FAEDAH-FAEDAH MUQADDIMAH SHAHIH IMAM MUSLIM

FAEDAH-FAEDAH MUQADDIMAH SHAHIH IMAM MUSLIM -rahimahullaah-

(Diambil dari Muhadharah Syaikh Ziyad Al-‘Abbadi -hafizhahullaah-)

[1]- Di antara keistimewaan Shahih Imam Muslim atas Shahih Imam Al-Bukhari:

1. Imam Muslim menulis Muqaddimah untuk kitab Shahihnya.

2. Beliau menggabungkan hadits-hadits yang semakna babnya dalam satu tempat.

[2]- Jenis kitab beliau adalah Jaami’ , yaitu: yang mencakup berbagai jenis bab-bab ilmu; baik fiqih, ‘aqidah, dan lainnya, seperti Jaami’ (shahih) Bukhari dan Tirmidzi (walaupun dikenal dengan sunan). Adapun Abu Dawud, An-Nasa-i dan Ibnu Majah; itulah yang Kitab Sunan.

[3]- Sebab penulisan kitab Shahih Muslim:

1. Memenuhi permintaan sebagian orang.

2. Karena Imam Muslim melihat banyak orang-orang yang mengumpulkan hadits-hadits akan tetapi seperti hathibul lail (pencari kayu bakar di waktu malam; sehingga tidak bisa membedakan antara kayu dengan ular).

[4]- Faedah-faedah dari mengumpulkan hadits-hadits shahih:

1. Membedakan hadits-hadits shahih dari yang dha’ if, dan mengumpulkan hadits-hadits shahih -walaupun sedikit- lebih baik daripada banyak akan tetapi tercampur aduk; dengan tidak terbedakan.

2. Mengumpulkan hadits-hadits yang berulang-ulang.

[5]- Dalam pengulangan hadits terdapat beberapa faedah:

1. Ada tambahan faedah dalam hadits yang disebutkan lagi; baik dari segi makna maupun sanad.

2. Mengulangi hadits dengan sempurna setelah sebelumnya telah disebutkan dengan kurang lengkap.

[6]- Pembagian Para Perawi hadits dalam Shahih Muslim:

1. Para Perawi Tsiqah yang Dhabith (bisa menyampaikan hadits sesuai dengan yang dia terima).

Maka para perawi ini adalah yang banyak dikeluarkan haditsnya oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya.

2. Para perawi Shaduq yang dibawah tingkatan pertama (biasanya disifati: “shaduuq yahim”, dan yang semisalnya)

Maka ini juga dikeluarkan haditsnya akan tetapi tidak sebanyak yang pertama. Biasanya dikeluarkan dalam mutaba’ah, sedangkan yang pertama dikeluarkan dalam “Al-Ashl” atau Hadits Bab.

Hadits Bab atau Hadits Ashl adalah yang dikeluatrkan pertama kali setelah disebutkan bab. Sedangkan Mutaba’ah atau Syawahid adalah yang setelahnya.

– Mutaba’ah adalah dua orang murid yang meriwayatkan dari seorang guru secara langsung, dan ini dinamakan Mutaba’ah Taammah. Adapuna kalau dua orang meriwayatkan dengan sanad yang bertemu pada seorang syaikh di tengah sanad, dan itu jelas tidak secara langsung; maka ini Mutaba’ah Qashirah.

– Adapun Syahid adalah: dua orang Shahabat yang meriwayatkan hadits yang sama.

3. Para perawi yang lemah atau sangat lemah; maka ini tidak dikeluarkan haditsnya.

[7]- Menempatkan manusia sesuai dengan kedudukannya.

Maka yang tsiqah kita katakan tsiqah, yang dha’ if kita katakan dha’if, bahkan yang sangat dha’ if-pun kita katakan: sangat dha’ if. Tidak boleh kita merasa sungkan dalam menjelaskan.

Diriwayatkan dari ‘Aisyah -radhiyallaahu ‘anhaa-, bahwa dia berkata: Rasulullah -shallallaahu ‘alaihi wa sallam- telah memerintahkan kita untuk menempatkan manusia sesuai dengan kedudukannya.

Dan Allah juga berfirman:

…وَفَوْقَ كُلِّ ذِي عِلْمٍ عَلِيمٌ

“…Dan di atas setiap yang berilmu ada yang lebih mengetahui” [QS Yusuf: 76]

[8]- Ciri-ciri perawi yang munkar haditsnya menurut Imam Muslim.

