FANS CLUB

FANS CLUB

Ditulis Oleh Ustadz Dika Wahyudi Lc.

Dahulu, para ulama sangat menganjurkan para penuntut ilmu agar menghiasi diri mereka dengan akhlak yang mulia di samping mereka mempelajari agama. Bahkan banyak di antara mereka yang menganjurkan belajar adab dan akhlak terlebih dahulu sebelum mereka membuka lembaran kitab hadis, fiqih, tafsir dan cabang ilmu lainnya.

Sebut saja Imam Sufyan Ats-Tsauri (161 H) yang mengatakan: “mereka tidak menyuruh anak-anak mereka untuk menuntut ilmu hingga mereka mempelajari adab dan beribadah selama dua puluh tahun.” (hilytul aulia (VI/361) dinukil dari adab & akhlak penuntut ilmu, syaikh kami Yazid Abdul Qodir Jawas)

Imam Muhammad bin Sirin juga berkata (110 H): “mereka (salafus sholih) mempelajari petunjuk Nabi tentang adab sebagai mana mereka belajar ilmu.” (Al-jaami’ Il Akhlaqir rowi wa adaabis sami’ (I/79))

Namun ketika ilmu dipelajari secara instan, ketika ilmu hanya dinilai dari lembaran-lembaran kertas ijazah ((walaupun kalau seseorang memiliki puluhan lembar ijazah tapi tidak berilmu, Sama saja ijazah itu dengan kertas koran pembungkus gorengan)), dan ketika ilmu diambil tidak lagi dengan hadir di majelis ilmu, ketika banyak orang dalam menuntut ilmu hanya mencukupkan diri dengan mendengarkan dan melihat media, maka untaian adab dan akhlak penuntut ilmu yang dahulu menghiasi kitab-kitab biografi ulama sekarang sudah mulai terlepas dan tercecer dari ikatannya.

Imam as-Sam’ani berkata: “sesungguhnya majelis Imam Ahmad dihadiri lima ribu orang, lima ratus orang mencatat dan sisanya mengambil sifat, adab dan akhlak dari Imam Ahmad.” Abu Bakar al-muthowi’i berkata: “aku datang menghadiri majelis Abu Abdillah (Imam Ahmad) sedangkan dia membacakan hadis pada anak-anaknya selama dua belas tahun. Dan aku tidaklah menulis hadis, akan tetapi aku melihat kepada adab dan akhlaknya.” (siyar a’lamin nubala (XI/316)

Sekarang kau bisa lihat, dai-dai yang ada seakan menggambarkan mereka tidak pernah belajar adab penuntut ilmu, atau lupa, atau pura-pura lupa!!!
Dahulu para salaf takut kalau mereka diikuti orang banyak. Nah sekarang justru ada banyak dai -Allahul musta’an- yang buat Frans Club layaknya klub sepak bola seperti THE JA* MANIA , klub musik seperti SLA***ERS, KERABAT K*TAK, musisi SEPERTI OI (ORANG IN****A) yang punya penggemar dan diidolakan.

Atau bahkan ga beda sama para politikus kotor yang membuat kelompok dan gerombolan orang pendukungnya, seperti TEMAN A**K. Seakan dai ini senang dengan popularitas dan ketenaran. Sungguh ini akan membawa kepada perbuatan ghuluw, dan bagi yang diikuti maupun mengikuti akan terjerat dalam tipu daya iblis. BAHKAN AKAN MENYERET PADA HIZBY.

Coba anda baca mushonnaf Ibnu Abi Syaibah ketika beliau rahimahullah membuat satu bab:
ما يكره للرجل أن يتبع أو يجتمع عليه
APA YANG DIBENCI BAGI SESEORANG KETIKA DIIKUTI DAN MANUSIA BERKUMPUL PADANYA.

Imam Ibnu Abi Syaibah membawakan atsar dari para salaf yang membenci hal demikian.
عن الهيثم قال رأى عاصم بن ضمرة قوما يتبعون رجلا فقال إنها فتنة للمتبوع مذلة للتابع
Dari al-Haitsam ia berkata: “’Ashim bin Dhomroh melihat satu kaum mengikuti seorang lelaki kemudian ia berkata: “sesungguhnya itu adalah fitnah bagi orang yang diikuti dan kehinaan bagi orang yang mengikuti.” (Ibnu Abi Syaibah, Mushonnaf (26313) cet. maktabah ar-Rusyd, Riyadh)

عن حبيب بن أبي ثابت قال رأى بن مسعود ناس فجعلوا يمشون خلفه فقال ألكم حاجة قالوا لا قال ارجعوا فإنها ذلة للتابع فتنة للمتبوع
Dari Habib Bin Abi Tsabit ia berkata: ”manusia melihat Ibnu Mas’ud kemudian mulailah mereka berjalan mengiringi di belakangnya. Kemudian ia berkata: “apakah kalian memiliki keperluan?” mereka berkata: “tidak.” Ia berkata: kembalilah! Sesungguhnya perbuatan kalian adalah kehinaan bagi orang yang mengikuti dan fitnah bagi orang yang diikuti.” (Ibnu Abi Syaibah, Mushonnaf (26314))

