -rahimahullaah- menjawab:

“Harakah Ikhwanul Muslimin telah dikritik oleh para Ahli Ilmu; dikarenakan mereka TIDAK PUNYA SEMANGAT DALAM MENDAKWAHKAN TAUHID, MENGINGKARI SYIRIK DAN MENGINGKARI BID’AH-BID’AH. Mereka punya cara-cara khusus, kekurangannya: TIDAK SEMANGAT DALAM MENDAKWAHKAN TAUHID DAN (TIDAK SEMANGAT DALAM) DALAM MENDUKUNG ‘AQIDAH SHAHIHAH YANG DIYAKINI OLEH AHLUS SUNNAH WAL JAMA’AH.

Maka, seharusnya Ikhwanul Muslimin punya perhatian kepada DAKWAH SALAFIYYAH; YAITU: BERDAKWAH KEPADA TAUHID DAN MENGINGKARI PERIBADAHAN KEPADA KUBUR, (mengingkari) ketergantungan kepada orang-orang yang sudah mati, (mengingkari) istighatsah kepada kubur-kubur; seperti: Hasan, Husain, Badawi, dan semisalnya. Wajib atas mereka untuk mempunyai perhatian kepada PRINSIP YANG PALING UTAMA INI, kepada MAKNA LAA ILAAHA ILLALLAAH yang merupakan PONDASI AGAMA. Dan yang pertama kali Nabi dakwahkan di Makkah adalah; mengajak kepadaTauhidullah, mengajak kepada makna Laa Ilaaha Illallaah.

Maka, banyak dari Ahli Ilmu mengkritik Ikhwanul Muslimin dalam perkara ini; yaitu: tidak semangat dalam mendakwahkan Tauhidullah, ikhlas kepada-Nya, mengingkari apa yang dibuat-buat oleh orang-orang bodoh; berupa: bergantung kepada orang-orang yang sudah mati, beristighatsah kepada mereka, bernadzar untuk mereka, dan menyembelih kurban untuk mereka, yang hal ini merupakan Syirik Akbar.

Para Ahli Ilmu juga mengkritik mereka (Ikhwanul Muslimin) karena mereka: TIDAK MEMPUNYAI PERHATIAN KEPADA SUNNAH, (TIDAK) MENCARI SUNNAH, (TIDAK) MEMILIKI PERHATIAN KEPADA HADITS (NABI) YANG MULIA, DAN (TIDAK MEMPUNYAI PERHATIAN TERHADAP) APA YANG PARA SALAFUL UMMAH BERADA DI ATASNYA; BERUPA HUKUM-HUKUM SYAR’I.

Dan di sana ada banyak hal yang saya dengar saudara-saudara (saya) mengkritik mereka.
Kita minta kepada Allah agar Dia memberikan taufik kepada mereka.”

[dinukil dari “Al-Ajwibah Al-Mufiidah ‘Anil Manaahij Al-Jadiidah” (hlm. 72- cet. II)]

[4]- Terlebih lagi jika orang yang mengkritik telah memberikan penjelasan tentang letak kesalahan-kesalahan dari kelompok yang dikritik (istilahnya: “Jarh Mufassar”).

Sehingga fokus pembahasan hendaknya pada:

– Apakah point-point kritikan tersebut ada pada kelompok yang dikritik atau tidak?

– Kemudian kalau memang ada: apakah point-point tersebut benar menyelisihi Ahlus Sunnah atau tidak?

[5]- Dan di antara kaidah Jarh Wa Ta’dil yang hampir-hampir dilupakan adalah: apa yang disebutkan oleh Al-Hafizh Ibnu Hajar (wafat th. 852) -rahimahullaah- dalam “Nukhbatul Fikar” (hlm. 14- cet. Mu-assasah Ar-Risaalah):

وَالْـجَرْحُ مُقَدَّمٌ عَلَى التَّعْدِيْلِ إِنْ صَدَرَ مُبَيَّنًا مِنْ عَارِفٍ بِأْسْبَابِهِ.

“Jarh (celaan/kritikan) lebih didahulukan atas Ta’dil (pujian); jika (celaan) tersebut dijelaskan sebabnya (dan celaan tersebut) muncul dari orang yang ahli terhadap sebab-sebab (celaan) tersebut.”

Sehingga kalau ada kritikan terhadap individu -atau suatu kelompok- dari seseorang -terlebih lagi banyak orang- yang memang ahli dalam ilmu ini, ditambah lagi celaannya juga disertai dengan berbagai penjelasan -bahkan bukti-; maka kalau kemudian ada yang memuji individu -atau kelompok- yang dikritik tersebut: PUJIANNYA ADALAH TIDAK DITERIMA.

Imam Ibnush Shalah (wafat th. 643 H) -rahimahullaah- berkata:

“Kalau terkumpul pada seseorang: kritikan dan pujian; maka kritikan lebih didahulukan (atas pujian), karena orang yang memuji: (hanya) mengabarkan tentang lahiriyah dari orang tersebut, sedangkan orang yang mencela/mengkritik: mengabarkan tentang hal (kejelekan) yang samar atas orang yang memuji.”

[“Muqaddimah Ibnish Shalaah” (hlm. 142- “At-Taqyiid Wal Iidhaah”)]

[6]- Kalau ada yang berkata: bukankah Ilmu Jarh Wa Ta’dil itu hanya dalam masalah perawi hadits, dan bukan berkaitan dengan ke-bid’ah-an atau kesesatan.

Maka jawabannya: Justru di antara kritikan terhadap perawi hadits adalah: karena bid’ah yang ada pada perawi tersebut.

[Lihat: “Nukhbatul Fikar” (hlm. 7- cet. Mu-assasah Ar-Risaalah)]

Sehingga sering kita dapati para perawi hadits yang dicela dengan: “Rumiya Bil Qadar (Tertuduh Qadariyyah)”, “Rumiya Bil Irjaa’ (Tertuduh Murji’ah)”, dan semisalnya.

Wallaahul Musta’aan.

ditulis oleh: Ustadz Ahmad Hendrix-

Bom Bunuh Diri Bukan Aksi Syahid

Bom Bunuh Diri Bukan Aksi Syahid Walau Pun Ada Kemungkinan Pelakunya Terampuni Dari Dosa Bunuh Diri

Saudaraku,
Tidak mudah menasihati orang yang telah didokrin oleh suatu pemahaman, apalagi bila korban doktrinisasi itu telah memberikan pengorbanan yang besar dalam membela fahamnya itu. Oleh karena itu, diantara metode menasehati mereka adalah:

Ketika kita telah membantah dan meruntuhkan pemahaman sesat mereka itu,
Selanjutnya iringilah dengan memberi mereka harapan positif, sehingga sakitnya kesalahan akan terobati dengan manisnya harapan.