Yaitu: jika riwayat-riwayatnya dibandingkan dengan para perawi tsiqah; maka riwayat-riwayatnya tersebut menyelisihi riwayat-riwayat mereka; sehingga mayoritas hadits-haditsnya adalah menyelisihi para perawi yang Tsiqah. Maka dia dinamakan: rawi yang Munkarul Hadits.

[9]- Syarat-syarat diterimanya kesendirian perawi

Kesendirian (tafarrud) perawi bukanlah ‘illah (penyakit) bagi hadits, akan tetapi kemungkinan bagi ‘illah, dimana kemungkinan bersalahnya lebih besar dibandingkan jika dia ada yang menyepakatinya.

Seperti: jika ada seseorang terpercaya yang membawa berita; maka walaupun kita terima; tapi ada kemungkinan salah. Jika datang orang lain yang tidak salinf kenal dengan yang pertama dan dia membawa berita yang sama; maka kita semakin percaya. Demikian juga jika datang orang ketiga, dan seterusnya, sampai derajatnya mutawatir.

Maka -menurut Imam Muslim-:

1. Jika dia adalah seorang perawi yang riwayat-riwayatnya sering sesuai dengan para perawi Tsiqah, kemudian pada suatu waktu dia memiliki tambahan; maka tambahan ini diterima darinya.

2. Adapun seorang rawi yang meriwayatkan dari Imam besar seperti Az-Zuhri dan ‘Urwah bin Zubair yang riwayatnya ini tidak diriwayatkan oleh para sahabat/murid keduanya -dan riwayat-riwayat rawi ini juga tidak sesuai dengan mereka-: maka riwayatnya ini tertolak.

[10]- Akan dijelaskan ‘Ilalul Hadiits.

Sekian penjelasan Syaikh Ziyad Al-‘Abbadi -hafizhahullaah-.

Tambahan untuk point [9]- bagian 2:

Imam Muhammad Nashiruddin Al-Albani -rahimahullaah- berkata:

“Jika ada seorang Imam -seperti Az-Zuhri- yang mempunya murid-murid yang terkenal meriwayatkan darinya,…kemudian ada seorang rawi Shaduq yang meriwayatkan sebuah Hadits dari Az-Zuhri yang tidak diriwayatkan oleh mereka…maka dalam keadaan ini sajalah Imam Muslim berpendapat bahwa Hadits rawi Shaduq ini dianggap Munkar…

Akan tetapi saya ingin katakan: Sesungguhnya pendapat Imam Muslilm ini -menurut kritikan dan ilmuku- tidak mungkin digunakan secara umum…Saya katakan ini dikarenakan: yang kita perhatikan dari para Hafizh -yang datang setelah Imam Muslim dan mengambil faedah dari ilmunya dan dari yang semisalnya dari kalangan Mutaqaddimiin (para ulama terdahulu)-: mereka tidak menggunakan pendapat dari Imam (Muslim) ini dengan penggunaan yang rinci; dimana: setiap ada rawi Shaduq yang meriwayatkan dari Imam -seperti Az-Zuhri-; kemudian mereka melemahkan Haditsnya. Maka tidak kita ketahui hal ini menjadi madzhab dari para Hafizh Muta-akhkhiriin (belakangan) dan (para ulama) yang mempunyai perhatian dengan Takhrij Hadits-Hadits dan sanad-sanad (milik para perawi) Mutaqaddimiin.”

[“Suaalaat Ibni Abil ‘Ainain” (hlm. 86-87), dan lihat (hlm. 88-89)]

– Ustadz Ahmad Hendrix-

https://www.facebook.com/ahmadhendrix.eskanto/posts/480909865583228

TENTANG ILMU JARH WA TA’DIL (CELAAN/KRITIKAN DAN PUJIAN)

SEKALI LAGI TENTANG ILMU JARH WA TA’DIL (CELAAN/KRITIKAN DAN PUJIAN)

[1]- Ilmu Jarh Wa Ta’dil memiliki para ahli yang mereka memang memiliki keahlian dalam masalah ini. Sebagai contoh besarnya adalah kitab yang ditulis oleh Imam Adz-Dzhahabi (wafat th. 748 H) -rahimahullaah-: “Dzikru Man Yu’tamadu Qauluhu Fil Jarh Wat Ta’diil (Penyebutan Orang-Orang Yang Perkataannya Dijadikan Sandaran/Rujukan Dalam Jarh Wa Ta’dil)”, yang jelas sekali berisi nama-nama dari orang-orang yang bisa diterima perkataannya dalam Jarh Wa Ta’dil.