عن سليم بن حنظلة قال: أتينا أبي بن كعب لنتحدث عنده، فلما قام قمنا نمشي معه، فلحقه عمر فرفع عليه عمر الدرة فقال: يا أمير المؤمنين! أعلم ما تصنع قال: إنما ترى فتنة للمتبوع مذلة للتابع.
Dari Salim Bin Handzolah ia berkata: “kami mendatangi Ubay Bin Ka’ab untuk berbincang dengannya, ketika ia berdiri, kami pun ikut berdiri berjalan bersama beliau. Kemudian ia bertemu dengan Umar, kemudian Umar mengangkat pecut kepadanya. Maka (Ubay) berkata: “wahai Amirul Mu’minin, aku mengetahui apa yang akan kamu perbuat.” Umar berkata: “sesungguhnya kamu melihat fitnah bagi yang diikuti dan kehinaan bagi yang mengikuti.” (Ibnu Abi Syaibah, Mushonnaf (26315))

Inilah pemahaman salaf dari para sahabat, kalau seseorang mengaku dia adalah pengikut salaf, harusnya dia mencontoh pendahulunya!!
Kalau tidak cukup dengan itu lihat perbuatan ulama salaf terdahulu;

Imam adz-Dzahabi menuliskan biografi seorang imam besar Ayyub As-sakhtiyany dalam kitabnya siar a’lam annubala (VI/22). Berkata Syu’bah: “aku pernah pergi bersama Ayyub karena satu keperluan, dia tidak membiarkanku berjalan bersamanya dan keluar dari sini dan dari sini agar manusia tidak terfitnah dengannya. Berkata Hammad: “aku berjalan bersama Ayyub, dan ia mengambil sebuah jalan yang saya merasa sangat heran, bagaimana ia mengetahui jalan ini, karena dia lari dari manusia takut dikatakan oleh mereka inilah Ayyub!

Imam Ahmad juga berkata: “aku ingin di celah bebukitan kota Mekah sehingga aku tidak dikenal, sungguh, aku telah di uji dengan ketenaran (syuhroh)” (siyar a’lamin nubala (XI/210))

Dan bagi para pengikutnya hendaklah kalian jangan berlebihan mencintai seseorang karena kebaikan dan kesholehannya. Jangan dahulu takjub dengan keilmuan seseorang secara berlebihan. Karena tiada seorang pun yang tahu keistiqomahan seseorang dan dengan apa ia menutup amalnya. Lihatlah sabda Nabi berikut ini:

لَا تَعْجَبُوا بِأَحَدٍ، حَتَّى تَنْظُرُوا بِمَ يُخْتَمُ لَهُ، فَإِنَّ الْعَامِلَ يَعْمَلُ زَمَانًا مِنْ عُمْرِهِ، أَوْ بُرْهَةً مِنْ دَهْرِهِ، بِعَمَلٍ صَالِحٍ، لَوْ مَاتَ عَلَيْهِ دَخَلَ الْجَنَّةَ، ثُمَّ يَتَحَوَّلُ فَيَعْمَلُ عَمَلًا سَيِّئًا، وَإِنَّ الْعَبْدَ لَيَعْمَلُ الْبُرْهَةَ مِنْ دَهْرِهِ بِعَمَلٍ سَيِّئٍ، لَوْ مَاتَ عَلَيْهِ دَخَلَ النَّارَ، ثُمَّ يَتَحَوَّلُ فَيَعْمَلُ عَمَلًا صَالِحًا، وَإِذَا أَرَادَ اللهُ بِعَبْدٍ خَيْرًا اسْتَعْمَلَهُ قَبْلَ مَوْتِهِ “، قَالُوا: يَا رَسُولَ اللهِ وَكَيْفَ يَسْتَعْمِلُهُ ؟ قَالَ ” يُوَفِّقُهُ لِعَمَلٍ صَالِحٍ، ثُمَّ يَقْبِضُهُ عَلَيْه

“janganlah kalian merasa takjub dengan seseorang sampai kalian melihat dengan apa ia menutup amalnya (pada akhir hayatnya). Sesungguhnya ada seseorang yang beramal Soleh dalam waktu yang lama dari umurnya atau sebentar saja dari usianya yang kalau saja ia mati di atas amal itu ia akan masuk surga. Kemudian dia berubah dan beramal dengan amalan yang buruk.
Dan sesungguhnya ada seorang hamba yang beramal sebentar saja dari usianya dengan amalan buruk, uang kalau kiranya dia mati di atas amalan itu ia akan masuk neraka. Kemudian dia berubah, dan beramal dengan amal yang sholih.

Dan apabila Allah menginginkan kebaikan pada seorang hamba ia akan membuatnya mengerjakan kebaikan sebelum ia mati”
Para sahabat bertanya: wahai Rasulullah bagaimana Allah membuatnya mengerjakan kebaikan? Rasul bersabda: “Allah akan memberikan taufiq kepadanya untuk mengerjakan amal Soleh kemudian Allah matikan dia diatasnya” H.R. Ahmad (12214) cet. ar-Risalah lihat ash-Shohihah no. 1334

Semoga bermanfaat