Metode tersebut akan kita temukan pada tulisan para Ulama dalam menasihati kekeliruan sebagian umat, betapa kental kasih sayang para Ulama Ahlus Sunnah dalam menasihati umat, sangat terasa bahwa mereka benar-benar menginginkan kebaikan terhadap yang dinasihati.

Berikut ini bantahan serta nasihat dari Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin terhadap para pelaku bom bunuh diri yang diklaim sebagai jalan meraih syahid, beliau membantah klaim tersebut. Akan tetapi, beliau tetap menekankan harapan bahwa:

• Ada kemungkinan bila memang aksi bom bunuh diri dalam menyerang itu dilakukan karena ketidaktahuan, maka; semoga Allah memberi ampunan karena ketidaktahuannya.
• Bahkan beliau mengisyaratkan tentang keutamaan orang yang berijtihad (yang bersungguh-sungguh) mencari kebenaran, bila berhasil mendapat kebenaran maka mendapat dua pahala dan bila salah mendapat satu pahala.

Simaklah nasihat berikut ini, dari seorang Ulama Besar teruntuk para pencari Syahid :
Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin -rahimahullah- berkata :

“Adapun yang dilakukan oleh sebagian orang berupa bunuh diri dengan membawa bahan-bahan peledak dan membawanya kepada orang-orang kafir yang kemudian meledakan peledak itu di tengah-tengah mereka, maka hal itu termasuk perbuatan bunuh diri. Wal iyaadzu billah.

Dan barangsiapa yang melakukan bunuh diri maka dia abadi dan diabadikan dalam neraka Jahannam selamanya, sebagaimana telah datang hadits dari Nabi ‘alaihis sholaatu was salaam tentang hal itu; karena perbuatan (yang diklaim sebagai aksi bom Syahid pent.) tersebut merupakan bunuh diri, dan tidak berada dalam koridor kemaslahatan Islam.
Karena tatkala seseorang melakukan aksi (bom) bunuh diri dan dia pun berhasil membunuh sepuluh atau seratus atau pun dua ratus (orang kafir), maka Islam tidak mendapatkan manfaat dari perbuatannya itu, bahkan tidak akan menyebabkan orang-orang (kafir) masuk Islam! hal tersebut berbeda dengan yang telah dilakukan seorang pemuda Ashhaabul Ukhduud (yang rela dirinya dibunuh oleh raja kafir agar rakyatnya masuk Islam -pent.). Mungkin saja (dengan aksi bom bunuh diri tersebut) justru akan membuat musuh semakin banyak berbuat hal-hal beringas dan aksi itu pun malah semakin membuat musuh murka sehingga menyakiti kaum Muslimin dengan serangan yang lebih mematikan.

Seperti yang telah kita dapati dari apa yang telah dilakukan Yahudi terhadap penduduk Palestina. Sesungguhnya penduduk Palestina bila satu orang dari mereka meninggal dengan cara melakukan aksi bom bunuh diri dan (berhasil) membunuh enam atau tujuh (orang Yahudi), maka orang-orang Yahudi lainnya akan balas dendam dengan membunuh enam puluh (orang Palestina) atau bahkan lebih! Maka dari itu, aksi bom bunuh diri tidak menghasilkan manfaat bagi kaum Muslimin dan para pelaku bom bunuh diri itu pun (dengan aksinya itu) tidak bisa memberikan manfaat terhadap barisan mereka.

Oleh karena itu, kami berpendapat bahwa yang dilakukan sebagian orang berupa aksi bom bunuh diri, kami pandang aksi tersebut sebagai perbuatan bunuh dri dengan tanpa haq/tidak benar dan hal itu berkonsekwensi masuk Neraka -wal iyaadzu billah- dan sesungguhnya pelakunya bukan termasuk syahid.

Akan tetapi, JIKA SESEORANG MELAKUKAN AKSI BOM BUNUH DIRI KARENA TA’WIL (memaknai dalil dengan keliru) serta MENGIRA BAHWA HAL ITU DIBOLEHKAN, maka KAMI BERHARAP SEMOGA DIA SELAMAT DARI DOSA, adapun MENETAPKAN DIA SEBAGAI SYAHID, MAKA TIDAK BISA! karena DIA TIDAK MENEMPUH JALAN (yang benar) UNTUK SYAHID. Dan barangsiapa yang berijtihad (bersungguh-sungguh mencari suatu hukum -Pent.) yang kemudian keliru maka baginya satu pahala.” –selesai nukilan-
[Kitab Syarh Riyaadhus Shaalihiin, Bab As Shabr, Hadits No.30].

-{Semoga Allah membimbing kita untuk selalu berada di atas ilmu dalam setiap langkah juang kita}-

Sumber :

Ustadz Muhammad Hilman Al-fiqhy

https://www.facebook.com/MocHaMmAd.HILMAN.aLfiQhY/posts/10209943876577006

Bolehkah Aksi bom Syahid ( Istisyhaadiyyah ) ?

Pertanyaan :

Perbuatan bom bunuh diri yang biasa ‘mereka’ namakan dengan Aksi Istisyhaadiyyah (bom Syahid) yang pada sebagian fatwa Syaikh Al Albaniy –rahimahullah- bahwa secara ta’shiil (hukum Asal) seolah-olah beliau membolehkan aksi tersebut dengan syarat dibawah perintah Khalifah kaum Muslimin atau Penguasa (yang sah secara syari’at), maka bagaimana penjelasan engkau wahai Syaikh?”

Syaikh Ali Hasan Al Halabiy menjawab:

“Ada beberapa syarat-syarat yang disebutkan oleh Syaikh Al Albaniy –rahimahullah- yang harus terpenuhi agar aksi bom bunuh diri tersebut bisa dibolehkan, diantaranya:
1. Diijinkan oleh Penguasa
2. Kemungkinan besar penaklukan akan terjadi
3. Adanya kesempatan untuk menyelamatkan diri.
maka diantara syarat-syarat itu adalah seperti yang Anda sebutkan (di pertanyaan). Dan bila syarat-syarat tersebut terpenuhi maka aksi tersebut dibolehkan menurut beliau.