[2]- Sehingga dalam memberikan Ta’dil (pujian) -maupun Jarh (celaan/kritikan-); ada dua cara:

1- Memeriksa secara langsung orang -atau kelompok- yang akan dipuji -atau dikritik-.

2- Dengan mengambil pujian -atau kritikan- dari orang yang telah meneliti langsung individu -atau suatu kelompok-.

[Lihat: “Muqaddimah Ibnish Shalaah” (hlm. 137-138 & 141- “At-Taqyiid Wal Iidhaah”)]

[3]- Sehingga, KETIKA MENGKRITIK KELOMPOK IKHWANUL MUSLIMIN; MAKA IMAM ‘ABDUL ‘AZIZ BIN BAZ -rahimahullaah- MENGKRITIKNYA DENGAN BERSANDAR KEPADA PERKATAAN PARA ULAMA YANG TELAH MENELITI KELOMPOK INI.

Samahatul ‘Allamah Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdullah bin Baz -rahimahullaah- ditanya tentang “Al-Ikhwanul Muslimun” pada majalah “Al-Majallah” edisi (806), tanggal 25 Shafar 1416 H (hlm. 24). Berikut ini pertanyaannya:

“Samahatusy Syaikh: Harakah “Al-Ikhwan Al-Muslimin” telah masuk ke Mamlakah sejak beberapa waktu, dan memiliki kegiatan yang nampak di kalangan para penuntut ilmu. Apa pendapat anda tentang Harakah ini? Dan seberapa jauh kesesuaiannya dengan Manhaj Ahlus Sunnah Wal Jama’ah?”

Syaikh Imam ‘Abdul ‘Aziz bin Baz -rahimahullaah- menjawab:

“Harakah Ikhwanul Muslimin telah dikritik oleh para Ahli Ilmu; dikarenakan mereka TIDAK PUNYA SEMANGAT DALAM MENDAKWAHKAN TAUHID, MENGINGKARI SYIRIK DAN MENGINGKARI BID’AH-BID’AH. Mereka punya cara-cara khusus, kekurangannya: TIDAK SEMANGAT DALAM MENDAKWAHKAN TAUHID DAN (TIDAK SEMANGAT DALAM) DALAM MENDUKUNG ‘AQIDAH SHAHIHAH YANG DIYAKINI OLEH AHLUS SUNNAH WAL JAMA’AH.

Maka, seharusnya Ikhwanul Muslimin punya perhatian kepada DAKWAH SALAFIYYAH; YAITU: BERDAKWAH KEPADA TAUHID DAN MENGINGKARI PERIBADAHAN KEPADA KUBUR, (mengingkari) ketergantungan kepada orang-orang yang sudah mati, (mengingkari) istighatsah kepada kubur-kubur; seperti: Hasan, Husain, Badawi, dan semisalnya. Wajib atas mereka untuk mempunyai perhatian kepada PRINSIP YANG PALING UTAMA INI, kepada MAKNA LAA ILAAHA ILLALLAAH yang merupakan PONDASI AGAMA. Dan yang pertama kali Nabi dakwahkan di Makkah adalah; mengajak kepadaTauhidullah, mengajak kepada makna Laa Ilaaha Illallaah.

Maka, banyak dari Ahli Ilmu mengkritik Ikhwanul Muslimin dalam perkara ini; yaitu: tidak semangat dalam mendakwahkan Tauhidullah, ikhlas kepada-Nya, mengingkari apa yang dibuat-buat oleh orang-orang bodoh; berupa: bergantung kepada orang-orang yang sudah mati, beristighatsah kepada mereka, bernadzar untuk mereka, dan menyembelih kurban untuk mereka, yang hal ini merupakan Syirik Akbar.

Para Ahli Ilmu juga mengkritik mereka (Ikhwanul Muslimin) karena mereka: TIDAK MEMPUNYAI PERHATIAN KEPADA SUNNAH, (TIDAK) MENCARI SUNNAH, (TIDAK) MEMILIKI PERHATIAN KEPADA HADITS (NABI) YANG MULIA, DAN (TIDAK MEMPUNYAI PERHATIAN TERHADAP) APA YANG PARA SALAFUL UMMAH BERADA DI ATASNYA; BERUPA HUKUM-HUKUM SYAR’I.

Dan di sana ada banyak hal yang saya dengar saudara-saudara (saya) mengkritik mereka.
Kita minta kepada Allah agar Dia memberikan taufik kepada mereka.”

[dinukil dari “Al-Ajwibah Al-Mufiidah ‘Anil Manaahij Al-Jadiidah” (hlm. 72- cet. II)]

[4]- Terlebih lagi jika orang yang mengkritik telah memberikan penjelasan tentang letak kesalahan-kesalahan dari kelompok yang dikritik (istilahnya: “Jarh Mufassar”).

Sehingga fokus pembahasan hendaknya pada:

– Apakah point-point kritikan tersebut ada pada kelompok yang dikritik atau tidak?

– Kemudian kalau memang ada: apakah point-point tersebut benar menyelisihi Ahlus Sunnah atau tidak?

[5]- Dan di antara kaidah Jarh Wa Ta’dil yang hampir-hampir dilupakan adalah: apa yang disebutkan oleh Al-Hafizh Ibnu Hajar (wafat th. 852) -rahimahullaah- dalam “Nukhbatul Fikar” (hlm. 14- cet. Mu-assasah Ar-Risaalah):

وَالْـجَرْحُ مُقَدَّمٌ عَلَى التَّعْدِيْلِ إِنْ صَدَرَ مُبَيَّنًا مِنْ عَارِفٍ بِأْسْبَابِهِ.

“Jarh (celaan/kritikan) lebih didahulukan atas Ta’dil (pujian); jika (celaan) tersebut dijelaskan sebabnya (dan celaan tersebut) muncul dari orang yang ahli terhadap sebab-sebab (celaan) tersebut.”

Sehingga kalau ada kritikan terhadap individu -atau suatu kelompok- dari seseorang -terlebih lagi banyak orang- yang memang ahli dalam ilmu ini, ditambah lagi celaannya juga disertai dengan berbagai penjelasan -bahkan bukti-; maka kalau kemudian ada yang memuji individu -atau kelompok- yang dikritik tersebut: PUJIANNYA ADALAH TIDAK DITERIMA.

Imam Ibnush Shalah (wafat th. 643 H) -rahimahullaah- berkata:

“Kalau terkumpul pada seseorang: kritikan dan pujian; maka kritikan lebih didahulukan (atas pujian), karena orang yang memuji: (hanya) mengabarkan tentang lahiriyah dari orang tersebut, sedangkan orang yang mencela/mengkritik: mengabarkan tentang hal (kejelekan) yang samar atas orang yang memuji.”

[“Muqaddimah Ibnish Shalaah” (hlm. 142- “At-Taqyiid Wal Iidhaah”)]

[6]- Kalau ada yang berkata: bukankah Ilmu Jarh Wa Ta’dil itu hanya dalam masalah perawi hadits, dan bukan berkaitan dengan ke-bid’ah-an atau kesesatan.

Maka jawabannya: Justru di antara kritikan terhadap perawi hadits adalah: karena bid’ah yang ada pada perawi tersebut.

[Lihat: “Nukhbatul Fikar” (hlm. 7- cet. Mu-assasah Ar-Risaalah)]

Sehingga sering kita dapati para perawi hadits yang dicela dengan: “Rumiya Bil Qadar (Tertuduh Qadariyyah)”, “Rumiya Bil Irjaa’ (Tertuduh Murji’ah)”, dan semisalnya.

Wallaahul Musta’aan.

ditulis oleh: Ustadz Ahmad Hendrix-

Bom Bunuh Diri Bukan Aksi Syahid

Bom Bunuh Diri Bukan Aksi Syahid Walau Pun Ada Kemungkinan Pelakunya Terampuni Dari Dosa Bunuh Diri

Saudaraku,
Tidak mudah menasihati orang yang telah didokrin oleh suatu pemahaman, apalagi bila korban doktrinisasi itu telah memberikan pengorbanan yang besar dalam membela fahamnya itu. Oleh karena itu, diantara metode menasehati mereka adalah:

Ketika kita telah membantah dan meruntuhkan pemahaman sesat mereka itu,
Selanjutnya iringilah dengan memberi mereka harapan positif, sehingga sakitnya kesalahan akan terobati dengan manisnya harapan.