Akan tetapi,–dengan memohon pertolongan Allah dari keburukkan jiwa dan kejelekkan amalan Saya- SAYA CONDONG KEPADA PENDAPAT DUA SYAIKH/GURU SAYA; YAITU SYAIKH BIN BAZ DAN SYAIKH UTSAIMIN; YANG MELARANG SECARA MUTLAK (TANPA PENGECUALIAN). Karena; bunuh diri itu dengan alasan apapun juga walaupun alasannya itu secara zhahir terlihat baik, namun alasan tersebut menafikan dan menyelisihi firman Allah ta’ala:
‘…dan janganlah kamu membunuh dirimu…’ (QS. Annisa: 29).
Larangan dalam ayat ini adalah larangan yang shariih (jelas), Allah tidak memfirmankan: ‘janganlah membunuh diri dengan sebab begini dan boleh bila sebabnya begitu!?

Larangan dalam ayat tersebut adalah umum, jelas, dan terang. Niat tidak akan merubah hukum dari perbuatan-perbuatan yang menyelisihi syariat Islam.

Bahkan, syarat-syarat yang disebutkan oleh Syaikh Al Albaniy tersebut hampir tidak mungkin dan mustahil bisa dipraktekan pada realita sekarang.

Wallaahu a’lam.” -selesai jawaban-

=================

Syaikh Ali Hasan Al Halabiy merupakan murid senior Syaikh Al Albaniy.
.

Diantara Faidah Daurah Syar’iyyah ke 18, di Batu, Malang. Jawa Timur.

 Ditulis oleh : Ustadz Muhammad Hilman Alfiqhy

Pertanyaan Ustadz M. Hilman kepada Syaikh Ali Hasan Al Halabiy  hafizhahullah

perkataan di atas ditulis secara makna

MASUK AKAL

Ada seseorang yang bertanya kepada saya tentang hikmah beberapa perintah syariat, seperti perintah berjenggot dan larangan isbal. Apabila masuk di akal si penanya: maka dia mau melaksanakannya, namun apabila penjelasan saya tidak masuk di akal baginya: dia enggan untuk menaatinya.
Agak sulit memang persyaratan yang diberikannya agar ia mau tunduk kepada syariat. Akhirnya saya bacakan penjelasan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berikut ini:

“telah ditetapkan dengan perintah (Allah), (bahwa) hikmah yang dihasilkan oleh syariat ada tiga macam;

PERTAMA: sebuah perbuatan yang mengandung maslahat (kebaikan) dan mafsadat (keburukan) walaupun syariat tidak datang menjelaskannya.

Sebagaimana sudah diketahui bahwa keadilan mengandung kemaslahatan bagi alam semesta, dan kedzoliman menyimpan kerusakan bagi mereka. Maka jenis inilah (yang dimaksud dengan istilah) hasan (baik) dan qobih (buruk). Dan terkadang (sebuah perbuatan) diketahui dengan akal dan syariat mengenai keburukannya…

akan tetapi tidaklah mengharuskan adanya keburukan ini menjadikan pelakunya diazab di akherat: apabila tidak datang syariat yang menjelaskan hal itu. Dan dalam perkara inilah kelompok ekstrem yang menetapkan baik dan buruk (diketahui sebatas akal saja) telah terjatuh dalam kesalahan, karena: mereka mengatakan: “sesungguhnya hamba akan disiksa dengan sebab perbuatan buruk mereka walaupun belum di utus kepada mereka seorang rasul.

Pendapat ini bertentangan dengan Nash/dalil. Allah –subhanahu wa ta’ala berfirman:

وَمَا كُنَّا مُعَذِّبِيْنَ حَتَّى نَبْعَثَ رَسُوْلًا

“tidaklah kami mengadzab sampai kami mengutus seorang rasul” al-Isra’: 15

Dan dalil-dalil yang menunjukkan bahwa Allah tidak mengadzab kecuali setelah mengutus (rasul) sangatlah banyak yang membantah pendapat ahli tahsin dan taqbih -orang yang mengatakan bahwa kebaikan dan keburukan dapat diketahui sebatas dengan akal tanpa wahyu yaitu kaum mu’tazilah Pent.- yang mereka mengatakan: “sesungguhnya makhluk diadzab di dunia tanpa seorang rasul yang di utus oleh mereka.”

KEDUA: sesungguhnya pembuat syariat apabila memerintahkan sesuatu maka menjadi baik, dan apabila melarang kepada sesuatu maka menjadi buruk, dan sebuah perbuatan mendapatkan sifat baik dan buruk berdasarkan perintah pembuat syariat. (maksudnya: secara akal semata perintah atau larangan Allah terhadap sesuatu tidak diketahui baik dan buruknya. Barulah setelah syariat menjelaskan ini memiliki keutamaan dan ini dibenci kita mengetahui hikmahnya. saya membuat contoh seperti larangan mencabut uban. pent.)

KETIGA: pembuat syariat memerintahkan sesuatu untuk menguji hambanya apakah menaatinya atau membangkang? Dan bukanlah yang dimaksudkan perbuatan yang diperintahkan; sebagaimana Allah memerintahkan Nabi Ibrahim untuk menyembelih anaknya, maka ketika keduanya telah berserah diri dan (Ibrahim) membaringkan anaknya diatas pelipisnya: Allah gantikan dengan sembelihan… maka hikmah (dari perintah) sumbernya adalah (menuruti) perintah itu sendiri bukan yang diperintahkan (menyembelih anaknya).

Jenis ini dan yang sebelumnya, tak dipahami oleh mu’tazilah, dan mereka menyangka bahwa baik dan buruk tidaklah ada kecuali pada sesuatu yang disifati dengannya tanpa perintah syariat. Dan Asy’ariyah mengklaim bahwa seluruh syariat semuanya adalah jenis ujian, dan perbuatan (hamba) tidak memiliki sifat, baik sebelum perintah syariat ataupun dengan perintah syariat. Adapun ahli hikmah dan jumhur mereka menetapkan tiga jenis ini, dan inilah pendapat yang benar.

[majmu’ fatwa (VIII/434-436) dinukil dari qowaidh ta’arudhil masholih wal mafasid, Syaikh Sulaiman ar-Ruhaily, hlm 32-34]

Oleh karena itu, tidaklah harus anda mengetahui dan menunggu untuk mengetahui hikmah sebuah perintah dan larangan baru anda mentaatinya. Bisa jadi memang perbuatan tersebut termasuk jenis kedua dan ketiga.

Umar bin Khottob pun sebatas hanya melihat Rasulullah –shallallahu alaihi wa salam- mencium hajar aswad, beliau mengikutinya dan mengatakan:

إني لأعلم أنك حجر لا تضر ولا تنفع، ولولا أني رأيت رسول الله يقبلك ما قبلتك

Sesungguhnya aku mengetahui bahwa kamu adalah batu yang tidak bisa memberi mudhorot dan memberi manfaat. Kalau sekiranya aku tidak melihat Rasulullah menciummu aku tidak akan menciummu.
Bukhori (1610) dan Muslim (1270)

Semoga bermanfaat.