Metode tersebut akan kita temukan pada tulisan para Ulama dalam menasihati kekeliruan sebagian umat, betapa kental kasih sayang para Ulama Ahlus Sunnah dalam menasihati umat, sangat terasa bahwa mereka benar-benar menginginkan kebaikan terhadap yang dinasihati.

Berikut ini bantahan serta nasihat dari Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin terhadap para pelaku bom bunuh diri yang diklaim sebagai jalan meraih syahid, beliau membantah klaim tersebut. Akan tetapi, beliau tetap menekankan harapan bahwa:

• Ada kemungkinan bila memang aksi bom bunuh diri dalam menyerang itu dilakukan karena ketidaktahuan, maka; semoga Allah memberi ampunan karena ketidaktahuannya.
• Bahkan beliau mengisyaratkan tentang keutamaan orang yang berijtihad (yang bersungguh-sungguh) mencari kebenaran, bila berhasil mendapat kebenaran maka mendapat dua pahala dan bila salah mendapat satu pahala.

Simaklah nasihat berikut ini, dari seorang Ulama Besar teruntuk para pencari Syahid :
Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin -rahimahullah- berkata :

“Adapun yang dilakukan oleh sebagian orang berupa bunuh diri dengan membawa bahan-bahan peledak dan membawanya kepada orang-orang kafir yang kemudian meledakan peledak itu di tengah-tengah mereka, maka hal itu termasuk perbuatan bunuh diri. Wal iyaadzu billah.

Dan barangsiapa yang melakukan bunuh diri maka dia abadi dan diabadikan dalam neraka Jahannam selamanya, sebagaimana telah datang hadits dari Nabi ‘alaihis sholaatu was salaam tentang hal itu; karena perbuatan (yang diklaim sebagai aksi bom Syahid pent.) tersebut merupakan bunuh diri, dan tidak berada dalam koridor kemaslahatan Islam.
Karena tatkala seseorang melakukan aksi (bom) bunuh diri dan dia pun berhasil membunuh sepuluh atau seratus atau pun dua ratus (orang kafir), maka Islam tidak mendapatkan manfaat dari perbuatannya itu, bahkan tidak akan menyebabkan orang-orang (kafir) masuk Islam! hal tersebut berbeda dengan yang telah dilakukan seorang pemuda Ashhaabul Ukhduud (yang rela dirinya dibunuh oleh raja kafir agar rakyatnya masuk Islam -pent.). Mungkin saja (dengan aksi bom bunuh diri tersebut) justru akan membuat musuh semakin banyak berbuat hal-hal beringas dan aksi itu pun malah semakin membuat musuh murka sehingga menyakiti kaum Muslimin dengan serangan yang lebih mematikan.

Seperti yang telah kita dapati dari apa yang telah dilakukan Yahudi terhadap penduduk Palestina. Sesungguhnya penduduk Palestina bila satu orang dari mereka meninggal dengan cara melakukan aksi bom bunuh diri dan (berhasil) membunuh enam atau tujuh (orang Yahudi), maka orang-orang Yahudi lainnya akan balas dendam dengan membunuh enam puluh (orang Palestina) atau bahkan lebih! Maka dari itu, aksi bom bunuh diri tidak menghasilkan manfaat bagi kaum Muslimin dan para pelaku bom bunuh diri itu pun (dengan aksinya itu) tidak bisa memberikan manfaat terhadap barisan mereka.

Oleh karena itu, kami berpendapat bahwa yang dilakukan sebagian orang berupa aksi bom bunuh diri, kami pandang aksi tersebut sebagai perbuatan bunuh dri dengan tanpa haq/tidak benar dan hal itu berkonsekwensi masuk Neraka -wal iyaadzu billah- dan sesungguhnya pelakunya bukan termasuk syahid.

Akan tetapi, JIKA SESEORANG MELAKUKAN AKSI BOM BUNUH DIRI KARENA TA’WIL (memaknai dalil dengan keliru) serta MENGIRA BAHWA HAL ITU DIBOLEHKAN, maka KAMI BERHARAP SEMOGA DIA SELAMAT DARI DOSA, adapun MENETAPKAN DIA SEBAGAI SYAHID, MAKA TIDAK BISA! karena DIA TIDAK MENEMPUH JALAN (yang benar) UNTUK SYAHID. Dan barangsiapa yang berijtihad (bersungguh-sungguh mencari suatu hukum -Pent.) yang kemudian keliru maka baginya satu pahala.” –selesai nukilan-
[Kitab Syarh Riyaadhus Shaalihiin, Bab As Shabr, Hadits No.30].