Dika Wahyudi Lc

SIAPA SEBENARNYA PEMBANGKIT RADIKALISME DAN TERORISME MODERN DI TENGAH UMAT ISLAM?

SIAPA SEBENARNYA PEMBANGKIT RADIKALISME DAN TERORISME MODERN DI TENGAH UMAT ISLAM?

Oleh
Ustadz DR. Muhammad Arifin Badri, M.A.

Dunia internasinal secara umum dan negeri-negeri Islam secara khusus, telah digegerkan oleh ulah segelintir orang yang menamakan dirinya sebagai pejuang kebenaran. Dahulu, banyak umat Islam yang merasa simpatik dengan ulah mereka, karena sasaran mereka adalah orang-orang kafir, sebagaimana yang terjadi di gedung WTC pada 11 September 2001. Akan tetapi, suatu hal yang sangat mengejutkan, ternyata sasaran pengeboman dan serangan tidak berhenti sampai di situ. Sasaran terus berkembang, sampai akhirnya umat Islam pun tidak luput darinya. Kasus yang paling aktual ialah yang menimpa Pangeran Muhammad bin Nayif Alus Sa’ûd, Wakil Menteri Dalam Negeri Kerajaan Saudi Arabia.

Dahulu, banyak kalangan yang menuduh bahwa pemerintah Saudi berada di belakang gerakan tidak manusiawi ini. Mereka menuduh bahwa paham yang diajarkan di Saudi Arabia telah memotivasi para pemuda Islam untuk bersikap bengis seperti ini. Akan tetapi, yang mengherankan, tudingan ini masih juga di arahkan ke Saudi, walaupun telah terbukti bahwa pemerintah Saudi termasuk yang paling sering menjadi korbannya?

Melalui tulisan ini, saya mengajak saudara sekalian untuk menelusuri akar permasalahan sikap ekstrim dan bengis yang dilakukan oleh sebagian umat Islam ini. Benarkah ideologi ini bermuara dari Saudi Arabia?

Harian “Ashsharqul-Ausat” edisi 8407 tanggal 4/12/2001 M – 19/9/1422 H menukil catatan harian Dr. Aiman al-Zawâhiri, tangan kanan Usâmah bin Lâdin. Di antara catatan harian Dr Aiman al-Zawâhiri yang dinukil oleh harian tersebut ialah:

أَنَّ سَيِّدَ قُطُبٍ هُوَ الَّذِيْ وَضَعَ دُسْتُوْرَ التَّكْفِيْرِييِْنَ الْجِهَادِيِيْنَ) فِيْ كِتَابِهِ الدِّيْنَامِيْتِ مَعَالِمَ عَلَى الطَّرِيْقِ، وَأَنَّ فِكْرَ سَيِّدٍ هُوَ (وَحَدَهُ) مَصْدَرُ اْلأَحْيَاءِ اْلأُصُوْلِيْ، وَأَنَّ كِتَابَهُ الْعَدَالَةَ اْلاِجْتِمَاعِيَّةَ فِيْ اْلإِسْلاَمِ يُعَدُّ أَهَمَّ إِنْتَاجٍ عَقْلِيٍّ وَفِكْرِيٍّ لِلتَّيَّارَاتِ اْلأُصُوْلِيَّةِ، وَأَنْ فِكْرَ سَيِّدٍ كاَنَ شَرَارَةَ الْبَدْءِ فِيْ إِشْعَالِ الثَّوْرَةِ (الَّتِيْ وَصَفَهَا بِاْلإِسْلاَمِيَّةِ) ضِدَّ (مَنْ سَمَّاهُمْ) أَعْدَاءَ اْلإِسْلاَمِ فِيْ الدَّاخِلِ وَالْخَارِجِ، وَالَّتِيْ مَا زَالَتْ فَصُوْلُهَا الدَّامِيَةُ تَتَجَدَّدُ يَوْماً بَعْدَ يَوْمٍ

“Sesungguhnya Sayyid Quthub dalam kitabnya yang bak bom waktu “Ma’âlim Fî At-Tharîq’ meletakkan undang-undang pengkafiran dan jihad. Gagasan-gagasan Sayyid Quthublah yang selama ini menjadi sumber bangkitnya pemikiran radikal. Sebagaima kitab beliau yang berjudul ” Al-‘Adâlah Al-Ijtimâ’iyah fil Islâm” merupakan. Hasil pemikiran logis paling penting bagi lahirnya arus gerakan radikal. Gagasan-gagasan Sayyid Quthub merupakan percikan api pertama bagi berkobarnya revolusi yang ia sebut sebagai revolusi Islam melawan orang-orang yang disebutnya musuh-musuh Islam, baik di dalam atau di luar negeri. Suatu perlawanan berdarah yang dari hari ke hari terus berkembang.”

Pengakuan Dr Aiman al-Zawâhiri ini selaras dengan pernyataan Menteri Dalam Negeri Saudi Arabia, Pangeran Nayif bin Abdul Azîz al-Sa`ûd. Pangeran Nayif menyatakan kepada Hariah “As-Siyâsah Al-Kuwaitiyah” pada tanggal 27 November 2002 M.

“Tanpa ada keraguan sedikitpun, aku katakan bahwa sesungguhnya seluruh permasalahan dan gejolak yang terjadi di negeri kita bermula dari organisasi Ikhwânul Muslimîn. Sungguh, kami telah banyak bersabar menghadapi mereka walaupun sebenarnya bukan hanya kami yang telah banyak bersabar. Sesungguhnya mereka itulah penyebab berbagai masalah yang terjadi di dunia arab secara khusus dan bahkan meluas hingga ke seluruh dunia Islam. Organisasi Ikhwânul Muslimîn sungguh telah menghancurkan seluruh negeri Arab.”

Lebih lanjut Pangeran Nayif menambahkan:
“Karena saya adalah pemangku jabatan terkait, maka saya rasa perlu menegaskan bahwa ketika para pemuka Ikhwânul Muslimin merasa terjepit dan ditindas di negeri asalnya (Mesir-pen), mereka mencari perlindungan dengan berhijrah ke Saudi, dan sayapun menerima mereka. Dengan demikian, -berkat karunia Allah Azza wa Jalla – mereka dapat mempertahankan hidup, kehormatan dan keluarga mereka. Sedangkan saudara-saudara kita para pemimpin negara sahabat dapat memaklumi sikap kami ini. Para pemimpin negara sahabat menduga bahwa para anggota Ikhwânul Muslimin tidak akan melanjutkan gerakannya dari Saudi Arabia. Setelah mereka tinggal di tengah-tengah kita selama beberapa tahun, akhirnya mereka butuh mata pencaharian. Dan kamipun membukakan lapangan pekerjaan untuk mereka. Dari mereka ada yang diterima sebagai tenaga pengajar, bahkan menjadi dekan sebagian fakultas. Kami berikan kesempatan kepada mereka untuk menjadi tenaga pengajar di sekolah dan perguruan tinggi kami. Akan tetapi, sangat disayangkan, mereka tidak melupakan hubungan mereka di masa lalu. Mulailah mereka memobilisasi masyarakat, membangun gerakan dan memusuhi Kerajaan Saudi.”

Dan kepada harian Kuwait “Arab Times” pada hari Rabu, 18 Desember 2002 M, kembali pangeran Nayif berkata: “Sesungguhnya mereka (Ikhwânul Muslimîn) mempolitisasi agama Islam guna mencapai kepentingan pribadi mereka.”

Sekedar membuktikan akan kebenaran dari pengakuan Dr Aiman Al-Zawâhiri di atas, berikut saya nukilkan dua ucapan Sayyid Quthub:

Nukilan 1 :

نَحْنُ نَدْعُوْ إِلَى اسْتِئْنَافِ حَيَاةٍ إِسْلاَمِيَّةٍ فِيْ مُجْتَمَعٍ إِسْلاَمِيٍّ تَحْكُمُهُ الْعَقِيْدَةُ اْلإِسْلاَمِيَّةُ وَالتَّصَوُّرُ اْلإِسْلاَمِيُّ كَمَا تَحْكُمُهُ الشَّرِيْعَةُ اْلإِسْلاَمِيَّةُ وَالنِّظَامُ اْلإِسْلاَمِيُّ. وَنَحْنُ نَعْلَمُ أَنَّ الْحَيَاةَ اْلإِسْلاَمِيَّةَ عَلَى هَذَا النَّحْوِ قَدْ تَوَقَّفَتْ مُنْذُ فَتْرَةٍ طَوِيْلَةٍ فِيْ جَمِيْعٍ ِلأَنْحَاءِ اْلأَرْضِ، وَإِنَّ وُجُوْدَ اْلإِسْلاَمِ ذَاتِهُ مِنْ ثَمَّ قُدْ تَوَقَّفَ كَذَالِكَ

“Saya menyeru agar kita memulai kembali kehidupan yang islami di satu tatanan masyarakat yang islami. Satu masyarakat yang tunduk kepada akidah Islam, dan tashawur (pola pikir) yang islami pula. Sebagaimana masyarakat itu patuh kepada syari’at dan undang-undang yang Islami. Saya menyadari sepenuhnya bahwa kehidupan semacam ini telah tiada sejak jauh-jauh hari di seluruh belahan bumi. Bahkan agama Islam sendiri juga telah tiada sejak jauh-jauh hari pula.” [Al ‘Adâlah Al-Ijtimâ’iyah 182].

Nukilan 2 :

وَحِيْنَ نَسْتَعْرِضُ وَجْهَ اْلأَرْضِ كُلَّهُ اْليَوْمَ عَلَى ضَوْءِ هَذا التَّقْرِيْرِ اِْلإلَهِيْ لِمَفْهُوْمِ الدِّيْنِ وَاْلإِسْلاَمِ، لاَ نَرَى لِهَذَا الدِّيْنِ وُجُوْدًا

“Dan bila sekarang kita mengamati seluruh belahan bumi berdasarkan penjelasan ilahi tentang pemahaman agama dan Islam ini, niscaya kita tidak temukan eksistensi dari agama ini.” [Al- ‘Adâlah Al-Ijtimâ’iyah hlm. 183].

Saudaraku! sebagai seorang Muslim yang beriman, apa perasaan dan reaksi anda setelah membaca ucapan ini?

Demikianlah, ideologi ekstrim yang diajarkan oleh Sayyid Quthub melalui bukunya yang oleh Dr Aiman Al-Zawâhiri disebut sebagai “Dinamit”. Pengkafiran seluruh lapisan masyarakat yang tidak bergabung ke dalam barisannya.

Mungkin karena belum merasa cukup dengan mengkafirkan masyarakat secara umum, Sayyid Quthub dalam bukunya “Fî Zhilâlil Qur’ân” ketika menafsirkan surat Yûnus ayat 87, ia menyebut masjid-masjid yang ada di masyarakat sebagai “Tempat peribadahan Jahiliyah”. Sayyid Quthub berkata:

اعْتِزَالُ مَعَابِدِ الْجَاهِلِيَّةِ وَاتِّخَاذُ بُيُوْتِ الْعِصْبَةِ الْمُسْلِمَةِ مَسَاجِدَ. تُحِسُّ فِيْهَا بِاْلاِنْعِزَالِ عَنِ الْمُجْتَمَعِ الْجَاهِلِيِّ؛ وَتُزَاوِلُ فِيْهَا عِبَادَتَهَا لِربِّهَا عَلَى نَهْجٍ صَحِيْحٍ؛ وتُزَاوِلُ بِالْعِبَادَةِ ذَاتِهَا نَوْعاً مِنَ التَّنْظِيْمِ فِيْ جَوِّ الْعِبَادَةِ الطَّهُوْرِ

“Bila umat Islam ditindas di suatu negeri, maka hendaknya mereka meninggalkan tempat-tempat peribadahan jahiliyah. Dan menjadikan rumah-rumah anggota kelompok yang tetap berpegang teguh dengan keislamannya sebagai masjid. Di dalamnya mereka dapat menjauhkan diri dari masyarakat jahiliyah. Di sana mereka juga menjalankan peribadahan kepada Rabbnya dengan cara-cara yang benar. Di waktu yang sama, dengan mengamalkan ibadah tersebut, mereka berlatih menjalankan semacam tanzhîm dalam nuansa ibadah yang suci.”

Yang dimaksud “Ma`âbid Jâhiliyah”(tempat-tempat ibadah jahiliyah) adalah masjid-masjid kaum Muslimin yang ada. Bisa bayangkan! Para pemuda, yang biasanya memiliki idealisme tinggi dan semangat besar, lalu mendapatkan doktrin semacam ini, kira-kira apa yang akan mereka lakukan? Benar-benar Sayyid Quthub menanamkan ideologi teror pada akal pikiran para pengikutnya.