-{Semoga Allah membimbing kita untuk selalu berada di atas ilmu dalam setiap langkah juang kita}-

Sumber :

Ustadz Muhammad Hilman Al-fiqhy

https://www.facebook.com/MocHaMmAd.HILMAN.aLfiQhY/posts/10209943876577006

Bolehkah Aksi bom Syahid ( Istisyhaadiyyah ) ?

Pertanyaan :

Perbuatan bom bunuh diri yang biasa ‘mereka’ namakan dengan Aksi Istisyhaadiyyah (bom Syahid) yang pada sebagian fatwa Syaikh Al Albaniy –rahimahullah- bahwa secara ta’shiil (hukum Asal) seolah-olah beliau membolehkan aksi tersebut dengan syarat dibawah perintah Khalifah kaum Muslimin atau Penguasa (yang sah secara syari’at), maka bagaimana penjelasan engkau wahai Syaikh?”

Syaikh Ali Hasan Al Halabiy menjawab:

“Ada beberapa syarat-syarat yang disebutkan oleh Syaikh Al Albaniy –rahimahullah- yang harus terpenuhi agar aksi bom bunuh diri tersebut bisa dibolehkan, diantaranya:
1. Diijinkan oleh Penguasa
2. Kemungkinan besar penaklukan akan terjadi
3. Adanya kesempatan untuk menyelamatkan diri.
maka diantara syarat-syarat itu adalah seperti yang Anda sebutkan (di pertanyaan). Dan bila syarat-syarat tersebut terpenuhi maka aksi tersebut dibolehkan menurut beliau.

Akan tetapi,–dengan memohon pertolongan Allah dari keburukkan jiwa dan kejelekkan amalan Saya- SAYA CONDONG KEPADA PENDAPAT DUA SYAIKH/GURU SAYA; YAITU SYAIKH BIN BAZ DAN SYAIKH UTSAIMIN; YANG MELARANG SECARA MUTLAK (TANPA PENGECUALIAN). Karena; bunuh diri itu dengan alasan apapun juga walaupun alasannya itu secara zhahir terlihat baik, namun alasan tersebut menafikan dan menyelisihi firman Allah ta’ala:
‘…dan janganlah kamu membunuh dirimu…’ (QS. Annisa: 29).
Larangan dalam ayat ini adalah larangan yang shariih (jelas), Allah tidak memfirmankan: ‘janganlah membunuh diri dengan sebab begini dan boleh bila sebabnya begitu!?

Larangan dalam ayat tersebut adalah umum, jelas, dan terang. Niat tidak akan merubah hukum dari perbuatan-perbuatan yang menyelisihi syariat Islam.

Bahkan, syarat-syarat yang disebutkan oleh Syaikh Al Albaniy tersebut hampir tidak mungkin dan mustahil bisa dipraktekan pada realita sekarang.

Wallaahu a’lam.” -selesai jawaban-

=================

Syaikh Ali Hasan Al Halabiy merupakan murid senior Syaikh Al Albaniy.
.

Diantara Faidah Daurah Syar’iyyah ke 18, di Batu, Malang. Jawa Timur.

 Ditulis oleh : Ustadz Muhammad Hilman Alfiqhy

Pertanyaan Ustadz M. Hilman kepada Syaikh Ali Hasan Al Halabiy  hafizhahullah

perkataan di atas ditulis secara makna

MASUK AKAL

Ada seseorang yang bertanya kepada saya tentang hikmah beberapa perintah syariat, seperti perintah berjenggot dan larangan isbal. Apabila masuk di akal si penanya: maka dia mau melaksanakannya, namun apabila penjelasan saya tidak masuk di akal baginya: dia enggan untuk menaatinya.
Agak sulit memang persyaratan yang diberikannya agar ia mau tunduk kepada syariat. Akhirnya saya bacakan penjelasan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berikut ini:

“telah ditetapkan dengan perintah (Allah), (bahwa) hikmah yang dihasilkan oleh syariat ada tiga macam;

PERTAMA: sebuah perbuatan yang mengandung maslahat (kebaikan) dan mafsadat (keburukan) walaupun syariat tidak datang menjelaskannya.