Dan sudah barang tentu, ia tidak berhenti pada penanaman ideologi semata. Ia juga melanjutkan doktrin terornya dalam wujud yang lebih nyata. Simaklah, bagaimana ia mencontohkan aplikasi nyata dari ideologi yang ia ajarkan:

لِهَذِهِ اْلأَسْبَابِ مُجْتَمِعَةً فَكَّرْنَا فِيْ خِطَّةٍ وَوَسِيْلَةٍ تَرُدُّ اْلاِعْتَِدَاءَ .. وَالَّذِيْ قُلْتُهُ لَهُمْ لِيُفَكِّرُوْا فِيْ الْخِطَّةِ وَالْوَسِيْلَةِ بِاعْتِبَارِ أَنَّهُمْ هُمُ الَّذِيْنَ سَيَقُوْمُوْنَ بِهَا ِبِمَا فِيْ أَيْدِيْهِمْ مِنْ ِإمْكَانِيَاتٍ لاَ أَمْلِكُ أَنَا مَعْرِفَتَهَا بِالضَّبْطِ وَلاَ تَحْدِيْدَهَا…….. .. وَهَذِهِ اْلأَعْمَالُ هِيَ الرَّدُّ فَوْرَ وُقُوْعِ اعْتِقَالاَتٍ ِلأَعْضَاءِ التَّنْظِيْمِ بِإِزَالَةِ رُؤُوْسٍ فِيْ مَقْدَمَتِهَا رَئِيْسُ الْجُمْهُوْرِيَّةِ وَرَئِيْسُ الْوِزَارَةِ وَمُدِيْرُ مَكْتَبِ الْمُشِيْرِ وَمُدِيْرُ الْمُخَابِرَاتِ وَمُدِيْرُ اْلبُوْلِيْسِ الْحَرْبِيْ، ثُمَّ نَسْفٌ لِبَعْضِ الْمَنْشَآتِ الَّتِيْ تَشِلُ حَرَكَةً مَوَاصَلاَتِ الْقَاهِرَةِ لِضِمَانِ عَدَمِ تَتَبًّعِ بَقِيَّةِ اْلإِخْوَانِ فِيْهَا وَفِيْ خَارِجِهَا كَمَحَطَّةِ الْكَهْرَبَاءِ وَالْكِبَارِيْ،

“Menimbang berbagai faktor ini secara komprehensif, saya memikirkan suatu rencana dan cara untuk membalas perbuatan musuh. Aku pernah katakan kepada para anggota jama`ah: “Hendaknya mereka memikirkan suatu rencana dan cara, dengan mempertimbangkan bahwa mereka pulalah yang akan menjadi eksekutornya. Tentunya cara itu disesuaikan dengan potensi yang mereka miliki. Saya tidak tahu dengan pasti cara apa yang tepat bagi mereka dan saya juga tidak bisa menentukannya …… Tindakan kita ini sebagai balasan atas penangkapan langsung beberapa anggota organisasi Ikhwânul Muslimîn. Kita membalas dengan menyingkirkan pimpinan-pimpinan mereka, terutama presiden, perdana mentri, ketua dewan pertimbangan agung, kepala intelijen dan kepala kepolisian. Balasan juga dapat dilanjutkan dengan meledakkan mengebom berbagai infrastruktur yang dapat melumpuhkan transportasi kota Kairo. Semua itu bertujuan untuk memberikan perlindungan kepada anggota Ikhwânul Muslimîn di dalam dan luar kota Kairo. Serangan juga dapat diarahkan ke pusat pembangkit listrik dan jembatan layang.” [Limâzâ A’adamûni oleh Sayyid Quthub hlm: 55]

Pemaparan singkat ini menyingkap dengan jelas akar dan sumber pemikiran ekstrim yang melekat pada jiwa sebagian umat Islam di zaman ini.

Hanya saja, perlu diketahui bahwa menurut beberapa pengamat, gerakan Ikhwânul Muslimîn dalam upaya merealisasikan impian besarnya, telah terpecah menjadi tiga aliran:

1. Aliran Hasan al-Banna
Dalam mengembangkan jaringannya, Hasan al-Banna lebih mementingkan terbentuknya suatu jaringan sebesar-besarnya, tanpa perduli dengan perbedaan yang ada di antara mereka. Kelompok ini senantiasa mendengungkan slogan:

نَجْتَمِعُ عَلَى مَا اتَّفَقْنَا عَلَيْهِ وَيَعْذِرُ بَعْضُنَا بَعْضًا فِيْمًا اخْتَلَفْنَا فِيْهِ

“Kita bersatu dalam hal yang sama, dan saling toleransi dalam setiap perbedaan antara kita”.

Tidak mengherankan bila para penganut ini siap bekerja sama dengan siapa saja, bahkan dengan non Muslim sekalipun, demi mewujudkan tujuannya. Prinsip-prinsip agama bagi mereka sering kali hanya sebatas pelaris dan pelicin agar gerakannya di terima oleh masyarakat luas. Tidak heran bila corak politis nampak kental ketimbang agamis pada kelompok penganut aliran ini. Karenanya, dalam perkumpulan dan pengajian mereka, permasalahan politik, strategi pergerakan dan tanzhîm sering menjadi tema utama pembahasan.

2. Aliran Sayyid Quthub
Setelah bergabungnya Sayyid Quthub ke dalam barisan Ikhwânul Muslimîn, terbentuklah aliran baru yang ekstrim pada tubuh Ikhwânul Muslimîn. Pemikiran dan corak pergerakannya lebih mendahulukan konfrontasi. Ia menjadikan pergerakan Ikhwânul Muslimîn terbelah menjadi dua aliran. Melalui berbagai tulisannya Sayyid Quthub menumpahkan ideologi ekstrimnya. Tanpa segan-segan ia mengkafirkan seluruh pemerintahan umat Islam yang ada, dan bahkan seluruh lapisan masyarakat yang tidak sejalan dengannya. Karenanya ia menjuluki masjid-masjid umat Islam di seluruh penjuru dunia sebagai “Tempat peribadatan jahiliyyah”.

Dan selanjutnya, tatkala pergerakannya mendapatkan reaksi keras dari penguasa Mesir di bawah pimpinan Jamal Abdun Nâsir, ia pun menyeru pengikutnya untuk mengadakan perlawanan dan pembalasan, sebagaimana diutarakan di atas.

3. Aliran Muhammad Surûr Zaenal Abidin
Setelah pergerakan Ikhwânul Muslimîn mengalami banyak tekanan di negeri mereka, yaitu Mesir, Suria, dan beberapa negeri Arab lainnya, mereka berusaha menyelamatkan diri. Negara yang paling kondusif untuk menyelamatkan diri dan menyambung hidup ketika itu ialah Kerajaan Saudi Arabia. Hal itu itu karena penguasa Kerajaan Saudi saat itu begitu menunjukkan solidaritas kepada mereka yang ditindas di negeri mereka sendiri. Lebih dari itu, pada saat itu kerajaan Saudi sedang kebanjiran pendapatan dari minyak buminya, mereka membuka berbagai lembaga pendidikan dalam berbagai jenjang, sehingga mereka kekurangan tenaga pengajar. Jadi, keduanya saling membutuhkan. Untuk itu, mereka diterima dengan dua tangan terbuka oleh otoritas Pemerintah Saudi Arabia. Selanjutnya, mereka pun dipekerjakan sebagai tenaga pengajar di sekolah-sekolah dan perguruan tinggi di sana.

Di sisi lain, Pemerintah Mesir, Suria dan lainnya merasa terbebaskan dari banyak pekerjaannya. Mereka tidak berkeberatan dengan sikap Pemerintah Saudi Arabia yang memberikan tempat kepada para pelarian Ikhwânul Muslimîn, sebagaimana ditegaskan oleh Pangeran Nayif bin Abdul Azîz di atas.

Selama tinggal di Kerajaan Saudi Arabia inilah, beberapa tokoh gerakan Ikhwânul Muslimîn berusaha beradaptasi dengan paham yang diajarkan di sana. Sebagaimana kita ketahui, Ulama’-Ulama’ Saudi Arabia adalah para penerus dakwah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhâb rahimahullah yang anti-pati dengan segala bentuk kesyirikan dan bid’ah. Sehingga, selama mengembangkan pergerakannya, tokoh-tokoh Ikhwânul Muslimîn turut menyuarakan hal yang sama. Hanya dengan cara inilah mereka bisa mendapatkan tempat di masyarakat setempat. Inilah faktor pembeda antara aliran ketiga dari aliran kedua, yaitu adanya sedikit perhatian terhadap tauhid dan sunnah. Walaupun pada tataran aplikasinya, masalah tauhid acap kali dikesampingkan dengan cara membuat istilah baru yang mereka sebut dengan tauhîd hakimiyyah.

Istilah ini sebenarnya bukanlah baru, istilah ini tak lebih dari kamuflase para pengikut Sayyid Quthub untuk mengelabuhi pemuda-pemuda Saudi Arabia semata. Istilah ini mereka ambil dari doktrin Sayyid Quthub yang ia tuliskan dalam beberapa tulisannya. Berikut salah satu ucapannya yang menginspirasi mereka membuat istilah tauhîd hakimiyyah ini:

تَقُوْمُ نَظَرِيَّةُ الْحُكْمِ فِي اْلإِسْلاَمِ عَلَى أَسَاسِ شَهَادَةِ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ، وَمَتَى تَقَرَّرَ أَنَّ اْلأُلُوْهِيَّةَ ِللهِ وَحْدَهُ بَهَذِهِ الشَّهَادَةِ، تَقَرَّرَ بِهَا أَنَّ الْحَاكِمِيَّةَ فِيْ حَيَاةِ الْبَشَرِ ِللهِ وَحْدَهُ. وَاللهُ سُبْحَانَهُ يَتَوَلَّى الْحَاكِمِيَّةَ فِيْ حَيَاةِ الْبَشَرِ عَنْ طَرِيْقٍ أَمَرَهُمْ بِمَشِيْئَتِه وَقَدْرِهِ مِنْ جَانِبٍ، وَعَنْ طَرِيْقِ تَنْظِيْمِ أَوْضَاعِهِمْ وَحَيَاتِهِمْ وَحُقُوْقِهِمْ وَوَاجِبَاتِهِمْ وَعَلاَقَاتِهِمْ وَارْتِبَاطَاتِهِمْ بِشَرِيْعَتِهِ وَمَنْهَجِهِ مِنْ جَانِبٍ آخَرَ…. وَبِنَاءً عَلَى هَذِهِ الْقَاعِدَةِ لاَ يُمْكِنُ أَنْ يَقُوْمَ اْلبَشَرُ بِوَضْعِ أَنْظِمَةِ الْحُكْمِ وَشَرَائِعِهِ وَقَوَانِيْنِهِ مِنْ عِنْدِ أَنْفُسِهِمْ؛ ِلأَنَّ هَذَا مَعْنَاهُ رَفْضُ أُلُوْهِيَّةِ اللهِ وَادِّعَاءِ خَصَائِصِ اْلأُُلُوْهِيَّةِ فِيْ الْوَقْتِ ذَاتِهِ، وَهُوَ اْلكُفْرُ الصَّرَاحُ

“Teori hukum dalam agama Islam dibangun di atas persaksian bahwa tiada ilâh yang behak diibadahi selain Allah. Dan bila dengan persaksian ini telah ditetapkan bahwa peribadatan hanya layak ditujukan kepada Allah semata, maka ditetapkan pula bahwa perundang-undangan dalam kehidupan umat manusia adalah hak Allah Azza wa Jalla semata. Dari satu sisi, hanya Allah Yang Maha Suci, yang mengatur kehidupan umat manusia dengan kehendak dan takdir-Nya. Dan dari sisi lain, Allah Azza wa Jalla jualah yang berhak mengatur keadaan, kehidupan, hak, kewajiban dan hubungan mereka, juga keterkaitan mereka dengan syari’at dan ajaran-ajaran-Nya…… Berdasarkan kaidah ini, manusia tidak dibenarkan untuk membuat undang-undang, syari’at, dan peraturan pemerintahan menurut gagasan diri-sendiri. Karena perbuatan ini artinya menolak sifat ulûhiyyah Allah Azza wa Jalla dan mengklaim bahwa pada dirinya terdapat sifat-sifat ulûhiyah. Dan sudah barang tentu ini adalah nyata-nyata perbuatan kafir.” [Al ‘Adâlah Al-Ijtimâ’iyah hlm. 80]

Ketika menafsirkan ayat 19 surat al An’âm, Sayyid Quthub lebih ekstrim dengan mengatakan: “Sungguh, sejarah telah terulang, sebagaimana yang terjadi pada saat pertama kali agama Islam menyeru umat manusia kepada “lâ ilâha illallâhu”. Sungguh, saat ini umat manusia telah kembali menyembah sesama manusia, mengalami penindasan dari para pemuka agama, dan berpaling dari “lâ ilâha illallâhu”. Walaupun sebagian dari mereka masih tetap mengulang-ulang ucapan “lâ ilâha illallâhu”, akan tetapi tanpa memahami kandungannya. Ketika mereka mengulang-ulang syahadat itu, mereka tidak memaksudkan kandungannya. Mereka tidak menentang penyematan sebagian manusia sifat “al-hakimiyah” pada dirinya. Padahal “al-hakimiyah” adalah sinonim dengan “al- ulûhiyah “.