Sebagaimana sudah diketahui bahwa keadilan mengandung kemaslahatan bagi alam semesta, dan kedzoliman menyimpan kerusakan bagi mereka. Maka jenis inilah (yang dimaksud dengan istilah) hasan (baik) dan qobih (buruk). Dan terkadang (sebuah perbuatan) diketahui dengan akal dan syariat mengenai keburukannya…

akan tetapi tidaklah mengharuskan adanya keburukan ini menjadikan pelakunya diazab di akherat: apabila tidak datang syariat yang menjelaskan hal itu. Dan dalam perkara inilah kelompok ekstrem yang menetapkan baik dan buruk (diketahui sebatas akal saja) telah terjatuh dalam kesalahan, karena: mereka mengatakan: “sesungguhnya hamba akan disiksa dengan sebab perbuatan buruk mereka walaupun belum di utus kepada mereka seorang rasul.

Pendapat ini bertentangan dengan Nash/dalil. Allah –subhanahu wa ta’ala berfirman:

وَمَا كُنَّا مُعَذِّبِيْنَ حَتَّى نَبْعَثَ رَسُوْلًا

“tidaklah kami mengadzab sampai kami mengutus seorang rasul” al-Isra’: 15

Dan dalil-dalil yang menunjukkan bahwa Allah tidak mengadzab kecuali setelah mengutus (rasul) sangatlah banyak yang membantah pendapat ahli tahsin dan taqbih -orang yang mengatakan bahwa kebaikan dan keburukan dapat diketahui sebatas dengan akal tanpa wahyu yaitu kaum mu’tazilah Pent.- yang mereka mengatakan: “sesungguhnya makhluk diadzab di dunia tanpa seorang rasul yang di utus oleh mereka.”

KEDUA: sesungguhnya pembuat syariat apabila memerintahkan sesuatu maka menjadi baik, dan apabila melarang kepada sesuatu maka menjadi buruk, dan sebuah perbuatan mendapatkan sifat baik dan buruk berdasarkan perintah pembuat syariat. (maksudnya: secara akal semata perintah atau larangan Allah terhadap sesuatu tidak diketahui baik dan buruknya. Barulah setelah syariat menjelaskan ini memiliki keutamaan dan ini dibenci kita mengetahui hikmahnya. saya membuat contoh seperti larangan mencabut uban. pent.)

KETIGA: pembuat syariat memerintahkan sesuatu untuk menguji hambanya apakah menaatinya atau membangkang? Dan bukanlah yang dimaksudkan perbuatan yang diperintahkan; sebagaimana Allah memerintahkan Nabi Ibrahim untuk menyembelih anaknya, maka ketika keduanya telah berserah diri dan (Ibrahim) membaringkan anaknya diatas pelipisnya: Allah gantikan dengan sembelihan… maka hikmah (dari perintah) sumbernya adalah (menuruti) perintah itu sendiri bukan yang diperintahkan (menyembelih anaknya).

Jenis ini dan yang sebelumnya, tak dipahami oleh mu’tazilah, dan mereka menyangka bahwa baik dan buruk tidaklah ada kecuali pada sesuatu yang disifati dengannya tanpa perintah syariat. Dan Asy’ariyah mengklaim bahwa seluruh syariat semuanya adalah jenis ujian, dan perbuatan (hamba) tidak memiliki sifat, baik sebelum perintah syariat ataupun dengan perintah syariat. Adapun ahli hikmah dan jumhur mereka menetapkan tiga jenis ini, dan inilah pendapat yang benar.

[majmu’ fatwa (VIII/434-436) dinukil dari qowaidh ta’arudhil masholih wal mafasid, Syaikh Sulaiman ar-Ruhaily, hlm 32-34]

Oleh karena itu, tidaklah harus anda mengetahui dan menunggu untuk mengetahui hikmah sebuah perintah dan larangan baru anda mentaatinya. Bisa jadi memang perbuatan tersebut termasuk jenis kedua dan ketiga.

Umar bin Khottob pun sebatas hanya melihat Rasulullah –shallallahu alaihi wa salam- mencium hajar aswad, beliau mengikutinya dan mengatakan:

إني لأعلم أنك حجر لا تضر ولا تنفع، ولولا أني رأيت رسول الله يقبلك ما قبلتك

Sesungguhnya aku mengetahui bahwa kamu adalah batu yang tidak bisa memberi mudhorot dan memberi manfaat. Kalau sekiranya aku tidak melihat Rasulullah menciummu aku tidak akan menciummu.
Bukhori (1610) dan Muslim (1270)

Semoga bermanfaat.

Dika Wahyudi Lc