Yang dimaksud oleh Sayyid Quthub dalam pernyataan di atas, antara lain adalah para muadzin yang selalu menyerukan kalimat syahadat. Anda bisa bayangkan, bila para muadzin di mata Sayyid Quthub demikian adanya, maka bagaimana halnya dengan selain mereka? Bila demikian cara Sayyid Quthub memandang para muadzin yang menjadi benteng terakhir bagi eksistensi agama Islam di masyarakat, maka kira-kira bagaimana pandangannya terhadap diri anda yang bukan muadzin?

Kedudukan al-hakimiyyah; kewenangan untuk meletakkan syari’at dalam Islam, sebenarnya tidaklah seperti yang digambarkan oleh Sayyid Quthub sampai menyamai kedudukan ulûhiyyah . Al-Hakimiyah hanyalah bagian dari rubûbiyyah Allah Azza wa Jalla . Karenanya, setelah mengisahkan tentang penciptaan langit, bumi, serta pergantian siang dan malam, Allah Azza wa Jalla berfirman:

أَلَا لَهُ الْخَلْقُ وَالْأَمْرُ ۗ تَبَارَكَ اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ﴿٥٤﴾ادْعُوا رَبَّكُمْ تَضَرُّعًا وَخُفْيَةً ۚ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ

“Ingatlah, menciptakan dan memerintahkan hanyalah hak Allah. Maha suci Allah, Rabb semesta alam. Berdoalah kepada Rabbmu dengan berendah diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas”. [al A’râf/7:54-55]

Pada ayat 54, Allah Azza wa Jalla menegaskan bahwa mencipta dan memerintah yang merupakan kesatuan dari rubûbiyah adalah hak Allah Azza wa Jalla . Pada ayat selanjutnya Allah Azza wa Jalla memerintahkan agar kita mengesakan-Nya dengan peribadatan yang diwujudkan dengan berdoa dengan rendah diri dan suara yang halus. Dengan demikian, tidak tepat bila al-hâkimiyah disejajarkan dengan ulûhiyah. Apalagi sampai dikesankan bahwa al-hakimiyah di zaman sekarang lebih penting dibanding al- ulûhiyah.

Ucapan Sayyid Quthub semacam inilah yang mendasari para pengikutnya untuk lebih banyak mengurusi kekuasaan dan para penguasa dibanding urusan dakwah menuju tauhid dan upaya memerangi kesyirikan yang banyak terjadi di masyarakat. Karenanya, di antara upaya Kerajaan Saudi Arabia dalam menanggulangi ideologi sesat ini ialah dengan berupaya membersihkan pemikiran masyarakatnya dari doktrin-doktrin Sayyid Quthub yang terlanjur meracuni pemikiran sebagian mereka. Di antara terobosan yang menurut saya cukup bagus dan layak di tiru ialah:

1. Menarik kitab-kitab yang mengajarkan ideologi ekstrim dari perpustakaan sekolah. Di antara kitab-kitab yang di tarik ialah kitab: Sayyid Quthub Al-Muftarâ ‘alaih dan kitab Al-Jihâd Fî Sabîlillâh

2. Membentuk badan rehabitilasi yang beranggotakan para Ulama’ guna meluruskan pemahaman dan menetralisasi doktrin ekstrim yang terlanjur meracuni akal para pemuda. Terobosan kedua ini terbukti sangat efektif, dan berhasil menyadarkan ratusan pemuda yang telah teracuni oleh pemikiran ekstrim, sehingga mereka kembali menjadi anggota masyarakat yang sewajarnya.

Mengakhiri pemaparan ringkas ini, ada baiknya bila saya mengetengahkan pernyataan Pangeran Sa’ûd al-Faisal, Menteri Luar Negeri Kerajaan Saudi Arabia, pada pertemuan U.S.-Saudi Arabian Business Council (USSABC) yang berlangsung di kota New York, pada tanggal 26 April 2004. Pangeran Sa’ûd berkata: “Menanggapi tuduhan-tuduhan ini, sudah sepantasnya bila anda mencermati fenomena jaringan al-Qaedah bersama pemimpinnya bin Lâdin. Walaupun ia terlahir di Saudi Arabia, akan tetapi ia mendapatkan ideologi dan pola pikirnya di Afganistan. Semuanya berkat pengaruh dari kelompok sempalan gerakan Ikhwânul Muslimîn. Saya yakin, hadirin semua telah mengenal gerakan ini. Fakta ini membuktikan bahwa Saudi Arabia dan seluruh masjid-masjidnya terbebas dari tuduhan sebagai sarang ideologi tersebut.

Dan kalaupun ada pihak yang tetap beranggapan bahwa Saudi Arabia bertanggung jawab atas kesalahan yang telah terjadi, maka sudah sepantasnya Amerika Serikat juga turut bertanggung jawab atas kesalahan yang sama. Dahulu kita bersama-sama mendukung perjuangan mujahidin dalam membebaskan Afganistan dari penjajahan Uni Soviet. Dan setelah Afganistan merdeka, kita membiarkan beberapa figur tetap bebas berkeliaran, sehingga mereka dimanfaatkan oleh orang-orang yang tidak jelas. Kita semua masih mengingat, bagaimana para mujahidin disambut dengan penuh hormat di Gedung Putih. Bahkan tokoh fiktif Rambo dikisahkan turut serta berjuang bersama-sama dengan para mujahidin.” [Sumber situs resmi Kementerian Luar Negeri Kerajaan Saudi Arabia: http://www.mofa.gov.sa/Detail.asp?InNewsItemID=39825]

Semoga pemaparan singkat ini dapat sedikit membuka sudut pandang baru bagi kita dalam menyikapi berbagai ideologi, sikap dan pergerakan ekstrim yang berkembang di tengah masyarakat kita. Salawat dan salam semoga senantiasa dilimpahkan kepada Nabi Muhammad, keluarga dan Sahabatnya.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 10//Tahun XIII/1431H/2010M. Penerbit Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo-Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-761016]

Sumber: https://almanhaj.or.id/2687-siapa-sebenarnya-pembangkit-rad…